(XVI) chapter lima belas.

(please plays a sad song so you can feel the sadness in this chapter/?)


.

.

"akar 81 berapa berapa?"

Taehyung mengetuk-ngetuk pulpen di dahinya. Berpikir. "err.. 9?" ujarnya lalu menuliskan angka 9 di kertas yang berada di hadapannya.

"Benar!" Jungkook tersenyum puas. Dia memberikan tanda centang di lembar jawaban Taehyung, lalu kembali melanjutkan pertanyaan. "Bagaimana kalau akar 625?"

"Aku tak tahu." Taehyung mendesah frustasi. Jungkook memutar bola mata malas. "Pikir baik-baik!"

"Bagaimana caranya, brengsek" Taehyung mendengus. Namun kekasihnya yang menatap Taehyung tajam akhirnya membuat dia dengan terpaksa kembali berpikir keras.

Denting jarum jam terus berbunyi. Jungkook menatap Taehyung yang terlihat sangat serius memikirkan jawabannya. Dalam hati Jungkook tertawa. Ia tak pernah melihat dahi Taehyung yang penuh liku, efek berpikir keras.

"Sudah dapat jawabannya?" Jungkook bertanya. Taehyung menggeleng, tangannya sibuk mencakar angka di kertas. Detik berikutnya dia mengerang kesal.

"Ah aku menyerah!" Taehyung melempar asal pulpen dan kertasnya, memilih untuk membaringkan badan di lantai.

Jungkook menghela nafas. "Ini baru soal ke 12 mu dan kau sudah menyerah begitu."

"Jangan samakan aku denganmu, bocah sialan."

Jungkook tertawa. Pemuda itu bangkit dari duduknya, memungut kertas dan pulpen yang tadi Taehyung lempar sembarangan. "Baiklah, pelajaran hari ini berakhir sampai disini."

Senyum di bibir Taehyung mengembang. Ia kembali mendudukkan tubuhnya. "Kau memang mengerti posisiku dengan baik, bocah."

"Ini efek kasihan. Wajahmu terlalu menyedihkan."

"Brengsek." Taehyung bangkit, mengejar Jungkook yang sudah berlari menjauh sembari tertawa keras. Hari ini, hanya mereka berdua yang berada di markas claws. Anggota yang lain sibuk bertugas, menyisakan Taehyung yang sedang cuti karena sibuk belajar. Alasan itu lah yang membuat Jungkook akhirnya menyarankan Taehyung untuk belajar di markas saja.

Taehyung menyesap rokoknya dengan khidmat, mengamati Jungkook yang sedang mengerjakan tugas di meja.

"Kau suka belajar?" Taehyung bertanya. Jungkook mengangkat kepala, menatap kekasihnya. "Tentu saja. Belajar itu seru." Jawabnya dengan senyuman lebar.

Taehyung menggelengkan kepala sarkastik. "Dasar monster."

"Kau saja yang berlebihan." Jungkook mendengus.

Hening tercipta lama. Merasa bosan, Taehyung beranjak dari duduknya. Berjalan ke arah mesin pembuat tattoo di pojok kanan ruangan. Tak hanya tattoo, disitu juga dilengkapi peralatan untuk menindik, lengkap dengan cermin besar yang tertempel di dinding. Sebuah salon khusus untuk anak claws.

Jungkook melirik Taehyung. "Mau membuat tattoo baru?"

"Iya." Taehyung tertawa kecil. Pemuda itu duduk di bangku, membuka kemeja, menyisakan kaos sleeveless hitamnya, lalu mulai menyalakan mesin. "Aku rasa desain naga ini perlu di modifikasi." Lanjutnya.

"Dasar maniak tattoo." Jawab Jungkook. Ia menutup bukunya, beranjak bangkit dan berjalan menuju Taehyung. Melihat kekasihnya mengukir tattoo merupakan kesukaan Jungkook. Apalagi kemampuan mengukir Taehyung yang tak pernah diragukan lagi oleh preman-preman di korea.

Taehyung mengisi tinta tattoo ke dalam mesin, lalu mulai mengukirnya diatas tangan. Bunyi menggerung terdengar lembut, dan seolah tak merasakan sakit Taehyung meliuk-liukkan alat itu diatas lengannya dengan lihai.

