(XXV) chapter dua puluh empat.
.
.
.
"Apa kabarmu, V? Sepertinya kau sehat-sehat saja, huh?"
Taehyung tidak menjawab. Dia hanya diam, menatap lurus ke mata pemuda di hadapannya. Tidak ada ekspresi.
Chanyeol menaikkan satu alis, seringainya semakin lebar. "Jangan dendam begitu padaku, hei. Ayolah, kita impas, kan? Aku menghancurkan hidupmu, dan kau juga menghancurkan hidupku." Chanyeol menghisap cerutunya, tertawa mengejek. "Kita berdua memang sejak dulu tidak pernah akur. Bersaing untuk selalu menjadi yang pertama dan terkuat. Tapi, yah, aku ini memang lebih hebat daripada mu."
Chanyeol memberi gestur kepada para pria bertopeng yang mengelilingi Taehyung. Mereka sigap bergerak memasang borgol di tangan sang preman, juga sebuah alat aneh yang di tempelkan di leher. Taehyung menerima perlakuan itu, tidak melawan dan tidak mengatakan sepatah kata apapun.
Wajah bengis Chanyeol berbinar. "Jadi, karena aku orang yang baik hati, akan kuajak kau berkunjung ke lokasi kekasihmu." Kemudian berbalik badan untuk berjalan dan para pria bertopeng mendorong Taehyung secara paksa mengikuti langkah kaki Chanyeol.
Gedung ini adalah sebuah gedung tua yang tak terawat, seperti telah di tinggalkan bertahun-tahun lamanya. mereka berjalan di lorong gelap dengan dinding-dinding beton telah di makan rayap. Pencahayaan hanya berasal dari senter yang dipegang anak buah Chanyeol. Semakin masuk ke dalam gedung, bau lembab yang sangat menyengat menyeruak memenuhi indera penciuman. Chanyeol yang berjalan di depan kemudian berhenti di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari seng.
Pemuda itu menatap Taehyung sekilas, seringainya terlihat mengerikan ketika di sinari pencahayaan senter. Dua anak buahnya membuka pintu tersebut lebar-lebar.
"Nah, kau duluan, V." Chanyeol bergeser, memberi jalan. Para pria bertopeng kembali mendorong paksa punggung Taehyung untuk segera memasuki ruangan tersebut.
Apa yang berada di dalam ruangan itu merenggut nafas Taehyung seketika.
Jungkook disana. Di seberang ruangan yang di batasi sebuah dinding tinggi yang terbuat dari kaca. Duduk dengan kepala terkulai, tangannya di borgol ke belakang kursi, kakinya juga demikian. Ada sebuah alat berukuran sedang yang terikat di kaki kiri Jungkook, dan dada Taehyung berdegup kencang melihatnya. Bom sialan itu benar-benar di ikat di kaki kekasihnya.
Anak buah Chanyeol mendorong Taehyung ke arah kursi yang berada di hadapan mereka, kemudian secara paksa mendudukkan tubuh preman itu. Posisi Taehyung dan Jungkook kini saling berhadapan dengan jarak 5 meter juga sebuah dinding kaca sebagai pembatas.
Taehyung menggertakkan gigi kuat-kuat. Tangannya terkepal. Pemandangan di hadapannya memicu amarah Taehyung untuk kembali tersulut. Dengan pencahayaan remang-remang dari ruangan ini, Taehyung dapat dengan jelas melihat memar-memar dan luka yang berada di sekujur tubuh Jungkook. Ada rembesan darah yang telah mengering di pelipisnya, dan ujung bibirnya robek. Dada Taehyung berdenyut sakit. Pemandangan ini menyiksa mentalnya dengan nyata. Ia tidak bisa melihat kekasihnya terluka menyedihkan seperti itu di depan matanya.
"Itu pingsan yang ketiga kalinya." ucap Chanyeol tepat di telinga Taehyung. Lengan panjang pemuda itu merangkul pundak Taehyung, menyeringai lebar ketika melihat ekspresi korbannya yang sedang susah payah menetralkan emosi.
