(XXI) chapter dua puluh.


.

.

"Oh, Jungkook?"

Jungkook menganggukkan kepala sekilas lalu menutup pintu di belakangnya. Matanya sedikit mengerjap untuk menyesuaikan dengan pencahayaan yang minim di ruangan ini. Hanya cahaya dari deretan layar komputer di atas meja lah yang menerangi, remang remang.

"Kau yakin mau disini, honey?"

"Tentu saja." Jungkook berucap membalas pertanyaan orang yang tadi menyapanya. Ia kemudian bergerak mendudukkan tubuhnya di kursi putar di samping orang tersebut. "Aku bosan di kamar hotel, Bella. Butuh hiburan disini."

Bella – sang pelaku, tertawa kecil. Bibirnya yang di polesi lipstick cerah menyunggingkan senyuman lebar. "Yah, i admit it, honey. Kau datang jauh-jauh ke Denmark meninggalkan kesibukan kuliahmu tidak untuk hanya menunggu kabar preman-preman bodoh itu di dalam kamar hotel, bukan?"

Jungkook ikut tertawa. "Kau mengenalku dengan baik, Bella."

"Tidak juga. Si Kookie ini yang terlalu mudah untuk di baca." Bella mengedikkan bahu, kembali tertawa yang menambah kadar cantiknya. Jungkook ikut tergelak pelan.

Bella, wanita berusia d ua puluh sembilan tahun yang begitu dekat dengan Andrew namun tanpa hubungan yang jelas. Jungkook tak begitu tahu soal kehidupan percintaan orang dewasa, namun walau tak menampakkan di depan publik sepertinya mereka semua sudah tahu kalau Andrew dan Bella saling memiliki. Sejak masuk ke dunia Taehyung yang gelap dan bertemu begitu banyak orang asing yang menyeramkan, Bella adalah orang paling pertama yang membawa kesan baik di awal mereka bertemu empat tahun yang lalu. Perawakannya yang riang dan berhati lembut seperti seorang Ibu membuat Jungkook betah tinggal lama-lama bersama wanita bermata biru tersebut.

"Bella, transaksinya berhasil di lakukan."

Jungkook dan Bella yang sedang asik bercengkrama lantas bungkam. Wajah Bella menjadi sumringah, dengan segera Ia menarik kursi putarnya untuk mendekati satu orang lagi di dalam ruangan itu, "Tidak ada kekacauan sampai sini, Shawn?" – namanya. Seorang hacker handal asal Kanada yang telah menjalin kontrak dengan claws.

Shawn mengangguk, tangannya sibuk bergerak di atas keyboard entah mengetik apa, sedangkan Jungkook beralih menatap layar besar di hadapan mereka. Layar itu menampakkan beberapa titik cctv yang merekam kegiatan transaksi ilegal Claws dengan salah satu organisasi gelap di Denmark. Dua cctv berada di dalam ruangan, dua di lorong menuju ruangan, satu di tangga, dan dua di pasang di tiang listrik di depan bangunan tua tersebut. Cctv di luar menampakkan Taehyung dan Jackson yang berjaga di depan pintu utama juga Hwan dan Kwon yang bersiap di atas gedung dengan sniper di tangan, siap siaga. Transaksi ini merupakan transaksi satu kilo ganja dan seratus gram sabu-sabu yang akan di edarkan di Korea nanti. Sebuah transaksi ilegal yang pasti saja telah di endus oleh pihak kepolisian Denmark, sehingga Andrew memutuskan untuk memperkuat pertahanan claws dengan menurunkan si duo sniper kebanggaan mereka.

Jungkook termenung. Cctv yang berada di ruang utama memperlihatkan Andrew, Jimin, dan Vernon beserta tiga pria lain yang tak di kenalnya. Dua kardus besar sudah berada di tangan Jimin dan Vernon, namun mereka sepertinya masih membicarakan beberapa hal.

"shit. Pihak kepolisian sudah bergerak." Shawn berseru memecah keheningan. Bella sigap menanggapi, langsung menempelkan alat komunikasi mereka di telinga. "Empat belas kilometer, ada lima mobil. Dua puluh menit lagi para idiot-idiot itu akan tiba di lokasi."

"Oke, kerja bagus Shawn." Bella mengangguk. Warna hijau muncul dari telinganya, tatapannya berubah serius. Jungkook yang di sebelah Bella menahan nafas tanpa sadar. Suasana tegang menyelimuti ruangan berdiameter sempit ini.

"Disini Bella, do you heard me, Jackson? Empat belas kilometer dengan lima mobil, pihak kepolisian telah mengetahui lokasi kalian." Bella tanpa sadar berdiri dari duduknya. "Kabarkan yang lain. Waktu kalian tinggal sembilan belas menit. Segera tinggalkan lokasi."

