(VIII) chapter tujuh.
AT FIRST, PENGEN TERIAK DULU! OUR KINGS IS BACK YALL! BANGTAN SLAYED AGAIN!
THE MV, ALBUM, LAGU, SEMUANYAAA SUKAAAA BANGET WTF ASDKJSKJDFKFEL!
TBH SAYA LAGI SUKA BANGET SAMA LAGU BERBAU REMIX, ELETCTRIC POP, DAN EDM. AND FUCKING HELL BANGTAN KOLAB ITU SEMUA DALAM SATU ALBUM!
MANA BAGUS BANGET!
PERFECT! COMEBACK TERSEMPURNA BANGTAN SELAMA AKU SUKA MEREKA HAMPIR 4 TAHUN INI!
SDKJSAJFDKSJFLSFKFDKGDJGDKGD!
#okbye
.
.
Seumur hidup, Jungkook tidak pernah sama sekali berkelahi. Jangankan terlibat perkelahian, melihatnya saja Jungkook kadang risih sendiri. Dia tidak suka kekerasan. Jungkook benci sesuatu yang berbau penindasan.
Sayangnya, nasib membuatnya terikat dengan seorang preman tukang tindas dan kasar.
"Jungkook, menghindar!"
Suara teriakan Andrew membuat Jungkook tersadar, dan begitu tersadar, sebuah balok panjang sudah menuju ke arahnya. Jungkook memekik kaget, namun untung saja Jimin datang dan segera menendang balok itu jauh-jauh. Suara bedebum keras menggema di ruangan besar ini.
Jungkook menetralkan jantungnya yang berdegup kencang. Belum selesai ketakutannya, sebuah tangan menariknya begitu keras dan kasar.
"Kau tolol! Sudah kubilang pergi dari sini!" Itu Taehyung, yang menatapnya penuh amarah. Pergelangan Taehyung berdarah, dan ada goresan panjang di bicepsnya, dalam. seperti nya bekas sabetan pisau.
Jungkook hendak menjawab, namun lagi lagi, sebelah tangannya ditarik kuat.
"Akan kujaga dia!" Pelakunya adalah teman se gank Taehyung, bernama Kyungsoo. Tanpa menunggu respon Taehyung, Kyungsoo sudah lari sembari menarik tangan Jungkook, ke sudut ruangan yang jauh dari jangkauan.
Yeah, saat ini, Gank Taehyung sedang berkelahi dengan kelompok antah berantah yang tiba-tiba datang menyerang markas mereka. Tak ada yang tahu siapa mereka, dan tak ada yang tahu tujuan mereka menyerang gank yang dipimpin oleh Andrew itu. Preman-preman itu pun sudah tua dan berbadan layaknya petinju.
Kyungsoo mendorong paksa badan Jungkook masuk ke dalam kardus besar yang bisa memuat satu badan orang dewasa. Jungkook menurut dengan cepat.
"Kau diam disini, mereka tidak akan menyadari keberadaanmu. Ingat, jangan memunculkan kepalamu. Diam saja. Jangan bersuara."
Kyungsoo memberi perintah, lalu setelah itu kembali pergi membantu teman-temannya. Jungkook mengikuti perkataan Kyungsoo, mendudukkan badannya di dalam kardus tanpa penutup itu.
Berbagai suara terdengar di dalam ruangan itu. Suara umpatan, teriakan marah, kesakitan, bunyi benda yang besar terjatuh, pisau yang saling beradu, tendangan dan tinjuan, gesekan kaki, semuanya beradu menjadi satu. Memenuhi indra pendengaran Jungkook.
Jungkook tidak pernah berada di situasi seperti ini. Benar-benar menyeramkan. Adegan yang biasa Jungkook hanya lihat di film action kini dia rasakan secara nyata. Dan Jungkook tak bisa menutupi bahwa dia sangat ketakutan sekarang. Apalagi dengan darah yang tadi dia lihat dimana-mana. Jungkook merasakan mual di perutnya.
"Fuck, dude! Stop this!" teriakan marah Andrew terdengar. "Sebenarnya apa mau kalian?!" lanjutnya.
