(II) Chapter one
.
.
Hari ini hari minggu. Jam masih menunjukkan angka 5:40. Tak biasanya, Jungkook bangun pagi. Mungkin ini pertanda baik? Jungkook memulai rutinitas paginya. Mandi, membersihkan kamar, membuat sarapan, dan tak lupa mengabari Taehyung. Biasanya di hari libur, Jungkook akan pergi menemani Taehyung kemanapun dia mau.
Jungkook mengambil handphonenya yang terletak di atas nakas. Seminggu ini, Jungkook disibukkan dengan kegiatan organisasi di sekolah, jadi dia sama sekali tak dapat mengabarkan Taehyung. Tapi sebenarnya itu tak masalah, Taehyung tak pernah mempermasalahkan soal saling memberi kabar. Taehyung itu bebas, Jungkook tahu.
"Hei, bocah" saat sambungan terhubung, suara serak Taehyung segera menghampiri indra pendengaran Jungkook.
"Kau baru bangun?"
"Begitulah"
Jungkook menghela nafas. Dia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Cepat siap-siap, aku akan kerumahmu 10 menit lagi"
"Apa?! Bangsat kau–" perkataan Taehyung terpotong dengan suara gedebuk keras. Jungkook memutar bola matanya dengan malas. Pasti Taehyung jatuh dari tempat tidur.
"Intinya, aku akan kerumahmu."
"Jangan brengsek! aku tidak dirumah sekarang!"
Hening sesaat. Jungkook sedang menerka-nerka dimana kira nya Taehyung menginap kali ini. Namun saat dia hendak membuka suara, sebuah lengkingan nyaring yang disusul dengan rentetan umpatan kasar tak berhenti muncul dari seberang sana.
"..rumah Jimin?"
Taehyung tak menjawab. Pria itu malah sibuk membalas umpatan dengan umpatan nya. Pertengkaran hebat terjadi. bunyi buk cukup keras yang sepertinya suara handphone jatuh meyakinkan Jungkook kalau kini ekstensi nya tidak lagi dianggap ada.
Brengsek. Sialan.
"Iya Ini salahku, puas kau?! Aku sedang berbicara dengan Jungkook, Pergi kau bajingan! – Halo? Bocah? Kau masih disana? Dengar, hari ini sepertinya kita tidak– "
Pip.
Siapa bilang hari minggu Jungkook akan berjalan dengan baik? hari yang harusnya dia luangkan bersama Taehyung justru hancur gara-gara pria bernama Jimin itu. Sahabat sehidup semati Taehyung. Mereka sama sama gangster, bedanya Jimin masih bersekolah. Seumuran dengan Taehyung dan Jungkook. Berandalan akut; dia berkali-kali di DO dari sekolah karena terlibat tawuran ataupun perkelahian. Namun begitu, Taehyung menyayangi Jimin melebihi apapun. Dia bisa saja menghabiskan 24 jam waktunya bersama pria bertubuh pendek itu tanpa mengingat Jungkook sama sekali. Tidak, Jungkook tidak cemburu. Dia tak mengenal dengan kata cemburu. Hanya saja, untuk saat ini, dia merasa sedang membutuhkan eksitensi Taehyung di depan matanya. Tapi Taehyung justru pergi bersama Jimin yang notabene selalu dia temui hampir setiap hari.
Jungkook menghela nafas berat, menetralkan amarahnya. Tangannya segera bergerak lincah mengetik nama seseorang di layar handphone.
pip – "Halo? Yoongi hyung, kau sibuk? Tidak? Ah syukurlah. Temani aku bermain bowling hari ini. Ya, jam 11. Oke, terima kasih, hyung."
.
sincerely fall in love with you
.
.
"Kenapa tidak menjawab pesanku?"
Jungkook hampir saja terkena serangan jantung saat dirinya tiba-tiba mendengar suara seseorang tepat ketika dia membuka pintu apartemennya. Ada Taehyung disana, bersandar di dinding depan kamar Jungkook. Kepulan asap dari rokok Taehyung segera memenuhi lorong kecil ini.
Jungkook tak menghiraukan pertanyaan Taehyung. Dia lebih memilih untuk menyibukkan dirinya memakai sepatu.
"Jadi, ini ya yang namanya cemburu."
Aktifitas Jungkook terhenti. Dia berganti menatap Taehyung yang juga sedang menatapnya dengan satu alis di naikkan. "Apa maksudmu?"
Taehyung mengarahkan rokoknya menunjuk Jungkook. "Kau, cemburu. Dengan Jimin." ucapnya. Tak ada ekspresi jahil, bercanda, ataupun senyuman. Taehyung mengungkapkannya dengan wajah datar dan dinginnya.
Jungkook mendengus. Sepatunya telah terikat, dia segera beranjak bangkit untuk mengunci apartemennya. "Kalau aku cemburu, sudah dari dulu aku membunuh Park Jimin." jawabnya asal.
Taehyung mengangguk menyetujui. "Benar, dan kalau kau cemburu mungkin aku juga akan segera membunuhmu." Jungkook tertawa mendengarnya.
