(X) chapter sembilan.
.
.
Jungkook terus-terusan menatap lantai keramik di bawahnya. Tak mengeluarkan suara bahkan saat orang-orang mengajaknya bicara. Dia menunduk dalam.
Jimin yang duduk di sampingnya menghela nafas. Pemuda itu memberi kode ke Andrew, menyuruh melakukan sesuatu untuk menenangkan Jungkook.
Sang ketua gank menatap Jungkook. "JK, aku tahu kau tidak baik baik saja." dia mengangkat kursinya agar tepat di hadapan Jungkook yang duduk di atas sofa. "V akan baik-baik saja. Percaya padaku."
Jungkook mengangguk. "Lanjutkan pembahasan kalian. Jangan pedulikan aku." masih dengan kepala tertunduk.
Mau tak mau, Andrew menuruti. Dia paham posisi Jungkook. Jadi, lebih baik memberikan anak itu ruang sendiri untuk sekarang ini.
Andrew beralih menatap rekan-rekan gank nya. Mereka kini sedang berkumpul di markas, jam 8 malam. Jimin yang datang ke apartement Jungkook segera membawa kekasih temannya itu ke markas mereka.
"Jadi, intinya. Masalah pencarian V sudah di urus oleh orangtuanya. Tugas kita adalah mencari dalang dibalik ini. Beberapa petinggi berspekulasi kalau V dijebak oleh boss besar. Kau tahu, harga V naik pesat sekarang. Kudengar, di Jepang dia dihargai 1 Milyar. Tawaran menggiurkan untuk menjual dia kesana." Andrew menghela nafas. Dia menyandarkan badan di kursi.
"Sudah kubilang, misi pembunuhan itu terlalu ganjal." Myungsoo angkat bicara. Tangannya terkepal erat. Beberapa mengangguk setuju. "Aku juga bingung, sejak kapan Boss besar ada urusan dengan Miss Ga Yeon?" Jackson ikut berkomentar.
Jimin mengacak rambut frustasi. "Dan kita dengan tololnya, membiarkan dia mengambil misi itu." ada nada penyesalan di suara Jimin. Sebagai sahabat semati Taehyung, dia juga pasti menderita layaknya Jungkook.
"Gank lain bilang, Boss besar memang sudah lama mengincar V." Kyungsoo mendengus, dia menyesap rokoknya beringas. "Wajah tampan V menjadi nilai plus di kolektor dunia. Apalagi kemampuan tinjunya yang tak bisa diragukan lagi."
"Si tua brengsek itu," Andrew mengepalkan tangan. "Aku benar-benar akan membunuhnya kalau V kenapa-kenapa."
Ruangan itu kemudian lenggang. Helaan nafas dan tegukan soju mengisi keheningan.
Awalnya, mereka tak tahu kalau Taehyung menghilang. Taehyung sudah biasa tak mengabari selama beberapa hari. Tapi, Jimin yang mendapati Handphone Taehyung yang tergeletak di jalan tak jauh dari apartement Jungkook akhirnya merubah pemikiran itu. Dia segera menghubungi orangtua Taehyung, juga teman seganknya. Sudah jelas sekali kalau Taehyung diculik.
Jungkook mengangkat kepala, akhirnya. Dia menatap satu-satu pemuda di ruangan itu. Tatapan Jungkook kosong. "Apa mayat Taehyung belum ditemukan?"
Andrew menggeleng. "Sejauh ini tidak ada. V kemungkinan besar memang masih hidup." pemuda berdarah amerika itu mengacak surai Jungkook. "Kekasihmu sekuat harimau, dia tidak akan mati semudah itu." ucapnya lalu tersenyum. Mencoba menguatkan Jungkook.
"Taehyung tak akan mati." Jimin merangkul Jungkook. Meremas lembut bahu Jungkook. "Dia bilang, dia hanya akan mati di tanganmu."
Beberapa tertawa kecil. Jungkook tak menjawab, dia kembali menundukkan kepala. Preman-preman itu menatap Jungkook dalam diam. Dua tahun mereka mengenal Jungkook, melihat pemuda itu mengikuti Taehyung setiap hari sabtu dan minggu ke markas mereka. Bertengkar, saling mengumpat, tak terlihat seperti sepasang kekasih. Jungkook pemuda tangguh, sama halnya dengan Taehyung. Dia juga brengsek. Tapi pemuda itu tak pernah meninggalkan Taehyung.
