(VI) chapter 5.

(bayangkan aja rambut taehyung disini kayak harry styles kalo diikat. ikalnya sama kayak ikal yang pas mereka tampil di konser seo taiji. belah tengah gimana gitu)


.

.

"Jadi? Jam berapa pertandinganmu?"

"Jam 2 siang ini. Kau bisa datang, kan?"

Suara erangan lama terdengar. Jungkook mendengus. "Kalau tidak bisa datang, tidak usah. Toh baru babak penyisihan."

"Bukan begitu, brengsek." Taehyung menghela nafas. "Baiklah, aku akan datang."

"Oke, kau sudah janji, ya. Awas saja tidak datang!"

Taehyung tertawa di seberang sana. "Roger, bocah."


sincerely


Jungkook menggigit kuku nya, tanda dia sedang gugup. Berkali kali dia melirik jam tangannya, melihat sisa waktu sekolah sebelum mereka yang sedang bertanding sekarang.

Pertandingannya sebentar lagi akan di mulai, dan Jungkook tidak bisa merasa tenang sama sekali. Lawan nya cukup berat, sementara latihan Jungkook seminggu terakhir ini sangatlah tidak maksimal. Terkutuklah tugas sekolahnya yang menumpuk.

"Hei, Jeon Jungkook." sebuah suara memaksa Jungkook mengalihkan pandangannya dari lapangan. Ada pelatihnya yang berdiri tak jauh darinya, sedang sibuk memutar bola basket di jari dengan lihai.

Dia kemudian menatap Jungkook. "Kau kenapa gelisah begitu, merasa tak yakin dengan kemampuanmu?" tanya nya tenang. Jungkook menghela nafas kasar, lalu menggelengkan kepala. Dia kembali duduk di bangkunya.

"Jungkook hanya sedang gugup menunggu kekasihnya, pelatih." Kapten tim Jungkook angkat bicara. Beberapa tertawa, namun Jungkook tak mempedulikan dan memilih untuk memperbaiki tali sepatu.

Sang pelatih memutar bola matanya malas. "Karena itu, aku sangat tidak menyetujui kalau ada atletku yang memiliki kekasih." Gerutunya lalu segera melempar bola berwarna orange itu ke arah Jungkook yang untung saja di tangkap dengan baik.

Pria berumur kepala tiga itu menarik kursi, dan menaruhnya di hadapan para anak didiknya. Tim Jungkook sekarang berada di ruang tunggu pemain. Mereka sudah selesai berganti pakaian, kini tinggal menunggu panitia memanggil untuk pemanasan. Yeah, Jungkook sedang mengikuti kompetisi basket.

"Dengar, anak muda." Sang pelatih duduk di kursi, menumpukan kedua tangannya diatas paha. Dia menatap satu satu pemainnya. Raut wajahnya berubah serius. "Lawan kita ini kuat, jadi kerahkan segala yang kalian miliki. Walau baru babak penyisihan, ingat, permainan kalian 50% di nilai di babak ini."

Jungkook fokus mendengarkan penjelasan sang pelatih. Dia menggenggam begitu erat botol minum di tangannya. Kompetisi ini sudah mereka tunggu selama berbulan-bulan. Jungkook memastikan dirinya tidak akan tampil mengecewakan.

Briefing mereka selesai. Melihat kesungguhan anak-anak yang telah dia didik, sang pelatih tersenyum lebar lalu bertepuk tangan. Dia kemudian mengulurkan tangannya ke depan, yang langsung di susul oleh anak didik nya yang lain. Termasuk Jungkook yang kini telah memantapkan mentalnya.

"Baiklah! SEOUL HIGH SCHOOL! FIGHTING!"


sincerely


"Seriously, Kim Taehyung. Kau akan pergi seperti itu?"

Jimin memasang wajah risihnya saat melihat Taehyung yang berganti kaos di hadapannya. Taehyung mendengus, tak mempedulikan.

Pria yang lebih tua membaringkan badan di atas lantai keramik yang dingin. "Kau menampakkan dengan nyata ke-brengsek-an mu." Lanjutnya.

Taehyung spontan melemparkan sepatu puma nya ke Jimin, dan umpatan kasar menggema di ruangan sempit itu.

"Tak ada waktu, tolol. Aku tidak mungkin menggunakan kemeja penuh darah begitu saat menontonnya."

