(XIV) chapter tiga belas.
.
.
Hari ini hari Senin. Hari yang mendapat julukan sebagai hari kesialan bagi siswa di seluruh dunia, tak terkecuali sekolah tempat Jungkook menimba ilmu sekarang. Terik matahari pagi di kota Seoul begitu menyengat kulit. Beberapa pejalan kaki mengeluhkan cuaca panas yang terlalu cepat datang.
Jungkook mengibaskan tangan ke wajah, berusaha mengusir peluh di seluruh wajahnya. Ia mendongak. Matahari bersinar dengan terik diatas sana. Jungkook mendengus. Ah, sial sekali. Hari ini pekan ujian sekolah di mulai dan cuaca sangat tidak mendukung. Hari senin yang menyebalkan.
Musik mengalun memenuhi gendang telinga Jungkook yang berasal dari headsetnya. Pemuda itu bersenandung pelan. Lagu berjudul All We Know yang dinyanyikan oleh penyanyi luar negeri bernama The Chainsmokers itu merupakan salah satu lagu favorit Taehyung. Jangan salah, walau tak pernah bersekolah Taehyung tahu banyak dunia luar. Dia preman go international.
"Jungkook!"
Sebuah tepukan ringan hinggap di bahu Jungkook, yang spontan membuat pemuda itu melepas headsetnya dan menolehkan kepala. Ternyata Yugyeom.
Jungkook tersenyum lebar. "Pagi, Yugyeolk."
"Sial, berhenti memanggilku Yugyeolk." Gerutu Yugyeom. Tapi Jungkook hanya tertawa menanggapi.
Mereka kemudian berjalan beriringan menuju sekolah. Membahas banyak hal, terutama soal ujian mereka hari ini.
"Yah, semoga saja aku bisa menjawab semuanya." Jungkook menghela nafas, tak percaya diri. Semalam demam Jungkook naik lagi, dan Jin yang merawatnya melarang keras Jungkook untuk belajar.
Yang lebih tinggi meninju lengan Jungkook. "Kau pintar, bung. Pasti bisa menjawabnya."
Jungkook tertawa. "Semoga saja."
"Ah," Yugyeom menepuk tangannya, mengingat suatu hal. "Pantas saja aku merasa ada yang aneh. Mana Kim Taehyung–mu? Bukannya setiap hari dia yang mengantarmu kesekolah?"
"Dia keluar negeri." Jawab Jungkook, sedikit tertawa kecil.
Yugyeom melebarkan mata. Menatap Jungkook. "Keluar negeri? Kekasihmu itu orang kaya?"
Tawa Jungkook pecah. Pemuda itu menggelengkan kepala kuat-kuat. "Tentu saja tidak, bodoh. Taehyung ada tugas mengawal menteri pertanian ke Indonesia." Jawabnya. Jungkook kembali tertawa begitu melihat respon Yugyeom yang menutup mulutnya dengan tangan.
"Daebak," Yugyeom berkata takjub. "Menjadi preman ternyata menguntungkan. Jangan bilang ternyata selama ini dia selalu keluar negeri?"
Jungkook mengangguk, dan onyx Yugyeom semakin berkilat, melebar sempurna. "Wah, Kook. Sekarang aku tahu mengapa kau mau pacaran lama dengannya. Ternyata kau gila materi."
Senyum Jungkook lenyap. Ia melayangkan tinju ke dada Yugyeom.
"Mati kau sana."
Teman karibnya itu tertawa. Yugyeom merangkul Jungkook, menggesekkan pipi nya di surai sehalus sutra milik Jungkook dengan penuh afeksi. Entah magnet darimana, orang-orang yang berada di dekat Jungkook pasti akan secara refleks melakukan hal yang sama dengan Yugyeom apabila bertemu pemuda bersurai cokelat itu. Merasa gemas.
"Kasihan sekali temanku ini. Di saat ujian terakhir sebelum lulus, malah di tinggal kekasihnya."
Jungkook memutar bola mata malas, mengacuhkan tindakan Yugyeom. Sudah terbiasa. "Yah, miris sekali hidupku."
.
sincerely
.
"sudah selesai ujiannya?"
"Iya." Jungkook menyandarkan badan di kursi. Punggungnya sakit luar biasa. "Ah, rasanya punggungku mau patah."
