(VII) Chapter enam.


.

.

Dering handphone memecah keheningan malam di sebuah gang di kota Seoul. Sang pemilik handphone, Jungkook yang sedang berjalan sendirian, berdecak malas. dia kemudian merogoh kantung nya ogah-ogahan. Ada nama Taehyung tertera di layar handphone.

Jungkook menggeser tombol hijau, kemudian menempelkan handphonenya di telinga. satu tangan Jungkook memegang sebuah cup coffee mocca latte.

"Apa?"

"Penutupan final nya sudah selesai?"

"dari tadi."

"Oh." hening sesaat. Jungkook meminum coffee nya beringas. Dia kemudian melempar cup kosong itu ke tempat sampah tak jauh darinya. Suasana sepi sekali, juga mencekam. Jungkook mempercepat langkah kakinya.

"Mau kujemput?"

Jungkook mendengus. "Aku sudah di jalan pulang."

Taehyung terkekeh di seberang sana. "Anak pintar. Ah, selamat atas kemenangan tim basket mu, bocah."

"Tak usah sok manis begitu."

Taehyung tertawa pelan. Jungkook bisa menebak kalau Taehyung sekarang sudah di kamar, bersiap untuk tidur. Taehyung tidur dengan adiknya, jadi dia pasti tidak akan bersuara nyaring.

"Tae, kututup ya. Sudah mau sampai."

"oke, bocah. Selamat malam."

Saat Jungkook hendak menyimpan kembali handphone nya di kantung, ada tangan seseorang yang menepuk bahu Jungkook dari belakang. Dan ketika Jungkook berbalik, matanya melebar sempurna.


sincerely


"Taehyungie, bangun!"

Taehyung mengerang malas. Dia sudah hendak mengumpat kepada siapapun yang berani mengganggu tidurnya, namun sebuah tangan mungil yang menepuk nepuk pipinya membuatnya tersadar.

"Taehyungie! bangun!"

"Ya, aku bangun, Saehyun." Yang lebih tua perlahan membuka mata. Penampilan seorang balita perempuan berumur 4 tahun yang menatapnya dengan senyuman ceria menjadi hal yang paling pertama Taehyung lihat.

"Kau bangun!" pekik gadis kecil itu senang. Taehyung tersenyum kecil. Dia menangkap tangan mungil Saehyun–adiknya, lalu mendaratkan kecupan di telapak tangannya.

"Selamat pagi, tuan putri."

"Selamat pagi, pangeran berkuda!"

Taehyung tergelak. dia mengangkat tubuh kecil itu hingga duduk diatas perutnya. "Darimana kau tahu kata pangeran berkuda?" tanya nya geli.

Saehyun tak menjawab, dia malah asik menepuk nepuk dada bidang Taehyung yang tak terbalut apapun dan memainkan kalung rantai milik kakaknya. Yeah, Taehyung senang tidur tanpa atasan.

"Saehyun, kau mencekikku."

"Kata ibu ini cara untuk membunuh Taehyungie!"

Taehyung memutar bola mata malas. "Memangnya kau tahu membunuh itu apa?"

"Tidak." sang adik menggeleng polos, dan Taehyung hanya bisa semakin tertawa. Dia kemudian bangkit dari tidurnya, menaruh kembali Saehyun disampingnya, lalu beranjak keluar kamar. Saehyun mengikuti nya di belakang.

"Selamat pagi, Bocah berandalan."

Taehyung mendengus. Ada ayahnya yang sedang duduk di depan meja makan dengan kaki nya yang dia naikkan satu diatas kursi. Botol soju dan sebatang rokok berada di kedua tangan. Tindik di kedua telinga, kalung rantai, dan tattoo yang jauh lebih banyak dari Taehyung.

"Berandal, ambilkan ibu mangkok diatas kabinet ini." Ibu nya juga ada disana, sibuk berkutat di depan kompor. Rambut panjangnya yang berwarna merah darah tergerai begitu saja. Taehyung tanpa suara segera menuju ibu nya, mengambil mangkok yang terletak di dalam lemari yang sulit ibu nya jangkau.