Yang diajak bicara menggelengkan kepala dramatis. "Itu salahmu yang lupa diri. Sudah kubilang, kau tak usah ikut menyerang hari ini. Selain demi Jungkook, mereka semua itu berniat membunuhmu, Tae. Nyawa mu terancam."

Taehyung mendengus. Dia membungkuk mengambil sebuah karet gelang berwarna hitam, kemudian mengikatkannya di rambutnya yang kini semakin panjang dan berbentuk ikal. "Aku tidak akan mati." Jawabnya asal.

"Percaya diri sekali."

"Aku tidak akan mati. kecuali di tangan Jungkook."

Jimin tertawa. "Sudah kuduga, kau memang takut dengan Jungkook."


sincerely


Giliran Tim Jungkook bertanding akhirnya tiba. Saat memasuki lapangan, suara teriakan supporter yang mendukung sekolahnya menggema di gendang telinga Jungkook. Jungkook terpaku untuk beberapa saat. Kaptennya tadi memang sempat mengatakan kalau satu angkatan kelas XII akan datang mendukung mereka, dan itu benar benar terjadi. Beberapa wajah yang dia kenal duduk di tribun penonton, terlihat sibuk meneriakkan yel yel bersama. Perlahan, senyum Jungkook mengembang. Dia mendapat stamina ekstra tiba-tiba.

Jungkook berlari kecil menuju teman-temannya. Dirinya segera melepaskan mantel dan celana panjangnya, menyisakan celana basket dan baju tanpa lengan berwarna hitam dengan garis keemasan. Tertera nama JK di belakang punggungnya dengan nomor 30 di bawahnya.

Peluit di bunyikan, tanda bahwa pemanasan bagi kedua tim telah dimulai.

Ketika hendak berlari ke tengah lapangan, langkah Jungkook terhenti saat melihat siluet pemuda-pemuda yang dia kenal di tribun seberang.

Sialan. Itu gank Taehyung.

Begitu mencolok, tentu saja. Mereka duduk di antara kerumunan siswa berbaju seragam, dengan tampang menyeramkan. Tindik, tattoo, rambut di cat warna warni, dan rokok di tangan masing-masing orang. Tipikal preman sekali.

"Semangat, Jungkook!" sang preman-preman itu berseru semangat begitu melihat Jungkook yang memandang ke arah mereka.

Jungkook menepuk dahi nya. Entah mengapa merasa malu. Tak ingin fokusnya buyar, Jungkook segera melanjutkan pemanasannya, untuk sementara tak mempedulikan eksitensi preman-preman itu, juga mencari Taehyung yang belum tampak.

Jungkook menjadi pemain starter, berperan sebagai playmaker. Kelincahannya dalam menshoot bola ke dalam ring berhasil membuahkan perbedaan score yang cukup jauh di kuarter pertama. Tim sekolah Jungkook memimpin. Samar-samar, Jungkook bisa mendengar teriakan kencang dari Myungsoo, salah satu teman gank Taehyung yang bercampur dengan suara teriakan teman sekolahnya yang lain.

Pertandingan berlanjut hingga kuarter ketiga. Jungkook akhirnya di kembalikan ke bangku cadangan. Rekan se-timnya bergantian memberikan high five kepada Jungkook. Jungkook tersenyum. Permainannya berjalan dengan lancar.

Jungkook segera menyambar sebotol air dingin dan menegaknya dengan rakus. Letih menghinggapi raganya.

"Kerja bagus, Jungkook." pelatih menatap Jungkook, memberikan dua acungan jempol dan sebuah tepukan di bahunya. Jungkook tertawa, lalu mengangguk senang.

Jungkook tak langsung duduk. Dia lebih memilih berdiri, menatap lekat-lekat permainan tim mereka. Namun, lagi lagi, tatapannya terfokus ke bangku penonton.

Ada Taehyung disana. Bersama Jimin. Hanya memakai kaos sleeveeless rock n roll berwarna hitam, celana jeans selutut yang juga berwarna hitam, kalung rantai di lehernya, dengan rambut ikal berwarna cokelat keemasan yang dia ikat asal-asalan. Jungkook mendengus. Tattoo Taehyung yang terdapat di sekujur lengan dan biceps kekarnya terpampang nyata. Termasuk tattoo besar bertuliskan "Jungkook" di bicep sebelah kanan Taehyung yang diukir sendiri oleh Jungkook.

Cih, pamer sekali.

