(XI) chapter sepuluh.
.
.
Tiga hari? Omong kosong.
Jungkook ingin sekali merobek kalender yang berada dihadapannya. Ini sudah hari ketujuh dari sejak lima belas pemuda itu pergi ke Argentina. Dan mereka sama sekali tak ada tanda-tanda kembali. Nomor Jimin dan Andrew sudah tak dapat di hubungi lagi sejak enam hari yang lalu. Jungkook kalut, panik sekali. Kemungkinan terburuk sudah tergambar jelas di kepalanya, dan kali ini dia tidak bisa lagi bertanya kepada siapapun.
Jungkook mengacak rambut frustasi. Ingin sekali berteriak keras, meluapkan rasa khawatirnya. Bahkan Jungkook sudah tak dapat menangis lagi. Ketakutan menyelimuti dirinya.
"Jungkookie," sebuah suara terdengar, memasuki kamar Jungkook. Itu Jin, yang datang membawa segelas susu dan sup hangat. "Makanlah."
Jungkook menggeleng. "Aku tidak mau makan, hyung."
"Kau mengatakannya selama tiga hari ini." Jin menghela nafas. Dia menempatkan nampan di atas meja, kemudian duduk di samping Jungkook. Jin mengusak rambut Jungkook lembut. "Mau menyambut Taehyung dengan badan sekurus ini?"
"Apa dia bahkan masih hidup, hyung?" Jungkook menatap Jin. Matanya berkaca-kaca. "Bagaimana kalau mereka di bantai habis-habisan disana? Dibunuh? Taehyung juga." ucapnya penuh ketakutan. Dia menunduk. Tangannya bergetar hebat. Jungkook menggigit bibir kuat.
Jin mengelus rambut Jungkook penuh sayang. "Kau bilang gank itu kuat, kan? Aku yakin mereka tidak akan mati secepat itu."
"Tapi ini sudah hari ketujuh, hyung!" Jungkook berseru frustasi. Dia menutup wajah dengan kedua tangan. Suara isakan perlahan terdengar. Jin menghembuskan nafas. Memilih untuk tetap mengelus rambut Jungkook.
Empat hari ini, Jungkook sama sekali tak mau pergi sekolah. Dia sibuk bolak balik apartement dan markas Taehyung, berharap ada tanda-tanda kehidupan disana. Tapi nihil. Tak satupun pemuda itu nampak. Dan tak ada satupun nomor mereka yang aktif sejak menginjakkan kaki di Argentina. Jungkook seperti pesakitan. Tak mau makan, minum, atau melakukan apapun.
Jin tahu pasti, gank itu begitu berharga bagi Jungkook. Dalam hati dia menghela nafas, ini lah resiko berteman dengan anak-anak preman.
dering handphone memecah keheningan. Jungkook secepat kilat menyambar handphone nya di atas kasur. Berharap orang yang menelfonnya adalah orang yang dia tunggu selama ini.
Mata Jungkook melebar. "PARK JIMIN!" dia berteriak senang. Jungkook lompat dari duduknya, dan tanpa pikir panjang mengangkat panggilannya.
"JIMIN! KENAPA LAMA SEKALI KAU–apa? ke markas? tentu saja tentu saja aku akan kesana! Ya! Lima menit!"
Jungkook mematikan sambungan. Melesat cepat keluar apartement. Tak dihiraukannya lagi Jin yang berseru ke Jungkook. Dia bahagia sekali. Tadi Jimin mengatakan kalau Taehyung sekarang ada di markas, bersama mereka semua.
Misi penyelamatan ini berlangsung sukses. Jungkook mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada Tuhan dan Andrew yang mau berjuang keras demi menyelamatkan Taehyung.
sincerely
Lari Jungkook terhenti ketika dia melihat seorang pemuda berdiri di depan markas Taehyung. Sepertinya sedang menelfon. Jungkook menyipitkan mata. Itu Kwon. Jungkook sudah hendak menyapa saat tiba-tiba dia melihat sesuatu yang ganjil.
Jungkook mematung.
Tangan kiri Kwon, telah hilang. Lengan kemeja panjang yang sebelah kiri terlunglai begitu saja. Di terpa angin.
