(XVII) chapter enam belas.
.
.
Ting!Tong!
"Ya, Tunggu."
Yoongi berjalan malas ke pintu. Di tangannya ada permen lolipop yang sedang dia kulum. Pemuda berambut soft blue itu memakai sendal, lalu kemudian membuka kenop pintu.
"Halo, manis."
Hampir saja lolipop Yoongi terjatuh apabila dia tidak segera menutup mulutnya. Mata Yoongi melebar – hanya sedikit, begitu melihat siapa yang datang ke apartementnya pagi-pagi begini.
Yoongi mengangkat satu alis. "Ada apa?"
"Kau tidak merindukanku?"
Yang lebih pendek memutar bola mata malas. "Jangan terlalu bermimpi, Jimin."
Pemuda itu–Jimin, tertawa. Ia membuang puntung rokoknya ke tempat sampah di samping pintu apartement Yoongi."Tidak ada morning kiss untuk kekasihmu ini?"
Yoongi berdecak. Tapi kemudian, dia maju selangkah. Menarik kerah Jimin mendekat, lalu mendaratkan ciuman di bibir Jimin. hanya sekilas.
"Sudah, kan?" Yoongi melepas cengkramannya. Menggerutu.
Jimin kembali tertawa. Tanpa aba-aba, Ia mengangkat badan Yoongi ala bridal style yang membuat kekasihnya memekik kaget.
"Jimin! turunkan aku!" seru Yoongi, memukul bahu Jimin. namun yang diteriaki acuh, berjalan masuk ke dalam apartement Yoongi, lalu menutup pintu dengan kakinya.
"Akan kuturunkan kalau kau menciumku lagi."
Timpukan keras mendarat di kepala Jimin. "Dasar mesum!"
Jimin mengaduh kesakitan. Tak ingin disakiti lebih parah oleh Yoongi, dia segera mendudukkan tubuhnya, memposisikan Yoongi diatas pangkuannya. Yoongi sudah hendak meninju Jimin namun kekasihnya itu menghindar dengan cepat. "Astaga, sweetheart. Kau kasar sekali." Ucap Jimin lalu tertawa saat Yoongi melototkan matanya.
"Dasar menyebalkan." Yoongi bergerak memeluk badan Jimin, menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya. "Ada perlu apa datang sepagi ini kerumahku?"
"Tidak ada." Jimin mencium surai Yoongi berkali-kali. "Aku sedang gundah, jadi datang kepadamu."
"Kau memang hanya membutuhkanku saat sedih."
Jimin tertawa. "Sarkas sekali, sweetheart."
"Kau gundah kenapa?" Tanya Yoongi, menatap mata Jimin.
Kekasihnya terdiam cukup lama, kemudian menghembuskan nafas. "Taehyung belajar seperti orang gila sekarang. Aku kasihan melihatnya."
"Kenapa?" Yoongi mengusap pipi Jimin lembut.
Pemuda itu beralih menyandarkan kepalanya di bahu Yoongi. "Jauh di lubuk hati ku, aku tahu bukan ini yang dia mau. Taehyung yang sekarang sedang dilema. Si brengsek itu bebas. Tak mengenal kata belajar atau di tuntut menjadi yang terbaik demi sebuah nilai. Dari lahir, Taehyung tak di takdirkan untuk hidup di lingkungan pendidikan yang keras dan terlalu perfeksionis. Sudah jelas sekali kalau ini bukanlah dunia Taehyung." Pemuda itu menghela nafas. "Si tolol itu tak tahu dirinya sendiri. Dia tak tahu harus berbuat apa lagi agar Jungkook tak akan meninggalkannya. Ia termakan emosi atas perkataan teman Jungkook."
Yoongi ikut menghela nafas. tangannya bergerak membelai rambut Jimin dengan lembut. "Padahal Jungkook sama sekali tidak pernah berpikir untuk meninggalkan preman bodoh itu."
"Itu dia." Jimin mengerang kesal. "Lagipula dia terlalu berpikir dewasa. Kita masih umur 17 tahun, astaga. Apa salahnya tidak bersekolah di umur segini."
"Heh," Yoongi menjitak kepala Jimin. "Kau mau jadi apa kalau tidak bersekolah."
