(XXIII) chapter dua puluh dua.


.

.

"Sial melenceng! Ah tidak–brengsek Kim Taehyung, jangan menghalangi jalanku!"

"Apa aku terlihat peduli, bocah?"

"Sialan!" timpukan keras melayang mengenai kepala Taehyung. Taehyung mengaduh kesakitan, tapi fokusnya tetap lurus ke layar TV di hadapan mereka.

Bunyi tombol konsol stik yang di pencet serampangan dan penuh emosi memenuhi ruang keluarga apartemen Jungkook dan Taehyung. Dari layar TV, suara racing game yang di setel volume maksimal tidak kalah berisiknya. Teriakan-teriakan kekalahan di bagian Jungkook, dan teriakan semangat di bagian Taehyung. Semuanya beradu.

Jungkook menekan tombol O hingga tangannya terkepal. Matanya melotot marah seolah ingin memakan hidup-hidup layar 10 inch di depannya. "Ah, brengsek! Kenapa motor ini lemah sekali?!"

"Sial sekali nasibmu." Di sampingnya, Taehyung tertawa lepas. Berbanding terbalik dengan tingkah rusuh Jungkook, Taehyung santai-santai saja menekan tombol stik ps sembari menguyah permen karet cuek.

"Ternyata motor ini memang tidak ada bagusnya sama sekali. Kenapa pula dia bisa berada di slot langka?!"

"Kan sudah kubilang, motor itu pasti ada gunanya. Kau saja yang bodoh, bocah."

Kaki Jungkook melayang menendang betis Taehyung dengan kasar. Dia menoleh, melotot marah ke arah kekasihnya yang duduk di sampingnya. Tapi Taehyung hanya fokus ke depan, mengacuhkan Jungkook.

"Jangan sombong dulu kau. Ini baru ronde 3! Aku pasti bisa menyusul motor bututmu itu!"

Taehyung menyeringai mengejek. "Coba saja."

Bendera perang telah di kibarkan. Jungkook segera saja menegakkan badan, memegang erat-erat konsol stik dengan kedua tangan. Dia menekan segala tombol agar dapat menambah laju motor yang digunakannya untuk bertanding, apa saja asal kecepatannya bertambah.

Namun, sial beribu sial, skill game Taehyung memang tidak dapat diremehkan. Preman itu seperti jelmaan dewa game. Ronde terakhir telah selesai, dan hasil tetap tidak berubah. Jungkook peringkat 2, Taehyung 1.

"Menyebalkan." Jungkook bersungut-sungut. Dia melempar asal konsol stiknya hingga terjatuh di karpet tebal yang berada di depan sofa.

Taehyung tertawa, mengacak surai Jungkook. "Butuh 10 tahun bagimu untuk mengejar scoreku, bocah."

"Yah, karena kau memang tidak pernah sekolah dan hidupmu hanya di habiskan dengan bermain game, tentu saja aku akan sulit mengejar."

Taehyung mengumpat. "Bangsat."

Jungkook tertawa. Dia menjauhkan tangan Taehyung yang bertengger di atas kepalanya, lalu segera beranjak bangun dari sofa yang mereka duduki. "Kau mau makan siang apa?"

"Apa saja."

"Oke kumasakkan racun tikus."

Taehyung mengibaskan tangan. "Yang enak, ya."

Gelak tawa Jungkook menggema. Pemuda bersurai hitam itu segera berjalan menuju dapur, sedangkan Taehyung menekan tombol untuk memainkan game lain di ps mereka. Bibirnya bergerak menguyah acuh permen karet, tatapannya malas ke arah TV. Hari ini Taehyung sedang libur, Jungkook juga tidak ada jadwal mata kuliah di kampus berhubung sekarang ia tinggal menyusun skripsi. Setelah sarapan tadi, mereka bermain game bersama. Berjam-jam waktu yang kedua sejoli itu habiskan. Yah, kebiasaan dari SMA memang sulit untuk dihilangkan. Kegilaan Taehyung dan Jungkook terhadap game masih sama.

Apartemen mereka damai. Hanya ada suara kegiatan Jungkook yang sedang memasak juga game GTA dari ruang keluarga.

Tiba-tiba, telfon rumah mereka berdering.

Dengan langkah malas, Taehyung bangkit dari posisi duduknya, mengangkat gagang telfon tersebut yang terletak di samping meja TV.

"Ya, halo?"

"Tae-ie? Ini Ibu. Kau ada dimana?"

"Di rumah. Kenapa, Bu?"

"Kalau begitu kau harus datang ke Restoran Lagazile sebentar sore, ya. Pamanmu si Baekhyun tiba di Korea barusan. Kita akan mengadakan pertemuan keluarga."

"Hah?" Taehyung berdecak malas. "Merepotkan sekali. Kenapa pula dia tiba-tiba datang berkunjung?"

"Sudah, jangan banyak tanya. Pokoknya kau harus datang! Ah, jangan lupa untuk mengajak Jungkook, ya! Ibu tutup."

"Ibu bilang apa, Tae?" Kepala Jungkook menyembul di balik dinding dapur tepat ketika Ibu Taehyung menutup panggilannya.

Taehyung mengedikkan bahu. "Pertemuan Keluarga secara mendadak."

"Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"Yah, Paman Baekhyun akhirnya datang ke Korea."

"Uwah! Paman Baekhyun?!" Mata Jungkook berbinar. "Astaga, terakhir dia datang sekitar 7 tahun yang lalu, bukan?"