"Apa tidak sakit?" Jungkook memajukan badan. Menatap lebih dekat. Taehyung tertawa. "Kau selalu bertanya seperti itu setiap kali melihatku mengukir tattoo, bocah."

Jungkook memutar bola mata malas. "Itu karena semua orang yang kutemui selalu mengatakan kalau mengukir tattoo itu menyakitkan. Rasanya seperti kulitmu dirobek."

"Memang seperti itu sensasinya." Taehyung tertawa. Dengan telaten, pemuda itu memperbaiki bagian tattoo naga di lengannya yang dia rasa perlu ditambahi. "Tapi sensasi ketika melihat ukiran di badanmu itu lebih menyenangkan. Jadi, aku ketagihan."

Jungkook tertegun. Ia menatap Taehyung yang tersenyum lebar ketika ukirannya tercipta sesuai yang dia mau. "Nah, sudah selesai."

Ukiran tattoo naga asia di lengan Taehyung berubah drastis. Padahal, Taehyung hanya menggoreskan sedikit tinta tattoo itu di bagian tertentu, tak sampai sepuluh menit. Namun, hasilnya luar biasa. Tattoo di tangan Taehyung terasa seperti hidup, berubah menjadi lebih 3D.

Mata Jungkook berbinar. "Uwah! Keren!"

Taehyung menyeringai. "Mau mengukir tattoo juga?"

"Tidak terima kasih."

Gelak tawa terdengar. Taehyung membereskan alat tattoo nya, kemudian beralih menatap Jungkook yang sedang menggenggam lengannya, memperhatikan dengan detail tattoo baru Taehyung.

"Keren." Jungkook berucap kagum. "Kau berbakat sekali, Tae."

"Efek mengenal tattoo dari umur 5 tahun." Taehyung tersenyum lebar.

"Ah, tattoo bintang di dada mu itu, ya?" Ujar Jungkook. Ikut tersenyum.

Taehyung mengangguk. "Aku masih ingat bagaimana rasa sakitnya ketika alat tattoo itu menyentuh dadaku. Ayah berusaha keras menahanku yang memberontak, menangis keras. Tapi ketika selesai, aku malah tak bisa tak berhenti memperhatikan ukiran itu." Taehyung tertawa. "Seharian itu aku tak memakai baju, sibuk mempamerkannya."

"Dasar gila." Jungkook tertawa. "Bagaimana dengan tindik pertamamu? Kapan kau memakainya?" tanyanya. Jungkook menopangkan siku di meja, menatap Taehyung.

Taehyung mengedikkan bahu. "Aku lupa. Mungkin.. 10 tahun? Saat pertama kali ikut dengan Paman Baekhyun ke Samsung-dong untuk menagih utang, beberapa preman sewaan pemilik rumah itu ternyata sudah berdiri di depan pagar. Perkelahian terjadi. Telinga kiri ku terkena sabetan pisau, sangat dalam. Paman Baekhyun yang panik akhirnya menyuruh anak buahnya untuk menindikkan sebuah anting besar di telingaku, agar luka itu tertutupi dan Ayah dan Ibu tidak akan melihatnya."

"Astaga parah sekali." Jungkook tertawa. "Pamanmu itu memang selalu aneh, Tae."

"Iya, kan." Taehyung ikut tergelak. "Yah, ada untungnya juga. Setelahnya aku jadi sangat tergila-gila dengan tindik. Aku bergabung di claws ketika berumur 14 tahun. Bertemu Andrew membuatku semakin tersesat di jalan yang salah. Tindik dan tattoo menjadi bagian dari hidupku tanpa kusadari."

Jungkook tersenyum lebar. "Termasuk rokok sialanmu itu."

"Ya," Taehyung terkekeh. "Dan dirimu."

Yang bersurai cokelat memutar bola mata malas. Jungkook kemudian berdiri. "Ayo makan, aku lapar."

"Kau saja," Taehyung meregangkan badan. "Aku akan lanjut belajar."

Jungkook mengeryitkan dahi. "Kupikir kau lelah?"