Jungkook berjalan perlahan menuju ke pintu markas. "Ah, Jungkook!" menyadari kehadiran orang lain, Kwon menyapa dengan ceria. dia melambaikan tangan kanannya. "V ada di dalam. Peluk sampai dia sesak nafas."
Jungkook tersenyum. Dia balas melambaikan tangan ke Kwon. Tatapannya tak bisa lepas dari tangan pemuda berambut hijau gelap itu. Pemuda itu menyadari, lalu tertawa kecil. "Aku tidak apa-apa. Hanya tangan." Kwon memainkan lengan kemeja kirinya. Jungkook menatap dalam diam, tapi kemudian menghela nafas.
Entah mengapa Jungkook takut melangkah masuk ke dalam.
Begitu membuka pintu, berbagai macam suara tawa terdengar. Preman-preman itu duduk di lantai, berbentuk melingkar. Mereka tertawa bersama, botol soju berada di tangan. Lengkap dengan rokok yang menyala. Sepertinya tak ada yang sadar akan kedatangan Jungkook.
Jungkook memperhatikan mereka dari depan pintu. Berbagai macam perban membalut badan preman-preman itu. Ada yang di kepala, di tangan, di kaki, juga lengan Kyungsoo dan leher Hwan yang di gips. Nafas Jungkook kembali tertahan begitu melihat Dilan. Kaki kanan pemuda itu juga sudah hilang. Sama hal nya dengan Andrew, yang sepertinya kehilangan jari manis dan kelingking di tangan kanan.
Jungkook tertegun.
Mereka berjuang sejauh ini demi menolong Taehyung.
Di samping Jimin lah, Jungkook akhirnya melihat orang yang dia rindukan selama ini. Kim Taehyung. Badannya di baluti perban. Dari leher hingga ke ujung kaki. Tangan kanannya di gips, begitu pula lehernya. Rambut cokelat keemasan Taehyung menjuntai panjang, menutupi seperempat wajah. Tak terurus.
Mata Jungkook memanas. Tanpa pikir panjang, dia mengambil langkah lebar-lebar ke Taehyung. Kegaduhannya berhasil menarik perhatian preman-preman itu, dan saat Taehyung mendongakkan kepalanya, Jungkook sudah lebih dulu menubrukkan badan di Taehyung. Memeluk pemuda itu erat-erat.
Taehyung terkesiap. Rasa nyeri dan sakit hinggap di seluruh badan karena pelukan tiba-tiba Jungkook, tapi dia tak berani protes. Dia mengerti perasaan Jungkook sekarang.
"Halo, bocah. Merindukanku?" Taehyung tertawa. Jungkook memukul dadanya. "Apa ini patut kau tertawakan?" Jungkook berkata sarkas, dan Taehyung semakin tertawa.
"Nah, Jungkook. Aku menepati janji, kan." suara Andrew terdengar. Pemuda itu tersenyum lebar. "Yah, walau dengan pengorbanan menyedihkanku ini. Aku tak bisa menikah lagi, jari manisku putus." Andrew memayunkan bibirnya. Taehyung tertawa keras.
"Kaki kuuu!" Dilan angkat suara, menatap dramatis lututnya yang kini tumpul.
"Tangankuuu!" Kwon masuk ke dalam ruangan dan ikut berdramatis ria. Mengayunkan lengan kemeja nya yang terkibas begitu saja. Wajahnya dibuat sesedih mungkin. Tapi mereka tahu ketiga pemuda itu hanya bercanda, sehingga yang lain menanggapinya dengan tertawa. Kwon dan Dilan ikut tertawa.
"Hei hei," Taehyung menatap teman-temannya datar. Suasana lenggang sejenak. "Apa ini patut kau tertawakan?" dia berucap mengikuti gaya Jungkook, dan gelak tawa pecah seketika.
"Tolol!" Myungsoo dan Jackson sampai membaringkan badannya, tertawa begitu lepas dan keras. Sejenak, preman-preman itu melupakan penderitaan dan luka yang mereka dapati kemarin. Yang ada sekarang hanya kebahagiaan setelah bisa berkumpul bersama lagi.