Taehyung mengangguk. Dia berjalan menuju dapur, mengapit lembut leher Jungkook dan menariknya kembali masuk ke dalam dapur. "Karena itu kau juga disuruh datang. Setelah makan, kau harus langsung siap-siap. Oke, bocah?"

Senyum Jungkook mengembang. "Roger, captain!"

Ketika masih tinggal di Korea, Paman Baekhyun adalah Paman Taehyung yang dekat dengannya. Dulu dia sering mengajak Jungkook ke rumahnya, atau sekedar mengajak dia dan Taehyung makan di luar. Sudah lama sekali Jungkook tidak bertemu dengan paman kekasihnya tersebut.

.


sincerely


.

Keluarga besar Taehyung sebagian besar memang bekerja di dunia gelap. Ada yang berprofesi seperti Ayah Taehyung yaitu seorang preman, ada yang seorang kepala perusahaan penyelundupan senjata ilegal, kepala laboratorium ilegal, dan banyak macam lagi yang Jungkook tidak tahu. Namun begitu, beberapa paman dan bibi Taehyung juga sukses di dunia normal. Sepupu-sepupu Taehyung pun hidup layaknya kehidupan biasa. Hanya Taehyung satu-satunya yang berkecimpungan di dunia gelap mengikuti langkah Ayahnya.

Ini bukan pertama kalinya Jungkook menghadiri pertemuan keluarga Taehyung, tapi rasanya tetap saja menegangkan. Soalnya, tingkah laku keluarga besar Taehyung sangat berbanding terbalik dengan keluarga besar di luar sana.

"Masuk duluan saja, bocah. Aku ke tempat parkir dulu." Taehyung mengambil uluran helm dari Jungkook. namun, kekasihnya cepat-cepat menggeleng.

"Tidak. Kutunggu disini."

Taehyung memutar bola mata malas. "Terserahlah." Lalu segera berlalu ke tempat parkir khusus motor restoran yang telah di booking sepenuhnya oleh keluarga besar Taehyung.

Jungkook menunggu kekasihnya di depan pintu masuk. Ada dua tiga orang pemuda pemudi yang Jungkook ketahui adalah sepupu jauh Taehyung datang bergiliran. Mereka menyapa singkat Jungkook, dan Jungkook balas tersenyum kaku. Untung saja, Taehyung akhirnya muncul tidak lama kemudian dan mereka segera masuk ke dalam restoran.

"Jungkookie!" Ibu Taehyung yang duduk tidak jauh dari pintu masuk segera melambaikan tangan begitu melihat mereka datang. Ada Saehyun di pangkuannya yang ikut tersenyum ceria.

"Cih. Dia lebih menyapamu daripada anaknya sendiri." Taehyung berdecih. Jungkook tertawa.

Suasana pertemuan ini ramai. Meja-meja bundar yang dikelilingi kursi sebagian telah penuh. Di sebelah timur, kaum pria dewasa bertato, bertindik, berjas, berpakaian polisi, semua berkumpul. Bagian barat dipenuhi pemuda-pemudi seumuran Taehyung dan Jungkook, dan bagian depan restoran di dominasi oleh para wanita dewasa.

Taehyung menarik tangan Jungkook menuju ke arah Ayahnya yang asik mengobrol dengan pria yang tak pernah Jungkook lihat.

"Ayah, aku datang."

Percakapan pria dewasa itu terhenti. Mereka sama-sama menoleh. Senyum Ayah Taehyung spontan mengembang. "Kupikir kau tidak akan kesini, bocah berandal. Dan halo, Jeon. Lama tidak bertemu."

Jungkook tersenyum, membungkukkan badan. "Lama tidak bertemu, Ayah."

"Mana Paman Baekhyun?"

"Belum datang. Kau bergabung dengan sepupu-sepupu mu saja dulu. Sehun bilang dia rindu padamu." Telunjuk Ayah Taehyung mengarah ke lingkaran para pemuda di seberang.

Taehyung berdecak, tapi dia kembali menarik tangan Jungkook.

"Merepotkan, sialan." Taehyung mengumpat pelan. Mendengarnya, Jungkook tertawa kecil.

"Oh, Taehyung!" satu pemuda tinggi bersurai pirang menyeringai melihat kedatangan mereka.

Yang lain menoleh. Satu persatu berseru senang melihat kehadiran Taehyung, ada yang sampai meninju badan Taehyung kasar sedangkan gadis-gadis tertawa di kursi mereka. Jungkook menarik diri menjauh. Jujur saja, ia belum tahu bagaimana cara agar dapat menjadi akrab dengan sepupu-sepupu Taehyung. Jadi, yang dia lakukan hanya lah duduk di kursi yang terpisah dari kumpulan tersebut.

"Hei, gankmu semakin terkenal saja, bruh. Dimana-mana aku hanya mendengar nama claws." Pemuda yang setahu Jungkook bernama Becky merangkul akrab Taehyung yang telah duduk di antara mereka.

Taehyung mendengus, merampas pematik sepupunya lalu menyalakan rokoknya. "Perasaanku biasa saja."

"Oh~ kau merendah?" Gadis berambut biru tua bernama Wendy menyikut rusuk Taehyung. "Yang Becky katakan itu benar, keparat. Kau itu, haduh, terkenal sekali."

"Teman-temanku saja ribut memintaku memperkenalkan si tampan Taehyung kepada mereka." Sahut gadis bersurai merah darah yang juga menyesap rokok.