"Yah, mau tak mau aku tetap harus belajar. Ujian untuk paket A lusa, dan aku belum menguasai akar." Taehyung menguap malas, kemudian berdiri dari duduknya. Tangannya terjulur mengusak rambut Jungkook. "Makan di luar saja, bocah. Jimin ada tugas bersama Kwon di luar Seoul. Mereka akan pulang lama."

Jungkook terdiam cukup lama, lalu kemudian menghela nafas. "Akan kubawakan makanan kalau pulang."

Taehyung tersenyum lebar. "Roger, bocah."

.


sincerely


.

"Taehyung!"

Jungkook melambaikan tangan ke arah pemuda yang baru keluar dari pekarangan sebuah sekolah. Penampilan Taehyung begitu mencolok di antara kerumunan manusia itu, jadi wajar saja kalau Jungkook dengan cepat menemukan kekasihnya.

Taehyung tersenyum lebar, sedikit berlari ke arah Jungkook. "Tebak apa hasilku." Ujar Taehyung tepat ketika dia sampai di hadapan Jungkook.

"Lulus?"

Taehyung tertawa, lalu menganggukkan kepala. Jungkook spontan saja memekik senang. Ia memberikan high five kepada Taehyung. "Sudah kuduga kau bisa!"

"Ternyata soalnya lebih mudah dari yang kuduga." Taehyung berucap lega. Ia merangkul pundak kekasihnya, menggiringnya untuk berjalan menjauh. "Ijazah SD ku akan diberikan besok. Tes untuk Paket B minggu depan."

Jungkook tersenyum lebar. Ia meninju lengan Taehyung. "Aku yakin kau juga pasti bisa lulus dan duduk di bangku SMA sesegera mungkin."

Taehyung mengangguk, lalu tertawa bersama. Keduanya berjalan ke parkiran tempat Taehyung memarkirkan motornya.

Dering panggilan dari handphone Taehyung memotong pembicaraan mereka. Taehyung merogohnya. "Oh, Andrew."

Pemuda bersurai abu-abu itu segera menempelkan handphonenya di telinga. "Kenapa Andrew? Ah, itu. Iya, akan kulakukan se–" Taehyung terdiam. Jungkook menatap Taehyung heran. Ia menyikut lengan Taehyung. "Ada apa?" bisiknya, namun Taehyung tak menggubris.

Taehyung menghela nafas frustasi. "Oke, aku akan ikut ke Gyeonggi-do. Suruh Ji Han dan Vernon menungguku. Lima menit lagi sampai di markas. Ya–iya, brengsek. Kubawakan snipermu."

Panggilan terputus. Jungkook masih setia menatap Taehyung. Sepertinya dia sudah tahu apa yang sedang terjadi.

"Tugas baru?"

Taehyung mengangguk malas. Ia merogoh rokok di kantung celana, menyalakan pematik, dan langsung menyesapnya beringas. "Penduduk illegal di Gyeonggi-do. Pemerintah menyuruh kami membantu mereka menumpasnya."

Jungkook tertawa kecil. "Sejak kapan preman macam kalian bekerja sama dengan pemerintah?"

"Sejak Ayah menjadi CEO perusahaan tolol itu." Taehyung mendesah kesal. "Sekarang kami terlihat seperti anjing polisi."

Jungkook tertawa. Dia menoyor dahi kekasihnya. "Yasudah. selamat bekerja, anjing polisi."

"Kau mau kubunuh?"

Jungkook tersenyum lebar. "Ampun, kapten." Ujarnya lalu mengangkat kedua tangan penuh canda.

Taehyung tergelak. Ia mengacak rambut Jungkook. "Besok kuantar ke sekolah."

"Oke." Jungkook mengangguk. "Salamkan aku dengan yang lain."

Taehyung mengacungkan jempol. Setelahnya pemuda itu naik keatas motor ninjanya, memakai helm. Mengusak rambut Jungkook yang setia menunggunya, dan segera melesat pergi. Jungkook menatap Taehyung dari jauh.

Ada perasaan ganjal yang kali ini dia rasakan.

.


sincerely


.

Jungkook sedang asik bercengkrama dengan Vernon dan Dilan saat tendangan di pintu markas berbunyi nyaring.

