(XVIII) chapter tujuh belas.
.
.
Jungkook berhenti di depan sebuah pintu. Bau khas rumah sakit menyerang indra penciumannya, dan ini membuat Jungkook mual. Ada sebuket bunga mawar putih di genggamannya. Tangan pemuda bersurai cokelat itu terjulur ke depan, memegang kenop pintu.
Semoga saja mereka tidak akan melempar sesuatu ketika melihatku. Jungkook berdoa dalam hati.
Tangan kurusnya bergerak memutar kenop. Pintu terbuka. Suara tawa yang menggelegar langsung menyambut. Jungkook terpaku di depan pintu. Ternyata preman-preman itu sedang berkumpul. Dan tentu saja, pandangan mereka beralih ke Jungkook.
Ada dua kasur di dalam kamar itu, dengan Hwan dan Kwon yang berbaring diatasnya. Perban masih meliliti badan mereka walau sudah di rawat selama tiga hari. Sepertinya luka yang kedua pemuda itu alami memang parah. Andrew yang sedang membaca buku di sofa bundar, MinHo dan Hyungsik yang mengatur tinggi tempat tidur Hwan, juga preman-preman lainnya yang duduk di lantai secara melingkar.
Tidak ada Taehyung di antara mereka.
"Oh, Jungkook." Hyungsik angkat bicara, karena teman-temannya yang lain hanya diam atas kedatangan Jungkook. Pemuda tinggi itu berjalan ke arah Jungkook, merangkulnya. "Uwah~ apa ini buket bunga untukku? Indah sekali~"
Jungkook berdehem pelan. "B-bukan, ini untuk Hwan dan Kwon."
"Taehyung dimana?" Jimin yang duduk sembari memainkan botol soju di tangan bersuara. Tatapannya kosong, dan datar. "Dimana keparat itu?"
"A-ah" Jungkook mengerjapkan mata. Panik. "I-itu, Taehyung–"
"Apa dia mati?"
Jimin mengangkat kepala, menatap Jungkook dingin. "Katakan padaku kalau dia sudah mati."
Bola mata Jungkook melebar. Jimin terlihat sangat marah, dan itu menyeramkan. Tak ada lagi tatapan jenaka dan bersahabat yang terpancar dari mata sahabat kekasihnya itu. yang terpancar hanya kekecewaan semata.
Andrew berdecak. "Chim. Kau keterlaluan." Tangannya bergerak menutup buku, beranjak bangkit dari duduk. "Padahal diantara kita, kau yang paling mengenal V. Tapi lihat kelakuanmu. Sama sekali tak mengerti jalur pikiran V."
"Kau bisa mengerti pikirannya?" Jimin berdesis. Tanganya terkepal erat. "Pemikirannya itu hanya pikiran tak berakar!Dia harusnya pergi menolong Hwan dan Kwon melawan INSPIRIT, bukan malah ikut ujian tak berguna itu! Lihat empat hari ini! Dia tak membalas pesanmu, tak membalas pesanku, dan kabur tanpa jejak. Si bajingan itu tak merasa bersalah sama sekali! Apanya yang setia kawan, brengsek!"
Tepat ketika Jimin selesai berbicara, tinju Andrew melayang mengenai rahangnya. Semua terkejut, tak terkecuali Jungkook yang semakin melebarkan mata. Menatap tak percaya ke arah Andrew. Untuk pertama kalinya, Jungkook melihat Andrew yang marah besar.
"Fuck, stop this, Chim!" Teriak Andrew. "Just fuckin stop blaming V! Kau harusnya mengerti apa yang dia rasakan sekarang! Bukan malah bertindak kekanakan seperti ini! Aku muak melihatmu yang seolah menganggap V musuh terbesar di hidupmu!" Ia menarik kerah Jimin dengan kasar. "Don't be so fuckin childish!"
Wajah Jimin merah padam. Tangannya terkepal semakin erat hingga urat-uratnya terlihat. Jimin tak membalas perkataan Andrew. Ia melepaskan cengkraman Andrew secara paksa, menabrak bahu pemuda bule itu, lalu hilang di balik pintu tanpa melirik Jungkook sama sekali.
Ruangan itu lenggang sejenak.
"Maaf soal Chim, Jungkook."
Jungkook mendongak, menatap Andrew yang kini menatapnya dengan tatapan bersalah. "Jangan masukkan di dalam hati. Si brengsek itu hanya sedang kesal karena merindukan kekasihmu."