Merasa dijadikan bahan bully-an, Jungkook mengerang kesal di dalam pelukan Taehyung. "Berhenti tertawa, brengsek." Dia kembali memukul dada Taehyung.
"Baiklah baiklah." Taehyung tertawa kecil. Dia menyandarkan punggungnya di kaki sofa agar Jungkook bisa lebih nyaman memeluknya. Jungkook semakin mengeratkan pelukan, tak ingin melepaskan sedetikpun.
Begitu banyak yang ingin dia tanyakan, tapi Jungkook memilih untuk melampiaskan rasa rindu terlebih dahulu. Menghirup bau Taehyung sebanyak yang dia bisa.
"Sepertinya kau harus sering diculik, V." Myungsoo angkat bicara, menatap keposesifan Jungkook. "Kekasihmu itu jadi manja sekali sekarang."
Mereka kembali tertawa. "Ah, Jungkook bahkan menangis hebat di hadapan kami." Kyungsoo berkomentar. "Andai suasana nya sedang tidak sedih, aku pasti sudah menerkam kekasihmu kemarin. Begitu menggoda." Gerr ikut bersuara, dengan seringai lebarnya.
"Berisik kalian!" Jungkook berseru kesal. Taehyung tertawa. "Diam kalian, preman brengsek. Dibunuh Jungkook, tahu rasa." Taehyung mengacak surai Jungkook. Pemuda-pemuda di ruangan itu kembali tertawa.
Setelahnya mereka lanjut bercengkrama. Jungkook tak terlalu mendengarkan. Hanya suara tawa Taehyung yang terdengar begitu jelas di telinganya. Sesekali pemuda itu menundukan kepala, bertanya apa Jungkook tertidur atau tidak. Jungkook menggeleng, dan Taehyung mengacak rambutnya.
Tak terasa waktu berlalu. Satu-satu preman itu pulang, berpamitan. Hyungsik dan Ji Han meninju lengan Taehyung kuat. "Jaga baik-baik bayi mu itu." dan Taehyung hanya tertawa.
Jimin datang membawa makan malam untuk Andrew, Taehyung, dan Jungkook yang masih tinggal. Andrew sudah membuka sumpitnya saat dia melihat Taehyung yang terdiam, Asik menatap Jungkook yang tak bergerak seinchi pun dari tiga jam yang lalu. Senyum terukir di bibir Taehyung. Dia memainkan jemarinya di rambut Jungkook. Kadang menarik rambut Jungkook sedikit dan kekasihnya langsung mengerang tak suka. Taehyung tertawa.
Andrew tersenyum lebar. "Yah, setidaknya perjuanganku dan yang lain menyelamatkanmu membuahkan hasil."
Taehyung medongakkan kepala. Menatap Andrew. "Yah." Taehyung ikut tersenyum. "Thanks, Andrew. Aku berutang nyawa kepada kalian semua."
Andrew tertawa, lalu mengangguk. "Saat aku melamar nanti, kau harus siap menyediakan jari manismu untukku." dia menaikkan satu alisnya jahil. Taehyung tertawa keras.
"Aku saja yang menikah dengan gadismu itu."
Jungkook memukul dada Taehyung mendengarnya. Taehyung dan Andrew tertawa. "Oh, bocah ini cemburu." dia mengacak rambut Jungkook lagi.
Jimin menghela nafas. "Bagaimana caramu makan kalau Jungkook seperti koala begitu."
Taehyung mengedikkan bahu, tertawa. Dia menunduk, mencari mata Jungkook. "Bocah, aku mau makan. Berhenti memelukku."
"Makan dengan posisi seperti ini saja."
Taehyung mendengus. "Mana bisa. Tanganku di gips."
"Apa peduliku."
"Bangsat." Taehyung mengumpat. "Kau ini tidak ada rasa kasihan sama sekali dengan kekasihmu?"
"Siapa suruh meninggalkanku selama ini."
"Andai aku tidak mengajakmu jalan hari itu, mungkin aku tidak akan diculik." Taehyung berujar santai.
"Kau menyalahkanku?!" Jungkook mendongakkan kepala. Menatap Taehyung tak percaya. Kesempatan itu diambil dengan baik oleh Taehyung, dia segera mendaratkan kecupan di bibir Jungkook.