Preman-preman bertubuh kekar itu tak ada yang menjawab. Mereka semakin melancarkan serangan sembari terus-terusan tertawa. Merasa pemuda-pemuda di hadapannya ini hanya lah permainan.
Taehyung menggertakkan gigi nya, begitu marah. Tangan kirinya sudah luka parah. Tapi dia tak bisa diam begitu saja atau preman itu akan melayangkan tinjuan ke arahnya.
"Kalian terlalu bermimpi kalau meyakinkan diri bisa mengalahkan kami" salah satu preman itu berbicara sambil tertawa. Jimin yang marah datang kearahnya namun hanya dengan sekali bantingan dengan satu tangan, suara erangan Jimin terdengar begitu menyakitkan. Dia lumpuh total.
Andrew menendang pria dengan tubuh paling kecil. Mereka terlibat adu tinju. "Apa mau kalian?! Kenapa menyerang kami?!" Andrew terkena tinju di perutnya, namun dia segera bangkit dan balas meninju rahang pria itu.
"Ini tugas mulia kami, tugas mulia untuk memusnahkan gank preman bodoh yang hanya menjadi bual-bualan masyarakat." jawab pria lain yang sedang menghajarkan tinju nya habis-habisan ke Myungsoo.
"Perkumpulan anak muda seperti anjing yang tak tahu malu."
"bahkan pemimpinnya seorang makhluk asing. Memalukan." Mereka tertawa bersama, kemudian melanjutkan aksi nya menyerang pemuda-pemuda itu.
Taehyung yang sudah terkapar karena kembali terkena sabetan di kakinya menatap teman-temannya yang lain. Beberapa sudah tak berdaya. Tinggal Andrew, Kyungsoo, dan dua pemuda lain yang masih menyerang. Itupun wajah mereka sudah bonyok kiri kanan.
Sialan.
Taehyung dibutakan amarah. Dia bangkit berdiri, mengambil sebilah pisau tak jauh darinya, dan tanpa perasaan segera menerjang, menusuk musuhnya yang berdiri di hadapannya. Taehyung menusuknya tepat di dada.
"ARGHHHH!"
Suara teriakan pilu menggema, kemudian perlahan menghilang. pria itu ambruk seketika. Darah bersimbah di lantai, mengenai sepatu Taehyung, juga tangannya yang dilumuri darah.
Semua mematung. Baik teman - teman gank Taehyung, preman-preman itu, dan Jungkook yang melihat semuanya dengan baik.
"Brengsek."
Preman itu menatap Taehyung penuh kebencian. Mereka berseru marah, beringsut dengan kecepatan penuh menuju Taehyung. Namun pemuda itu dengan kecepatan kilat menarik pria paling kecil yang tak berkutik di dekatnya, lalu menodongkan pisau di lehernya.
"Kalian bergerak se inchi, dia akan mati."
Preman-preman itu berhenti seketika. Suara dingin dan tatapan tajam Taehyung menciutkan nyali mereka. Masih tergambar dengan jelas bagaimana cara Taehyung tadi membunuh teman mereka.
Suasana semakin tegang. Taehyung menggenggam pisau itu dengan mantap di tangan, siap menggeseknya ke leher pria di cengkramannya, kapanpun dia mau.
"Baiklah." yang paling besar diantara mereka akhirnya mengangkat tangan ke udara. "Kami menyerah." ucapnya.
Andrew yang sedari tadi hanya diam mengeryitkan dahinya. Ada yang ganjal disini. Tadi mereka bertarung tanpa ampun, dan sekarang secepat ini putus asa?
Belum selesai keheranan Andrew, suara tepukan tangan begitu keras menggema di dalam ruangan tiba-tiba. Beberapa terkejut, termasuk Taehyung.
"Bravo, Kim Taehyung. Bravo."
seorang pria tua masuk ke dalam ruangan, diikuti beberapa pria yang bertubuh sama dengan preman-preman yang menyerang mereka. Bedanya, pria-pria itu lebih berpakaian rapi. Melihat siapa yang masuk, preman-preman itu segera mundur teratur, memberi jalan kepada pria itu untuk dapat jalan ke depan Taehyung.
Cengkraman Taehyung di pisau terlepas.