Refleks, senyum terukir di bibir pemuda bersurai hitam itu. "Ya. Aku tahu. Ini membuatku cemburu, jujur saja."
Beberapa tertawa atas jawaban Jungkook. Hyungsik mengusak surai Jungkook. "Kau menggemaskan sekali. Aku bisa mengerti kenapa V berusaha sejauh ini demi mu. Dia tidak mungkin melepaskan pemuda se sempurna dirimu, Jungkook."
Andrew menganggukkan kepala, tertawa. "Sayang sekali, justru pemuda brengsek seperti V yang mendapatkan Jungkook."
"Kalau aku jadi V, detik aku melihatmu, aku pasti akan langsung melamarmu." Minho ikut berkomentar. Menyeringai menatap Jungkook yang kini terlihat gugup. Biasanya, saat ia di rayu seperti ini, ada Taehyung yang setidaknya membuat dia percaya kalau preman-preman tersebut tidak akan mengganggunya. Namun, untuk saat ini dia hanya sendiri. Menyeramkan.
Tak ingin topik ini semakin berbahaya, Jungkook bergerak ke kasur Kwon. Menaruh buket bunga di atas nakas. Ia menatap lekat-lekat Kwon. "Maaf karena terlambat membesukmu, Kwon." Pemuda itu menundukkan kepala. lengan baju rumah sakit Kwon di bagian kanan tergeletak begitu saja. "Kau sudah menderita banyak karena si bodoh itu." Jungkook meremas ujung kaosnya. Walau bukan dirinya yang melakukan kesalahan, namun Jungkook merasakan rasa bersalah yang sangat di dalam hati.
Kwon tertawa kecil. Tangannya yang di aliri infus mengusak surai hitam Jungkook. "Kenapa jadi kau yang meminta maaf."
"Aku mewakili Taehyung. Si bodoh itu, benar-benar memalukan."
"Semua orang memang akan menjadi memalukan karena cinta." Kwon kembali tertawa. Hwan yang kini sedang duduk di pinggir kasurnya mengangguk, menyetujui. "Itu juga salah kami karena terlalu lemah. Harusnya kita bisa belajar untuk tidak bergantung lagi dengan V kalau melawan INSPIRIT."
Jungkook menghela nafas. Ia kemudian duduk di bangku yang berada di antara kasur Hwan dan Kwon. Dengan kepala yang di tundukkan, Jungkook memainkan ujung kaosnya. "Sebenarnya INSPIRIT itu siapa? Apa mereka sangat kuat?"
"Tentu saja mereka kuat." Hwan ikut menghela nafas. "INSPIRIT itu nama salah satu gank preman di Seoul. Badan mereka sebesar pemain sumo. Claws sudah lama tidak menjalin hubungan baik dengannya. Jadi, kalau melihat anggota Claws mereka pasti akan langsung menyerang tanpa pandang bulu."
Kerutan muncul di dahi Jungkook. Ia mendongak, menatap bergantian pemuda kembar di hadapannya. "Kenapa? Apa kalian pernah membuat masalah dengan mereka?"
"Sebenarnya tidak." Kwon tertawa kecil. Pemuda bersurai hijau tua itu menopangkan sikunya di bantal, bertumpu di pipi. "Kau tahu kan, sistem adu gulat untuk menentukan harga di antara preman?" Jungkook mengangguk. "Nah, disitu lah awal mulanya. Aku lupa itu terjadi tahun berapa, intinya V masih berumur 15 tahun. Bocah brengsek itu baru pertama kali ikut adu gulat guna menentukan harganya. Dan lawannya yang di tentukan lewat undian ternyata adalah preman-preman INSPIRIT. Aku ingat sekali semua orang tertawa mengejek begitu melihat hasil, mengatakan kalau V akan rata dengan tanah setelah selesai bertanding. Tapi diluar ekspektasi, kekasihmu justru berhasil menjatuhkan preman bernama Gehu yang berat badannya mencapai 140 kg. Walau badannya memar disana sini, namun tetap saja dia berhasil. Pengalaman yang sangat membekas."
Mata Jungkook melebar sempurna. "Bagaimana bisa?" tanyanya, seolah tak percaya dengan apa yang Kwon telah jelaskan. Secara logika, tentu saja itu tak masuk akal.