"Aku sebenarnya tidak ada niat menyiksanya, tapi dia keras kepala sekali. Jadi, yah, memar-memar seperti itu tidak masalah, bukan? Lagipula, sensasinya nikmat juga ketika aku menyentuh kulit Jungkook. Dia benar-benar indah." Cengkraman Chanyeol di pundak Taehyung mengerat. Pemuda itu memajukan wajah, berbisik sadis di telinga sang preman, "Kau beruntung ya, V. berhasil mendapatkannya? Lalu? Bagaimana kalau aku bermain-main sebentar dengannya? Seperti, hm~ meraba-raba badannya? Aku cukup yakin dia masih perjaka."
Pertahanan Taehyung akhirnya runtuh. Dia menoleh cepat, menatap Chanyeol tepat di mata. Geretak giginya terdengar jelas, tangannya terkepal erat hingga urat-uratnya terlihat.
"Bajingan. Jangan menyentuh Jungkook." Desis Taehyung tajam. Matanya menyalang marah, susah payah menyusun kalimat karena luapan emosi yang telah dia tahan sedari tadi. "Akan kucincang kau kalau berani menyentuhkan tangan menjijikkanmu itu di kulit kekasihku."
Chanyeol balas menyeringai, semakin sadis dan semakin beringas. "Benarkah kau dapat mencincangku? Kau tentu melihat kaki kekasihmu itu kan, V? aku tidak main-main soal bom itu. sekali bertindak macam-macam, tombol yang berada di saku celanaku sekarang akan ku tekan detik itu juga. Dan, Boom! Apa menurutmu Jungkook-mu yang indah dan manis itu masih hidup? Atau justru tidak berbentuk lagi?"
Badan Taehyung spontan memberontak, hendak meninju wajah bengis Chanyeol. Tapi tangannya tertahan di dalam borgol, gemeretak logam borgol memekakan telinga ketika Taehyung berusaha sekuat tenaga terlepas darinya. Matanya melotot tajam, menyalang merah. Kubu-jarinya telah memucat, nafasnya satu-satu, tak beraturan.
"Ingat ini baik-baik, Park Chanyeol." Desis Taehyung di antara sengal nafasnya. "Kau akan kubunuh hari ini. Pasti. Akan kubunuh. Akan kucabik, akan ku cincang tubuh sialanmu itu lalu kuberi makan untuk ikan di laut Busan ini."
Tawa mengejek keluar dari mulut Chanyeol. Dia menegakkan badan, memasang senyum congkak. Tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan sadis Taehyung. "Coba saja, V. Akan kutunggu." Lalu setelahnya berbalik badan dan mengibaskan tangan ke arah para pria bertopeng, "Dua orang menjaga di depan pintu ini! Empat jam lagi kita akan berangkat ke Kuba."
"Kau yakin hanya butuh dua orang untuk menjagaku?"
"Tentu saja. Kelemahan terbesarmu tepat ada di depan matamu. Aku akan berbaik hati memberi waktu privasi kepada kalian berdua sebelum kematian kalian menghinggapi." Chanyeol tiba-tiba mencengkram kerah Taehyung. Preman itu terkesiap, apalagi ketika Chanyeol menatapnya tepat di mata dan cekikan di lehernya perlahan semakin kuat. Tatapan Chanyeol berubah, sangat dingin dan penuh bahaya. "Yang akan terjadi hari ini adalah, kau yang pasti akan kubunuh. Juga pasangan hidup tolol mu itu. Tamat riwayatmu hari ini, V. dan aku akhirnya dapat membalaskan dendamku padamu."
Nafas Taehyung tersendat. Dia kembali memberontak, mencoba meraup udara di sekitarnya ketika Chanyeol semakin mencekiknya. Kepala Taehyung pening, penglihatannya berkunang-kunang.
Sial. Taehyung tidak ingin mati seperti ini.
Tapi tiga puluh detik setelahnya, Chanyeol melepaskan cengkraman. Taehyung terbatuk, cepat-cepat memenuhi rongga pernafasannya dengan udara sebanyak mungkin. Pelipisnya berkeringat, nafasnya tersengal.
Tawa Chanyeol kembali menggelegar. "Ada apa, V? Mana sang juara tinju kebanggaan Korea itu? kenapa dia menjadi selemah ini? Oh, biar kutebak. Luka tembak di dadamu bekas kemarin pasti masih membuatmu kesakitan, ya. Sedih sekali."
Sang penculik itu kemudian berjalan keluar ruangan, memerintahkan anak buahnya untuk ikut keluar dan menutup pintu seng ruangan tersebut, lalu hening akhirnya menyelimuti.
