(XX) chapter sembilan belas.


.

.

"Arsitektur modern tidak bermula dengan revolusi yang dengan tiba – tiba membuang yang pra modern dan menggantinya dengan geometris sebagai satu – satunya rupa arsitektur, tetapi secara setahap demi setahap menghapuskan ornamen – ornamen dan dekorasi yang digantikan oleh geometri. Arsitektur modern diketahui telah berkembang lebih kurang setengah abad, berawal kira – kira tahun 1920 hingga 1960. Arsitektur modern mulai berkembang sebagai akibat adanya perubahan dalam teknologi ,sosial, dan kebudayaan yang dihubungkan dengan Revolusi Industri pada 1760 hingga 1863 . Pada umumnya perubahan-perubahan di dalam bidang arsitektur selalu didahului dengan perubahan dalam masyarakat, karena itulah Revolusi Industri juga berakibat pada perubahan dalam masyarakat yang mempengaruhi timbulnya arsitektur modern. Sebagai contoh Perubahan dalam bidang teknologi bangunan terutama dalam bidang konstruksi atau struktur bangunan."

Jungkook menekan tombol di remote proyektor dan layar menayangkan slide baru. Pemuda itu tersenyum, kembali menatap wajah-wajah di hadapannya. "Salah satu tokoh Arsitektur terkenal di dunia adalah Antonio Gaudi yang berasal dari Spanyol. Petualangan didunia arsitekturnya dimulai ketika ia bersekolah di Escola Tecnica Superior d'Arquitectura di Barcelona. Pada tahun 1878, karena gaya seni yang dianggap masih orisinil, Eusebi Guell salah satu orang berpengaruh di Barcelona, tertarik dengan karya Gaudi dan sekaligus sebagai awal mula dikenalnya Gaudi dalam dunia arsitektur modern. Karya – karyanya seperti The Temple Expiatori de la Sagrada Família, Cassa Batillo, dan Cassa Milla telah menjadi legenda dunia."

"Jadi, kesimpulannya adalah Arsitektur Modern telah membawa perubahan yang signifikan terhadap dunia Ke-arsitektur-an. Selain membawa banyak manfaat dan keuntungan, Arsitektur modern lebih sesuai dengan zaman dan nilai estetiknya pun lebih tinggi. Maka dari itu, Presentasi saya ini saya dasarkan dari keinginan saya untuk mengembangkan Arsitektur Modern di bangunan-bangunan di Negara kita sekarang, karena seperti hal nya motto para tokoh Arsitektur Modern dunia, – " Senyum Jungkook yang menawan terpatri di wajahnya. "True is beauty. Kita harus memperlihatkan kejujuran dari bangunan, tanpa menutupinya dengan ornamen atau pun pernak-pernik yang dapat menutupi kejujuran suatu bangunan dengan nilai estetik yang nyata. Sebuah kejujuran pasti akan membawa keuntungan yang berkali lipat lebih banyak."

Tatapan Jungkook beralih ke arah Dosennya yang berdiri tak jauh darinya, menatap dengan cermat presentase Jungkook dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Senyum yang menghiasi wajah pria tua itu akhirnya membuat Jungkook dapat menghela nafas lega. Sepertinya presentasinya hari ini berjalan lancar.

Jungkook tersenyum semakin lebar. "Cukup sekian presentasi dari saya. Semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman, juga dapat membawa perubahan baru dari dunia ke-aksitekturan Korea Selatan. Terima kasih."

Tepuk tangan menggema di dalam ruangan berdiamete itu. Teman-teman kampusnya terlihat menyukai presentase Jungkook. Beberapa bahkan meninju bahu Jungkook jahil saat pemuda itu beranjak ke kursi nya. Jungkook tertawa kecil.

"Seperti biasa, Jeon Jungkook tidak akan pernah mengecewakanku." Sang Dosen angkat bicara. Senyumnya masih hadir di wajah. "Baiklah, Sisa presentasi yang lain akan di lanjut pada pertemuan berikutnya."

Beberapa mahasiswa itu mengucapkan terima kasih, membungkuk hormat kepada dosen mereka. Kelas yang tadi nya sunyi kini kembali hidup, para mahasiswa sibuk menanyakan menu makan siang hari ini atau membahas tentang kerja kelompok mereka nanti.

"Ah, Jeon Jungkook."

Kegiatan Jungkook yang sedang memasukkan buku nya ke dalam tas terhenti, Ia beralih menatap dosennya yang terdiam di depan pintu, juga sedang menatapnya. Dosen itu memperbaiki letak kacamatanya sekilas. "Minggu depan, aku mau kau yang mengisi materi ku di kelas ini."

Eh?

Lenggang.

"Saya, Prof?" Tanya Jungkook memastikan diri, dan sebuah anggukan menjadi jawabannya. "Ya. Dari yang ku lihat, kau sudah menguasai materi untuk bab ini. Tidak ada salahnya kan kau menjadi pemateri, memandu teman-temanmu dalam mempresentasikan tugas mereka."

Pemuda bersurai hitam legam itu mengerjapkan mata, bingung hendak bereaksi seperti apa. Teman kelasnya kembali menatap Jungkook, menggumamkan kata 'beruntungnya' dengan berbagai macam tatapan. Yah, secara tak langsung tentu saja Jungkook di minta untuk menjadi asisten dosen. Padahal Ia baru semester 3, namun sang dosen yang termasuk dosen senior di kampusnya ini malah memintanya untuk menggantikannya membawa materi. Sebuah keberuntungan langka.

Jungkook menghela nafas. Ia berdiri dari duduknya, lalu segera membungkukkan badan. "Terima kasih atas tawaran Prof, tapi saya tidak bisa."

"Kenapa?"

"Saya tidak akan datang minggu depan, Prof."

Perempatan muncul di kening pria tua tersebut. Ia kini sepenuhnya menatap Jungkook. "Apa kau baru saja berniat untuk bolos dari mata kuliahku?"

"Tentu tidak, Prof." Jungkook menggeleng cepat. "Tapi saya akan pergi ke Denmark selama tiga hari. Walau begitu, Saya berjanji tetap akan mengikuti tugas yang diberikan oleh Prof."

"Apa yang kau lakukan di Denmark?"

Jungkook tak langsung menjawab. Ia mengusap tengkuk, ragu. Sebenarnya Jungkook ke Denmark untuk ikut bersama Taehyung dan claws menjalankan tugasnya. Namun tentu saja Jungkook tak akan berkata seperti itu. "Eh, itu – " Jungkook berdehem. "Ada urusan bisnis yang tak bisa saya tinggalkan, Prof. Saya mohon maaf sebesar-besarnya."

Hening sesaat. Jungkook sudah akan bersiap menerima omelan dari dosennya, namun ternyata pria tua itu justru menghela nafas. Ia kembali memperbaiki letak kacamatanya. "Baiklah. Lupakan saja soal menjadi asisten dosenku." Kemudian melenggang pergi.

"Wah, Jungkook. Kau sudah melepaskan kesempatan emasmu."

Beberapa mahasiswa segera mengerubungi Jungkook. Pemuda itu meringis. "Sepertinya begitu."

