(XIX) chapter delapan belas


.

.

"Jadi? Apa yang harus kulakukan agar Ibu memaafkanku?"

"Emm.." Jungkook bergumam pelan, berpikir. Tangannya sibuk menyisir surai Taehyung, menariknya sedikit lalu memotongnya dengan gunting. Yeah, setelah tadi pagi menjemput Taehyung di depan sekolah itu, Jungkook membawanya ke apartementnya. Kekasihnya tentu saja menolak keras untuk kembali ke rumah berhubung Ia masih belum berbaikan dengan kedua orangtuanya. Jadi disini lah mereka, Jungkook yang sedang memotong rambut abu-abu Taehyung di ruang keluarga untuk mengisi waktu luang. Ia hanya sedikit memberi model.

Taehyung menyandarkan punggung di badan sofa, mendongakkan kepala untuk bertemu pandang dengan Jungkook yang duduk di atas sofa. "Apa menurutmu, aku bersikap seperti biasa saja?"

Jungkook mengedikkan bahu. Ia mendorong kepala Taehyung agar kembali tegak. "Aku tak pernah melihat Ibu mu marah, jadi tak tahu harus memberi saran apa." Tangannya menyingkirkan potongan rambut yang jatuh diatas bahu Taehyung, lalu kembali melanjutkan aktifitas. "Biasanya kalau Ibu mu marah, apa yang kau lakukan?"

"Tidak ada." Taehyung mendesah frustasi. "Kalau aku pulang dari rumah Jimin, dia pasti hanya langsung menyuruhku makan. Kita berbaikan tanpa disadari."

"Lalu? Kau kan tinggal bertindak seperti itu."

"Kasusnya sekarang berbeda, bocah. Aku harus berkata sesuatu agar dia kembali merestui hubunganmu denganku."

Pergerakan Jungkook terhenti, detak jantungnya menjadi cepat. Padahal kekasihnya mengucapkan hal tersebut dengan santai tapi Jungkook merasakan rasa hangat yang hinggap di dadanya.

Jungkook berdehem. "Kalau begitu minta maaf saja."

"Gila." Taehyung mendengus. "Perkataan maaf akan menjadi pilihan terakhirku."

Yang bersurai hitam memutar bola mata jengah. "Sombong."

Taehyung tertawa. Tangannya bergerak mengambil sebatang rokok di dalam kotak rokok diatas meja. Jungkook yang melihatnya refleks memungut pematik yang tergeletak di sebelahnya, lalu memberikannya kepada Taehyung. Keheningan tercipta. Hanya suara gunting Jungkook mengisi keheningan. Taehyung asik menyesap rokoknya.

"cookie, sudah selesai?"

Ibu Jungkook muncul dari pintu dapur, membawa senampan kue kering yang tersaji dengan rapi diatas piring antik milik anaknya. Bau lezat langsung menyapa. Senyum Taehyung merekah.

"Uwah, apa itu kue mentega, eomonim?" Taehyung menegakkan badan, menatap antusias. Ibu Jungkook tertawa, lalu menganggukkan kepala. di taruhnya piring tersebut di atas meja di dekat kedua remaja itu. "Ini spesial untukmu. Aku juga sudah menyiapkan satu toples untuk Solar. Jangan lupa membawanya saat pulang nanti ya, sayang."

Jungkook mendengus. "Si bodoh ini tidak berniat untuk pulang, eomma."

"Oh?" Ibu Jungkook mengangkat satu alis. Ia mendudukkan tubuh di samping Jungkook, menatap aktifitas anak semata wayangnya. "Jadi? Masih bingung mau berkata apa agar dapat berbaikan dengan Ibu mu, Tae?"

Taehyung mengangguk. Mulutnya kini sudah dipenuhi kue kering. Rokoknya tergeletak begitu saja di atas asbak, terlupakan.

Ibu Jungkook tertawa kecil. "Lebih baik minta maaf saja, Tae-ie. Sekali-kali lepaslah ego mu, lagipula Solar itu Ibumu, kan."

"Tidak, eomonim." Taehyung menghela nafas. "Ibu akan menjadikannya sebagai bahan ejekan suatu hari nanti kalau aku meminta maaf kepadanya."

"Apa salahnya, tolol." Jungkook menoyor kepala Taehyung dari belakang. "Minta maaf saja apa susahnya, sih."

Taehyung mendengus. "Kalau kubilang tidak ya tidak, bocah sialan."

"Oh, kau mengataiku sialan?" Jungkook menimpuk kepala Taehyung keras. Kekasihnya itu langsung saja mengaduh kesakitan. "Eomonim, Jungkook menyiksaku!" Adu Taehyung.

Jungkook menimpuk kepala Taehyung lebih keras. Taehyung mengerang, Ia membalikkan badan dengan cepat, menangkap kedua pergelangan tangan Jungkook. Tatapannya garang, namun Jungkook justru cengengesan. "Ampun, Tae. Ampun." Ia berkata sembari berusaha melepaskan genggaman Taehyung yang begitu erat.

"Kau butuh kuberi pelajaran, bocah." Taehyung loncat ke atas sofa, menyerang Jungkook dengan gelitikan. Jungkook seketika tertawa lepas, guntingnya terlempar ke lantai. Ia hilang kendali.

"Taehyung, sial! Taehyung! geli!" Jungkook berseru di sela sela tawanya, menendang – nendang badan Taehyung menjauh. Sayang sekali, badan Taehyung itu sekokoh batu.

Taehyung ikut tertawa. Ia beralih menggelitiki kaki Jungkook, dan kekasihnya semakin tertawa lepas. "Bilang maaf dulu padaku."

"Maaf, maaf!" Jungkook berseru cepat. "Tidak kuulangi lagi, brengsek!" Ia berusaha menahan pergelangan tangan Taehyung, menatap mata kekasihnya.