See? Lelucon mereka bahkan terdengar sangat tidak lucu.
Taehyung membuang puntung rokoknya ke lantai, lalu menginjaknya dengan beringas. "Kuantar ke sekolah" Dia berjalan mendahului Jungkook.
Melihat Taehyung dari belakang, membuat Jungkook tertegun. Padahal mereka berdua seumuran, namun Taehyung terlihat sangat dewasa. Taehyung memakai leather jacket yang di padukan dengan ripped jeans berwarna hitam yang dia tambahi dengan aksesoris rantai di kantungnya. Rambut nya berwarna cokelat keemasan dan dibiarkan tak tersisir.
"Rambutmu sudah panjang, Tae."
"Ya. Sebenarnya, boss ingin rambutku lebih panjang dari ini."
Jungkook mengerutkan dahinya. "kenapa?" tanyanya heran.
Taehyung mengambil satu batang rokok dari kantungnya lalu menyalakan pematik. "Katanya untuk menutupi wajahku" jawabnya. Taehyung kembali menghisap rokoknya penuh khidmat. Jungkook bisa melihat dengan baik aktifitas Taehyung walau dari belakang.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, bocah."
Jungkook memutar bola matanya malas. "Aku bermain bowling seharian dengan Yoongi hyung."
"Tumben tak mengerjakan tugas?" Taehyung menyapa satpam penjaga apartemen Jungkook yang sudah mengenal Taehyung dengan baik. Sang satpam tersenyum lalu menganggukkan kepalanya kearah Jungkook dan Taehyung. Staff-staff tempat Jungkook tinggal ini sebagian besar memang sudah mengenal Taehyung. Dua tahun mereka melihat Taehyung yang bolak-balik mengantar Jungkook sekolah atau mengantarnya pulang. Karena itu pula, mereka tak lagi takut kepada remaja berusia 17 tahun itu.
Jungkook diam mengamati tingkah Taehyung yang memberikan sekotak rokok malboro kepada satpam apartemennya. Taehyung tersenyum kecil saat Lee ahjussi berterima kasih padanya. Mereka sempat berhigh five sebelum Taehyung pamit dan menyuruh Jungkook untuk kembali jalan mengikutinya keluar dari pintu apartemen.
"Kau habis gajian, ya?"
Pertanyaan menyelidik Jungkook dihadiahi gelak tawa Taehyung. Dia menganggukkan kepalanya, lalu kembali merogoh kantung celananya. Sekilas, Jungkook bisa melihat sebuah luka gores panjang yang masih segar di lengan Taehyung saat tak sengaja lengan jaketnya tersingkap keatas.
Cih, dia hanya akan memperoleh uang setelah mendapatkan luka baru.
"Ini, untukmu." Taehyung melemparkan sebuah plastik bening kecil yang berisi sepasang tindik berwarna perak kebelakang. Untung saja, Jungkook dengan sigap menangkapnya.
Mata Jungkook berbinar. "Uwah! Kau benar-benar membelikanku tindik ini?" serunya riang.
"Iya, tapi itu bukan yang kau lihat di toko kemarin. Harganya mahal sekali, brengsek."
"Brengsek, berapa harga tindik ini?"
Taehyung mengayunkan rokoknya keatas. "5000 won." Ucapnya.
"Sialan! Tindik murahan begini hanya akan membuat telingaku infeksi!" Jungkook menyeru marah. Tapi Taehyung tak menghiraukannya. Bahkan saat Jungkook membuang hadiah Taehyung ke tempat sampah yang mereka lewati, Taehyung hanya tertawa. Dia sudah tahu bahwa reaksi Jungkook akan seperti itu.
"Ah, pemuda yang berpendidikan memang tahu standar dengan baik."
Jungkook menendang tulang kering Taehyung dengan kuat, dan gelak tawa Taehyung justru semakin keras.
Selama perjalanan menuju sekolah Jungkook yang memakan waktu 20 menit dengan berjalan kaki, Mereka memanfaatkannya sebaik mungkin. Taehyung bercerita banyak hal. Mulai dari teman premannya, perkelahiannya, musuhnya, Jimin, dan apapun yang dia alami selama seminggu tidak bertemu Jungkook kemarin. Jungkook menanggapinya dengan baik, kadang tertawa, ataupun segera menimpuk kepala Taehyung dengan buku saat Taehyung melakukan hal yang membuatnya marah. Jungkook mendengarkannya masih dengan berada di belakang Taehyung, dan Taehyung juga tak pernah membalikkan badannya untuk menatap Jungkook saat bercerita. Taehyung tahu, walaupun tak ada sahutan, Jungkook pasti menyimak semua yang dia ucapkan.
Mereka memang seperti ini. Tak ada tangan yang saling bertautan, tak ada langkah kaki yang beriringan, tak ada rayuan, tak ada tatapan yang penuh efeksi. Semuanya sederhana. Taehyung berjalan di depan dan Jungkook yang mengikuti. Orang yang melihatnya tentu menganggap mereka layaknya teman akrab, bukan seperti sepasang kekasih.
