(XII) chapter sebelas.
.
.
Brak!
"What the fuck!"
Gerr yang sedang menopang badan Dilan hampir saja terjungkal kebelakang begitu mendengar gebrakan dari pintu markas mereka.
Sontak seluruh pasang mata di ruangan itu beralih menatap pintu markas, mencari tahu siapa gerangan yang begitu brengsek membuka pintu tiba-tiba.
"Mana Andrew?" Taehyung muncul di ambang pintu, dengan wajah merah padam. Tertekuk sempurna.
Vernon mengangkat satu alis. "Sibuk menagih utang di daerah Gangwon-do." Pemuda itu sedang duduk di sofa, asik menyesap rokoknya.
"Bajingan." Taehyung menghempaskan badannya di sofa seberang Vernon, mendorong kasar badan Taeyeong yang berbaring di atasnya sembari membaca manga hentai. Taeyeong mengumpat. "Ada apa denganmu, brengsek."
Vernon dan Gerr saling bertatapan. Tidak biasanya Taehyung uring-uringan begini. "Kau ada masalah, V?"
"Tidak ada."
"Jelas sekali kau punya masalah, hyung." Dilan angkat bicara. Dia mendudukkan tubuhnya di lantai, capek terus-terusan berdiri dengan menopangkan badan di tongkat. Yeah, Dilan tadi sedang belajar jalan menggunakan kaki palsu, di bantu Gerr. "Kutebak, pasti soal Jungkook."
"Sekali lagi kau bicara, kubunuh kau, Dilan."
Gerr tertawa. Dia ikut duduk di lantai, menegak sojunya. "Berarti memang tentang Jungkook." Taehyung mendengus. Pemuda itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Berbaring diatas sofa dengan menjadikan paha Taeyeong sebagai bantal.
"Bertengkar?" Taeyeong ikut tertawa. Taehyung spontan menyikut perut Taeyeong, tapi Taeyeong semakin tertawa. "Ah, yang punya kekasih memang beda."
"Berisik, punk."
Gelak tawa membahana di ruangan luas itu. diantara mereka berlima belas, memang hanya Taehyung yang memiliki kekasih. Jadi, wajar saja kalau pemuda itu selalu dijadikan bahan ejekan.
"V, kau ikut ke Belgia?"
Suara Vernon terdengar. Taehyung memejamkan mata, merasa de javu. Itu juga pertanyaan Jungkook tadi pagi. "Ya, tentu saja aku ikut."
"Kalau begitu kau yang di atas helikopter saja. Tak usah turun."
"Apa-apaan." Taehyung membuka mata. Dia menatap Gerr yang duduk di bawah. "Aku mau turun ke lokasi. Ikut menjaga gerbang."
Dilan menggeleng di sebelah Gerr. "Tidak bisa, hyung. untuk saat ini, kau dilarang ikut segala aktifitas fisik."
"Siapa yang menentukan?"
"Andrew."
"Brengsek." Taehyung bangkit dari posisinya, mengambil dengan kasar handphone di saku. "Kenapa dia jadi semaunya mengaturku." Tangannya bergerak cepat, mengetik nomor orang yang sangat dia hapal.
Taeyeong mendengus. "Kau itu dalam kondisi bahaya, tolol. Siapa yang tahu mungkin saja ada orang-orang Argentina yang ikut pesta narkoba ini."
"Apa peduliku. Intinya aku harus ikut turun."
"Kepala batu." Vernon memutar bola mata malas. "Ini demi keselamatanmu, V."
"Lalu apa?!" Pemuda itu mengangkat pandangannya dari handphone, menatap satu-satu temannya dengan marah. "Jadi kalian mau hanya aku saja yang selamat, lalu kalian mati semua dibawah, Begitu?!"
"V." Gerr menatap tajam ke arah Taehyung. "Berpikir jernih, jerk. Kau seperti orang tak punya akal sekarang."
Taehyung sudah akan melayangkan tinju ke Gerr, namun Taeyeong lebih dulu menahan tangannya, kemudian memberikan sebuah tinjuan kuat di rahang Taehyung. Taehyung jatuh tersungkur.
"Sadar kau." Taeyeong berucap penuh emosi, menatap Taehyung yang kini mengepalkan tangan dengan kuat. "Aku tahu kau mau melakukan segala hal untuk membayar jasa kami menolongmu, aku tahu kau mau memberikan nyawamu untuk kami. Tapi tidak begini caranya, brengsek."