Semuanya terperanjat, tak terkecuali Jungkook. Taehyung muncul di balik pintu, dengan Jimin yang mencengkram erat kerahnya. Tinju melayang mengenai rahang Taehyung, dan pemuda itu jatuh tersungkur.

"Chim!" Gerr berseru refleks. Tapi Jimin tak peduli, dia semakin meninju Taehyung, menyerang secara membabi buta. Jungkook panik. Keduanya berkelahi dengan sangat menyeramkan. Wajah Taehyung dan Jimin bonyok di sana sini.

"Bajingan!" Jimin berteriak. "Kau bajingan! Kenapa aku harus berteman dengan orang sepertimu!" tinjuan kembali mengenai hidung Taehyung.

Jungkook berseru panik. Dia sudah hendak berdiri dari duduknya, namun tangan Dilan dengan cepat menahan.

"Apa yang kau lakukan?!" Jungkook menghardik Dilan. Tapi pemuda itu menggelengkan kepala. Jungkook mengeryitkan dahi. "Biarkan saja mereka." Vernon berucap malas.

"Aku membencimu, bangsat!" Jimin mencengkram erat kerah Taehyung yang berada di bawahnya. "Bagaimana bisa, kau mengkhianati kami seperti ini?! Otakmu dimana?!"

Taehyung memberontak. "Dengar dulu penjelasanku, bajingan! Aku juga punya alasan akan ini!"

"Apa?! Karena Jungkook?! Karena kau mau menjadi kekasih impian yang berpendidikan, kau rela melepaskan claws?! Kau rela meninggalkan segala impian kita bersama?!" Jimin meninju kuat lantai di samping kepala Taehyung. Sangat frustasi. "Otakmu dimana brengsek?!"

Hening.

Jungkook diam tak bergeming. Ia menatap tak percaya ke arah Taehyung.

Andrew yang sedari tadi hanya diam menghela nafas kasar. "Chim, kau berlebihan. V berhak memilih jalannya." Pemuda itu bangkit dari duduk, menghampiri Jimin dan Taehyung, menarik paksa Jimin agar berdiri dan menjauh dari Taehyung. "Mimpi V adalah Jungkook. Sebagai temannya, harusnya kau bisa menghargai keputusan itu."

Jimin menundukkan kepala. tangannya terkepal erat. "Tapi bukan berarti dia harus meninggalkan claws."

"Aku tidak akan keluar." Taehyung bersuara. Pemuda itu mendudukkan tubuhnya, sedikit mengusap darah di sudut bibir, lalu mendongak menatap Jimin. "Aku tidak akan keluar dari claws. Mungkin hanya akan mengambil cuti. Belajar di paket C membutuhkan waktu satu tahun."

Pemuda berambut orange itu menggeram marah. "Tetap saja, kau meninggalkan kami."

Jimin melepaskan genggaman Andrew di tangannya dengan kasar. Pemuda itu beranjak keluar markas. Hilang di balik pintu.

Andrew menghembuskan nafas. "V, obati lukamu." Ucapnya. Ia kembali ke tempat duduk, berkutat dengan laptop di hadapannya.

"Kau bertengkar karena Jungkook, sementara kekasihmu itu ada disini." Minho bersuara.

Gerr menggelengkan kepala. "Kurang ajar sekali."

Taehyung mendongakkan kepala, menatap Jungkook yang juga sedang menatapnya. Preman itu menghela nafas lalu segera bangkit. Taehyung meringis ketika rasa sakit hinggap di wajahnya.

"Apa.. kau benar-benar akan keluar dari claws?"

Hening.

Semua mata menatap Jungkook yang menundukkan kepala, mengepalkan tangan.

"Tidak, Jungkook." Kyungsoo angkat bicara. Ia menyesap rokoknya. "Kekasihmu tidak keluar dari claws. V hanya butuh waktu untuk membahagiakanmu."

Hoseok yang berdiri tak jauh dari Jungkook bergerak merangkulnya, mengusak surai lembut pemuda itu. "Taehyung ingin menjadi orang hebat agar bisa menandingi mu yang bersinar seterang bintang. Daripada penyesalan itu datang belakangan, bukankah lebih baik dia berjuang dari sekarang?"

Jungkook tak menjawab. Ia menatap lantai keramik di bawahnya.

