(XIII) chapter dua belas.


.

.

"Maaf, nomor yang anda tuju sedang sibuk. Mohon menghubungi beberapa saat lagi."

Kembali tak diangkat.

Taehyung tertegun. Ini sudah kali keempat dia menghubungi Jungkook dalam tiga hari, dan pemuda itu selalu menolak panggilannya. Dia tahu, Jungkook pasti marah besar akan insiden empat hari yang lalu. Walau begitu, rasanya aneh saat Taehyung akan pergi jauh begini, Jungkook tak mengetahui.

Taehyung menghela nafas. Dia mengacak rambut frustasi.

"Kekasihmu kenapa?"

Suara bapak tua membuat Taehyung mengangkat kepala. Menatap pantulan pria itu dari balik cermin di hadapannya. Taehyung mendengus. "Kekasih apanya."

Pria separuh baya itu tertawa. Tangan keriputnya lincah menari di area kepala Taehyung, sibuk memotong dan memberi model. Yeah, Taehyung kini ada di sebuah barber shop langganan ganknya. Memotong rambut cokelat keemasannya yang sudah begitu panjang dan tak terurus.

"Kau pasti ada masalah dengan kekasihmu yang anak sekolah itu." Pria tua itu menyunggingkan senyum jahil. "Kalau tidak, mana mungkin kau mau datang memotong rambut disini. Biasanya, dia kan yang memotong rambutmu."

Taehyung berdecak. "Kenapa semua orang akhir-akhir ini selalu membahas topik yang sama? Apa segitu jelasnya?" Dia lanjut membaca tak berminat majalah di tangan.

"Tentu saja." Yang lebih tua kembali tertawa kecil. "terlalu banyak aktifitasmu bersamanya, anak muda. Di mabuk cinta, ya." Kata pria itu. Dia sedikit menggunting bagian samping rambut Taehyung.

"Menggelikan."

Suasana kembali lenggang, hanya suara mesin alat cukur yang mengisi keheningan. Taehyung menaruh majalah itu di meja, kemudian mengambil handphone. Dia mencari nomor Jungkook. Yeah, apapun yang terjadi, Taehyung harus bertemu dengan Jungkook sebelum dia berangkat ke Belgia malam ini.

.


sincerely


.

Kujemput.

Jungkook menatap layar handphonenya dalam diam. Dia menghela nafas, kemudian kembali menyimpan benda persegi itu di dalam laci. Fokusnya seketika buyar.

Deokwan yang di sampingnya sedang mengerjakan soal melirik Jungkook. "Taehyung?" Kata Deokwan, menerka.

Jungkook mengangguk malas. Pemuda itu menelungkupkan kepala di meja, tak tertarik dengan secarik kertas di hadapannya. Persetan dengan ujian matematika, mood nya akhir-akhir ini sangat buruk.

"Kau mau bertemu dengannya atau tidak?" Deokwan kembali bertanya, dengan nada kecil.

Jungkook menggeleng. "Tak tahu."

Deokwan mendengus. "Aku tak pernah sekalipun melihatmu sepatah hati ini, Kook." Pemuda berambut hitam itu mengetuk-ngetukkan pensil di meja. "Kira-kira bagaimana tanggapan fansmu di luar sana kalau tahu si keren dan tampan Jungkook yang sangat di elu-elukan itu sekarang uring-uringan seperti gadis sedang PMS."

Mendengarnya, Jungkook meninju lengan Deokwan kuat, masih dengan kepala yang dia telungkupkan. Sialan. Dia sedang bad mood dan temannya itu melontarkan lelucon tak lucu.

Deokwan tertawa pelan, lalu lanjut mengerjakan soal. "Kusarankan, kalau kau memang rindu mending ketemu saja. Bukannya selama dua tahun ini, kau juga selalu begitu, kan?"

Jungkook menghembuskan nafas. Dia menegakkan badan. Menatap malas ke arah papan tulis. "Ya, selalu aku yang berakhir seperti ini jika kita bertengkar. Taehyung tak akan peduli." Pemuda itu menarik kertas jawabannya mendekat, mengumpulkan sisa raganya untuk fokus mengerjakan soal. "Paling sekarang dia sedang asik bermabuk ria."