"Motherfucker, si cupu Taehyung bisa terkenal juga~" Sehun–sepupu Taehyung yang paling tinggi dengan surai silver–mengacak kasar surai Taehyung.

Taehyung mengumpat kesal, menjauhkan tangan Sehun dari kepalanya. "Tidak ada gunanya jadi terkenal, tolol. Tidak akan membuatku menjadi presiden juga."

Semuanya tertawa. Jungkook yang juga menyimak ikut tertawa kecil. Obrolan para sepupu itu berlanjut. Walau diabaikan Taehyung, Jungkook tidak masalah. Ada satu dua sepupu Taehyung yang mengajaknya berbicara. Lagipula, kekasihnya jarang bertemu dengan sepupu-sepupunya, sehingga Jungkook mengerti kalau kekasih premannya itu butuh waktu sendiri menikmati momen ini.

Waktu berlalu. Akhirnya, Paman Baekhyun tiba. Suasana menjadi semakin ramai. Keluarga besar Taehyung menyambut pria itu dengan bahagia walau diikuti runtutan sumpah serapah atau kalimat kasar. Paman Baekhyun segera bergabung dengan kelompok pria dewasa, sedangkan kedua anaknya bergabung dengan kelompok pemuda-pemudi ini. Mereka saling meninju, mengumpat, tertawa bersama menyambut keluarga mereka. Suasana akrab terjalin hangat.

Jungkook menopangkan dagu. Sedari tadi dia hanya memperhatikan kekasihnya yang terlibat obrolan dengan sepupu-sepupunya yang lain. Raut wajahnya serius, asap rokoknya terhembus keluar setiap kali dia berbicara. Senyum Jungkook tercipta lebar ketika Taehyung menoleh kearahnya, mengatakan 'apa kau lapar?' lalu ikut tersenyum ketika Jungkook merengut, menjawab 'aku bosan' kepada kekasihnya.

"Tae-ie, Ayo ke Paman Baekhyun." Ibu Taehyung tiba-tiba datang menghampiri mereka.

Obrolan seru Taehyung terhenti. Mereka semua menatap Ibu Taehyung. "Kenapa, bibi?"

"Biasalah. Paman Baekhyun rindu dengan keponakan kesayangannya." Anak Paman Baekhyun menjawab. Semuanya tertawa. Ibu Taehyung ikut tertawa.

Taehyung mendengus, bangkit dari bangkunya. "Semoga saja dia membawa kabar baik."

"Tentu saja pamanmu akan memberimu kabar baik. Ah, Jungkookie. Baekhyun juga ingin bertemu denganmu."

Jungkook mengerjap. Kini semua beralih menatap Jungkook. "Aku, Ibu?"

Ibu Taehyung tersenyum lebar. "Tentu saja, sayang. Kau tidak lupa kan kalau saat SMA dulu kalian berdua sering di traktir Baekhyun makan?"

"Uwah~ kekasih Taehyung saja di sayang~" yang lain berseru-seru menggoda. Taehyung mengumpat ke arah mereka dan tawa kembali menggema.

Jungkook dan Taehyung kemudian berjalan ke arah Paman Baekhyun yang sedang mengobrol dengan Ayah Taehyung. Ketika Taehyung hendak membuka suara, Paman Baekhyun lebih dulu menoleh, tersenyum tuntas ketika melihat keponakannya.

"Taehyung! Lama tidak berjumpa, berandalan!" Paman Baekhyun bangkit, memeluk singkat Taehyung.

"Ya, lama tidak berjumpa, Paman." Taehyung tertawa.

"Astaga, kau sudah tumbuh dewasa. Semakin gagah saja anakmu ini, Daehyun."

Ayah Taehyung tertawa. "Gen Ayahnya tentu saja mengalir di badan berandalan ini."

"Dalam mimpimu, dan, oh–Jungkook, benar kan?" Paman Baekhyun beralih menatap Jungkook. matanya semakin berbinar, senyumnya mengembang. "Astaga, si manis ini, kau benar-benar masih bersama Taehyung rupanya. Ketika Claudia mengatakan padaku kalau kekasih Taehyung itu masih kekasihnya ketika SMA, kupikir dia berbohong. Ternyata aku salah. Kalian itu sangat saling mencintai, ya."

Jungkook tersenyum lebar. "Aku di pelet oleh Taehyung, Paman."

Gelak tawa menggelegar. Taehyung ikut tertawa, mengacak asal surai kekasihnya.

"Yah, kapan-kapan akan kusuruh Jongin belajar memelet di kau, Tae. Omong-omong, kalian bisa duduk disini. Jungkook, aku akan meminjam kekasihmu dulu." Paman Baekhyun menarik dua kursi mendekati kursinya. "Tidak masalah, kan kalau kau duduk bersama kami?"

Jungkook menggeleng, segera duduk di kursi yang telah di ambilkan. Taehyung mengikuti. "Tentu tidak masalah, Paman."

Pria paruh baya dengan tindik memenuhi wajah itu tersenyum ke arah Jungkook, mengelus surainya sekilas, lalu beralih menatap Taehyung dan Daehyun.

"Jadi, Tae. Bagaimana perkembangan claws?"

"Baik, kurasa. Wilayah kekuasaan kita juga bertambah."

"Kudengar dari Daehyun, Andrew juga merekrut banyak anggota baru, kan?"

Taehyung mengangguk. "10 orang. Sebagian besar rekrutan dari gank-gank cupu yang terlihat seperti sampah."