Tatapan Jungkook terfokus ke layar dimana cctv memperlihatkan suasana luar gedung. Raut wajah Jackson berubah, namun Taehyung dengan santainya masih merokok sembari bersandar di dinding. Tanpa sadar, Jungkook meremas tangannya. Ia tegang.

Shawn menyalakan microphone di depannya, menghubungi Andrew. "Andrew, posisi kalian di ketahui. Tinggalkan cepat. Aku sudah berusaha menahan polisi dengan meretas traffic light di jalan yang akan di lewati. Yah walau mereka tak mungkin menaati aturan di saat sedang mengejar pengedar narkoba kelas dunia, setidaknya mereka akan terhambat selama lima menit di jalan."

Andrew cekatan menjawab, ruangan utama langsung ricuh. Tiga pria yang hanya utusan dari klien mereka itu berseru panik, berlari meninggalkan ruangan dengan kecepatan angin. Andrew menyusul dengan Jimin dan Vernon di belakangnya. Taehyung segera membuang puntung rokok dan merenggangkan badan. Hal yang sama juga di lakukan oleh Jackson di sampingnya.

Saat ketiga pria tadi sudah hendak menaiki mobil van mereka, bunyi sirene tiba-tiba menggema dari ujung jalan.

Semua orang memucat. Juga Shawn dan Bella.

"Fuck! Jackson, ini aku yang berbicara! Apa mobil klien kita itu sewaan?!" Shawn berseru panik.

"Ya, mereka menyewanya di – "

"dasar tolol! GPS mereka berhasil di lacak lebih dulu!"

"what?!" Bella berseru kaget. "Tunggu, apa yang terjadi Shawn?!"

"Kita di tipu, motherfucker." Shawn menggigit kuku kalut. Pemuda berwajah rupawan itu juga tanpa sadar ikut berdiri dari posisinya. "Andrew! Aku berbicara disini! Ada tim yang sudah berjarak dua ratus meter dari lokasi, tiga mobil dengan dua sniper handal! Kau tak akan bisa melarikan diri karena mereka akan tiba kurang dari dua menit. Suruh V dan Jackson bersiap, juga duo sniper itu!"

Andrew yang masih mengawasi Vernon dan Jimin memasukkan kardus ke dalam bagasi mobil mereka menganggup mantap. Tanpa aba-aba, Ia memberikan kode kepada anggotanya untuk bersiap. Taehyung mengangkat satu alis, tapi paham apa yang harus di lakukan. Vernon dan Jimin berseru menyuruh ketiga pria tadi untuk kembali ke dalam gedung dan kedua preman itu yang akan menjaga mereka. Kelimanya berlari lalu hilang di balik pintu. Hwan dan Kwon yang di atap telah memasukkan peluru ke dalam sniper, siap memulai perang kapanpun mereka mau.

"T-tunggu, kenapa kalian seperti bersiap akan memulai perang?" Jungkook berseru takut. Ia menatap Bella dan Shawn. "B-bukannya kalian harus lari? Polisi – polisi itu berjumlah banyak!"

"Total ada sembilan pasukan dengan dua sniper, itu tidak banyak, Jungkook. Claws harus menghabisi mereka dulu agar bisa kabur dari sana." Bella memegang lengan Jungkook, tersenyum menenangkan.

Tapi tetap saja Jungkook di landa kepanikan. "Lalu bagaimana dengan polisi-polisi yang sedang menuju kesana?! Bukannya ada lima mobil? Mereka kalah jumlah, Bella!"

"Masih lima belas menit lagi sebelum mereka tiba. V tidak akan butuh lima menit untuk menghabisi tujuh orang lainnya."

"T-tetap saja – "

"Mereka terlihat!" Shawn berseru memotong ucapan Jungkook. "Andrew, lima puluh meter di depan kalian!"

"Ya, aku bisa melihatnya, Shawn."

Andrew memberi gestur agar Taehyung dan Jackson melangkah maju lebih dulu. Tiga mobil itu telah berhenti sempurna di depan pagar. Satu-satu pasukannya turun dengan sigap sembari mengacungkan pistol. Dua sniper mereka tinggal di dalam mobil dengan moncong yang mengacung mengancam.

"Kalian resmi di tangkap atas tuduhan melakukan transaksi terlarang barang narkotika di dalam gedung ini! Angkat tangan dan jangan melawan!" polisi yang berdiri paling di depan berseru dengan aksen british yang fasih.

Andrew tertawa. "Hey, calm down, bruh. Ini malam minggu, astaga. Harus kah kalian setegang ini? Tersenyum tidak ada salahnya bukan."

"Diam kau! Segera angkat tanganmu dan menyerahlah!" Bentak mereka, tak mengindahkan Andrew. Langkah kaki mereka semakin maju bersamaan dengan Taehyung dan Jackson yang mendekat tanpa ragu.

