(XV) chapter empat belas.
.
.
"Hah? Menikah?"
Jimin hampir saja tersedak soju karena perkataan tiba-tiba temannya itu. Ia menatap Taehyung dengan dahi terlipat, sementara yang di pandang menganggukkan kepala serius. "Ya, kau harus menikah dengan Yoongi."
"Tae. kau bosan hidup, ya? Mau kubunuh?"
"Brengsek." Taehyung melempari Jimin dengan kaleng soda. "Aku tahu ini konyol sekali, tapi kalau tidak mau meminta maaf padanya, kau harus menikahi Yoongi." Taehyung mengeryit, tak nyaman dengan kalimat yang dia ucapkan sendiri. "Setidaknya itu yang Jungkook katakan padaku."
Jimin tertawa. Ia menegak soju nya. "Ah, Yoongi itu memang unik. Dia manis sekali, tapi juga sangat sarkas. Mangsa yang sempurna."
"Menjijikkan." Taehyung bergedik ngeri. Pemuda itu menyesap rokoknya, lalu berbaring di sofa dengan menjadikan paha Jimin sebagai bantal. Mereka berdua kini sedang berada di markas, berjaga. "Mengencaninya tidak akan mudah, jerk. Dua tahun aku mengenalnya, tak pernah sekalipun aku melihatnya tersenyum lebar. Dia iblis."
"Oh, pantas saja dia menyuruhku masuk neraka. Mungkin untuk berjodoh dengannya?"
"What the fuck–" Taehyung tertawa keras. "Otakmu bahkan lebih kecil dari otak udang. Tolol sekali."
Jimin ikut tertawa. Lanjut menikmati minuman beralkohol di tangannya. Hening diantara mereka tercipta.
"Tae."
Taehyung yang sedang memejamkan mata bergumam menyahut.
"Kau–" Jimin menghembuskan nafas. "Kau punya impian?"
"Tidak ada." Jawab Taehyung lugas. "Aku tak mengenal kata impian."
"Sedih sekali."
"Brengsek." Taehyung menyikut perut Jimin, dan temannya itu tertawa. "Tapi aku serius, Tae. Kau tak punya hal yang kau inginkan saat besar nanti?"
"Tidak ada." Taehyung tertawa. Dia menyesap rokoknya. "Untuk apa orang yang tak pernah sekolah sepertiku punya mimpi? Tanpa mencobanya pun aku sudah tahu tak akan ada yang terkabulkan."
Jimin tertegun menatap temannya yang terlihat tenang ketika mengucapkan itu. "Kau tak berniat untuk sekolah?" Jimin bertanya tanpa sadar.
"Sekolah?" Taehyung terkekeh. "Umurku sudah terlalu tua. Lagipula ayah dan ibu tidak punya uang untuk membiayaiku. Kudengar biaya pendidikan mahal sekali."
Yang bersurai orange memutar bola mata malas. "Itu karena uangmu habis kau gunakan untuk Jungkook."
Taehyung kembali tertawa. "Benar. Mungkin, bocah itu lah impianku." Ujarnya, senyuman terukir di bibir Taehyung.
Jimin mendengus. Pemuda itu beralih menatap langit-langit markas mereka. "Untuk bersamanya, setidaknya kau harus punya modal, Tae. Orang-orang seperti kita ini terlalu mudah untuk tergusur. Jungkook berbakat, dia pintar, dan banyak yang menyukainya. Aku berani bertaruh Yoongi juga seperti itu. Mungkin memang untuk sekarang ini dia seutuhnya milikmu. Namun siapa yang tahu, suatu saat nanti, ketika kita beranjak dewasa, Jungkook jatuh hati pada orang lain yang lebih berkualitas?"
Senyum Taehyung lenyap. Dia diam membisu.
"Apa–kita akan terus seperti ini, Tae?"
Tak ada jawaban.
.
sincerely
.
Taehyung melangkahkan kaki dengan malas sembari memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Pohon-pohon tinggi dan rindang berjajar rapi di pinggir jalan, ada sebuah taman dengan air mancur di tengahnya, dikelilingi berbagai jenis bunga yang indah. Burung-burung singgah meminum air di kolam, dan kupu-kupu saling berkejaran di sekitar bunga-bunga.