Daehyun dan Baekhyun saling berpandangan. Baekhyun kemudian menghela nafas. "Kau pasti tahu kalau alasanku datang kesini tidak semata hanya karena rindu, bukan?"

"Tentu saja. Bukan gaya paman sekali."

Entah hanya Jungkook yang merasakannya atau tidak, aura disekeliling mereka perlahan menjadi gelap. Suasana terasa tegang, apalagi raut wajah dua pria dewasa di hadapan mereka yang terlampau serius. Dari yang dapat Jungkook simpulkan, pasti ada masalah.

"Yah, Ini baru spekulasi para petinggi, tapi kita memang patut mewaspadainya. Ada isu yang beredar, pemerintah dunia sedang membuat organisasi gelap spektakuler. Aku tidak tahu niat mereka untuk apa, tapi sepertinya semacam organisasi teroris. Beberapa negara sejujurnya sedang mengalami perang dingin, Tae. Konflik dan perpecahan terjadi dimana-mana. Selandia Baru contohnya, sudah tidak aman lagi. Kemarin, ada 4 anak buahku yang tiba-tiba menghilang. Di Jepang, pergerakan Yakuza secara mengejutkan dapat di lacak dengan mudah. Petinggi berpendapat, situasi kacau ini di manfaatkan oleh Pemerintah Dunia untuk melaksanakan tujuan mereka. Terlalu banyak komplikasi yang terjadi di dunia gelap tahun ini, dan kita belum menemukan titik terangnya. Entah itu pembalasan dendam, keisengan seseorang, atau makna lain di balik kejadian-kejadian tersebut. kita tidak tahu."

Baekhyun menyeruput kopinya sekilas, lalu kembali menatap Taehyung dengan kedua tangan tertaut di atas lutut. "Karena itu aku segera kembali ke Korea. Kau tahu, banyak anggota organisasi gelap yang berbangsa Korea tersebar di berbagai negara, Tae. Untuk situasi saat ini, hal itu akan merugikan negara ini. Korea akan mudah diserang, sehingga yang harus kita lakukan sekarang adalah berusaha bersatu dan mencoba melindungi diri bersama-sama."

Lengang sejenak.

Taehyung tidak membuka suara. Dia termenung, menggigit kuku jarinya. Jungkook menghela nafas. itu tandanya kekasihnya sedang kalut. Dari penjelasan Paman Baekhyun tadi, sudah jelas sekali masalah ini tidak sepele. Walau Jungkook tidak begitu tahu bagaimana cara kerja dunia gelap, setidaknya dia tahu masalah ini melibatkan seluruh dunia. Dan itu berarti berbahaya.

"Aku tidak menyuruhmu untuk ikut andil memikirkan ini, berandal." Paman Baekhyun berkata hangat. "Aku hanya butuh Andrew dari gankmu. Dua hari lagi kita akan mengadakan pertemuan di Hell Arena. Doakan saja semoga yang datang banyak."

Taehyung mendongak, menatap pamannya. "Organisasi rahasia itu, tujuannya untuk apa?"

"Entahlah. Bisa jadi untuk kepentingan politik, kesenangan pribadi, atau pembalasan dendam. Kita baru akan memulai mencari informasi."

"Itu berarti pertanda buruk." Ayah Taehyung memijat pelipis. Ia menghela nafas panjang.

"Sangat buruk. Ini diluar dugaan."

Jungkook menatap Taehyung yang masih termenung. Sepertinya informasi ini benar-benar membuat kekasihnya khawatir.

Ayah Taehyung ternyata juga memperhatikan anaknya. Dia tersenyum tipis, langsung menepak pelan kepala Taehyung membuat anaknya tersadar.

"Kau tidak perlu secemas itu, bocah berandal. Serahkan ini pada orang dewasa."

Taehyung menggeleng cepat. "Tapi tetap saja–"

"Tugasmu sekarang hanya satu. Lindungi Jungkook baik-baik."

Eh?

Jungkook mengerjap. Taehyung mengeryitkan dahi. "Apa hubungannya Jungkook dengan ini?"

Kedua orang dewasa itu tersenyum ke arah dua sejoli tersebut. Baekhyun juga kembali mengelus surai Jungkook yang duduk di sampingnya.

"Ketika situasi genting seperti ini, sejujurnya yang paling berbahaya adalah kasus penculikan. Dan kau tentu tahu, trik kuno tentang menculik orang tersayang musuh. Ini hanya spekulasi, tapi bisa saja terjadi. Karena itu, aku harap kau dapat menjaga Jungkook sebaik mungkin, Tae. Kau tentu tidak ingin kehilangan satu-satunya duniamu, bukan?"

Dan kali ini, raut wajah Taehyung semakin keruh. Senyumnya lenyap, wajahnya tertekuk sempurna.

.


sincerely


.

Taehyung mengikuti saran pamannya dengan baik. Keesokan paginya, dia kembali mengantar Jungkook ke kampus. Preman itu juga baru pergi ketika kekasihnya benar-benar hilang di balik pagar kampus Jungkook yang tinggi. Ketika Jungkook selesai pun, Taehyung akan langsung datang menjemputnya.

"Kau lama." Jungkook mendengus ketika motor Taehyung berhenti tepat di depannya yang berdiri di pinggir trotoar.

Taehyung berdecih. "Sudah baik aku menjemputmu, bocah sialan. cepat naik."

Jungkook berdecak, mengambil uluran helm Taehyung lalu segera naik ke atas motor ninja kekasihnya. "Aku lapar, Tae."

"Lalu?"