"Bercanda." Taehyung tersenyum lebar. Jungkook terpaku dengan mata melebar. Wajahnya memerah.
"Uhuk! Uhuk!" suara batuk terdengar dari kedua pemuda lain. Mereka sama sama tersedak, kaget dengan tingkah Taehyung.
"The fuck V–" Andrew menegak minum beringas. Dia menatap horror ke Taehyung. "Kau dikasih makan apa disana? Sejak kapan kau berani mencium orang?"
Taehyung tertawa, lalu mengedikkan bahu. Jimin juga menatapnya horror. Seumur hidup mengenal Taehyung, ini pertama kalinya dia melihat Taehyung yang bersikap manis kepada orang lain. Benar-benar pertama kali.
Jungkook melepas pelukannya, merasa malu luar biasa. Dia berdehem. "Aku lapar." kemudian segera menjaga jarak dengan Taehyung.
"Nah, hanya dengan cara itu dia akan melepaskan pelukannya." Taehyung menunjuk Jungkook dengan dagu, kekasihnya itu mendelik. Ketiga pemuda lain tertawa. Taehyung mengambil kotak makanan, memberikan satu untuk Jungkook, dan satu untuknya.
Mereka makan dalam diam. Ruangan itu lenggang.
"Andrew." Jungkook memecah keheningan. Pemuda yang sedang memainkan handphone itu mengangkat kepala. Menatap Jungkook. "Kenapa banyak yang kehilangan bagian badannya? Tolong jelaskan padaku apa yang terjadi disana."
Pergerakan makan Taehyung berhenti, juga Jimin. Mereka berdua menatap Andrew. Andrew tertawa kecil. Dia memperbaiki posisi duduknya. "Yah, begitulah. Perjalanan panjang. Hari pertama dan kedua kami mati-matian melawan orang orang yang menjaga gedung V. Luka parah. Untung saja Hwan berguna dengan snipernya. Di hari ketiga baru lah kita berhasil meloloskan V. Tapi saat hendak pulang, ternyata seluruh akses keluar negara ditutup. Mereka sengaja. V aset berharga."
Jimin menundukkan kepala. Taehyung juga berhenti makan. "Kemudian kami menginap sebentar di sebuah rumah kosong. Siapa sangka posisi kami diketahui. Rumah itu di bom secara tiba-tiba ketika tengah malam. Tak ada yang bisa menghindar. Yang kehilangan bagian badan adalah mereka yang berada di dekat bom. Termasuk aku." Andrew tersenyum kecut. "Pengalaman yang mengerikan." ucapnya pelan.
Jungkook menahan nafas. Tangannya bergetar. Dia bisa membayangkan bagaimana kengerian peristiwa itu. Jungkook menarik nafas. "Lalu? Bagaimana cara kalian kabur?" suara Jungkook serak.
"Ah, itu." Andrew kembali tertawa. Dia menatap jahil ke arah Taehyung. "Selama ini yang bertugas memberi V makanan adalah seorang wanita. Dan, yeah. Dia jatuh hati pada kekasihmu. Dia yang tiba-tiba muncul di depan pintu rumah, membantu kami keluar dari rumah hasil bom itu, merawat kami satu-satu walau seadanya, dan mengeluarkan kami dari Argentina dengan pesawat pribadinya. Kami berhutang nyawa padanya."
Jungkook melirik ke arah Taehyung yang kini mengaduk aduk makanan, tak semangat. Jungkook tahu sekali, Taehyung pasti merasakan rasa bersalah yang begitu besar.
Dan Jungkook juga yakin kalau Andrew dan Jimin mengetahui apa yang Taehyung rasakan.
"Yeah, walau aku tak punya jari manis dan kelingking lagi, aku tak merasakan rasa penyesalan apapun." Andrew memajukan badan, mengacak rambut Taehyung asal-asalan. Taehyung mengumpat pelan. "Itu karena, kehilangan satu nyawa lebih menyakitkan lagi. Kehilangan V untuk selama-lamanya, aku dan yang lain tak kan pernah memaafkan diri sendiri."