"Kau yakin tidak masalah?" Seorang gadis bersurai cokelat emas di ikat kuda bersuara dari belakang. Ia bergerak menepuk pundak Jungkook dua kali. "Kudengar, Prof. Shin sangat selektif dalam memilih asisten dosennya. Dia biasanya hanya memilih mahasiswa yang sudah lulus dan sedang kuliah S2."

"Lisa benar." Satu pemuda dengan kupluk mengangguk, Ia ikut mendesah frustasi. "Bayangkan, kau yang baru semester 3 telah di tawari untuk menjadi Asisten dosennya. Se-istimewa apa dirimu baginya, Jungkook."

"Jangan membuatku merasa menyesal, Win." Jungkook berdecak. Tangannya dengan cepat bergerak mengambil tas ransel nya di kursi, kemudian memakainya. Dalam hati, Jungkook merutuk. Kenapa pula dia sudah terlanjur berjanji dengan Taehyung? Menyebalkan.

Yang berkacamata di antara mereka dan sedang memegang buku manga di tangan angkat suara. "Apa janji mu ke Denmark itu tidak bisa di batalkan?"

Jungkook mendengus. "Andai bisa, aku sudah mengiyakan tadi."

Mereka tertawa kecil. Satu-satu mahasiswa itu kemudian melambaikan tangan ke Jungkook, meninggalkan kelas. Jungkook beralih menatap pemuda di sudut kelas yang sedang merapikan meja nya. "Wonwoo, apa kita jadi kerja kelompok bersama hari ini?"

"Ah!" Pemuda itu – Wonwoo, terkesiap. Ia dengan cepat menatap Jungkook. Matanya yang setajam elang kini terlihat melebar. "Astaga, aku lupa!"

"Tidak usah kaget begitu, kau memang selalu melupakan segala hal." Ujar Jungkook, tertawa kecil atas reaksi Wonwoo yang berlebihan. Jungkook berjalan mendekati pemuda bersurai hitam itu. "Kau bisa kan hari ini? Soalnya sisa waktu kita tinggal dua hari. Dan besok aku akan sibuk di klub basketku."

Wonwoo beralih menatap Jungkook. Ia tersenyum. "Tentu saja bisa. Jadi, mau mengerjakannya dimana?"

Senyum Jungkook ikut mengembang. "Di Apartement ku saja."

"EH?!"

Mata Wonwoo kali ini melebar sempurna. Ia bahkan sampai mundur beberapa langkah dan menabrak kursinya sendiri. "T-tunggu, di apartementmu?"

Jungkook mengeryit bingung. "Iya, di Apartementku. Rumahmu jauh, kan? Lebih baik di Apartementku saja."

Wonwoo berdehem, segera kembali bersikap biasa. "Baiklah, dirumahmu. Maaf, aku hanya cukup terkejut saja tadi."

Pemuda bersurai hitam itu tertawa. Ia refleks melayangkan tinju nya di lengan Wonwoo. "Eii~ santai saja, kita kan sudah teman."

Wonwoo terdiam. Ia menatap Jungkook lekat-lekat, kemudian tersenyum. "Iya. Teman, ya."

Jungkook mengangguk, tersenyum lebar. "Ayo pulang!"

.


sincerely


.

"Jungkook, boleh aku bertanya?"

Jungkook yang sedang menyeruput jus melon sembari menatap kota Seoul dari balik jendela bus akhirnya menoleh. Ia beralih menatap Wonwoo yang duduk di sampingnya. "Tentu saja boleh. Mau bertanya apa?"

"Kenapa kau mau berkuliah di Universitas kami?" Tanya Wonwoo. Pemuda itu menatap Jungkook. "Kudengar, nilai akademik mu sangat tinggi. Kau juga punya banyak prestasi di bidang olahraga karena basketmu. Semua orang pasti tahu kalau siswa teladan seperti mu sudah pasti akan di terima di Seoul University. Bahkan jalur beasiswa dapat kau tembus. Aku hanya tak habis pikir kau malah kuliah di sini, universitas biasa tanpa apa-apa."

Jungkook tertawa kecil sebagai jawaban. Ia menyandarkan punggungnya di kursi bus. "Tidak ada alasan khusus. Aku hanya menyukai universitas ini, juga lingkungan di sekitarnya."

"Lingkungan?" Wonwoo mengeryitkan dahi.

Jungkook mengangguk, kembali tertawa. "Aneh, mungkin. Tapi aku memilih universitas ini karena dekat dengan tempat tinggalku yang sekarang."

"Hanya itu?"

"Iya."

Wonwoo mengucapkan 'oh' singkat, lalu kembali menatap ke depan. "Enak sekali ya, jadi orang pintar. Mereka dapat memilih sesuka hati tanpa takut tidak akan diterima, atau tidak akan lulus." Ucapnya, tertawa miris.

"Kurasa kau salah." Tatapan Jungkook berubah datar. "Aku juga berusaha keras agar lulus tes kemarin."

Wonwoo tertawa. Ia cepat-cepat menepuk bahu Jungkook. "Aku hanya bercanda. Semua orang tahu bagaimana kerasnya kau belajar selama ini."

"Oh, ya?" Tercipta likuan di dahi Jungkook. "Kurasa jatah belajarku biasa saja."

"Omong kosong." Wonwoo kembali tertawa. Ia sepenuhnya menatap Jungkook dengan tangan yang di tumpukan di pipinya, tersenyum begitu menawan. "Tidak ada anak semester 3 yang mengambil mata kuliah dengan lengkap. Kami semua tahu kau selalu belajar di perpustakaan di sela waktu mu menunggu mata kuliah selanjutnya. Kau selalu mengerjakan tugas hingga larut malam. Padahal, talenta dan kepintaranmu sudah diatas rata-rata, Kook. Anugerah yang di miliki sejak lahir. Kau dapat menguasai suatu hal tanpa harus bersusah payah, memahami tanpa harus memutar otak dulu, semuanya sangat lancar, tanpa celah, begitu sempurna. Professor Shin yang terkenal sangat keras kepala saja tunduk padamu, Kook. Tahu julukan apa yang diberikan senior untukmu?" Jungkook menggeleng sebagai jawaban. Wonwoo tersenyum semakin lebar. "Mukjizat. Kau itu keajaiban di kampus kami."

Butuh beberapa detik bagi Jungkook untuk mencerna kalimat yang di lanturkan Wonwoo begitu lancar. Ia mengerjapkan mata, lalu tertawa kecil. "Kalian berlebihan. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik."

"Kenapa?" Tanya Wonwoo. Tanpa sadar, pemuda itu sedikit mencondongkan badannya.

"Yah, untuk mengejar cita-citaku." Jungkook mengedikkan bahu. "Kau tahu, aku ditargetkan untuk lulus kuliah sebelum umurku dua puluh dua tahun."

Wonwoo menaikkan satu alisnya. "Se-buru buru itu?"

"Iya. Ada bucket list ku yang harus kukejar secepat mungkin." Jawab Jungkook lalu tersenyum.