"Nasib berpacaran dengan preman. Sial sekali hidupmu, Kook."

Jungkook menimpuk kepala Deokwan. Teman sebangkunya mengerang kesakitan.

.


sincerely


.

"Jungkook! Kau terlalu kencang–ah, shit. Meleset lagi! Ulang, anak brengsek!"

Jungkook mengusap peluh di dahi. Dia menatap bola basket yang menggelinding menuju keluar lapangan. Pandangannya buram. Nafasnya naik turun tak beraturan, lututnya juga sudah tak bisa menopang berat badan lagi. Jungkook beralih berbaring di tanah bersemen itu, mengacuhkan teriakan marah pelatih. "Lima menit, sir!" Jungkook mengacungkan lima jarinya. Meminta waktu istirahat.

Tak lama, kaptennya datang ke arah Jungkook. Bola basket ada di tangannya. Dia menunduk menatap Jungkook yang terlihat sangat kelelahan. "Ada apa denganmu, Jungkook? Tembakanmu sama sekali tidak ada yang masuk."

Jungkook membuka mata perlahan. Dia menghembuskan nafas. Perlahan bangkit. "Mungkin kurang pemanasan." Jawabnya singkat. Jungkook menyambar botol minuman yang di pegang oleh Yugyeom lalu meneguknya beringas.

"Alasan mati." Yugyeom memutar bola mata malas. Pelatih mereka di seberang sana meneriakkan kata istirahat 10 menit. Semua mengacungkan tanda OK. "Kau sudah bosan main basket?" pemuda jangkung itu menatap temannya.

"Entah." Jungkook mengedikkan bahu. "Aku sepertinya kurang motivasi sekarang."

Sang kapten menaikkan satu alis. "Wah. Si raja lapangan ternyata bisa kehilangan motivasi." Dia tertawa kecil, mengambil alih botol minuman di tangan Jungkook lalu meneguknya. Beberapa pemain basket yang lain ikut membaringkan badan di lapangan.

Jungkook menatap jam tangannya. Pukul delapan malam. Dia mendongak. langit diatas sudah semakin gelap. Bintang terlihat berkelap-kerlip.

Pemuda itu menghela nafas. Sekolah telah berakhir 4 jam yang lalu. Jungkook memutuskan untuk mengacuhkan pesan Taehyung siang tadi, memilih untuk menghadiri latihan basketnya di lapangan sekolah. Sialnya, permainan Jungkook yang payah akhirnya membuat mereka tetap di tahan hingga detik ini. Dalam hati Jungkook mendengus. Taehyung juga pasti sudah pergi, tidak menunggunya.

"Ah, aku lapar." Hyungwon bersuara, menggulingkan badannya di lapangan. Beberapa tertawa melihat tingkah pemuda kurus itu. "Ini latihan terlama kita yang pernah ada."

"Gara-gara ace sialan ini." Yugyeom mengusak rambut Jungkook yang sedang melamun menatap langit. Jungkook lantas menggerutu.

"Yah, walau begitu ini hal yang baik." Kapten mereka ikut berbicara. "Kapan lagi kita bisa bersama-sama dalam waktu lama." Kata nya dengan senyuman. Yang lain mengangguk setuju.

Jungkook tertawa. "Sorry, bung. Ace kalian yang tampan ini mengecewakan." Ucapnya, mengangkat kedua tangan, menatap teman-temannya dengan seringai lebar. Berpura-pura merasa bersalah.

Gelak tawa pecah seketika. Mereka melempari Jungkook dengan botol kosong, meneriaki sombong ke arah pemuda itu, dan Jungkook berakhir tertawa lepas.

Masa bodoh dengan Taehyung. Jungkook juga bisa bahagia sendiri.

.


sincerely


.

Jungkook melambaikan tangan ke arah Yugyeom yang ikut melambaikan tangan, kemudian hilang di belokan. Satpam sekolah mereka segera menutup gerbang di belakang Jungkook. Yeah, mereka berdua lah yang terakhir keluar dari lingkungan sekolah.

Pemuda bersurai cokelat tua itu segera lanjut berjalan. Baru beberapa langkah, kakinya berhenti tiba-tiba.