"Seharusnya kalian yang menyerah." Taehyung menimpali, dengan cuek menggulung kemeja putihnya hingga siku. Dia sedikit mengibaskan surai silvernya ke atas, menampakkan headband hitam yang di pakainya. "Tidak ingin membuat surat wasiat dulu untuk sanak keluarga di rumah? Mungkin kau bisa memberi beberapa propertimu kepadaku, aku akan dengan senang hati menerimanya, pak polisi."

Polisi yang paling depan menggeram marah. Ia menatap tajam Taehyung yang balas menyeringai. "Kalian melakukan kesalahan besar dengan bersikap angkuh seperti ini. Tidak ada celah lagi untuk kabur, empat belas menit dari sekarang balai bantuan akan datang meringkus kalian, habis tak tersisa. Hidup mu tamat, anak muda."

"Tamat? You must be kidding me." Andrew tertawa prihatin. Satu tangannya terangkat keatas. "Setelah jauh-jauh datang kemari, tidak mungkin aku membiarkan nasib gank ku berakhir di tangan kepolisian Denmark yang bahkan menangkap pencuri anjing pun tidak mampu di lakukan."

Wajah polisi-polisi itu merah padam. Habis sudah kesabarannya. Polisi yang paling depan melompat cepat hendak menyerang Jackson yang berjarak dua meter darinya, namun terlambat. Sebuah peluru lebih dulu menembus ulu hatinya bak burung elang yang dengan sigap menangkap ikan di permukaan sungai. Detik berikutnya badannya langsung ambruk di tanah dengan darah yang bersimbah, tewas seketika.

Sirene perang telah di bunyikan. Polisi-polisi Denmark itu meraung marah, menembakkan pistolnya secara membabi buta. Namun sayang beribu sayang, jarak mereka sudah terlanjur dekat dengan Taehyung dan Jackson yang ahli dalam pertempuran jarak dekat. Taehyung bergerak cepat meninju rahang polisi di dekatnya dengan kuat. Polisi tersebut langsung ambruk, belum selesai keterkejutannya Taehyung sudah kembali melayangkan tinjuan tak berhenti di wajahnya dan memberi tendangan tepat di ulu hati sebagai penutup. KO. Polisi itu kehilangan nafasnya. Hal yang tak jauh berbeda dengan Jackson yang melawan dua polisi bersenjata lengkap tanpa kesulitan. Dalam hitungan satu menit kedua polisi itu juga telah tewas akibat Hwan yang membidik pelipis keduanya dari atap gedung.

Andrew juga demikian. Dengan dua revolver di tangan, Ia terlibat adu tembak dengan dua polisi yang lain. Walau kalah jumlah Andrew berpengalaman dalam urusan menghindari peluru, badannya merunduk cepat dan langsung kembali menekan pelatuk saat musuh lengah sedetik. Dua tembakannya dengan sempurna menembus kening dua lawannya, tewas menggenaskan. Hwan dan Kwon tak kalah heroiknya menembak dua sniper yang sedari tadi terus berusaha membidik mereka, namun kembar ini jauh lebih gesit dan tak tertandingkan. Tidak butuh dua detik, kedua sniper polisi tersebut sukses bersimbah darah di dalam mobil, tewas dengan isi kepala yang tercerai berai. Sisa polisi yang lain juga sudah berhasil di ringkus oleh Taehyung dan Jackson, tak bernyawa lagi.

Kejadian berlangsung begitu cepat, hanya sekitar empat menit dari prediksi Jungkook yang menahan nafas tegang di seberang sana. Wajahnya pucat pasi, dan tangannya bergetar. Ini pertama kalinya Jungkook benar-benar melihat kekasihnya bertindak sebringas itu. Bukan hanya sekedar saling meninju penuh gurauan seperti yang biasa di lakukan di Hell Arena, kali ini claws nyata membunuh orang. Membunuh dengan cara yang begitu mengerikan.

Seolah mengerti, Bella menggenggam jemari Jungkook, mengelusnya lembut tanpa mengucapkan apapun. Rasa tegang Jungkook sedikit berkurang, namun ketakutan tetap tertancap di hatinya. Dan kejadian yang dia lihat hari ini mungkin akan terus membekas untuk waktu yang lama.

Claws memenangkan peperangan singkat itu. Jimin dan Vernon keluar dari dalam gedung dengan tiga orang lainnya, bergegas masuk ke dalam mobil masing-masing. Hwan dan Kwon dengan cekatan lompat dari atap gedung, masuk ke mobil bumper yang dikemudikan Taehyung, langsung melesat cepat meninggalkan lokasi diikuti mobil yang ditumpangi Jimin, Vernon, Jackson, dan Andrew di belakangnya.