"Jadi suamimu."
Yoongi kembali menimpuk kepala Jimin. "Berhenti menggombal."
Jimin tertawa. Ia mengeratkan pelukan di pinggang kekasihnya, membenamkan wajah di pundak sempit Yoongi. "Tapi aku serius. Rasanya sakit melihat Taehyung seperti ini. secara tak langsung, aku merasa kalau Taehyung berubah karena percakapan kami tempo hari. Aku merasa bersalah. Ia berpikir, dirinya tak pernah membahagiakan Jungkook. Si bodoh itu, sedang ketakutan."
Tangan Yoongi kembali mengusap surai orange Jimin, ikut memikirkan apa yang Jimin rasakan.
Hening tercipta.
"Jimin."
"Hm?"
"Aku merasa–" Yoongi sedikit menjauhkan badan untuk menangkup pipi Jimin. menatap kekasihnya lekat-lekat. Jimin mengangkat satu alis. "Kita yang sekarang juga lebih berdosa."
Dahi Jimin terlipat sempurna saat Yoongi menyatukan dahi mereka berdua. "Aku merasa bersalah karena menyembunyikan hubungan kita dari Jin dan Jungkook." Bisik Yoongi pelan.
Jimin tersenyum. "Siapa suruh menerima ku saat itu."
"Kau menyantetku." Yoongi menggerutu. "Bagaimana bisa aku berakhir pacaran dengan orang yang paling kubenci tempo hari."
Kali ini pemuda berambut orange itu tertawa lepas. Jimin menyempatkan diri menggigit hidung Yoongi yang membuat kekasihnya mengerang kesal. "Kau tahu, aku lebih tak menyangka lagi pemuda dingin sepertimu ternyata semanja ini ketika berpacaran."
Yoongi tertawa. Ia menaruh jari telunjuknya di depan bibir. "Sst. Ini sebenarnya rahasia yang hanya kau, Jin, Jungkook, dan mantan-mantanku yang tahu," lalu tersenyum begitu lebar.
Jimin yang tak tahan akan kemanisan Yoongi akhirnya berakhir menyerang kekasihnya dengan ciuman tak berujung. Yoongi tertawa lepas di dalam ciuman mereka.
.
sincerely
.
Pagi ini, Jungkook yang baru saja pulang dari membuang sampah malah mendapati Taehyung yang telah bersandar di dinding depan pintu apartementnya. Pemuda itu mengeryit. Hari ini hari sabtu. Dan lagi, tidak biasanya Taehyung datang sepagi ini.
"Selamat pagi, bocah." Taehyung mengangkat tangan ketika menyadari kehadiran Jungkook, menyapa.
Jungkook menatap heran. "Tumben kau datang jam segini. Ada apa?"
"Jangan bilang kau lupa kemarin aku melakukan apa." Taehyung balik bertanya. Tatapannya menjadi datar.
Butuh sepersekian detik sebelum mata Jungkook berbinar lebih terang. "Ah! Ujian paket B mu!" Ia spontan bergerak mendekati Taehyung. "Bagaimana? Kau lulus?"
Taehyung menoyor dahi Jungkook. "aku tidak mau memberitahu mu, pelupa."
"Aish, Tae!" Jungkook menggerutu. "Beritahu aku bagaimana hasilnya!"
"Lulus." Jawab Taehyung. Pemuda itu menunjukkan sebuah kertas ijazah kepada Jungkook yang sedari tadi dia sembunyikan di belakang badan. Senyum Taehyung merekah. "Aku lulus. Yah, walau nilai pas-pasan."
Jungkook spontan saja memekik senang. Merasa gembira. Ia tertawa lepas. "Uwah! Ternyata kau memang pintar!"
Taehyung ikut tertawa. "Aku juga tak menyangka. Mungkin aku ini mewarisi darahnya Einstein."
"Berhenti bermimpi, tolol." Jungkook menimpuk kepala Taehyung. Sang korban mengaduh kesakitan. Namun mereka berdua akhirnya tertawa bersama.