Taehyung mendengus. Tapi kemudian setetes airmata jatuh mengenai punggung tangan. "Brengsek." Taehyung mendongakkan kepala, terus mengumpat sembari mencoba menghentikan airmatanya yang berlinangan.
Andrew dan Jimin tertawa kecil. Jungkook juga ikut tersenyum lebar. Perasaannya menghangat melihat Taehyung yang seperti ini.
sincerely
Taehyung melambaikan tangan kepada Jimin dan Andrew yang beranjak pulang. Jungkook masih di sampingnya.
"Nah, bocah." Taehyung menatap Jungkook. "sekarang pulanglah. Aku akan menginap disini."
Jungkook terdiam, lalu kemudian menggeleng. "Aku akan menemanimu disini." dia menatap Taehyung.
Kekasihnya itu menaikkan satu alis. "Takut pulang sendiri?"
"Tidak, bodoh." Jungkook bersungut. Dia menutup pintu markas, lalu masuk ke dalam. Jungkook mengambil minuman di kulkas, kemudian meneguknya. "Aku hanya mau menemanimu."
"Oh, baiklah." Taehyung mengangguk. Dia kemudian sudah bersiap membaringkan badan di sofa, tapi Jungkook buru-buru menahannya.
"Apalagi?" Taehyung mendengus.
"Badanmu akan semakin sakit kalau tidur di sofa, tolol." Jungkook berjalan ke tasnya, mengambil sebuah selimut besar. Dia menggelarnya diatas karpet. Lalu Jungkook mengambil satu selimut lagi, dan menaruhnya di samping. Tasnya dia jadikan bantalan.
"Kau bisa tidur disini." Jungkook tersenyum lebar. Taehyung tertawa kecil. "Ada akal sekali." dia kemudian beranjak turun, membaringkan badannya diatas selimut tebal itu. "Ah, ternyata memang nyaman." Taehyung menarik satu selimut yang lain untuk menutupi badan.
Jungkook tertawa. "Tentu saja."
Sunyi melingkupi mereka. Jungkook berbaring di sofa, menatap langit-langit ruangan garasi ini.
"Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi, Tae." Jungkook berucap pelan.
"Yah, kupikir juga seperti itu."
Jungkook menghela nafas. "Apa mereka menyiksamu dengan menyeramkan?"
"Tentu saja." Taehyung menguap. "Walau aku aset mahal, mereka memperlakukanku dengan kasar. Saat aku mencoba kabur, mereka biasa memberikanku sengatan listrik. Sial. Mengerikan."
Jungkook tersenyum. "Pasti rambutmu langsung berdiri semua."
"Keparat, kau mengejekku?" Jungkook tertawa kecil sebagai jawaban.
Hening lagi.
Taehyung kembali menyahut. "Aku tidak akan mati seperti itu."
"Iya." Jungkook memiringkan badan, menatap Taehyung yang kini sedang memejamkan mata. "Jangan mati tanpa ada aku disampingmu."
"Aku memang hanya akan mati di tanganmu."
Jungkook kembali tertawa. "Ceritakan aku pengalamanmu disana." tangannya terulur, memperbaiki poni Taehyung yang sudah semakin memanjang.
Taehyung menghela nafas. "buruk, tapi sedikit keren. Aku pingsan selama di perjalanan ke Argentina, dan ketika bangun sudah di ikat di sebuah kursi, di dalam ruangan besar tak terurus. mereka memberiku makan 3 kali sehari, dan kalau aku menolak, mereka langsung meninjuku. Minggu berikutnya, karena aku berkali kali hampir kabur, mereka menggantungku. tidak memberi makan beberapa hari, tapi wanita argentina itu dengan beraninya selalu datang tengah malam. memberiku makanan."
Jungkook mendengus mendengarnya. "Awas kau selingkuh dengannya."
Taehyung tertawa. "Yah, setelahnya aku tidak terlalu ingat. Yang aku ingat hanya lah aku yang sangat frustasi, menjadi gila, seperti kehilangan akal." Senyum terukir di bibirnya. "Saat itu yang ada di otakku hanya lah korea, claws, dan kau. Mungkin karena sudah di ambang kematian, aku suka berhalusinasi melihatmu datang, tersenyum, tapi ternyata itu preman argentina yang langsung meninjuku karena tersenyum seperti orang bodoh ke arahnya."