Jungkook terpaku.

"Lama sekali, sialan."

Ada Taehyung disana. Duduk di bangku jalan, dengan rokok di bibirnya. Pakaiannya terlihat formal, jas hitam dan celana kain hitam. Rambutnya juga di semir keatas. Jungkook baru menyadari kalau kekasihnya itu sudah memotong dan mengganti warna rambutnya. Sepertinya warna abu-abu, tak begitu jelas karena gelap. Tindik kembali memenuhi kedua telinganya.

Jungkook masih mematung kala Taehyung bangkit dari duduk. Pemuda itu mengambil topi yang terletak di sampingnya, memakainya secara terbalik. "Kau sengaja ya, pulang terlambat." Taehyung kembali berbicara.

"Apa–yang kau lakukan disini?"

Taehyung menatap Jungkook dengan dahi terlipat. "Tentu saja menjemputmu." Dia berjalan mendekat. Saat sampai, Taehyung langsung menoyor dahi kekasihnya. "Dasar lama."

Jungkook menunduk, tak mau bertatapan mata dengan Taehyung.

Melihatnya, Taehyung menghela nafas. dia berbalik badan kemudian melangkah menjauh. "Ayo pulang, sudah malam."

Jungkook mengikuti langkah Taehyung. Masih dengan kepala tertunduk. Taehyung sesekali mengajaknya berbicara, tapi Jungkook diam membisu. Akhirnya, Taehyung menyerah. Keheningan tercipta lama. Hanya suara mobil yang melaju di jalan raya mengisi kesunyian.

Dering handphone berbunyi.

Taehyung berdecak malas, dia merogoh handphone di kantungnya. "Apalagi?" Taehyung menghembuskan asap rokoknya. "Sudah kubilang aku tidak ikut–tentu saja tolol! Jangan menungguku. Aku tidak jadi ke Belgia–Ya, sampaikan salamku kepada Mr. Donald. Ya–oke. Brengsek."

Panggilan itu terputus. Jungkook sedari tadi sudah mengangkat kepalanya begitu mendengar Taehyung menyebut kata Belgia. Jadi, Taehyung batal pergi ke Belgia?

Taehyung berhenti. Jungkook cepat-cepat kembali menundukkan kepala. "Kau lapar, bocah?" pemuda itu menolehkan kepala, menatap Jungkook. Kekasihnya masih diam.

"Oke, kuanggap kau bilang iya." Tanpa menunggu respon Jungkook, Taehyung menarik tangan Jungkook ke sebuah rumah makan Jepang. Jungkook hendak protes, namun perutnya berbunyi nyaring tiba-tiba.

Hening.

Jungkook menundukkan kepala semakin dalam. Malu luar biasa.

Taehyung tertawa. Dia mengacak rambut Jungkook. "Latihan basket sangat menguras tenagamu, ya?"

"Darimana kau tahu aku latihan basket?" Jungkook mendongakkan kepala. Menatap Taehyung. Kekasihnya itu menyeringai jahil. "Bau mu. Bau keringat. Jorok."

Jungkook melototkan mata, meninju dada Taehyung kuat. "Aku tidak jorok!"

Taehyung tertawa keras. "Ya ya, hanya sedikit jorok." Kemudian dia segera menarik tangan Jungkook ke salah satu meja.

Jungkook masih dalam mode diamnya. Tapi dia tak bisa menahan hasrat saat makanan lezat tersaji di hadapannya. Jungkook tanpa sadar berseru senang, makan begitu lahap. Taehyung menumpukan tangan di pipi. Tertawa melihat cara makan Jungkook yang penuh semangat.

"Lihat cara makanmu. Pantas sekali kupanggil bocah." Jungkook tak mengindahkan, asik dengan makanan di mulutnya.

Setelah selesai mengisi perut, mereka melanjutkan perjalanan. Jungkook kembali diam, tak menanggapi apapun yang Taehyung katakan.

Taehyung melirik Jungkook sekilas. "Kau masih marah padaku?"

Tak ada jawaban.

"Yah, tentu saja kau masih marah." Taehyung membuang puntung rokok di jalan, lalu menginjaknya asal. "Tidak ada orang yang habis di cekik akan baik-baik saja. Pertanyaanku konyol sekali."

