(XXII) chapter dua puluh satu.
.
.
"Tae? Kau sudah bangun?"
Tidak ada jawaban.
Jungkook menghela nafas, kembali mengetuk pelan buku jari nya ke pintu berbahan kayu.
"Taehyung."
"Tae."
"Aish, Taehyung!"
Oke, pintu itu tak kunjung terbuka. Sahutan Jungkook hanya terdengar seperti angin lalu, tidak mendapat tanggapan sama sekali dari sang pemilik kamar – Taehyung – yang sekarang mati-matian Jungkook sumpah serapahi.
Pemuda bersurai hitam pekat itu akhirnya mendengus kesal. Kakinya dengan cepat mengayun ke depan, menghasilkan suara tendangan di pintu yang cukup memekakan telinga.
Pintu kamar Taehyung terbuka paksa.
"Sial, kau masih tidur?!" Jungkook memekik tidak terima.
Subjek yang di sumpah serapahi sedari tadi ternyata tidak kunjung bangun. Taehyung tidur telentang dengan nyaman di atas medium bed yang di lapisi seprai warna hitam putih. Bantalnya telah jatuh ke lantai, selimutnya tidak lagi berbentuk.
"Kau berapa lama tidak tidur, hah? Setahun? Kenapa menyedihkan begini." Yang bersurai hitam bersungut-sungut mendekati kasur kekasihnya.
Jungkook kembali mendengus begitu berdiri tepat di sebelah Taehyung. Tangannya bergerak mengguncang paksa badan kekasihnya. "Taehyung, sialan bangun kau! Kau bilang kita akan pergi ke Festival hari ini!"
Suara erangan terdengar dari bibir Taehyung. Tapi dia tidak kunjung bergerak.
Rasa kesal Jungkook telah di ubun-ubun. Dengan kasar dia menyibak selimut Taehyung, mengambil kaleng cola di atas nakas yang ternyata masih terisi, lalu secepat kilat.. byuur!
"FUCK! JEON JUNGKOOK!"
Kaos putih yang melekat di badan Taehyung sukses basah. Jungkook menyiram cola tersebut tepat di atasnya.
Taehyung melompat bangun dari tidurnya, memandang marah ke arah kekasihnya yang kini bersedekap dada tidak peduli. "Kau! Jungkook! Apa-apaan ini brengsek?!"
"Jangan salahkan aku! Kau yang janji padaku kalau kita akan berangkat pukul 9 pagi!"
"Ini masih jam 8 pagi, sialan!"
"Hah!" Bola mata Jungkook menyalang marah. tangannya merampas handphone Taehyung di atas nakas kemudian menunjukkan layarnya ke arah sang kekasih, "Lihat ini! 8 your ass! Sekarang sudah pukul 10 siang, tolol!"
Untuk sepersekian detik pancaran kemarahan Taehyung meredup, tapi dia cepat-cepat mengerang marah. "Brengsek, oke aku yang salah, puas kau?!"
Timpukan keras Taehyung terima di kepala.
"Aku tidak akan membuatkanmu sarapan, jadi urus saja dirimu sendiri!"
Setelahnya, Jungkook melenggang pergi dari kamar Taehyung. Omelan kesalnya masih terdengar hingga di luar ruangan berdiameter 5x6 itu.
Sang empunya kamar ikut mendengus kasar. Dengan cepat Taehyung melepas kaos putihnya yang telah basah lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar. Rasa kantuknya sempurna sirna. Dia memang senang melihat kekasihnya yang sedang mengomel seperti itu, tapi pagi hari adalah pengecualian. Taehyung benci saat waktu tidurnya di ganggu dengan cara yang menjengkelkan.
Di lain sisi, Jungkook memilih untuk membersihkan apartement mereka demi melampiaskan rasa marah yang meletup-letup. Masih teringat dengan jelas bagaimana seriusnya Taehyung kemarin pagi saat mengatakan kalau dia akan mengajak Jungkook ke Festival musim semi hari ini. Ia bahkan menyuruh Jungkook untuk menyiapkan perbekalan. Dan Jungkook dengan bodohnya menyetujui itu semua, rela menghabiskan waktu istirahat malamnya demi menyiapkan makanan untuk festival. Kekasihnya pulang jam 1 malam, tidak menyapa Jungkook sama sekali dan langsung masuk ke dalam kamar. Jungkook mengerti, Taehyung lelah setelah bekerja seharian. Jadi dia tidak menanyakan perihal soal tawaran pergi festival musim semi.
Siapa sangka ternyata Taehyung lupa.
"Terkutuk kau." Jungkook bersungut-sungut sembari membereskan ruang tengah.
Pintu kamar yang terbuka terdengar. Jungkook mendengus, segera berbalik badan membelakangi pintu kamar Taehyung.
"Apa-apaan ini? Cepat bersiap, bocah."
"Malas."
Taehyung memutar bola mata malas. "Aku tidak ada waktu meladeni marah-marahmu. Kau mau pergi atau tidak?"
"Ya itu salahmu yang terlambat bangun."
"Bocah," Helaan nafas panjang terdengar. Taehyung melangkah cepat mendekati Jungkook, langsung mendaratkan timpukan lembut di kepala kekasihnya. "Minho dalam kondisi kritis kemarin. kami semua menunggunya di depan ICU. Tapi dokter bilang dia tidak akan sadar dalam beberapa waktu kedepan. Bahkan mungkin.. tidak akan pernah sadar lagi."
Lenggang.
Mata Jungkook perlahan memanas. Tangannya tanpa sadar menggenggam erat sapu yang dia genggam.