Mata Jungkook dengan jeli memeriksa ijazah Taehyung. Tertawa kecil melihat nilai kekasihnya yang benar-benar standar. Walau begitu Jungkook tetap bangga, dia bahkan tak yakin bisa mendapatkan nilai seperti itu di saat waktu menguasai materimu hanya satu bulan, tanpa pengetahuan sama sekali.
Taehyung ikut melongokkan kepala, menatap ijazahnya. "Jadi bagaimana? Kau senang, bocah?"
"Tentu saja." Jawab Jungkook. Senyuman terukir di bibirnya. "Kalau kau masuk Paket C bulan depan, mungkin kita akan masuk di universitas bersama-sama."
"Yap." Taehyung menganggukkan kepala. "Aku berencana mengambil jurusan hukum. Kurasa itu jurusan yang paling pas untukku."
Bola mata Jungkook berbinar jahil. Ia meninju lengan kekasihnya. "Oh~ kau bahkan sudah menentukan pilihan. Siap menjadi mahasiswa, huh?"
Respon Taehyung adalah gelak tawa. Tangannya bergerak mengusak surai Jungkook. "Dimana lagi kau akan dapat mahasiswa sekeren diriku." Taehyung berucap sombong, senyuman merekah di bibir.
Jungkook memutar bola mata malas, menjauhkan tangan Taehyung yang bertengger di atas kepalanya. "Ya. Kurasa aku tidak akan menemukan mahasiswa dengan tattoo di sekujur tubuhnya. Norak."
Senyum Taehyung lenyap. Pemuda itu menarik hidung Jungkook kuat. "Dan preman norak ini memiliki tattoo bertuliskan Jungkook di sekujur tubuhnya. Bagaimana ya, cara menghilangkannya."
Jungkook mengerang tak suka, berusaha menggapai tangan Taehyung yang dengan nakalnya tak mau melepaskan jepitan di hidung mancung Jungkook. "Taehyung, lepas!" Ia meninju dada Taehyung, tapi kekasihnya malah tertawa.
"Kenapa aku senang sekali melihatmu tersiksa, bocah."
"Taehyung!" Jungkook melototkan mata. Inisiatif lain dia ambil. Dengan kuat Jungkook menginjak kaki Taehyung yang hanya di lapisi sandal cokelat. Genggaman Taehyung spontan terlepas, Ia mengaduh kesakitan.
"Sialan!" Ringis Taehyung. "Justru aku yang selalu disiksa olehmu!"
"Wah, maafkan aku, preman-ssi." Tanpa merasa bersalah, Jungkook melenggang meninggalkan Taehyung. Tawa nya terdengar memenuhi lorong sempit itu. Namun Taehyung berhasil menyusulnya, menarik hoodie putih Jungkook yang membuat pemuda itu hampir terjungkal kebelakang.
"Uwah!" Jungkook berteriak kaget. Taehyung tertawa. Tangannya dengan cepat terlingkar di leher kekasihnya, mengapit agak erat. "Temani aku sarapan hari ini."
Yang di apit menggelengkan kepala. "Tidak mau!"
"Oh, kau menolaknya?" Pemuda bersurai abu-abu itu menatap dingin ke arah Jungkook. "Apa apitan ku ini belum begitu menindasmu? Perlu kukencangi?"
"Tidak, brengsek!" Jungkook berontak. Ia melayangkan tinju ke arah Taehyung namun di hindari dengan santai. Tinju Jungkook mendarat di udara hampa. "Taehyung, sakit! Kau mau aku mati muda?!"
"Makanya, temani aku sarapan."
"Iya, kutemani brengsek!"
"No, no." Telunjuk Taehyung bergerak ke kiri dan kanan di depan mata Jungkook. "Tidak ada umpatan. Belajarlah menjadi kekasih yang baik, bocah. Bagaimana bisa kau mengatakan brengsek ke kekasihmu sendiri?"
Jungkook melototkan mata. Kesal luar biasa. Ia menarik lengan Taehyung yang mengukungnya di leher, tapi percuma. Tenaga Taehyung terlalu besar.
Efek putus asa akhirnya membuat Jungkook perlahan menarik nafas dalam-dalam. Di tatapnya Taehyung yang kini juga sedang menatapnya dengan seringai. Oke, jangan meninjunya, Jungkook. Jangan meninju wajah menyebalkannya. dia kekasihmu.