Taehyung tertawa, lalu mengangguk puas. "Baiklah, bocah pintar." Taehyung segera melompat turun ke lantai, kembali ke posisi semula. Jungkook menggerutu, mendudukkan tubuhnya.

"Eomma, lihat anakmu disiksa." Adu Jungkook, menoleh menatap Ibu nya yang ternyata ikut tertawa melihat interaksi dua sejoli di hadapannya.

"Kalian menggemaskan sekali." Ibu Jungkook berucap penuh afeksi. Senyum merekah di bibirnya.

Bola mata Jungkook yang bulat melebar. "Eomma¸ aku disiksa! Apanya yang menggemaskan?!"

Ibu Jungkook tertawa, menambah kadar cantiknya. "Siksaan seperti tadi itu disebut siksaan penuh sayang, cookie."

"Benar, eomonim." Taehyung tertawa geli. Ia mendongakkan kepala, menatap Jungkook. Ada sebuah seringai di bibirnya. "Karena itu siksaan penuh kasih sayang, sepertinya aku harus sering-sering melakukannya."

"Mati kau." Jungkook menimpuk wajah Taehyung dengan bantal sofa. Taehyung tertawa keras, juga Ibu Jungkook.

Tak ingin di bully lebih lanjut, Jungkook melanjutkan aktifitasnya memotong rambut Taehyung yang sudah hampir selesai. Taehyung juga tak lagi berbicara. Ia kini fokus dengan handphone di tangan, sementara sang Ibu kembali ke dapur.

"Tae." Jungkook memecah keheningan. Yang di panggil hanya bergumam menyahut.

"Setelah ini selesai, ayo kerumahmu."

Taehyung menghela nafas. "Tapi kau yang berbicara dengan Ibu?"

"Baiklah." Jungkook menyisir surai Taehyung. "Aku yang berbicara dengannya."

Senyum merekah di bibir Taehyung. Kekasihnya memang sangat dapat di andalkan.

"Sudah selesai." Jungkook berkata puas. Ia tersenyum, menatap hasil karyanya di rambut Taehyung. Surai kekasihnya kini lebih pendek, tak lagi menutupi lehernya. Tattoo JK nya terlihat dengan jelas.

"Oke, aku mau mandi dulu." Taehyung beranjak dari duduknya, kemudian meregangkan badan. Jungkook mengangguk, ikut berdiri. "Pakai handukku saja yang di kamar."

"Roger, bocah." Jawab Taehyung. Setelah mengusak surai Jungkook sekilas, Taehyung beranjak masuk ke dalam kamar mandi Jungkook.

Jungkook menatap kepergian Taehyung. Dalam hati ia berdoa. Semoga saja Ibu Taehyung tidak benar-benar marah padanya.

.


sincerely


.

"Ini rumahmu, Tae. Jangan tegang begitu."

Jungkook tertawa melihat Taehyung yang terlihat gugup. Pemuda bersurai abu-abu itu balas mendengus. "Aku tidak tegang. Hanya sedang bersiap untuk kemungkinan terburuk Ibu melemparkanku panci saat melihatku."

Jungkook semakin tertawa. Ia menoyor dahi Taehyung. "Ada aku, dia tidak akan melakukan itu." ucapnya, tersenyum lebar.

Taehyung tertawa. "Kau terlalu bermimpi, bocah."

"Kita lihat apa perkataanku itu benar atau tidak." Jungkook mengedikkan bahu, tertawa. Ia beranjak menaiki tangga rumah Taehyung. Dengan penuh percaya diri, Jungkook membunyikan bel.

"Ya, tunggu."

Bola mata Jungkook melebar. Ia segera beralih menatap Taehyung yang masih berdiri di bawah sana. "Ibu mu." ucapnya pelan. Taehyung mendesah frustasi. Kenapa pula harus Ibu nya yang membuka pintu?

Pintu cokelat itu perlahan terbuka. Ada Ibu Taehyung yang muncul di baliknya, menggunakan celemek dengan spatula di tangan. Matanya melebar. Sepertinya wanita itu juga terkejut dengan kehadiran Jungkook di hadapannya.

"Halo, Bu." Jungkook cepat-cepat membungkukkan badan, tersenyum lebar. "Lama tidak berjumpa. Kabar Ibu bagaima–"

"Taehyung tidak ada disini."

Jungkook terpaku. Tatapan Ibu Taehyung sangat dingin. Berbanding seratus delapan puluh persen dari Ibu Taehyung yang selama ini dia kenal. Entah mengapa, kini keringat dingin mulai mengaliri badannya. "A-ah" Jungkook tergagap. Ia menggeser badannya sedikit. "Aku datang bersama Taehyung, bu."

Ibu dan anak itu saling beradu tatap dalam diam. Namun akhirnya sang Ibu bersuara. "Terima kasih sudah membawa Taehyung. Sekarang kau boleh pulang. Jangan pernah datang kesini lagi."

Hening.

Bola mata Jungkook melebar. Ia tak sanggup berkata-kata lagi, mati kutu. Jantungnya seolah di remas, dan Jungkook merasakan rasa sakit yang sangat. Tatapan dingin juga ucapannya sudah jelas menyatakan bahwa Ibu Taehyung telah menutup hatinya untuk Jungkook.

Tanpa berkata apapun, Jungkook berbalik badan, melangkah turun. Airmatanya tergenang di pelupuk mata. Ia kecewa luar biasa. Perasaannya berkecamuk. Apa lagi yang dapat dia harapkan kalau bahkan orangtua Taehyung sudah jelas menolaknya?

"Ibu, aku minta maaf."

Langkah kaki Jungkook terhenti tepat di samping Taehyung. Ia melebarkan bola mata, dengan cepat menoleh menatap kekasihnya. Jungkook memastikan dirinya kalau ia tidak salah dengar barusan.