"...Apa yang terjadi?"
"Yah, kepala nya tertembak. Ada peluru yang bersarang di kepalanya sekarang, sangat sulit dikeluarkan." Jawab Taehyung lugas.
Jungkook terdiam, namun kemudian berbalik badan menghadap kekasihnya.
Walau Taehyung bersikap biasa saja, rasa cemas dan khawatirnya terpancar jelas bagi Jungkook.
Jadi yang dapat Jungkook lakukan hanya lah menarik kedua pipi Taehyung mendekat kemudian mengecup singkat dahi kekasihnya. Benar benar singkat.
"Karena kau butuh penyemangat sekarang, aku akan pergi menemani mu ke festival."
Taehyung memutar bola mata jengah. "Terserah saja lah, bocah."
Jungkook tertawa. Dia kemudian segera membereskan sisa-sisa alat kebersihannya sementara sang preman menuju dapur untuk membuat sarapannya sendiri.
"Bocah, kau butuh bahan makanan baru?" Taehyung bertanya saat membuka kulkas.
"Tidak usah," Jungkook menggeleng. "Ibu bilang dia akan datang membawa lauk pauk."
"Cih, wanita itu mengabarimu tapi tidak pernah mengabariku. Sebenarnya anaknya itu siapa."
Gelak tawa Jungkook menggelegar.
Dua tahun terakhir ini sejak keduanya memutuskan untuk tinggal bersama, sifat protektif Ibu Taehyung semakin menjadi-jadi kepada Jungkook. Dalam seminggu wanita cantik tersebut bisa sampai dua kali datang berkunjung ke apartemen mereka, memastikan apa kebutuhan makanan anaknya terpenuhi, rumah bersih dan terawat, tidak ada pakaian kotor yang menumpuk, tidak ada yang rusak, dan lain sebagainya. Terkadang Taehyung berakhir mengeluh kesal kepada Ibu nya agar berhenti berkunjung, namun tetap saja Ibu Taehyung tidak terpengaruh. Jungkook sih terima-terima saja. Dia jadi tidak perlu khawatir akan makanan atau kondisi rumah karena kegiatan kuliah pemuda bersurai hitam itu semakin menggila di kampus. Ada waktu dimana rumah mereka kosong tidak berpenghuni selama dua hari karena Taehyung yang bertugas di luar kota juga Jungkook yang sibuk dengan kegiatan organisasi kampus.
"Oh, kau benar-benar membuat bekal?"
"Tentu saja, sialan. kau yang menyuruhku kemarin." Jungkook mendengus. Dia bergerak menuju ke dapur untuk mencuci tangan di wastafel, menoyor pelan kepala Taehyung yang asik dengan bibimbap buatannya sendiri. "Pulang nanti, aku mau menjenguk Minho."
Taehyung mengangguk. "Yang lain juga masih disana."
"Apa tidak masalah kalau kau bersenang-senang sementara Minho sedang koma?"
"Tidak usah di pikirkan. Rencana ini jauh sebelum Minho sekarat." Taehyung mengibaskan tangan cuek. "Yah, kau akhir-akhir ini terlihat seperti mayat hidup gara-gara kuliah sialanmu itu. mungkin, kau tahu lah–liburan atau semacamnya dapat membantumu. Begitulah."
Perlahan, senyum di bibir Jungkook merekah. "Jadi kau sedang berusaha menghiburku, begitu?"
Taehyung mendengus. Preman itu bangkit dari duduknya, berjalan menuju wastafel dan menaruh mangkok sisa makan, lalu mendekati kekasihnya yang masih berdiri bersedekap dada di depan pintu.
Yang bersurai cokelat mengusap tengkuk. "Kau tahu, semenjak tinggal bersama aku justru merasa jarang sekali bertemu denganmu. Apalagi kau sekarang berangkat sendiri, tidak ingin dijemput olehku lagi."
Kerutan di dahi Jungkook tercipta. "Benarkah? Berarti hanya aku yang merasa bosan melihatmu hampir setiap hari?"
"Brengsek, aku serius." Taehyung menoyor dahi kekasihnya.
Yang menjadi korban tertawa. "Tapi, kurasa kau benar. Si preman ini sibuk dengan dunianya, aku juga dengan tumpukan kertas sialan itu."
"Yah, karena itu, err.. anggap saja ini semacam kencan, atau apalah."
Butuh sepersekian detik saat otak Jungkook memprogres apa yang barusan Taehyung katakan.
Mata Jungkook perlahan melebar, "Kencan?! Serius?! Tunggu–dimana kau belajar kata itu, Tae? Siapa yang mengajarimu? Apa jangan – jangan kau juga sakit seperti Minho atau mungkin kepalamu terbent–"
Taehyung buru-buru menarik pipi Jungkook agar kekasihnya itu berhenti berbicara "Berisik, tolol." Dia mendengus, sebenarnya untuk menghilangkan rasa keki. "Intinya, begitulah. Setelah dari festival, kau boleh kemanapun. Aku akan menemanimu."
Ruangan itu lenggang.
Jungkook menatap dalam-dalam mata kekasihnya, berusaha mencari kejanggalan. Namun Taehyung tidak berbohong, dia serius dengan ucapannya. Dan hal itu justru membuat bulu kuduk Jungkook meremang. Sumpah, Taehyung tidak pernah menjadi lunak seperti ini.
"Kau aneh." Jungkook bergidik ngeri.