Jungkook tersenyum manis. "Kutemani, sayang."
Deg.
Taehyung terpaku untuk beberapa detik. Ritme jantungnya bertambah cepat tanpa dia sadari.
"A-ah" Taehyung gelalapan. Terburu dia melepaskan apitan di Jungkook, berjalan mendahului. "Oke, kau menemaniku sarapan."
Senyum kemenangan kini terpampang nyata di bibir Jungkook. Ia tertawa lepas. "Kalau tahu reaksimu seperti itu, aku pasti lebih sering memanggilmu sayang."
"Diam, cerewet."
Tawa Jungkook semakin keras. Dengan langkah ceria, Jungkook mengimbangi langkah Taehyung, menautkan kedua tangan mereka erat. Taehyung sempat protes, tapi berhenti karena senyuman Jungkook yang semakin lebar.
"Sepertinya hari ini akan menyenangkan." Jungkook berucap antusias.
Taehyung ikut tersenyum, tertawa kecil.
Dering handphone yang tersilent di dalam saku celana Taehyung terlupakan. Ada 20 panggilan tak terjawab dari Andrew, 12 dari Jimin, serta puluhan pesan masuk yang sama sekali belum Taehyung sentuh sejak kemarin.
Taehyung memutuskan untuk mengabaikan.
Mereka berakhir menghabiskan waktu seharian, bermain di timezone berjam jam lamanya, makan es krim di kedai kesukaan Jungkook, dan menatap bintang sambil berbaring di atas bukit di dekat Hangang. Taehyung menakuti Jungkook dengan menceritakan cerita horror, dan Jungkook langsung saja berdiri hendak pulang. Taehyung tertawa keras sekali, bergerak memeluk Jungkook. Mengejeknya penakut. Jungkook menggerutu, namun berakhir tertawa keras saat Taehyung melompat panik ketika ada musang yang lewat di hadapan mereka.
.
sincerely
.
"Jungkook-ah!"
Panggilan itu sudah cukup membuat Jungkook tahu siapa pelakunya. Jadi, dia memilih untuk seolah tak mendengar panggilan tersebut, lanjut berkutat dengan makan siangnya.
EunBi mengeryitkan dahi, BamBam yang berdiri di depan pintu kantin beranjak mendekat. Gadis itu menatap Jungkook. "Kook, BamBam memanggilmu."
"Apa peduliku." Pemuda itu mendengus. Sumpitnya bergerak cepat merampas potongan sosis bakar yang sudah hampir masuk ke dalam mulut Deokwan. "Ah! Sosis terakhirku!" Deokwan menatap panik ke arah Jungkook, namun terlambat. Pemuda bersurai cokelat itu telah melahapnya utuh-utuh.
"Uwah, memakan makanan orang lain memang lebih nikmat." Matanya melebar.
Wajah Deokwan tertekuk sempurna. "Sialan kau, Kook. Kudoakan dicium BamBam."
Perkataan temannya membuat Jungkook refleks tersedak. "Uhuk! Sial, menjijikkan sekali!", Ia melototkan mata. Deokwan mencibir tak peduli, sedangkan EunBi memutar bola mata malas.
"Kau berdua kekanakan sekali." Gadis itu bergerak membelah dua sosis bakarnya yang masih utuh dengan garpu, menaruh sepotong di nampan Jungkook dan satu nya lagi di nampan Deokwan.
Mata kedua pemuda di hadapannya berbinar sempurna. "Terima kasih, EunBi. Kau memang wanita terbaik." Ucap Jungkook, mengacungkan jempol dengan cengiran lebar. EunBi tertawa keras.
Saat hendak menguyah sosis bakar di mulutnya, ada tangan yang tiba-tiba merangkul pundaknya erat. Cukup intim.
"Selamat siang, sweetheart." BamBam berbisik di telinga Jungkook, tersenyum lebar.
Tatapan Jungkook berubah datar, ia meletakkan kembali sumpitnya di atas meja. Mood makannya hilang seketika. "Lepaskan tanganmu." Jungkook berucap dingin.