Hampir saja Jungkook tertawa, tapi dia dengan cepat menggigit bibir, menahan tawa. Tidak, dia tidak akan takluk semudah ini.

Taehyung membalikkan badan tiba-tiba, berjalan mendekati Jungkook. Pemuda itu mendongakkan kepala tinggi-tinggi. Rahang tegas dan jakunnya terlihat jelas.

Jungkook terdiam. Menatap heran.

"Cekik aku." Taehyung berkata malas. "Agar kita impas, dan kau tak akan marah padaku lagi."

Detik berikutnya, Bibir Jungkook tertarik keatas. Dia tersenyum, lalu akhirnya tertawa kecil. Hancur sudah pertahanannya. Segala luapan emosi, amarah, keraguan yang dia rasakan ke Taehyung telah lenyap.

Dalam hati Jungkook menggerutu. Tak terhitung berapa kali mereka terlibat pertengkaran, tapi Jungkook pasti akan luluh dengan tingkah konyol Taehyung. Kembali melupakan rasa amarahnya.

Pemuda itu menatap geli Taehyung yang dengan serius mendongakkan kepala. Jungkook maju perlahan, menjinjitkan badan di hadapan Taehyung.

"Bilang saja mau memamerkan tattoo baru mu di leher." Bisiknya.

Taehyung tertawa. "You got it." Dia menegakkan kepala, menatap Jungkook. "Keren, kan?"

Senyum Jungkook semakin mengembang. "Tentu saja keren. Kan, namaku." Dia mengulurkan tangan, mengelus tattoo baru Taehyung bertuliskan 'JK' yang di ukir dengan indah di leher bagian kanan Taehyung. Huruf J dan K nya sangat besar hingga hampir memenuhi leher kekasihnya itu.

"Kapan kau mengukirnya?"

"Dua hari yang lalu." Jawab Taehyung. "Andrew membeli alat baru, jadi aku mencobanya." Pemuda itu melepas topi, mengusak rambutnya sedikit, lalu kembali memakainya.

Jungkook tersenyum. Dia memegang pipi Taehyung, kemudian mendaratkan kecupan lama di pipi kekasihnya.

"Terima kasih untuk tattoo nya." Pemuda itu tersenyum lebar hingga gigi kelincinya terlihat. "Aku mencintaimu, Tae."

Butuh beberapa detik sebelum Taehyung sadar dari keterkejutannya. Pemuda berambut abu-abu itu kemudian tertawa kecil. Dia mengacak rambut Jungkook. "Dasar bocah."

"Tidak membalasnya?" Jungkook merengut kesal.

"Apanya?"

Jungkook memukul dada Taehyung. "Bilang kalau kau juga mencintaiku."

"Apa itu penting?"

"Lupakan."

Jungkook berjalan cepat mendahului Taehyung. Taehyung tertawa keras. Yeah, mode Jungkook yang sedang ngambek lebih baik daripada mode marahnya.

"Hei, bocah." Taehyung merangkul Jungkook dari belakang. Sedikit mengapit. "Apa ukiran tattoo ku yang bertuliskan namamu ini kurang? Harus kuukir satu badan biar kau mengerti, hah?"

Jungkook tak mengindahkan, dia memberontak di rangkulan Taehyung. "Lepaskan aku!"

"Tidak mau~"

"Tae!" Jungkook melototkan mata. Dia menyikut perut kekasihnya, tapi sama sekali tak berpengaruh. "Taehyung lepas!" Jungkook kembali mengerang kesal.

"Tidak," Taehyung menggeleng. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu." Dia menatap Jungkook tepat di mata. Senyum terpatri begitu lebar.

Diluar dugaan, tinjuan keras justru melayang mengenai dada Taehyung.

"Jangan menggombal!" seru Jungkook.

"Aduh!" Taehyung meringis, memegang dadanya. "Sial, sakit sekali, bocah."

Kesempatan Taehyung yang sedang kesakitan diambil dengan baik oleh Jungkook. Pemuda itu segera melepaskan diri, lalu berlari sekencang-kencangnya.