"Aku minta maaf karena sudah mengecewakan Ibu dan Ayah. Aku berjanji tidak akan meninggalkan claws lagi. Aku tidak akan sekolah lagi. Karena itu, restui kembali hubunganku dengan Jungkook."

Taman itu lenggang.

Dua tahun ia mengenal Taehyung, Jungkook sama sekali tidak pernah mendengar ucapan 'maaf' dari mulut preman itu, sekalipun tidak pernah. Ego Taehyung setinggi langit, sangat sulit untuk diruntuhkan. Dan, lihatlah sekarang. Taehyung mengucapkan kata ultimatum itu dengan mantap. Tak ada keraguan. Seolah hidup dan matinya bergantung dari kata tersebut sehingga ia berani meruntuhkan benteng egonya yang telah dia jaga bertahun-tahun, hanya demi menyelamatkan hubungan mereka berdua.

Jantung Jungkook berdetak cepat. Entah mengapa, Taehyung yang selalu terlihat brengsek di matanya kini menjadi lebih dewasa dan... keren?

Ibu Taehyung melipat kedua tangannya di depan dada. "Jadi kau menyesal?"

Taehyung menganggukkan kepala. "Ya, aku menyesal, Bu."

"Benar-benar menyesal?"

"Iya, benar-benar menyesal."

Wanita bersurai merah darah itu akhirnya tersenyum. Raut dinginnya luntur seketika, ia kembali menatap Taehyung dan Jungkook dengan tatapan penuh kasih sayangnya. Dengan jahil, Ibu Taehyung mengangkat handphone nya ke udara.

"Aku sudah merekamnya, Taehyungie~" ucapnya, tersenyum jenaka.

Taehyung spontan saja mengerang marah. Apa yang di takutkannya ternyata terjadi. "Ibu! Sial!" Ia bergerak cepat ke arah Ibu nya, dan tentu saja sang Ibu telah berlari lebih duluan. Tertawa lepas karena sudah berhasil mengerjai anaknya.

Namun sebelum itu, sang Ibu sempat tersenyum lebar ke arah Jungkook. "Ayo masuk, calon menantuku." Kemudian hilang di balik pintu.

Seolah ada beban batu diatas pundak Jungkook yang akhirnya terangkat. Ia menghela nafas lega. Senyumnya merekah. Syukurlah semuanya berjalan baik-baik saja.

.


sincerely


.

"kali ini aku benar-benar tidak percaya diri, bocah."

Taehyung menahan tangan Jungkook yang berjalan dengan santai ke arah pintu raksasa di hadapan mereka. Jungkook menolehkan kepala menatap kekasihnya yang kini sudah memasang raut wajah memelas.

"Kita tunda saja jadi besok."

Jungkook mendengus. "Tidak. Apapun yang terjadi, kau harus berbaikan dengan claws hari ini."

"Brengsek." Taehyung meledak juga. Ia menghempaskan tangan Jungkook kasar. "Oke, aku berbaikan dengan mereka hari ini."

Walau Taehyung tampak emosi Jungkook tetap tersenyum lebar. Setidaknya Taehyung mau berbaikan dan meruntuhkan dinding ego nya.

Pintu markas itu terbuka tepat sebelum Taehyung membukanya. Keduanya terkejut, juga pemuda di balik pintu tersebut. Ternyata Jimin.

Taehyung berdehem canggung. "Oi, Jim." Ia mengangkat tangan.

Jimin mendengus. Dengan kecepatan bak angin, pemuda bersurai orange itu menendang tulang kering Taehyung sekeras yang ia bisa lalu setelahnya melenggang tak peduli, mengabaikan rintihan kesakitan Taehyung.

"Fuck it, Park Jimin!" Taehyung berseru kesal. Jimin yang sudah berdiri agak jauh akhirnya tertawa lepas. Ia bahkan sampai jatuh di rumput, terpingkal sembari memegang perutnya. Entah apa yang dia tertawakan, Jungkook tak mengerti. Taehyung dengan langkah terpincang segera menerjang Jimin, mereka berakhir saling adu tinju di atas rumput. Namun begitu, keduanya tertawa lepas sekali.

Andrew muncul dari balik pintu. Ia berjalan ke arah Jungkook, ikut tertawa. "Lihat, Jungkook. Chim akhirnya hidup kembali. Apa kau tidak cemburu?"

Jungkook tertawa. "Hal seperti ini tak patut di cemburukan. Mereka berdua terlihat seperti duo idiot."

Keduanya tertawa lagi. Satu per satu preman-preman itu muncul dari balik pintu. Beberapa meneriaki Taehyung dan Jimin yang asik bercengkrama sambil duduk di atas rumput, melepas rindu. Jungkook menolehkan kepala. Tidak biasanya ia melihat seluruh anggota claws bersiap begini.

"Kalian mau kemana?" Taehyung akhirnya bertanya setelah beranjak dari bangkitnya dan kini sudah berdiri di samping Jungkook. Menatap Andrew.

"Hell Arena." Jawab Andrew. Ia sibuk mengatur pemuda-pemuda itu untuk cepat masuk ke dalam mobil mobil mereka. "Kau harus tahu, V. Dilan akhirnya mendapat giliran juga." Lanjutnya dengan senyuman di bibir.

Taehyung menaikkan satu alis. "Dilan akan menentukan harganya?"

Andrew mengangguk. Sembari berjalan dan Taehyung dan Jungkook yang mengikutinya dari belakang, Andrew lanjut menjelaskan. "Ini sangat tidak di sangka-sangka. Kau tahu lah, kita semua berpikir tidak akan ada yang tertarik pada bocah itu. namun dua hari yang lalu, ada surat datang dari Ayahmu. Ternyata Iran tertarik dengan Dilan. Akhirnya penentuan harga ini di adakan secara mendadak. Kebetulan ada anggota SWS yang juga sedang menentukan harga, jadi sepertinya Dilan akan melawan mereka."