"Di minggu ketiga saat Tua brengsek dan Park Chanyeol itu datang menjengukku, aku seperti orang gila. Yang kuinginkan hanya lah membunuhnya. Yeah, karena aku memberontak begitu hebat, mereka tiga kali menembaki ku. Aku lumpuh total." Jungkook menahan nafas. Dia tak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Taehyung saat itu. "Kupikir aku sudah mati." Taehyung terkekeh pelan. Matanya masih terpejam.
"Tapi, aku sadar aku punya pegangan hidup. Aku masih mau hidup. Aku juga tahu, si preman - preman brengsek itu pasti akan datang menolongku apapun yang terjadi. Jadi, sekali lagi, aku bertahan. Mempertahankan sisa kewarasanku untuk menunggu mereka datang." Taehyung membuka mata, menatap Jungkook yang kini menatapnya dengan airmata menggenang. "Aku ketakutan, Jungkook. Aku takut melihat mereka kehilangan banyak hal demi ku. Andrew, Kwon, Dilan, dia kehilangan masa depannya demi menolongku."
Taehyung mengulurkan tangan, menggenggam erat tangan Jungkook. Melampiaskan segala emosinya. "Saat melihat mereka dengan badan di lumuri darah malam dimana kita habis di bom, aku bertekad dalam diriku. Aku akan memberikan segala hidupku untuk mereka. Untuk melindungi mereka." Taehyung melepaskan genggamannya. Matanya kembali terpejam. "Aku akan menjadi lebih kuat, aku akan hidup demi orang yang kusayangi."
Ruangan itu lenggang. Jungkook tenggelam dalam pikirannya, dan Taehyung terlihat sudah tertidur.
Beberapa detik berikutnya, suara dengkuran Taehyung terdengar. Jungkook mendengus. Pemuda itu kemudian turun dari sofa. Menyelipkan badan dibalik selimut yang sama dengan Taehyung. Jungkook perlahan memeluk Taehyung erat. Ikut memejamkan mata.
"Aku mencintaimu, Tae. Jangan pergi lagi."
sincerely
Dua bulan berlalu. Badan Taehyung tak di baluti perban lagi, gips di tangan dan leher juga sudah di lepas. Pemuda itu sudah mulai mengantar Jungkook ke sekolah lagi. Para preman teman Taehyung juga telah sembuh total. Dilan, Kwon, dan Andrew tak pernah mengeluh tentang badan mereka yang cacat. Namun begitu, Dilan yang sangat mencintai dunia motor terpaksa berhenti dari dunia yang dia cintai. Ayah Taehyung sudah menjadwalkan ketiga pemuda itu untuk ikut kelas terapi cacat dan akan memberikan badan palsu kepada mereka, tapi Andrew menolak keras. dia bilang, lebih jantan seperti ini.
Berbicara soal Ayah Taehyung, Daehyun dan istrinya tak lagi bekerja di perusahaan boss besar. Dia memilih membuat perusahaan sendiri. Ayah Taehyung berhenti menjadi preman. Dia kini mendirikan sebuah perusahaan jasa menyewa preman, dan Solar sebagai CEO. Gank Chanyeol telah dijatuhi hukuman penjara 10 tahun, beserta boss besar yang juga dijatuhi hukuman penjara 20 tahun atas tuduhan penculikan dan penjualan manusia. Namanya jatuh di pemerintahan negara. Ternodai selama-lamanya.
Hari ini hari Kamis.
Jungkook sedang bersiap untuk berangkat sekolah. Minggu depan dia sudah masuk musim ujian untuk kelas 12, jadi Jungkook semakin giat belajar.
Pemuda itu memperbaiki tataan rambutnya di depan cermin. Setelah puas, dia segera keluar kamar menuju dapur. Aroma makanan menyapa indra penciuman Jungkook. Senyumnya perlahan mengembang.
"Selamat pagi, cookie."
"Selamat pagi, eomma."