"Kenapa, sweetheart?" BamBam tergelak pelan, membelai pipi Jungkook lembut dan menyingkirkan surai-surai yang menutupi wajahnya. "Kau mengingkari janji, Kook-ah. Aku menunggumu sampai jam 12 malam saat ulang tahunku kemarin, tapi ternyata kau tak datang."
Jungkook berdecak, menepis tangan BamBam. "Aku tak sudi datang setelah kau menyakiti Taehyung seperti itu."
Perempatan tercipta di dahi BamBam. "Kenapa jadi aku yang menyakitinya? Aku mengatakan fakta, Jungkook-ah. Lagipula, bukannya kau yang di sakiti preman bodoh itu?"
"Kau menyakitinya." Desis Jungkook. Ia menatap BamBam tepat di mata. "Yang Taehyung katakan itu benar. Punya hak apa kau mau menentukan dia pantas untukku atau tidak?"
Bambam menaikkan satu alis, tertawa sinis. "Kook-ah. Ini konyol sekali." Pemuda itu menarik kursi di samping Jungkook, lalu duduk diatasnya. "Katakan padaku. Apa yang bisa dibanggakan dari pemuda sepertinya? Dia tidak pernah bersekolah, pasti tidak punya keahlian. Kenapa kau mau berkencan dengannya?" BamBam tergelak. "Kudengar kalian berdua mengklaim kalau kau dan Taehyung itu takdir. Apa kau benar-benar mau menjalani hidup sampai tua bersamanya?"
Jungkook tak menjawab. Ia menggertakkan gigi, menahan amarahnya atas perkataan BamBam yang sangat melecehkan Taehyung.
BamBam mendekat, menelisik wajah Jungkook dengan tatapan memuja. "Katakan padaku, sweetheart. Apa yang bisa kau banggakan dari pemuda urak-urakan sepertinya? Aku tak yakin kalian akan hidup bahagia nanti. Pasti menyedihkan."
Hening sesaat. BamBam sudah akan tertawa, namun Jungkook akhirnya bersuara.
"Tattoo."
Bibir Jungkook melengkung keatas. Tatapannya beralih ke BamBam. "Taehyung sangat jago mengukir tattoo. Dia sudah professional. Kau tidak akan bisa menyainginya."
Pemuda asal Thailand itu menyeringai. "Lalu? Apa yang bisa kau harapkan dari tattoo?"
"Tentu saja ada. Taehyung akan menjadi pengukir tattoo international, namanya akan di kenal di seluruh dunia. Ia punya bakat. Aku melihatnya sendiri." Ucap Jungkook, tersenyum lebar. Ketika BamBam hendak berbicara, Jungkook segera menyela. "Aku tahu, menurutmu hal ini pasti tidak ada nilainya. Kesuksesan yang ada di dalam otakmu itu seperti pekerja kantoran, CEO, pemilik perusahaan, dan hal-hal membosankan lainnya. Sayang sekali, Kekasihku terlalu keren untuk mengenakan dasi dan jas kantoran. Dunia mu dan dunia Taehyung berbeda jauh. Dia akan sukses dengan caranya sendiri."
BamBam terdiam, terlihat tak suka dengan apa yang Jungkook katakan. Dalam hati Jungkook tertawa, Ia sedari dulu harusnya melakukan ini.
Jungkook beranjak bangkit. Tangannya terulur menarik kerah BamBam cukup kuat. Mereka beradu pandang dalam jarak yang dekat. "Dengar, BamBam." Jungkook berbisik. "Aku, bangga dengan Taehyung. Aku tak peduli bagaimana kehidupanku nanti bersamanya, atau akan seperti apa jadinya Taehyung nanti. Satu hal yang pasti, Taehyung adalah takdirku. Apapun yang terjadi, atau seburuk apapun kau mencoba merusak hubungan kami, Aku tak akan pernah meninggalkan Taehyung."
Cengkraman itu terlepas. Jungkook membalikkan badan, berjalan menjauh dari kantin. Sahutan Deokwan dan Eunbi yang memanggilnya tak lagi dia pedulikan. Mata Jungkook memanas. Benar, harusnya ini yang dulu dia katakan kepada Taehyung. Bagaimana bisa Jungkook baru menyadarinya sekarang? Hidup Taehyung adalah tattoo dan tindik, bukan buku dan pulpen. Dunia Taehyung adalah dunia preman, bukan dunia pendidikan yang formal.