Pernah suatu hari, Taehyung mabuk berat, juga dengan teman-temannya yang lain. Merayakan keberhasilan mereka merebut satu lokasi di Incheon. Jungkook merutuk, tapi tetap menyeret Taehyung ke rumahnya walau dengan susah payah. Atau kejadian saat Taehyung hampir kehilangan tangannya karena tertimpa besi panas. Jungkook yang paling panik, menunggu hingga operasi Taehyung selesai, tak pernah meninggalkan Taehyung sedetikpun hingga kekasihnya sadar. Saat Taehyung sadar, Jungkook meneriakinya tolol berkali-kali. Walau begitu, dia pula yang menangis paling keras ketika melihat kondisi menggenaskan Taehyung. Jackson dan Kwon–teman se gank Taehyung yang berambut hijau–sampai kesusahan menenangkan Jungkook.
Andrew kembali menghela nafas, memecah keheningan. "Kita harus segera bergerak cepat mencari dalang dibalik ini." Dia meregangkan badan. "Kita akan memulai dengan menyusuri orang-orang tersembunyi di balik boss besar."
Semua mengangguk, menghentikan aktifitas mereka, memilih menatap fokus ke Andrew. Namun sebelum itu, Andrew menoleh menatap Jungkook. "Kau sekolah besok, kan? Pulanglah. Dilan akan mengantarmu." Andrew mengangkat dagu, menunjuk seorang pemuda berdarah Indonesia yang kemudian menganggukkan kepala.
Jungkook bangkit tanpa bicara. Preman teman Taehyung itu ikut berdiri. Dia kemudian berjalan keluar ruangan. Andrew sempat menepuk bahu Jungkook, tapi pemuda itu terlalu lelah untuk menanggapi.
Saat Dilan hendak menyalakan motornya, Jungkook bersuara. "Bisa naik motor Taehyung saja?" Jungkook menunjuk ke arah motor ninja besar berwarna putih yang terparkir tak jauh. Dilan mengangkat sebelah alis, tapi kemudian mengiyakan. Jungkook menyerahkan kunci cadangan motor Taehyung yang dia punya.
Di perjalanan, Jungkook setidaknya merasakan kehadiran Taehyung dari motornya. Sedikit membuat Jungkook merasa lega.
"Kau tahu–" setelah sampai di depan gedung apartement Jungkook, Dilan berbicara. "Aku punya feeling kalau V hyung akan baik-baik saja. Mungkin, yeah, dia terluka. Tapi dia pernah berkata padaku, kalau dia punya pegangan yang membuatnya ingin terus hidup."
Dilan tersenyum. Jungkook menatapnya. "Jadi, aku yakin si brengsek itu pasti sedang berusaha keras untuk tetap hidup, entah dimanapun dia berada sekarang."
Perlahan, senyum Jungkook muncul. Dilan benar. Taehyung pasti sedang berjuang disana. Maka, dia juga akan berjuang hidup disini tanpa kehadiran Taehyung. Menunggu dengan sabar kekasihnya.
Taehyung tak akan mati. Dia akan baik-baik saja.
sincerely
Jungkook membuka pintu apartementnya. Biasanya, indra penciumannya pasti akan langsung mendeteksi bau asap rokok Taehyung. Atau tampang brengsek Taehyung yang sedang bersandar di dinding. Tapi kali ini, semuanya tidak ada.
Jungkook menghela nafas. Tidak, dia tidak boleh berpikiran seolah Taehyung telah mati. Jungkook mengunci apartement, kemudian berjalan menuju sekolah dengan gontai.
Dia dan Taehyung telah bersama selama dua tahun. Waktu yang begitu lama. Jungkook sudah terlalu terbiasa dengan segala aktifitasnya yang melibatkan Taehyung.
Kira-kira, apa yang Taehyung lakukan sekarang? Apa dia sedang di siksa? Apa dia sudah makan?
Handphone nya bergetar di saku. Jungkook mengangkat malas.
