(IX) chapter delapan.


.

.

Taehyung nyata nya mengingkari janji.

Setelah pulang dari pertemuannya dengan boss besar, Taehyung tak kunjung mengabari Jungkook bahkan setelah dua hari telah berlalu.

Pip – "Ya, bocah? Acara dirumahmu? Oke, aku akan datang."

Taehyung menutup panggilan, kemudian menghembuskan nafas berat. Dia mengacak rambutnya frustasi. Pemuda itu kemudian beranjak dari duduknya, menyalakan lampu kamarnya yang sedari tadi mati, dan berjalan keluar kamar. Taehyung menyesap rokok ganas. Benar-benar frustasi.


sincerely


"Oh," begitu pintu apartement Jungkook terbuka, sosok berambut hitam legam muncul. "Halo, Taehyung." itu Namjoon, lagi.

Taehyung mengangguk, kemudian berjalan masuk. Beberapa pasang sepatu ada di lantai rumah Jungkook. "Hanya kalian bertiga?"

Namjoon tertawa, lalu mengangguk. "Ya. Hanya pesta kecil-kecilan." Namjoon menyusul Taehyung yang sudah berjalan menuju dapur.

Begitu memasuki ruang makan, suara Jin menyapa. "Namjoonie, mau mencoba kue ini?" ucapnya sambil menata kue di meja. Dia menatap dingin ke arah Taehyung, tapi kemudian mengacuhkan. Taehyung mendengus, ikut tak peduli.

Namjoon berjalan menuju Jin, memakan sepotong kue yang di suapkan kekasihnya. Jin menatapnya dengan mata penuh harap. "Yah–" Namjoon tertawa kecil. Dia mengecup pipi Jin. "Enak seperti biasa, sayang." Jin memekik senang atas jawaban Namjoon.

Taehyung rasanya ingin mual.

"Mana Jungkook?" Taehyung bertanya sembari menarik satu kursi, kemudian mendudukinya. Namjoon mendongak, menatap Taehyung. "Ah, tadi keluar bersama Yoongi. Membeli cream."

Tepat setelah Namjoon berkata, suara pintu apartement yang terbuka terdengar. Jungkook muncul di baliknya, dan wajahnya menjadi sumringah begitu melihat Taehyung. Ada Yoongi dibelakangnya, membawa begitu banyak plastik belanjaan.

"Kau sudah datang?" Jungkook tersenyum lebar begitu sampai di dapur. Taehyung mengangguk. Pemuda itu melirik kearah Jin dan Namjoon yang asik bercanda tawa di seberang meja. "Cih, sibuk sendiri." cibirnya.

"Jadi? Makanannya sudah selesai?" Yoongi menaruh plastik belanjaan di meja. Jin mengangguk. "Yap, tinggal menambahkan cream di kue." dia beranjak ke arah Yoongi, mengeluarkan bahan makanan dan Jungkook ikut membantu.

Taehyung memperhatikan kesibukan tiga pemuda itu sembari memainkan handphone. Namjoon beralih duduk di samping Taehyung.

"Rambutmu sudah panjang sekali." Ucap Namjoon sembari menatap Taehyung. Taehyung mengedikkan bahu. "Tuntutan pekerjaan." jawabnya singkat. Tangannya gatal ingin menarik sebatang rokok di kantung celana, tapi Taehyung tahu Yoongi pasti akan langsung melemparinya pisau.

"Pekerjaan?" Yoongi ikut bersuara. "Kau kerja apa sekarang?" dia menatap Taehyung dengan alis bertaut.

Taehyung mendengus. "Bukan urusanmu."

"Itu urusanku." pemuda paling kecil di antara mereka itu menaruh beberapa strawberry di atas kue. "Kau kekasih Jungkook, kau berada dibawah pengawasanku."

"Hah. Lucu sekali." Taehyung tertawa sarkas. "Kau pikir kau siapanya Jungkook? Orangtuanya?"

"Jaga bicaramu, Kim Taehyung." Jin mengangkat suara, menatap tajam dan dingin ke arah Taehyung.

Taehyung mengangkat satu alis. "Punya hak apa kau melarangku seperti itu?"

Suasana menjadi tegang. Namjoon menghela nafas, sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini, sementara Jungkook diam tak berkutik. Dirinya takut melawan Jin, namun dia juga tak mau memojokkan Taehyung.