Beberapa remaja memakai baju seragam duduk di bangku taman. Ada yang asik bercengkrama, mengerjakan tugas, atau bernyanyi bersama dengan salah satu dari mereka memainkan gitar.
Taehyung tertegun. Jadi ini ya, suasana sekolah.
Pagi ini, Taehyung yang datang ke apartement Jungkook dikejutkan dengan kehadiran eomma kekasihnya ketika pintu terbuka. Wanita itu berkata kalau Jungkook pergi ke sekolah pagi buta karena ada urusan mendesak, dan ia melupakan buku cetak matematikanya. Sehingga, Taehyung akhirnya di minta untuk mengantarkan buku tersebut ke sekolah Jungkook.
Ini pertama kalinya dia memasuki area sekolah Jungkook. Selama ini Taehyung hanya mengantar Jungkook hingga di depan gerbang saja. Siapa sangka ternyata sekolah Jungkook sangat besar dan asri.
Taehyung sampai di gedung utama. Kepalanya celingak-celingukan. Oke, gedung ini terlalu besar. Puluhan pintu kelas berjajar di hadapannya, juga anak tangga tak terhitung.
Pemuda itu mendengus, sedari tadi panggilannya tidak di angkat oleh Jungkook. Tak punya pilihan lain, Taehyung berjalan menghampiri sekelompok siswa yang berdiri tak jauh darinya.
"Hei," Taehyung bersuara. Sontak saja mereka menolehkan kepala, menatap Taehyung. Tatapan mereka memindai Taehyung dari atas hingga bawah, sedikit merasa takut akan aura mencekik yang keluar dari pemuda berambut abu-abu itu.
"Kelas 12 Bahasa 1 ada dimana?" tanya nya. Siswa-siswa itu tak langsung menjawab, mereka saling berpandangan. Saling menunjuk siapa yang harus menjawab pertanyaan Taehyung. Aura berbahaya di tambah gaya premannya tentu membuat siapapun yang melihatnya akan kehilangan keberanian.
Taehyung mendengus. "Kalian punya telinga, kan? Atau memang sudah tuli?"
"A-ah," ada gadis berambut panjang berwarna hitam yang akhirnya menjawab, walau dengan suara bergetar dan pandangan menunduk. "I-itu, lantai keempat. Lokasi kelasnya ada di lantai empat."
"Kau mengejekku, ya?" Taehyung menatap tajam ke arah gadis itu. "Aku mana tahu bagaimana cara naik ke lantai empat. Jelaskan secara rinci, tolol."
Yang di tatap panik, dengan cepat menundukkan kepalanya. "M-maafkan aku. Akan kuantar ke lantai empat."
Gadis itu beranjak dari kerumunan temannya, melangkah di depan Taehyung masih dengan kepala di tundukkan. Taehyung mendengus, lalu mengikuti gadis itu.
Langkah mereka diisi dengan diam. Taehyung asik menatap sekeliling, melihat dengan baik bangunan dan kegiatan-kegiatan murid di kelas yang dia lewati. Ada rasa aneh yang di rasakan Taehyung ketika melihat pemuda-pemuda berseragam yang seusianya terlihat serius mendengarkan penjelasan dari guru di depan kelas, atau mereka yang ribut mendebatkan suatu hal, seruan senang saat menjawab soal bersama, dan kelas-kelas yang bernyanyi bersama lalu diisi tawa.
Taehyung mengulas senyum tipis tanpa sadar. Sepertinya sekolah memang menyenangkan.
"Apa–ada yang lucu?"
Taehyung terkesiap. Gadis berambut panjang yang berdiri di hadapannya kini sedang menatapnya dengan pandangan heran. Ah, Taehyung lupa akan eksitensinya.
"Tidak ada." Taehyung mengibaskan tangan, menyuruh gadis itu untuk lanjut menaiki anak tangga.
Gadis itu mengeryit, tapi akhirnya menuruti. Aura menyeramkan pemuda preman yang berjalan di belakangnya perlahan menghilang. Walau begitu, dia masih merasa tercekik ketika beradu tatap dengan bola mata hitam pemuda itu.
"Kau–" gadis itu kembali berbicara. "Kau, apa yang lakukan di sekolah kami?"
"Apa urusanmu?"
Damn.