Menyadari kalau Jungkook sedang menatapnya, Taehyung mengangkat jempolnya tinggi tinggi, dengan wajah datar dan rokok yang berada di bibirnya. Jungkook perlahan tersenyum. Dia ikut mengacungkan jempolnya ke Taehyung, dan pemuda itu dapat melihat dengan jelas kalau bibir Taehyung juga mengukirkan senyuman yang sama.


sincerely


"Jungkook, tidak ingin mengenalkan teman-teman premanmu kepada kami?"

Jungkook sedang mengeringkan rambutnya saat suara itu terdengar. "Ah, kau mau mengenal mereka?" tanya nya balik.

Kapten Jungkook tertawa. "Tentu saja kami ingin. Mereka terlihat menyenangkan." Jawabnya. Jungkook mendengus. Dirinya melempar handuk kecilnya ke dalam loker setelah selesai mengeringkan rambut.

"Yah, kuharap mereka benar-benar menyenangkan."

"Bagaimana kalau dengan kekasihmu saja?" Hyungwon – teman se tim Jungkook, ikut memberikan usulan. Jungkook segera menutup lokernya, lalu beralih menatap teman-temannya, yang ternyata juga sedang menatap Jungkook dengan tatapan penuh harap.

Jungkook mengeryitkan dahinya. "Segitu inginnya kalian mengenal Taehyung?"

"Tentu saja!" jawab mereka kompak. Jungkook memutar bola mata malas, lalu kemudian mengangguk ogah. Beberapa tertawa melihat sikap Jungkook, dan mereka berakhir mengacaki rambut Jungkook.

"Terima kasih, bung. Karena kau kita menang kali ini." Yugyeom, teman terdekat Jungkook di klub basketnya tersenyum lebar ke arah Jungkook. Jungkook tertawa. "Tahap berikutnya, harus kau yang berkuasa, oke?"

Dan mereka tertawa bersama.


sincerely


Taehyung berdiri canggung, saat di kelilingi dengan pemuda-pemuda asing yang menatapnya penuh ketertarikan.

"Err, mereka mau berkenalan denganmu–apapun, begitulah." Jungkook menarik tangan Taehyung mendekat, dan kekasihnya hanya mengikuti. Dia menatap satu-satu teman-teman Jungkook.

Taehyung mendengus pelan. Sial, ini akan memakan waktu lama.

"Halo, Taehyung-ssi." Kapten mereka lebih dulu mengulurkan tangan. "Aku dan yang lain sudah mendengar begitu banyak tentangmu." Ucapnya ramah. Taehyung membalas uluran tangan itu singkat, lalu segera melepasnya. Dia hanya mengangguk menanggapi.

"Ternyata kau keren sekali, tidak sesuai dengan apa yang Jungkook katakan." Yugyeom angkat bicara. Jungkook menggerutu begitu mendengarnya. Taehyung hanya tertawa kecil. "Yah, bagi Jungkook memang hanya diri nya lah yang keren." Teman Jungkook yang lain ikut bersuara, dan kali ini Taehyung benar-benar tertawa.

Obrolan mereka dengan Taehyung berlangsung cukup lama. Sebagian besar di isi dengan pertanyaan-pertanyaan dari teman Jungkook, atau mereka yang menceritakan kejelekan Jungkook. Taehyung lebih banyak tertawa daripada berbicara. Dirinya malas menanggapi hal seperti ini, sungguh.

"Terima kasih sudah menjaga Jungkook dengan baik, sampai jumpa nanti!"

Tim Jungkook pun pamit pulang. Taehyung tersenyum lalu melambaikan tangannya. Akhirnya, dirinya bisa bernafas lega.

Jungkook tertawa menatap reaksi Taehyung. "Uwah, Taehyung si brengsek ramah sekali hari ini." Ujarnya penuh canda. Taehyung meliriknya sadis. Pria itu segera mengapit Jungkook di antara lengannya.

"Kau senang, bocah?" tanya nya dingin, namun Jungkook hanya tertawa. Suasana hatinya sedang baik, jadi dia tak masalah walau Taehyung menyiksanya seperti ini.

"Kau menceritakan tentangku ke mereka, ya?"

Jungkook menggeleng. "Mana sudi aku bercerita tentangmu, tolol."

"Brengsek." Taehyung menjitak kepala Jungkook. Sang korban mengaduh kesakitan.

"Jadi darimana mereka tahu kalau aku kekasihmu?"