Taehyung memutar bola mata malas. Tangannya bergerak mengusak surai yang lebih pendek. "Ganti pakaianmu. Kutunggu, bocah."
"Tae, jangan bersikap manis. Aku ngeri, serius."
"Bangsat."
Keduanya tertawa. Jungkook berjalan masuk ke dalam kamarnya sedangkan Taehyung duduk di sofa ruang tengah sembari menyesap rokoknya penuh khidmat.
Apartemen sederhana mereka ini terdiri dari dua kamar tidur, dapur, ruang keluarga, juga balkon. Keduanya sepakat untuk memiliki kamar masing-masing. Sebenarnya bukan untuk alasan khusus, saat SMA dulu Taehyung sering tidur berdua dengan Jungkook, tidak ada kecanggungan diantara mereka. Namun, sang preman menyadari kalau selera kamar mereka itu berbanding terbalik. Di hari pertama pindah, keduanya bertengkar karena sama-sama ingin mendekorasi kamar sesuai yang mereka mau. Jungkook dengan konsep klasik, sedangkan Taehyung bersikeras untuk membuat kamar bernuansa serba hitam merah. Jungkook menolak keras. Akhirnya, Namjoon dengan bijak menyarankan untuk memisahkan kamar mereka berdua.
Biaya Apartemen ini pun di tanggung penuh oleh Taehyung. Yah, sebenarnya butuh perjuangan keras juga. Jungkook marah besar di saat kekasihnya membayar uang sewa bulan pertama tanpa sepengetahuan Jungkook. Tapi Taehyung tidak peduli. Beberapa minggu pasangan bodoh itu terlibat perang dingin akibat Taehyung yang marah kepada Jungkook karena mengambil part time yang menurutnya tidak berguna, juga Jungkook yang marah karena Taehyung yang bersikeras untuk menanggung biaya sewa Apartemen mereka sendiri. Dan, lagi lagi, Namjoon menjadi penengah setelah berusaha keras membujuk Jungkook untuk memahami sisi keras kepala kekasihnya. Ego Taehyung setinggi langit, harga dirinya apalagi.
Namun, akhirnya Jungkook mengalah. Dia mengerti, dengan cara ini lah Taehyung menunjukkan rasa serius dan sayangnya kepada Jungkook.
Pintu kamar yang terbuka terdengar. Jungkook muncul di baliknya, hanya memakai skinny jeans robek-robek juga kemeja COMME DES GARÇONS Mickey Mouse yang di hadiahkan Jin saat ulang tahunnya tahun lalu. Surainya yang berwarna hitam di biarkan acak-acakan, poni menutupi alisnya.
"Sudah siap?" Taehyung bangkit. Di apitnya rokok di antara belah bibir.
Jungkook mengangguk, kakinya melangkah cepat menuju meja makan untuk mengambil tas untuk bekal mereka. "Kau yang bawa ini ya, Tae."
"Hei, itu terlalu banyak. Kau mau jadi babi, hah? Kurangi, bocah." Taehyung mendengus.
Jungkook balas berdecih. "Sebagian ini mau kubawakan untuk Minho, bodoh."
"Cih, untuk apa kau membawakan orang koma makanan."
"Ya maksudku untuk mereka yang sedang menjaganya!" Seru Jungkook kesal.
Taehyung tergelak. Dia mengangguk masih dengan tawa. "Oke oke, bawa saja semua."
Jungkook berjalan ke arah kekasihnya dengan wajah tertekuk. Dengan ogah-ogahan dia memberikan tas tersebut ke Taehyung. "Kau keluar duluan saja, aku mau ambil kamera dulu."
"Hobi mu itu benar-benar merepotkan, ya." Taehyung terkekeh. Entah di sengaja atau tidak, preman tersebut tiba-tiba merundukkan kepala, mencium pipi Jungkook cukup lama.
Jungkook mematung seketika.
"Kutunggu di parkiran. Jangan lama, bocah." Taehyung berujar dengan senyuman, mengusak surai hitam Jungkook sekilas kemudian segera memakai sepatu timbaland lalu keluar apartemen dengan masih menyesap rokoknya.
Meninggalkan Jungkook dengan wajah memanas.
Setan apa yang merasuki Taehyung? Kenapa dia tiba-tiba berubah manis? Jungkook tidak mengerti. Ini pertama kalinya dia diperlakukan dengan 'normal' oleh Taehyung. Seperti layaknya pasangan pada umumnya. Bahkan, senyum Taehyung tadi tiba-tiba terlihat sangat menawan dan membuat jantung Jungkook berdebar cepat.
Ini janggal. Dan seperti bukan Taehyung yang dikencaninya selama ini.
Namun, Jungkook tidak bisa menolak kenyataan kalau dia berdebar dan menyukainya.
Jadi begini rasanya, di saat kekasihmu bersikap manis kepadamu?
.
sincerely
.
Keanehan Taehyung ternyata berlanjut hingga mereka tiba di Yeouido Spring Flower Festival.
Jungkook di buat kaget sekaligus canggung saat Taehyung menautkan tangan mereka berdua selama berjalan, berkali-kali mengacak surai Jungkook, bahkan tidak ada angin tidak ada hujan, Taehyung mencium pelipis Jungkook lembut ketika Jungkook sedang fokus memotret salah satu pohon sakura.
Fokus Jungkook buyar. Pikirannya kosong setiap kali Taehyung memperlakukannya dengan 'normal'.
Dia hendak protes, tapi urung. Wajahnya lebih dulu memerah dan dia berakhir gugup sembari berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila.