Jungkook menggigit bibir, menahan tangisnya. Ia ingat sekali, bagaimana senyum Taehyung tercipta begitu lebar ketika ukiran tattoo naga yang berada di lengannya berhasil di selesaikan. Tawa Taehyung ketika teman-temannya memuji ukiran tattoo-tattoo yang pemuda itu buatkan di tubuh mereka, atau ekspresi serius Taehyung saat sedang fokus mengguratkan tinta tattoo dengan telaten. Taehyung sangat-lah mencintai tattoo. Walau tak pernah menunjukkan secara langsung, namun ekspresi bahagia Taehyung sudah menjelaskan semuanya.
Taehyung pernah mengatakan kalau dia menyukai sensasi ketika tinju nya melayang mengenai musuhnya, sensasi ketika rasa perih hinggap di sekujur tubuh juga darah yang menodai kemejanya. Taehyung selalu tertawa lepas ketika sedang balapan motor bersama Jimin dan Dilan di jalan raya secara ugal-ugalan, bahkan walau Jungkook yang duduk diboncengannya setengah mati meninjunya karena ketakutan. Taehyung juga sangat menikmati sensasi pahit manis rokok yang menggerogoti lidah, atau alkohol yang dia teguk terasa membakar tenggorokannya. Terbayang di ingatan Jungkook bagaimana onyx hitam kekasihnya berbinar ketika menceritakan pengalamannya selama di luar negeri untuk menjalankan tugas, bertemu preman-preman yang jauh lebih hebat, atau nada kesalnya ketika dia tak terima dikalahkan preman negara lain saat adu gulat dan membuat harganya turun drastis. Benar, benar sekali. Ini lah hidup Taehyung. Jungkook sama sekali tidak pernah melihat raut penyesalan di wajah kekasihnya. Dunia ini, dunia yang orang luar nilai sebagai dunia penuh dosa, adalah sumber kebahagiaan Taehyung sejak kecil.
Namun, Jungkook hampir merusaknya.
Pemuda itu mengusak surainya, mendudukkan tubuh kurusnya di bangku taman. Bel sekolah sudah berbunyi dari tadi, tapi Jungkook tak mempedulikan. Ia butuh waktu sendiri sekarang. Menyesali segala tindakan bodohnya yang tak menyadari penderitaan Taehyung. Harusnya Jungkook sadar, senyum Taehyung ketika menunjukkan ijazahnya kepada Jungkook bukanlah senyuman tulus. Senyuman itu tercipta karena rasa sayang Taehyung padanya, bukan atas kemauan diri sendiri. Dan Jungkook tanpa tahu malu nya justru mendukung Taehyung, berteriak senang, bahkan membantu Taehyung belajar.
"Ah, sial!" Jungkook menundukkan kepala, perlahan menangis.
.
sincerely
.
Jungkook tiba di depan rumah Taehyung, membawa bingkisan roti beras buatan eommanya di tangan. Kemarin, Jungkook yang baru pulang dari sekolah dengan mata bengkak disambut eommanya di dalam apartement. Tak bisa menahan tangisan, Jungkook berakhir menceritakan semuanya kepada sang eomma. Wanita itu tak memarahi Jungkook, Ia dengan penuh kasih membelai surai anak semata wayangnya, mendengarkan curahan hati anaknya. Dan sore harinya sepulang sekolah, Jungkook disuruh mengantarkan bingkisan roti beras ini kepada keluarga Taehyung. Kata eomma, ini adalah cara terampuh untuk berbaikan dengan Taehyung.
Pemuda bersurai cokelat itu melangkah masuk ke pekarangan. Taman rumah Taehyung cukup luas. Terdapat berbagai jenis bunga yang ditanam secara rapi. Ibu Taehyung memang sangat menyukai bunga. Jungkook menatap pintu rumah Taehyung yang sedikit terbuka. Sepertinya ada orang.