Kwon tertawa. "Kekasihmu meninju rahangnya dari bawah. Agak susah untuk menjelaskan secara detail, tapi yang pasti tinjuan itu adalah tinjuan paling keren yang pernah kulihat." Puji Kwon. Senyum tercipta di bibir tipisnya. "Yah, karena itu lah INSPIRIT yang merasa harga dirinya di injak-injak oleh bocah kurus kerempeng yang merupakan anggota Claws akhirnya jadi sangat membenci kami. Kalau dipikir-pikir, ini sebenarnya kekanakan sekali."
Kali ini giliran Jungkook yang tertawa lepas. Ia menganggukkan kepala. "Benar, kekanakan sekali. Tidak cocok dengan ukuran badan mereka."
Hwan ikut tertawa. Tangannya bergerak mengusak surai Jungkook dari belakang. "Selama ini, hanya V yang selalu menghadapi preman-preman INSPIRIT kalau mereka berniat balas dendam lagi. Mereka dibuat tak berkutik dengan tinjuan kekasihmu."
Jungkook tersenyum. "Aku baru tahu kalau Taehyung sangat jago meninju."
"Wah–" Hwan dan Kwon tertawa keras bersamaan. "Jangan bilang kau tidak pernah melihat Taehyung saat adu gulat?"
Yang lebih muda menggeleng. Jungkook tidak suka kekerasan, jadi dia tentu saja tak akan pernah mau melihat kekasihnya saat sedang memporak porandakan wajah seseorang. Karena alasan itu pula, Taehyung jarang menceritakan kisahnya yang bertemakan kekerasan, atau tidak sepatu Jungkook pasti akan langsung melayang ke arahnya.
Hwan membulatkan mata sipitnya. "Wah, ini tidak boleh dibiarkan." Ia mengalihkan pandangan. "Andrew, jelaskan pada Jungkook bagaimana beringasnya V dengan tinjuannya."
Andrew yang sedang menegak soju sembari bercengkrama dengan preman-preman yang lain langsung saja menghentikan aktifitasnya. "Wah, tinju melegenda V." Tangannya ditepuk berkali-kali, senyum lebar terukir di bibirnya. Pemuda bule itu beralih menatap Jungkook. Tersenyum semakin lebar.
"Kekasihmu itu luar biasa." Andrew tertawa. Beberapa preman lain ikut tertawa. "Aku curiga mungkin saja dia terlahir untuk menjadi petinju, atau mungkin reinkarnasi dari petinju hebat di masa lalu. Jadi, mari kita membahas sejarah V dan tinju emasnya." Andrew memasang mimik ala seorang pendongeng, dan Vernon spontan saja melemparinya kotak rokok yang sudah kosong. Mereka semua kembali tertawa, tak terkecuali Jungkook.
Andrew memperbaiki posisi duduknya. Ia berdehem. "Nah, baiklah. Jadi, V yang baru berumur 10 tahun jatuh hati dengan pesona George Foreman saat menonton pertandingan WBA nya di TV bersama Boss Daehyun. Saat itu, The Hollywood Giant bertanding melawan Joe Frazier. Kengeriannya dalam melayangkan kepalan tangan entah mengapa membuat kekasihmu merasakan debaran di dadanya. Seolah dia merasakan semangat yang membara di dalam dada. Tak ingin menyia-nyiakan ketertarikan anaknya atas dunia tinju, Boss Daehyun akhirnya sering menurunkan si bocah V dalam misi-misi yang berhubungan dengan perkelahian. Walau baru berumur 10 tahun, tubuh V yang tinggi menjulang dan rasa bahagianya ketika melayangkan tinju membuatnya selalu berhasil menjatuhkan lawan. Dan dia terus berkembang. V yang beranjak remaja dan mulai memakai tindik dan tattoo, sering kali datang kepadaku hanya untuk sekedar berlatih tinju. Ironisnya, aku selalu berakhir kalah." Andrew menghela nafas. Yang lain tergelak. "Kejadian ketika mengalahkan anggota INSPIRIT benar-benar melegenda. Harga V langsung naik pesat, menjulang bahkan mengalahkanku yang sudah bertahun-tahun dihargai 750 juta. Kegemarannya atas dunia tinju juga menggila. Tinju V akhirnya dijuluki tinju emas. Sebenarnya, kekasihmu itu tidak begitu ahli meninju. Namun, pengalaman membuatnya mengetahui cara mengatasi jenis-jenis lawannya. Si brengsek itu cerdik."
