(III) Chapter 2.
.
.
Awal pertemuan mereka berdua saat Jungkook masih kelas duduk di bangku kelas sepuluh. Suatu hari, Jungkook yang sedang berbelanja bahan makanan di supermarket dekat sekolahnya dikejutkan dengan kejadian perkelahian di dalam supermarket. Seorang pria berumur 30-an tampak berusaha melawan pemuda seumuran Jungkook yang duduk diatas badannya. Ya, posisi mereka adalah, bapak tua itu berbaring telungkup dengan pemuda bersurai hitam pekat menduduki punggungnya. Beberapa menjerit ketakutan, bahkan Jungkook merasa darahnya sudah naik keubun-ubun. Benar-benar tidak sopan.
"Jadi, Myungsoo-ssi" sang pemuda menyalakan rokoknya, lalu menghisapnya rakus. Dia menghembuskannya perlahan. Terlihat sangat cuek dan santai, namun entah mengapa membuat orang ketakutan dengan hanya menatap matanya. "–kapan kau akan membayar utangmu?" lanjutnya dengan suara dingin.
"M-malam ini"
"Kapan? Aku tidak mendengarnya"
"M-malam ini aku akan membayarnya!" bapak itu berteriak frustasi. Wajahnya tampak bonyok di sana sini. Jungkook meringis kasihan. Selain merasakan sakit, harga dirinya juga pasti sudah sangat jatuh.
Pemuda yang Jungkook yakini merupakan seorang preman itu menepuk tangannya dua kali. Dia menganggukkan kepalanya, lalu segera berdiri. Dia menarik rambut bapak tua itu dengan kuat, sehingga mau tak mau pria bernama Myungsoo itu mendongakkan kepala dan bertatapan mata dengannya.
"Jadi, jika hingga pukul 23.00 kau juga tidak melunaskan utangmu itu, Akan kupastikan kau tidak akan dapat melihat matahari pagi lagi untuk selamanya."
Semua membeku. Menahan nafas. Beberapa meringsut pergi dengan rasa takut yang kuat. Tak terkecuali Jungkook. Dia segera membayar belanjaannya, lalu keluar dari supermarket dengan hati yang tak karuan. Jungkook bukan pria lemah, dan dia tidak penakut. Tapi entah kenapa, aura pemuda itu membuat bulu kuduk Jungkook merinding. Dalam hati Jungkook terus berdoa, semoga saja dia tidak akan pernah berurusan dengan preman tersebut.
sincerely stay by your side
Nasib berkata sebaliknya. Tiga hari setelah kejadian tersebut, Jungkook kembali bertemu dengan preman muda itu. Kali ini rambutnya berwarna lilac. Pertemuan mereka pun dibilang bukan pertemuan baik-baik. Jungkook baru saja pulang dari sekolahnya dengan suasana hati yang buruk. Hasil ujiannya buruk, dia terlambat datang ke ruang musik dan dihukum, dan sekarang hujan dan Jungkook lupa membawa payung. Sehingga, dia harus pulang dalam keadaan basah-basahan.
Dan preman itu, dengan tak tahu dirinya malah menabrak Jungkook dengan sepeda motornya. Tidak begitu parah, hanya sedikit menyerempet hingga Jungkook terjatuh di trotoar dengan luka robek di lutut. Jungkook rasanya ingin sekali menangis.
"Hei, kau tidak apa-apa?!" Jungkook mendongakkan kepalanya, menatap pria tersebut. Hujan semakin deras, jadi pemuda itu berteriak dengan kencang.
"Kau bodoh!" Jungkook berteriak keras.
"Kau tolol! Tidak ada orang yang sudah di tabrak dalam kondisi baik-baik saja! Otakmu dimana?! Kau sekolah tidak?! Brengsek!"
