(IV) chapter 3.
.
.
Hal yang paling Jungkook hindari dari Taehyung adalah, saat dia marah. Sialnya, Taehyung cepat marah. Apalagi dengan pekerjaannya yang sebagai preman rentenir, Taehyung akan dengan mudah mengayunkan tinjunya.
Seperti hari ini.
Jungkook baru saja pulang dari sekolahnya dan mendapati Taehyung yang sedang berdiri menyandar di pintu apartement milik Jungkook. Wajahnya sangar, dia menatap layar handphone nya dengan penuh emosi. Geretak gerahamnya bahkan sampai terdengar dengan Jungkook.
Jungkook menghela nafas. "Sudah sedari kapan kau disitu?"
"Dua jam."
Taehyung membiarkan Jungkook berjalan ke arahnya, menggeser badannya sedikit agar Jungkook dapat membuka pintu apartementnya tanpa sekalipun mengalihkan pandangan dari benda persegi di tangan.
"Kau mau masuk tidak?"
"Sebentar lagi."
Jungkook memutar bola matanya malas. "Terserahlah" lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju. Jungkook lelah luar biasa. Pelajaran di sekolah hari ini begitu menguras pikiran dan tenaga.
"Bocah, kau kenal pria berambut cepak yang tinggal di dekat sekolahmu?" Taehyung bertanya setelah melepas sepatu timberland nya dan duduk di sofa ruang tengah Jungkook.
"Kau pikir pria berambut cepak hanya satu orang?"
Bunyi meja yang ditendang keras terdengar. Jungkook memejamkan matanya, berusaha mengatur emosinya yang perlahan tersulut. Itu Taehyung. Dia pasti marah karena Jungkook menjawabnya dengan nada tinggi.
"Aku mengenalnya. Namanya Jung Hoseok." Jawab Jungkook akhirnya.
Saat keluar dari kamar, pemandangan Taehyung yang duduk membelakangi dengan tangan yang meremas handphonenya kuat menyapa indra penglihatan Jungkook. Jungkook menghela nafas, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Taehyung.
"Dia kenapa?"
"Bajingan." Taehyung menggeram marah. "Dia bajingan. Dia menuntutku karena melakukan percobaan pembunuhan saat bertugas kemarin. Padahal, pecahan pot yang kupecahkan hanya tak sengaja melukai wajahnya. Bajingan." Kepalan tangan Taehyung mengkuat. Jungkook bisa melihat dengan baik urat-urat tangan Taehyung.
Jungkook menoyor kepala Taehyung. "Kau yang terlalu kasar, bodoh."
"Jeon Jungkook." Tak mengindahkan usaha Jungkook yang hendak menghiburnya, Taehyung justru memberikan tatapan tak bersahabat. Jungkook kembali menghela nafas. Sepertinya dia salah mengajak Taehyung bercanda.
"Kalau kau hanya akan datang marah-marah di apartementku, mending pulang saja."
"Kau mengusirku?"
Taehyung semakin menatapnya penuh amarah, dan mau tak mau akhirnya pertahanan Jungkook runtuh juga. "Ya! Aku mengusirmu! Puas?!"
"Brengsek!" Taehyung tersulut emosi. Dia berdiri dari duduknya, menatap Jungkook tepat di bola matanya. "Aku hanya sedang mencari hiburan, Jungkook! Kau harusnya mengerti posisiku!" serunya marah.
Jungkook ikut berdiri. "Kau juga harusnya mengerti posisiku! Aku lelah sepulang sekolah! Pelajaran menumpuk di otakku, lalu kau datang melakukan hal semaumu disini!" tudingnya. Persetan. Jungkook akan lupa segala hal bila sedang emosi. Apalagi dengan keadaannya yang luar biasa lelah.
"Wah!" Taehyung tertawa sinis. "Tentu saja, kau lelah karena belajar. Bagaimana denganku yang lelah karena sibuk meninju orang sana sini?" Taehyung menarik kerah Jungkook secara paksa. "Kau beruntung karena tak terlahir sepertiku! kau pikir, meninju orang itu enak, hah?!" teriakan Taehyung tepat berada di depan wajah Jungkook.
"Lepaskan aku, sialan!" Jungkook meronta. "Kau mau aku tuduh juga sebagai pelaku percobaan pembunuhan?!"
Cengkraman Taehyung terlepas dengan tiba-tiba. Jungkook jatuh tersungkur. Dia segera meraup udara banyak-banyak karena cekikan Taehyung tak main-main.
Taehyung mengusak rambutnya frustasi. Mengontrol amarah merupakan hal yang sangat sulit dia lakukan. Dirinya jatuh terduduk kembali di sofa. Taehyung menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangan.
Jungkook menghela nafas kasar. Perkelahian seperti ini memang sudah sering terjadi diantara mereka berdua. Taehyung brengsek, dan Jungkook egois.