Ada wanita paruh baya yang sedang sibuk menata makanan di atas meja. Rambutnya berwarna hitam legam, anting-anting panjang terdapat di kedua telinga. Terlihat anggun dengan celemek di pinggangnya. Wanita ini adalah eomma Jungkook.
Jungkook mendekati ibu nya, memberikan kecupan di pipi. "Eomma bangun terlalu pagi." Wanita itu tersenyum lebar. "Tentu saja, kalau tidak kau pasti tidak akan sarapan."
Jungkook tertawa. "Aku bisa masak sendiri, eomma." Dia kemudian menarik satu kursi, lalu duduk. Memperhatikan eomma nya yang sedang menaruh nasi di dalam mangkuk, untuk Jungkook.
Saat Jungkook sedang masa ujian, Eomma nya yang tinggal di Busan pasti akan datang menemani Jungkook. Menyiapkan segala keperluan anak semata wayangnya itu, berdalih agar Jungkook dapat fokus belajar tanpa ada gangguan apapun. Rutinitas ini sudah berjalan selama tiga tahun.
"Kau sudah belajar?"
"Hm." Jungkook menerima mangkuk isi nasi itu, lalu segera melahapnya. Masakan Eomma nya adalah masakan favorit Jungkook, bahkan walau masakan Jin terasa seperti makanan bintang lima.
Eomma Jungkook ikut duduk di kursi. Tersenyum senang menatap Jungkook yang asik makan. "Aigoo, lahap sekali makannya anak eomma." Puji nya dengan aksen Busan yang kental. Jungkook tertawa kecil. Dia menyuapkan sesendok makanan ke Eommanya yang tentu saja diterima dengan senang hati. "Bagaimana aku tidak lahap kalau makanan ini terasa seperti surga."
"Ckckck. Pintar sekali kau memuji, anak kecil."
Jungkook tertawa. Percakapan mereka berlanjut selagi Jungkook menghabiskan sarapannya. Entah itu membahas keluarga Jungkook di Busan sana, Ayahnya, Sekolah, teman-teman masa kecil Jungkook, dan banyak hal lagi. Eomma Jungkook orang yang cerewet, jadi Jungkook selalu senang berlama-lama dengan wanita kesayangannya itu.
"Terima kasih atas makanannya." Jungkook menaruh mangkuk kosong itu di meja. Dia tersenyum senang, yang diikuti oleh eommanya. "Pantas saja badanmu semakin besar begitu." Wanita itu tertawa kecil, mengambil bekas makan Jungkook lalu membawanya ke wastafel.
Jungkook bangkit. Jam sudah menunjukkan pukul 6.30. dia sudah harus berangkat. Pemuda itu segera menyambar tasnya di sofa ruang tengah, berjalan ke arah eommanya. "Eomma, aku sudah harus berangkat."
"Oh," wanita itu segera melepas celemeknya. Mengantar Jungkook ke depan pintu apartement. "Hati hati ya" dia tersenyum. Jungkook mengangguk. Ikut tersenyum.
Begitu pintu terbuka, asap rokok langsung masuk ke dalam apartement Jungkook. Eomma Jungkook sedikit terkesiap, namun dia tahu siapa pelakunya.
"Ck, Taehyung!" Jungkook mengerang kesal. Dia mengibaskan asap rokok itu agar Eomma nya tak menghirup banyak. Pemuda yang di panggil itu sedang menyandarkan badan di dinding. Langsung saja Taehyung melepas rokoknya dari bibir.
"Selamat pagi, eomonim." Taehyung tersenyum, membungkukkan badan. Eomma Jungkook ikut tersenyum. "Selamat pagi, si tampan. Ah, kau semakin tampan saja."
Taehyung tertawa kecil. Dia kemudian mengulurkan satu bingkisan yang sedari ada di tangan. "Ini, ada sedikit oleh-oleh dari Ibu untuk eomonim. Katanya eomonim pasti akan langsung menyukainya."
Wajah Eomma Jungkook menjadi sumringah. Dia menerima bingkisan itu. "Tentu saja. Selera Solar itu selalu bagus." Ucapnya. Eomma Jungkook menepuk bahu Taehyung beberapa kali. "Terima kasih, sayang. Sampaikan salamku pada Ibu mu, ya. Dan antar cookie dengan selamat sampai di sekolahnya."