"Hei, bocah. Mau lihat dance cover itu?" Taehyung yang masih setia merangkul Jungkook menunjuk ke arah segerombolan orang yang berdiri mengelilingi street dancers yang sedang beraksi.
Jungkook mendengus. "Sejak kapan kau suka menonton hal seperti itu?"
"Yah, hanya penasaran. Ayo."
Tanpa menunggu jawaban Jungkook, Taehyung segera berjalan cepat sehingga Jungkook yang berada di rangkulannya terpaksa harus menyesuaikan langkah kaki. Jungkook menggerutu kesal, namun Taehyung hanya tertawa, tak peduli.
"Uwah, sepertinya mereka terkenal." Jungkook berujar setelah mereka tiba di kerumunan tersebut.
Ada setidaknya empat puluh orang yang sedang menonton pertunjukan para b-boy handal itu. mereka menunjukkan gerakan-gerakan sulit juga tarian yang keren. Orang-orang berdecak kagum dan bertepuk tangan. Jungkook ikut terpesona, dia tidak lupa mengabadikannya di balik lensa kamera kesayangannya.
Taehyung menyesap rokoknya malas. "Apanya yang keren dengan menari seperti itu? seperti wanita saja."
"Itu keren, bodoh." Jungkook buru-buru mendelik. "Dan lagi, mana ada wanita yang bisa meliuk-liukkan badan seperti mereka. Gerakan mereka hanya dapat dilakukan oleh pria."
"Oh, kau tahu banyak soal tari, bocah?" Satu alis Taehyung terangkat.
Jungkook tertawa. "Saat SMA dulu aku pernah belajar b-boying dari Bambam. Dia cukup ahli."
"Cih, jangan menyebut si bajingan itu."
Jungkook semakin tertawa. Tanpa sadar, dia mengecup pipi Taehyung sekilas. "Uwah, si preman Taehyung sedang cemburu~"
Taehyung melototkan mata, tapi justru mengundang gelak tawa yang lebih besar dari kekasihnya. Taehyung berakhir tertawa kecil, mencium kening Jungkook lalu kembali memusatkan perhatian ke depan dengan tangan yang mengeratkan rangkulan di bahu Jungkook.
Wajah Jungkook lagi lagi memanas.
Apa mereka sekarang bersikap seperti pasangan pada umumnya?
Apalagi dengan penampilan kasual Taehyung yang memakai baju kemeja kotak-kotak lengan panjang berwarna hitam putih yang tidak di kancing di padu kaos polos hitam yang melekat pas di badan, skinny jeans, snapback yang menutupi surai cokelatnya, juga anting-anting yang entah mengapa hanya terpasang satu di tiap telinga, beserta sepatu converse ungu nya, image preman Taehyung hilang sepenuhnya.
Mereka terlihat seperti pasangan mahasiswa yang sedang berkencan.
Aneh, tapi Jungkook menyukainya.
"Terima kasih telah datang menyaksikan penampilan kami! Bagaimana, apa kalian menyukainya?!"
Lamunan Jungkook buyar. Dia buru-buru ikut menatap ke depan. Ternyata penampilan b-boy itu telah selesai. Orang-orang berseru-seru memuji mereka.
"Sebagai segmen tambahan, kami akan mengajarkan satu trik b-boy yang keren namun sebenarnya sangat gampang di lakukan. Karena itu, kami butuh satu sukarelawan dari kalian yang ingin mencoba. Apa ada yang mau?!"
Kerumunan menjadi lebih ramai. Orang-orang saling bersahut-sahutan agar di pilih, beberapa pemuda bahkan sudah hendak melangkah maju ke tengah kerumunan. Suasana menjadi ricuh.
"Cih, dasar konyol." Taehyung mendengus.
Jungkook tertawa. Dia beralih menatap kekasihnya. "Tidak ada niat mengacungkan tangan, Tae? Ada yang bilang justru orang yang tidak mengangkat tangan lah yang akan di pi – "
"Tuan yang memakai snapback, yang sedang merokok, bagaimana kalau anda yang maju menjadi sukarelawan kami?!"
Mati sudah.
Jungkook melebarkan bola mata, juga Taehyung yang kini mengeryit dalam. Dugaan Jungkook ternyata benar.
"Ayo, tuan. Hanya sementara. Kau terlihat keren sekali, kupikir tadi trainee dari salah satu agensi." Anggota b-boy yang berbicara melalui mic kembali memaksa. Wajahnya berbinar menatap Taehyung. Seketika seluruh atensi tertuju kepada preman tersebut.
Jungkook tergelak. Dia meninju lengan Taehyung. "Sana naik, Tae! Kuyakin pasti seru!"
"Brengsek." Taehyung mengumpat. "Aku tidak mau. Ayo pergi dari sini, bocah."
"Aish, coba saja!" Jungkook melototkan mata. "Kau pasti akan keren sekali, aku yakin. Ya, Tae?"
Butuh sepersekian detik sebelum Taehyung akhirnya menghela nafas panjang. Dia mengangguk malas-malasan. "Dasar bocah sialan. andai bukan kau yang minta aku tidak akan sudi menari seperti itu."
Gelak tawa Jungkook terdengar. Taehyung kembali mengumpat kesal. Setelah membuang puntung rokok ke tanah, Taehyung segera berjalan ke arah tengah kerumunan.
Sebagian besar kaum wanita yang berada di sekitar Jungkook memekik hsiteris begitu melihat sosok Taehyung dengan jelas. Seolah mereka sedang melihat artis terkenal.