Jungkook merasakan debaran di dadanya. Ini pertama kalinya ia mendengar kisah lain dari hidup kekasihnya. Dalam hati Jungkook menyesal melarang Taehyung bercerita tentang tinju. Kekasihnya padahal keren sekali. Walau dalam konteks kasar dan penuh dosa, entah mengapa apabila Taehyung yang melakukannya, Jungkook bisa memaafkan itu semua.
Andrew menegak sojunya sekilas. "Bisa dibilang, V itu memang terlahir untuk dunia gelap." Tatapannya menerawang, tersenyum lebar. "Dia keren saat memakai berbagai macam tindik, sangat perkasa dengan tattoo hasil karyanya sendiri, juga tinjunya yang mengerikan. Aku selalu bangga memilikinya di dalam tim payah ini. Bocah itu baru berumur 17 tahun, tapi pesonanya mengalahkan preman-preman berusia 20 tahun keatas sepertiku."
"Wah, aku tak menyangka si bule Andrew mau memuji V sejauh ini." Gerr angkat bicara, tertawa begitu keras atas respon Andrew yang hampir tersedak soju. "Sial. Untuk hari ini, itu pengecualian." Jawab Andrew, ikut tertawa.
Jungkook menundukkan kepala, menatap sepatu timberland cokelatnya. Banyak yang kini dia pikirkan. Dan itu semua berkecamuk di dalam otaknya, membuat Jungkook merasakan pening di kepala.
Jungkook menghela nafas. "Sudah jelas sekali kalau duniaku bukanlah dunia Taehyung."
Hening sesaat. Tawa Andrew tersumpal. Ia menatap Jungkook. "Itu hal yang berbeda, Jungkook. Taehyung ingin ikut denganmu atas dasar cinta."
"Cinta bukan berarti harus melepaskan dunia yang dia sukai, kan?" Sela Jungkook. "Ceritamu tadi sudah menggambarkan dengan jelas kecintaan Taehyung akan dunia premannya. Kau bahkan mengatakan kalau Taehyung mungkin tercipta untuk dunia preman. Lalu, bagaimana bisa aku diam saja melihatnya memaksa masuk ke dalam dunia ku yang berbanding terbalik?"
Tak ada jawaban. Preman-preman itu terdiam.
"Taehyung juga sangat mencintai tattoo, kan?" Ucap Jungkook entah kepada siapa. "Aku tidak akan membiarkan dia melepaskan rasa cintanya itu."
Mereka saling berpandangan, tak tahu harus berkata apa atas kemauan Jungkook yang berketerbalikan dengan apa yang diinginkan Taehyung sekarang.
Walau begitu, senyum lebar terpatri di bibir Andrew. Juga Jimin yang berada di balik pintu dengan tangan yang sudah hendak memutar kenop pintu.
Mereka akhirnya mendengar apa yang ingin mereka dengar selama ini.
.
sincerely
.
Taehyung menghela nafas entah untuk keberapa kalinya. Tatapannya menerawang, membelah langit senja di atas sana. Kakinya yang tak beralaskan apa-apa dibiarkan menyentuh tanah dan bebatuan. Sesekali, pemuda bersurai abu-abu itu menyesap rokoknya khidmat.
"Taehyungie, makan malam!"
Yang di panggil mendesah frustasi. Ia membaringkan badannya di lantai yang terbuat dari kayu ulin. "Aku tidak mau makan, imo!"
"Dasar anak nakal." Wanita muda muncul dari pintu rumah. Ia menatap garang ke arah Taehyung. "Aku tidak mau berakhir di marahi Ibu mu karena membiarkan anak kesayangannya kelaparan disini." Spatula yang berada di tangannya Ia gunakan untuk menepak bahu Taehyung kuat. "Ayo makan sekarang!"
"Ah, imo!" Taehyung mengerang kesal. "Tinggal bilang pada Ibu kalau aku makan dengan baik apa susahnya?!"
"Kau ini–" Kali ini timpukan kuat diterima Taehyung di kepalanya. Taehyung mengaduh kesakitan. "Aku bilang makan ya makan, dasar anak brengsek! Makan malam atau aku akan membawamu pulang ke Seoul sekarang juga?!"