"Yang terlambat sampai di apartementku harus membeli kaset game satu lusin!" Jungkook berteriak, menatap Taehyung yang jauh tertinggal di belakang.

"Brengsek!" Taehyung mengumpat, segera mengejar Jungkook. "Kau curang, sial!"

Jungkook tertawa lepas. Walau Taehyung preman berfisik kuat, kalau soal lari tentu Jungkook yang anak basket lah jagonya. Mereka berakhir saling kejar-kejaran dengan gelak tawa mengisi keheningan malam.

.


sincerely


.

"Aku menang!"

Suara decitan sepatu menggema di lorong kecil remang-remang itu. Jungkook sampai lebih duluan dari Taehyung. Nafasnya tak beraturan, tersengal karena berlari terlalu kencang. Walau begitu, senyum lebar terpatri di wajahnya. Jungkook menyandarkan badan di pintu, menatap dengan penuh ejekan ke arah Taehyung yang muncul di balik belokan lorong.

"Kau curang, bocah." Taehyung menumpukan kedua tangan di lutut, mengais sisa nafasnya. Jungkook tertawa. "Wah, si preman ini ternyata bisa lelah juga."

"Brengsek, kau pikir aku robot?"

Gelak tawa Jungkook semakin keras. Taehyung mendengus. Setelah nafasnya stabil, pemuda itu berjalan mendekati Jungkook. "Dapat energi darimana kau, bocah." Taehyung menoyor dahi Jungkook. "Kupikir latihan basketmu empat jam tadi."

"Memang empat jam." Jungkook tertawa. Dia tersenyum jahil sambil menatap Taehyung. "Ah, aku yang lelah begini saja bisa mengalahkanmu. Bagaimana kalau sedang fit? Apa aku sebaiknya mendaftarkan diri menjadi anggota claws juga?"

"Cerewet." Taehyung kembali menoyor dahi Jungkook, tapi sang korban mengacuhkan. Asik tertawa lepas. Sudah lebih dari empat hari Jungkook tak tertawa selepas ini.

"Aduh, Tae. Kau harus lihat tadi bagaimana jeleknya wajahmu saat berlari." Tawa Jungkook pecah. Membayangkan kembali kejadian sepuluh menit yang lalu. Dia sampai berjongkok, tak kuat menahan tawanya.

Taehyung memperhatikan kekasihnya dengan baik. Yeah, walau objek yang Jungkook tertawakan adalah dirinya, Taehyung tak merasa terhina sama sekali. Dia justru merasa lega melihat tawa lepas Jungkook. Seolah semua bebannya terangkat sempurna.

"Sudah selesai?" Taehyung mengacak rambut Jungkook. Pemuda itu akhirnya selesai tertawa. Dia berdiri, kemudian kembali menatap Taehyung. Tawa kecil terselip di bibirnya. "Maafkan kekasihmu ini yang menertawakanmu, kapten."

Giliran Taehyung yang tertawa. Dia menundukkan kepala sedikit, menghantukkan lembut dahinya di dahi Jungkook. "Hukumanmu." Ucapnya. Jungkook mendengus, tapi kemudian tersenyum lebar.

Hening lagi. Jarum jam berdetak tak berhenti, namun tak ada yang mau beranjak pergi dari situ. Kaki Jungkook terasa berat untuk melangkah masuk, dan Taehyung juga tak ingin pergi sebelum Jungkook masuk di apartementnya.

"Jungkook." Taehyung memecah keheningan. Jungkook yang sedang memainkan ujung kaosnya mengangkat kepala. Menatap Taehyung. "Yeah," Taehyung mengusap tengkuk, canggung. "Kau tahu, kejadian empat hari yang lalu. Aku hanya–yah, sedang kacau. Jadi, secara tak sadar menyakitimu. Yah, banyak yang kupikirkan–kau tahu, lah. Soal claws, dan banyak lagi."

Jungkook mengangkat satu alis. "Lalu?"

Taehyung menatap Jungkook. Dia menghembuskan nafas kasar. "Jadi, itu. Jangan marah padaku lagi. Begitulah."