Taehyung mencoba menetralkan kembali emosinya. Tidak, dia di perintahkan Andrew untuk tetap tenang. Misi ini hanya akan berhasil kalau Taehyung dapat menahan amarahnya yang kadang tidak terkendali. Tatapan preman itu menatap lurus ke arah Jungkook di seberang sana. Belum ada tanda-tanda Jungkook akan sadar. Sakit di dada Taehyung kembali terasa. Preman itu menghela nafas dalam-dalam, lalu memejamkan mata. Setidaknya, kekasihnya telah berada di hadapannya. Taehyung seolah mendapatkan kekuatan hanya dengan melihat Jungkook.
Mereka pasti akan lolos dari sini. Pasti.
"T-Taehyung?"
Sekejap Taehyung membuka mata. Ia menatap kedepan, dan mata Jungkook balik menatapnya di seberang sana.
Untuk sepersekian detik, detak jantung Taehyung berhenti. Ia rindu Jungkook. Ia sangat merindukan binar bola mata hitam milik kekasihnya. Dada Taehyung berdebar, matanya memanas. Membayangkan tidak akan dapat melihat binar itu lagi untuk selamanya, apa Taehyung sanggup menghadapinya?
Jungkook mencoba menegakkan badan, tubuhnya terlihat sangat lemah. "K-kau? Kenapa ada disini? Apa–apa kita telah mati? Ini hanya mimpi ku semata?"
Tawa kecil Taehyung terselip keluar. Hatinya lega luar biasa melihat kekasihnya masih dapat bersuara setenang itu. dalam hati, Taehyung membenarkan ucapan kawan-kawannya. Jungkook memang tangguh. Kekasihnya sama sekali tidak lemah.
"Ya. Ini mimpi, bocah. Sebentar lagi kau akan melihat aku yang terbang kesana lalu menyelamatkanmu."
Perlahan tapi pasti, sudut bibir Jungkook yang lebam tertarik keatas. Dia sedikit meringis ketika merasakan perih, tapi kekehannya tetap terdengar. Matanya menatap Taehyung lekat-lekat, dan di balik cahaya remang-remang ruangan ini, preman itu tahu Jungkook menangis.
"Cih, guyonanmu bodoh sekali." Ucap Jungkook. Suaranya bergetar, tapi senyum di bibirnya masih melekat di wajah. "Kau lama, sialan. Aku sudah terlanjur babak belur."
Senyum Taehyung mengembang. "Jadi? Kau menungguku, bocah?"
"Ya. Aku tahu kau pasti datang. Si brengsek Taehyung ini kan bodoh, dia pasti akan menyetujui semua perkataan Chanyeol asalkan bisa melihatku lagi. Mati bersama pun tidak akan dia pikirkan. Dasar tidak punya akal."
Taehyung seketika tergelak. Jungkook juga tertawa kecil. Ada perasaan bahagia yang membuncah di hati mereka. Rasa rindu dan bahagia itu meluap memenuhi seluruh jiwa mereka, menutupi rasa takut dan cemas yang sedari tadi terus membayangi. Walaupun hanya sementara, Taehyung tidak masalah. Walaupun ini hanya upaya bodoh untuk menutupi luka dengan berpura-pura semuanya akan baik-baik saja, Taehyung tidak masalah. Dia tahu, Jungkook pasti sedang terguncang. Ada bom yang terus berdetak di kakinya, yang dapat meledak kapan saja. Sekuat apapun kekasihnya, Jungkook tidak pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya. Ini terlalu mengerikan dan membuat Jungkook sangat ketakutan. Karena itu, yang harus Taehyung lakukan adalah memberikan kekuatan kepada Jungkook, dan meyakinkan kekasihnya kalau mereka pasti akan lolos.
"Bocah. Dengar baik-baik." Senyum Taehyung lenyap. Dia berganti menatap kekasihnya dengan serius. "Aku tidak sebodoh yang kau pikir itu, oke? Kita akan selamat. Tidak ada yang mati. Karena itu, mulai dari sekarang ikuti perintahku baik-baik. Bom itu tidak akan meledak selama kau tidak berbuat macam-macam. Empat jam lagi kita akan di bawa ke Kuba, tapi akan kupastikan kita tidak akan pernah menginjakkan kaki disana. Jadi, jangan cemas atau menjadi gelisah. Santai saja. Ada aku disini. Kau tidak akan di siksa oleh si brengsek itu lagi." Di akhir kalimat, Taehyung mengepalkan tangan kuat. Ucapan itu serius. Dia tidak akan membiarkan bajingan itu untuk menyentuh Jungkook lagi.