Misi berhasil. Polisi-polisi Denmark baru tiba sepuluh menit kemudian, hanya mendapatkan anggota-anggota mereka yang terkapar tak bernyawa di halaman gedung, tanpa satupun bukti yang tersisa.

.


sincerely


.

Tepat ketika Jungkook membuka pintu, suara gelak tawa langsung hinggap di indera pendengarannya.

"I know you will made it, guys. Benar-benar kemenangan yang mutlak."

Seorang pemuda bersurai pirang dengan mata berwarna cokelat almond berdiri di depan kasur, menjelaskan dengan begitu membara. Senyumnya mengembang sempurna, dan itu membawa gelak tawa baru diantara tujuh pemuda lainnya di dalam ruangan tersebut, sebuah kamar hotel.

Taehyung yang duduk di atas sofa mengibaskan tangan. "Ah, ini karena polisi Denmark yang seperti sampah. Pantas saja Grillex berkuasa tanpa hambatan disini. Seperti negara tanpa hukum."

"Kau benar, V." Pemuda bersurai pirang dengan aksen Amerika yang fasih itu mengangguk. "Kinerja mereka lambat, jadi kami bisa berkuasa semaunya tanpa diketahui oleh kepolisian. Yah, walau tetap aku sangat senang atas keberhasilan ini. Semoga barangnya akan sampai di Korea dengan aman."

"Urusan itu serahkan pada kami, Ansel. Kami pastikan dua hari lagi kau akan bangun dengan kabar baik tentang barang ini." Andrew yang tiduran di atas kasur masih dengan pakaian lengkap menepuk dadanya satu kali, menyeringai angkuh. Si pirang itu – Ansel namanya – tertawa keras. "Okay, i will have a faith on you, dude."

Mereka kembali bercengkrama, dan Jungkook memperhatikan di depan pintu. Ia termenung. Bagaimana bisa preman-preman ini terlihat sangat bahagia setelah membunuh sembilan orang dua puluh menit yang lalu? Jungkook saja masih merasakan mual di perutnya.

"Oh, Jungkook."

Ruangan lengang seketika. Semua fokus beralih ke arah pemuda di depan pintu tersebut. Jungkook mengangkat tangannya canggung, membalas sapaan Vernon tadi. "Halo, sepertinya kalian baik-baik saja."

"Kau darimana?" Taehyung memotong cepat. Ia kini menegakkan badan. "Sudah kubilang tinggal di kamarmu saja, jangan berkeliaran."

Jungkook mengedikkan bahu, "Aku di rooftop hotel, menikmati angin malam." Jawabnya. Jungkook tak punya pilihan selain berbohong kepada Taehyung atau tidak kekasihnya akan marah padanya karena melihat hal yang tidak seharusnya dia lihat.

Taehyung ber 'oh' pelan, lalu kembali dengan kesibukannya. Jungkook juga segera bergabung dengan Jackson dan Jimin yang duduk di karpet kamar, bermain joker.

"Hei, jadi kau yang bernama Jungkook?" Ansel ikut duduk bersila di samping Jungkook. Tatapannya berbinar, menampakkan ketertarikan yang nyata kepada Jungkook. "Aku sudah mendengar banyak cerita tentangmu dan V, kisah klise di antara kami. Kau harus tahu, kisah cintamu dan V selalu di jadikan buah bibir setiap pertemuan preman Internasional di adakan. Tidak kusangka V membawamu kali ini."

Jungkook menjilat bibir bawahnya, gugup. Ansel seolah tidak memberi Jungkook celah untuk melirik hal lain, pemuda itu benar-benar memberi seluruh fokusnya hanya untuk Jungkook. "A-ah, aku tidak tahu soal itu. sepertinya Taehyung juga tidak."

"Tentu saja tidak." Ansel tertawa pelan. "V pasti benci sekali membahas hal seperti itu."

"Yah, dia mungkin akan langsung merobek satu-satu mulut orang yang bercerita di belakangnya." Jimin ikut menimpali acuh. Ansel tertawa, mengangguk setuju.

Jungkook terkekeh. "Benar juga, dia pasti marah." Ia melirik sekilas Taehyung yang memainkan handphone dengan kedua kaki yang dia silangkan di sofa. Hwan sudah merebahkan kepala di paha Taehyung, tertidur lelap.

"You're pretty."

"Eh?" Jungkook mengerjapkan mata, kembali menatap Ansel yang ternyata masih memperhatikan wajahnya.

"You're pretty. Kau cantik, Jungkook. Seperti malaikat." Ansel berucap lebih jelas. Senyumnya semakin mengembang dan terlihat semakin tampan.

Jungkook tertawa kecil. "Semua preman selalu saja mengatakan hal yang sama. Ternyata preman Korea dan preman Denmark tidak ada bedanya."