Sakit sekali di jawab seperti itu.
Gadis itu memilih untuk diam, menyerah untuk mengajak berbicara pemuda penuh tindik di belakangnya. Sedangkan Taehyung tetap acuh. Tangannya gatal ingin merogoh kantung jeansnya dan mengambil sebatang rokok, tapi tanda larangan merokok yang tertempel dengan jelas di dinding koridor membuat Taehyung membatalkan niatnya.
"Ah, sudah sampai."
Taehyung mendongak dan langsung menemukan pintu kayu khas pintu kelas dengan sebuah kertas yang tertempel didepannya bertuliskan "KELAS HITS, HANYA ORANG FAMOUS YANG BISA MASUK".
Taehyung mengeryit. "Apa benar ini kelas XII Bahasa 1?" tanyanya.
"Tentu saja." Gadis itu mengangguk. "Ah, kau mau mencari siapa? Aku mengenal beberapa siswa di dalamnya. Akan kupanggilkan."
"Jeon Jungkook."
Mata gadis itu melebar sempurna. Dia menatap Taehyung. "J-jungkook?" ulangnya, memastikan.
Taehyung menaikkan satu alis heran, tapi kemudian mengangguk. "Ya, Jeon Jungkook. Panggilkan aku cepat."
Tak mengindahkan perkataan Taehyung, gadis itu justru memajukan badan, mendekati Taehyung. "Kau–pacarnya Jungkook, ya?" matanya berkaca-kaca dan Taehyung semakin di buat bingung.
"Kau kenapa?" tanyanya. Namun gadis itu diam tak bergeming, menatap Taehyung. Ada luka yang terpancar dari cara gadis itu menatap Taehyung, dan semua teka tekinya terpecahkan ketika setetes airmata jatuh dari mata gadis itu.
"Ah," gadis itu menundukkan kepala cepat-cepat, berusaha menghapus airmata yang mengalir di pipinya. Isakan terdengar. "A-aku, maafkan aku. A-aku tak bermaksud menangis. A-aku–" suaranya tercekat. Dia semakin terisak. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis dalam diam.
Taehyung tak suka melihat orang menangis, tapi kali ini dia membiarkannya.
Dia tahu, gadis ini menyukai Jungkook. Jadi, tak ada yang bisa dia lakukan.
Dalam hati Taehyung meringis. Sesuai prediksi Jimin, kekasihnya memang terkenal.
"Sana?"
Suara yang begitu Taehyung kenal terdengar. Saat Taehyung menolehkan kepala, ada kekasihnya yang kini berdiri di depan pintu kelas. Menatap terkejut ke arah Taehyung dan Sana yang sedang menangis di hadapan Taehyung.
Jungkook berjalan cepat ke arah gadis itu. "Sana, hei, kau kenapa?" Jungkook merangkul gadis itu, menundukkan kepala, mencari mata Sana. "Hei, kau sakit? Berhenti menangis."
Gadis itu menggeleng cepat. "T-tidak! Aku tidak apa-apa, Jungkookie." Tangannya bergerak menghapus airmata nya sebisa mungkin, dan saat mendongakkan kepala, Taehyung terlihat sangat tak senang dengan perilaku Jungkook terhadapnya. Nafasnya kembali tercekat. "A-aku harus pergi, Kookie. S-sampai jumpa di klub sore nanti." Sana dengan terburu-buru mendorong badan Jungkook menjauh, lalu berlari menuruni tangga.
Jungkook mengeryitkan dahi. Dia menoleh ke arah Taehyung. "Apa yang kau lakukan padanya?"
"Bukan urusanmu." Taehyung menyerahkan bingkisan ke Jungkook. "Dari eommamu."
"Ah, buku ku!" mata Jungkook berbinar. "Jadi kau datang untuk mengantarkanku ini? Baik sekali~" goda Jungkook. Senyumnya mengembang sempurna. Namun di luar dugaan, Taehyung justru menatapnya datar.
"Kalau begitu aku pulang."
Taehyung beranjak dari berdirinya, menabrak pundak Jungkook sedikit untuk kembali ke tangga yang tadi dia naiki, namun tangan Jungkook lebih dulu menahannya.
Jungkook menghela nafas. "Aku dan Sana tidak ada hubungan apa-apa."