"Dia tampan sekali!" Wanita berwajah menor di samping Jungkook memekik dengan suara melengking yang menyakitkan telinga. "Astaga, astaga! Apa dia pangeran?! Malaikat?! Kenapa tampan sekali?!"
Hah. Dia preman, bodoh. Jungkook tertawa di dalam hati.
Detik berikutnya eksitensi Taehyung menjadi pusat perhatian. Jungkook tentu tidak lupa mengabadikan moment emas ini di kameranya, menjadi orang yang tertawa paling keras ketika Taehyung berkali-kali gagal melakukan gerakan. Konyol sekali di mata Jungkook, namun orang-orang di kerumunan itu malah memuja Taehyung habis-habisan. Apalagi setelah Taehyung yang geram dan emosi akhirnya melepas kemejanya dan tato di sekujur bicepnya terpampang nyata. Teriakan histeris semakin menggila.
Jungkook hanya dapat menggelengkan kepala di iringi tawa nya yang tak henti.
Mereka yang sedang memuji Taehyung saat ini mungkin akan shock luar biasa kalau tahu orang yang sedang di idolakan itu ternyata hanya lah seorang preman bodoh yang senang menagih utang dan jago meninju.
Dalam hati Jungkook tersenyum.
Melihat Taehyung yang bersikap seperti pemuda normal pada umumnya ternyata menyenangkan.
.
sincerely
.
"Lihat ini, astaga, kau konyol sekali! Gerakan semudah ini pun kau lakukan susah payah sekali! Dasar kaku! Astaga, akan kutunjukkan ini pada Jimin nanti!"
Gelak tawa Jungkook tidak berkesudahan.
Dari setelah penampilan tersebut selesai dan mereka tidak lagi dikerumuni orang-orang yang ingin foto bersama Taehyung, Jungkook telah tergelak lepas. Taehyung sudah melayangkan tinju, mengapit leher Jungkook sekuat yang dia biasa, menggelitikinya, memarahinya, namun tawa Jungkook akan terus kembali. Kekasihnya itu menertawakannya habis-habisan.
Jadi yang dapat Taehyung lakukan hanya lah membiarkan Jungkook hingga dia lelah.
"Ya, ya, aku tahu kau senang sekali mengejekku bocah, tapi jangan tertawa saat kau sedang makan, tolol." Taehyung mendengus melihat kekasihnya yang tertawa sembari menguyah kimbab di hadapannya.
Jungkook buru-buru menelan, menggeleng cepat. Tangannya sibuk mengotak atik kamera di tangan. "Aku tidak bisa menahan diri. Kau tahu, akhirnya, dalam tujuh tahun ini aku mendapat moment konyolmu yang sangat sangat memalukan, Tae."
"Sialan. bukannya kau bilang aku akan terlihat sangat keren?" Ujar Taehyung kesal. Dia menoyor dahi kekasihnya cukup keras, namun Jungkook acuh.
Dia justru kembali tertawa begitu menonton video Taehyung yang tadi di rekamnya. "Tidak jadi. Lihat, kau konyol sekali."
Yang bersurai cokelat berakhir memutar bola mata malas. Taehyung memilih untuk lanjut memakan bekal yang Jungkook siapkan.
Gelak tawa Jungkook perlahan berhenti. Dia terkekeh kecil, segera menyimpan kameranya kemudian kembali melanjutkan makan. Sekilas, Jungkook menatap Taehyung yang sedang memainkan handphone. Jungkook tersenyum entah mengapa.
Taehyung mendongakkan kepala. dia menaikkan satu alis begitu melihat ekspresi kekasihnya. "Kau kenapa? Sudah gila, bocah?"
Jungkook tertawa. "Tidak. Sepertinya aku akan sulit melupakan kejadian barusan."
"Sialan." Taehyung mendengus. Preman itu sedikit memajukan badan, mengusap sudut bibir Jungkook yang di nodai saos burger, lalu dengan acuhnya kembali menegakkan badan. "Yah, tapi karena kau terlihat senang, aku tidak jadi membunuhmu."
Pipi Jungkook memanas.
Sederhana. Sederhana sekali tindakan yang di lakukan Taehyung.
Namun detak jantung Jungkook berdebar cepat hanya karena hal sederhana itu. afeksi sederhana yang tidak pernah sama sekali di lakukan Taehyung.
Tiba-tiba saja memori tentang teman-temannya yang bercerita tentang kekasih-kekasih mereka yang selalu berlaku manis dan romantis melintas di pikiran Jungkook.
"Kau tidak bisa untuk tidak merona! Dadamu pasti akan berdebar cepat, dan kau tidak dapat mengontrol ekspresi wajah sendiri. Perlahan tapi pasti rasa sayangmu kepadanya akan semakin besar, lalu kau sadar kalau jatuh cinta itu begitu indah dan kau tidak menyesalinya sama sekali. Seolah kau sedang berjalan di tengah taman bunga yang indah, wajahnya memenuhi pikiranmu, senyumnya merenggut nafasmu, dan akhirnya kau akan tergerak untuk menciumnya selama yang kau bisa!"
Shit.
Terkutuk lah ungkapan konyol Lisa.
Kenapa sekarang Jungkook merasa seolah dia mengalami hal yang persis seperti yang Lisa gambarkan?
Debaran dan hal semacamnya adalah hal yang tabu untuk Jungkook. Selama menjalin hubungan dengan Taehyung, jantung Jungkook hanya akan berdebar cepat jika mereka berciuman. Itupun jarang terjadi. Jungkook tahu kalau dia mencintai Taehyung, dia tidak dapat hidup tanpanya, tapi tindakan Taehyung yang dapat membuat Jungkook berdebar dan memerah seperti wanita sangat lah langka. Bisa di hitung jari. Itupun karena momen-momen emosional mereka.