Wonwoo terdiam cukup lama. Tatapannya tak lepas dari pemuda bersurai caramel di hadapannya ini. Lima bulan dirinya mengenal Jungkook, pemuda itu selalu saja berhasil membuatnya lagi dan lagi, begitu terpesona dengan segala cara pikir dan kepintaran Jungkook.

Pemuda bermarga Jeon itu perlahan ikut tersenyum. Tangannya bergerak mengusak surai Jungkook. "Awalnya kupikir kau itu berandalan kampus gara-gara tindik sialmu yang terlalu banyak. Tapi lihat lah. Kau itu menggemaskan, Kook."

"Begitu menggemaskan hingga rasanya aku mau gila."

Wonwoo tersenyum semakin lebar. Perkataannya terdengar ambigu, namun Jungkook cepat-cepat menepis pikiran anehnya lalu balas tersenyum. "Terima kasih, fans-ku."

.


sincerely


.

"Kau–tinggal disini?"

Kaki Wonwoo terasa membeku di tempat tepat ketika dirinya turun dari bus dan langsung berhadapan dengan sebuah pemukiman yang tak asing di ingatannya. Guryong.Itu lah yang tertulis di papan halte bus.

Jungkook mengangguk santai, mengabaikan reaksi Wonwoo yang semakin tak percaya. "Iya, aku tinggal disini. Sebenarnya tak langsung di daerah Guryong, tapi apartementku berada di dekat sini."

"Oh, kupikir kau penduduk tetap disini." Ujar Wonwoo. Kali ini, Ia menghela nafas lega.

Jungkook tertawa. "Kau orang kesekian yang bereaksi seperti itu setiap kuajak kerumahku."

Setelahnya mereka lanjut berjalan kaki. Terkadang Wonwoo akan mengedarkan pandangannya ke daerah kumuh ini. Ternyata apa yang di lihatnya di TV cukup berbeda jauh dari aslinya. Pemukiman ini, walau dikatakan pemukiman kumuh namun lingkungannya begitu bersih dan asri. Rumah-rumah tertata rapi.

"Apa ini pertama kalimu ke Guryong?"

Wonwoo tersadar dari lamunannya. Ada Jungkook yang kini menatapnya dengan seringai. "Kau terlihat seperti orang kampung, Wonwoo."

"Sialan." Wonwoo tertawa. "Ini memang pertama kali ku kesini. Kau tahu, daerah ini di kabarkan sangat rentan dan bahaya. Banyak preman yang suka berkeliaran disini. Apa kau tak takut padanya?"

Jungkook tergelak. Ia menggeleng kuat-kuat. "Tidak ada yang perlu di takutkan dari kumpulan orang-orang tak berakal seperti mereka."

"Tak berakal?" Bola mata Wonwoo melebar. Ia tertawa. "Wah, Jungkook. Jangan-jangan kau ketua gank mereka? Berani sekali mengatai para preman itu."

Jungkook tak menjawab, Ia justru tertawa semakin keras. Dan seolah mendapat jackpot, indera penglihatan Jungkook mendeteksi sebuah objek yang di kenalinya.

"Oh, Jungkook!"

Wonwoo yang sedang asik menatap rumah disekitar mereka tersadar, Ia menolehkan kepala untuk mencari sumber suara yang memanggil pemuda di sampingnya. Apa yang ditakutkannya ternyata benar-benar muncul. Ada kelompok preman – Wonwoo dapat menarik kesimpulan dari cara berpakaian mereka yang mengerikan – yang sedang duduk di sebuah gazebo terbuat dari kayu, sedang bermain kartu bersama.

Wonwoo menelan ludah tanpa sadar. Penampilan preman itu menyeramkan. Namun, Jungkook malah dengan santainya balas melambaikan tangan ke arah keempat preman tersebut. Pemuda bersurai caramel itu kemudian lanjut berjalan hingga mereka mendekati lokasi gazebo tersebut, sehingga dengan sangat terpaksa Wonwoo mengikuti dari belakang. Tatapannya tetap waspada.

"Tumben kau pulang cepat, JK." Yang bersurai hijau tua berbicara sembari menyesap rokok.

Jungkook tertawa. "Uwah, apa ini tandanya kau menghapal jadwal sehari-hari ku, Kwon?"

"Dia penguntit sejatimu, Jungkook." Kali ini yang bertubuh pendek dengan model rambut cepak angkat suara. Tatapannya tak beralih dari kartu-kartu di tangan, terlihat sangat fokus dengan permainan mereka.

"Lima jackpot! Yeah i fuckin made it!" Teriak seorang preman lainnya bersurai merah. Tawa menggelegar di antara mereka saat yang bersurai cepak tadi mengerang marah karena di kalahkan. Jungkook ikut tertawa. Tanpa sadar, kedua pemuda ini justru berhenti di depan Gazebo tersebut.

"Ah, omong-omong. Jungkook," Si preman bersurai merah itu menoleh ke arah Jungkook. "Andrew meminta berkas passportmu."

"Bukannya Taehyung sudah memberikannya?"

"V menghilangkannya." Jawab yang bersurai hitam dengan tattoo disekujur tubuh. Ia mengambil botol soju lalu menegaknya beringas. Wonwoo bergidik ngeri. "Jadi, Andrew ingin kau memberikannya lagi. Kurasa, yang kau berikan saat pergi ke Laos kemarin bisa kau gunakan kembali."

"Si bodoh itu." Jungkook mengerang kesal. "Baiklah, akan kubawa ke markas besok." Ia melangkah mendekat, memukul bahu yang bersurai hijau tadi. Senyumnya merekah lebar. "Mohon bantuannya lagi selama disana, Mr. Kwon."

Kwon tertawa, lalu menganggukkan kepala. "Asal kau mau memberikanku sebuah ciuman sebagai tebusan."

"Dalam mimpimu, brengsek."

Preman-preman itu tertawa atas jawaban Jungkook. Jungkook ikut tertawa. Tak ingin membuang waktu lebih lama, pemuda asal Busan itu kemudian melambaikan tangan setelah menerima berbagai macam rayuan dari preman-preman tersebut yang di tanggapi dengan santai oleh sang objek rayuan.

"Jungkook. Ini gila."

Oh, Eksitensi Wonwoo terlupakan.

Jungkook beralih menatap temannya. Ia tertawa kecil. "Apanya?"

"Kau–astaga, tunggu dulu." Wonwoo mengusap wajahnya kasar. Ia menatap lekat-lekat Jungkook. "Kau, dekat dengan mereka? Preman-preman itu?"

Jungkook mengedikkan bahu. Ia menyeringai jahil. "Hanya kenalanku. Kami tidak begitu akrab."

"Aku tidak yakin." Ujar Wonwoo cepat. "Kalian terlihat saling mengetahui satu sama lain. Gila. Aku benar-benar tak menyangka tindik di telinga mu itu memiliki arti lain. Kupikir hanya hobi, ternyata mungkin kau memakainya karena berteman dengan mereka?"

Tawa Jungkook meledak juga. Entah mengapa, ekspresi bingung bercampur kaget Wonwoo begitu menghibur, sehingga dia memilih untuk kembali tidak menjawab pertanyaan tersebut lalu berjalan mendahului Wonwoo.