"Tae, belok kanan."
Taehyung memberhentikan langkahnya. "Supermarket?" tanyanya. Dia melirik ke arah Jungkook yang kini segera masuk ke dalam supermarket. Karena malas untuk melepas rokok yang berada di bibirnya, Taehyung memilih menunggu di luar.
Beberapa menit kemudian, Jungkook muncul dari balik pintu. Tangannya membawa perban dan salep.
Taehyung menaikkan satu alisnya. "Perban?" tanyanya lagi.
Jungkook berdiri di hadapan Taehyung. Kalau begini, Perbedaan tinggi mereka cukup terlihat sehingga Jungkook harus sedikit mendongak menatap Taehyung.
"Kemarikan tanganmu" jawab Jungkook singkat.
Mengerti dengan apa yang Jungkook maksud, Taehyung berdecih. "Nanti juga kering sendiri."
"Tanganmu."
"Bocah, kubilang – "
"Tanganmu, brengsek!" Jungkook menatap Taehyung dengan marah. Taehyung menghembuskan nafasnya. Dia segera mengulurkan tangannya yang luka. Namun bukan untuk mengikuti mau Jungkook, Taehyung justru merebut perban tersebut dari tangan Jungkook, lalu dengan kecepatan angin melempar perban yang masih tergulung rapi itu ke tempat sampah supermarket. Klontang! Masuk dengan sempurna.
Melihatnya, amarah Jungkook naik hingga ke ubun-ubun. Tanpa sadar, dia menampar Taehyung tepat di pipi. Taehyung tak balas marah padanya. Pria itu hanya diam, mengusap pipinya yang terasa panas lalu meludahkan darah dari mulutnya ke tanah. Tamparan Jungkook tak main-main.
"Anggap saja kita impas, Jungkook. Kau membuang hadiahku, aku pun membuang hadiahmu."
Jungkook tak menjawab, dia segera kembali melangkahkan kaki nya lebar-lebar menuju ke sekolahnya. Taehyung tahu, kekasihnya itu marah besar. Dalam hati dia merutuk tingkah bodoh Jungkook. Jungkook sudah tahu dengan baik kalau Taehyung sangat tidak suka diperlakukan seperti orang sakit. Dia benci dikasihani. Selama ini, luka-luka yang dia dapatkan selalu dia obati sendiri. Taehyung itu bebas, dan dia senang melakukan segala hal sendiri.
Menyusul pria yang lebih pendek di depannya, Taehyung segera mensejajarkan langkah mereka. Rokok tak lagi berada di tangannya. Mulutnya masih terasa amis karena darah, saat dia merokok pasti akan menghasilkan rasa nyeri.
Taehyung melirik Jungkook. "Kau habis diceritakan apa sama Yoongi kemarin?" ucapnya.
Jungkook tak menjawab, tentu saja. Pria itu menganggap seolah tak ada Taehyung disampingnya.
Tapi Taehyung tak menyerah. Sudah terlalu paham karakteristik Jungkook.
"Apa dia bercerita soal temannya yang bernama Jin itu, yang selalu memperlakukan dengan manis kekasihnya, si Namjoon? Sehingga kau tiba-tiba mau berbuat seperti itu padaku?"
Jungkook tak bergeming, dan Taehyung cukup yakin kalau hipotesa nya diatas ternyata benar. Sekolah Jungkook tinggal 30 meter lagi.
"Namjoon itu anak terdidik, bocah. Dia memang butuh dimanjakan. Beda dengan kekasihmu yang bernama Kim Taehyung ini. Kau tahu aku, kan?"
Tinggal 15 meter lagi dan Jungkook semakin mempercepat langkahnya.
Baiklah, Taehyung menyerah.
Dia segera menahan tangan Jungkook. Untung saja saat Jungkook hendak melayangkan tinju nya ke Taehyung, Taehyung dengan sigap menghindar.
Taehyung menatap Jungkook tepat di mata. Dan kekasihnya itu balik menatapnya dengan sangat dingin.
"Kujemput kau sebentar. 15 menit sebelum bel aku sudah ada disini." Jungkook sudah akan membuka suaranya namun Taehyung kembali berbicara. "Dan jangan melakukan hal konyol seperti tadi, tolol. Aku sudah berusaha keras untuk tidak menertawakanmu sekarang."
Jungkook melototkan matanya. Dia meninju dada Taehyung dengan keras yang ditangkap Taehyung sebagai sinyal bahwa Jungkook sudah tak marah lagi. Taehyung tertawa. Dia menoyor kepala Jungkook.
Jungkook mengerang kesal, namun akhirnya tertawa kecil.
"Kalau kau tak ada di depan gerbang tepat 15 menit sebelum bel dibunyikan, aku akan menelanjangimu di depan umum."
Taehyung semakin tertawa. Dia mengangguk lalu sedikit menjauhkan badan dari Jungkook. Jungkook melambaikan tangannya dengan senyum di wajah. Taehyung memperhatikannya hingga Jungkook hilang dibalik pintu gerbang sekolah.
.
.
Next/stop?