Tarikan nafas dalam-dalam terdengar di seberang sana. Jungkook tersenyum, terkekeh samar dengan suara bergetar, tapi dia cepat-cepat menengadahkan kepala untuk menahan tangisnya yang berlomba-lomba hendak keluar.
"Kalau kau berkata seperti itu, aku jadi ingin sekali memelukmu, Tae."
Hati Taehyung mencelos. Matanya memanas, dadanya berdenyut menyakitkan. Susah payah mencoba menahan getir di bibir, Taehyung mengangguk. Menatap lekat-lekat kekasihnya di seberang sana.
"Ya. Aku juga sangat ingin memelukmu sekarang."
Dan isak tangis Jungkook akhirnya pecah. Ruangan kelam ini menjadi saksi bisu akan pertahanan Jungkook yang runtuh, meratapi nasib menyedihkan mereka berdua, dan Taehyung hanya dapat mengepalkan tangan semakin erat.
Sudah cukup kekasihnya bermain peran menjadi sosok yang tangguh. Kali ini, biarkan Taehyung yang melindunginya.
.
sincerely
.
Detik terus berlalu. Bom itu terus mengeluarkan suara mengiringi bunyi detak jam. Ruangan kelam ini sunyi senyap. Jungkook jatuh terlelap efek kelelahan, dan Taehyung diam memperhatikannya. Preman itu sedang menghitung waktu yang telah mereka lewatkan karena tidak ada jam di ruangan ini.
Menurut perhitungannya, dia telah berada di ruangan ini selama 3 jam. Dan itu berarti, di luar sana memasuki jam 6 pagi. Chanyeol tidak datang mengunjungi lagi. Setiap satu jam sekali, para pria bertopeng itu akan membuka pintu untuk melihat keadaan di dalam ruangan. Sesekali terdengar bunyi-bunyi mesin dari luar. Mungkin mereka sedang melakukan persiapan penerbangan ke Kuba. Taehyung tidak terlalu mempedulikan. Dia terus menghitung, mengontrol adrenalinnya yang terus bertambah seiring waktu berjalan.
Sebentar lagi, misi mereka akan dimulai. Waktu penentuan apakah Taehyung dapat menyelamatkan Jungkook atau tidak semakin dekat. Dan itu membuat Taehyung tegang. Taehyung terbiasa berada di situasi penculikan seperti ini dan membuatnya tidak gelisah lagi, tapi kehadiran Jungkook membuatnya tidak dapat berpikir jernih. Dia sengaja tidak memberitahu Jungkook soal misi penyelamatan itu agar kekasihnya tidak terlalu memikirkannya dan dapat beristirahat dengan tenang. Bagaimanapun, Jungkook harus memiliki energi yang cukup agar Taehyung dapat membawanya kabur. Hidup dan mati mereka akan di tentukan dalam waktu yang dekat.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi.
Ini dia!
Bunyi ledakan besar terdengar dari luar. Jungkook terbangun, terperanjat kaget. Belum sempat dia mengucapkan kata-kata, Taehyung telah mematahkan borgol di tangannya lalu melompat bangkit. Bangku yang dia gunakan duduk dia angkat, dia layangkan ke depan kaca di hadapannya dan seketika pecah berantakan.
"Tae? Apa yang terjadi?!"
Tidak dapat menjawab. Waktu Taehyung terbatas, hanya satu menit. Dia berlari masuk ke lokasi Jungkook, langsung mengeluarkan obeng yang dia selipkan di dalam kaosnya. Taehyung bergerak cepat merunduk di hadapan kaki Jungkook, membuka penutup bom itu.
"Apa yang kau lakukan–"
"Diam dan tenang!" Bentak Taehyung. Jungkook seketika terdiam. Taehyung mempelajari kabel-kabel di hadapannya dalam waktu singkat. Tangannya bergerak secepat kilat mematahkan setiap kabel yang dia pilih. Aura tegang seketika menyelimuti ruangan itu. salah satu kabel saja, habis sudah. Di luar sana, para penjaga sibuk berseru-seru untuk memadamkan kericuhan yang tiba-tiba terjadi, dan Taehyung harus dapat melepas bom ini sebelum Chanyeol menyadari dan menekan tombol peledak.