Wonwoo mendengus, Ia segera menyusul. "Jungkook! Sial, jawab pertanyaanku!"

"Oh, Jeikei!"

Preman lagi. Kali ini hanya dua orang. Satu berpenampilan biasa seperti orang kantoran tanpa tindik dan tattoo, dan satunya lagi sama seperti penampilan pemuda pemuda yang mereka temui tadi. Kedua pemuda itu terlihat sedang memungut sampah dedaunan kering yang bertumpuk di depan rumah-rumah warga.

Senyum Jungkook kembali merekah. Ia melambaikan tangan ceria. "Hoseok hyung! lama tidak berjumpa!" ucapnya. Jungkook segera berlari mendekati kedua pemuda itu, dan Wonwoo kembali mengikuti dengan tak ikhlas.

"Apa yang kalian lakukan siang-siang begini?" Tanya Jungkook tepat ketika dia berdiri di hadapan kedua pemuda itu.

Yang bernama Hoseok dan berpenampilan seperti pegawai kantoran mengedikkan bahu, tertawa. "Menemani Hyungsik melakukan hukumannya."

"Bajingan. Diam kau, J-Hope."

Jungkook tertawa di ikuti Hoseok. "Uwah, aku baru tahu tugas dari Kepala desa disebut sebagai hukuman. Apa perlu kulaporkan, ya?"

Detik Jungkook menyelesaikan kalimatnya, dedaunan yang berada di genggaman Hyungsik di lempar begitu saja ke kaki Jungkook. "Berisik. Jangan membuat moodku lebih jelek dari ini."

Wonwoo melebarkan bola mata. Ia tak terima dengan perlakuan preman itu yang membuang sampah ke Jungkook, namun yang dilempari justru tertawa semakin keras. Seolah sudah terbiasa.

"Abaikan saja si bodoh ini." Hoseok tertawa kecil. "Jadi? Kudengar kau akan ikut dengan claws lagi?"

"Iya." Jungkook mengangguk. "Aku sudah berjanji dengan Ayah Taehyung untuk ikut misi ini."

"Dasar nekat." Tangan Hoseok bergerak menjitak pelan kepala Jungkook. "Jangan sampai kuliahmu terganggu karena terlalu sering ikut dengan mereka, Jungkook."

"Yah, dan aku baru saja melepaskan kesempatanku untuk menjadi asisten dosen karena jadwal sialan itu."

"Ha?!" Bola mata Hoseok melebar sempurna. "Astaga, Taehyung pasti akan marah besar kalau tahu ini."

Jungkook tertawa. "Makanya itu, hyung. tolong rahasiakan dari Taehyung, ya."

"Aku tidak yakin. Si brengsek Hyungsik ini pasti akan membocorkannya."

Keduanya tertawa bersama. Wonwoo memperhatikan dalam diam. Sumpah, dia tak tahu sama sekali apa yang sedang di bahas Jungkook dengan pemuda asing itu. Namun, sepertinya kepergian Jungkook ke Denmark ada hubungannya dengan claws. Pertanyaan Wonwoo adalah, claws itu apa?

"Ini teman barumu?"

Lamunan Wonwoo buyar. Ketiga pemuda di hadapannya ini ternyata sedang menatapnya. Rasa was-was langsung menyelimuti dirinya.

Jungkook mengangguk. "Iya, teman kampusku. Namanya Wonwoo. Wonwoo, ini Hoseok hyung, dan satunya lagi Hyungsik."

Hoseok tersenyum lebar. Pemuda yang beraut wajah ceria itu mengulurkan tangan ke arah Wonwoo. "Salam kenal, Wonwoo. Semoga kau dapat mentoleri sifat kelam Jungkook nanti."

"Apa-apaan."

Wonwoo tersenyum canggung lalu membalas uluran tangan Hoseok.

"Baiklah, aku harus pergi. Sampai jumpa Hoseok hyung, dan kerja yang benar, Hyungsik!"

Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Apartement Jungkook. Dalam hati Wonwoo merutuk. Apa memang perjalanan ke apartement temannya itu selalu sejauh ini? Begitu banyak yang ingin dia tanyakan, namun Wonwoo bingung harus mulai dari mana. Opini tentang Jungkook si mahasiswa teladan di kampusnya yang berkelas dan anak baik-baik perlahan terkikis. Ia kini meragukan sifat yang sebenarnya dari pemuda bermarga sama dengannya itu.

Jungkook melirik Wonwoo yang berjalan di sampingnya. Senyum jahilnya kembali muncul. "Apa pertanyaanmu semakin banyak?"

"Berisik." Wonwoo mendengus. "Jungkook, dengar. Aku benar-benar bingung, sebenarnya kau ini sia–"

"Enak saja! Kau sudah menggunakannya, tentu saja harus membayarnya tolol!"

Perkataan Wonwoo terhenti. Jungkook sudah lebih dulu menolehkan kepala cepat, mencari sumber suara. Ternyata suara bentakan itu berasal dari rumah yang tak jauh dari mereka. Ada seorang wanita tua yang memegang kenop pintu nya erat erat dengan dua pemuda di hadapannya.

Wonwoo menghela nafas. Preman lagi. Daerah ini benar-benar gudangnya preman, ya.

"Tapi aku benar-benar belum bisa membayarnya sekarang, Tuan." Ibu itu berucap dengan suara bergetar. "Aku janji akan melunasi – "

"Janji, janji, janji. Omong kosong! Ini sudah keempat kalinya kau berjanji dan tidak sepeserpun telah kau lunasi!" Preman di hadapan Wanita itu berseru marah. Pegangan wanita itu semakin menguat kala salah satu dari mereka memukul daun pintu rumahnya keras keras.

"Atau begini saja, Oh-ssi." Preman dengan rokok yang di gigit di bibir berbicara, Ia bersandar di daun pintu, menatap datar namun tajam. "Kita buat perjanjian terakhir. Kami akan menagih utangmu itu besok, full set tanpa cicilan. Kalau kau tidak melunasi dua puluh juta won itu, rumah ini akan kami sita dengan paksa. Kalau kau tak mau lagi," Preman itu menghembuskan asap rokoknya malas, satu alisnya terangkat. "–mungkin bisa menjual dirimu ke kami."

Wonwoo terhenyak. Entah mengapa, aura mencekik terasa menyelimuti preman bersurai caramel itu. Tatapannya begitu datar dan dingin, seperti predator yang siap menerkam mangsanya kapanpun dia mau. Wonwoo bergidik ngeri. Penampilan preman itu juga jauh dari kata baik. Tindiknya memenuhi kedua telinga, tattoo naga di punggung tangan hingga naik ke bicep, juga tattoo di leher bertuliskan–eh?

"bocah? Apa yang kau lakukan disini?"

Tak sadar akan waktu yang telah berlalu, Preman itu ternyata sudah berdiri di hadapan mereka berdua. Lebih tepatnya, di hadapan Jungkook. Aura mencekiknya semakin terasa hingga Wonwoo seketika sulit bernafas. Namun, Wonwoo dapat melihat tatapan preman itu yang menjadi lebih lunak ketika beradu tatap dengan Jungkook.