Senyum kembali hinggap di bibir Jungkook. Dia tertawa kecil. "Jadi, kau meminta maaf padaku, begitu?" ucapnya, memperjelas omongan panjang lebar Taehyung yang berbelit dan sangat canggung. Jungkook tahu, kekasihnya payah dalam hal seperti ini. Taehyung tak mengenal kata maaf di kamus hidupnya.

"Kalau kau menganggapnya seperti itu, berarti iya." Taehyung menatap Jungkook.

"Hm~" Jungkook memasang tampang berpikir serius. "Akan kupikirkan."

Taehyung tertawa melihatnya. "Baiklah, pikirkan baik-baik, bocah." Lalu kembali mengacak rambut Jungkook.

Jungkook ikut tertawa. Dia menatap rambut baru Taehyung yang di tutupi topi. Kali ini, warnanya telah jelas terlihat. "Abu-abu?"

"Ya, abu-abu." Taehyung tersenyum lebar. "Dan potongan baru."

"Kenapa tidak datang kepadaku kalau mau memotong rambut?"

Taehyung mendengus. "Kau tidak mengangkat panggilanku empat hari ini." Dia menarik hidung Jungkook.

"Ah!" Jungkook melebarkan mata tiba tiba, menepis tangan Taehyung. "Kaset game! Kau harus membelikanku kaset game selusin!" seru Jungkook dengan mata berbinar. Hampir saja dia lupa akan alasan mereka lomba lari tadi.

"Taruhan itu serius?" Taehyung tertawa. Jungkook menganggukkan kepala, ikut tertawa. "Tentu saja! Kau harus membelikanku!"

"Roger, bocah." Taehyung mengacak rambut Jungkook, entah untuk yang keberapa kalinya. "Kubelikan game zombie semua, ya."

Jungkook spontan saja menimpuk keras kepala kekasihnya yang dibaluti topi. Taehyung mengaduh kesakitan.

Setelahnya, mereka lanjut mengobrol. Begitu asik hingga tak sadar jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Jungkook bercerita banyak hal, begitu pula Taehyung. Mereka kadang tertawa menanggapi obrolan mereka. Posisi mereka pun tak berubah. Jungkook yang menyandarkan badan di pintu dan Taehyung yang berdiri di hadapannya dengan kedua tangan dia masukkan kedalam saku celana. Jungkook lupa kalau dia masih sekolah esok hari, dan Taehyung juga lupa kalau dia akan bertugas pagi-pagi sekali besok.

Yang berambut cokelat akhirnya menguap. Taehyung tertawa kecil. "Masuklah, kau harus tidur."

Jungkook mengangguk. Dia mengucek matanya yang sudah memerah karena mengantuk. Pemuda itu menatap Taehyung. "Hati – hati pulangnya."

Taehyung mengangguk. Tersenyum lebar.

Jungkook masih menatap Taehyung. "Atau menginap saja malam ini."

"Tidak usah." Taehyung tertawa. "Aku akan pulang setelah kau masuk."

Jungkook menggeleng. "Tidak. Aku mau kau menginap."

Taehyung mengangkat satu alis. "Takut aku akan kenapa-kenapa lagi kalau pulang tengah malam begini?"

"Iya." Jungkook mengangguk cepat. Taehyung kembali tertawa. "Baiklah, aku menginap."

Raut wajah Jungkook menjadi sumringah. Dengan senang hati, dia membuka pintu apartementnya, lalu menarik tangan Taehyung masuk. Taehyung menuruti, tertawa.

"Kita baru berpisah selama empat hari dan kau sudah serindu ini denganku?"

Jungkook mendengus, tapi akhirnya mengangguk diikuti tawa.

Malam ini, Jungkook merasakan tidurnya begitu nyenyak dengan kehadiran Taehyung yang tertidur di sofa panjang kamarnya. Pemuda itu tersenyum lebar menatap sosok Taehyung, lalu ikut memejamkan mata.

Siapa yang peduli soal takdir, cinta pertama, pacar pertama, cinta monyet, dan segala hal itu. Taehyung mungkin tak menunjukkannya, tapi dia tahu pasti kalau Taehyung juga mencintainya. Lagipula, kisah cinta mereka memang sudah seperti ini sejak dua tahun yang lalu. Sederhana. Tak berliku. Tak ada afeksi langsung. Taehyung brengsek, dan tak romantis. Walau begitu, preman itu mau mengukir dua tattoo bertuliskan nama Jungkook di badannya. Semua orang juga tahu kalau tattoo itu permanent dan tak akan pernah hilang.