"Akan kuambilkan minum" Sang pemilik rumah berakhir menyerah. Tak ingin masalah sepele seperti ini menjadi berlarut-larut, dan memunculkan pertengkaran baru. Saat Jungkook hendak berjalan menuju dapurnya, tangan Taehyung tiba-tiba menahan tangannya.
Jungkook baru saja akan membuka suara, namun Taehyung lebih dulu menyelipkan jemari nya di sela sela jemari Jungkook. Dia menautkan kedua tangan mereka begitu erat. Tanpa kata-kata. Masih dengan kepala yang di telungkupkan. Bentuk permintaan maafnya.
Mengerti apa yang Taehyung lakukan, Jungkook kembali menghela nafas. Pria bersurai cokelat tua itu berjalan ke hadapan Taehyung tanpa melepaskan tautan mereka. Jungkook menunduk, menatap bagaimana frustasinya Taehyung saat ini.
"Kau menyedihkan." Jungkook berdesis pelan. Taehyung semakin mengeratkan genggamannya. "Zaman sekarang, tak ada lagi preman yang mau menendang – nendang pot bunga untuk menggertak korbannya. Kau hidup di tahun kapan, ha? Neolithikum?"
Taehyung menggeram. "Jeon Jungkook." ucapnya pelan.
Tapi Jungkook tak peduli. Dia tahu, hanya dengan cara seperti ini lah mereka akan berbaikan.
"Di posisiku sekarang, aku sudah jelas memihak Jung Hoseok. Dia tampan, dan kau merusak ketampanannya. Itu hal yang benar-benar kurang ajar. Pantas diberi huku–"
"Kau mau kubunuh?!"
Taehyung mendongakkan kepalanya, menatap garang ke arah Jungkook. Jungkook mengangkat sebelah alisnya, namun kemudian mengayunkan tautan tangan mereka. Mengacuhkan Taehyung.
"Ah, jadi ini ya yang namanya cemburu." Jungkook bergumam asal.
Taehyung mengeryitkan dahinya. "Apa maksudmu?"
Jungkook mengarahkan tangannya menunjuk Taehyung. "Kau. Cemburu. Dengan Jung Hoseok." Lalu menatap Taehyung dengan tatapan datar.
Butuh sepersekian detik sebelum bibir Taehyung perlahan naik keatas. Senyum tak dapat dia hindari, dan dia berakhir tertawa keras.
Jungkook tanpa sadar ikut tertawa kecil. Senyum Taehyung itu hal yang sangat langka. Dan saat Taehyung tersenyum, ada perasaan aneh yang menyelip di dalam hati Jungkook. Rasa yang menyenangkan.
"Itu kata-kataku, brengsek" Taehyung terkekeh. Tak ada lagi amarah, tak ada lagi rasa frustasi. Semuanya lenyap, hanya dengan lelucon bodoh dan tak bermutu milik Jungkook. Dia melepaskan genggamannya, lalu bangkit berdiri.
Satu hal yang pasti, tangan Jungkook juga lah yang membantu Taehyung meredakan amarah.
"Jadi?" Jungkook menatap Taehyung. Mereka kini saling berhadapan. "Kau akan meminta maaf?"
"Apa itu maaf?" Taehyung tertawa. Jungkook mendengus. "Aku akan membayar penuh biaya pengobatan. Hanya rasa pertanggung jawaban."
Jungkook memutar bola mata malas."Cih, tipikal Kim Taehyung sekali." Ucapnya.
Taehyung tertawa. Dia maju selangkah, dan tanpa aba-aba mengapit kepala Jungkook di lengannya yang kekar. Jungkook terkesiap.
"Sialan! Lepas aku brengsek!"
Tapi Taehyung tak mengindahkan. Melihat Jungkook tersiksa seperti ini sebenarnya adalah hobi tersembunyi Taehyung. Dia menatap bagaimana Jungkook memberontak di rangkulannya, dan itu membuatnya benar-benar merasa terhibur. "Oh, apa sakit?" Taehyung bertanya penuh canda.
"Menurutmu?! Lepaskan aku, bangsat!" jawab Jungkook sangar. Dia kembali memberontak sekuat tenaga. Kepalanya terasa sangat pening. Sungguh, tenaga Taehyung itu tak dapat disepelekan. Preman macam dia tentu saja berkekuatan besar.
Taehyung mengacak rambut Jungkook, lalu kemudian melepas rangkulannya. Detik itu juga Jungkook menghujani Taehyung dengan berbagai tinjuan dan tendangan, yang hanya ditanggapi dengan gelak tawa Taehyung.
"Jadi apa aku kalau tak ada kau di hidupku, bocah"
"Jadi babi sana!"
.
.
Next/Stop?