Taehyung menaikkan tangannya, ala tentara yang sedang hormat. "Roger!" lalu tertawa di ikuti Eomma Jungkook. Jungkook juga tertawa kecil.
Setelahnya Taehyung menyuruh Jungkook untuk segera berangkat, tak lupa menunduk hormat kepada Eomma Jungkook. Jungkook melambaikan tangan.
"Ibu mu semakin cantik saja." Taehyung berucap saat mereka telah di luar gedung. Jungkook tertawa. "Begitulah."
Taehyung kembali menyesap rokoknya. "Tapi kenapa kau semakin jelek, bocah."
Jungkook meninju punggung Taehyung kuat. Taehyung tertawa.
Mereka berjalan dengan diikuti rentetan candaan dari Taehyung. Jungkook tertawa begitu keras saat Taehyung bercerita kalau Ayahnya kini memakai jas dan celana kain, bukan kaos oblong penuh robekan lagi. Pemuda itu selalu punya bahan cerita yang membuat hari Jungkook menjadi ceria.
"Tae, kau akan ikut ke Belgia?"
Taehyung mengangguk. Dia mengusak rambutnya. "Tentu saja aku ikut."
Jungkook terdiam, memperhatikan dari belakang. "Apa..tidak bisa menolaknya?"
"Ha?" Taehyung tertawa. "Untuk apa aku menolaknya?"
Jungkook menundukkan kepala, menatap setapak jalan. "Aku takut berpisah denganmu lagi. Kau tahu, aku berpikir, mungkin lebih baik kau berhenti jadi preman."
Langkah Taehyung terhenti. Jungkook tentu saja langsung menubruk punggung kekasihnya. "Sialan Tae ap–"
"Ulangi apa yang kau katakan barusan."
Jungkook yang sedang mengelus hidungnya, mendongak, menatap Taehyung dari belakang. "Aku bilang, kau lebih baik berhenti jadi preman."
Taehyung terdiam. Jungkook menunduk, dan dia mendapati tangan Taehyung yang sudah terkepal erat. Jungkook terpaku.
"Kupikir, kau mengenalku dengan baik, Jeon Jungkook." Nada suara Taehyung menjadi sedingin es. "Aku suka kebebasan. Dan kau barusan melarangku melakukan hal yang kucintai."
Jungkook menghela nafas. Dia mencoba menggenggam tangan Taehyung yang terkepal, tapi pemuda itu lebih dulu menyingkirkan tangan Jungkook dengan kasar. "Tae, ini demi keselamatanmu." Jungkook tak menyerah, dia kembali menggenggam tangan Taehyung, kali ini lebih erat. "Aku mencintaimu, aku tak mau kehilangan kau lagi."
Tangan Jungkook tiba-tiba di hempaskan begitu keras, dan saat Taehyung membalikkan badan, dia segera menarik kerah Jungkook kuat. Jungkook terkesiap. Panik. Taehyung menatapnya penuh amarah.
"Jangan pernah mengatakan kata penuh dusta itu." Taehyung berdesis tepat di depan wajah Jungkook. Taehyung menatap Jungkook tepat di mata, dan kekasihnya itu balas menatapnya dengan mata melebar, tak percaya dengan apa yang Taehyung lakukan.
"Kau yang seperti ini," Taehyung mengeratkan cekikannya. Nafas Jungkook tersendat.
"–begitu menjijikkan."
Taehyung melepaskan cengkramannya. Tubuh Jungkook jatuh tersungkur di trotoar. Taehyung tak lagi menatap Jungkook, dia berbalik arah. Pergi menjauh. Tak peduli dengan kondisi kekasihnya.
Jungkook menunduk, mengepalkan tangan sangat kuat.
.
.
Next/Stop?
review nya menurun drastis T^T tolong review reader-nims. saya butuh saran dan tanggapan kalian soal fiction ini.
(hiatus sampai minggu depan. saya ujian tengah semester. dan berhubung udah kelas 12, saya mau fokus belajar)
see you next week!