"Siapa yang peduli?"
Taehyung menghempaskan tangan Jungkook kasar, dan tanpa melihat kekasihnya langsung beranjak pergi.
"Tae!" Jungkook tak tinggal diam. Pemuda itu mengejar Taehyung, berusaha menggapai tangan kekasihnya. "Tae, astaga kau cemburu?" ujarnya frustasi. Namun Taehyung mengacuhkan. Dia menuruni tangga semakin cepat.
"Taehyung! Berhenti–"
"Oh, Jungkook!"
Langkah kaki Jungkook terhenti, begitupula Taehyung. Ada dua orang pemuda di hadapan mereka, hendak menaiki tangga. Senyum mereka mengembang sempurna.
"Jungkook-ah" yang berambut hitam legam itu melangkah mendekati Jungkook, sedikit berlari kecil. Dia tersenyum sangat lebar. "Kau akan datang ke pesta ulang tahun ku sore ini, kan?"
Jungkook mengusap tengkuk. "Em, apa yang lain datang?"
"Tentu saja, hyung!" pemuda yang satunya ikut menaiki anak tangga, mendekati Jungkook. "BamBam hyung mengadakan pesta besar. Hyung akan menyesal kalau tidak ikut."
Jungkook tak langsung menjawab. Dia beralih melirik Taehyung yang kini menyandarkan badannya di dinding tangga, melipat kedua tangan di depan dada. Taehyung sibuk menatap siswa-siswa yang berlalu lalang di lantai bawah.
"Pesta ku tidak akan jadi tanpamu, Kook-ah." Bambam kembali bersuara, mendesak pemuda di hadapannya..
Jungkook tertawa kecil, kemudian menganggukkan kepala. "Akan kuusahakan datang."
"Serius?!" mata BamBam berbinar. Refleks, pemuda berkebangsaan thai itu menggenggam kedua tangan Jungkook erat erat. "Thank you, sweetheart. Aku akan menunggumu."
"Sweetheart?"
Suara yang terdengar asing membuat BamBam dan adik kelas mereka itu menolehkan kepala, menatap ke arah Taehyung yang juga sedang menatap mereka berdua.
Taehyung menatap datar. Langkah kakinya kembali menaiki anak tangga. "Kau barusan bilang apa? Sweetheart?"
BamBam mengeryitkan dahi. "Tentu saja. Siapa kau?"
Di sisi lain, Jungkook sudah berusaha melepaskan genggaman tangan BamBam, namun pemuda itu ternyata lebih kuat dari yang Jungkook duga. BamBam menahan tangan Jungkook. Jungkook panik.
Sial. Ini bahaya.
"Disini harusnya aku yang bertanya." Taehyung sampai di anak tangga yang sama dengan BamBam. Tatapannya begitu menusuk. "Siapa kau berani-beraninya memanggil kekasihku dengan sebutan sweetheart?" ujar Taehyung dingin.
Hening sesaat.
Bibir BamBam perlahan tertarik keatas, membentuk seringai lebar. "Oh, jadi rumor kalau Jungkook memiliki kekasih seorang preman itu ternyata benar." Tatapannya menelisik Taehyung dari atas hingga bawah, begitu mencemooh.
BamBam tertawa. Dia melepas genggaman tangannya dari Jungkook. Beralih memfokuskan tatapannya ke Taehyung. "Kau–" BamBam menyeringai. "Menyedihkan. Preman tak bersekolah, penampilan urak-urakan. Miskin. Bau rokok dan alkohol. Ayolah, bagaimana bisa kau berpacaran dengan Jungkook yang begitu gemilang di sekolah kami? Kau tak pantas untuk Jungkook. Terlalu rendahan."
Jungkook melebarkan mata, terkejut dengan ucapan kasar BamBam. Sementara itu, tangan Taehyung sudah terkepal erat.
"Brengsek." Taehyung menggertakkan giginya. Amarahnya tersulut. "Itu bukan urusanmu apa aku pantas untuk Jungkook atau tidak."
"Tentu saja urusanku." BamBam mendekati Taehyung. Seringai mengejeknya semakin lebar. "Aku menyukai kekasihmu. Dan kurasa, di bandingkan diriku yang sempurna dan berpendidikan tinggi, Kau hanya akan merusak masa depan Jungkook. Kau itu sampah masyarakat."