Jungkook menggumamkan woah pelan. Ia melirik Dilan yang berjalan ceria di temani Gerr dan Vernon di sebelahnya. Tidak akan ada yang menyangka kalau Dilan memakai satu kaki palsu di kakinya sekarang. Ia berjalan normal, tanpa beban. Pelatihannya berhasil sempurna. Bahkan setahu Jungkook, Dilan sudah mulai kembali mengendarai motor besarnya. Taehyung segera melangkah mendekati member termuda claws itu, merangkulnya. Keempat pemuda itu tertawa bersama. Hwan dan Kwon ikut bergabung beberapa saat kemudian. Taehyung spontan saja memeluk si kembar itu begitu erat. Entah apa yang ia katakan, namun Hwan dan Kwon menanggapinya dengan tawa, mengusak surai Taehyung. Sepertinya mereka telah berbaikan.

"Apa sistem penentuan harga itu penting?" Jungkook bertanya pelan. Tatapannya tak lepas dari interaksi Taehyung dengan teman-temannya.

"Tentu saja. Harga mu menentukan seberapa hebat dirimu di dunia per-preman-an. Ah ngomong-ngomong, kau akan ikut dengan kami ke Arena?"

Langkah kaki Jungkook terhenti. Ia beralih menatap Andrew. "Arena? Maksudmu, tempat kalian saling adu gulat itu?" Jungkook bertanya ragu.

Andrew mengangguk. "Ya, benar. Kami akan kesana. Pertandingan Dilan 1 jam dari sekarang."

Jungkook mengusap tengkuknya. "err.. akan kurundingkan dengan Taehyung dulu." Setelahnya, ia berlari ke arah Taehyung. Andrew tertawa kecil.

"Tae, kau ikut ke Arena?"

Obrolan keenam pemuda itu terhenti. Taehyung melepaskan rangkulan Hwan dan segera berjalan mendekati kekasihnya. "Tentu saja aku ikut, bocah. Ayo, kuantar pulang dulu."

Saat Taehyung hendak menggenggam tangannya, Jungkook lebih dulu mengangkat tangan. "Aku ikut denganmu."

Perempatan muncul di dahi kekasihnya. Taehyung menatap lekat-lekat Jungkook. "Kau serius mau ikut?"

"Iya." Jungkook mengangguk mantap. "Setidaknya, err, aku harus melihat bagaimana adu gulat itu sekali seumur hidupku."

Mendengarnya, Taehyung tertawa. Tangannya bergerak mengusak surai hitam Jungkook. "Baiklah, kau ikut."

"Lagipula banyak yang ingin bertemu denganmu, Jungkook." Vernon yang sedari tadi mendengar percakapan Jungkook dan Taehyung angkat bicara.

Jungkook mengeryit. "Bertemu denganku?"

"Iya, bertemu denganmu." Jawab Dilan. Ia tertawa. "Semua orang selalu bertanya-tanya bagaimana tampang kekasih si brengsek V, sampai-sampai ia rela badannya dipenuhi tattoo bertuliskan JK."

Hwan ikut tertawa. "Benar. Mungkin kau akan langsung menjadi pusat perhatian disana. Kekasihmu kan seterkenal barrack obama."

Jungkook merasakan bulu kuduknya meremang. Ia cepat-cepat mengejar Taehyung yang sudah berjalan duluan ke motornya, lalu segera menautkan tangan mereka. "Tae, jangan pernah pisah dariku disana."

Taehyung menatap Jungkook dengan dahi terlipat. "Apa-apaan?"

"Jangan. Melepaskanku." Jawab Jungkook. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seramnya disana nanti. Bagaimana kalau ada yang akan menculikku, atau meninjuku?! Atau mereka melakukan hal – hal menyeram–"

"Heh, cerewet." Taehyung menimpuk kepala Jungkook. Ia mendengus. "Tidak akan ada yang menyakitimu, tolol. Wajahmu itu tidak mengundang gairah sama sekali. Aku bahkan tak yakin kehadiranmu disana akan di sadari atau tidak."

"Ha?!" Jungkook menatap Taehyung tak percaya. Wajahnya merah padam. Dengan kasar ia melepas tautan tangan mereka, berjalan cepat mendahului Taehyung. "Iya, aku jelek! Puas kau?! Jangan pacaran denganku lagi!"

Bukannya merasa bersalah, Taehyung justru tertawa keras. "bocah, jangan sok marah begitu. Kau mau berangkat naik apa kalau tidak ku bonceng."

Arah kaki Jungkook berubah haluan, ia berbalik badan dan berjalan cepat. "Aku akan ikut di mobil Andrew, dasar brengsek!"

Tawa Taehyung semakin meledak. Ia segera menangkap badan Jungkook yang hendak melewatinya, langsung merangkul pemuda itu dengan satu tangannya yang kekar. Taehyung refleks mendaratkan ciuman di pipi Jungkook, cukup lama. "Kenapa kau jadi cepat ngambek seperti ini, hah? Sedang datang bulan?"

"Taehyung, mau kucincang?!" Jungkook melototkan mata. Kekasihnya tertawa, mengangkat kedua tangan ke atas. "Ampun, boss."

Setelahnya, ia menarik Jungkook ke motor ninja putihnya. Jungkook masih menggerutu kala menerima uluran helm dari Taehyung. Namun ketika si ninja putih kebanggaan Taehyung itu membelah jalanan bersama motor Dilan dan Jimin yang berada di depan mereka, saling balap-balapan dan tertawa bersama mengabaikan teriakan pengemudi lain yang harus berhenti secara terpaksa agar menghindari kebutan ketiga motor itu, hanya perasaan bahagia dan kebebasan yang meliputi diri Jungkook. Sekarang ia tahu, makna kebebasan yang Taehyung rasakan selama ini.