Ansel tergelak. Entah di sengaja atau tidak, tangan pemuda Amerika itu bergerak mengelus lembut pipi Jungkook. "Tentu saja sama. Kau memang cantik dan indah. Tidak ada yang dapat membantah fakta itu."

"Kurasa kau salah. Saat sekolah dulu orang-orang menggilaiku karena aku yang begitu tampan dan gentleman di mata mereka. Bukan karena aku cantik atau apalah itu."

"Benarkah?" Ansel tertawa kecil tak percaya. Tangannya semakin berani turun mengelus leher Jungkook, dan Jungkook mulai tak nyaman. "Mereka lah yang salah. Kau itu indah, aku berani bersumpah."

"Err–terima kasih?" Jungkook berusaha tersenyum, menjauhkan tangan Ansel se-sopan mungkin. Namun Ansel bergerak cepat menautkan tangan mereka. Mata cokelat almond nya semakin berbinar. "Sekarang masih jam delapan malam, Jungkook. Mau ikut denganku mengelilingi hotel ini? Atau mungkin mencari jajanan di luar."

Jungkook panik. Preman macam Ansel ini lah yang selalu di takutinya. Otaknya bekerja keras mencari alasan yang tepat untuk menolak permintaan Ansel sembari berusaha mengarahkan perhatian Taehyung ke arahnya.

"Bagaimana, Jungkook?" Ansel mendesak. Jungkook semakin panik.

"A-ah, itu–" Jungkook gelalapan. Untung saja, di detik terakhir Taehyung akhirnya mengangkat kepala, bertemu pandang dengan Jungkook. "Ah! Taehyung sudah lebih dulu mengajakku jalan malam ini. Iya kan, Tae?"

Perempatan muncul di dahi Taehyung.

"Benarkah?" Ansel menghela nafas kecewa. Ia ikut menatap Taehyung yang melongo seperti orang bodoh di tempatnya. "V, bisa aku pinjam kekasihmu sebentar? Dia manis sekali, the heck."

Jungkook menggeleng pelan sekali ke arah Taehyung, namun si preman itu tak menyadari. "Di dalam hotel saja bagaimana?"

"AH-ya! Hotel! Kita akan pergi bersama bertiga!" Jungkook buru-buru memotong ucapan Taehyung, tersenyum penuh harap. Ansel mengangguk setuju. "Tak masalah, ada Taehyung lebih baik." Lalu kemudian mencium pipi Jungkook sekilas.

Hal itu sama-sama membuat Jungkook dan Taehyung terpaku. Jungkook shock karena di cium oleh orang asing, sedangkan Taehyung.. entahlah. Dia hanya tiba-tiba tak dapat bereaksi apapun setelah melihat kekasihnya dicium oleh orang lain.

Ada perasaan aneh yang bergejolak di hati Taehyung, dan Ia merasakan amarahnya perlahan tersulut. Belum lagi di mata Taehyung, Jungkook justru tertawa, seolah ciuman Ansel tadi hal yang juga di sukainya.

"Aku lelah. Kau berdua saja yang pergi."

"Eh?"

Tak mengindahkan suara keberatan Jungkook, Taehyung segera menutup wajahnya dengan bantal.

Jungkook sakit hati. Bagaimana bisa Taehyung bersikap biasa saja setelah melihat kekasihnya sendiri dicium oleh orang lain di depan matanya? Belum lagi malah memberikan waktu berduaan. Apa Taehyung tak peduli?

Jungkook menggertakkan gigi. Tangannya terkepal.

"Baiklah, aku akan menemanimu, Ansel."

Ansel tersenyum lebar sekali. Mereka berdua pun kemudian meninggalkan kamar hotel tersebut. Semua anggota claws jatuh tertidur. Senyap menyelimuti.

"Kau tolol sekali, V. Kalau memang cemburu, harusnya kejar saja Jungkook."

Perkataan Andrew terngiang di kepala Taehyung.

.


sincerely


.

"Kapan-kapan datang lah lagi ke Denmark. Aku janji akan memperlihatkanmu lebih banyak hal lagi."

Jungkook mengangguk, tersenyum lebar. Kini dia dan Ansel telah tiba di lobby hotel setelah dua jam mengelilingi sekitar hotel. Menikmati jajanan dan mencoba skateboard yang dapat di sewa di taman hotel yang luas. Terlepas dari sikapnya di dalam kamar tadi, Ansel ternyata orang yang supel. Dia teman yang baik, ramah, dan cepat tanggap. Jungkook juga bisa menyimpulkan kalau Ansel tipe orang yang senang melakukan skinship karena Jungkook berkali-kali di rangkulnya. Namun itu tak masalah, Ansel tidak berniat macam-macam kepadanya.

"Aku harus rapat di ruangan lain, Jungkook. Kau bisa kan naik sendiri?"

"Tentu saja." Jungkook tertawa. Ia meninju dada Ansel penuh canda. "Terima kasih untuk malam ini."