"Jungkookie? Sudah berangkat sekolah?" itu suara Jin.
"Hm."
"Sarapan tidak lupa, kan?"
"Iya."
"Aku dan Yoongi akan ke apartement mu sebentar siang. Mau kubawakan apa?"
"tidak usah." Jungkook melirik ke anak anjing liar yang melintas di sampingnya. Taehyung suka bermain dengan anjing ini. Hatinya kembali berdenyut sakit.
"Aku tahu kau sedang sedih, tapi kau tetap harus hidup, Kookie." Jin menghela nafas diseberang sana. "Ayah Namjoon orang cukup berpengaruh di kepolisian. Dia akan membantu sebisa mungkin."
"Terima kasih." Jungkook menjawab pendek. Dia memang sudah menceritakan soal Taehyung kepada Jin tadi malam. Setelah menangis hebat.
"Intinya, aku akan datang. Belajar yang benar, Jungkookie. Aku menyayangimu."
Panggilan terputus. Jungkook tertegun.
Aku menyayangimu.
Dia tak pernah sekalipun mengatakan itu kepada Taehyung. Kata-kata penuh afeksi selalu dia hindari, sebab Taehyung benci bertindak romantis dan manis. Yang dia lakukan hanya lah terus mengumpati Taehyung, mengatai nya tak berguna.
Jungkook meremas handphone di tangan. Rasanya, dia ingin menangis lagi.
Berjuang lah disana, Tae. Masih banyak kata yang ingin kuucapkan untukmu. Kau harus pulang.
Jungkook menyeka pipi. Dia telah sampai di sekolahnya. beberapa siswa menyapa Jungkook, Jungkook tersenyum tipis. Dia memang cukup banyak memiliki kenalan di sekolah.
"Halo, si tampan." Itu EunBi, teman sekelas Jungkook. Jungkook mengangguk sekilas, kemudian duduk di bangkunya. Baru beberapa siswa yang datang.
EunBi mendudukkan badannya di kursi di depan Jungkook. "Sudah memeriksa lokermu?" gadis itu bertanya. Jungkook menggeleng. Dia lupa ke ruang loker.
"Wah," EunBi tertawa. Dia memajukan badan. "Kau tahu, ada kejadian lagi. Seorang siswi kelas 11 kedapatan memasukkan surat cinta di lokermu. Kutebak, ini surat kesepuluh yang kau terima."
Jungkook mendengus. Biasanya, dia akan dengan baik menanggapi hal seperti itu dengan candaan. Tapi sekarang, Jungkook terlalu malas untuk membuka mulut. Dia memilih menyumpal headset di kedua telinga. Matanya terpejam.
"Cih, Tuan Jungkook dan sifat menjengkelkannya datang lagi." EunBi bersungut kesal lalu pergi meninggalkan Jungkook.
Lantunan musik rock ballad memenuhi gendang telinga Jungkook. Jungkook memutar lagu dari penyanyi favorit Taehyung. Lagu ini biasa mereka putar saat pergi karaoke bersama.
sincerely
"Jeon Jungkook! Ada yang mencarimu di luar!"
Jungkook yang sedang memasukkan buku-buku di dalam tas, mengangkat kepala. Dia menautkan alis.
"Siapa?"
Ketua kelas yang tadi berseru itu mengedikkan bahu. Dia memberi gestur agar Jungkook keluar kelas.
"Pasti orang yang mau melamarmu, Kook." Teman sekelas Jungkook berkomentar, semua tertawa.
"Wah, sepertinya akan ada yang ditembak lagi, nih." Deokwan, teman sebangku Jungkook ikut bersuara. Jungkook menjitak kepala temannya itu, yang semakin menimbulkan tawa.
"Kook, kalau dapat cokelat lagi bagi ke kami, ya." Kali ini siswi-siswi lain menimpali.
"Kulempar ke muka kalian kalau perlu" Jungkook mengacungkan jari tengah dan semua teman kelasnya tertawa keras. Jungkook ikut tertawa.
Dia berjalan keluar kelas, masih diikuti dengan sorak sorai mengejek teman kelasnya. Jungkook tertawa lepas.
"Jeon Jungkook, ya?"