Dia mengenal orang ini, dengan sangat baik.
Boss besar–julukannya. Seorang pejabat dengan pangkat tinggi di pemerintahan negara, sangat berpengaruh di bidang politik. Yeah, tapi tentu saja berotak licik. Dia lah yang memegang penuh kekuasaan di dunia gelap.
Pria tua itu telah sampai di hadapan Taehyung. Senyumnya melebar sempurna. Dia tak peduli walaupun ada mayat pria yang berada di bawah kakinya. tatapan menuju tepat di mata Taehyung.
"Kau pemberani, seperti yang kuduga." ucapnya dengan bangga. "Saat melihat caramu berkelahi tadi, aku tahu taktikmu benar-benar turun dari ayahmu. Membanggakan."
Pria itu maju selangkah, menepuk bahu Taehyung. Otomatis Taehyung meringis kesakitan. Pria itu menepuk tepat di luka robek Taehyung.
"Tunggu, jadi maksudmu, semua ini hanya lah rencanamu?" Andrew angkat bicara. Dia juga mengenal pria di depan Taehyung itu. Boss besar tempat gank mereka bekerja. Karena itu, semua ini semakin membingungkan.
Sang pria mengangguk santai. "Ya. Preman-preman ini hanya skenario ku. Aku ingin melihat potensi lebih dari Taehyung, yah bisa dibilang potensi kalian juga termasuk. Tapi Taehyung hanya fokusku."
Taehyung mengeryit tak mengerti, dan teman-temannya yang lain menatap tak percaya.
Boss besar itu kembali menatap Taehyung. "Kau mengagumkan. Langsung bertindak dengan emosimu, tapi cerdas. Aku butuh preman sepertimu. Preman yang tahu mengkondisikan tinjunya."
Senyum lebar mengembang di bibir pria itu, tapi Taehyung tak bergeming. "Temui aku besok di kantor. Kau sudah lulus kualifikasi, dan aku akan memberimu tugas istimewa."
Setelahnya, pria tua dan para bodyguardnya berjalan keluar gudang. Diikuti dengan preman-preman tadi sambil membawa mayat temannya yang habis ditusuk Taehyung.
Meninggalkan kesunyian dan rasa tegang yang mencekam di dalam ruangan itu.
sincerely
Taehyung tak bergeming di duduknya. Teman-temannya yang lain sibuk membersihkan ruangan, saling mengobati, namun Taehyung tetap tak bergeming di sofa. Bahkan saat Jungkook datang, membalut lengannya dengan perban, Taehyung diam membisu.
Jungkook tak berkata apa-apa. Dirinya masih shock. Tangannya bahkan gemetaran saat melilitkan perban di lengan Taehyung.
"Tak usah mengobatiku, bocah. Gemetaranmu hanya akan semakin membuat tanganku sakit."
Taehyung akhirnya membuka suara, menatap Jungkook. Kekasihnya itu terkejut, refleks menundukkan kepala. Jungkook menjauhkan tangan. Dan Taehyung bisa melihat dengan jelas rasa takut yang Jungkook berikan padanya.
Taehyung menghela nafas. "Kau takut padaku?"
Jungkook mencengkram erat perban di tangannya. Bahkan, suara Taehyung membuatnya takut. Kejadian tadi, kejadian dimana Taehyung berubah menjadi sosok yang tidak dia kenal, terus terputar di dalam otaknya.
"Bocah. Begitu caramu memperlakukan kekasihmu?"
Taehyung berdecak, dia kemudian menarik tangan Jungkook untuk mendekat. Jungkook terkesiap. Taehyung mendongak, menatap Jungkok tepat di mata. "Jangan menatapku seperti itu, tolol." bisiknya.
"Kau menyeramkan." Jungkook membuka suara. dia menunduk. Menggenggam erat tangan Taehyung. "Kau menyeramkan. Aku takut sekali, brengsek. Aku takut melihatmu seperti itu."
