(V) chapter 4.


Taehyung itu kaku akan cinta. Ini memalukan, tapi..err..yeah, Jungkook adalah kekasih pertamanya. Terbiasa hidup di lingkungan keras membuat Taehyung asing dengan yang namanya kasih sayang. Orangtua nya lebih sering saling mengumpat daripada bermanja-manjaan. Saat kecil pun Taehyung sudah terlanjur terjun ke dunia preman yang penuh tantangan dan tinju.

Jadi, jangan salahkan cara Taehyung dalam memperlakukan Jungkook. dia bukannya tidak peduli, atau tidak suka. Astaga, demi apapun, Taehyung sangat menyukai Jungkook. Hanya saja, Taehyung begitu bodoh dalam merealisasikan rasa suka nya di kehidupan sehari-hari.


.

.

Hari ini hari sabtu. Taehyung sedang bersantai di markas kelompoknya. Dia dan teman-temannya baru saja pulang dari Roma setelah selama tiga hari bertugas menjaga seorang penjudi professional yang pergi mengikuti acara pelelangan. Yeah, pekerjaan sampingan Taehyung juga sebagai bodyguard.

Taehyung menghisap rokoknya dengan khidmat sembari berbaring di sofa. Badannya terasa pegal. Tiga hari terus-terusan berdiri di depan kamar hotel bukan pekerjaan mudah. Dia butuh istirahat yang banyak.

"V"

Seorang pria berambut ungu tua masuk ke dalam ruangan. Taehyung mengangkat rokoknya, masih dengan mata yang terpejam. "Ada apa?"

"Jungkook ada di luar."

Seketika mata Taehyung terbuka lebar. Dia segera bangkit dari tidurnya. "Suruh masuk saja." dan memilih duduk bersila di atas sofa. Satu tangannya dia tumpukan di sandaran sofa, satu nya lagi dia gunakan untuk merokok. Jungkook, ya. Dia melupakan kekasihnya selama seminggu ini.

Jungkook muncul di balik pintu dengan wajah kusut. Tatapannya menusuk tepat di bola mata Taehyung.

Taehyung mengangkat sebelah tangannya. "Lama tidak berjumpa, bocah."

"Kau darimana?" saat tiba di hadapan kekasihnya, Jungkook menginjak kaki Taehyung begitu keras. Taehyung mengerang kesakitan. "Andai Myungsoo tidak mengabariku, aku pasti berpikir kau sudah mati."

Taehyung mendengus. Sial, kakinya sakit sekali. "Roma." Jawabnya singkat.

"Mana oleh-oleh buatku?"

"Tidak ada."

"Keparat!" Jungkook kali ini menoyor dahi Taehyung begitu kuat, sehingga bagian belakang kepala Taehyung terhantuk di sandaran sofa yang menghasilkan bunyi cukup keras.

"Aduh!" Taehyung kembali mengerang. Rasa sakit hinggap di kepalanya. Ingin sekali dia menghantamkan tinju ke Jungkook, namun kekasihnya itu dengan rasa tak bersalahnya malah duduk di samping Taehyung sambil meminum cola di tangan.

"Kau kasar sekali, bocah." Taehyung melirik sadis ke Jungkook. Jungkook balas mencibir. "Kau lebih."

"Wah-wah, KDRT."

Seorang pria lain muncul dari balik pintu, disusul beberapa pemuda lain di belakangnya. Jungkook yang melihatnya langsung melompat senang. "Andrew!" serunya dengan senyum lebar. Taehyung mendengus.

"Yo, JK" Pemuda bernama Andrew itu memberikan high five kepada Jungkook. Pemuda ini ketua gank Taehyung. Berdarah Amerika, namun fasih berbahasa korea. Aset berharga di dunia per-preman-an. Tato memenuhi seluruh badan Andrew, benar-benar berandalan sejati.

"Kau kapan datang?"

Jungkook merampas pematik Taehyung saat dia melihat Andrew yang sibuk mencari pematik untuk menyalakan rokoknya. Dia memberikan pematik itu, dan Andrew tertawa ketika Taehyung mengacungkan jari tengah kepada Jungkook.