Tawa Jungkook tersumpal saat sampai di depan pintu kelas. Dia menatap pemuda di hadapannya yang sedang duduk di bangku taman depan kelas. Jung Hoseok. Dahi Jungkook terlipat.
"Kau–mengenalku?" Jungkook bertanya. Hoseok mengangguk. Pemuda itu kemudian berdiri. "Semua orang yang berhubungan dengan Taehyung pasti mengenalmu."
"Ada perlu apa denganku?"
Hoseok menghembuskan nafas. Dia menatap Jungkook. "Yah, kau pasti tahu aku sangat membenci Kim keparat itu. Tapi, sepertinya aku perlu memberitahu mu sesuatu."
Jungkook merasa ada yang aneh. Hoseok menatap dengan serius Jungkook. "Aku tahu Taehyung diculik. Aku melihatnya malam itu, seminggu yang lalu. dipukul di dekat apartementmu. Kelompok preman. Dia diseret masuk ke dalam mobil sedan hitam. DD nya kuingat dengan baik. Aku juga tahu pemuda yang memukul Taehyung. Park Chanyeol."
Mata Jungkook melebar, juga dengan mulutnya yang terbuka sempurna. Dia menatap Hoseok tak percaya. Penjelasan Hoseok begitu tiba-tiba.
"Tunggu," Jungkook mengusap kasar wajahnya. "Jangan jelaskan padaku, jelaskan pada gank Taehyung."
Hoseok mengangguk. "Makanya aku kesini. Aku mau kau mengajakku menemui preman-preman itu. Setidaknya, aku harus membayar utangku di Taehyung."
Jungkook ikut mengangguk. "Benar, benar sekali. Tunggu aku disini, kita langsung berangkat sekarang." belum sempat Hoseok merespon, Jungkook sudah melesat masuk ke dalam kelasnya.
"Oh, kook? Cepat sekali menolaknya?"
Candaan teman-temannya tak lagi dia hiraukan. Dia segera menyambar tasnya, kemudian keluar kelas. Ketua kelasnya berseru heran, tapi Jungkook tak peduli.
"Kau bolos?" Hoseok menatap Jungkook tak percaya.
"Begitulah. Ayo bergegas."
Jungkook berlari keluar area sekolah diikuti Hoseok. Menuju markas Taehyung.
sincerely
"DD 1528 SL. Tidak salah lagi. Itu mobil milik salah satu anak buah boss besar." Andrew menatap lamat-lamat layar laptop di hadapannya. "Bagaimana bisa Chanyeol menaikinya?"
"Aku tidak tahu." Hoseok menggeleng. "Tapi aku ingat betul itu Park Chanyeol. Makanya itu, aku langsung bergegas memfoto DD mobilnya."
Andrew menghela nafas. Dia kembali menegakkan tubuh. Pemuda bermata biru itu menatap Hoseok. Senyumnya melebar. "Terima kasih atas informasi berhargamu, Jung Hoseok. Maafkan aku atas kebrengsekan Taehyung dulu terhadapmu."
Hoseok tertawa kecil. "Tak usah di permasalahkan." dia beralih menatap Jungkook yang duduk di sofa bersama Jimin. "Seminggu itu aku benar-benar dilema. Tak tahu ingin mengatakan fakta itu kepada siapa. Tapi kemudian, aku baru ingat kalau Taehyung selalu mengantar seorang pemuda ke sekolah di dekat rumahku setiap hari. Tiga hari mencari, akhirnya berhasil bertemu adiknya ini."
Andrew tertawa. "Dia bukan adik Taehyung, Jungkook ini kekasihnya."
"Oh," Hoseok mengerjapkan mata. "Astaga, aku tak tahu ada anak sekolah yang mau berpacaran dengan preman. Pantas saja marganya beda." kali ini, Jimin ikut tertawa. Jungkook tersenyum tipis.
Jimin meletakkan puntung rokoknya di asbak. "Jadi sekarang, kita tinggal melacak keberadaan mobil itu." Jimin berdiri, berjalan menuju Andrew yang masih berkutat dengan laptop di meja.
"Aku bisa membantu mencari mobil itu." Jungkook bersuara. "Ayah temanku punya kenalan di kepolisian."