"Ya bawa aku makan, tolol!" Jungkook menimpuk helm kekasihnya.

Gelak tawa Taehyung terdengar. "Dasar rakus kau, bocah. Oke lah, kebetulan aku juga sedang malas memakan masakanmu."

"Mati kau."

Motor ninja kebanggaan Taehyung itu kemudian membelah jalanan Kota. Karena sedang tidak bersama teman-temannya, Taehyung tidak begitu mengebut. Jungkook di belakangnya menghela nafas lega sembari menyandarkan kepala di punggung Taehyung. Kuliahnya hari ini benar-benar menguras energi.

Jungkook sudah hampir memejamkan mata ketika motor itu berhenti. Ia spontan menegakkan badan, memandang lingkungan sekitarnya.

"Uwah, bbudae jjigae?" Mata Jungkook spontan berbinar.

"Iya. Kau kemarin bilang ingin makan ini, kan?"

Dengan segera Jungkook loncat dari atas motor, terburu-buru memberikan helmnya kepada Taehyung lalu berjalan cepat menuju restoran tersebut. sungguh, perutnya sudah tidak dapat di kompromi lagi. Di belakangnya, Taehyung berjalan sembari tertawa keras.

"Hei, bocah. Sepertinya aku tidak jadi makan disini."

"Hah?!" Jungkook menoleh garang ke arah kekasihnya. "Mau kubunuh?!"

Sang preman tertawa. "Bunuh saja kalau bisa–" bola mata Taehyung melebar, "Bocah, awas di depanmu–"

Bruk!

Tidak memperhatikan depannya, badan Jungkook menubruk seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Seorang pria tua yang langsung jatuh tersungkur di tanah.

"Astaga!" Jungkook panik, cepat-cepat membantu pria tua itu untuk berdiri. "Maafkan saya, pak!"

Pria tua itu membalas uluran tangan Jungkook. ketika Jungkook berkali-kali membungkukkan badan untuk meminta maaf, ia hanya tertawa kecil.

"Tidak masalah, anak muda. Jangan khawatir. Walau badan ini sudah reot, tenaga ku masih sekuat dirimu." Ucapnya ramah.

Jungkook hanya dapat kembali meminta maaf sembari meringis. Pria tua itu tertawa, menepuk pundak Jungkook beberapa kali lalu segera pergi menjauh.

Ketika melewati Taehyung, preman itu melihat sekilas wajah sang pria tua. Ada seringai tipis di wajah berkeriput itu.

Taehyung dengan cepat menoleh, namun pria tua itu lebih dulu berjalan menjauh, terseok-seok sembari berpegangan pada sebuah tongkat.

Dahi Taehyung terlipat. Aneh. Apa dia salah lihat?

"Tae! Ada apa? Ayo masuk!" Jungkook melambaikan tangan di depan pintu masuk. Wajahnya merengut. Taehyung menepis pikiran anehnya lalu segera berlari menyusul kekasihnya.

Sejak dulu, Jungkook tidak tanggung-tanggung apabila menyangkut soal makanan. Buktinya saja, sekarang dia memesan satu porsi besar bbudae jjigae yang seharusnya untuk porsi empat orang. Sang pelayan hanya dapat mengerjapkan mata tidak percaya.

"Dasar babi." Taehyung mendengus. Mereka kini duduk berhadapan.

Jungkook mendelik tidak peduli. "Terakhir kau mengajakku makan diluar minggu lalu. Apa salahnya."

"Ya ya ya. Intinya kau memang bongsor, bocah."

"Mau tidak kuberi makan setiap hari, hah?"

Taehyung tertawa. Dia menyalakan rokok, lalu segera menyesapnya khidmat. Mereka duduk di bagian restoran yang di perbolehkan untuk merokok. Jungkook menopang dagu, memainkan ponselnya.

"Tae. Yang kemarin dibahas oleh Paman Baekhyun, apa itu masalah serius?"

"Begitu lah." Taehyung menghela nafas. "Tadi pagi Andrew menghubungi Ansel dan Shawn. Mereka juga telah mendengarnya. Jadi, mungkin memang ada krisis yang sedang terjadi."

"Pemerintah dunia itu siapa?"

"Kelompok negara-negara besar yang memegang peranan di dunia. Seperti Amerika, Rusia, dan Arab. Tapi tidak ada yang tahu pasti siapa dan berapa negara yang tergabung di Pemerintah Dunia. Semuanya misteri."

Jungkook mendengus. Dia menatap Taehyung. "Semacam dunia gelap di bawah gelap lagi, ya?"

"Yah, kau benar." Taehyung menghembuskan asap rokoknya. "Omong-omong, kau tidak perlu memikirkannya, bocah. Korea jauh dari negara-negara besar tersebut. Asia pasti aman. Ini urusan mereka yang lebih berkepentingan."

"Tapi perkataan Paman Baekhyun tetap saja terdengar menyeramkan." Jungkook menggerutu. "Apalagi gank mu terkenal seantero dunia. Aku kan tidak bisa untuk tidak khawatir. Kau bilang Andrew bahkan sering diajak bertemu dengan para petinggi, dia pasti sudah dikenal sekali."

Taehyung tidak menjawab. Dia menopangkan tangan di dagu, menatap Jungkook lekat-lekat. Wajah serius kekasihnya terlihat menyenangkan untuk di pandang. Bibir Jungkook bergerak-gerak kecil, mengomel tentang betapa acuhnya Taehyung soal masalah ini, dan sang preman tidak bisa untuk tidak tertawa.