"Hari ini. Mereka menculikku di Italia." Andrew mengangkat dagunya, menunjuk ke arah preman-preman lain di ruangan. Suara tawa menggelegar. Jungkook ikut tertawa.

"Dia dibawa lari karena hampir saja menggagahi gadis disana." Pemuda berambut merah gelap menyahut. "Ya, gadis itu termakan pesona menjijikkan Andrew." Kali ini pemuda berambut hitam pekat bersuara.

Mereka kembali tertawa bersama. Taehyung yang sedang meneguk soju nya juga ikut tertawa keras. Percakapan mengalir begitu saja. Jungkook selalu senang berada di antara teman-teman Taehyung. Walau penampilan mereka menyeramkan, sebenarnya preman-preman ini adalah orang baik. Gank Taehyung yang bernama "Claws" ini memiliki solidaritas yang tinggi, dan juga dijuluki sebagai satu-satu nya kelompok preman yang terdiri dari anak-anak muda.

Tak lama kemudian, Jimin datang membawa makan siang. Taehyung otomatis memberi jatahnya untuk Jungkook, berdalih kalau dia tak nafsu makan karena terlalu banyak menegak soju.

"Jadi, V. Boleh aku meniduri Jungkook hari ini?"

"Uhuk!" Jungkook tersedak. Terlampau kaget dengan pertanyaan teman Taehyung. Dia memang tahu, kalau dirinya selalu di goda saat berkunjung kesini. Walau begitu, Jungkook masih tak terbiasa.

"Coba saja kalau kau bisa menidurinya."

Andrew mengangkat alisnya. "Bagaimana kalau aku bisa?" tanya nya dengan seringai.

Taehyung mengibaskan tangannya. Cuek. "Tiduri saja." Lalu lanjut menegak sojunya.

"Oh," Pemuda lain bernama Myungsoo memasang seringai yang sama. "Jungkook, mau menginap denganku malam ini?" tanyanya sambil menatap Jungkook.

Jungkook tertawa canggung. "Ah-ahahaha." Jungkook panik hendak membalas apa.

"Taehyung saja tidak pernah menyentuh Jungkook." Jimin yang sedari tadi sibuk bermain handphone sambil berbaring akhirnya mengangkat suara dengan malas.

Ucapan Jimin menghadirkan tawa yang lebih keras di seluruh penjuru ruangan. Berbagai umpatan mereka layangkan ke Taehyung. Bahkan Jackson yang duduk di samping Taehyung sudah menyerangnya dengan berbagai tinjuan.

"Kau polos sekali, V"

"Apa perlu kuajari?"

"Jadi sebenarnya, apa yang kau lakukan selama dua tahun bersamanya?"

"Bocah bertampang brengsek ini ternyata takut dengan Jungkook"

"Apa kau bahkan pernah berciuman?"

Taehyung mengerang kesal. Berseru marah ke teman-temannya, namun akhirnya pasrah saja di bully seperti itu. Jungkook ikut tertawa bersama. Hari sabtunya berakhir dengan ceria.


sincerely love you


Kepulan asap memenuhi lorong sempit remang-remang ini. Taehyung menghembuskan nafas. Sedang menunggu Jungkook keluar dari apartementnya untuk berangkat sekolah. Tetangga Jungkook lewat di hadapan Taehyung dengan omelan. Asap dari rokok Taehyung itu mengganggu. Tapi Taehyung tak peduli.

Taehyung melirik jam tangannya. Ini sudah lewat lima belas menit dari waktu Jungkook biasa berangkat sekolah. Dia segera merogoh kantung celananya, mencari handphone, lalu menghubungi Jungkook.

Panggilan Taehyung tak di angkat.

Taehyung mengeryitkan dahi. Tak biasa nya Jungkook seperti ini.

Namun tak lama, panggilan masuk dari Jungkook tertera.

"Aku demam." Ucap Jungkook setelah Taehyung mengangkat panggilannya.

"Demam?" Taehyung mendengus. "Kenapa bisa?" Taehyung membuang puntung rokok ke lantai, lalu menginjakknya.