Untuk debaran karena merasa di perhatikan seperti ini oleh Taehyung, Jungkook benar-benar baru pertama kali merasakannya.
"Hei, bocah. Kau melamun?"
Jungkook terkesiap. Dia hampir saja tersedak kimbab namun dengan cepat tangannya meraih botol minum lalu menegaknya banyak-banyak.
Taehyung mengeryit. "Kau kenapa sebenarnya? sedang sakit, bocah?"
"Tidak, tidak apa-apa." Jungkook mengibaskan tangan. Dengan gugup ia segera menghabiskan kimbabnya tanpa menatap Taehyung.
Rasa curiga Taehyung semakin besar. Dia kembali memajukan badan, mengangkat dagu Jungkook yang membuat kekasihnya terkesiap, kaget. Tatapan Taehyung tepat di mata bulat Jungkook. "Kau serius sedang tidak sakit, kan?"
Jungkook tergagap. "A-ah, t-tentu saja tidak! M-memangnya aku akan sakit apa, ha-ha-ha!"
"Sakit jiwa."
Shit.
Raut wajah Jungkook berubah seketika. Dia menimpuk kepala Taehyung sekeras yang dia bisa. Matanya melotot. "Mati kau!"
Taehyung meringis kesakitan, namun tawanya menggelegar. "Hei, siapa yang tahu, kan? Mungkin saja kau terkena gangguan jiwa setelah tertawa tidak berhenti seperti tadi."
"Aku pulang! dasar brengsek!" Jungkook berseru marah. wajahnya kini memerah efek emosi.
Apa yang dia harapkan dari si brengsek Taehyung ini? Jungkook pasti sudah tidak waras.
Taehyung tergelak. Sebelum Jungkook bertindak menimpuk kembali kepalanya, Taehyung dengan secepat kilat menarik dagu Jungkook, dan tanpa aba-aba mendaratkan ciuman di bibir kekasihnya.
Mata Jungkook melebar sempurna.
Taehyung menciumnya? di depan umum?
Ciuman itu terlepas. Tapi wajah mereka masih berjarak sangat dekat. Taehyung menatap Jungkook tepat di mata. Mereka berbagi nafas yang sama.
Jantung Jungkook berdetak dengan gila. Wajahnya sempurna memerah. Taehyung menatapnya lekat-lekat, ia kemudian kembali mencium lembut bibir Jungkook dengan gerakan yang sangat memabukkan hingga rasanya jantung Jungkook akan melompat keluar.
Pikiran Jungkook kosong. Wajah hingga telinganya terasa sangat panas.
"Kau tahu," Taehyung berbisik tepat di depan bibir Jungkook. Tatapannya mengunci mata Jungkook. "Kau itu manis sekali, Jungkook. Aku bisa gila."
Kali ini Jungkook tidak dapat menahan diri lagi.
Dia menarik kerah Taehyung kasar, lalu dengan terburu-buru kembali menabrakkan bibir mereka berdua.
Aku yang bisa gila karenamu, sialan.
.
sincerely
.
"Jadi? Kau serius tidak ingin menjenguk Minho?"
Jungkook mengangguk. Kepalanya tertunduk. "Itu, aku, kepalaku pusing. Mau tidur. Ya. Begitu."
"Hah?" Tawa Taehyung lepas. "Kau bilang apa, bocah? Bahasa robot?"
"T-Tidak tahu!" Jungkook melotot, dia meninju dada Taehyung dengan wajah memerah. "Pokoknya, aku tidak pergi!"
Taehyung semakin tertawa. "Harusnya kau lihat wajahmu itu. semerah apel. Jelek sekali, bocah."
"APA?!" Jungkook berseru marah. dia kembali meninju dada Taehyung dengan kuat. Matanya melotot sempurna. "Iya aku jelek! Puas kau?! Itu salahmu yang bertindak aneh seharian ini! Dasar tolol!"
"Hei, memangnya aku berbuat apa?" Taehyung mengeryitkan dahi. "Kau saja yang aneh, pipi mu terus memerah dari tadi. Apalagi menciumku dengan pana–"
Jungkook buru-buru berseru panik. "AAH! Itu karena kau, brengsek! Kau yang lebih dulu menciumku! Kau yang bertingkah aneh seharian ini! Sejak kapan kau mau memegang tanganku di depan umum?!"
"Yah, itu sih – " Taehyung mengusap tengkuk, canggung. "Kupikir kau akan suka hal semacam itu."
Eh?
Jungkook terdiam. Dia menatap lekat-lekat kekasihnya.
Taehyung menjilat bibir bawahnya cepat. "Kau tahu, itu. err.. Ibu pernah berkata padaku kalau kau ingin diperlakukan dengan manis. Seperti di ajak kencan, atau yah sedikit di perhatikan. Aku juga baru sadar kalau dua tahun ini tidak pernah mengajakmu keluar lagi. Jadi, aku berusaha menjadi apa yang seperti kau mau."
Wajah Jungkook kembali memanas. "S-siapa yang bilang kalau aku mau?"