.


sincerely


.

"V!"

Taehyung baru saja memberhentikan motornya di parkiran saat sebuah suara sudah menyapanya. Taehyung segera melepas helm, mencari arah suara. Senyumnya merekah. "Oh, Vick!"

Jungkook melihat seorang pemuda bersurai merah terang yang berjalan mendekat. Penampilannya menyeramkan dengan tattoo yang benar-benar memenuhi badan dari ujung leher hingga ujung kaki juga tindiknya yang tak hanya di telinga, namun juga di bibir dan lidah.

Pemuda bersurai hitam itu bergidik ngeri. Bagaimana bisa Taehyung mau mengenal pemuda macam ini?

"Lama tidak berjumpa, V." Yang bernama Vick itu memeluk singkat Taehyung. Taehyung mengangguk, tertawa. "Yah. Audy mengatakan kau sudah sakaratul maut sekarang. But bruh, lihat dirimu. Sehat melebihi diriku."

"Narkotika yang kugunakan memang begitu." Vick mengedikkan bahu, ikut tertawa kecil. "Mungkin dua minggu lagi kau akan melihat namaku di batu nisan. Pertunjukan Dilan akan menjadi pertunjukan terakhir yang kunonton."

Taehyung terdiam. Ia tersenyum penuh arti, tangannya menepuk pundak Vick dua kali. "Selamat bahagia di sana, Vick. Aku akan merindukan segala umpatanmu."

Vick tertawa kemudian mengangguk. Mereka kembali berpelukan singkat, dan Taehyung segera menarik tangan Jungkook untuk jalan masuk ke dalam Arena.

Jungkook masih melirik penasaran ke arah pemuda yang tadi bersama kekasihnya. "Dia akan meninggal?"

"Begitulah."

"Bagaimana kau tahu? Dia tampak sangat sehat."

"Pengaruh narkobanya." Taehyung mendengus. "Tubuhnya sudah digerogoti 98% oleh narkoba. Tak dapat diselamatkan. Untuk datang kesini, Vick pasti telah berjuang antara hidup dan matinya."

Jungkook tertegun. Selain menyeramkan, ternyata dunia ini juga sangat rentan dan berbahaya. Genggaman Jungkook di tangan Taehyung mengerat. Ia berjanji dalam hati, tidak akan membiarkan Taehyung bernasib seperti itu.

"Holly boddy molly, it's V!"

Kali ini, suara wanita menyapa mereka. Ada gerombolan wanita berbaju seksi yang sedang duduk di anak tangga, meneguk bir dari botol. Bibir mereka yang dipolesi lipstick merah menyala tertarik keatas dengan sempurna begitu melihat kedatangan Taehyung.

"Bloody hella, kau datang, V?" Wanita dengan rambut biru sebahu berjalan mendekati Taehyung. Perempatan tercipta di kening Jungkook kala Taehyung menanggapi dengan santai tingkah wanita-wanita itu yang telah menempel di badannya.

"Yah, Dilan tanding hari ini. Tentu saja aku akan datang."

"Kau hanya akan datang kalau anak claws yang bertanding." Yang berambut kuning sepuggung menyandarkan kepala di bahu Taehyung, merajuk. "Kemarin padahal keren sekali. Ada anak baru dari BGY yang berhasil melumpuhkan Gabriel."

"Gabriel?" Taehyung tertawa, matanya melebar. Ia menatap wanita itu. "Kau serius, Grace? Gabriel di kalahkan anak baru dari BGY? Kumpulan sampah itu?"

"Iya." Jawabnya. Mereka tertawa bersama. "Kau harusnya datang menonton Gabriel yang berkelahi seperti orang kerasukan. Astaga, Seru sekali."

"Kami semua menunggu kedatanganmu padahal."

Taehyung tertawa. Ia mengacak satu-satu surai wanita yang berada di sekelilingnya, lalu melepas pelukan mereka secara perlahan. "Aku ada urusan dengan bocahku."

"Kekasihmu?" Yang bersurai hitam dengan model kepang mendengus. "Kau kapan memperkenalkan si bocah itu pada kami? Jangan bilang ternyata dia memang anak kecil berumur 6 tahun." Ucapnya sarkas. Wanita itu tak sadar kalau yang orang yang sedang di ejeknya itu sedang berdiri dengan amarah tersulut dibelakangnya.

Taehyung tertawa keras sekali, namun bukan karena ucapan wanita tersebut, melainkan ekspresi marah Jungkook yang seolah sudah hendak memakan bulat-bulat Taehyung yang sedari tadi mengacuhkannya.

Preman itu berjalan mendekati Jungkook. Wanita-wanita itu tentu saja mengikuti arah langkah kaki Taehyung. Mereka mengeryit kala Taehyung langsung merangkul erat seorang pemuda asing bersurai hitam tanpa tindik dan tattoo di tubuhnya. Jungkook terkesiap.

"Siapa dia?" Yang berambut biru tua mengangkat satu alis, menatap tajam ke arah Jungkook.

Taehyung tersenyum lebar. "Ini Jungkook. Kekasihku."

Lenggang.

Wanita itu menatap Jungkook dengan berbagai tatapan. Ada yang menatap kaget, tak suka, memuja, juga lain sebagainya.

"For the god sake!" Wanita bernama Grace tadi melangkah mendekati Jungkook. "Astaga, dua tahun kami selalu ingin bertemu denganmu. Akhirnya kau datang juga! Maaf tidak menyadari kehadiranmu tadi!" Ucapnya dengan senyum lebar.