Vernon menghembuskan asap rokoknya malas. "Semua perjuangan kami sia-sia kalau kau hanya mau mengorbankan diri lagi. Lagipula kita hanya disuruh menjaga pesta narkoba ini agar berjalan lancar. Tidak akan ada korban jiwa, tolol."
Preman-preman itu menatap Taehyung yang tak bergeming dari posisinya. Terlihat menahan amarah.
Dilan menghembuskan nafas kasar. "Kalau kau mati konyol hanya demi kami, aku tak akan segan memotong kedua kaki mu nanti saat jadi mayat." Taehyung mendongakkan kepala, menatap Dilan. Pemuda asal Indonesia itu mencibir. "Jangan berpikiran seperti ini, hyung."
Hening sesaat.
Taehyung kembali menunduk. "Brengsek." Dia meninju lantai berkali-kali. Meluapkan emosinya.
Gerr kembali menegak soju. "Apapun masalahmu dengan Jungkook, kusarankan harus kau selesaikan secepat mungkin. Si brengsek satu ini jadi kacau gara-gara kekasihnya."
Ucapan Gerr kembali menghadirkan tawa dari Taeyeong, Vernon, dan Dilan. Gerr maju selangkah, mengacak rambut Taehyung. Pemuda itu mengerang marah, tapi akhirnya pasrah saja saat Taeyeong ikut mengacak rambutnya. Disusul tawa mereka bersama.
sincerely
"Jeon Jungkook"
"Jungkook."
"Sialan. Jeon Jungkook!"
Tiba-tiba saja, Jungkook merasakan timpukan keras di bagian belakang kepala. Jungkook mengaduh kesakitan. "Brengsek, siapa yang menimpukku?!" pemuda itu melepas kasar earphone di telinga, membalikkan badan cepat.
"Aku, bodoh." EunBi menimpuk kembali kepala Jungkook. Jungkook mengerang kesal. "Kau yang kurang ajar, aku panggil sedari tadi tidak kau jawab."
Pemuda bersurai cokelat itu mendengus. Dia menunjukkan headsetnya ke EunBi, lalu kemudian kembali membalikkan badan.
"Sial, kau mengabaikanku?!"
"Berisik. Aku sedang tidak ingin bicara."
EunBi mengangkat satu alis. Gadis itu memainkan jarinya di punggung Jungkook, membentuk pola abstrak. "Kau sedari tadi badmood terus. Guru Shin bahkan kau abaikan, kau membentak Mingyu yang hanya bertanya soal buku tugasnya yang kau pinjam, dan sekarang juga membentakku." Gadis itu mendengus. Dia mendorong punggung Jungkook pelan. "Dasar aneh."
"Dia sedang bertengkar dengan kekasih premannya, EunBi. Mengertilah." Suara lain terdengar berasal dari arah kanan Jungkook. Itu Deokwan, teman sebangkunya. Seringai lebar terpatri di bibir pemuda berhidung mancung itu. Tadi Jungkook memang sempat bercerita singkat ke Deokwan.
EunBi melebarkan matanya. "Kau bertengkar dengan Kim Taehyung?!" gadis itu dengan cepat bangkit, berpindah tempat duduk di hadapan Jungkook. "Kali ini kalian bertengkar seperti apa? Saling meninju? Pukul? Tendang?"
"Heh, cerewet. Mana mungkin Taehyung melakukan hal sekasar itu ke Jungkook." Deokwan menoyor kepala EunBi. Gadis itu menggerutu, tapi kemudian kembali memusatkan tatapan ke Jungkook.
Jungkook terdiam. Dalam hati dia tertawa miris.
Kenyataannya Taehyung memang kasar kepadanya.
"Tuh, sepertinya dugaanku benar."
EunBi menatap Jungkook yang terdiam, menelungkupkan kepala di meja. Deokwan akhirnya ikut memusatkan perhatian ke Jungkook. "Kook, dia benar-benar meninjumu?"
Jungkook tak menjawab. Kedua temannya itu saling bertatapan, tak tahu hendak berbuat apa.
"Yah," EunBi berdehem. Niatnya yang tadi ingin menjahili Jungkook batal sudah. Teman karibnya ini terlihat benar-benar sedih. "Apa yang kalian pertengkarkan?"