Suara batuk terdengar. "Entah. Tiba-tiba saja." Jawabnya dengan nada lemah.

"Mau kubelikan apa?"

"Tidak perlu, Jin hyung dan Yoongi hyung akan datang sebentar. Kau juga ada tugas jam 8 pagi ini, kan?"

"Sayangnya, iya." Taehyung menyandarkan badannya di dinding. Satu tangan dia masukkan ke dalam kantong celana.

Taehyung ingin sekali melihat kondisi Jungkook, tapi dia tak tahu cara merawat orang sakit. Belum lagi, jadwalnya sebentar. Taehyung menghela nafas. Memilih untuk mempercayakan Jungkook kepada orang lain.


sincerely love you


Setelah menyelesaikan tugas, Taehyung melesat kembali ke apartement Jungkook. Di tangannya ada sekantung plastik berisi Jus melon, minuman favorit Jungkook. Yang membuka pintu adalah Kim Namjoon, kekasih teman Jungkook.

"Halo, Kim Taehyung." Namjoon menyapa sopan. Taehyung mengangguk lalu masuk ke dalam dan menutup pintu. Ada satu pasang sepatu sekolah di lantai rumah Jungkook.

Taehyung mengeryit. Setahu Taehyung, Jin, Namjoon dan Yoongi sudah lulus SMA tahun kemarin. "Siapa-siapa di dalam?" tanya nya kepada Namjoon. Namjoon yang kini sedang duduk di sofa sembari membaca buku mendongakkan kepala. "Ah, Mingyu, Ketua Kelas Jungkook juga datang. Sepertinya kau tidak pernah bertemu dengan dia."

Cih, bertambah lagi satu pemuda asing.

Taehyung tak langsung menuju ke kamar Jungkook, dia lebih memilih berjalan ke dapur untuk memasukkan jus melon itu ke dalam kulkas. Ada Jin disana, sibuk mengaduk sup di dalam panci.

"Oh, Kau datang?" Jin menatap Taehyung dari balik kaca kabinet di depannya. "Yah, begitulah." Taehyung menyahut malas.

"Demam Jungkook sangat tinggi. Kau tidak mengajaknya keluar tadi malam, kan?"

Taehyung menggertakkan giginya. Setiap kali Jungkook sakit, teman-teman Jungkook selalu menuduh Taehyung sebagai penyebabnya. Dia tak suka diperlakukan seperti ini.

"Aku tidak bertemunya kemarin." Taehyung kemudian menutup pintu kulkas, cukup keras. "Syukurlah kalau begitu." Jin mengangguk lega.

Yoongi dan Jin merupakan teman Jungkook saat kelas dua. Jadi, tentu saja Taehyung lebih lama bersama Jungkook daripada mereka berdua. Namun, mereka bersikap seolah Taehyung itu hanya pengaruh buruk bagi Jungkook, dan melarang Jungkook semaunya.

"Ah, Tae."

Saat membuka pintu kamar Jungkook, ada kekasihnya yang berbaring di atas kasur, di dampingi Yoongi yang duduk bersila di atas kasur dan satu pemuda asing yang duduk di kursi tak jauh dari kasur Jungkook.

Ketiga pasang mata itu beralih menatap Taehyung. Taehyung mengangkat tangan. "Yo, bagaimana keadaanmu?" tanya nya. Jungkook mengedikkan bahu. "Cukup baik." Jawabnya.

"Tattoo baru?" Yoongi membuka suara. Ditatapnya penuh selidik ke lengan Taehyung yang kini dihiasi sebuah ukiran naga asia panjang hingga mencapai punggung tangan. "Dan tindikmu semakin banyak." Lanjutnya lagi. Tentu saja dengan cara bicara yang tak bersahabat.

Taehyung sudah hendak mengumpat, namun Jungkook tiba-tiba terkekeh. "Iya, hyung. Taehyung mengukirnya sendiri. Keren, kan?" Ucapnya. Taehyung tersenyum tipis.

"Cih. Aku tak peduli." Yoongi mencibir, lalu beralih berkutat dengan handphone di tangan.