Tetesan airmata jatuh mengenai punggung tangan Taehyung. Jungkook menangis. Bahunya bergetar hebat. Taehyung terpaku. Jungkook menangis begitu hebat, walau tanpa suara. Tak tahu harus berkata apa, Taehyung membalas genggaman Jungkook begitu erat. Menautkan kedua tangan mereka berdua. Dia mengelus punggung tangan Jungkook dengan ibu jarinya. Taehyung tak peduli walau rasa sakit menyerang tangannya.
"Cih, opera sabun." Teman-teman Taehyung yang lain memutar bola mata malas.
Andrew perlahan berjalan kearah mereka. Pemuda berambut pirang itu kemudian merangkul Jungkook yang masih berdiri sambil menangis. Sebagai ketua gank, Andrew merasa perlu turun tangan menangani ini.
Pemuda berdarah amerika itu menghela nafas."Yah, beginilah kenyataan dari kekasihmu, Jungkook. Dia brengsek, emosian, bertindak semaunya, dan suka melukai orang." Taehyung mendengus ke arah Andrew, tapi Andrew tak peduli. "Tadi itu bukan pembunuhan pertamanya. Dia memang suka membunuh orang."
Taehyung terdiam, memilih menatap tautan tangannya dengan Jungkook.
Andrew mengusak rambut Jungkook lembut. "Tapi, ketahuilah. Taehyung tak pernah berniat membunuh. Itu semua terjadi di luar maunya. Efek emosi. Dan sebagian besar emosinya tercipta karena melihat teman-temannya disiksa."
"Aku tak memaksamu untuk menyetujui perbuatan keji Taehyung. Dia pembunuh, itu salah. Jadi–" pemuda bule itu menarik nafas. Dia menatap Jungkook dan Taehyung bergantian. Ingin tertawa saat melihat kedua pemuda di hadapannya saling menundukkan kepala. "Jadi, Jungkook. Sekarang pilihanmu. Apa kau masih mau bertahan dengan Taehyung si brengsek ini, atau berhenti disini?"
Entah mengapa, rasa sakit yang lebih perih muncul di dalam dada Taehyung. Dia mendongak, kembali menatap Jungkook yang masih menghindari kontak mata dengan Taehyung.
Tak ada suara. Jungkook terdiam cukup lama.
Sekelebat memori mereka berdua perlahan terputar di otak Taehyung. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Dan, dia tak akan bisa membayangkan hidupnya tanpa Jungkook lagi.
Nafas Taehyung tertahan saat perlahan Jungkook. mengangkat kepalanya. Menatap Taehyung dengan matanya yang memerah dan bengkak. Kekasihnya itu terdiam, lalu kemudian menggeleng pelan.
"Aku tidak akan meninggalkan Taehyung. Dia hidupku."
Andrew tertawa kecil mendengarnya. Dia kembali mengusak rambut Jungkook. Taehyung masih terpaku seperti orang bodoh.
"That's great, bung. Percaya lah, Walau Taehyung idiot dan tak pernah belajar, dia tidak akan melukaimu sedikit pun. Kau juga adalah segala-nya Taehyung."
Bibir Taehyung tertarik keatas dengan sempurna. Dia semakin mengeratkan tautan tangan mereka. Berjanji dalam hatinya untuk tak akan pernah melepasnya. Jungkook terkekeh kecil, lalu ikut tersenyum.
sincerely
"Selamat pagi, bocah."
Jungkook baru saja membuka pintu apartement, dan telah ada Taehyung yang bersandar di dinding. Menunggunya. Jungkook tertawa kecil, lalu menutup pintunya.
"Sudah dari tadi disitu?"
"Tidak juga." Taehyung menggeleng. Ditatapnya Jungkook yang sedang sibuk mengunci apartemennya dengan kedua tangan menggenggam kantong plastik besar. "Kau terlihat kesusahan."
Jungkook mendengus. "Yah, begitulah."
"Apa itu?"
"Baju seragam baru anak basket." Jungkook selesai dengan aktifitasnya. Dia berbalik badan, kemudian perlahan berjalan. Taehyung mengikuti dari belakang. Satu tangan Taehyung di perban full, jadi dia hanya menggunakan baju sleeveless.
"Andai tanganku tidak begini, aku pasti sudah membantumu."
Jungkook tertawa lepas mendengarnya. "Omong kosong. Tidak ada sejarahnya kau mau membantuku dalam hal seperti ini."