"Bagus sekali." Andrew menganggukan kepala puas. "Sekarang, Anak-anak sedang menuju markas Park Chanyeol. Banyak rumor dari masyarakat kalau gank itu memang tidak terlihat belakangan ini. Pasti memang ada apa-apa."
"Yosh!" Myungsoo yang duduk sembari menegak soju nya mengepalkan tangan ke udara. "Kita selamatkan V!" lalu berteriak kencang. Hoseok terkesiap kaget.
"Dia mabuk. Abaikan saja." Andrew tertawa, disusul Jimin dan Jungkook.
"Jadi? Masih ada yang aku bisa bantu?" Hoseok beralih menatap Andrew.
"Yah, sepertinya tidak ada lagi. Informasi mu sudah lebih dari cukup, Jung Hoseok. Aku sangat menghargai itu."
Hoseok tersenyum. "Baiklah, kalau begitu aku harus pulang. Terima kasih atas jamuannya."
Jungkook dan Jimin mengantar Hoseok sampai di luar markas. Mereka berdua melambaikan tangan hingga motor Hoseok tak lagi terlihat.
"Nah, anak sekolah." Jimin beralih menatap Jungkook. Dia merangkul Jungkook. "Apa yang kau lakukan disini? Bolos?" tanyanya dengan tawa. Jungkook ikut tertawa.
"Kau itu seumuran denganku, keparat. Jangan sok tua." Jungkook menyikut pinggang Jimin. Pemuda itu mengaduh kesakitan, "Lagipula harusnya aku yang bertanya begitu. Kau pasti di skor lagi dari sekolah."
Jimin kemudian tertawa, tak mengindahkan ejekan Jungkook. "Itu gara-gara Taehyung. Dia terbiasa memanggilmu bocah, aku jadi beranggapan kau lebih muda dari kami."
Jungkook tertawa kecil.
Jimin mengusak kepalanya di rambut Jungkook dengan lembut. "Kuantar pulang." Jungkook mengangguk, tersenyum.
sincerely
"Siapa kau?"
Jungkook dikejutkan dengan kehadiran Yoongi di depan pintu apartementnya. Tatapan dingin Yoongi menelisik Jimin yang berdiri di samping Jungkook.
Jimin mengangkat satu alis. "Kakakmu?" dia bertanya kepada Jungkook. Tak mengindahkan Yoongi.
Jungkook tertawa kecil. "Bisa dibilang begitu." dia hendak menarik tangan Jimin untuk masuk ke dalam apartement, tapi Yoongi buru-buru menahan.
"Kenapa kau mau mengajak pemuda asing ini masuk?" Yoongi menatap sadis ke Jungkook. "Kau tidak mengenalnya."
"Dia sahabat Taehyung, hyung."
Jimin kali ini tertawa. "Ah, kakak yang manis. Aku sepertinya lebih lama mengenal Jungkook daripada mu." dia menyeringai. tertarik dengan pemuda berambut soft blue di hadapannya. "Jungkook tak pernah mengatakan memiliki kakak semanis ini."
Yoongi menatap Jimin dingin. Wajahnya datar. "Jangan menjuluki ku manis–" Yoongi maju selangkah. Jimin mengangkat satu alis. Dan sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipi kiri Jimin. Begitu keras. Jimin mematung, juga Jungkook. "Makhluk rendahan." Yoongi berucap sedingin es, kemudian tanpa menunggu lagi, segera menutup pintu apartement Jungkook kuat.
Samar-samar, Jimin bisa mendengar teriakan marah Jungkook dari dalam. Jimin mengusap pipinya. Sialan. Ini pertama kalinya dia ditampar.
Jimin perlahan menyeringai.
Pemuda itu, tak akan lolos dari genggamannya.
sincerely
Hari hari berikutnya, Jungkook menjalani hidup tanpa semangat. Penyelidikan masih berlanjut. Taehyung bahkan sampai dimasukkan di daftar orang hilang kepolisian–berkat bantuan ayah Namjoon. Begitu banyak orang bergerak mencari Taehyung. Boss besar itu menghilang entah kemana, beserta gank chanyeol. Tuduhan pun semakin menguat ke arah mereka.