"Berhenti memanggilku berandalan." Taehyung kembali mendengus. Sang Ayah hanya tertawa. "Tidak mungkin aku memanggilmu anak baik dengan penampilan seperti itu, saekia."

"Daehyun, kubilang jangan mengumpat di depan Saehyun!"

"Oh," Daehyun–Ayah Taehyung, mengacuhkan perkataan istrinya. Dia justru memajukan badannya, mencari keberadaan putri satu-satunya. "Dimana malaikatku?"

Taehyung mengangkat tubuh adiknya keatas meja, dan mendudukkannya disitu. Saehyun spontan memekik senang melihat ayahnya, dan sang ayah tentu segera menggendong gadis kecil itu. Bermain bersama. Taehyung ikut di kursi makan, memainkan handphone.

"Daehyun brengsek, jangan memegang tangan Saehyun dengan tangan bekas rokokmu!"

"Ibu, kau baru saja mengumpat."

Ayah Taehyung tertawa. "Kau mengumpat di depan Saehyun, Solar." perlahan Taehyung juga tertawa. Saehyun yang tak mengerti pembahasan ikut tertawa lepas.

Wanita berambut merah itu membalikkan badan, melempar sebuah garpu ke arah mereka berdua yang untung saja ditangkap dengan baik oleh Taehyung. "Wah, ibu marah." Taehyung berucap jahil, dan Ibu nya menghentakkan kaki, semakin kesal.

"Sadar umur, Solar. Jangan kekanakan begitu."

"Kubunuh kau sebentar."

"Saehyun, Ibu mu mau membunuh ayah!"

"Sini Saehyun bantu! Yeay!"

"Rasakan kau."

"Keparat."

Taehyung menghembuskan nafas, sudah terbiasa dengan pertengkaran pagi dari kedua orangtuanya. Dia memilih untuk mengecek handphone nya. Hari ini hari sabtu, jadi dia tak ada jadwal mengantar Jungkook ke sekolah. Taehyung sepertinya ada tugas menagih di daerah gangnam siang ini.

"Taehyung, kau sibuk sebentar?"

Taehyung mendongakkan kepala, menatap Ayahnya yang juga sedang menatapnya. "Yah, begitulah." Taehyung mengedikkan bahu.

Solar berjalan mendekati mereka, membawa makanan. "Kalau begitu, panggil Jungkook hari ini, ya." ucapnya sembari menata makanan diatas meja.

"Jungkook?" Taehyung mengangkat satu alisnya. "Buat apa?" dia bergantian menatap ayah dan ibunya.

"Menjaga Saehyun. Ibu dan Ayah mendapat panggilan dari boss besar."

"Tugas buat kalian berdua?"

"Iya. Tugas politik. Tentu saja ibu mu harus ikut."

Taehyung mendengus, namun akhirnya menganggukkan kepala. "Akan kutanya."

"Jungkookie mau datang kesini?" Sang adik kecil bersuara, dengan senyum lebar di wajah. Solar tertawa, lalu mengangguk. "Iya. Jungkookie mau datang menemani Saehyun hari ini!" ujarnya lalu mencubit pipi anaknya gemas. Saehyun memekik senang. Sang Ibu kemudian duduk di samping suaminya, menyiapkan makanan di piring.

"Jungkook oppa, bukan Jungkookie." Taehyung memutar bola matanya malas.

Suasana sarapan di rumah Taehyung pun berjalan lancar.


sincerely


Setelah sarapan dan membersihkan diri, Taehyung segera menghubungi Jungkook. Namun, kekasihnya itu tak kunjung mengangkat panggilan.

"Kenapa lagi dengannya?" Taehyung bergumam sendiri. Dia mendudukkan tubuhnya di atas sofa, dan kembali mencoba menghubungi Jungkook. Ayah dan Ibu nya telah keluar sedari tadi, dan sang adik sedang tidur di kamar. Taehyung juga sudah memakai pakaian lengkap, hendak pergi bertugas.

Kembali tak terjawab.

Taehyung mengerang kesal. Dirinya sudah akan mengumpat namun sebuah panggilan masuk dari Jimin menahannya.

"Apa?" Taehyung berujar ketus.