"Kau manis sekali!" Yang berambut kepang berteriak histeris. Ia menutup mulutnya dengan tangan, dramatis. "Astaga, Astaga. Kau manis sekali. Bagaimana bisa V mendapat pemuda semanis dirimu?!"

"Ini namanya keberuntungan, baby." Taehyung tertawa. "Aku harus segera naik. Sampai bertemu di dalam."

Tak menghiraukan teriakan fangirling dari wanita-wanita tersebut, Taehyung melangkah menaiki tangga sembari merangkul Jungkook. Sedikit di paksa sebenarnya, karena Jungkook terlihat ogah-ogahan di rangkul seperti ini oleh Taehyung.

Preman itu melirik kekasihnya yang asik dengan handphone di tangan. "Kau datang disini untuk bermain handphone atau menonton duel?"

"Mencari gadis seksi yang cantik." Jawab Jungkook ketus. Mendengarnya, Taehyung tertawa keras sekali. Ia mengusak surai Jungkook secara brutal. Kekasihnya mengerang marah namun tak dipedulikan oleh sang pelaku.

"Jadi begini ya, Jeon Jungkook versi cemburu."

Jungkook mengeryit tak suka. "Aku tidak cemburu."

"Oh, ya?" Taehyung tertawa lagi. "Yeah, tidak masalah kau cemburu. Tapi kalau berlebihan, tak kan ku biarkan."

Ekspresi Jungkook semakin datar. Ia segera melepas rangkulan Taehyung di pundaknya kemudian berjalan menaiki tangga dengan cepat. Gelak tawa Taehyung mengisi lorong sempit ini. Preman itu menyusul langkah kaki kekasihnya, kembali merangkul Jungkook dan menyeretnya menuju sebuah pintu yang terbuat dari marmer silver di ujung tangga.

Saat pintu terbuka, hiruk pikuk langsung menyerbu. Jungkook terkejut luar biasa. Bunyi lagu rock di setel melalui speaker dengan volume yang terlalu kencang, teriakan orang-orang di dalam ruangan dengan tangan yang melambaikan syal atau sejenis bendera yang Jungkook tak tahu itu apa, juga suara mc di atas panggung – sebenarnya lebih mirip seperti ring tinju – yang sibuk memandu perkembangan pertandingan tinju di atas panggung tersebut. Ada dua pria di atas ring, saling meninju secara brutal. Babak belur, baju robek, berdarah – darah, tapi tak ada yang ambruk. Keduanya berjuang sekuat tenaga diiringi sorak-sorakan dari penonton di bawah panggung. Yang Jungkook dapat dengar hanya lah berbagai macam umpatan dari tiap mulut di dalam ruangan remang-remang itu. Penampilan mereka jauh dari kata baik. Seram, menakutkan. Tak ada yang tak menggunakan tindik ataupun tattoo baik itu wanita ataupun pria. Bau rokok, alkohol, vodka, coctail, semua bercampur jadi satu. Tak menyenangkan untuk di hirup. Kepala Jungkook pening.

"Bocah, kau baik-baik saja?"

Jungkook terkesiap dari lamunannya. Taehyung ternyata sedang menatapnya heran. "Kau kenapa? Sakit?"

"Tidak." Jungkook menggeleng. Tangannya dengan terburu-buru merayap mencari jemari Taehyung, kemudian menautkan tangan mereka erat. "Ini lebih menyeramkan dari yang kubayangkan." Jawab Jungkook, mengeryit tak nyaman.

Taehyung tertawa kecil. "Kau benar-benar tidak suka suasana seperti ini, ya."

"Tentu saja." Jungkook mendengus. Ia sedikit merapatkan badan ke Taehyung saat dua pria berbadan kekar dengan tampang sangat menyeramkan lewat di sampingnya. Jungkook rasa kalau dia melakukan kontak mata sekali saja dengan pria tadi, dia pasti langsung ditinju. Horror.

Taehyung melihat dengan baik tingkah laku Jungkook yang gelisah, namun preman itu hanya tertawa. Tangannya bergerak mengusak surai Jungkook. "Padahal kau belum melihat dari dekat ring, tapi sudah ketakutan begini."

Jungkook melototkan mata. "Aku tidak takut. Hanya kurang nyaman."

"Oh, ya?" Taehyung tertawa lepas. "Kalau begitu saat pertandingan Dilan nanti, kita akan berada di barisan paling depan."

"Eh?!" Bola mata bulat Jungkook melebar sempurna. Ia menghempaskan genggaman tangannya di Taehyung, menatap garang. "Kenapa harus di depan?!"

"Biasanya teman se-gank orang yang sedang bertanding memang akan berdiri di barisan paling depan."

Ada suara lain yang menjawab dari belakang Jungkook, dan pemuda itu langsung saja berbalik badan sigap. Refleks untuk melindungi diri, sebenarnya.

"Ah, ternyata Andrew." Jungkook mendengus kesal saat wajah Andrew yang sedang tersenyum lebar terpampang di matanya. Andrew tertawa. "Jangan tegang begitu, Jungkook. Kau harus tahu, suasana seperti ini lah suasana favorit kekasihmu."

Jungkook kembali mendengus. "Dasar preman. Tidak normal."

Taehyung tergelak di ikuti Andrew. Setelah menggoda Jungkook beberapa hal, Andrew pamit ketika seorang wanita berpenampilan gothic datang dan menarik tangan pemuda bule itu dengan terburu-buru. Tatapan Jungkook tak dapat lepas dari cara Andrew yang tertawa bersama wanita aneh itu, dan bola mata Jungkook kembali melebar saat Andrew merundukkan sedikit kepalanya untuk mencium wanita tersebut.

"Apa yang kau lihat?"

Jungkook kembali terkesiap. Ia segera membalikkan badan dan mengibaskan tangannya. Tersenyum grogi ke arah Taehyung. "Tidak, tidak apa-apa."