Seminggu ini, Jungkook selalu dipanggil ibu Taehyung untuk menginap di rumahnya. Menemani Saehyun yang tak bisa tidur bila tak ada Taehyung. Dia selalu menangis meraung-raung setiap malam, dan Jungkook memeluk gadis kecil itu, membisikkan kata bahwa kakaknya akan baik-baik saja. Memeluk Saehyun dan tidur di kamar Taehyung membawa suasana tentram di hati Jungkook. Membayangkan kekasihnya tidur disini, kadang kala Jungkook menangis dalam diam.
"Aku rasa Taehyung dibawa keluar negeri." Andrew berkata suatu hari saat pertemuan kembali diadakan. Jimin mengangguk menyetujui. "Kita coba semua hal yang memungkinkan. Selama mayat Taehyung belum ditemukan, kita masih punya kesempatan mencari."
Jungkook mengepalkan tangannya erat. Dia terus berdoa semoga Taehyung baik-baik saja.
Handphone Taehyung telah Jimin kasih untuk Jungkook. Sebelum tidur, Jungkook biasanya memeriksa handphone itu. Mendengus melihat galeri Taehyung yang hanya dipenuhi foto Jungkook, atau isi chat sosial medianya yang membuat Jungkook tertawa sendiri. Taehyung begitu baik ke teman-temannya, namun begitu dingin ke orang yang tidak dia kenal. Ada chat seorang wanita yang terus memanggil Taehyung sayang, tapi Taehyung tak pernah membalasnya. Jungkook tertawa semakin keras. Kasihan sekali wanita itu. Jungkook menatap foto Taehyung yang sedang tersenyum lebar dengan seekor ayam masih hidup di tangannya. Wajahnya kotor terkena lumpur. Jungkook tersenyum. Dia memeluk Handphone Taehyung begitu erat, lalu memejamkan mata.
Jin, Namjoon, dan Yoongi juga semakin sering menemani Jungkook. Diantara teman - teman Jungkook, hanya mereka bertiga yang tahu masalah Taehyung. Di pihak lain, Hoseok sering mengantar Jungkook pulang sekolah bila tak sengaja berpapasan. Mereka menjadi akrab dengan cepat. Hoseok sudah memaafkan Taehyung, dan berkata bahwa dia juga selalu mendoakan yang terbaik untuk Taehyung. Suatu hari, Jin mengadakan acara makan di apartement Jungkook, dan Hoseok ikut bergabung.
Semuanya berjalan normal. Tapi tidak dengan hati Jungkook yang semakin hari semakin rapuh. Dia merindukan Taehyung. Berbagai tempat di Seoul ini menyimpan banyak kenangan Jungkook dengan Taehyung, sehingga dia kadang ingin menghilang saja. Jungkook tak bisa berhenti memikirkan Taehyung, bahkan saat dia hanya melihat sekotak rokok malboro yang di jual di supermarket. Jungkook sudah tak lagi menangis. Tapi, pikirannya semakin kacau.
Tepat satu bulan sejak menghilangnya Taehyung.
Jungkook tiba-tiba dipanggil ke markas claws. Pemuda itu baru pulang dari latihan basketnya.
Begitu membuka pintu, Jungkook diserbu dengan para preman preman itu. Jungkook terkesiap kaget.
"Ada apa?" tanya nya terkejut.
"V ditemukan." Myungsoo bersuara. Jungkook terpaku. "Masih hidup. Di Argentina. Dia diculik disana."
Mata Jungkook memanas. Dia menatap Andrew yang juga menatapnya, tanpa senyuman. Andrew terlihat tegang. "Dia benar-benar dijual. 1 triliun. The fuck. Memang boss besar itu dalang di balik ini. Dia sengaja menyuruh V membunuh Miss Ga Yeon yang mendirikan perusahaan besar di Argentina, lalu berdalih bahwa mereka menangkap V di hadapan kolega Miss Ga Yeon. Asal dengan syarat, mereka bertukar. Dia memberi V, laki-laki brengsek itu di beri uang. Harga V di Argentina lah yang termahal, 50 Milyar."