"Ck, santai brengsek. Aku ada informasi untukmu. Jungkook tadi malam diserang."

"HA?!"

Taehyung hampir saja jatuh dari duduknya, terlampau terkejut dengan apa yang di katakan Jimin. "Tunggu, apa maksudmu diserang?"

"Dia diserang di gang nya, dengan Park Chanyeol. Myungsoo mengatakan kalau Chanyeol terlihat mabuk, namun tak ada yang tahu mengapa dia bisa ada di gang Jungkook. Kau juga tahu Chanyeol tinggal dimana."

Pemuda bersurai cokelat keemasan itu merasakan darahnya naik ke ubun-ubun. Tangan Taehyung terkepal kuat. "Jadi? Dimana Jungkook sekarang? Myungsoo apakan Chanyeol itu? Apanya yang luka? Dimana Park Chanyeol siala–"

"Brengsek. Tanyakan itu semua langsung ke Jungkook. Kau kekasihnya, tolol. Dan dia ada di apartementnya. Jungkook tidak di culik, ingat itu."

Panggilan dari Jimin berakhir.

Taehyung mengusak rambutnya frustasi. Dia kemudian menghembuskan nafas kasar, berusaha mengatur emosinya yang sudah meluap. Tidak, Taehyung tidak akan mengambil resiko dan pergi membunuh Park Chanyeol detik ini juga.

Taehyung segera ke kamar, membangunkan Saehyun, dan segera mengganti pakaian adiknya. Taehyung akan menitipkan bocah kecil ini ke rumah bibi nya.

Jungkook lah yang terpenting sekarang.


sincerely


"Taehyung?"

Pintu apartement terbuka, dan ada Jungkook berdiri di seberang pintu. Taehyung tertegun. Pelipis Jungkook di baluti perban, juga dengan tangannya. Ada bercak darah di perban di kepala Jungkook, dan Taehyung bisa menebak kalau itu luka bocor.

"Kau kenapa tidak mengabariku?"

Jungkook menatap bingung. "Mengabari ap–"

"KAU KENAPA TIDAK MENGABARIKU SETELAH DISERANG?!"

Pertahanan Taehyung hancur. Dia menatap Jungkook marah. Dan Jungkook bisa melihatnya dengan baik. Pancaran kemarahan, kecewa yang di siratkan dari tatapan mata Taehyung.

Jungkook menghembuskan nafas. "Aku pingsan tadi malam. Saat bangun sudah ada Myungsoo di sampingku, tidak ada lagi pemuda itu. Jadi, memang tak sempat mengabarimu."

Hening.

Taehyung mengalihkan pandangannya, menarik nafas dalam-dalam. Pundaknya naik turun tak beraturan. Jungkook tahu, Taehyung sangat lah marah sekarang. Sebenarnya, Jungkook cukup terkejut saat kekasihnya datang. Jungkook berpikir, Taehyung pasti akan lebih dulu pergi membunuh Park Chanyeol.

"Tae." Jungkook mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Taehyung perlahan. "Aku tidak apa-apa, kau jangan berlebihan begitu."

"Dengan luka bocor di kepalamu seperti itu?" Taehyung kembali menatap Jungkook. "Bagaimana bisa aku tenang? Dia mencoba membunuhmu!"

"Dia mabuk, Tae. Dia tak tahu apa yang dia lakukan."

"Mabuk katamu?" Taehyung tertawa parau. "Dia itu licik, bocah. Dia memang hendak membunuhmu, dia membenciku dan otomatis juga membencimu." Pemuda itu menundukkan kepala, menatap ke arah tangan Jungkook yang menggenggam tangannya. "Park Chanyeol itu, ingin menghancurkan segala yang kupunya." Geramnya penuh emosi.

"Lalu? Apa yang kau lakukan disini?"

Genggaman Jungkook terlepas. Taehyung mengangkat kepalanya, menemukan Jungkook yang sedang memberenggut. "Ha?"

"Kenapa kau masih disini? Tidak ikut menghancurkan segala yang Chanyeol punya juga?"