"Aku menyesal memiliki anak sepertimu, Kim Taehyung."
Pergerakan Jungkook yang hendak memutar kenop pintu terhenti. Ia mematung seketika. Itu suara ayah Taehyung.
"Kau pikir yang kau lakukan ini benar? Sejak kapan kau menjadi se egois ini? Aku tak pernah mengajarkan mu untuk menjadi penghianat."
"Aku tidak bermaksud seperti itu!"
"Kenyataannya kau memang penghianat!" bunyi rotan yang menghantam kulit terdengar memekakan. Jungkook memejamkan mata, ketakutan. Taehyung pasti dipukul ayahnya lagi.
"Kau, Kim Taehyung. Apa kau lupa kalau teman-temanmu itu bertaruh nyawa untuk menyelamatkanmu dulu? Mereka sampai harus kehilangan anggota badan hanya demi keteledoranmu. Kau bilang kau berhutang budi pada mereka, kau bilang kau akan melindungi mereka dengan segenap jiwamu. Tapi apa? Apa kau tidak tahu seberapa malunya aku mendengar laporan Gerr yang mengatakan kalau kau tidak pergi menolong Kwon dan Hwan kemarin? dimana otakmu anak brengsek?!"
Erangan kesakitan Taehyung yang kembali dipukul dengan rotan terdengar. Jungkook mencengkram kenop pintu kuat-kuat. Tidak, dia tidak tahu apa yang sedang dibahas oleh Ayah Taehyung. Dia tak tahu apa yang sedang terjadi.
"Sekarang beritahu aku. Apa kau akan bersikap tidak peduli lagi dengan claws?"
Tak ada jawaban. Taehyung diam tak bergeming. Jungkook merasakan pelupuk matanya kini digenangi airmata.
"Jawab aku anak sialan!"
"Tentu saja tidak." Jawab Taehyung cepat. Suaranya bergetar. "Saat itu aku sedang ikut ujian, Ayah. Aku tidak mungkin meninggalkan ujian itu. Aku–aku harus ikut paket C tahun ini, agar bisa menyusul Jungkook masuk kuliah tahun depan."
"Jungkookie?" suara lain terdengar. Ternyata Ibu Taehyung juga ada disitu. Mendengar namanya disebut, debaran jantung Jungkook semakin cepat. "Jadi, kau mencampakkan teman-temanmu karena Jungkookie?"
"Ibu, aku tidak–"
Plak!
"Aku benar-benar kecewa denganmu, Taehyung!" Sang Ibu berseru marah setelah menampar anaknya dengan kuat. "Kwon rela kehilangan tangannya demi mu, ketakutan akan nasibnya yang mungkin saja akan lajang seumur hidup. Dan kau, lihat yang kau perbuat! hanya karena cinta konyolmu, Kwon dan Hwan sekarat sekarang!"
Nafas Jungkook tercekat. Tangannya bergetar. Tunggu, apa maksudnya ini? Apa Taehyung menyembunyikan sesuatu darinya saat hari ujian? Preman itu tidak mengatakan apapun saat berkunjung keapartementnya. Mereka juga menghabiskan waktu seharian bersama, tertawa lepas.
Tangan Jungkook terkepal erat. Dia tak sanggup lagi mendengar semua ini.
"Kalau kau terus seperti ini, putuskan Jungkook. Buang jauh-jauh niatmu yang ingin menikahi anak itu saat umurmu 22 tahun nanti. Aku tak akan pernah menyetujuinya."
Rasanya seperti dijatuhkan ke jurang tanpa dasar. Perih, dan sakit luar biasa. Ibu Taehyung adalah orang yang paling menyetujui hubungan mereka, wanita itu menyayangi Jungkook melebihi apapun, memperlakukan Jungkook layaknya anaknya sendiri. Dan kali ini, dia menyuruh Taehyung melepaskannya. Sakit sekali.
Karena terlalu kacau, Jungkook tak menyadari langkah kaki yang mendekat. Pintu rumah itu terbuka paksa, dan Taehyung muncul di baliknya. Mata preman itu spontan melebar sempurna.
"J-Jungkook?" Taehyung terpaku. Wajahnya pucat pasi. Apalagi dengan ekspresi Jungkook yang menyiratkan kekecewaan yang sangat dalam.