Jin diam menatap Taehyung, mereka saling bertatapan. Namun tak lama, pemuda berambut cokelat muda itu menghembuskan nafas kasar. "Jungkook, ambil kotak cangkir di kamarmu." ujarnya lalu lanjut membantu Yoongi.

Jungkook mengerjapkan mata, bingung. Tak biasanya Jin mau mengalah seperti itu. "Ah–Ya, hyung. Akan kuambilkan."

Jungkook berjalan keluar dapur, dan Taehyung dengan cepat mengikuti kekasihnya. Dia tak sudi berada disitu lebih lama.

"Mereka brengsek." Taehyung berucap setelah berada di kamar Jungkook. Jungkook mendengus, dia membuka lemari, sibuk mencari kotak cangkir. "Begitu - begitu mereka merawatku dengan baik."

Taehyung mendengus. "Aku juga bisa merawatmu."

"Mustahil."

"Sialan." Taehyung menoyor kepala Jungkook dari belakang, dan kekasihnya itu mengerang kesal. "Aku lebih lama denganmu daripada dengan mereka."

Jungkook memutar bola mata malas. "Terserah kau saja lah." pemuda itu memilah beberapa kotak, menaruhnya diatas kasur untuk melihat lebih dalam isi lemari.

Taehyung menyandarkan badannya di pintu lemari, menatap kesibukan Jungkook. Dia tak akan membantu selama Jungkook masih bisa mengerjakannya sendiri. Lagipula, melihat Jungkook serius begini menjadi hiburan tersendiri Taehyung.

"Bagaimana pertemuanmu dengan Boss besar kemarin?"

"Yah–" Taehyung mengedikkan bahu. "Tak ada yang istimewa."

"Kau dapat pekerjaan apa?"

"Pekerjaan biasa."

"Pekerjaan apa?" Jungkook melirik ke arah Taehyung. Entah ini hanya perasaannya, atau Taehyung memang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.

Taehyung mengibaskan tangan. "Tak penting." ucapnya, menghindari kontak mata dengan Jungkook.

"Tae." Jungkook menghentikan aktifitasnya. Sepenuhnya menatap Taehyung, curiga. "Apa pekerjaanmu?"

Taehyung menghembuskan nafas. Akhirnya menatap Jungkook tepat di mata. "Membunuh. Aku disuruh membunuh orang."

Hening.

Jungkook menatap Taehyung tak percaya. Dia membuka bibirnya, namun kemudian kembali mengatupnya. Tak tahu ingin berkata apa. Jungkook mengerjapkan matanya, kemudian segera mengalihkan pandangan, kembali mencari kotak cangkir.

"Sudah kuduga reaksi mu akan seperti ini."

Jungkook tak menjawab. Taehyung kembali menghembuskan nafas berat.

"Bocah." Taehyung kembali memanggil. Tak ada sahutan. Jungkook seolah menganggap Taehyung tak ada disitu. Tangannya bergerak semakin cepat mencari kotak cangkir.

Taehyung mendengus. Dia segera menangkap pergelangan tangan Jungkook. Pergerakan Jungkook terhenti. Pemuda itu diam membisu.

"Kenapa tak menolaknya?" suara Jungkook bergetar. Dia menunduk, memilih menatap lantai.

"Untuk apa aku menolaknya?"

"Karena itu berbahaya, brengsek!" Jungkook menatap marah ke arah Taehyung. Tapi, kekasihnya itu tak bergeming. Dia sibuk menatap bola mata Jungkook.

"Tae, kau harus menolak–"

Kejadian ini terjadi begitu cepat. Taehyung mengangkat dagu Jungkook, dan langsung mendaratkan bibirnya di bibir kekasihnya. Jungkook terpaku. Terkejut akan tindakan kekasihnya. Taehyung menciumnya begitu dalam, dan lama. Tak ada pergerakan apapun. Hanya lah sebuah ciuman polos.

Ciuman pertama mereka berdua.

Taehyung menyesap lembut bibir Jungkook, lalu melepasnya pelan. Dia menatap Jungkook yang juga sedang menatapnya dengan mata melebar.

"Aku akan baik-baik saja." Taehyung tersenyum kecil. "Jangan khawatir, oke?"

Perlahan, wajah Jungkook dihiasi rona merah, naik menjalar hingga ke kedua telinga. dan itu, dengan sangat nyata di lihat oleh Taehyung. Untuk pertama kali nya–lagi, wajah Jungkook terlihat begitu manis.