Ansel merunduk, kembali mencium pipi Jungkook yang jauh lebih pendek darinya. Namun kali ini Jungkook tak khawatir lagi, anggap saja sebuah ciuman persahabatan. "Harusnya aku yang berterima kasih, Jungkook. Sampai jumpa besok pagi."

Jungkook melambaikan tangan hingga Ansel hilang di balik pintu aula hotel. Senyumnya mengembang. Setidaknya mood nya sudah membaik. Jungkook berjalan ke arah lift untuk kembali ke kamarnya yang berada di lantai lima belas. Namun, pergerakannya terhenti.

Ada Taehyung yang duduk di sofa lobby, menatapnya kosong, namun dingin. Tangannya terlipat di depan dada.

Jungkook mendengus, berusaha mengacuhkan kehadiran Taehyung.

"Kau senang sudah menghabiskan malam dengannya?"

Perkataan Taehyung begitu dingin dan datar. Jungkook memilih untuk berhenti tepat di samping Taehyung.

"Begitulah." Jungkook mengedikkan bahu.

"Dua kali dia menciummu di depan mataku. Bagaimana selama di luar? Apa kalian menikmati ciuman yang menggairahkan juga?"

"Ha?" Jungkook kali ini sepenuhnya menatap kekasihnya. Emosinya tersulut. "Apa maksudmu, sialan. Ansel tidak sejahat itu."

Taehyung tertawa prihatin, beranjak dari duduknya. "Oh, si bocah ini bahkan membelanya." Ia menatap datar ke arah Jungkook yang kini mengepalkan tangan, menahan diri.

"Kau keterlaluan, Tae."

"Oh, ya?" Taehyung terkekeh. Pandangannya berubah, namun Jungkook tak tahu makna di balik onyx hitam tersebut. "Bukannya kau yang keterlaluan? Kau punya kekasih dan kau membiarkan dirimu di cium orang lain. Apa ini? Karena Ansel tampan dan tak tertandingkan? Atau karena Jeon Jungkook yang kukenal telah berubah menjadi seorang jalang?"

Hati Jungkook mencelos.

Ia tak mengerti.

Tujuh tahun menjalin kasih dengan Taehyung, itu adalah kata paling kasar yang pernah di terima Jungkook. Dan Ia benar-benar tak menyangka kata penuh celaan itu keluar dari mulut kekasihnya, dan di tujukan untuk dirinya.

Jungkook tak bisa menahan diri lagi. Airmata menggenang di pelupuk matanya.

"Lalu kau apa, hah?! Kau juga pembunuh! Kau jauh lebih berdosa dariku yang katamu si jalang ini!" Jungkook berseru marah. Tatapannya tepat di mata Taehyung. "Apa kau tak takut, hah?! Harusnya kau lihat dirimu yang menyedihkan itu, menyeringai saat darah mengenai tanganmu, tertawa saat nyawa mereka telah kau rebut! Kau seperti iblis! Psiko handal!"

"Jeon Jungkook! Pelankan suaramu!"

"Kenapa?!" Airmata Jungkook mengalir di pipinya. "Kau bisa berteriak jalang di hadapanku sedangkan aku tidak boleh berkata pembunuh di hadapanmu?! Kau egois sekali brengsek!"

Taehyung melebarkan bola mata tak percaya, tangannya ikut terkepal. Persetan dengan resepsionis yang menjadikan mereka bahan tontonan. "Kau yang egois sialan! Aku membunuh karena pekerjaanku! Sedangkan, kau! YA, KAU! Apa pekerjaanmu harus selalu berbuat baik kepada orang asing?! Membiarkan mereka menyentuhmu semaunya?! IYA?!"

"Itu karena kau yang menolak pergi tadi!" Jungkook memekik tak terima. Nada suaranya telah naik dua oktaf, Wajahnya merah padam. "Andai kau menyetujui anggapanku tadi, aku tidak akan jalan dengan Ansel! Aku juga tidak mau berduaan dengannya! Kau tolol!"

"Oh, ya. Alasan yang bagus!" Taehyung tertawa sinis. Tangannya bergerak cepat menarik kerah Jungkook. Kekasihnya terkesiap, nafasnya tersendat di kerongkongan. "Lalu jawab pertanyaanku! Apa kau akan menolak Ansel saat dia hendak menciummu ketika bersamaku?!" Tanya Taehyung penuh emosi.

Jungkook tergagap, nafasnya semakin menipis. Ia meninju-ninju dada Taehyung kuat. "T-Taekh lepash–"

"Tentu saja kau tetap akan menerimanya." Taehyung tertawa miris. Ia melepas cengkramannya dan Jungkook langsung mundur beberapa langkah, meraup kembali oksigen sebanyak yang dia bisa. "Kau memang pecundang, Jungkook. Kau itu peng – "

Plak!