"Ibu. Ibu bilang kau pasti menderita karena tidak pernah kuperlakukan dengan manis. Yah, padahal hal-hal manis itu memuakkan sekali, tapi kurasa, dia ada benarnya. Tidak ada salahnya untuk mencoba sesekali. Jadi, saat melihatmu yang seperti mayat hidup belakangan ini aku jadi berpikir untuk melakukan sesuatu untukmu. Yah, hanya ingin membuatmu sadar kalau kau itu, err. Tidak sendiri. Kalau lelah bilang padaku. Jangan di pendam sendiri, bodoh."
Ya Tuhan. Jadi semua ini adalah usaha Taehyung agar Jungkook merasa terhibur?
Sudah berapa kali Taehyung meruntuhkan ego nya demi Jungkook? dia berusaha menjadi seorang kekasih yang menyenangkan yang jauh dari karakter aslinya, dengan segala kecanggungan yang dia miliki, Taehyung pasti berusaha keras. Bahkan rela bertindak konyol. Jungkook baru sadar kalau Taehyung berusaha sangat keras menahan emosinya dan tidak membantah apapun yang Jungkook katakan seharian ini.
Mata Jungkook memanas.
"Bodoh." Jungkook memalingkan wajah. Pipinya terasa panas. "K-kau harusnya tidak bertindak sejauh ini. Aku justru merasa aneh. Seperti bukan dirimu saja."
"Yah, aku juga tidak berniat sejauh ini. Tapi–" Taehyung berdehem. "Aku serius. Kau manis sekali dengan penampilanmu hari ini. Tubuhku spontan bergerak sendiri."
Deg.
Jungkook benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Matanya melebar, Wajahnya memerah sempurna hingga ke telinga. saat matanya bertatapan dengan mata Taehyung, jantungnya serasa ingin melompat keluar.
Jungkook berdebar luar biasa.
Taehyung buru-buru membuang muka, langsung berdehem canggung. "Ah, itu. aku akan pergi ke rumah sakit sekarang."
Jungkook tidak menjawab. Dia beralih menundukkan kepala dalam-dalam.
Canggung, malu, semua beradu jadi satu.
Sial, kenapa mereka bertingkah seperti ini?
Tujuh tahun mereka menjalin hubungan, namun ini pertama kalinya Jungkook merasa malu luar biasa di hadapan Taehyung.
Bodoh. Bodoh sekali.
"Kau akan pulang malam ini?" Jungkook bertanya gugup.
"Iya. Kenapa? Mau kubawakan sesuatu?"
Jungkook menggeleng. Dengan wajah yang masih semerah kepiting rebus, Jungkook mengangkat kepala menatap kekasihnya. "Itu – aku, aku mau tidur denganmu malam ini."
Kali ini, giliran Taehyung yang terpaku di tempat.
tidak tahu harus bereaksi seperti apa untuk mengatasi detak jantungnya yang menggila.
.
sincerely
.
"Jim."
Jimin yang sedang asik menyesap rokoknya bergumam. "Kenapa?"
"Apa menurutmu Jungkook itu manis?"
"Uhuk! Uhuk!"
Taehyung mendengus malas. Dengan ogah-ogahan dia menyodorkan botol minuman ke arah seorang pemuda lain yang tadi terbatuk. "Aku tahu masakan Jungkook itu enak. Jangan berlebihan, Andrew."
"Tidak, tolol. Bukan itu." Andrew – yang tadi terbatuk – menggeleng cepat-cepat. "Kau yang bertanya aneh seperti itu benar-benar membuatku merinding."
"Bajingan." Taehyung spontan melempar kaleng sodanya ke Andrew. Namun sang ketua gank claws hanya tertawa keras.
"Tentu saja Jungkook manis." Jawab Jimin kemudian. Dengan malas dia menghembuskan asap rokoknya dari bibir. Tatapannya menerawang ke atas sana. Bintang-bintang berkerlap kerlip dengan indah. Ketiganya sekarang sedang menikmati waktu malam di taman rumah sakit, sekalian menghabiskan bekal yang tadi Jungkook buat.
"Bagaimana bisa kau sudah berkencan dengannya selama tujuh tahun dan baru bertanya soal itu, Tae?"
Taehyung mengacak surai frustasi. "Entah. Aku sepertinya sudah gila. Sialan. dia entah mengapa terlihat manis sekali hari ini sehingga tanpa sadar aku melakukan hal-hal konyol. Fuck, membayangkannya saja aku merinding."
"Itu artinya Jungkook telah menaklukkanmu seutuhnya, V." Andrew tertawa kecil. Dia mengacak asal-asalan surai yang lebih muda. "Asal kau tahu, para brengsek itu tidak menggoda kekasihmu tanpa alasan. Jungkook itu memang menawan, seperti malaikat. Indah sekali. Walau sikapnya bar bar, dia tetap menggemaskan apapun yang dia lakukan."
Menggemaskan.
Itu benar. Bagaimana bisa Taehyung baru menyadari kalau kekasihnya itu memang menggemaskan? Terkadang Jungkook memang terlihat menggemaskan. Alasan itu lah yang membuat Taehyung selalu ingin menggodanya untuk membuat kekasihnya kesal. Taehyung tak tahu, dia hanya merasa senang melihat bagaimana wajah kekasihnya itu akan merengut, bola matanya yang bulat akan melotot, dan pipinya memerah karena emosi. Belum lagi teriakan melengking yang terdengar lucu di telinga Taehyung.
Shit. Taehyung berdebar lagi.
"Astaga, aku pasti sudah gila." Taehyung mengusap wajahnya kasar.
Ini aneh. Perasaan ini baru pertama kali Taehyung rasakan.
"V. Kau itu benar-benar tolol soal cinta, ya." Tawa Andrew kembali menggelegar setelah melihat Taehyung yang terlihat sangat frustasi.