Taehyung meneguk ludah susah payah. Jantungnya berdetak begitu cepat melihat wajah memerah Jungkook.

"A-ah," Jungkook memundurkan badan, gelalapan. Wajahnya masih sangat memerah. "C-ciuman pertama macam apa itu?!" Dia menatap Taehyung garang, tapi tetap saja terlihat sangat keki.

Taehyung mengusap tengkuk, ikut merasa canggung. "Yah, aku tidak pernah ciuman, jadi tak tahu bagaimana menciummu dengan panas."

"Bukan itu maksudku!" Jungkook melototkan matanya, memukul dada Taehyung kuat. Mendengar ucapan Taehyung barusan, rasanya wajah Jungkook semakin panas saja. "Jadi bagaimana?" Taehyung menaikkan alis heran, yang justru membuat Jungkook ingin meledak.

"Tolol!" dia menendang tulang kering Taehyung keras-keras, dan sang korban tentu langsung mengaduh kesakitan. "Sial, Jungkook! Kau kasar sekali!" Taehyung menghardik kesal ke Jungkook, tapi pemuda itu tak peduli.

Jungkook berjalan cepat keluar kamar. "Kau! Carikan aku kotak cangkir itu! Jangan keluar kamar kalau belum mendapatnya!" wajahnya masih memerah. Dia menatap Taehyung galak. "Kalau tidak ada, kubunuh kau!" lalu kemudian menutup pintu keras-keras.

Taehyung bersungut kesal. Dia melangkah malas kembali ke lemari Jungkook, mencari sekotak cangkir.

Kejadian ciuman tadi terlupakan dengan cepat. Taehyung keluar dari kamar, membawa sekotak berisi cangkir baru di tangan. Jungkook terlihat tak peduli, sibuk melanjutkan aktifitas memakan kue buatan Jin. Jin juga tak berbicara banyak, dia mengambil kotak itu, mengeluarkan isinya, lalu segera menuangkan teh panas di tiap cangkir. Percakapan baru di mulai saat Namjoon bersuara, menceritakan hal konyol di kampus, yang di tanggapi dengan tawa oleh ketiga temannya kecuali Taehyung yang sibuk memainkan handphone.

Namun lama-lama, Taehyung ikut larut di obrolan itu. Tertawa bersama.

Ciuman itu terlupakan. Juga kekhawatiran Jungkook atas misi Taehyung.


sincerely


Kabari aku kalau sudah selesai.

Taehyung berdecak kecil, memasukkan benda persegi itu ke dalam kantung celana setelah membaca sebuah pesan masuk. Dari Jimin. Taehyung mengacak rambut panjangnya yang menghalangi penglihatan. Dia menepuk-nepuk celana, memperbaiki tuksedo hitam yang melekat pas di badan.

Taehyung menyalakan rokok. Tindik tak lagi ada di telinganya. Walkie talkie yang berada di atas meja berdengung lembut.

"Cek nomor 10, Kim Taehyung. apa kau sudah selesai? siap berangkat?"

Taehyung menghembuskan asap rokok. Dia menyambar walkie talkie itu.

"Ya, aku siap."

Saatnya memulai.


sincerely


Suara hingar bingar membahana, memenuhi ruangan lebar kerlap-kerlip itu. dentuman lagu bernada keras terdengar, juga teriakan-teriakan orang yang asik menari bersama. Khas klub sekali.

Taehyung meregangkan jari. Rokoknya sudah habis di perjalanan menuju klub ini. Dia menelisik ruangan itu dari depan pintu. Jumlah pengunjung yang datang berkisar sekitar 100 orang. Sepertinya, untuk membuat pembunuhan disini akan menjadi hal yang sulit.

Earphone bluetoothyang terpasang di telinganya mengeluarkan suara berisik. Taehyung memfokuskan diri.

"Cek nomor 10, Kim Taehyung. Kau sudah sampai di tempat tujuan?"

"Ya."

"Segera lancarkan misimu. Ingat, sesuai rencana. Target berada di kamar 702. Dia tak mengenal siapa yang dia pesan, plan A berjalan lancar. Sekarang jam 22.00. waktu mu hanya 10 menit."

Taehyung mengangguk. "Aku paham. Akan kukabari setelah selesai."

"Roger. Selamat berjuang, Kim Taehyung."