Taehyung bungkam. Dengan langkah lunglai dan bibir yang terus menggerutu, Ia berjalan kembali masuk ke dalam rumah imonya yang terletak di sebuah desa kecil di Daegu. Karena dirinya yang sedang bermusuhan dengan orang tuanya, Taehyung terpaksa lari ke rumah adik dari Ibunya itu.
Ah, Taehyung merindukan Seoul. Merindukan claws. Juga merindukan Jungkook.
Setelah bertengkar hebat dengan Jungkook kemarin, Taehyung melesat ke Daegu. Pikirannya kacau. Dalam hati kecil Taehyung, ia juga menyesal karena sudah berkata sekasar itu kepada Jungkook. Di lain sisi, Taehyung yang diliputi rasa bersalah yang amat besar kepada Hwan dan Kwon tak berani menghubungi satupun teman-teman seganknya. Selama perjalanan, Taehyung menangis dalam diam. Menyesali setiap keputusannya. Entah, dia benar-benar kacau. Bahkan rokok tak ampuh meredakan kegundahannya.
Apa yang harus dia lakukan?
.
sincerely
.
"Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua."
Jungkook melipat kedua tangan di depan dada, menatap tajam ke arah kedua pemuda yang duduk di depannya.
Yang bersurai orange mengusap tengkuk, canggung. "Yah, sesuai yang kau lihat. Aku dan hyung-mu ini berkencan."
Kaki Jimin tiba-tiba di injak dengan keras. Jimin mengaduh kesakitan. Pelakunya adalah Min Yoongi– kekasihnya. Sial. Jimin terlalu blak-blakan.
Jungkook mendengus. "Jadi, kalian berkencan tanpa memberitahuku? Bahkan aku tak tahu kapan kalian menjadi dekat."
"Jungkook. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya." Yoongi angkat bicara. Jungkook terlihat sangat kecewa. Adik kelasnya itu sore ini secara tiba-tiba datang berkunjung ke apartement Yoongi, mungkin untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Dan sialnya, Jimin datang lebih awal dari Jungkook. Tak dapat menyuruh Jimin pulang, Jungkook telah muncul di depan pintu apartementnya. Mereka tak berkutik.
"Kenyataannya hyung menyembunyikannya dariku." Kata Jungkook dingin. Ia beranjak dari duduknya. Niatnya yang datang ke apartement Yoongi untuk menenangkan pikiran justru semakin menyulut amarahnya. "Sepertinya aku yang tak dianggap ini hanya mengganggu disini."
"Tidak, astaga." Yoongi ikut bangkit. Menahan tangan Jungkook yang telah berjalan menuju pintu. "Jimin akan pulang sekarang. Aku akan menemanimu."
Jungkook menggeleng. Ditepisnya tangan Yoongi. "Tidak perlu, hyung. aku akan kerumah Jin hyung. selamat bersenang-senang."
Yoongi menatap kepergian Jungkook dalam diam. Ia panik astaga. Jin yang marah nanti pasti akan lebih parah dari Jungkook.
Sebuah tangan melingkar di pinggang Yoongi, menarik pemuda itu mundur kebelakang. Langsung bertabrakan dengan dada bidang Jimin. "Sepertinya kita ketahuan." Jimin terkekeh pelan.
Yoongi mengerang kesal. "Ini karena mu yang datang tiba-tiba!" Ia meninju lengan Jimin di perutnya. Jimin tertawa. "Aku juga sedang gundah, jadi memang harus ke rumahmu, sweetheart."
"Apa yang terjadi, hah? Kenapa kalian gundah?"
Hening sesaat. Jimin semakin mengeratkan pelukannya, menyandarkan dagunya di bahu sempit Yoongi. Ia menghela nafas. "Karena Taehyung brengsek itu. Padahal dia yang punya kehidupan, tapi kenapa kami semua sibuk memikirkannya."
Yoongi memutar bola mata malas. "Dasar berlebihan. Begitu saja di pusingkan."
"Kau saja yang terlalu acuh, sweetheart." Jimin mendaratkan ciuman kupu-kupu di sekitar wajah Yoongi, tersenyum melihat Yoongi yang terlihat nyaman dengan tindakannya. "Jungkook tidak akan kembali, kan? Aku mau menginap malam ini."
Yang dapat Yoongi lakukan hanya lah mengangguk dengan susah payah saat Jimin telah menyerang lehernya. Baiklah. Semua orang memang akan menjadi brengsek apabila itu menyangkut cinta. Persetan dengan Jin dan Jungkook yang marah padanya nanti.