"Aku yang harusnya bertanya seperti itu." Jungkook mendengus. "Tae, merunduk."

"Ha?" Preman itu mengangkat satu alis. Jungkook berdecak. "Tundukkan kepalamu!"

Walau tak mengerti, Preman tersebut tetap menundukkan kepala hingga wajahnya sejajar dengan wajah Jungkook yang sedikit lebih pendek darinya. Saat hendak berbicara, timpukan keras lebih dulu dilayangkan Jungkook ke kepalanya.

"Aduh!"

Preman itu mengaduh kesakitan, refleks menjauhkan badan. "Brengsek, bocah. Apa yang kau lakukan!"

Jungkook mendengus tak peduli. "Apa kau harus sekasar itu pada wanita tadi? Sudah kubilang belajar menagih secara baik-baik!" Bentak Jungkook.

"Kasusnya beda, brengsek. Tahu apa kau soal tagih menagih." Preman itu menoyor dahi Jungkook. "Wanita itu selalu ingkar janji. Kalau dibiarkan, dia pasti akan semakin mengulur waktu dan akhirnya lari dari tanggung jawab. Kalau tidak di kasari, dia tak akan sadar."

"Tapi tetap saja kau harusnya–"

"Kenapa cepat pulang? Aku baru saja akan pergi menjemputmu."

Jungkook terdiam. Preman itu balas menatap datar ke Jungkook, hembusan asap rokoknya mengenai wajah yang lebih pendek dan Wonwoo kembali merasakan amarah di dada. Jungkook di perlakukan sangat kasar disini. Tangannya terkepal erat.

Cukup lama kedua pemuda itu terdiam, namun akhirnya Jungkook mengalah. "Aku ada tugas kelompok."

"Mau kerja dimana?"

"Rumah."

Preman itu mengangkat satu alis. "Ibu memintamu menemani Saehyun belanja sepatu balet baru nanti malam. Tugasmu tidak akan lama, kan?"

Jungkook beralih menatap Wonwoo dibelakangnya. "Apa tugas kita akan lama?"

Wonwoo berdehem canggung. Ia berusaha sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan preman di hadapan Jungkook. "Tidak. Tinggal setengah lagi. Paling akan selesai sore."

Senyum Jungkook mengembang kemudian kembali menatap preman di hadapannya. "Tanya Ibu mu aku akan pergi menemani Saehyun."

"Baiklah." Preman itu mengangguk. Di tatapnya Wonwoo yang berdiri di belakang Jungkook sekilas. Sepertinya teman baru Jungkook lagi.

"Kau akan ke markas sekarang, Tae?"

Preman itu – alias Taehyung – kembali menatap Jungkook. Ia mengangguk. "Lesson ku belum selesai. Sialan. Kurasa tanganku akan patah terus-terusan menggenggam alat tattoo sialan itu."

"Resiko mu, tolol." Jungkook tertawa. Pemuda itu kemudian berjinjit, mencuri kecupan lama di pipi Taehyung. Jungkook tersenyum lebar. "Kalau kau bisa menguasai tehnik waterpainting besok, aku rela kau mentattoo lenganku dengan namamu juga, Tae."

"Brengsek. Hinaanmu terlalu sarkas, bocah." Ketus Taehyung. Jungkook semakin tertawa.

Taehyung kemudian melingkarkan tangannya di leher kekasihnya, merangkulnya erat hingga terasa seperti sedang mencekik. Seringai Taehyung tercipta. "Kalau aku berhasil menguasainya besok, bagaimana dengan mentattoo lehermu? Di bagian sini?" tangan Taehyung merayap naik menyentuh urat Jungkook di leher, Ia berbisik penuh bahaya.

Jungkook mengerang kesal. "Sial, bilang saja kau mau membunuhku!"

"Oh, si bocah ini bisa berpikir juga. Kupikir otakmu tidak ada."

"Hah?!" Jungkook melototkan mata. "Mati kau, sialan!" Tangannya bergerak hendak mendorong wajah Taehyung yang tengah tertawa keras, namun preman itu dengan sigap menghindari tangan kekasihnya, masih tergelak begitu lepas.

Wonwoo terdiam menatap pemandangan di hadapannya. Eksitensi nya kembali di lupakan. Namun dia tak lagi memusingkan hal itu. ada satu hal yang mengganggu pikirannya, dan untuk membenarkan apa yang dia lihat, Wonwoo rasa dirinya akan sangat patah hati.

Ukiran tattoo 'JK' tercetak begitu jelas di leher preman itu, juga di lengan sebelah kiri yang bertuliskan 'Jungkook', sangat besar dan indah. Tak perlu berpikir dua kali untuk mengetahui bahwa preman ini adalah kekasih Jungkook. Siapa lagi yang rela menodai badannya secara permanen dengan tulisan namamu selain orang yang telah menobatkanmu sebagai dunia nya?

Dalam hati Wonwoo tertawa miris. Pantas saja Jungkook dekat dengan preman-preman tadi, kekasihnya juga ternyata bagian dari mereka. Wonwoo kalah telak. Kekasih Jungkook sangat sempurna bersanding dengan Jungkook. Sang preman dan mahasiswa teladan. Keajaiban sekali.

"Lepaskan, tolol. Aku mau pulang." Jungkook berkata kesal. Ia sudah menyerah untuk mencoba melepaskan diri dari Taehyung. 5 tahun mereka menjalin kasih, tak pernah sekalipun Jungkook berhasil mengalahkan Taehyung yang sekuat baja. Horror.

Taehyung tertawa, kemudian mengusak surai Jungkook yang berwarna senada dengan rambutnya, lalu melepaskan rangkulan.

"Hati – hati di jalan pulangnya, bocah. Jangan sampai di makan anjing."

"Berisik."

Jungkook melambaikan tangan dengan ceria ke arah Taehyung sembari berjalan menjauh. Tawanya meledak kala Taehyung tiba-tiba di timpuk dari belakang oleh Kyungsoo – yang tadi menagih bersama Taehyung – karena terlalu lama berbicara dengan Jungkook. Mereka kemudian ikut menghilang di belokan jalan.

"Dia kekasihmu?"

Suara Wonwoo terdengar. Jungkook menolehkan kepala. "Eh? Darimana kau tahu?"

"Tentu saja dari tattoo tattoo nya." Jawab Wonwoo, tertawa kecil. Ia menundukkan kepala, menendang tak berminat kerikil-kerikil yang berada di kakinya. "Aku punya banyak pertanyaan, tapi sebagian besar telah terjawab dengan kehadiran kekasihmu."

"Oh, ya?" Jungkook ikut tertawa kecil. "Daerah ini daerah kekuasaan gank kekasihku, Taehyung. Dan karena aku suka suasananya, aku memilih untuk pindah kesini."

Wonwoo beralih menatap Jungkook. "Berapa lama kau sudah kencan dengannya?"

"Lima tahun. Aku kencan dengannya sejak kelas satu SMA."