Taehyung menekan tombol di earphone, tombol recording. Dia melesat cepat, menyelinap di antara orang-orang yang sibuk melampiaskan nafsu, menuju ke sebuah lorong besar yang berisi kamar-kamar. Lampu lorong ini remang-remang, dan pintu-pintu tertutup rapat. Taehyung mendengus. Sekarang dia tahu alasan mengapa boss besar itu lebih dulu bertanya soal umurnya.

702.

Taehyung sampai di depan pintu kamar, kamar tujuannya. Dia menarik nafas dalam dalam. Sedikit menarik turun sapu tangan yang terdapat di balik lengan baju. Sapu tangan beracun.

Pintu di buka, dan penampilan seorang wanita muda nan cantik yang sedang duduk di pinggir kasur hanya dengan memakai baju dalam terlihat. Wanita itu sedang asik menegak anggurnya, namun pergerakannya terhenti.

"Oh," wanita itu tersenyum senang. Dia meletakkan gelas di atas meja, kemudian berjalan dengan anggun ke arah Taehyung. "Ternyata mereka memang memberiku yang terbaik."

Taehyung tersenyum ramah. "Selamat malam, Miss Ga Yeon. Untuk semalam ini, mohon kerja samanya." Dia membungkuk hormat. Wanita itu tertawa kecil. "Ah, kau manis sekali."

Taehyung menutup pintu, dan segera menguncinya. "Oh, agresif sekali." Wanita itu kembali bersuara. Senyumannya berubah menjadi senyuman nakal. Taehyung balas tersenyum tenang.

Wanita bernama Ga Yeon itu perlahan menanggalkan satu-satu helai kain di badannya. Taehyung diam menatap pergerakan wanita itu. "Miss Ga Yeon indah sekali." Taehyung berucap, dan wanita itu tersipu.

Ga Yeon berjalan ke atas kasur, menengkurapkan badan. Taehyung mulai membuka kancing jas satu-satu. Di susul dengan kancing kemeja. Taehyung kini tak memakai atasan apapun. Dan wanita itu, menatap takjub. "Sial, seksi sekali." Dia mengumpat dengan geraman.

Taehyung tertawa. Dia memungut sapu tangan yang jatuh ke lantai. Taehyung mendudukkan tubuhnya di samping wanita. Membelai rambutnya lembut. Ga Yeon memejamkan mata, tersenyum. Menanti pergerakan selanjutnya Taehyung.

Tapi, semuanya ternyata menjadi akhir. Taehyung segera menyekap mulut dan hidung wanita itu dengan sapu tangan. Ga Yeon terkesiap, membuka mata paksa. Hendak memberontak, tapi tentu saja kalah dengan kekuatan Taehyung. Taehyung mencengkram erat tengkuknya, memaksa wanita itu menghirup lebih banyak.

Kepanikan jelas terlihat. Wanita itu menangis ketakutan di dalam diamnya. Suara erangan menyakitkan terdengar dari balik sapu tangan, dan butuh beberapa detik sebelum akhirnya suara itu menghilang. Badan wanita itu langsung terjatuh, lemas. Dirinya tewas seketika.

Taehyung menghembuskan nafas. Dia memang pernah membunuh, tapi tidak dengan cara langsung seperti ini. Taehyung segera menyalakan kembali bluetooth speakernya.

"Nomor 10, disini Kim Taehyung. Misi telah di laksanakan."

Tak butuh lama, suara terdengar di seberang sana. "Sinyal di terima. Selamat atas kerja kerasmu Kim Taehyung. Segera keluar dari sana, kembali ke mobil dan melesat menuju markas. Kedatanganmu ke klub itu tak akan pernah di ketahui lagi. Kau aman. Mission clear."

Sambungan terputus. Taehyung segera bangkit, kembali mengenakan kemeja dan tuksedonya. Dia mengambil plastik transparan kecil di kantungnya, lalu memasukkan sapu tangan itu. Taehyung menunduk, membuat poni nya kembali menutupi mata. Tak ada cctv di dalam kamar-kamar itu, dan cctv di lorong telah di bajak. Taehyung berjalan aman di lorong, kembali menyelinap di antara kerumunan manusia, dan melesat pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa satu pun jejaknya yang tersisa.


sincerely


"Pagi, bocah."

Taehyung mengangkat tangan, menyapa Jungkook yang baru keluar dari pintu apartement. Memakai seragam sekolah. Rokok berada di bibir Taehyung, di gigit dengan santai. Pemuda itu memakai baju tanktop berwarna putih, dengan celana jeans belel. Rambut panjang ikal nya di biarkan tergerai berantakan. Ada beberapa tindik baru di telinga Taehyung.