.
sincerely
.
Perkiraan Andrew ternyata benar.
Jungkook menemukan Taehyung, turun dari bus kota. Tepat di depan sebuah sekolah yang merupakan tempat orang-orang mengikuti pembelajaran paket C. Jungkook yang sudah berdiri di depan sekolah sejak pagi tadi menggertakkan gigi. Taehyung tetap berjuang untuk belajar, bahkan walau dia mengatakan kalau keduanya sangatlah berbeda.
Kekasihnya tampak baik-baik saja. Taehyung memakai kupluk hitam, menutupi surai abu-abunya. Kaos putih polos lengan panjang dengan ripped jeans bercorak abstract painted berwarna putih dan biru, serta tas ransel puma yang hanya ia gantungkan di satu bahunya. Sehat dan tetap bugar. Jungkook tersenyum kecil. Syukurlah kalau Taehyung tak kenapa-kenapa.
Pemuda bersurai abu-abu itu berjalan tanpa melihat sekeliling, acuh tak acuh. Ia bahkan tak sadar ada Jungkook yang sedang berjalan ke arahnya.
"Hei, preman bodoh."
Tak asing dengan suara tersebut, langkah kaki Taehyung terhenti. Jungkook telah berdiri dengan sempurna di hadapannya. Tersenyum. Dan itu membuat Taehyung terpaku. Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu Jungkook disini. Satu minggu tak saling mengabari dan bertemu, Taehyung pikir kekasihnya masih marah besar padanya.
Kenyataannya, justru Jungkook lah yang lebih dulu mengukir senyum di bibir.
Jungkook melangkah mendekat. Tawa kecil terdengar. "Tumben kau rapi begini. Sangat tak cocok dengan style berandalanmu."
"Apa yang kau lakukan disini?"
Ucapan dingin Taehyung membuat Jungkook terdiam beberapa detik. Ia kemudian kembali tersenyum, mendongakkan kepala. "Tentu saja untuk menjemputmu."
Dahi Taehyung terlipat. "Menjemput?"
"Iya, menjemputmu." Jungkook mengangguk. "Menjemput kekasih bodohku yang bahkan tak tahu apa yang dia maui sekarang."
"Apa maksudmu?" Tanya Taehyung. Ia benar-benar tak mengerti dengan maksud Jungkook.
Yang bersurai hitam menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Jungkook menatap kekasihnya tepat di mata. Raut wajahnya berubah serius. "Aku ingin kau berhenti belajar. Tak usah sekolah dan berjuang melebihi batasmu."
"Apa – apaan–"
Tangan Jungkook terangkat keatas, melarang Taehyung memotong perkataannya. "Karena kau itu tolol dan plin-plan, aku akan menjelaskannya. Aku, mencintaimu yang apa adanya. Kau tak perlu berusaha menjadi orang pintar, atau ingin menjadi pegawai kantoran agar aku bangga denganmu. Tidak, hal itu justru terlalu membosankan. Tak menantang adrenalin. Selama ini, selama dua tahun menjalin kasih denganmu, aku juga tak peduli atas apapun yang temanku katakan tentangmu. Yah, di satu sisi karena kau memang brengsek dan berandalan seperti yang mereka katakan, ejekan dan hinaan mereka itu tidak penting kan, Tae? Yang menjalin hubungan ini kau dan aku, bukan mereka. Walaupun perkataan takdir diantara kita itu menggelikan dan kekanakan, tapi aku sudah menjaganya selama dua tahun ini."
Taehyung diam tak bergeming. Jungkook melangkahkan kaki semakin dekat. Ia mendongakkan kepala, menatap mata kekasihnya. "Kekasihku, Si brengsek Taehyung ini–" Jari telunjuk Jungkook mendorong pelan dada Taehyung. "terlalu keren untuk menggunakan seragam kantoran. Mana ada pegawai kantoran yang menggunakan anting-anting sebanyak ini, tattoo di sekujur tubuh, penggila tinju, dan perokok akut? Kau juga terlalu emosian, lebih senang mengayunkan tinju daripada bernegosiasi, bahasamu kasar, tatapanmu terlalu menyeramkan, dan suaramu tak lembut. Instansi pemerintah manapun tak akan menerimamu bahkan saat tahap wawancara."