Habis sudah kesabaran Taehyung. Dia dibutakan amarah. Kepalan tangannya dengan cepat melayang di udara.
Jungkook berseru panik, beranjak dari posisinya ke arah BamBam. "Taehyung! Jangan!"
Terlambat. Kepalan tinju Taehyung mengenai rahang Jungkook yang datang tiba-tiba, melindungi pemuda berambut kelam itu. Taehyung terkejut. Begitupula BamBam. Sang adik kelas dengan cepat menopang tubuh Jungkook yang hampir jatuh tersungkur ke anak tangga di bawah mereka.
"Jungkook!" BamBam panik. Pukulan Taehyung tak main-main. Ada darah yang keluar dari mulut Jungkook ketika pemuda itu terbatuk.
Taehyung diam tak bergeming. Dia menatap tak percaya Jungkook. Tangannya bergetar.
"Brengsek!" BamBam mengumpat. Dia menatap marah ke arah Taehyung. "Kau sebut dirimu sebagai kekasihnya?! Lihat apa yang kau perbuat! Dasar otak udang! Berhenti menyakiti Jungkook!"
Taehyung tak menjawab. Dia memperhatikan bagaimana Jungkook yang terbatuk dan terus mengeluarkan darah tak berhenti. Pikirannya kosong. Beberapa siswa yang tak sengaja melintas segera berhenti, berteriak panik, berbondong-bondong mengangkat Jungkook entah kemana. Taehyung mengepalkan tangan. Matanya memanas.
Dia sama sekali tidak bermaksud menyakiti Jungkook.
Namun lagi lagi, amarah menguasai dirinya.
Sebuah tepukan hinggap di bahu Taehyung. Mingyu lah pelakunya.
"Sebaiknya kau putus saja dengan Jungkook. Kalian beda dunia. Kau hanya akan terus menyakitinya."
.
sincerely
.
"Taehyung?"
Namjoon mengerjapkan mata. Terkejut dengan kehadiran kekasih Jungkook di depan pintu apartementnya. Taehyung jarang sekali mengunjungi apartementnya, Ini kejadian langka.
"Yah." Taehyung menghembuskan asap rokoknya. "Apa aku mengganggu pagi mu?"
Namjoon tertawa kecil. "Tentu tidak. Ayo masuk, diluar sudah mulai panas."
Pemuda tinggi itu membuka lebar pintu apartementnya, membiarkan Taehyung masuk dan melepas sepatu. Namjoon mengangkat sampah snack yang berserakan di lantai ruang tengah dan membuangnya ke dalam tempat sampah.
"Maaf agak berantakan. Kemarin aku begadang jadi belum sempat membersihkan." Ujar Namjoon, sedikit tertawa kecil.
Taehyung mendengus. "Kamarku lebih parah dari ini."
Namjoon tertawa. Dia mengusak rambut Taehyung yang dihadiahi erangan tak suka. Taehyung kemudian duduk di salah satu sofa.
"Namjoonie, ada siapa?"
Suara lain terdengar dari balik kamar Namjoon. Begitu pintu dibuka, sosok Jin yang hanya mengenakan kaos kebesaran tanpa bawahan muncul. Jin mengeryit ketika melihat Taehyung yang duduk dengan tenang di sofa kekasihnya.
"Taehyung datang berkunjung, sayang." Jawab Namjoon. Dia melangkah mendekati Jin, mendaratkan ciuman lembut di dahi kekasihnya, lalu mengucapkan selamat pagi.
Jin mendorong badan Namjoon menjauh. Dia mendengus. "Berani sekali menampakkan diri dihadapanku setelah membuat Jungkook hampir mati."
"Kim Seokjin." Namjoon menatap tajam Jin. "Kita sudah berbicara soal ini. Berhenti menyalahkan Taehyung."
"Cih." Jin mencibir. Pemuda itu beranjak menuju dapur tanpa mengatakan apapun lagi.
Namjoon menghela nafas, lalu membalikkan badan menatap Taehyung. "Maaf soal Jin. Kau tahu, lah. Dia menjadi sangat posesif ketika itu menyangkut Jungkook."