Ucapan Taehyung tak selesai. Jungkook sudah lebih dulu menamparnya sekuat yang dia bisa. Wajah Jungkook merah padam, nafasnya tersengal dan pundaknya naik turun, tanda dia di puncak kemarahannya. Airmatanya kembali mengalir di pipi.

"AKU MEMBENCIMU KIM TAEHYUNG!"

Taehyung tak lagi membalas saat Jungkook segera meninggalkannya. Ia diam, mengelus pipinya yang perih akibat tamparan tak main-main Jungkook. Taehyung menghela nafas kasar, "ARGH!" lalu mengusak surainya marah.

Resepsionis yang sedari tadi menonton pertengkaran mereka mengelus dada, berusaha menenangkan diri. Pertengkaran yang mengerikan.

.


sincerely


.

"Eh? Kenapa kau disini?"

Hwan dan Kwon mengerjapkan mata bingung saat tiba-tiba Jungkook menerobos duduk di bangku di antara mereka. Jungkook mengedikkan bahu cuek, memasang seatbelt pesawat. "Aku tukar tempat dengan Vernon."

"Sejak kapan?" Vernon yang duduk di seberang – yang merupakan tempat awal Jungkook – mendengus malas. "Sudah jelas sekali kau sedang perang dingin dengan kekasih idiotmu ini." Vernon menunjuk Taehyung yang duduk di sampingnya, diam tak bergeming. Taehyung terus melamun menatap keluar dari jendela pesawat.

Jungkook tak menjawab. Ia menyumpal telinganya dengan headset, memejamkan mata.

Jimin yang duduk di sebelah Vernon menghela nafas. "Bisakah kau seminggu saja tidak bertengkar dengan Jungkook, Tae? Aku lama-lama ngeri melihat kalian."

"Kira-kira kali ini mereka bertengkar soal apa?" Hwan menimpali. Kwon menggelengkan kepala tak tahu.

"Intinya sesuatu yang kekanakan." Jackson yang menjawab. Ia duduk di depan Kembar dan Jungkook. Kepalanya muncul dari balik kursi. "Kau tahu, pasangan idiot ini bahkan bisa berkelahi hanya gara-gara V yang dengan seenak jidat menghabisi es krim Jungkook."

"Mengerikan." Andrew bersuara dari samping Jackson. Para anggota claws tertawa pelan, sedangkan sang objek pembicaraan sama-sama diam tak menanggapi.

"Honey, kau serius tidak ingin berbicara baik-baik dengan V?" Kepala Bella muncul di balik kursi. Senyumnya merekah kala melihat Jungkook yang justru membuang mukanya begitu bertatapan mata dengan Bella.

"Come on, Kookie. Aku tahu kau tidak memutar lagu apapun." Bella menjulurkan tangan, menarik lembut headset yang tersumpal di telinga Jungkook. Pemuda itu tak melawan. "Apa yang terjadi? Kalau hanya soal kalian yang mungkin berebut sarapan, seharusnya kau meruntuhkan dinding ego itu secepat mungkin sebelum semuanya malah justru memburuk."

"Meruntuhkan ego demi orang yang meneriakimu jalang? Tidak, terima kasih."

Kabin pesawat kelas eksekutif itu lenggang.

Beberapa anak claws menghela nafas, juga Bella yang tak tahu harus bereaksi seperti apa.

"Yah, semoga saja kalian tidak membuat rumah kalian hancur malam ini." Andrew berpesan bijak.

Oh, shit.

Taehyung kali ini menyesali keputusannya karena tinggal bersama Jungkook.

.


sincerely


Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka sejak turun dari pesawat. Taehyung menarik koper Jungkook dan Jungkook mengikuti dari belakang, menuju parkiran tempat mobil Taehyung di parkir. Anak claws memilih untuk pulang ke rumah masing-masing. Sama halnya kedua sejoli ini yang terpaksa harus pulang bersama. Perjalanan menuju rumah hanya di isi suara penyiar radio yang sibuk mengabarkan kematian seorang penyanyi Korea muda kemarin malam. Salah satu penyanyi favorit Jungkook, namun mood nya yang terlanjur kacau dari kemarin membuatnya tidak terlalu merasakan kesedihan. Ia hanya bertopang dagu menatap kota Seoul dari balik kaca mobil. Langit kelabu. Beberapa orang berkeliaran menggunakan pakaian hitam hitam, mungkin untuk menghormati kematian penyanyi kebanggaan Korea tersebut.

Sampai di basement Apartement, Jungkook melangkah turun lebih dulu. Ia tak mempedulikan Taehyung yang baru mematikan mesin mobil juga kopernya yang masih di bagasi. Taehyung pasti akan membawakannya. Kakinya melangkah cepat masuk ke gedung. Apapun yang terjadi Jungkook tidak boleh satu lift dengan Taehyung. Rumah mereka berada di lantai lima belas, butuh setidaknya satu menit berada di dalam lift, dan kehadiran Taehyung pasti membuat mereka semakin awkward.