Jungkook menggertakan gigi, Ia mengusap airmata nya kasar. "Kau bodoh!" Serunya marah. Pipi dan lengan Taehyung memar, dan hal itu semakin membuat hati Jungkook sakit. "Kenapa melakukan ini untukku?! Aku tak menuntutmu untuk harus ikut Paket C tahun ini, kan?! Kenapa kau justru merumitkan segalanya?! Kenapa kau berusaha keras untuk sekolah?!"
Taehyung melebarkan bola matanya, menatap tak percaya Jungkook yang ikut membentaknya. Tangan preman itu terkepal erat. Hancur sudah pertahanannya. "Lalu kau mau aku bagaimana brengsek?!" Taehyung berseru. Matanya merah menyalang. "Aku harus apa?! Teman-temanmu semua akan semakin gencar menginjakku kalau aku yang tolol ini tak punya pendidikan! Dimata mereka, aku hanya lah sampah! Tak pantas bersanding untukmu! Kau tak tahu bagaimana sakitnya aku diperlakukan seperti itu! Harga diriku di injak-injak!"
Tangan Taehyung menarik kerah Jungkook secara paksa, mencengkramnya kuat. "Aku melakukan ini untukmu brengsek! Aku ingin berhenti dari dunia preman agar kau merasa bangga memiliku! Aku ini hanya seonggok sampah di bandingkan kau yang cemerlang! Aku tak punya apa-apa! Menurutmu, apa yang akan kulakukan kalau keluargamu nanti akan menolakku yang hendak menikahimu?! Mereka pasti juga akan menginjakku!"
Ada setetes airmata yang jatuh di pipi Taehyung. Jungkook terpaku. Tangannya bergetar, dan nafasnya tercekat. Taehyung terlihat sangat rapuh. Ini pertama kalinya, Jungkook melihat Taehyung sekacau ini. Pemuda itu melepaskan cengkramannya, mengusap airmatanya kasar.
"Padahal aku pikir kau akan berada di sisiku, mendukungku. Tapi ternyata harapanku itu hanya lah harapan semu." Taehyung terkekeh miris. Ia menatap Jungkook dengan tatapan kosong. Seolah telah kehilangan gairah hidup. "Mungkin yang temanmu katakan itu benar. Hanya aku yang menganggap hubungan kita ini serius. Kau tak berniat menghabiskan sisa hidupmu denganku. Cinta kita ini hanya cinta monyet, kan? Saat dewasa nanti, kau akan memutuskanku, beralih bersama orang yang lebih bermartabat. Melupakan segala hal tentangku."
Jungkook merasakan matanya memanas saat Taehyung perlahan berjalan melewatinya. Ingin sekali tangannya menahan langkah Taehyung, membantah semua yang pemuda itu katakan, tapi bibirnya kelu. Dia bahkan tak sanggup bergerak. Hatinya terlanjur remuk, juga jiwa raganya.
Taehyung sempat berhenti tepat di samping Jungkook. Tatapannya menerawang ke arah langit senja di atas sana. Tangannya terkepal erat. "Aku serius jatuh cinta denganmu. Tapi, sepertinya kita ini memang beda dunia."
Saat Taehyung melangkah menjauh, Jungkook tak mengejarnya. Saat pintu rumah Taehyung di banting dari dalam, Jungkook tak berusaha memohon kepada Ibu Taehyung. Pemuda itu berjongkok, memeluk lututnya, menangis hebat di pekarangan rumah Taehyung. Jungkook rasa dirinya kini telah di hempaskan ke dalam lautan tanpa dasar.
.
.
To Be Continued
ehm. reviewsnya berkurang nih. banyakin dong. hehe.
anyway, ada yg pernah nanya saya orang mana, yes saya orang makassar heheheu.
jujur aja, saya nangis pas lagi nulis ini, dari awal malah. wkwk. oke. semoga kalian juga dapet feelsnya. mwah.
(vkook moment lagi berlimpah banget, saya mimisan parah tiap buka timeline twitter. #curhat)
review dan sarannya sangat saya tunggu reader-nims.
XiRuLin.