Jungkook lupa akan fakta bahwa pemuda ini lah pemuda yang paling dia takuti beberapa hari silam. Jungkook lupa kalau mungkin saja setelah ini dia akan hidup dalam bahaya. Amarah menguasai diri Jungkook. Tangisnya pun pecah.
"Lalu bagaimana aku sekarang?! Bagaimana caraku jalan tolol?! Brengsek! Kau mati saja sana!" Jungkook menendang kaki pemuda itu dengan keras, masih dengan tangisannya yang meraung-raung.
Pemuda itu tak bergeming. Namun tak lama, dia menarik kerah Jungkook dengan sangat kuat, Jungkook terkesiap. Pernafasannya tiba-tiba tercekat, belum lagi tatapan mata yang seolah hendak membunuhnya.
"YA! Aku tidak sekolah! Puas kau?! Aku tidak pernah belajar apa itu rasa sakit! Jadi aku tak tahu kondisi mu itu, yang ku tahu adalah kau orang tersombong yang pernah ada! Bajingan!"
Sebuah tinjuan telak mengenai rahang Jungkook. Jungkook jatuh tersungkur. Seluruh badannya seketika mengalami ngilu, terutama bagian rahangnya. Pemuda itu tak mempedulikan Jungkook, dia segera melesat pergi dengan runtutan umpatan kasar. Jungkook menangis semakin keras. Entah, Jungkook lupa berapa lama dia berdiam di pinggir trotoar seperti orang bodoh.
sincerely stay by your side
Jungkook tidak masuk sekolah selama satu minggu. Dikarenakan dia tinggal sendiri di Seoul, Jungkook mengurus dirinya sendiri. Berhari-hari Jungkook terus menangis. Pria ini merasakan amarah dan sakit yang begitu memuakkan. Persetan dengan statusnya sebagai laki-laki. Yang dia inginkan hanya lah meninju balik preman sialan itu.
Hari pertama Jungkook kembali masuk sekolah, dirinya di buat tak bergeming dengan kehadiran preman itu, lagi, di hadapannya. Kali ini dia bersandar di dinding pagar sekolah. Beberapa siswa siswi melirik penuh rasa penasaran, dan saat pemuda itu balas menatap mereka dengan tatapan seramnya, kerumunan itu segera bubar.
Jungkook mendengus, berusaha untuk tidak peduli dengan adanya pria yang sebenarnya ingin sekali dia bunuh. Oh, tapi sial beribu sial. Pemuda itu menyadarinya.
"Hei, bocah."
Jungkook membeku. Sepertinya, suara itu ditujukan untuknya,
"Hei, bocah sombong. Kau tidak lupa dengan kejadian seminggu lalu, kan?"
Jungkook menggigit bibir. Kini, dia sadar sepenuhnya. Bahaya telah datang menjemput.
"K-kejadian apa?"
Preman itu menarik kerahnya hingga tatapan mereka berdua saling beradu. Jungkook terkesiap. Keringat dingin mengucuri tubuhnya,
"Kau–" ucapannya terhenti. Sang preman sibuk menelusuri wajah Jungkook. Jungkook mati-matian berdoa, semoga saja tak ada tinju lagi yang hinggap di wajahnya. Lebam yang preman sialan berikan satu minggu yang lalu belum juga hilang.
"–kau bolos sekarang. Ikut denganku."
"Apa?!"
Cengkraman terlepas. Sang preman menatap Jungkook dingin, tanpa ekspresi. Jungkook benar-benar ketakutan. Sungguh, Jungkook belum mau mati. Preman ini pasti akan menyiksanya, atau memperlakukannya sama dengan pria di supermarket tempo hari.