"Tidak masalah. Itu memang salahku." Ujar Taehyung, mengedikkan bahu. Namjoon tertawa kecil, kemudian ikut duduk di sofa yang berada di depan Taehyung.
"Mungkin, aku juga akan melakukan hal yang sama ketika ada yang merendahkanku seperti itu."
Taehyung menatap lantai di bawahnya. "Apa Jungkook menceritakan semuanya?"
"Tidak." Namjoon menghela nafas. "Aku tahu kabar itu dari teman Jungkook yang kebetulan teman organisasi ku dulu. Sampai detik ini, Jungkook menolak membahas apapun tentangmu."
Taehyung tertawa miris. "Itu wajar. Mungkin setelah ini dia akan minta putus dariku."
"Kurasa tidak. Jungkook itu terlalu lugu dari yang kau kira." Namjoon tertawa. Tangannya yang panjang terjulur untuk kembali mengusak surai abu-abu Taehyung. "Jadi? Ada masalah apa sampai kau mau berkunjung ke apartementku?"
Taehyung menghela nafas kasar. Ia mendongakkan kepala, menatap Namjoon. "Aku pernah dengar dari Jungkook kalau kau pintar." Taehyung menjilat bibir bawahnya. Terlihat canggung. "Jadi–itu, Aku mau sekolah. Mungkin, kau bisa mengajariku beberapa hal. Untuk perkenalan, atau semacamnya. Begitulah."
Namjoon menaikkan satu alis, menatap Taehyung. "Kau mau sekolah?"
Taehyung mengangguk.
"Kenapa?"
Taehyung terdiam cukup lama. Ia kemudian menghela nafas. "Untuk bersanding dengan Jungkook, aku juga harus berpendidikan. Setidaknya, Cuma itu yang bisa kulakukan agar Jungkook tetap mau bersamaku selamanya." Taehyung menggertakan gigi. Tangannya terkepal. "Preman tolol sepertiku tak punya modal apapun. Aku hanya akan jadi penghalang bagi Jungkook kalau terus seperti ini."
Namjoon menatap Taehyung yang menundukkan kepala. di bibirnya tersungging sebuah senyuman lebar hingga lesung pipinya terlihat. Namjoon menopangkan pipi di telapak tangannya. "Kau mencintai Jungkook?"
"Tentu saja." Taehyung kembali menatap Namjoon. "Dia hidupku."
Jawaban tulus dari Taehyung membuat Namjoon mau tak mau semakin melebarkan senyumannya. Pemuda berambut cokelat itu tertawa kecil. "Ah, padahal kalian berdua hanya lebih muda satu tahun dariku. Tapi terasa seperti anak berumur 7 tahun yang saling jatuh cinta. Begitu polos."
Taehyung mendengus. "Terima kasih atas hinaannya."
Namjoon tertawa. Ia kemudian bangkit dari duduknya, meregangkan badan. "Beruntung sekali hari ini aku libur kuliah. Aku akan mengajarimu dengan segala yang kubisa."
Pemuda itu tersenyum lebar. Dia menjulurkan tangan. "Siap untuk memulai pertarungan baru dengan tumpukan buku?"
Taehyung tertawa, menjabat tangan Namjoon. "Tentu saja. Mohon kerjasamanya, Namjoon."
"Ah, kau juga harus mulai memanggilku dengan panggilan hyung."
Taehyung memutar bola mata malas. "Oke, Namjoon hyung."
Keduanya tertawa bersama.
Jin yang telah selesai menyiapkan sarapan menatap mereka berdua dari pintu dapur. Senyuman tak dapat dia hindari. Ia mendengar semua percakapan kedua pemuda itu. Hati Jin menghangat. Walau Taehyung brengsek, sebenarnya dia amat sangat mencintai Jungkook.
"Berhenti tertawa, kalian berdua. Sarapannya sudah siap."
Namjoon menoleh, diikuti dengan Taehyung. Namjoon menyeringai jahil. "Istri yang baik~"
Wajah Jin bersemu merah. "Namjoonie!"
Sang kekasih tertawa keras. Namjoon segera merangkul Taehyung dan berjalan menuju ke ruang makan. Jin mendengus menatap keakraban tiba-tiba mereka berdua.
"Omong-omong, kalian berapa ronde semalam?"
"Hah?!" Jin menimpuk kepala Taehyung kuat. Sang korban mengaduh kesakitan.