"Wah." Hancur sudah harapan Wonwoo. Rasanya sakit, tapi Ia tahu tak ada yang patut di salahkan disini. Pemuda itu tersenyum tipis. "Pantas saja dia berani mengukir tattoo nama mu di badannya. Dia pasti mencintai mu hidup dan mati, Kook."

Jungkook tertawa. "Apa perilakunya terlihat seperti dia memuja ku segila itu? tidak sama sekali."

"Benar juga. Kau bahkan di cekik kuat-kuat tadi." Wonwoo ikut tertawa.

"Iya, kan. Taehyung itu brengsek." Ujar Jungkook. Ia menengadahkan kepala, menatap langit yang di hiasi awan berbentuk indah. "Banyak yang berpikir aku beruntung memiliki kekasih seperti Taehyung. Taehyung kuat, tampan, dia pasti bisa melindungiku dari apapun. Kenyataannya? Jauh dari itu. Jangankan melindungi, justru dia yang sering menyiksaku."

Wonwoo melebarkan mata sipitnya. "Wah, aku baru saja berpikir seperti itu, Kook. Kupikir kau bertahan lama dengannya karena dia bertindak seperti malaikat pelindungmu." Ujarnya dengan tawa.

Jungkook ikut tertawa. "Sudah kuduga."

"Jadi? Dia tidak memperlakukanmu seperti itu?"

"Jauh dari itu." Jungkook mengoreksi. Ia masih tertawa. "Taehyung tak pernah bertindak seperti melindungiku atau apapun itu. Dia benci hal-hal berbau romantis. Benci dalam artian benar-benar membencinya. Kau pasti tak percaya ini, tapi ketika SMA dulu saat aku dan Taehyung bertengkar, kami pernah saling tinju." Papar Jungkook.

Wonwoo menatapnya tak percaya. "Dia? Memukulmu?"

"Iya, meninjuku." Jungkook mengangguk pasti. "Sampai sekarang pun, aku dan Taehyung lebih sering bertengkar, saling mengumpat. Terkadang, Ibu Taehyung harus turun tangan agar kami berbaikan." Jungkook tertawa. "Konyol sekali sebenarnya."

Wonwoo mengerjapkan mata. Ia menatap lekat-lekat Jungkook. "Aku – tak mengerti, Jungkook. Kenapa kau mau mempertahankan hubungan seperti ini? Maksudku, ini tak masuk akal. Apa kalian di jodohkan sehingga bertahan walau tak saling mencintai?"

"Bukan di jodohkan." Jungkook tersenyum begitu lebar. "Tapi takdir. Aku dan Taehyung percaya, kalau kami berdua adalah takdir."

Lenggang.

Dahi Wonwoo terlipat sempurna. Ia menatap Jungkook, mencoba untuk mencari kebohongan dari mata pemuda itu, namun nihil. Jungkook mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Tak ada kebohongan apapun.

"Kau pasti bercanda." Wonwoo menggeram tanpa sadar. "Kalian berdua Tuhan? Tahu darimana kalau kau berdua itu takdir? Ini konyol sekali. Kalian tidak hidup di dunia dongeng, Kook. Ini terlalu kekanakan. Dia bersikap brengsek dengan meninjumu, dia tidak mencintaimu. Dia hanya memanfaatkanmu." Wonwoo berucap emosi.

Walau Wonwoo terlihat sangat marah dengan Jungkook, pemuda itu justru tersenyum semakin lebar. Ia menepuk pundak Wonwoo dua kali, lalu kembali lanjut berjalan. "Yah, kuakui apa yang kau katakan sebagian besar benar. Aku dan Taehyung memang bukan Tuhan, aku tidak tahu apa kami ini benar-benar takdir atau tidak. Tapi, Wonwoo,–"

Jungkook membalikkan badan. Jarum jam seakan berhenti bergerak saat senyum Jungkook dengan lambat mengembang sempurna. Sinar matahari terpancar dari belakang Jungkook dan Ia terlihat bersinar. Jantung Wonwoo berdetak cepat. Terpana. Jungkook begitu indah, seperti malaikat.

"Aku tahu dengan pasti, kalau Taehyung mencintaiku seperti aku yang mencintainya. Kalau pun Taehyung bukan lah takdirku, aku akan memaksanya agar kami dapat menjadi takdir. Terus seperti itu."

Bibir Wonwoo kelu. "Kenapa?"

Jungkook mengedikkan bahu, tertawa. "Hanya ingin." Lalu lanjut berjalan santai.

"Aneh." Wonwoo menghela nafas, mengikuti langkah Jungkook. "Mungkin kau sudah diberi mantra olehnya."

"Aku juga berpikir seperti itu."

Wonwoo tertawa kecil sebagai jawaban. Jungkook ikut tertawa. Mereka berjalan dengan santai, menikmati paparan sinar matahari yang menyengat kulit juga sesekali Jungkook akan menyapa orang-orang yang ditemuinya.

"Kau tahu, Wonwoo." Jungkook kembali bersuara.

"Apa?"

"Saat SMA dulu, aku tak terlalu berpikir tentang hubunganku dengan Taehyung, kami begitu cuek dan tak peduli satu sama lain. Namun sekarang, semuanya perlahan berubah. Aku jadi takut akan banyak hal, seperti misalnya Taehyung tiba-tiba berhenti mencintaiku, Taehyung bertemu orang lain, dia bosan, atau kami bertengkar begitu hebat dan akhirnya berakhir putus. Cara berpikir ku pun berubah. Aku jadi selalu ingin memeluknya, atau menunjukkan betapa dia sangat berharga di hidupku." Jungkook kembali tersenyum. "Si brengsek itu mungkin memang tidak pernah melindungiku, tapi dia menjadi satu-satunya orang yang menerima segala perlakuan kasarku. Aku tak suka diatur dan selalu ingin berteriak bila marah. Tapi lihat lah, Taehyung tak kunjung pergi."

Wonwoo mendengus pelan. "Itu karena dia tidak punya alasan untuk melepaskanmu, Kook. Kau terlalu sempurna. Kesempatan tak akan datang dua kali dalam mendapatkan pasangan sesempurna dirimu lagi. Dia pasti hany–"

Jungkook memotong cepat. "Aku juga tak punya alasan untuk melepaskannya."

Langkah kaki Wonwoo terhenti. Ia kembali menatap Jungkook dengan kerutan di dahi. Benar-benar bingung dengan kehendak Jungkook yang sebenarnya. Secara logika, ini tentu tidak masuk akal. Kenapa pula seorang pemuda biasa dengan hidup normal mau menjalin hubungan dengan seseorang yang selalu dijuluki sebagai sampah masyarakat? Wonwoo tak habis pikir.

Melihat pandangan aneh dari Wonwoo, Jungkook memasang cengirannya. "Jangan berpikir serumit itu, hei."

"Aku hanya bingung." Jawab Wonwoo jujur.

"Yah, semua orang memang selalu bingung dengan kisahku dan Taehyung." Jungkook tertawa lalu kembali melangkahkan kakinya.