Jungkook memutar bola mata malas. "Kau bodoh, tentu saja dari–"

"Hai Jungkook." Kembali ada yang menyapa Jungkook. kali ini dua gadis belia. Taehyung mengangkat satu alisnya. Tak mengenal kedua wanita di hadapannya.

"Oh!" Jungkook segera melepas rangkulan Taehyung, dan menunduk hormat. Dia tersenyum manis. "Noonadeul datang hari ini." Ucapnya lalu tertawa kecil.

Kedua wanita itu mengangguk senang. "Tentu saja! Kami tidak mungkin meninggalkan penampilan kerenmu!" Jawab salah satu dari mereka.

"Terima kasih banyak." Jungkook kembali menundukkan kepalanya hormat. Satu wanita yang lain mengusak rambut Jungkook dan tersenyum. Kerutan di dahi Taehyung semakin berliku.

"Noonadeul pasti akan menonton pertandinganku selanjutnya, kan?"

Kedua wanita itu kembali mengangguk. "Aku dan Seulgi akan berada di baris paling depan, lihat saja." Jungkook tertawa menimpali ucapan wanita berambut panjang itu.

Taehyung mendengus saat percakapan Jungkook dan kedua wanita asing itu berlanjut. Sepertinya kehadirannya di lupakan. Pemuda itu mengeluarkan sebatang rokoknya, lalu menyalakan pematik. Taehyung melepas ikatan rambutnya, membiarkan rambutnya yang panjang menutupi wajahnya. Dia memilih menatap kembali pertandingan di bawah lapangan sana sembari merokok.

"Omong-omong, ini kekasihmu, kan?"

"Ah, iya, noona."

Taehyung menolehkan kepalanya saat merasa disebut. Kedua wanita itu menatap Taehyung dengan tatapan jahil. "Semua yang melihat pemuda ini pasti akan tahu kalau dia pacarmu."

"Wah, kenapa bisa?"

Satu yang berambut pendek tertawa. "Tentu saja dari tattoo bertuliskan Jungkook di tangannya itu."

Jungkook tertawa keras.

Yang berambut panjang menepuk bahu Taehyung, sok akrab. "Semua yang di tribun tadi membicarakan tattoomu. mereka mengatakan kalau kau pasti lah benar-benar mencintai Jungkook."

Taehyung mau tak mau ikut tersenyum kecil. Sudah terbiasa mendengar tanggapan seperti itu tentang tattoo nya. Sebenarnya, makna tattoo itu tak begitu dalam. Tattoo ini hanya lah kado ulang tahun Jungkook dari Taehyung.

Jungkook tertawa menanggapi. Tak lama kemudian, kedua wanita itu pamit, tak lupa mengucapkan kata "semoga langgeng" kepada mereka berdua.

Taehyung segera menarik tangan Jungkook untuk pulang. Tak ingin bertemu lebih banyak orang lagi. Benar-benar merepotkan. Teman-teman gank Taehyung sudah sedari tadi pulang.

Saat di perjalanan menuju tempat parkir yang cukup jauh, Jungkook kembali tertegun menatap pundak Taehyung dari belakang.

"Tae, kau dengar apa kata noona tadi?" tanya nya memecah keheningan.

Taehyung yang sedang berkutat dengan handphone hanya bergumam menjawab.

"Kau kan sangat mencintaiku. Berarti kau harus melindungi ku baik-baik." lanjutnya lagi. Entah bermakna serius atau hanya candaan.

Taehyung mendengus. "Ya, aku sangat mencintaimu. Tapi sepertinya aku lah yang harus melindungi diri darimu, bocah."

Jungkook tertawa lepas. Tanpa aba-aba, dia segera melompat ke punggung Taehyung, membuat pemuda itu terlonjak kaget. Hampir saja Taehyung menurunkan paksa Jungkook, namun sang kekasih sudah lebih dulu menepak kepala Taehyung, menyuruh pemuda itu lanjut jalan atau tidak dia akan menarik rambut Taehyung kuat-kuat.

Taehyung menghembuskan nafas kasar, tapi akhirnya berakhir menurut perkataan Jungkook. walau diikuti berbagai umpatan kasar darinya.

.

.


Next/Stop?

(maaf ya kalau image Taehyung ini asli preman banget. omong-omong, temen preman nya taehyung itu anak muda semua, dan saya ambil karakternya dari anak - anak idol. termasuk Andrew itu si Andrew Taggart, vokalis The Chainsmokers wkwk.)