Jungkook mengulum senyum. Mengeratkan pelukannya di bantal guling.

Masa bodoh dengan mereka yang mengatakan kalau Jungkook terlalu berlebihan dalam menjalin kasih dengan Taehyung. Apa yang salah dengan menemukan takdirmu di umur ke 17 tahun? Jungkook tabu akan cinta, begitupula Taehyung. Tapi mereka memiliki cara sendiri untuk menjalani hubungan mereka.

Jungkook berharap, selanjutnya akan terus seperti ini.

Selamanya, Jungkook hanya diciptakan untuk Taehyung, dan Taehyung hanya diciptakan untuk Jungkook.

Itulah takdir yang mereka percayai.

.

.

.

.

"Tae, bangun!"

Erangan malas terdengar. Bukannya bangun, Taehyung justru semakin menggelungkan badan, meringkuk malas di balik selimut. Yeah, tadi malam Taehyung tiba-tiba naik ke atas kasur Jungkook dan ikut tidur di samping kekasihnya itu.

Jungkook memutar bola mata malas. Dia kembali menggoyangkan tubuh Taehyung. "Tae, aku harus sekolah. Bangun, brengsek!"

"Aish, Iya aku bangun!" Taehyung menghardik kesal. Preman satu ini memang sangat benci tidurnya di usik. Namun kekasihnya itu terlalu berisik dan mengganggu. Mau tak mau akhirnya Taehyung bangun.

Jungkook mendengus. Dia memukul dada Taehyung. "Cepat bangun! Aku sudah membuatkanmu sarapan. Sana mandi juga, dasar jorok." Perintahnya.

Jungkook sudah akan bangkit sebelum Taehyung tiba-tiba menahan lengannya. Dan ketika balik, bibir Taehyung menyambar bibir Jungkook dengan cepat. Mendaratkan sebuah ciuman.

Belum selesai keterkejutan Jungkook, kekasihnya itu mendorong badan Jungkook, menindihnya. Ciumannya pun berubah menjadi begitu menuntut dan panas. Taehyung seolah ingin memakan habis bibir Jungkook, melumat dan meraupnya sedalam yang dia bisa. Jungkook mencengkram erat kaos depan Taehyung, berusaha mengimbangi permainan kekasihnya di bibirnya.

Pagutan itu terlepas setelah tiga menit. Jungkook tersengal, begitu pula Taehyung. Mereka saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Hidung Taehyung menyentuh hidung Jungkook.

"Apa–" tenggorokan Jungkook tercekat. Wajahnya merah padam. Taehyung menatapnya dengan intens. "S-sial, kenapa tiba-tiba?" bisiknya.

"Hanya ingin." Jawab Taehyung. Dia menelisik wajah Jungkook, kemudian tersenyum. "Aku mati-matian menahan diri tadi malam, melihat bibirmu terus terbuka. Sial, menggoda." Keluhnya. Saat Jungkook tertawa kecil, Taehyung kembali meraup bibir Jungkook. Kembali menciumnya ganas. Jungkook benar-benar kewalahan.

"Tae–" Jungkook mengerang kesal di dalam ciuman mereka. "Tae, berhenti!" yang di teriaki malah asik memainkan lidahnya di dalam mulut Jungkook. "Nhh, A-aku harus sekolah sial!" bibir Taehyung menghisap rakus bibir kekasihnya. Jungkook terkesiap. Dia melenguh, mencengkram kuat kaos Taehyung, kembali memejamkan mata. Berakhir pasrah bibirnya di monopoli Taehyung.

Yah, sepertinya Jungkook akan terlambat masuk sekolah hari ini.

.

.


next/the end?

(sumpah aku tergoda banget buat publish ini chapter. ini chapter di cicil tiap hari, dan pas udah jadi gatahan deh. heheu. maaf update tiba-tiba lagi. intinya aku update semau aku lah xD)

Review dan sarannya sangat di tunggu reader-nims.

XiRuLin