Jujur saja, perkataan Pamannya kemarin juga masih sangat membekas di ingatan Taehyung. Apalagi, soal penculikan orang tersayang itu. Hati Taehyung memanas. Selama ini, selama tujuh tahun mereka menjalin kasih, Taehyung tidak pernah melindungi Jungkook. Pemuda itu kuat dan tangguh, dia dapat melindungi diri sendiri. Kekasihnya juga bukan tipe orang yang ceroboh, Jungkook lebih sering berpikir rasional sebelum mengambil suatu tindakan. Sehingga, dia jarang sekali terjebak di situasi yang rumit. Karena itu lah, Taehyung tidak pernah merasa khawatir akan keselamatan Jungkook.

Namun, peringatan dari Pamannya membuat Taehyung cemas. Jikalau ini menyangkut soal dunia luar, tentu Jungkook tidak akan dapat melindungi diri. Dunia gelap sangat lah sadis. Tidak ada belah kasihan, semuanya mengerikan. Taehyung tidak pernah menceritakan semua itu kepada kekasihnya. Dan dia yakin sekali, Jungkook pasti akan langsung pergi menjauh jika dia tahu bahwa dunia Taehyung yang ia kenal selama ini sebenarnya belum lah apa-apa.

Taehyung berjanji di dalam hati. Mulai dari sekarang, dia tidak akan menjerumuskan Jungkook dalam bahaya.

"Tae, coba lihat ini!" Kesadaran Taehyung kembali ketika ponsel Jungkook berada persis di depan mukanya.

Taehyung mengeryit menatap video yang di tayangkan Jungkook. "Apa ini? Drama?"

"Iya. Ini parodi dari teman-teman kampusku. Mereka memparodikan drama Signal." Jungkook tertawa. Ia memajukan badan, ikut menonton video dari ponselnya. "Lihat, lucu kan?"

Mereka berakhir menonton video tersebut sembari menunggu pesanan datang. Akting konyol teman-teman Jungkook membuat Taehyung tertawa keras. Jungkook juga tersenyum sangat lebar. Saat makanan datang, mereka larut di dalam obrolan ringan. Jungkook menceritakan cerita di kampus, dan Taehyung mendengarnya dengan baik. Sesekali, keduanya terlibat perdebatan dan ketika mereka saling mengumpat, pengunjung di sekitar mereka menoleh tidak percaya.

Sungguh, pasangan yang aneh.

Malamnya, ketika Taehyung baru saja pulang dari lesson tattoo di markas dan baru lima menit membaringkan badan di kasurnya yang empuk, tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Ada Jungkook yang muncul dibaliknya, memeluk boneka berbentuk hati dengan wajah baru bangun tidur.

"Ada apa, bocah?" Taehyung menaikkan satu alis.

"Aku mimpi buruk." Jungkook menghempaskan badan di samping kekasihnya, lalu melingkarkan tangan di badan Taehyung. "Aku tidur disini, ya, Tae."

Taehyung mendengus. "Kau pikir dirimu masih anak SD, hah? Mimpi buruk saja takut. Sana kembali ke kam–"

"Aku mimpi kau mati." Sela Jungkook cepat. Pelukan di badan Taehyung mengerat. "Makanya biarkan aku tidur disini, brengsek."

Lengang.

Taehyung menghela nafas. Baiklah, tidak ada salahnya. Preman itu memiringkan badan, menarik badan Jungkook mendekat lalu ikut memeluknya. Untung-untung ia dapat guling. Sejenak dia memandangi kekasihnya yang tertidur. Taehyung tertawa kecil. Saat seperti ini, Jungkook mudah sekali di jahili. Namun berhubung kekasihnya terlihat benar-benar ketakutan, Taehyung memilih untuk memainkan ponselnya di balik kepala Jungkook dalam diam.

"Aku mencintaimu, Tae."

Taehyung terpaku. Dia kembali menatap kekasihnya. Nafas Jungkook teratur, sepertinya pemuda itu mengigau. Sudut bibir Taehyung perlahan tertarik keatas. Tanpa sadar, preman itu memajukan wajah, mengecup lembut pucuk hidung bangir Jungkook. Jungkook mengerang pelan, merasa terusik, tapi dia semakin menggelungkan badan di dalam pelukan Taehyung.

"Aku juga mencintaimu, bocah."

.


sincerely


.

"Kau yakin dengan tattoo ini, V?"

Taehyung berdecak. "Menurutmu, tolol? Sudah cepat ukir saja, Vernon."

"Brengsek. Sudah baik mau kubantu." Vernon mengumpat. Dia tidak lagi bertanya, mesin tattoo di tangannya perlahan bergerak mengukir punggung telanjang Taehyung.

Selain Taehyung, Vernon juga pandai mengukir tattoo. Itu sebabnya, berhubung Taehyung tidak mungkin dapat mengukir tattoo di punggungnya sendirian, dia mempercayakan Vernon untuk membantunya. Saat ini mereka sedang berada di markas. Ada beberapa anak claws yang bermalas-malasan di tengah ruangan.

"Jangan sampai salah." Taehyung kembali bersuara.

"Fuck. Bisakah kau percaya padaku saja, brengsek? Aku lama-lama akan melubangi punggungmu ini."

Taehyung tertawa. "Ampun, bung. Maklum saja, Ini pertama kali ku di ukirkan tattoo."

"Cih, sombong sekali." Vernon mendengus.

"Oh, mengukir tattoo baru lagi, V?" suara dari belakang mereka terdengar. Pelakunya adalah Hyungsik yang sedang menegak soju.