Pandangan Taehyung beralih ke belakang Jungkook sekilas, lalu ia kembali menatap kekasihnya. Seringainya merekah. "Terkejut dengan apa yang kau lihat?"

"T-tidak juga." Jawab Jungkook canggung. Tapi bukan Taehyung namanya kalau tidak mengambil kesempatan ini untuk menggoda Jungkook.

Taehyung merangkul Jungkook tiba-tiba, lebih erat dari rangkulan sebelumnya. Jungkook tentu saja terkejut. "Tae, lepas!" ia berseru kesal.

"Tidak mau." Taehyung mendekatkan wajahnya ke wajah Jungkook hingga ujung hidungnya telah menyentuh pipi kekasihnya. Jungkook mematung, gugup luar biasa. Ia bahkan menahan nafasnya tanpa sadar.

Taehyung menyeringai. "Bagaimana kalau aku menciummu seperti Andrew juga?" bisiknya di telinga Jungkook.

"T-Tae–"

"Holy shit! Apa aku baru saja melihat V yang hendak mencumbu seorang pemuda manis di rangkulannya?!"

Suara yang berasal dari pengeras suara itu refleks membuat Taehyung menjauhkan badan cepat, hampir terjungkal kebelakang saking kagetnya. Jungkook tak berbeda jauh. Ia hampir saja terkena serangan jantung akibat pekikan nyaring seseorang yang sedang menggunakan mic.

Belum selesai keterkejutan Jungkook, beberapa preman kini telah mengerubungi mereka. Lebih tepatnya mengerubungi Taehyung.

"Uwah! V! Siapa ini?!"

"Ada apa ini, sejak kapan kau berani merangkul pria selain teman segankmu?!"

"Apa akhirnya gairah mudamu membara, punk?"

Taehyung di serang pertanyaan beruntun. Ada beberapa pemuda yang Jungkook tak kenal mengusak surai Taehyung secara brutal dan membuatnya kekasihnya mengerang marah. Seringai terpatri di bibir mereka semua, menggoda Taehyung habis-habisan.

"Aish, sial!" Taehyung melepaskan secara paksa rangkulan preman-preman tersebut. Dengan garang, ia mengacungkan jari tengah ke arah mc yang ternyata adalah orang yang tadi berteriak histeris melalui pengeras suara. "Mati kau, bulk!"

Preman-preman di ruangan itu tertawa. Si bulk – MC itu – ikut tertawa tanpa rasa bersalah. Ia mendekatkan mic di bibirnya. "Maafkan aku, V. Aku hanya terkejut si singa betina kesayangan kita ini akhirnya jadi jantan juga." Ucapnya melalui mic. Suaranya tentu saja di dengar satu ruangan.

Orang-orang tertawa semakin keras.

"V, selamat karena sudah mimpi basah!" seorang pria berumur sekitar 20 tahun-an yang berambut cepak warna merah darah berseru dari seberang, tempat bar. Suaranya cukup keras, jadi orang-orang mendengarnya.

"Yah, kuharap kau dapat menghasilkan anak banyak-banyak!" kali ini pemuda bersurai kuning terang dengan gaya spooky ikut menimpali. Gelak tawa kembali terdengar. Semuanya saling bergantian bersahut-sahutan untuk menggoda Taehyung, dan kekasih Jungkook itu sibuk melempari mereka dengan kaleng soda kosong yang kebetulan menumpuk di belakangnya. Mengumpat diiringi tawa.

Dalam kurun waktu singkat, Taehyung telah menjadi pusat perhatian. Jungkook mengedarkan pandangan. Semua mata ternyata tertuju ke arah kekasihnya. Ia dapat melihat Jimin yang duduk di kursi bar bersama Vernon dan Gerr dengan gelas wine di tangan mereka ikut tertawa lepas atas pembullyan Taehyung secara massal, juga anggota claws yang lain yang juga tertawa terpingkal-pingkal di berbagai sudut ruangan. Andrew bersandar di dinding dengan wanita aneh tadi di rangkulannya, tersenyum penuh afeksi ke arah Taehyung.

Jungkook tertegun. Pandangannya beralih menatap punggung Taehyung yang berdiri membelakanginya, dikerumuni orang-orang.

'Suasana seperti ini lah suasana favorit kekasihmu'

Perkataan Andrew terngiang.

Benar juga. Kekasihnya tampak sangat hidup di sini, berbaur dengan orang-orang menyeramkan, di sayang dan di banggakan. Taehyung pasti suka tinggal disini lebih lama. Di tempat ini, hanya ada preman. Asli dunia preman. Dunia Taehyung. Mereka bebas melakukan apa saja, tertawa sekencang mungkin, saling meninju sampai babak belur, berbagi kisah dan minum bersama, juga terlihat saling berbagi kasih sayang. Tak ada yang saling membenci, semua tatapan itu penuh arti persahabatan dan kebersamaan.

Jungkook merasakan matanya memanas. Senyum Taehyung sangat lah tulus, seperti hal nya senyum yang selama ini hanya dia tujukan untuk Jungkook. Tak ada beban. Hanya perasaan bahagia dan merasa di cintai lah yang kini ia rasakan.

Senyum Jungkook ikut merekah begitu lebar. Ia senang melihat Taehyung sebahagia ini. Dan fakta kalau Taehyung mendapat tempat tersendiri di kerumunan ini membuat hati Jungkook menghangat. Taehyung di lindungi. Banyak yang mencintainya. Ia akan baik-baik saja.

"Hei, jadi kenalkan kami dengan pemuda ini."

Akhirnya giliran Jungkook tiba juga. Jungkook terkesiap, rasa gugup dan takut langsung hinggap saat seluruh mata tertuju ke arahnya. Taehyung menolehkan kepala, menatap Jungkook yang berdiri kaku.