Terdengar tawa kecil di seberang sana. "Kau berlebihan, bocah."
"Rasakan saja sendiri sini."
Taehyung–yang menelfon Jungkook, semakin tertawa. "Mau kubawakan sesuatu?"
"Hm," Jungkook mengetuk-ngetuk meja, memikirkan apa yang harus dia minta dari Taehyung. "Bawakan saja sesuatu yang menurutmu cocok denganku." Ujar Jungkook.
"Oke. Kubawakan banteng."
"Banteng?" Dahi Jungkook terlipat. Dia merapatkan handphonenya di telinga. "Apa hubungannya?"
"Iya, banteng. Kau kan bongsor seperti banteng. Cocok sekali."
"Kumatikan."
Tawa keras Taehyung terpotong karena Jungkook yang langsung mematikan panggilan Taehyung. Hampir saja handphonenya jadi korban andai Deokwan yang duduk di belakang Jungkook tidak menahan pemuda itu melempar handphone ke lantai.
Jungkook mengumpat kesal. Dasar Taehyung brengsek.
.
sincerely
.
"Selamat sore, bocah."
Jungkook baru saja pulang dari latihan basketnya saat dia menangkap siluet Taehyung yang sedang bersandar di dinding depan apartementnya. Taehyung mengangkat satu tangan sembari menghembuskan asap rokoknya dari mulut.
"Lama tidak bertemu." Lanjutnya.
Sang kekasih mendengus dan memilih mengacuhkan Taehyung. Jungkook beranjak membuka pintu apartementnya. "Kapan kau tiba di Seoul?"
"Dua jam yang lalu."
"Bohong." Jungkook memutar bola mata malas. Pintu apartementnya telah terbuka, tapi dia beralih untuk menatap Taehyung lebih dulu. "Mana oleh-olehku?"
"Ah, itu." Taehyung melebarkan bola mata. Raut wajahnya berubah sedih. "Kau tahu, aku sudah susah payah membelikanmu, tapi ternyata maskapai pesawat melarangku menaruh banteng di bagasi pesa–"
"Bukan itu, tolol!" Gerutu Jungkook. Dia meninju dada Taehyung kuat.
Kekasihnya itu tertawa. "Aku serius mau membawakanmu banteng, bocah. Banteng di Indonesia bahkan lebih bersih daripadamu. Mereka mandi tiga kali sehari. Kau? Tahu mandi saja sepertinya tidak."
Jungkook melototkan mata, marah besar. Ia sudah berancang-ancang menginjak kaki Taehyung namun pemuda itu tanpa merasa bersalah segera melenggang masuk ke dalam apartement Jungkook dengan santai.
"Kim Taehyung brengsek!" Jungkook berjalan cepat, menutup pintunya kasar.
Saat tinjuannya hampir mengenai Taehyung, kekasihnya itu tiba-tiba mengangkat satu kotak besar yang di hias dengan kertas kado bercorak putih hitam.
Pergerakan Jungkook terhenti. Dia tidak melihat kotak itu tadi di tangan Taehyung.
"Kaset game yang kau mau. Kubelikan dua lusin. Semuanya edisi terbaru." Taehyung menyeringai menatap reaksi Jungkook yang mengerjapkan mata dan mulut terbuka. Terlihat shock.
"DUA LUSIN?!"
Ah, sial. Taehyung lupa akan fakta kalau kekasihnya itu senang berteriak dengan suara melengking ketika sedang bahagia.
Jungkook merampas kotak itu, membukanya dengan perasaan berbunga-bunga. Bibirnya melengkung tuntas ketika berbagai jenis kaset game PS4 terpampang di depan matanya.
"WAH! GTA 5!" Jungkook kembali berteriak senang. Mengangkat tinggi-tinggi game yang dia incar selama ini.
Taehyung tertawa. Ia menaruh rokoknya di asbak di meja Jungkook, lalu ikut duduk di samping kekasihnya yang sibuk memilah isi kotak itu. "Aku juga membeli Ashpalt 8. Kali ini, akan kutunjukkan kalau aku lebih hebat darimu, bocah. Aku sudah mempelajari banyak trik dan lorong rahasia dari internet."
"Serius?!" Jungkook menatap Taehyung dengan mata berkilat, berbinar. "Pas sekali ujianku sudah selesai! Ayo tanding bersama sampai larut malam!"