"Tumben kau datang telat." Jungkook berjongkok, memasang tali sepatu. Taehyung menghisap rokoknya, kemudian menghembuskan perlahan. "Aku ketiduran."

Jungkook mendengus. "Dasar preman pemalas."

Taehyung tertawa. Dia menatap Jungkook. "Kau pulang jam berapa hari ini?"

Kegiatan Jungkook selesai. Dia segera berdiri. Ikut menatap Taehyung. "Jam 2, sepertinya. Kenapa?"

"Aku mau mengajakmu jalan-jalan."

Dahi Jungkook terlipat. "Kau gajian?"

Taehyung mengangguk. "Yah, kali ini hasilnya fantastis. Aku kaya raya sekarang." Seringainya mengembang, dia kembali menyesap rokok.

Jungkook tertegun. Dia lupa akan misi Taehyung yang kekasihnya beritahu kan tiga hari lalu. Kejadian dimana Taehyung menciumnya terus terputar seperti kaset rusak, dan itu membuatnya lupa banyak hal. Yah, walaupun di luar Jungkook terlihat tak peduli.

Pemuda itu mengunci apartement, kemudian berjalan di belakang Taehyung yang sudah lebih dulu jalan. "Apa kerjamu?"

"Astaga," Taehyung mendengus. "Kau lupa, bocah?"

Jungkook menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Sepertinya iya."

"Aku tahu, pasti karena ciuman kita dua hari itu, kan."

Wajah Jungkook kembali memerah. Dia melotokan mata, yang untung saja tak di lihat Taehyung. Pemuda berbaju sekolah itu menendang tulang kering Taehyung kuat. "Tidak, brengsek!" dia bersungut kesal. Taehyung hanya tertawa.

"Jadi? Kau bisa jalan denganku sebentar sore?"

"Yah, akan kuusahakan." Kata Jungkook. Dia sedikit mendekatkan badan, memperbaiki rambut belakang Taehyung yang nampak berantakan. "Asal kau ikhlas mentraktirku daging hanwoo 5 porsi."

Tawa Taehyung terdengar begitu lepas. "Roger, bongsor." Ejekan Taehyung membuat Jungkook ikut tertawa.

Untuk kedua kalinya, Jungkook kembali lupa perihal misi Taehyung.


sincerely


Tepat setelah bel pulang berbunyi, Jungkook mendapati Taehyung berdiri di depan pagar sekolah, menunggunya. Senyum Jungkook mengembang, segera berlari kecil ke arah kekasihnya. Taehyung melambaikan tangan.

Jalan-jalan mereka hanya lah sebuah jalan-jalan biasa, tak ada unsur kencannya sama sekali. Taehyung mengajak Jungkook ke jalan penuh jajanan korea, dan itu sudah lebih dari cukup untuk kekasihnya yang sangat menyukai makanan. Taehyung beberapa kali dibuat tertawa oleh Jungkook yang kelewat semangat memakan segala jajanan yang ada.

Setelahnya, dia menemani Jungkook ke toko pierching. Jungkook sama gila nya dengan Taehyung kalau itu menyangkut pierching ataupun earrings. Dia memilih beberapa, dan Taehyung membayarnya. Saat malam tiba, Taehyung menarik tangan Jungkook memasuki sebuah rumah makan hanwoo. Jungkook berseru senang. Seolah menemukan surga.

Di jalan pulang, daerah hangang sedang mengadakan pesta kembang api. Mau tak mau, Taehyung harus menemani Jungkook yang sudah heboh menarik-narik lengannya untuk ikut menonton. Taehyung mengumpat. Tapi akhirnya menuruti mau Jungkook. Taehyung tertegun menatap pantulan kembang api di mata Jungkook yang sedang terpesona. Jungkook sangat antusias. Dia bahkan tak menyadari kalau Taehyung ikut tersenyum, menyelipkan jari nya diantara jemari Jungkook. Menautkan tangan mereka begitu erat.

Taehyung tak pernah mengucapkan kata "Aku mencintaimu" kepada Jungkook, benar-benar tak pernah. Tapi dia rasa, Jungkook pasti akan tahu perasaannya melalui genggaman erat Taehyung.

"Hari ini keren." Jungkook berseru senang saat telah sampai di depan pintu apartementnya. Dia mengangkat bingkisan tteokbokki dan plastik berisi sepasang tindik yang tadi di belikan Taehyung. "Terima kasih, Mr. Preman." Jungkook tersenyum lebar.