Helaan nafas terdengar. Jungkook menegakkan badan. Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam. "Aku menyuruhnya berhenti jadi preman."
"Lalu?"
"Dia marah." Jungkook menghantukkan pelan kepalanya di meja. "Bahkan saat aku menyatakan cinta padanya, dia malah mencekikku."
EunBi melebarkan bola matanya. Begitupula Deokwan.
"Wah," Deokwan menggelengkan kepala. "Mengerikan." Kemudian kembali berkutat dengan buku di tangan.
"Serius dia mencekikmu?" EunBi menutup mulutnya, memandang horror ke Jungkook. Jungkook mendengus. "Bukan dalam artian mencekik seperti yang kau bayangkan, bodoh."
EunBi mengibaskan tangan. "Tetap saja dia mencekikmu!" serunya. Gadis itu menepuk dahi. "Bagaimana bisa kau bertahan selama dua tahun dengannya."
"Jungkook mengatakan kalau Taehyung adalah takdirnya."
"Uwah!"
EunBi berjengit kaget, juga Jungkook dan Deokwan yang merasa jantung mereka hampir copot. Sebuah kepala tiba-tiba muncul di antara Jungkook dan Deokwan.
EunBi mengambil buku Jungkook, kemudian menimpuk kepala itu keras-keras. "Mingyu! Jangan membuat kaget orang!" sungutnya.
Sang pelaku–Mingyu, hanya tertawa. Dia kemudian beralih duduk di samping EunBi. Tangannya dengan lincah mencomot satu kentang goreng milik Deokwan. Deokwan mencibir. "dasar ketua kelas tidak tahu diri."
Mingyu tak mengindahkan. Dia memilih menatap EunBi. "Aku kerumah Jungkook saat dia sakit dulu. Bertemu dengan senior kita yang berteman akrab dengannya. Dan kau tahu, mereka bercerita kalau hubungan Jungkook dan si preman itu terjalin cuma karena perkataan soal takdir konyol mereka."
"Itu tidak konyol." Jungkook mendengus. "Aku serius dengan Taehyung."
Mingyu mengedikkan bahu. "Siapa yang bisa menebak? Kita masih 17 tahun, Kook. Perjalananmu masih panjang. Darimana kau tahu kalau Taehyung adalah takdirmu?"
Jungkook tak menjawab.
EunBi mengangguk-anggukan kepalanya. "Benar juga. Bisa jadi, ternyata saat kalian dewasa memiliki jodoh masing-masing. Tak ada yang menjamin juga hubunganmu berdua akan awet hingga ke pelaminan, kan?"
"Atau, bagaimana kalau ternyata kalian berdua tidak berjodoh? Bukannya semua ini sia-sia? Lagipula aku tak melihat tanda – tanda kalau preman itu mencintaimu sebaik kau mencintainya." Deokwan ikut memberi pendapat.
"Tapi aku mencintainya."
EunBi tertawa kecil. "Aku pernah begitu mencintai orang, Kook. Berakhir putus juga." Gadis itu menoyor kening Jungkook lembut. "Yang namanya cinta, lama lama juga akan sirna. Cinta itu bullshit di umur kita ini."
Mingyu menghela nafas. Menatap Jungkook yang tak bergeming. "Putus saja dengannya, Kook. Kulihat dia tipe orang yang tak punya masa depan. Tak baik untukmu. Lagipula, dia hanya pacar pertamamu."
Hancur sudah kesabaran Jungkook. Dia menggebrak meja begitu keras. Tak mempedulikan teman-temannya yang berseru kaget, Jungkook berjalan cepat keluar kelas. Menahan amarahnya yang meluap di dalam diri.
Mata Jungkook memanas.
Dia tahu persis, kalau apa yang teman-temannya katakan itu adalah kebenaran.
Kebenaran yang selama ini dia takutkan akan benar-benar terjadi.
Dan dia membenci dirinya, yang tak bisa berbuat apa-apa tentang kebenaran itu.
Jungkook menatap handphone nya yang menampakkan panggilan masuk dari Taehyung.
Apa aku dan Taehyung memang takdir?
.
.
to be continued
actually aku buat ini dari dua sisi yang berbeda. jadi pengen ngegambarin gimana dunia taehyung dan dunia jungkook itu beda. tapi gatau kalau feel nya dapet apa ga T^T maafkan, aku bukan penulis handal T^T
kali ini bener-bener byebye wkwk. see you next week!