Hening menyelimuti mereka. Wonwoo terperangkap di dalam pikirannya, begitu pula Jungkook. Bercerita panjang lebar tentang perasaannya terhadap Taehyung yang notabene sangat jarang di lakukannya membuat Jungkook kembali bernostalgia. Siapa sangka hubungan yang awalnya hanya dia jalani asal-asalan bisa bertahan selama ini. Kini dirinya sudah menginjak umur sembilan belas tahun, sama halnya dengan Taehyung. Tak terhitung momen yang telah mereka buat bersama. Dan walau kisah cinta mereka hanya lah kisah sederhana tanpa bumbu romantis dan manis di dalamnya, nyata nya Jungkook menjalani lima tahun ini dengan baik-baik saja.

Mood nya yang terlanjur melankonis mendorong Jungkook untuk kembali melanjutkan pembahasan mereka tentang Taehyung. Jungkook rasa dia hanya sedang butuh seseorang untuk meluapkan ini semua.

"Wonwoo. Boleh aku jujur padamu?"

"Tentu saja." Wonwoo mengangguk. Fokusnya kembali terpusat ke arah pemuda bersurai hitam di sebelahnya. Matahari bergerak semakin tinggi di atas kepala.

Jungkook berdehem. "Sebenarnya, ada satu hal yang menjadi alasan mengapa aku akhirnya memutuskan untuk tidak akan pernah pergi dari Taehyung lagi."

"Apa itu?"

"Saat lulus SMA dulu, aku sempat berpikir untuk putus dari Taehyung." Jungkook tersenyum tipis. "Aku berpikir sepertimu. Jalanku masih panjang, tidak seru rasanya kalau hanya mengencani satu pria saja. Hari setelah kelulusanku, aku pulang mabuk-mabukan. Ilegal sebenarnya. Tapi aku dan Taehyung terlanjur tak sadarkan diri. Kami pulang ke Apartementku. Ingatanku samar-samar, efek minum terlalu banyak. Tapi yah, kami hampir melalukan itu."

Jungkook tertawa kecil. Ia beralih menatap Wonwoo yang masih setia menatapnya. "Sedihnya lagi, di ingatanku aku lah yang memulai. Ketika semua hampir memburuk, Taehyung tiba-tiba menangis. Dia cepat-cepat menjauhkan diri, mencari handphonenya seperti orang kerasukan lalu menghubungi Ibu nya. Saat suara Taehyung yang menangis frustasi sembari berkata kepada Ibunya kalau dia hampir saja merusakku, disitulah kesadaranku pulih sepenuhnya. Tanpa sadar, aku juga ikut menangis hebat."

Wonwoo tak tahu harus bereaksi apa.

Pemuda bersurai hitam itu menghela nafas, lalu kembali tertawa. "Berlebihan, kan? Padahal berhubungan seperti itu sebenarnya sudah biasa dilakukan oleh sepasang kekasih. Kami malah ketakutan setengah mati."

"Apa Taehyung adalah kekasih pertamamu?"

"Bingo." Jawab Jungkook, tersenyum lebar. "Aku juga adalah kekasih pertama Taehyung. Tapi, berpikir secara realistis, seorang preman tentu saja terbiasa dengan segala perilaku seksual, hidup mereka keras, hal seperti itu tak tabu lagi. Namun Taehyung justru menangis, menghindari ku selama beberapa hari, lalu berkata kalau dia akan bertanggung jawab padahal dia tidak melakukan apapun padaku. Saat aku bertemu Ibu nya, beliau tertawa kecil mengatakan kalau dia sebenarnya sangat ingin tertawa saat Taehyung menghubunginya malam itu. Katanya seperti mendengar anak kecil yang menangis karena ketahuan telah bertengkar dengan temannya."

Ada getaran aneh yang hinggap di dada Wonwoo. Wajah Taehyung yang beringas, brengsek, dan terlihat sangat dingin terlintas di otaknya. Ia tak menyangka seorang preman ternyata bisa bersikap lemah di depan kekasihnya. Di film-film action romance yang pernah di nontonnya, seorang preman pasti kasar, maniak dalam bercinta, mereka tak mengenal ampun. Tapi, sosok Kim Taehyung seperti sisi lain.

"Tak semua preman seperti itu, kan?" Jungkook bersuara, seolah mengerti isi pikiran Wonwoo. Ia tertawa. "Taehyung memang brengsek, tapi dia kaku dalam memperlakukan kekasihnya. Yah, aku bersyukur karena preman yang kukencani adalah Taehyung."

Pemuda bermata sipit itu ikut tertawa. "Sepertinya aku tidak akan memandang para preman itu dengan cara yang sama lagi."

"Lega mendengarnya." Ujar Jungkook. Apartementnya telah terlihat di ujung sana, membuatnya tersenyum lebar.

"Saat kau menangis malam itu, apa yang kau pikirkan, Kook?" Wonwoo kembali melanjutkan pembahasan mereka. Rasa sakitnya telah bergantikan dengan rasa penasaran yang lebih besar. Baru kali ini Wonwoo bertemu dengan seseorang yang benar-benar menjalani kisah cinta sejati, begitu tulus tanpa unsur kemunafikan di dalamnya.

"Em.." Jungkook bergumam pelan. "Aku berpikir kalau Taehyung pasti lah telah menjadikanku sebagai dunianya. Aku beruntung sekali karena di cintai orang sepertinya, dan mungkin rasa penyesalan karena pernah berpikir untuk meninggalkannya? Seperti yang kau katakan tadi, kesempatan tidak akan datang dua kali untuk kembali mendapatkan pasangan setulus Taehyung."

Wonwoo mendengus. "Yah, intinya kalian berdua itu cinta mati."

Jungkook terkekeh. Ia menganggukkan kepala, "Mungkin seperti itu."

"Padahal kau berdua tidak berperilaku seperti sepasang kekasih, tapi makna cinta di antara kalian dalam sekali. Benar-benar aneh."

Dan Jungkook hanya bisa tertawa lepas.

.


sincerely


.

"Aku pul–"

"Tae, kau habis minum lagi kan semalam?"

Pergerakan Taehyung yang hendak membungkuk untuk membuka tali sepatunya terhenti di depan pintu masuk. Ada Jungkook yang dengan terburu-buru datang ke hadapannya sembari memegang kardus berisikan botol-botol soju yang sudah kosong. Tatapan pemuda bersurai hitam itu garang.

Taehyung melepas sepatunya malas. "Iya. Hanya dua botol. tenang saja."

"Dua botol?!" Jungkook berseru tiba-tiba. "Kau mau cepat mati, hah?! Berhenti minum soju terlalu banyak!"

"Buktinya aku masih belum mati sekarang." Taehyung mengedikkan bahu, tak mempedulikan tatapan Jungkook yang seolah hendak memakan hidup-hidup dirinya. "Omong-omong, cepat siapkan barangmu. Kita berangkat sebentar malam."

Jungkook berdecak kesal. Ia kembali berjalan masuk ke dalam rumah untuk meletakkan kardus tersebut di dapur. "Aku sudah selesai. Tinggal barang-barangmu."