"Yosh!" Gerr bertepuk tangan, mencoba mencairkan suasana tegang di dalam markas mereka. "Karena hari ini V sedang tidak belajar, dia akan ikut bertugas. Tentu saja setelah mengobati lukanya itu."

Andrew menganggukkan kepala. "Yap, mari kita rayakan keberhasilan V mendapatkan ijazah SD nya." Andrew mengedikkan bahu. "Walau sebenarnya ini memalukan sekali."

Preman-preman itu tertawa. Taehyung yang sedang mengobati luka di wajahnya mendengus, tapi kemudian ikut tertawa. Mereka kembali bercengkrama, saling mengumpat, membahas hal lain, dan berbagi rokok dan soju.

Jungkook kembali duduk di sofa, menelungkupkan kepalanya di antara tangan.

Tidak, bukan ini yang di inginkan Jungkook.

.


sincerely


.

07.40 AM.

Jungkook menghela nafas entah untuk yang keberapa kalinya. Ini sudah lewat 10 menit dari bel sekolahnya berbunyi, dan Taehyung belum juga menampakkan diri di depan pintu apartementnya. Padahal, kekasihnya itu sudah berjanji akan mengantar Jungkook ke sekolah hari ini.

Mood Jungkook untuk pergi kesekolah hilang sudah. Pemuda itu hendak kembali masuk ke dalam apartementnya, namun suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah tangga. Jungkook membatalkan niatnya. Itu pasti Taehyung.

Benar saja. Taehyung muncul di balik belokan. Nafasnya tak teratur, terlihat capek karena habis berlari bekilo-kilo jauhnya.

Taehyung menumpukan tangan di lutut, mengatur nafas. peluh mengalir di dahinya. "Aku terlambat bangun." Ujarnya.

Jungkook menghela nafas. "Apa yang kau lakukan semalam?" pemuda itu berjalan mendekati Taehyung, menepak pelan kepala kekasihnya.

"Mengerjakan soal." Jawab Taehyung. Ia menegakkan badan, menatap Jungkook. "Juga belajar bahasa inggris. Sial, susah sekali menyusun grammar. Padahal Namjoon sudah mengajarkanku."

Jungkook tertegun. Ia kembali menghembuskan nafas berat. Tangannya terulur memperbaiki surai Taehyung yang menutupi matanya. "Berapa persen materi yang sudah kau kuasai?"

"Err.." Taehyung mengusap tengkuk. "35%?" ucapnya tak yakin. Ia tersenyum kecil.

Yang bersurai cokelat memutar bola mata malas. "Dan ujian untuk Paket B mu empat hari lagi."

"Benar. Ini gila."

"Kau yang gila." Jungkook menoyor dahi Taehyung. "Materi yang butuh 3 tahun untuk ku kuasai tidak mungkin kau kuasai hanya dalam sebulan. Bagaimana kalau ikut paket C tahun depan saja?"

Taehyung tertawa. "Kalau aku baru masuk paket C tahun depan, aku akan tertinggal jauh dari mu. Apapun yang terjadi, aku harus ikut ujian masuk paket C bulan depan."

"Dasar keras kepala." Jungkook mendengus. "Ayo berangkat, aku sudah terlambat." Pemuda itu segera menarik tangan Taehyung untuk berjalan menuju sekolahnya.

Di perjalanan, Taehyung sibuk menghapal rumus matematika, atau menggumamkan hapalan materi yang lain. Jungkook sesekali membantu, tertawa ketika Taehyung kesulitan melafalkan bahasa inggris. Mereka juga berdebat akan jawaban sejarah Taehyung yang kadang tak masuk di logika dan jauh dari materi. "Sejarah itu tentang bagaimana kau menceritakan dari sudut pandangmu, bocah." Dan Jungkook spontan saja menimpuk kepala kekasihnya.

.


sincerely


.

"Ibu?"

Jungkook hampir saja terjungkal dari duduknya ketika ada tepukan ringan hinggap di bahunya. Dan ternyata, pelakunya adalah ibu Taehyung.

Wanita berambut merah darah itu tersenyum lebar. "Halo, Jungkookie. Lama tidak berjumpa."