Tapi dia juga tak punya tenaga untuk melawan saat sang preman menarik Jungkook dengan paksa, ikut masuk ke dalam mobil hitam berkaca riben. Mobil itu melaju kencang dan Jungkook tiba-tiba merasakan kesadarannya menipis hingga mata nya tertutup secara perlahan.
sincerely stay by your side
Jungkook terbangun dengan rasa panik yang menyerang. Dia berada di sebuah ruangan, mirip seperti garasi berukuran besar. Bau alkohol, bensin, semua menyatu. Tidak mengenakkan. Dan hal itu membuat Jungkook semakin takut. Dia sendirian disini, di dudukkan di sebuah sofa bermuatan satu orang yang sudah terlihat lusuh.
Belum selesai kepanikan Jungkook, pintu di sudut ruangan di buka dengan bunyi yang memekakan telinga. Bahu Jungkook menegang. Bukan preman tadi yang masuk. Seorang pria bertubuh pendek tapi kekar datang dengan botol soju di tangan. Tampangnya sangar, sama dengan preman itu. berambut orange terang, tindik memenuhi telinganya.
"Kau merepotkan sekali, brengsek" pemuda itu berbicara lalu menghela nafas. Jungkook tak mengerti apa maksud dari merepotkan ini. Jangan-jangan, dia memang sedang diculik?!
Pemuda itu mendudukkan tubuhnya diatas sebuah ban besar usang. Dia meminum soju dengan sekali tegak. Menyeramkan. Jungkook merinding, nafasnya menjadi tak beraturan. Keheningan yang tercipta benar-benar menyesakkan. Jungkook menahan dirinya yang bergetar tak berhenti, mencoba untuk tidak menangis atau terlihat lemah di hadapan penculiknya.
Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Lamunan Jungkook buyar. Pria itu, preman keparat itu, akhirnya muncul. Jungkook semakin menunduk. Merasakan takut yang membesar kala dia mendengar langkah kaki pemuda itu mendekat.
"Jadi, mau kau apakan pria ini, V?"
"Diam kau"
Jungkook memperhatikan bagaimana pria itu menarik sebuah kursi kayu yang dia tempatkan persis di hadapan Jungkook. Preman yang Jungkook dengar tadi bernama V itu kini telah duduk di hadapannya.
"Kau. Angkat kepalamu."
Jungkook mau tak mau mengangkat kepalanya. Tatapannya beradu dengan tatapan sedingin es itu. hanya dengan saling tatap, Jungkook seolah merasakan lehernya yang tercekik dan membuatnya sulit bernafas. Aura pemuda bernama V ini benar-benar mengerikan. Tangan Jungkook bergetar hebat. Rasanya, Jungkook mau mati saja.
V mengulurkan tangannya, mengangkat dagu Jungkook. "Bekas tinjuanku ternyata belum sembuh." Jungkook bungkam. Pikiran aneh mulai berkecamuk di dalam otaknya. Mungkin saja setelah ini V akan kembali meninjunya, kemudian mengikatnya, menyiksanya, dan membunuhnya.
"Chim, ambilkan aku kain dengan air hangat."
Pemuda satunya yang lebih pendek mendengus. "Fuck, aku sudah membantumu mengosongkan ruangan ini, dan kau menyuruhku seenak jidat." Namun kemudian, sosoknya hilang di balik pintu.
Tinggal mereka berdua. V melepaskan tangannya dari dagu Jungkook, lalu duduk menyandar di kursi. Tatapannya tak lepas dari Jungkook.
"Daebak" ucapan V memecah keheningan. Jungkook masih menundukkan kepalanya.
V menepuk tangannya dua kali. "Daebak, benar – benar daebak." Lanjutnya.
"Kau nyata, kan?"
Ha?
Secara refleks, Jungkook mengangkat kepalanya. Dia menatap V yang juga masih sedang menatapnya. Pandangannya tak semengerikan tadi. "N-nyata?" Jungkook berucap ragu.
V mengangguk. "Kau nyata, kan? Asli manusia? Bukan buatan manusia?"
Apa-apaan. Pertanyaan V terdengar seperti lelucon, tapi raut wajahnya yang sedatar kayu tak mencerminkan kalau dia sedang bercanda.