"Bocah, preman professional sepertiku tak perlu menyediakan apapun." Jawab Taehyung asal. Ia segera menghempaskan badan di sofa ruang tengah. Rasa nyaman langsung menyelimuti diri. Ah, menjadi bodyguard memang melelahkan.

Jungkook datang dengan segelas jus lemon di tangan. Ia mendengus, menaruh gelas tersebut di atas meja dekat sofa yang Taehyung tempati berbaring. "Kau pulang jam berapa semalam?"

"Satu." Jari telunjuk Taehyung teracung ke atas. Matanya masih terpejam. "Kau tahu, bocah? Tepat ketika aku membuka pintu, suara dengkuranmu langsung memenuhi seluruh ruangan di rumah ini. Menyeramkan seka–"

Tendangan Jungkook melayang mengenai pinggang Taehyung. "Jangan mengada-ngada, sialan. Aku mana pernah tidur sambil mendengkur." Kesalnya. Bukannya merasa kesakitan, Taehyung justru tergelak. Preman itu segera bangkit dari baringnya. Seringainya terpatri melihat wajah kekasihnya yang merengut marah. "Aku serius, bocah. Kau mendengkur seperti orang yang tak pernah tidur bertahun-tahun. Kasihan sekali."

"Apa kau bilang?!"

Jungkook melototkan mata tak terima. Saat hendak meninju Taehyung, sang preman lebih dulu menghindar dengan cepat. Tawanya kembali terdengar. "Oh, jiwa bantengmu keluar lagi, bocah."

Spontan saja Jungkook menyerang Taehyung dengan melemparkannya bantal-bantal sofa. Taehyung berusaha menahannya dengan tawa yang menggelegar. Rasa penat dan lelahnya selalu saja hilang berkat omelan kesal Jungkook yang entah mengapa begitu menghibur di telinga Taehyung. Itu lah alasan mengapa saat Jungkook hendak masuk kuliah, Taehyung menyarankan mereka berdua untuk tinggal bersama. Bukan bermaksud macam-macam, dia hanya merasa perlu untuk menggoda Jungkook setiap hari karena itu satu-satunya obat penghilang rasa lelahnya.

Jungkook kehabisan stok bantal. Taehyung menyeringai. Tak membiarkan Jungkook bergerak lebih dulu, Taehyung segera menarik tangan kekasihnya hingga Jungkook berakhir terjatuh di atas badan Taehyung yang kemudian melingkarkan kakinya di badan Jungkook agar pemuda itu tak kabur.

"Jangan marah terus, bocah. Nanti kau cepat tua. Aku tidak mau menikah dengan orang tua." Taehyung berucap sembari mencubit keras kedua pipi Jungkook. Ia tertawa kecil saat Jungkook melototkan matanya yang bulat.

"Siapa yang membuatku kesal begini, hah?" Ujar Jungkook kesal. Tangannya berusaha melepaskan tangan Taehyung yang tak mau beranjak pergi dari kedua pipinya. "Tae, sialan. Lepaskan tanganmu ini, aku mau mandi!"

"Mandi bersama?"

"Dalam mimpi mu, tolol." Jungkook menimpuk kepala Taehyung kuat. Sang preman mengaduh kesakitan.

"Buatkan aku makanan dulu. Aku lapar sekali."

Jungkook mengeryit. "Kau tidak makan disana?" Tak di pedulikannya lagi pipi nya yang mungkin akan memerah setelah ini.

"Tidak. Si menteri itu sibuk kesana kemari, tidak ada kesempatan untuk beristirahat." Jawab Taehyung. Tangannya mulai bermain di pipi Jungkook, menarik-nariknya pelan.

Jungkook mendengus. "Makanya kubilang, kalau kau mau pergi bertugas bangunkan aku. Setidaknya kau harus sarapan."

"Kau tidur terlalu menyedihkan, aku jadi ti–"

Jungkook meninju dada Taehyung cepat. Ia merengut. "Yang serius, tolol."

Taehyung tertawa. "Aku juga serius. kau memang tidur begitu menyedihkan, bocah."

"Lepaskan aku sekarang atau kau kuputuskan."

Gelak tawa Taehyung semakin keras. Jungkook merengut tak suka. Kekasihnya ini senang sekali menjadikannya bahan tertawaan. Ada saat dimana ketika Jungkook sedang marah besar Taehyung justru menggodainya habis-habisan, dan akhirnya dia berakhir tertawa karena lelucon konyol Taehyung. Memalukan sekali.

"Kayak kau bisa saja hidup tanpa ku." Taehyung kembali berbicara dengan seringai di bibir.

Jungkook memutar bola mata jengah. "Ya ya, terserah." Tapi kemudian bergerak memeluk badan Taehyung, menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya.

Sang preman mengeryitkan dahi. "Apa ini, kukira kau mau mandi?"

"Tidak jadi. Kau nyaman."

"Ha?" Taehyung tertawa. Tangannya refleks bergerak mengusak surai hitam Jungkook. "Jangan manja begini, cepat buatkan aku makanan."

"Sial, kau kira aku pembantumu?" Jungkook meninju dada kekasihnya. Walau begitu Ia kemudian beranjak melepas pelukan, menatap tak suka ke arah Taehyung. "Berharap apa aku kau akan mengelus rambutku atau menciumnya berkali-kali seperti di film film romance."

Gelak tawa Taehyung kembali mengisi ruangan. Ia tertawa keras sekali hingga tersedak beberapa kali. "Aduh–astaga, bocah. Ternyata yang Seokjin katakan itu benar. Kau memang semakin alay sekarang. Sepertinya aku harus pikir ulang untuk menikah denganmu." Taehyung berucap sembari menegak jus melon yang berada di atas meja. Berusaha menahan tawa.

"HAH! OKE!" Jungkook berseru kesal. Dengan segera Ia bangkit dari sofa lalu berjalan cepat menuju ke dapur. Langkah kakinya sengaja di hentakkan kuat-kuat ke lantai. "Akan kukatakan ke Ibu kalau hari ini aku dan kau resmi putus!"

Taehyung kembali tergelak. "Ya, ya. Aku juga mencintaimu, bocah."

.

.


To Be Continued


this is long af and boring af. maaf kalo chapter ini agak mengecewakan:" saya baru selesai uas dan segala jenis ujian lainnya di tempat les. nulis chapter ini nyicil banget, jadi mungkin feelsnya kurang dapet. entahlah buat reader-nims gimana. actually chapter terakhir udah 50% selesai, dan aku langsung bingung buat bridge sebelum chapter terakhir. hope you like it as well. 3

dan selamat datang reader-nims baru! terima kasih banyak udah nyempatin waktu baca fiction aneh ini. mohon review jangan lupa di tinggalkan yaa. karena semakin dikit review kalian, semakin lama juga saya bakalan update hehe. bc aku butuh bgt saran dan masukan dari kalian. kayak yg kemarin ada yg nyaranin aku perdalam kaidah preposisi sama kalimat langsung. ini udah berusaha semampunya hehe.

review dan sarannya sangat di butuhkan reader-nims.

Last,

Mind To Review?

XiRuLin.