"Begitulah." Taehyung menjawab.

"Jadi? Tattoo macam apa yang kau ukir kali ini?" Hyungsik duduk di samping Taehyung. Memandangi gerakan tangan Vernon yang lincah memainkan mesin tattoo.

"Jungkook. Tapi kali ini kubuat vertikal."

"Apa–" Hyungsik hampir tersedak. Dia menatap Taehyung dengan bola mata melebar. "Jungkook lagi? kau sudah punya dua tattoo bertuliskan namanya, kan?"

"Kan kubilang apa. V ini tolol." Vernon menyahut santai.

"Apa salahnya, sialan." Taehyung mendengus.

Hyungsik menaruh botol soju di lantai, lalu menatap lekat-lekat preman di hadapannya. "V, jujur padaku. Apa kau pernah berpikir, bagaimana kalau Jungkook pergi dari hidupmu?"

"Kuyakin V pasti akan langsung bunuh diri."

"Bajingan, bukan kau yang kutanya!" Hyungsik menimpuk kepala Vernon. Vernon mengaduh kesakitan, tapi dia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Taehyung mengibaskan tangan cuek. "Pertanyaanmu tidak penting sama sekali."

"Hei, aku serius, tolol. Siapa yang bisa membuktikan kalau hubungan kalian ini akan bertahan lama?"

"Lalu kenapa?" Taehyung menatap Hyungsik dengan malas. "Mau aku bertahan lama atau tidak, aku tidak peduli dan itu juga bukan urusanmu."

Seringai di bibir Hyungsik tercipta. "Hee~ yang namanya cinta mati memang tak kan peduli, ya."

"Kau pasti benar-benar memelet Jungkook kan, V."

Taehyung mendengus. "Ya. Dan akan kusuruh kawanku untuk memeletmu juga agar cepat mati."

Hyungsik dan Vernon tertawa. Setelah bercakap-cakap singkat, Hyungsik bangkit lalu pergi menjauh. Menyisakan Taehyung dan Vernon yang masih sibuk mengukir di badan Taehyung. Butuh setidaknya 1-2 jam untuk mengukir satu tattoo, apalagi tattoo 'Jungkook' yang di rancang Taehyung berada di tingkat sulit. Vernon harus mencermati tiap lekukan dengan baik. Setiap huruf di desain Taehyung sedemikian rupa, berpola indah.

"Tapi sebenarnya, apa alasanmu mengukir tattoo nama Jungkook lagi, V?" Vernon bersuara. Perkataan Hyungsik tadi menimbulkan rasa penasaran di dirinya.

Taehyung tidak menjawab. Sekelebat memori semalam terngiang. Saat Jungkook mengigau menggumamkan kalimat 'aku mencintaimu' kepada Taehyung, dia bisa merasakan seberapa besar rasa yang dimiliki Jungkook padanya. Dan hal itu mendorong Taehyung untuk melakukan lebih dan lebih lagi demi kekasihnya. Taehyung kaku dan tak tahu cara bersikap manis. Ia rasa, hanya dengan tattoo lah dia bisa mengekspresikan rasa sukanya kepada pemuda manis yang telah menemaninya selama 7 tahun. Lagipula, ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakan Taehyung ketika melihat ukiran-ukiran nama Jungkook di badannya.

"Aku hanya ingin." Jawab Taehyung akhirnya.

Vernon memutar bola mata jengah. "Benar-benar diluar logika."

Taehyung tertawa.

.


sincerely


.

Panggilan masuk dari Jungkook di terima Taehyung dua jam setelah tattoonya kering. Taehyung segera tancap gas menuju kampus kekasihnya. Entah mengapa, dada Taehyung berdebar. Ia tak sabar menunjukkan tattoo baru ini pada Jungkook. Walau 90% kekasihnya pasti akan suka, tetap saja Taehyung penasaran. Ini tattoo pertama Taehyung sejak 2 tahun yang lalu. Tattoo terakhirnya adalah sebuah lambang claws di dada. Tiap anggota claws wajib mempunyai tattoo tersebut, peraturan baru mereka.

Ketika tiba di tempat biasa Jungkook menunggunya, tidak ada tanda-tanda kehadiran kekasihnya. Taehyung mengeryit, melepas helm. Tumben sekali Jungkook terlambat datang. Apa dia ada urusan mendadak?

Preman itu merogoh saku, mengambil ponsel untuk menghubungi Jungkook.

Tak terjawab.

Likuan di dahi Taehyung semakin berkerut. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak, tapi Taehyung cepat-cepat mengusirnya lalu kembali menghubungi nomor kekasihnya.

Kembali tidak terjawab. Oke, ini aneh.

Ketika Taehyung hendak kembali menekan tombol memanggil, suara teriakan melengking tiba-tiba terdengar. Taehyung terhenyak, itu berasal dari belokan di samping kampus.

Tangan Taehyung bergerak sendiri, menancap gas menuju pembelokan tersebut. Dan nafasnya hampir terenggut melihat pemandangan yang di dapatinya.

Jungkook berada disana, mulut di lakban, kedua tangan dipegang orang berbadan besar bertopeng, berontak sekuat tenaga ketika ia di bawa masuk ke dalam mobil hitam.

Mata Jungkook memerah menyalang, teriakannya tertahan menyedihkan di balik lakban hitam itu.

Jantung Taehyung serasa melompat keluar. Matanya melebar, "JUNGKOOK!"