"Aish, jangan mengganggunya." Taehyung berjalan cepat ke arah Jungkook dan segera melingkarkan tangan di bahu kekasihnya. Beberapa preman itu berseru 'uwaah' dengan tatapan jahil, tapi Taehyung hanya mendengus.

"Aku sudah pernah bilang kan kalau aku punya kekasih. Nah, ini orangnya. Namanya Jungkook."

Sorak-sorakan jahil langsung saja menggema memenuhi ruangan itu. Jungkook yakin wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus. Astaga, dia tidak pernah menyangka akan di perkenalkan seperti ini di hadapan puluhan orang!

"Wah, aku bisa saja menangis sekarang saking terharunya melihat si berandal V akhirnya menemukan orang yang dia cintai juga." Sang MC itu kembali berbicara, berpura-berpura menghapus airmata di matanya. Orang-orang tertawa lepas. Senyumnya merekah lebar, dan ia menatap Jungkook tepat di mata. "Salam kenal, Jungkook. Aku rasa ini pertama kalinya kau datang kesini, jadi semoga kau terbiasa dengan segala kebringasan kami. Seperti yang kau ketahui, ini adalah Hell Arena. Tempat para preman seperti kami menentukan harga kami, menentukan siapa yang paling kuat di antara kumpulan sampah ini." Beberapa mengumpat atas perkataan Bulk, tapi ia hanya tertawa. "Nah, kau pasti sudah sadar kalau kekasihmu sangat terkenal disini. 7 tahun V telah menjadi bagian dari kami, dia tumbuh bersama Hell Arena. Kami melihat dengan baik ia yang dulunya hanya lah bocah ingusan yang tergila-gila dengan tattoo akhirnya perlahan tumbuh menjadi remaja yang gagah dan sangat membanggakan. Tinju nya dijuluki tinju emas, butuh setidaknya empat orang untuk menjatuhkan kekasihmu di ring ini. Ia aset berharga. Bocah brengsek berharga."

Bulk mengeratkan genggamannya di mic. Senyumnya semakin mengembang. "Karena itu, tolong jaga baik-baik si brengsek V itu. Aku yakin dia pasti sangat kaku dan tak tahu memperlakukanmu secara romantis layaknya Andrew yang sedang asik mencumbu Bella di sudut ruangan sana–oke, jangan membunuhku, Andrew.–Yah, tapi satu hal yang harus kau tahu. Kekasihmu itu orang yang sangat bersungguh-sungguh. Saat V menyukai suatu hal, dia akan benar-benar menyukainya. Jadi, sayangi si brengsek itu sebaik mungkin, ya?"

Tanpa menunggu denting waktu yang berbunyi, Jungkook langsung menganggukkan kepala. tersenyum sangat manis. Ia mengangkat jempol ke arah Bulk. "Serahkan padaku." Jawabanya dengan cengiran lebar hingga gigi kelincinya terlihat.

Taehyung seolah merasakan nafasnya yang ditarik paksa, tercekat di kerongkongan. Hal yang sama di rasakan orang-orang di dalam ruangan itu. Senyum Jungkook yang begitu tulus dan sangat lugu merenggut nafas mereka, menyisakan rasa kagum dan gemas luar biasa di dalam hati.

Taehyung ikut tersenyum lebar. Ia mengusak surai Jungkook. Kekasihnya itu menggerutu, tampak malu. Beberapa preman segera mengerumuni Jungkook dan Taehyung, tertarik akan kekasih preman muda itu. Suasana kembali normal. Bulk di gantikan oleh MC lain yang akan memandu pertandingan Dilan. Anggota claws yang tadinya berpencar segera berkumpul di barisan depan. Mereka tak henti-hentinya menggoda Taehyung, dan Jungkook merapatkan badan di Taehyung, menautkan tangan mereka erat-erat. Pertandingan Dilan di mulai. Jungkook tanpa sadar ikut menyoraki Dilan bersama anggota claws yang lain, dan syukurlah pemuda termuda di gank mereka itu menang. Harganya menginjak 670 juta. Semua bersorak senang. Senyum melebar di bibir Jungkook, ikut merasa bahagia.

"Seperti malaikat."

Andrew menolehkan kepala, menatap wanita di sampingnya. Ia menaikkan satu alis. "Apanya?"

Wanita itu – Bella, tersenyum hangat. Tatapannya tak lepas dari Jungkook yang sedang di kelilingi juniornya, Jungkook terlihat gugup, walau begitu senyumnya tetap mengembang di bibir. "Kekasih V itu. dia seperti malaikat yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidup seorang iblis."

Andrew ikut menatap Jungkook. Terpatri senyuman di bibirnya. "Yah, kau benar."

"Aku dapat melihatnya,"

mereka berdua memang takdir."

.

.

.


To Be Continued


huwaaa maaf saya telat update nya hehehe. saya habis ikut lomba nulis esai kemarin, persiapannya seminggu. capek saya lihat tulisan mulu T^T yeah walau ga menang sih hehehe. but! seneng banget baca review kalian! semangat deh buat selesain chapter ini kkkk.

mauu lanjut? review review review! nurun nih yang ngereview:( percayalah, lihat dark siders itu sakit banget heheu.

(by the way, i want to say thanks to Pecinta VKOOK yang selalu setia review dan cinta semua ff saya. makasihhh banyak! salah satu alasan saya untuk melanjutkan fanfiction ini karena ada pecinta vkook-nim yang membuat saya merasa harus kembali menulis! se nggaknya saya ga mau membuat satu orang menunggu gara-gara fiction saya hehe. thankyou kak atas semua review nya yang nyemangatin banget! semoga kakak tetap suka baca fiction saya ya hehe~)

review dan sarannya sangat saya butuhkan, reader-nims.

XiRuLin.