Namjoon kembali tertawa. "Tiga ronde. Jin itu jago di ranjang, asal kau tahu."
"Mati kau berdua!"
.
sincerely
.
Tak terasa sudah dua minggu Taehyung belajar di apartement Namjoon. Yah, Namjoon hanya mengajarkan Taehyung cara berhitung, perkalian, membaca, dan hal-hal dasar lainnya. Taehyung ternyata mudah menangkap sesuatu, sehingga dalam dua minggu ini dia menguasai perhitungan dengan cepat. Di sisi lain, dia dan Jungkook sama sekali tak pernah bertemu atau memberi kabar. Taehyung melarang keras Namjoon dan Jin memberitahu akan dirinya yang belajar setiap hari di Apartement kekasih temannya itu. walau begitu, terkadang Taehyung akan bertanya tentang kabar Jungkook kepada Jin. Tak bisa dipungkiri, dia juga merindukan Jungkook.
Hari ini hari minggu. Taehyung sudah berdiri di depan pintu apartement Namjoon, menunggu pemuda itu membuka pintu. Selama dua minggu ini, Taehyung mengajukan izin cuti ke ganknya agar dapat fokus belajar. Taehyung menargetkan dirinya akan masuk ke Paket C bulan depan. Dia harus sudah menguasai materi kelas 1 SD hingga SMP sebelum masuk disitu. Perjalanan berat.
Pintu apartement terbuka. Namjoon muncul dengan memakai baju kaos dan celana pendek, terlihat baru bangun tidur.
Taehyung sudah akan menyapa saat Namjoon tiba tiba menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Taehyung, maafkan aku." Ucapnya tiba-tiba.
Taehyung mengeryit. "Maaf untuk apa?"
Namjoon mengacak rambutnya frustasi. Pemuda itu menghela nafas kasar. "Masuk saja."
Tak mengerti dengan apa yang Namjoon katakan, Taehyung masuk ke dalam Apartement Namjoon. Saat melangkahkan kaki ke ruang tengah, Taehyung akhirnya mengerti apa yang Namjoon maksudkan.
Ada Jungkook disana. Duduk diatas sofa dengan kedua tangan di lipat di dada.
Taehyung diam tak bergeming.
Nafasnya seakan tertahan ketika Jungkook bangkit dari duduknya, berjalan ke arahnya dengan cepat. Wajahnya tertekuk sempurna, matanya memerah.
Buk!
"Kau darimana?!"
Taehyung terkesiap. Jungkook meninju dadanya kuat. Belum lagi dengan airmata yang berlinang di pipi kekasihnya.
"Kau darimana brengsek?! Aku seperti orang gila mencarimu selama dua minggu ini!" Jungkook kembali memukul kuat dada Taehyung. Menangis meraung-raung. "Semua orang merahasiakanmu! Brengsek! Dasar brengsek! Kau pikir ini lucu, hah?! Aku pikir kau sudah mati! Aku pikir kau ikut perjalanan berbahaya lagi! Aku pikir–" Jungkook terisak. Tangannya masih memukul dada Taehyung berkali-kali. "Aku pikir ini pertanda kalau kau telah menyerah denganku!" Tangis Jungkook pecah. Ia memeluk Taehyung erat-erat. Membiarkan airmata nya merembes membasahi kaos kekasihnya.
Taehyung tak tahu harus berkata apa. Ia mendongakkan kepala, menatap Jin yang berdiri di hadapan mereka. Jin menggumamkan kata maaf tanpa suara, dan Yoongi yang di sampingnya menghela nafas. memberi gestur agar Taehyung segera menenangkan Jungkook.
"Kau brengsek." Jungkook masih meninju dada Taehyung, tak sekeras tadi. Isakannya teredam di dalam pelukan Taehyung. "Brengsek, aku membencimu sialan."
Taehyung menghela nafas. Ia kemudian mengusak surai Jungkook. "Kau salah paham, bocah. Aku hanya sedang belajar disini."
"Kenapa tidak memberitahuku?! Kenapa tidak mengabariku?! Kau kan hanya belajar di rumah Namjoon hyung!"