"Call!" Taehyung bertepuk tangan. Ikut bersemangat. "Satu kali race, yang kalah harus memakan satu bawang putih dengan wasabi. Bagaimana?" ujarnya dengan seringai lebar. Jungkook tertawa, lalu mengangguk. "Oke, deal!"
Bagaimanapun, mereka berdua hanya lah remaja berusia 17 tahun. Walau Taehyung terlihat dewasa, pemuda itu masih suka bermain game hingga 10 jam lamanya, mendengar lagu-lagu trend, atau pergi ke timezone dan membaca tumpukan manga di perpustakaan kota. Hidup layaknya anak remaja pada umumnya.
Setelahnya mereka tenggelam di depan TV dan PS sembari duduk bersila. Taehyung dan Jungkook bermain game bersama dengan begitu serius. Tawa tak dapat di hindari, begitupula umpatan kasar apabila kalah dan harus memakan bawang putih yang di lumuri wasabi. Berbagai jenis snack berserakan di lantai, botol-botol minuman, dan puntung rokok yang penuh di asbak Jungkook. Saat kedua maniak game ini bertemu game, mereka tak akan pernah mengingat waktu dan keadaan di sekitar.
Jin, Yoongi, dan Namjoon datang berkunjung tepat pukul delapan malam. Jin berseru marah melihat kondisi ruang keluarga Jungkook yang kotor. Namun begitu, dia berakhir menghela nafas dan membersihkannya karena Jungkook tak memperdulikan apapun saat stik ps sudah di tangannya. Yoongi memasak di dapur, dan Namjoon ikut duduk bersila di karpet, bergabung dengan kedua sejoli itu. Kadang berganti dengan Taehyung, atau hanya menyemarakkan suasana.
Pertemanan antara Taehyung dan ketiga teman Jungkook terjalin tanpa disadari.
.
sincerely
.
"JK!"
Pandangan Jungkook yang sedang menelisik buku-buku di hadapannya beralih dengan cepat. Dia mendongakkan kepala, mencari siapa yang memanggilnya.
"Oh," Bibir Jungkook tertarik keatas membentuk senyuman. "Hoseok hyung!" Jungkook melambaikan tangan ke arah pemuda yang sedang berjalan ke arahnya.
"Siapa itu?" suara lain muncul di sebelah Jungkook. Itu Yoongi. Mereka berdua saat ini sedang berada di toko buku. Jungkook yang sedang liburan setelah ujian menemani Yoongi membeli beberapa buku baru untuk kuliahnya.
"Temanku." Jawab Jungkook.
Hoseok kini sudah berada persis di hadapannya. Senyumnya yang lebar terpatri di wajah. "Lama tidak berjumpa, JK." Ucapnya ceria.
Jungkook tertawa. "Ya, lama tidak jumpa, hyung. apa yang kau lakukan disini?"
"Menemani claws." Kali ini giliran Hoseok yang tertawa melihat reaksi Jungkook. Pemuda bersurai cokelat itu membulatkan bola mata, menatap Hoseok tak percaya.
"Tunggu, claws?" ulang Jungkook, memastikan. "Hyung sejak kapan dekat dengan mereka?"
Hoseok tertawa. "Yah, sudah lama. Mereka ternyata orang yang asik. Terutama Andrew. Jadi aku sekarang berteman dengan mereka."
"Daebak," Jungkook ikut tertawa. "Apa Taehyung tahu ini?"
"Ya, tentu saja kekasihmu tahu." Hoseok mengangguk. Senyumnya semakin mengembang. "Sekarang aku dan dia teman akrab."
Jungkook menutup mulutnya dengan tangan, dramatis. "Dunia benar-benar aneh."
Hoseok tertawa, diikuti dengan Jungkook. Mereka lanjut bercerita. Yoongi yang tak mengerti apa-apa mendengus lalu kembali berkutat dengan buku-buku di hadapannya.
"Wah, Jungkook. Suatu kebetulan!"
Andrew muncul di balik rak buku. Ia bersama Jimin dan Ji Han. Pemuda bermata biru itu tampil menawan hari ini, dengan kemeja merah maroon yang lengannya di lipat hingga siku, dan celana jeans berwarna hitam. Beberapa pengunjung menatap Andrew dengan tatapan memuja. Sama hal nya dengan Jimin yang menggunakan kemeja kotak berwarna kuning hitam dan ripped jeans, juga Ji Han yang memakai jaket hoodie warna hitam yang menutupi separuh wajahnya.