Taehyung tertawa. "Walau tidak bersekolah, aku cukup tahu kalau tindakan seperti itu hanya lah tindakan konyol."

"Kau emosi seperti ini juga konyol, tolol."

"Oh, ya?" Taehyung semakin tertawa. Moodnya kembali membaik. Dia menoyor kepala Jungkook yang di balut perban tanpa sadar, dan kekasihnya itu otomatis saja menjerit kesakitan.

"Brengsek Kim Taehyung!"

Jungkook mengerang marah. Dia menjauhkan tubuhnya dari Taehyung, sudah hendak menutup pintu sebelum Taehyung dengan terburu-buru masuk ke dalam apartementnya.

"Keluar kau! Tidak berperasaan!" Jungkook mendorong-dorong badan Taehyung. Yeah, walaupun percuma karena badan Taehyung itu kokoh seperti batu.

Yang di dorong hanya tertawa lepas. Tidak merasa bersalah sama sekali. Entah setan darimana, Taehyung tiba-tiba menarik Jungkook ke dalam dekapannya.

Pergerakan Jungkook berhenti. Dia mematung di tempat.

Selama dua tahun mengikat kasih, ini pertama kali nya Taehyung memeluk Jungkook.

"Padahal kau baru saja menang pertandingan, tapi malah bernasib sial seperti ini, bocah." Taehyung berucap sembari mengeratkan pelukannya.

Jungkook berdehem. menghilangkan rasa canggung. "Gara-gara Park Chanyeol keparat itu. Aku jadi tidak bisa menikmati pesta klub hari ini." gerutunya kesal.

"Yah, lupakan saja soal Chanyeol." Taehyung mengusak rambut Jungkook. "Aku tidak akan membiarkan pria itu menampakkan diri lagi di hadapanmu. Tidak akan pernah."

Ada keseriusan yang terpancar dari tatapan Taehyung, dan Jungkook merasakan bulu kuduknya meremang.

Ketakutan perlahan menghinggap di diri Jungkook, entah mengapa.

Jungkook mencengkram kaos Taehyung erat. Dia menatap Taehyung tepat di mata. "Kau..tidak akan membunuhnya, kan?"

Tak ada jawaban. Taehyung justru membenamkan wajahnya di pundak Jungkook.

Jungkook kembali disadarkan, kalau kekasihnya ini preman yang hanya tahu mengayunkan tinju.


sincerely


"Baiklah, saya akan memastikan penculikan ini akan berjalan aman, boss."

Pria berumur empat puluh tahun yang sedang duduk di kursi besar yang penuh dengan hiasan permata–bergaya begitu mewah–menganggukkan kepala puas. Penampilannya terlihat seperti seorang CEO perusahaan, dengan jas dan celana kain mahal.

Ada Ayah dan Ibu Taehyung yang sedang berdiri di hadapannya. Mereka menundukkan kepala dengan sangat hormat.

"Kupercayakan padamu, Daehyun." Pria itu mengambil secangkir kopi yang terletak di meja, kemudian meminumnya khidmat. "Pekerjaan ini sangat penting. Sekali kau gagal, perusahaanku dan namamu dan Solar, akan mati. Lenyap. Tak tersisa."

Daehyun menganggukkan kepala tanpa ragu. Solar melirik ke arah suaminya, merasakan beban yang perlahan menghinggapi pundak mereka.

"Ah, dan satu lagi. Anakmu, si Kim Taehyung itu, sudah umur berapa?"

Solar menaikkan satu alisnya. "17 tahun, boss." Namun akhirnya menjawab.

Pria yang dipanggil boss itu tersenyum penuh arti. Lebih ke arah sebuah seringai. Wajahnya yang menyeramkan terlihat semakin seram.

"Setelah pekerjaan kalian selesai, suruh dia menghadap kepadaku. Aku punya pekerjaan khusus untuknya."

Kali ini, Daehyun dan Solar sama-sama mengangkat kepala, menatap ke arah boss mereka.

Bencana baru telah datang.

.

.


Next/Stop?

(sorry for the late update, i've been busy these days. sighs. saya ga janji bisa ngupdate setiap hari, tapi saya usahain ga sampai seminggu lamanya TT)