Dalam hati Taehyung mengumpat. Jungkook ini berniat mengejeknya, ya?
"Karena itu, Karena kau terlalu keren untuk menjadi pegawai kantoran," Jeda sesaat.
"–bagaimana kalau menjadi seniman tattoo internasional?"
Rasanya seperti waktu berhenti berputar ketika kedua sudut bibir Jungkook perlahan tertarik keatas. "Aku berani bersumpah, George Foreman dan Muhammad Ali akan rela kembali bertarung demi memperebutkanmu menjadi pengukir tattoo langganan mereka."
Butuh beberapa detik sebelum akhirnya pertahanan ego Taehyung hancur lebur, tak tersisa. Senyum perlahan mengembang di wajahnya. Dan ia berakhir tertawa kecil.
Ini lah salah satu alasan mengapa Taehyung sangat meyukai Jungkook. Pemuda itu selalu punya cara tersendiri untuk menenangkan Taehyung, meredakan amarah dan rasa kesalnya. Menghadirkan kembali senyum di wajah Taehyung.
Tangan Taehyung terulur mengusak surai hitam Jungkook. "Bagaimana dengan Anil Gupta? Apa menurutmu aku dapat mengalahkan karyanya?"
Jungkook bergumam, berpikir. "Emm.. kalo untuk dia, mungkin kita harus membunuhnya dulu agar kau bisa menjadi nomor satu di dunia."
Tawa Taehyung pecah. Ia tergelak lepas sekali. Jungkook yang melihatnya tersenyum lebar. Perasaan hangat hinggap di rongga dadanya begitu melihat kekasihnya yang kini terlihat kembali hidup.
Tak menghiraukan orang-orang yang berlalu lalang di sekeliling mereka, juga Taehyung yang masih tertawa, Jungkook menarik kerah Taehyung mendekat. Tawa Taehyung terhenti. Jungkook menyatukan dahi mereka, memejamkan mata. Nafas Taehyung yang berderu dan mengenai wajahnya terasa sangat hangat dan mendebarkan.
Jungkook tersenyum lebar. Taehyung menatapnya lekat-lekat.
"Aku pasti akan bangga sekali kalau suamiku nanti seorang seniman tattoo terkenal di dunia."
Taehyung terpaku. Nafasnya tercekat, detak jantungnya menggila. Mata Taehyung memanas. Benar, benar sekali. Kata-kata itu lah yang dia nantikan selama ini. Kata kata itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab segala kegundahan dan dilemanya. Jungkook menyuruhnya untuk kembali ke tempat asalnya, tempat dimana Jungkook jatuh cinta padanya. Jungkook tak pernah sama sekali merasa terganggu dengan profesi Taehyung. Ia menerima Taehyung apa adanya sejak dua tahun lalu, di hari dimana Jungkook mengatakan bahwa dia juga mempercayai perkataan tentang Taehyung yang merupakan takdirnya.
Taehyung melingkarkan tangan di pinggang Jungkook, menariknya mendekat. "Kenapa aku mempersulit semuanya?" Ia berbisik pelan, menghela nafas.
Jungkook membuka mata, menatap Taehyung. Walau ada semburat merah di pipinya, Jungkook tetap tersenyum lebar. "Mungkin aku akan memberi mu julukan baru. Preman bodoh yang terlalu melankonis."
"Brengsek." Taehyung mengumpat. "Kau cari mati, bocah?"
Jungkook tergelak. Ia menoyor dahi Taehyung, sedikit menjauhkan badan. "Sekarang, jangan berpikir untuk masuk universitas lagi dan membuat dirimu semakin tersiksa. Kembali ke claws, minta maaf dengan kedua orangtuamu. Kejar impianmu yang sebenarnya, Tae."
Taehyung tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kau adalah impianku?"
Ekspresi Jungkook berubah jadi datar. Ia menjitak kepala kekasihnya. "Kejar aku kalau begitu."
Dan tawa kembali menggelegar.
Jungkook adalah hidup Taehyung. Itu mutlak.
.
.
Stop / Next?
maaf lama update nya heheheu. welcome new reader-nims! hope you like this chapter as well! aku pikir sih pasti bakalan ada yang gasreg sama ending chapter ini, tapi semoga aja bisa nerima ya hehe.
mau lanjut apa the end hayuu?
review dan sarannya sangat saya butuhkan reader-nims.
XiRuLin.