"Aku juga tak peduli dengan komentarmu." Taehyung balas mendengus. Jungkook melayangkan tatapan tajam ke Taehyung. Dan pria itu semakin mendengus.

"Kau, Kim Taehyung, ya?"

Oh. Eksitensi seorang pemuda asing itu di lupakan. Taehyung menoleh, menatap pemuda lain di ruangan itu. Taehyung menaikkan satu alisnya. "Ya. Kau mengenalku?"

Mingyu – nama pria itu, tersenyum. "Tentu saja. Aku sering mendengarmu dari Jungkook." jawabnya. Taehyung mengangguk, lalu duduk di sofa di samping Mingyu. Dia hendak menyalakan rokoknya, namun Yoongi lebih dulu berseru marah.

"Aku selalu penasaran dengan kekasih siswa emas sekolah kami, pasalnya kau sangatlah terkenal." Mingyu lanjut bercerita. Senyum lebar masih terpatri di wajahnya. Taehyung yang tak terbiasa di puji seperti itu, hanya ber'oh' ria. "Ternyata kau memang benar-benar preman."

Jungkook tertawa menimpali ucapan Mingyu. "Dia memang preman. Brengsek pula."

"bocah kurang ajar." Taehyung melempari Jungkook dengan kotak rokoknya. Yoongi kembali berseru marah, namun Jungkook yang tertawa keras membuatnya terdiam. Yoongi menggerutu pelan.

Mingyu mengeryitkan dahi. "eh..bocah?" tanya nya entah kepada siapa.

"Ah" Jungkook tertawa kecil. "Itu panggilan Taehyung untukku. Padahal katanya aku dan dia seumuran. Mungkin saja sebenarnya Taehyung berusia 30 tahun, makanya dia memanggil ku seperti itu, kan."

Detik Jungkook menyelesaikan kalimatnya, Taehyung bangkit dan langsung menerjang Jungkook di kasur. Dia memberikan gelitikan paling ampuh di badan kekasihnya itu, dan Jungkook tertawa keras.

"Ampun, Tae!" seru Jungkook di sela sela tawanya. Tapi Taehyung tak mengindahkan.

Yoongi memutar bola mata malas. Seolah mengerti kondisi, dia beranjak turun dari kasur lalu duduk di sofa tempat Taehyung tadi. Mingyu hanya mengerjapkan matanya. Bingung dengan pemandangan yang kali ini dia lihat.

Taehyung masih belum menyelesaikan gelitikannya, dan Jungkook tertawa semakin keras di ikuti seruan terus meminta ampun saat Jin masuk ke dalam kamar, membawa nampan berisi semangkuk sup hangat.

"Ya Tuhan" Jin terdiam di depan pintu. "KAU KIM TAEHYUNG! MENJAUH DARI JUNGKOOK!" Jin berseru marah.

Suaranya terdengar sangat lantang sehingga Jungkook segera menahan tangan Taehyung lalu mendorong pemuda itu hingga jatuh dari atas kasur. Percayalah, Jungkook ketakutan bila Jin sedang marah.

"Kau brengsek, Kim Taehyung." Jin menatap tajam ke arah Taehyung yang kini duduk di lantai, sedang memperbaiki rambutnya yang berantakan. "Kau tahu Jungkook sedang sakit, tapi malah menyiksanya seperti itu."

"Taehyung tidak–"

"Jungkook, diam."

Jungkook menghentikan ucapannya. Dia melirik ke arah Taehyung yang tak bergeming. Jungkook tahu sekali, Taehyung sekarang marah besar. Berkali kali Jungkook berdoa, semoga saja Taehyung tak kelepasan dan melayangkan tinju ke arah Jin.

Jin menaruh nampan diatas nakas. "Kau tidak bisa merawat Jungkook, jadi keluar dari sini sekarang." Ucapnya penuh perintah.

Semua memandang Taehyung yang perlahan bangkit dari duduknya. Pemuda itu masih sibuk memperbaiki rambutnya. Saat dia mengangkat wajah, tatapannya berubah dingin dan tajam.