"Aku merasa bersalah, oke?" Taehyung membenamkan wajahnya di surai Jungkook, menghirupnya sebanyak yang dia bisa. "Aku sudah meninjumu sampai separah itu. aku takut, kau mungkin akan membenciku atau–"
"Tolol!" Jungkook mendongakkan kepala. menatap marah ke arah Taehyung dengan mata dan hidung yang memerah. Airmatanya masih mengalir. "Kalau kau merasa bersalah harusnya katakan maaf padaku! Jangan meninggalkanku seperti ini!"
Taehyung menyerah. Pemuda itu menganggukkan kepala. "Iya, aku yang salah. Tak akan kuulangi lagi." Ujarnya kemudian memeluk Jungkook. Kekasihnya itu terus menggumamkan kata bodoh di balik dada Taehyung.
Namjoon menghela nafas lega. Senyum terukir di wajahnya. "Maaf, Tae. Jin benar-benar tidak bisa berbohong dengan Jungkook." Ujarnya. Jin ikut menghela nafas kecewa.
Taehyung tertawa kecil. "Tidak masalah, hyung."
"Yah, andai kau merahasiakannya selama sebulan, kupastikan Jungkook akan mencincangmu." Yoongi angkat bicara, dengan suaranya yang malas. Sontak ketiga pemuda kecuali Jungkook tertawa bersama.
"Tidak, aku akan langsung memutuskannya kalau itu benar-benar terjadi."
Mereka kembali tertawa. Setelahnya Jin dan Yoongi kembali ke dapur, sementara itu Namjoon mengusak rambut Taehyung, mengatakan kalau dia akan ke kampus dulu pagi ini. Tinggal mereka berdua di ruang tengah ini, masih dengan posisi berpelukan.
Taehyung merunduk, menatap bagaimana Jungkook yang masih sesenggukan di dalam pelukannya. Taehyung tertawa kecil. "Mau menemaniku belajar hari ini, bocah?"
Jungkook mengangguk. "Aku akan menemanimu."
Senyum Taehyung mengembang. Dia mendaratkan kecupan di atas surai kekasihnya.
Jungkook semakin mengeratkan pelukannya. "Aku pikir kau termakan omongan BamBam, dan benar-benar berhenti menyukaiku. Aku pikir, kau, kau sudah memutuskanku." Jungkook menggigit bibir bawahnya, menahan tangisannya yang akan keluar lagi.
Taehyung terkekeh. "Justru aku yang berpikir kau mungkin akan memutuskanku, bocah." Taehyung mengusak rambut Jungkook. "Bantu aku berjuang, oke?"
"Pasti, Tae."
Dalam hati Taehyung berujar, Apa yang Namjoon katakan itu kebenaran. Jungkook itu terlalu lugu. walau Taehyung berkali-kali menyakitinya, Jungkook tetap bertahan di sisi Taehyung. Mempertahankan kata takdir di antara mereka berdua. Dan secara tulus mencintai Taehyung. Taehyung berjanji dalam hati, apapun yang terjadi, dia tak akan pernah meninggalkan Jungkook.
.
.
Next / stop?
(hello reader-nims! hehehe maaf saya ninggalinnya lama banget T^T sebenarnya minggu kemarin saya ada studi lapangan di daerah pedalaman. studi lapangan anak kelas 12 gitu, dan gada sinyal sama sekali. akhirnya baru sempat nge upload sekarang. maafin saya atas keterlambatan updatenya T^T
anyway, saya seneng baca kolom review dan lihat banyak yang ngerti alur cerita ini gimana. seneng banget ternyata apa yang mau saya sampaikan ke pembaca itu tersalurkan dengan baik, pada dapet feelsnya. kalau ada yang ga ngerti, bisa baca kolom review aja. banyak penjelasan disitu, dan saya gamau ngasih tau lebih rinci mana yang bener karena setiap orang kan beda2 ya wkwk. intinya, saya cuma pengen pembaca nikmatin cerita ini apa adanya.
silahkan review + beri saran yang panjang2 reader-nims. saya justru seneng banget. itu asli, moodbooster saya buat lanjut menulis cerita ini.
buat 99 orang yang udah nge follow, boleh lah kalian semua sempatin ngereview heheheu. saya sangat butuh tanggapan / pendapat kalian. asli.)
review dan sarannya sangat saya tunggu reader-nims.
XiRuLin