Pemuda berusia 17 tahun itu cepat-cepat bangkit dari duduknya, menunduk dalam ke arah wanita itu. "Lama tidak berjumpa, bu." Ucapnya lalu ikut tersenyum.

"Kau jarang sekali berkunjung sekarang." Ibu Taehyung menatap kecewa Jungkook. Yang di tatap spontan panik. "M-maaf, bu. Aku sibuk dengan ujian sekolahku, dan lagi biasa nya Taehyung yang datang ke apartementku jadi aku tidak–"

"Hei, tenang, sayang." Gelak tawa terdengar. Wanita itu tertawa. "Aku hanya bercanda, astaga."

Jungkook mengerjapkan mata. Ia kemudian ikut tertawa kecil. "Kupikir Ibu serius."

Ibu Taehyung tersenyum lebar. Ia mendudukkan tubuh di samping kursi tempat Jungkook tadi, dan pemuda itu juga kembali duduk. "Apa yang kau lakukan di rumah sakit ini?"

"Ada check up bulanan. Agenda klub basketku, bu." Jawab Jungkook. "Ibu sendiri, ada perlu apa kesini?"

Wanita bersurai merah darah itu mengangkat plastik berisi obat, menunjukkannya kepada Jungkook. "Kekasih bodohmu itu. Maag nya kambuh." Ia menghembuskan nafas. "Tae-ie tidak mau di rawat di rumah sakit, terpaksa harus di rawat di rumah."

"Ah," Nafas Jungkook tercekat. "Aku tidak tahu kalau dia sakit." Pemuda itu berucap pelan.

Sang ibu tersenyum, segera mengusak rambut Jungkook. "Kau mengenal Tae-ie dengan baik, sayang. Anak kecil seperti dia mana mau di kasihani."

Jungkook tertawa, lalu menganggukkan kepala.

Percakapan berakhir. Ibu Taehyung sedang berbicara melalui telefon, dan Jungkook diam merenung. Dia tahu sekali, Taehyung pasti sakit karena terlalu keras belajar. Preman itu tak pernah berhenti belajar, bahkan saat sedang menjaga markas. Terkadang, Jimin sampai harus meneriaki nya agar Taehyung berhenti memegang buku lalu ikut makan siang.

Jungkook menatap orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya. Lobby rumah sakit ini selalu ramai pengunjung.

Ada rasa sakit yang di alami Jungkook sekarang. Namun dia tak tahu apa penyebabnya.

.


sincerely


.

"Sudah lama?"

Jungkook tiba di hadapan Taehyung. Senyuman lebarnya yang sudah mengembang dari awal dia melihat Taehyung di depan pagar sekolahnya tak kunjung luntur.

Taehyung mendengus. "Tentu saja lama. Kau menyuruhku menjemput jam 4 sore." Ia menoyor dahi Jungkook. "Lihat sekarang jam berapa, bocah."

"Jam 5 sore." Jawab Jungkook dengan cengiran lebar. Taehyung kembali menoyor dahi Jungkook. "Dasar kurang ajar." Dan Jungkook tertawa keras.

Mereka berjalan menuju rumah Jungkook sambil bercengkrama. Taehyung sesekali menyesap rokoknya, tergelak saat Jungkook bercerita soal kejadian di sekolahnya. Preman itu kini memakai kemeja biru tua kotak-kotak yang tak dia kancing dan lengannya yang di lipat hingga siku, dengan dalaman baju kaos putih polos. Rambut curlynya yang berwarna abu-abu kembali di ikat asal. Menampilkan dengan jelas tattoo JK di lehernya dan tindik yang memenuhi kedua telinga.

"Jam berapa kau berangkat besok?" Jungkook bertanya.

Taehyung menghembuskan asap rokoknya. "Jam 8 pagi. Tes paket B di mulai jam 10."

"Kenapa cepat sekali?"

"Yah," Preman itu mengedikkan bahu. "Aku mau belajar disana."

Jungkook memutar bola mata malas. "Lihat sekarang siapa yang ketagihan belajar."

Taehyung tertawa. Tangannya bergerak mengusak surai Jungkook. "Harusnya kau mendoakanku."

"Aku tak yakin kau akan lulus."

"bocah brengsek." Gerutu Taehyung. Giliran Jungkook yang tertawa lepas.