"Wah, berani sekali padaku." Taehyung menyeringai sinis. "Andai bocah ini sedang tidak sakit, tinju ku pasti telah menghantammu hingga tubuhmu hancur berkeping-keping." Seringai itu hilang, bergantikan dengan tatapan membunuh Taehyung. Jungkook menggigit bibirnya kuat. Takut melihat Taehyung seperti itu.

Setelahnya, Taehyung menendang dengan keras pintu kamar Jungkook, lalu menutup pintu apartement Jungkook begitu kuat.


sincerely love you


Nyata nya, Taehyung tak pulang kerumah. Dia malah mendudukkan tubuhnya di kursi taman di depan gedung Apartement Jungkook. Menyesap rokoknya walau ada tanda dilarang merokok disitu.

Siang bergantikan malam. Taehyung melihat teman-teman Jungkook keluar dari gedung lalu perlahan menghilang di sudut jalanan. Taehyung mendengus. Dia memang tak pernah menyukai teman-teman Jungkook yang sangat memandang rendah dirinya.

Taehyung berjalan kembali ke apartement Jungkook sembari mengirimi pesan kekasihnya itu. Jungkook membalasnya, mengatakan bahwa pintu apartementnya tak terkunci dan dia bisa langsung masuk.

"Cih, teledor sekali."

Pria bersurai cokelat keemasan itu baru saja membuka pintu kamar Jungkook yang gelap dan tiba-tiba sesuatu menubruk badannya begitu keras. Tak sakit. Hanya rasa hangat yang perlahan menjalari tubuh Taehyung.

"Jungkook?"

"Maaf."

Itu Jungkook, yang memeluk tubuhnya begitu erat. Kaku, memang. Mereka jarang sekali berpelukan. Dan Taehyung merasa asing dengan skinship seperti ini. Tapi, berhubung Jungkook sedang sakit, mau tak mau Taehyung balas memeluknya. Walau hanya dengan satu tangan.

Satu tangan Taehyung yang bebas dia gunakan untuk menyalakan sakelar lampu. "Kau mengigau?"

Jungkook menggelengkan kepala. "Aku minta maaf soal Jin hyung tadi."

Taehyung menatap Jungkook yang menenggelamkan wajah di dadanya. Entah mengapa, detak jantung Taehyung perlahan menjadi cepat. Jungkook tak pernah terlihat se lemah ini.

"Y-ya, abaikan saja." Taehyung mengusap belakang tengkuknya, canggung.

Jungkook mendongakkan kepala, ikut menatap Taehyung. "Kau tidak marah?" tanya nya dengan mata berbinar. Sialnya, Taehyung justru terpaku. Ini pertama kali nya Taehyung menatap wajah Jungkook sedekat ini.

Rasanya, hormonnya sebentar lagi akan meledak dan menguasai dirinya.

"Tae, kau mendengarku tidak?!"

Taehyung kembali ke alam sadarnya. Dia mengusap wajahnya kasar. Sialan. Pikiran berbahaya.

Jungkook menatap heran. "kau kenapa?" tanya nya, namun Taehyung hanya menggeleng.

"Berhenti memelukku, bocah. Badanku ikut panas." Taehyung menarik hidung Jungkook kuat, dan pemuda itu mengerang kesal.

"Aku kan sedang ingin dimanjakan olehmu."

Taehyung mendengus lalu melepaskan pelukan mereka. "Mimpi mu terlalu tinggi." Jungkook sudah hendak protes, namun Taehyung lebih dulu mendorong badannya pelan menuju ke kasur.

"Kau tidur sekarang agar demammu turun."

Jungkook kembali berbaring dan menyelimuti badannya dengan selimut. Menuruti perintah Taehyung.

Taehyung mematikan lampu dan hendak berjalan keluar kamar, namun suara Jungkook mengusiknya.

"Temani aku malam ini."

Taehyung menghela nafas. Lalu mengangguk, walau tak yakin Jungkook melihatnya.

"Aku tidur di sofa ruang tengahmu. Kalau butuh apa-apa teriak sekuat mungkin, ya."

Dan sebuah bantal melayang dan menimpuk Taehyung tepat di kepala.

"Mati saja kau sana."

.

.


Next/Stop?

( review nya sangat saya tunggu, reader-nims.)