Andrew mengacak rambut frustasi. "Karena dia membunuh orang penting, akhirnya semakin mahal. Transaksinya 3 hari dari hari ini. Aku dan yang lain akan berangkat tiga jam lagi, karena kami belum mendapatkan lokasi pasti V."
Jungkook pucat. Nafasnya tertahan. "K-kalau dia dijual, apa yang terjadi?" dia menggigit bibirnya kalut. Matanya sudah digenangi airmata.
Jimin menghela nafas. Terlihat frustasi. "Dia akan dijadikan preman disana. Dalam artian buruk tentu saja. Dia dijadikan budak preman. Bisa dibunuh kapanpun. Dan, kita tidak akan bisa bertemu dia lagi, selamanya."
Tangis Jungkook pecah. Dia jatuh terduduk. Myungsoo dan Jackson dengan sigap menahan badan Jungkook. Yang lain diam, ikut menundukkan kepala. Mengerti bagaimana perasaan Jungkook saat ini.
"V berusaha meloloskan diri, Jungkook. Menurut informasi, tak terhitung berapa kali dia mencoba melarikan diri. Berakhir tragis dengan dihukum lagi. Tapi dia tak peduli. Beratus ratus kali V meraung. Berteriak frustasi. Dia juga sefrustasi dirimu. Dia juga merindukanmu."
Jungkook masih menangis hebat. Bahunya bergetar. Membayangkan Taehyung yang tersiksa seperti itu sudah membuat hatinya sakit sekali.
Andrew melangkah mendekat, berjongkok di hadapan Jungkook. Dia memeluk tubuh Jungkook erat. "Karena itu, karena kita tahu V juga tersiksa disana, maka kita harus menyelamatkannya." dia mengusap punggung Jungkook lembut.
"Aku berjanji akan membawa V pulang. Apapun taruhannya. Kau harus kuat oke? Tak hanya kau yang sakit, orangtuanya, adiknya, dan kami, merasakan hal yang sama." Andrew tersenyum, menangkup pipi Jungkook. Mata Jungkook memerah, airmata masih mengalir deras di pipinya.
Untuk pertama kalinya, mereka melihat Jungkook, kekasih Taehyung yang tangguh, menjadi selemah ini.
Jimin menyeka pipinya. Diikuti dengan preman yang lain. Beberapa mengumpat karena ikut menangis, terbawa suasana.
"Tiga hari. Tiga hari lagi kau akan melihat V."
Jungkook mengangguk. Dia menghapus airmatanya, mencoba memberhentikan tangisnya. Taehyung sangat percaya kepada teman-temannya, karena itu Jungkook juga akan menaruh rasa yang sama kepada Andrew dan teman-temannya.
"Bawa Taehyung pulang, kumohon." Jungkook meremas kaos depan Andrew, menatap Andrew tepat di mata. Andrew tersenyum lebar, lalu mengangguk.
"Jangan ragukan claws, anak muda. Gank ini bukan tanpa sebab disebut sebagai gank nomor 1 di Korea Selatan." Andrew membantu Jungkook berdiri. Preman-preman itu berdiri di belakang Andrew. Ikut tersenyum lebar ke Jungkook. Jimin tertawa kecil, lalu mengangguk.
Jungkook menatap mereka satu satu. Ada Kyungsoo yang secuek Yoongi tapi sangat baik, Ada Myungsoo, si ceria dan nyentrik, Jackson, ceroboh tapi sangat jago bela diri, ada Jimin yang tak diragukan lagi keahliannya, Hwan si rambut ungu yang jago menembak, Dilan member termuda yang handal dalam menggunakan berbagai senjata, Kwon, Gerr, Vernon, Jungshin, Minho, Ji Han, Hyungsik, Taeyong, dan Andrew sebagai ketua mereka.
Teman-teman berharga Taehyung.
Jungkook merasakan secerca harapan muncul di dalam hatinya. Dia tersenyum tipis.
Tiga hari lagi, tiga hari lagi dia akan bertemu Taehyung.
.
.
To Be Continued
yolo yolo yo yolo yolo yo~ cangcimen cangcimen cangcimen~
#teammicdrop #teamgogo #tim_jungkook_jadi_ndut_lagi
reviews dan sarannya sangat saya butuhkan reader-nims.