Saat Jungkook hendak menarik tangan Taehyung masuk ke dalam sebuah cafe, kekasihnya itu tiba tiba mengerang kesakitan.

"Akh!" Taehyung memegang perutnya, kesakitan. Jungkook tentu saja langsung panik. Dia segera memegang bahu Taehyung yang kini membungkukkan badan. Terlihat sangat kesakitan.

"Tae! Kau kenapa?!" Jungkook berseru panik. Taehyung menggelengkan kepala susah payah. "Sepertinya maag ku kambuh." Ucapnya lalu kembali meringis.

Jungkook menatap khawatir. "Tunggu disini, akan kubelikan obat maag."

"Tidak!" Taehyung menahan tangan Jungkook yang sudah hendak pergi. "Aku tidak apa-apa, jangan khawatirkan aku."

"Apanya yang baik-baik saja! Kau kesakitan begitu!" Jungkook menepis tangan Taehyung. Ia kembali melangkahkan kaki namun tarikan keras di tangannya membuatnya terkesiap.

"Sudah kubilang aku tidak apa-apa!" Seru Taehyung marah. Tangannya yang tak berada di perut dia gunakan untuk menggenggam erat tangan pemuda bersurai cokelat di hadapannya.

Jungkook menatap tak percaya ke arah kekasihnya. "Oke, terserah! Kalau kau mati aku tak akan peduli!" hardiknya. Dengan kasar Jungkook melepaskan genggaman Taehyung, berjalan cepat menjauhi preman itu. "Jangan mengikutiku!"

Taehyung menatap kepergian Jungkook dengan helaan nafas. seharusnya ia menghabiskan malam ini dengan kekasihnya, agar setidaknya dia mendapatkan semangat untuk menjalankan ujian esok hari. Jujur saja, materi yang Taehyung kuasai sangatlah sedikit. Dua hari kemarin juga maag nya kambuh terus-terusan. Jadi, dia tak bisa belajar semaksimal mungkin. Apalagi pelajaran SMP lebih susah.

Taehyung menggerutu dalam hati. Rasanya kepalanya mau pecah.

Yah, semoga saja besok akan berjalan lancar.

.


sincerely


.

"Waktu mengerjakan soal itu 180 menit. Ingat, kalau salah nilainya akan dikurangi 1 poin. Baiklah, silahkan mulai. Selamat mengerjakan."

Taehyung sudah akan memulai mengisi lembar jawaban di hadapannya saat tiba-tiba handphonenya berdering nyaring.

Beberapa peserta ujian di sekitarnya menatap risih ke arah Taehyung. Pemuda itu meringis. Ia segera berdiri, berjalan keluar ruangan.

Ternyata dari Jimin.

"Ada apa, brengsek?" Taehyung mengumpat saat panggilan Jimin dia angkat. "Aku sedang ujian seka–"

"Taehyung! Kwon dan Hwan di serang di dekat lokasi ujianmu! Kau cepat kesana! Mereka berdua yang hanya jago memakai alat itu tak kan bisa melawan badan anak spirit yang sebesar pemain sumo! Tinju mu berguna!"

Taehyung diam, tak bergeming. Matanya melebar sempurna. Begitu pula genggaman di handphonenya yang mengerat.

"Sialan."

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

.

.


To Be Continued


eum.. maaf konlfik lagi. saya berharap kalian bisa ngerti gimana posisi nya taehyung disini, dan gimana perasaan jungkook juga. yeah, actually saya ngebuat disini taehyung kayak orang frustasi. dia seperti dikejar ambisi, orang yang cuma bertindak ngikutin emosinya. by the way, di chapter kemarin juga saya emang ngebuat itu pure sincerely alias tulus banget. syukurlah banyak yang dapat feels nya, banyak yang ngerasa kalau mereka emang tulus banget. just like the title, it's sincerely. wkwkwk. terharu deh baca review kalian semua. saya jadi semangat nulis lagi XD

ah iya, tolong tanya saya ya kalau cerita ini udah menjurus ke terlalu dramatis atau kayak berlebihan dan udah out of the topic alias ga sesuai dengan tema lagi.

review dan sarannya sangat saya tunggu reader-nims.

XiRuLin.