Jungkook tersenyum semakin lebar. Dia melambaikan tangan ceria. "Halo Andrew, Jimin, Ji Han!"
Andrew mengacak rambut Jungkook. Jungkook nyengir. "Aku tak tahu ternyata preman brengsek seperti kalian kenal toko buku juga." Ujarnya bercanda. Jimin dan Ji Han tertawa.
"Ini ajakan J-Hope. Dia bilang ada buku bagus yang sangat cocok untuk profesi kami." Andrew mengedikkan dagu ke Hoseok. Hoseok tertawa, diikuti dengan Andrew.
Jimin melirik kanan kiri Jungkook. "Kau datang dengan siapa?" tanyanya.
"Ah!" Jungkook menepuk dahi. Perasaan bersalah langsung meliputi pemuda itu karena melupakan hyungnya. Dia menolehkan kepala, menatap Yoongi yang asik dengan dunia sendiri. Memeriksa buku-buku.
Jungkook menarik tangan Yoongi mendekat. Yoongi terkesiap, kaget. "Aku datang bersama kakakku, Yoongi hyung."
Yoongi mendengus. Ini pertama kalinya dia bertemu teman-teman Jungkook. Preman-preman di hadapannya menatap penuh ketertarikan. "Kau punya kakak, JK?" Ji Han angkat suara. Seringai tergambar di wajahnya.
"Bukan kakak sungguhan, dia seniorku. Tapi kami akrab sekali." Jawab Jungkook dengan tawa kecil.
"Jadi namamu Yoongi."
Yoongi mengangkat kepala begitu mendengar suara yang tak asing di telinga. Ada Jimin yang sedang menatapnya sambil menyeringai. Pandangan mereka bertemu. Yoongi mendengus, lalu mengalihkan pandangan.
"Wah, dia semanis dirimu, Jungkook." Andrew ikut berbicara, tersenyum lebar. Tatapannya beralih ke Yoongi. "Halo, Yoongi. Lain kali main lah ke markas kami. Adikmu ini sudah seperti bagian dari kami."
Yoongi menatap dingin ke Andrew. "Tidak, terima kasih."
"Oh," Andrew kikuk, mengusap tengkuknya canggung. "Baiklah kalau begitu." Ujarnya, tak tahu harus berkata apa setelah Yoongi menolak tawarannya mentah-mentah.
Jungkook menepuk dahi. Yoongi dan sikap dinginnya memang tidak tertandingkan.
"Sarkas sekali si manis ini." Jimin berujar, melangkah mendekati Yoongi. Ia menatap datar ke Yoongi, dan Yoongi balik menatapnya dingin.
"Berhenti menggunakan banmal padaku. Kita bahkan tidak saling kenal, brengsek." Desis Yoongi.
Jimin tertawa. Dia merundukkan kepala, menatap Yoongi dari jarak yang sangat dekat. Tatapan mereka beradu. "Jangan mengumpat, babe. Kadar manismu jadi meningkat kalau kau berkata kasar, okay?" Jimin mengelus pipi Yoongi. Yoongi melebarkan mata, merasa terlecehkan. Wajahnya merah padam. Yoongi sudah akan menampar Jimin namun pemuda itu lebih dulu menahan tangannya kuat.
"Brengsek ka–"
Cup.
Jungkook mematung. Sama halnya dengan Yoongi.
Jimin baru saja mencium bibir Yoongi, hanya mengecupnya. Tapi berdampak sangat besar, tentu saja.
Jimin menyeringai, menatap Yoongi begitu intens. "Jangan mengumpat lagi, oke? Atau aku tak akan tahan dan memakan bibirmu yang manis ini."
"Hell, Chim." Andrew mendengus. "Berhenti mencium orang di depan umum. Kebiasaanmu itu buruk."
Tiba-tiba saja aura Yoongi berubah menjadi semakin gelap. Tatapan membunuh telak Jimin terima, terasa menusuk. Walau begitu, ada genangan airmata di pelupuk Yoongi. Dan hal itu yang membuat Jimin terpaku.
"Brengsek." Yoongi berdesis. Menatap tajam dan dingin ke arah Jimin. "Kau merebut first kiss ku dengan bibir kotormu itu. brengsek."