Jimin menyeringai. "Tentu saja. Dia bahkan tidak sadar kalau dia sebenarnya telah terpesona dengan kekasihnya sendiri. Aku jadi kasihan kepada Jungkook."
Tawa Andrew semakin keras. Pemuda bule itu merangkul Taehyung yang duduk di sampingnya, lalu mengacak gemas surai Taehyung. "Kau itu benar-benar kaku dan tidak peka. Dengar, V. Saat kau berdebar seperti ini, saat kepalamu hanya dipenuhi oleh Jungkook dan badanmu melakukan hal-hal di luar kendali, itu lah yang dinamakan cinta. Jangan merasa jijik, semua pria di dunia ini merasakan hal yang sama bila dia jatuh hati pada seseorang. Aku juga merasakan hal yang sama saat pertama kali bertemu Bella."
"Dan saat aku juga bertemu Yoongi." Jimin menimpali.
Taehyung menghembuskan nafas kasar. "Tapi tetap saja, terasa aneh."
"Tentu saja aneh. Satu-satunya orang yang kau cintai di dunia ini adalah Jungkook, kau tidak punya pengalaman sama sekali. Jungkook juga terlalu lugu. Aish, kalian berdua memang selalu berhasil mengejutkanku. Dasar cinta mati."
Jimin dan Andrew tertawa. Taehyung hanya mendengus.
Pikirannya kali ini benar-benar di penuhi Jungkook.
"Dia memintaku untuk tidur dengannya malam ini."
"APA?!"
"Bangsat, Jim. Jangan teriak di telingaku bajingan!"
Jimin buru-buru menjauhkan badan saat Taehyung hendak melayangkan tinju. "Lepas kendali. Tunggu, maksudku, serius? Dia memintamu tidur dengannya?"
"Iya." Taehyung menghela nafas. "Bagaimana bisa aku tidur dengannya kalau dia saja membuatku gila seperti ini?"
"Tidak, bodoh." Jimin menimpuk kepala yang bersurai cokelat. "Dia itu ingin mengajakmu bercinta."
Kali ini timpukan keras Andrew layangkan ke kepala Jimin. "Anak sialan. Kau kira pikiran Jungkook sebejat dirimu?"
Keduanya lanjut berdebat, namun Taehyung tenggelam di dalam pikirannya.
Masih teringat dengan jelas bagaimana merahnya wajah Jungkook yang gugup saat mengatakan hal tadi. Begitu manis sehingga nafas Taehyung serasa di tarik paksa. Tercekat dan membuatnya ikut berdebar.
Apa yang Jimin katakan bisa saja benar.
Tapi wajah Jungkook yang memerah justru membuat Taehyung semakin ingin menjaga Jungkook.
Apapun yang terjadi.
Dia akan menikahi Jungkook, menjaganya dengan sehat.
"Aku harus pulang." Taehyung segera bangkit.
Jimin menyeringai. Dengan sok dia menepuk-nepuk punggung sahabat sematinya. "Selamat kehilangan perjakamu."
Andrew mendengus, tapi dia ikut tertawa kecil. "Yah, jangan sakiti Jungkook. jangan gemetar, V."
Rasanya Taehyung ingin meninju satu-satu wajah kawannya itu, tapi dia berakhir mendengus lalu segera berlalu. Pulang ke rumah.
Jungkook ternyata menunggunya di ruang keluarga. Sudah menggunakan baju kaos dan celana pendek, siap tidur.
Saat Taehyung hendak mengatakan sesuatu, Jungkook lebih dulu menubrukkan badan ke kekasihnya.
Taehyung terdiam.
"Si Taehyung yang romantis masih berlaku kan?"
"...Mungkin."
Pelukan Jungkook mengerat. "Kalau begitu biarkan aku memelukmu semalaman ini ya, Tae. Kau tahu, ini cara mudah untuk membuatku menjadi semangat lagi."
Taehyung tertawa. "Baiklah. Selamat menikmati detik-detik terakhirmu bersama si Taehyung yang romantis, bocah. Berdoa saja semoga dia kapan-kapan akan datang lagi bermain denganmu." Lalu ikut memeluk badan kekasihnya.
Di balik dada Taehyung, Jungkook ikut tertawa.
Taehyung yang manis memang menyenangkan.
Tapi Jungkook rasa, Taehyung yang brengsek jauh lebih dia cintai.
.
.
To Be Continued
Happy happy birthday to our one and only rainbow sunshine Jung Hoseok-ssi!
may you get blessed this year too. i green u Hobi!
let's continue to be our cool and awesome jay-hoooooooooope!
#akhir-akhir-ini-hoseok-jadi-bias-saya
#dia-makin-ganteng-af
#bye-taehyung
#GoldenHobiDay
anyway, makasih banyak yang sudah mereview di chapter kemariinnn. saya seneng banget aduh. itu sampe ada yang bilang ff ini bisa ngalahin dilan. altho i know itu cuma pendapat reader-nim entah mengapa saya pengen nangis bacanya:" such a supportive message, really:" thankyousomuch!
hope you like this chapter as well. ini terkhusus buat kalian yang katanya rindu sama momen si preman dan bocahnya. semoga aja ga oot yaaaa:"
see you on the next chapter guys!
(vote : lanjutin dua chapter lagi / lama lamain dulu)
(niatnya mau lanjut agak lama, tapi takut malah nanti jadi bosan bacanya hehe.)
Last,
Mind To Review?
XiRuLin.