Untung saja Jungkook berhasil menekan tombol close saat Taehyung baru muncul di pintu utama.

Tiba di lantai rumah mereka, Jungkook kembali berjalan cepat. Tangannya merogoh kartu kunci rumah, menggeseknya di sebuah alat keamanan di gagang pintu. Pintu terbuka. Jungkook menghela nafas lega. Tak dapat di pungkiri Ia merindukan rumah ini.

Tepat ketika Jungkook sudah hendak membuka sepatu timberland nya, Sepasang lengan menarik pinggangnya kebelakang. Tubuh Jungkook terhentak, langsung bertabrakan dengan tubuh seseorang yang berada di belakangnya. Suara pintu yang tertutup terdengar memekakan telinga.

"Berhenti marah padaku, bocah."

Itu Taehyung. Memeluknya dari belakang.

Jungkook hanya terdiam di tempat, membiarkan Taehyung yang menenggelamkan wajah di pundaknya juga lengan Taehyung yang mempererat pelukan.

"Aku lepas kendali. Tak dapat mengontrol ucapanku." Taehyung menghela nafas. "Kau tahu aku dengan baik, bocah. Beberapa perkataanku itu tidak bermaksud apa-apa, tidak penting dan tidak perlu kau masukkan ke dalam hati."

"Jadi soal janji pernikahanmu juga hanya bualan semata?"

"Tidak, bodoh." Taehyung buru-buru melarat. "Tentu saja itu serius. Aku akan menikahimu."

"Sedih sekali kau harus menikah dengan jalang."

Taehyung mati kutu. Jungkook sukses memutar balikkan semua perkataannya.

"Tapi, yah. Tidak masalah. Kau juga pembunuh. Anggap saja kita sama-sama tercela." Jungkook hendak bergerak lepas dari pelukan Taehyung, tapi kekasihnya dengan cepat menahannya, memeluk Jungkook semakin erat.

"Oke, baiklah. Aku memang sudah tidak bisa lagi menarik perkataanku sendiri." Taehyung kembali menghela nafas kasar. "Seorang pembunuh menikah dengan jalang. Oke, itu skenario yang baik. Yah walau mungkin kita harus puasa tujuh hari tujuh malam agar anak kita nanti terlahir berhati malaikat. Keajaiban yang mustahil."

Lelucon asal-asalan Taehyung sukses membuat Jungkook tertawa. Sebenarnya, sejak Taehyung mengambil keputusan untuk berbicara lebih dulu kepada Jungkook, mood pemuda manis itu telah membaik, yah hanya sedikit. Namun sekarang amarahnya benar-benar telah sirna.

Taehyung memang akan selamanya tetap Taehyung. Si brengsek bodoh yang tak pernah tahu cara berlaku romantis.

Jungkook berinisiatif menolehkan kepala, menatap Taehyung di belakangnya. Senyumnya merekah. "Kalau kau berkata sekasar itu padaku lagi aku benar-benar akan selingkuh, keparat."

Taehyung tergelak. "Baiklah, kita pegang janjimu dan janjiku."

Entah siapa yang memulai, keduanya berakhir terlibat ciuman panas, masih di depan pintu. Kedua kaki Jungkook telah melingkar sempurna di pinggang Taehyung, meremas surai silver kekasihnya saat Taehyung bermain kasar di dalam mulutnya. Baju mereka telah kusut, wajah Jungkook berantakan. Taehyung tak main-main. Ia memagut, melumat, dan menghisap rakus bibir Jungkook. Melampiaskan rasa bersalahnya. Dan Jungkook hanya bisa melenguh sembari menangkup pipi Taehyung, memperdalam ciuman mereka.

Memperdalam ikatan cinta di antara mereka.

.

.


To Be Continued


lama tidak berjumpa kkkk~ hope you like this chapter as well!

anyway, saya lagi agak kekurangan motivasi buat nulis2 fanfiction tentang taekook BIKOS YAAMPUN MEREKA ITU ASLINYA SEBENERNYA JUSTRU LEBIH SWEET DARI YANG ADA DI FF FF ADJAKDJSHSFJERGRTGJHLJL. INI SPESIAL SAYA UPDATE CEPAT CEPAT UNTUK MERAYAKAN VKOOK YANG DI DAPET HABIS NGEDATE BARENG SJDHEFTGR. YASSS HIDUP VKOOK!

#digampar

oke sekian.

sampai bertemu di chapter selanjutnya, reader-nims!

review dan sarannya sangat di butuhkan reader-nims.

Last,

Mind To Review?

XiRuLin.