Tangan Yoongi menarik kasar kerah Jimin, membuat mereka kembali beradu tatap. Yoongi mendekatkan wajah mereka. Geretak geraham Yoongi yang menandakan kalau dia marah besar terdengar sangat jelas.
"Jatuh kau ke neraka paling dalam, jahanam."
Yoongi berbisik sadis tepat di depan bibir Jimin, dengan wajahnya yang merah padam menahan amarah. Setelahnya, dia melepaskan cengkramannya. menarik paksa Jungkook yang susah payah menoleh ke Andrew, meminta maaf, dan akhirnya hilang di balik pintu toko buku.
Hening.
Jimin terpaku. Tak bergeming.
"Wah," suara Ji Han memecah keheningan. pemuda itu bertepuk tangan dengan wajah datar. "Kau baru saja didoakan masuk neraka, Chim."
Andrew tertawa. Ia segera merangkul Jimin. "Korban baru mu, Chim."
"Yah, walau begitu tadi itu keren." Hoseok ikut tertawa.
Jimin sadar dari keterpakuannya. Pemuda berambut orange itu mengusap kasar wajahnya. "The fuck." Umpatnya.
"Salahmu, tolol. Jangan marah padanya." Andrew mengacak rambut Jimin. tapi Jimin menggeleng keras.
"Tidak, bukan. Siapa peduli dia marah." Pemuda itu menatap ke arah pintu toko buku. Tangannya terkepal erat. "The fuck, dia–sialan, manis sekali. Bangsat, this is crazy. aku benar-benar akan mendapatkan si Yoongi itu. apapun yang terjadi."
Ji Han, Andrew, dan Hoseok saling berpandangan. Detik berikutnya mereka tertawa keras. Terkejut dengan tanggapan Jimin. Andrew mengacak rambut Jimin semakin brutal. "Kau baru saja disumpahi jahanam, dan begitu reaksimu?"
"Dia gila." Ji Han menggelengkan kepala simpatik.
Hoseok tertawa keras. "Sepertinya perjuangan cintamu akan sulit, Chim."
.
sincerely
.
"Pokoknya, kau harus menyuruh Jimin minta maaf! Berlutut kalau perlu!"
Taehyung mendengus. Pemuda itu asik menyesap rokoknya, menatap Jungkook yang berjalan cepat di hadapannya. Yeah, pagi hari Taehyung di mulai dengan luapan marah Jungkook. Omelan panjang tak berujung dari kekasihnya akibat perlakuan semena-mena Jimin kemarin kepada Yoongi. Padahal mereka sedang menuju ke kedai ice cream kesukaan Jungkook.
Dalam hati Taehyung menggerutu. Bukan dia yang melakukan kesalahan, tapi kenapa jadi dirinya yang dimarahi?
"Kau harus tau, Tae. Saat pulang Yoongi hyung bilang dia baik-baik saja, tapi aku tahu dia dalam kondisi tidak baik. Itu ciuman pertamanya, astaga!"
"Hm." Taehyung mengangguk malas walaupun Jungkook tak melihatnya.
"Yoongi hyung sangat menjaga first kiss nya. Dia berkali-kali pacaran tapi sama sekali tak pernah berciuman. Itu karena dia hanya mau memberikannya kepada orang yang sangat dia cintai nanti!"
"Melankonis sekali. Kasihan."
"Taehyung!" Jungkook mengerang kesal.
"Oke oke aku diam."
"Ah, aku kesal sekali!" Jungkook menghentakkan kakinya di tanah. "Aku tak tahu Jimin akan selancang itu! Yoongi hyung pasti menganggapnya sebagai pelecehan. Aku juga berpikir seperti itu!"
"Hm."
"Mana di depan umum, lagi! Kenapa temanmu harus sebrengsek itu, Tae?!"
"Yah," Taehyung menghembuskan asap rokoknya. "Menurutku itu biasa saja. Tidak brengsek."
"TAEHYUNG!"
Jungkook membalikkan badan, menatap marah ke Taehyung. Sang preman menghembuskan nafas kasar. "Oke, oke. Jimin brengsek. Dia brengsek." Taehyung hendak mengacak rambut Jungkook tapi kekasihnya itu menepis kasar.