Taehyung tertawa, lalu mengangguk. Dia memberikan gestur agar Jungkook segera masuk. "Akan kujemput besok pagi." Ucapnya. Jungkook mengangguk semangat. "Kau harus lihat tindik ini besok di telingaku!"

"Ya ya ya" Taehyung kembali tertawa. Jungkook melambaikan tangan, kemudian menutup pintu apartementnya. Taehyung tersenyum. Entah mengapa, dia tak sabar menunggu hari esok tiba.

Tapi, takdir berkata sebaliknya.

Saat Taehyung 50 meter tak jauh dari gedung apartement Jungkook, dia bertemu dengan sekelompok yang sangat dia kenal, terlihat sedang menunggunya.

Sialan. Taehyung mengepalkan tangan.

"Wah wah" pria paling tinggi diantara kelompok itu mengayunkan tongkat kasti di tangan. "Ini dia, pembunuh Miss Ga Yeon."

Jantung Taehyung rasanya berhenti berdetak. Wajahnya memucat.

"Apa maksudmu, Park Chanyeol." Taehyung berdesis, menetralkan suaranya. Tapi, yang dipanggil Chanyeol itu hanya tertawa. Dia memberi kode kepada teman-temannya untuk maju selangkah. Taehyung sudah memasang kuda-kuda.

"Kau tahu," Chanyeol membuang permen karet yang sedari tadi dia kunyah ke tanah. "Kau itu tolol. Pembunuhan segampang itu pun bisa ketahuan." Seringai tercetak jelas di bibirnya.

Taehyung menggigit pipi dalamnya. Sial, dari jumlah tentu saja Taehyung kalah telak sekarang.

"Dan satu hal lagi yang paling tolol," Chanyeol melesat cepat tanpa di duga Taehyung, dan pukulan keras hinggap di tempurung kepala Taehyung. Taehyung mengerang kesakitan. penglihatannya memburam.

"Kau lupa kalau orang yang kau bunuh itu adalah atasanku, Kim Taehyung."

Suara tawa Chanyeol samar-samar Taehyung dengar, dan tak lama kesadarannya telah hilang sepenuhnya. Taehyung ambruk di tanah.


sincerely


Keesokan harinya, Jungkook membuka pintu apartement, dan tak ada Taehyung menunggunya sembari bersandar di dinding. Pemuda itu mengeryitkan dahi. Tak biasanya Taehyung se telat ini.

Tak mempedulikan, Jungkook segera mengunci apartementnya, lalu bergegas menuju sekolah. Rasanya ada yang hampa, ketika dia berjalan seorang diri tanpa Taehyung. Padahal, hal ini sudah biasa terjadi jikalau Taehyung pergi bertugas di luar negeri.

Namun untuk kali ini, hampa nya benar-benar terasa.

Tiga hari berlalu, Jungkook tak kunjung mendapat kabar ataupun bertemu dengan Taehyung. Jungkook menatap kesal ke handphone. Sikap Taehyung yang hilang tanpa jejak ini selalu Jungkook keluhkan. Dia melempar asal handphonenya ke atas kasur, lalu lanjut tenggelam di balik buku pelajaran.

Genap tujuh hari.

Jimin datang ke apartement Jungkook tiba-tiba. Itu hal yang langka. Jungkook yang baru pulang dari latihan basket terkejut melihat Jimin berdiri di depan pintu apartementnya.

Jimin menatap Jungkook. Wajahnya sangat terlihat tidak baik.

"Taehyung hilang."

Bola basket di tangan Jungkook jatuh, menggelinding di lantai. Lorong itu lenggang.

Jungkook baru tahu, ternyata sesakit ini rasanya kehilangan.

.

.


To Be Continued


(chapter ini hasil dari efek galau saya lihat jungkook. serius. dia kurus banget. kayak sakit hati liat dia kurus gitu, mana lesu banget. beratnya yg kemarin 66kg jadi 61kg sekarang. saya sakit hati:" gaenak liat dedek kookie kurus gitu. sedih banget. ada yang hampa aja liat paha nya udah kecil, pipinya tirus, lehernya kecil, lengannya kurus. gada dedek bongsor lagi:" gada pipi tembem lagi:")

bytheway ilovemicdropandgogosomuch wtf.

review dan sarannya sangat saya butuhkan, reader-nims.