"Astaga," Taehyung menggeleng. "Aku brengsek sekali sebagai kekasih." ucapnya dramatis, dan Jungkook semakin tertawa dibuatnya.
Mereka berjalan dalam hening. Kali ini, Jungkook berangkat begitu pagi, jadi jalanan setapak belum ramai dan terlihat sepi.
"Bocah." Taehyung bersuara.
"Apa?"
"Balik badan."
Jungkook mengeryitkan dahi, namun kemudian berbalik badan. Ada Taehyung yang berdiri tegap, menatapnya dengan senyum lebar di wajah.
"Ada apa denganmu?" ucap Jungkook heran. Tapi Taehyung hanya tertawa kecil. Dia maju selangkah. Satu tangan dia masukkan ke dalam kantung jeansnya, dan sebatang rokok muncul di tangan Taehyung.
"Bantu aku nyalakan ini." ucap Taehyung. Jungkook mendengus. Dia berjalan mendekat, menarik pematik yang kali ini Taehyung gantung di kalungnya. "Kampungan sekali style mu." sarkas Jungkook, tapi Taehyung hanya tertawa.
Jungkook mengambil rokok di tangan Taehyung, kemudian menyalakan pematik. Melihat Jungkook yang sedang serius begini, Taehyung tertegun.
"Kau ternyata manis, bocah."
"Hah!" Jungkook tertawa sinis. "Kau sudah pacaran denganku selama dua tahun dan baru menyadarinya? Matamu dimana selama ini?"
"Sialan." Taehyung menoyor dahi Jungkook, membuat pemuda itu mengerang kesal. "Nah, sini rokokku." ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Tapi Jungkook tak mengindahkan Taehyung. "Aku tidak pernah merokok. Apa enak?" dia menatap Taehyung. Kekasihnya itu hanya tertawa. "Coba saja." jawab Taehyung.
Jungkook perlahan menghirup rokok pelan-pelan, dan detik berikutnya Jungkook terbatuk tanpa henti.
"Uhuk! Sialan apa ini! Uhuk! Brengsek!"
Taehyung tertawa begitu keras melihat reaksi Jungkook. Benar-benar keras. Jungkook yang melihatnya segera meninju dada Taehyung kuat, masih dengan batuknya yang justru membuat Taehyung semakin tertawa keras.
"Sialan!" Jungkook menyeru marah. Tenggorokannya terasa perih, sungguh. "Bagaimana bisa kau menyukai zat menyeramkan seperti itu?" ucapnya sembari mencoba memberhentikan batuknya.
"Itu karena kau baru pertama kali mencobanya, tolol." Ucap Taehyung dengan kekehan. Dia mengusak rambut Jungkook. "Kau ternyata tidak cocok merokok."
"Aku juga tidak mau mencobanya!" Jungkook bergidik ngeri. Dia kembali melanjutkan perjalanannya ke sekolah, dan Taehyung menemani nya di belakang masih dengan tawanya. Pemuda itu segera menghisap rakus rokoknya. Ah, begitu merindukan batang nikotin itu.
Tak lama, keduanya sampai di depan sekolah Jungkook. Beberapa melirik tertarik ke arah Taehyung yang datang dengan tangannya di baluti perban.
"Nah, bocah." Taehyung membuang puntung rokoknya ke tanah, menginjaknya. "Aku tidak bisa menjemputmu. Harus menghadap ke boss besar." Ujarnya sambil menatap Jungkook.
Jungkook mengangguk. "Kabari aku, apapun tugas yang diberikan untukmu."
"Siap, bocah." Taehyung tersenyum, dia kembali mengusak rambut Jungkook. Akhir-akhir ini, rambut kekasihnya itu terasa selembut sutra. Dan Taehyung menyukainya.
Jungkook berjalan menjauh sembari melambaikan tangannya ke Taehyung. Taehyung tertawa, memberi gestur kepada Jungkook untuk cepat masuk ke dalam.
Yah, sepertinya semua akan baik-baik saja.
.
.
Next/Stop?
(review nya sangat saya butuhkan juseyo. dan tentu saja jangan berhenti streaming mv DNA guys!)