Jungkook mengeryitkan dahi nya bingung, namun akhirnya mengangguk. "Y-ya, aku.. err, nyata."
"Daebak" Pemuda itu kembali bertepuk tangan dua kali, dengan kepala di geleng-gelengkan. Tanpa ekspresi. Benar-benar terlihat konyol.
Kecemasan Jungkook perlahan memudar. Yeah, Jika memang pria ini berniat menculiknya, setidaknya Jungkook mungkin lebih pintar darinya.
Jungkook berdehem. "A-apa kau, berniat menculikku?"
Hening.
V menatap Jungkook dengan pandangan heran. "Siapa yang bilang aku menculikmu?"
Bola mata Jungkook melebar. "T-tunggu! Maksudmu, kau tidak menculikku?!" tanyanya kelewat senang.
V menganggukkan kepalanya. Jungkook menghela nafas lega. Ternyata, ini tidak seperti yang dia duga.
"Aku hanya berniat menjualmu."
Hampir saja Jungkook tersedak air liurnya sendiri. V dengan aura menyeramkannya muncul lagi. Jungkook menyesali keputusannya yang mengambil kesimpulan secepat ini. Dia kembali menundukkan kepala.
Pria yang tadi bersama mereka kembali dengan kain dan baskom berisi air hangat. V yang sedang merokok menaruh rokoknya di asbak, lalu mengambil kain itu dari temannya.
"Aku memasukkan racun disini." Si pria lebih pendek berucap enteng. V menganggukkan kepala. Jungkook menegang. Apa benar dia akan di bunuh?
V kemudian merendam kain tersebut ke dalam baskom, dan setelahnya kembali duduk di bangku di hadapan Jungkook. Dia mengangkat wajah Jungkook yang memejamkan mata ketakutan.
Aku akan mati, aku akan mati, aku akan-
Eh?
Jungkook tak merasakan sakit. Rasa hangat justru menghinggapi rahangnya. Dan begitu membuka mata, hanya ada pemandangan V yang sedang menekan kain basah tersebut di rahang Jungkook. Jungkook mengerjapkan matanya. Takut kalau-kalau mungkin ini hanya tipuan V. Tapi tatapannya terlihat sangat tulus.
"Kau–" Jungkook bersuara. V beralih menatapnya, mengangkat satu alis. "–apa yang kau lakukan?" tanya nya ragu.
"Tentu saja mengobatimu, tolol." Pria yang duduk di ban itu mengangkat suara. "Itu permintaan maaf Taehyung karena sudah meninjumu, padahal dia yang menabrakmu."
Taehyung mendengus, terlihat tak nyaman, namun kembali melanjutkan aktifitasnya. Jungkook diam membisu. Ternyata, preman ini sama sekali tak bermaksud jahat padanya.
Selesai dengan aktifitasnya, Taehyung melepaskan genggamannya di dagu Jungkook.
"Kau tahu–" Taehyung bersuara, tapi kali ini tidak menatap Jungkook. Dia mengalihkan pandangannya, memainkan rokok di tangannya. "Aku, melihatmu di dalam mimpiku berkali kali. Aku bahkan sampai menggambar wajahmu tiap kali baru bangun tidur, agar tak kehilangan jejak. Dan aku menemukanmu, benar-benar nyata."
Pandangan mereka bertemu.
"Kurasa, kau adalah takdirku."
sincerely stay by your side
Pemuda bernama Taehyung itu bersungguh-sungguh dalam mengatakan kalau Jungkook adalah takdirnya. Setelah mengantar Jungkook pulang dalam keadaan Jungkook yang masih ketakutan, Taehyung secara resmi memperkenalkan dirinya. Pekerjaannya ternyata memanglah seorang preman. Jadi, tentu saja Jungkook tak ingin berlama-lama dengan Taehyung. Jungkook anak baik-baik. Persetan dengan takdir, dia tidak ingin hari nya dilalui dengan perasaan terancam.