"Kau lebih brengsek!" Jungkook berseru kesal. "Pokoknya! Jimin harus meminta maaf ke Yoongi hyung, atau tidak dia harus menikahinya!"
Hening.
"Ha?" Dahi Taehyung terlipat. Dia menatap Jungkook heran. "Menikah?"
"Iya!" Jungkook mengangguk, masih dengan wajah ditekuk dan terlihat sangat serius. "Siapapun yang mengambil ciuman pertama Yoongi hyung, dia harus menikah dengan Yoongi hyung!"
Detik kemudian, Taehyung tertawa keras. Dia bahkan tak sadar kalau rokoknya jatuh ke tanah. "Itu peraturan darimana?!" Taehyung berucap di sela tawanya. "Konyol sekali!"
Jungkook menatap tak percaya kekasihnya yang justru menertawakan suatu hal yang sangat dia anggap serius. Wajahnya merah padam, tangannya terkepal kuat.
"AKU MEMBENCIMU BRENGSEK!"
Jungkook menabrak badan Taehyung, berjalan cepat kembali ke Apartementnya. Ingin sekali Jungkook menangis. Bagaimana bisa Taehyung menertawakan ini semua?
"Jungkook!" Taehyung tak tinggal diam. Ia segera mengejar Jungkook. Memberhentikan langkahnya tepat di hadapan kekasihnya itu. "Hei, bocah. Aku hanya bercanda."
Jungkook tak menggubris. Dia terus mencoba melewati Taehyung yang menahan pergerakannya. Taehyung merunduk, berusaha menggapai dagu kekasihnya agar mau bertatapan mata dengannya.
"Jungkook, astaga. Kau serius marah?"
"Menurutmu?!" hardik Jungkook. Tatapannya memancarkan kekecewaan yang dalam. Taehyung menghembuskan nafas lagi. Menetralkan emosi.
"Oke, akan kusuruh Jimin menikahi Yoongi."
"Kenapa menikah?" Jungkook merengut. "Dia harusnya minta maaf!"
"Jimin itu sejalan dengan pikiranku. Tak mengenal kata maaf." Taehyung mendengus. "Lagipula, aku yakin si brengsek itu serius dengan Yoongi. Kalau kuminta menikahi Yoongi besok pagi dia pasti akan langsung menyetujui."
Mata bulat Jungkook melebar. "Serius?" tanyanya. Taehyung tertawa, lalu mengangguk. Sepertinya Jungkook telah melupakan amarahnya.
"Wah," Jungkook menepuk dahi. "Ini akan rumit. Jimin tak mau melepaskan Yoongi hyung, dan Yoongi hyung yang membenci Jimin dengan segenap jiwa."
"Tak usah pedulikan mereka," Tangan Taehyung bergerak ke belakang kepala Jungkook, menarik hoodie putih Jungkook ke depan dan langsung menutupi rambut pemuda itu. "Bukannya kau tadi mau es krim?"
"Tidak jadi." Jungkook memperbaiki letak hoodie nya, mendengus. "Aku tidak mau makan es krim dengan orang yang kubenci."
Taehyung memutar bola mata malas. "Yah, tapi Kim Taehyung ini mau makan es krim bersama orang yang dia cintai."
Tak menghiraukan protes dari Jungkook, Taehyung segera menarik tangan Jungkook untuk kembali berjalan ke kedai es krim. Jungkook menggerutu, tapi berakhir pasrah di tarik dengan Taehyung. Jungkook tertawa saat seorang anak kecil yang sedang belajar naik sepeda roda tiga di trotoar menabrak kaki kekasihnya. Taehyung mengumpat marah. Jungkook langsung saja menimpuk kepalanya.
Dasar Taehyung brengsek.
.
.
Next/Stop?
(by the way aku seneng banget banyak reader baru heheheheheheeee. makasih banyak yang udah sempatin waktu buat baca fiction gajelas dan ambrul adul aku ini T^T aduh aku pengen nangis baca review kalian. luvluvluv banget! dan bytheway lagi maaf ya aku suka update gajelas timingnya hehehe. intinya kalo satu chapter udah selesai aku ketik pasti gabakalan bisa nahan diri buat ga ngepost dan baca review kalian hehehehe. lavyuall! lavtae!brengsek juga hehe)
review dan sarannya sangat saya tunggu reader-nims.
XiRuLin.