Teriakan itu menarik perhatian. Mata Jungkook bertemu dengan kekasihnya, dan spontan pemuda itu semakin memberontak. "Hmph! Hmph!"

Tidak ada lagi yang dipikirkan Taehyung. ia memacu gas motor ninjanya sekuat yang dia bisa mendekati mobil tersebut. Penculik Jungkook bertindak cepat menendang kasar Jungkook, menutup pintu mobil, lalu segera melaju kencang pergi.

Taehyung berdesis, matanya merah menyalang, tangannya terkepal hingga urat-uratnye terlihat. Mobil itu masuk ke daerah jalan raya yang ramai. Mobil itu ngebut serampangan, hampir menabrak beberapa mobil yang untung saja langsung menepi. Taehyung demikian, ia mempercepat laju motornya, tidak peduli kalau dia menyerempet motor lain hingga motor itu terguling jatuh ke trotoar. Kejar-kejaran terjadi. Suasana menjadi ricuh dan penuh kepanikan. Tidak ada lagi yang di lihat Taehyung, saat ini Jungkook adalah satu-satunya yang berada di pikirannya.

Mobil itu berbelok kearah tol, Taehyung sigap membanting setir menuju arah kanan. Sayup-sayup ia mendengar sirine mobil polisi, tapi Taehyung tidak peduli. Mobil itu semakin melaju cepat, berkelok-kelok melewati truk truk besar pengangkut barang. Taehyung menggeram marah, matanya buta. Ia semakin menambah laju kecepatan, menerobos dengan beringas barisan mobil yang berhenti karena kecelakaan yang disebabkan mobil yang menculik Jungkook. Pengemudi berteriak-teriak marah, tapi Taehyung lebih marah lagi.

Lepas dari tol, Taehyung merogoh kasar kantung celananya, mengambil pistol. Ketika jaraknya dengan mobil tersebut tinggal 40 meter, Taehyung melayangkan tembakan ke kaca belakang mobil tersebut.

Suara tembakan. Orang-orang menjerit panik, ketakutan. Suara sirene polisi berada dimana-mana, laju mobil itu pun semakin gila. Taehyung hampir gila. Ia mengumpat penuh emosi, membuang pistol itu sembarangan lalu mengejar secepat, lebih cepat, cepat, yang dia bisa.

Bayang-bayang Jungkook tadi membuat Taehyung kalut. Dia berteriak marah, seperti orang kesetanan memacu motor ninjanya mengejar mobil itu. Tepat ketika 20 meter lagi Taehyung dapat menyentuh mobil itu, ada moncong senjata api yang tiba-tiba mencuat di balik jendela samping.

Taehyung tidak sempat menghindar. Tembakan itu terlepas, tepat mengenai dada. Taehyung spontan terlempar kebelakang, jatuh dari motornya. Badannya terguling di tengah jalan, ambruk hingga menabrak pembatas tiang terotoar. Bunyi motor yang menabrak sesuatu terdengar. Orang-orang semakin menjerit panik dan ketakutan.

Di saat kesadaran Taehyung semakin menipis, sayup-sayup dia mendengar suara sirene yang berhenti di sekelilingnya. Teriakan dimana-mana, badannya yang tiba-tiba diangkat entah kemana.

Airmata merembes di pipi Taehyung. Ia menangis.

Kekasihnya, dunianya, di culik di depan mata kepalanya sendiri.

Pecundang.

"Kau mimpi apa semalam, bocah?"

"Eh, itu. Kau mati tertembak. Mengerikan sekali, ah sudahlah jangan dibahas."

"Cih. Aku tidak akan mati."

"Peduli amat. Ah, tadi malam kau menyatakan cinta padaku, kan?! Aku samar-samar mendengarnya!"

"Aku pergi. Dah."

"Ah! Taehyung brengsek! Jawab pertanyaanku!"

.

.

.


To Be Continued


finally saya bukan anak SMA lagi yeay! wkwk halooo reader-nims. lama ga berjumpa dengan saya hehe. semoga chapter ini membuat perasaan reader-nim terombang-ambing ya/?. hehehe. untuk chapter kedepan saya mungkin bakalan slow update bikos saya sibuk ngurus sana sini buat masuk kuliah:" tapi yah doain saya lulus jalur snmptn ya biar plong dan ga ribet lagi:" AMIN AMIN AMIN:"

AND OH IYA, IM TOTALLY WHIPPED OVER BANGTAN BLACK HAIRED. HADUH KOK MEREKA GANTENG SEKALI PAKE RAMBUT HITAM:" MARI BERDOA BERSAMA-SAMA SEMOGA SAJA COMEBACKNYA BENERAN RAMBUT HITAM YA!:"")

dan lagi, ini baru rencana sih. saya berniat mau menerbitkan sincerely. how do you think, reader-nims? dan bisa tolong saranin saya penerbit apa yang bisa memuat fanfic saya ini? soalnya saya masih tabu banget soal gituan haduh wkwk. apalagi kan kalo pairing yaoi gini mungkin bakalan susah diterima:"

AND YEAH, MAKASIH BANYAK YANG UDAH SUPPORT FICTION INI. MAKASIH YANG UDAH REVIEW + FAV + FOLLOW + READ THIS ABSURD FICTION. HOPE YOU STILL LIKE OUR PREMAN!TAEHYUNG AND HIS BOCAH!JUNGKOOK YA T^T

thank thank thank you so muchhh! luvyugais!

Last,

Mind To Review?

sincerely,

XiRuLin.