Tapi, Taehyung tak menyerah. Keesokan hari, Jungkook mendapati pemuda berambut lilac itu telah menunggu di depan pintu apartementnya, menyapa dengan wajah datar. Taehyung mengantarnya hingga di depan sekolah Jungkook. Bahkan walaupun Jungkook berjalan dua meter di depan Taehyung, Taehyung tak masalah.
Berhari-hari Taehyung mengulangi rutinitas itu. Tak ada obrolan diantara mereka berdua. Taehyung berdiri di depan pintu apartement Jungkook, mengantarnya ke sekolah, lalu pulang. Begitu seterusnya. Lama kemudian, Jungkook mulai tak takut pada Taehyung. Mereka mulai membuka suara, walau topiknya baru perkenalan situ lah, Jungkook mengetahui bahwa Taehyung ternyata seumuran dengannya, namun putus sekolah.
Minggu kedua, Taehyung menghilang beberapa hari, dan kembali ke hadapan Jungkook dengan badan penuh luka. Lehernya di gips, tapi Taehyung bersikeras tetap mengantar Jungkook ke sekolah. Jungkook sempat merasa takut akan kehadiran Taehyung, namun merasakan hawa Taehyung yang berjalan di belakangnya entah mengapa membuat Jungkook nyaman.
Minggu ketiga, Jungkook mendapati Taehyung bersama teman-temannya di depan sebuah rumah tua. Mereka tampak sedang menagih hutang kepada sepasang suami istri lanjut usia yang menatap mereka dengan tatapan ketakutan. Namun, Taehyung tak peduli, dan tak berbelah kasihan. Dia menendang pot bunga hingga pecah berantakan, lalu meneriakkan kapan tanggal terakhir pasangan tersebut harus membayar hutang mereka. Saat keluar dari pekarangan rumah, Taehyung terdiam menatap Jungkook yang juga sedang menatapnya. Kebencian jelas Taehyung rasakan dari cara Jungkook memandang Taehyung. Keduanya tak saling mengabari selama sepekan lebih.
Minggu berikutnya, Jimin–pria yang dulu bersama Taehyung saat menculik Jungkook, entah mengapa mengetahui posisi Jungkook yang sedang berada di perpustakaan kota. Jimin mengajak Jungkook berbicara. Dia bercerita tentang kisah hidup Taehyung, mengatakan bahwa Taehyung memang terlahir dari keluarga preman. Jadi, mau tak mau, ini lah takdir Taehyung. Saat hendak pergi, Jimin meyakinkan Jungkook, bahwa Taehyung adalah orang baik.
Esok hari setelah bertemu dengan Jimin, Taehyung kembali muncul di depan pintu apartement Jungkook. Asap mengepul, puntung rokok tak terhitung di lantai, dua botol soju yang telah kosong, dan kantung mata di wajah.
"Aku datang tadi malam. Rasanya aneh, tidak mengantarmu pergi sekolah selama seminggu. Efek ini yang membuatku berpikir untuk menunggumu disini. Sialnya, aku tidak bisa tidur. Memalukan."
Mata Jungkook memanas.
Di detik itu lah, Jungkook yakin, Kalau Taehyung juga adalah takdirnya.
.
"Taehyung."
"Apa?"
"Kupikir, kau juga merupakan takdirku."
"Dasar bodoh. Kalau aku mengatakan kau takdirku, sudah jelas aku juga takdirmu. Mana mungkin kau punya dua takdir?"
"Tunggu, apa maksudnya ini?"
"Sedari awal, kau dan aku memang takdir. Kita terikat. Kau tolol apa bodoh?"
"Brengsek, kau mengatai ku tolol?!"
"Ya. Aku yang tak bersekolah ini jauh lebih pintar darimu."
"Sialan!"
–begitulah, cara mereka akhirnya menjalin sebuah hubungan kasih.
.
.
Next/Stop?