Taehyung mematahkan kabel merah yang terakhir, bom itu berhenti berdetak. Taehyung menarik kasar tali yang membelenggu bom tersebut dengan kaki Jungkook, berdiri cepat meninju borgol di tangan Jungkook yang langsung patah, dan menarik tangan kekasihnya cepat untuk bangkit dan keluar dari ruangan Jungkook.
"Tae, kau berhasil–"
Perkataan Jungkook terputus saat Taehyung spontan menariknya ke dalam dekapannya, melompat dan menggulingkan badan mereka ke pojok ruangan. Bom itu tiba-tiba meledak. Di balik bahu Taehyung, Jungkook dapat melihat ruangan ini yang bersinar terlampau terang dalam sekejap, suhu udara memanas, dan pecahan kaca tersebar kemana-mana. Taehyung sigap menekan kepala Jungkook untuk menunduk, menunggu hingga ledakan itu mereda.
"Sebagian anggota ke ruangan tawanan sekarang! Bom itu pasti berhasil mereka lepas! Sisanya keluar untuk menyerang mereka! keluarkan segala alat untuk menembaki pesawat-pesawat di atas gedung!" seru-seru panik terdengar dari luar.
Mereka tidak sempat bernafas lega. Taehyung bangkit cepat dan menarik paksa tangan Jungkook untuk ikut berdiri. Sepersekian detik mereka bertatapan, dan binar Jungkook yang bergetar membuat Taehyung terpaku. Kekasihnya terlihat sangat ketakutan, sangat terluka, dan sangat rapuh.
"Pipimu, Tae–" suara Jungkook bergetar. Tangannya terjulur kedepan, mengusap pipi Taehyung yang berdarah tergores pecahan kaca tadi.
Taehyung menangkap pergelangan tangan Jungkook, menatap kekasihnya lekat-lekat. "Bocah, dengar penjelasanku baik-baik. Mereka datang menyelamatkan kita. Ketika keluar dari ruangan ini, kita akan berhadapan dengan banyak orang. Ingat, tetap berdiri di belakangku. Ambil potongan kayu ini dan gunakan kepada mereka yang mau menyerangmu dari belakangku. Kau bisa melakukannya, kan?" Taehyung menjelaskan dengan sangat cepat, menatap penuh harapan ke kekasihnya.
Jungkook mengangguk. Dia mencengkram tangan Taehyung erat-erat. "Jangan remehkan aku."
"Bocah pintar." Senyum Taehyung mengembang.
Tepat setelahnya, pintu itu di dobrak paksa. Lima pria bertopeng menerobos masuk dengan senjata api di tangan, Taehyung sigap menarik Jungkook ke belakangnya.
Perkelahian tidak terhindarkan. Taehyung menerjang lebih dulu melayangkan tinju ke rahang satu pria di hadapannya, merebut senjata api di tangan lalu menggunakannya untuk menusuk perut pria itu hingga ambruk. Belum sedetik, Taehyung memutar badannya dan menendang seluruh senjata api yang di arahkan kepadanya hingga terlempar keatas tepat ketika para pria bertopeng itu menekan pelatuk. Bunyi tembakan menggema memantul di atap ruangan, dan Taehyung tidak diam sedetik dengan langsung menghabisi keempat pria yang tersisa dengan tinju dan tendangan mematikannya.
Lima pria bertopeng itu di bereskan dalam sekejap. Tanpa luka setitikpun di badan Taehyung. Jungkook melihatnya dengan nafas tertahan. Taehyung tidak memberi jeda dengan langsung menarik lengan Jungkook untuk keluar dari ruangan.
"V! Jungkook! Sudah kuduga suara bising di dalam ruangan pasti gara-gara kau!"
Jimin, Jackson, Hwan, dan Dilan menyambut di depan pintu, membuat formasi melindungi ruangan itu dari puluhan pria bertopeng yang mengepung mereka. Senyum mereka mengembang sempurna, juga Taehyung dan Jungkook yang merasa lega.
Tawa Jackson terdengar. Dia memelintir tangan lawan di genggamannya, dan setelahnya menendang sadis hingga terhempas kebelakang dan mengenai beberapa pria bertopeng lainnya hingga ambruk. "Jangan melawan dan lindungi Jungkook saja, V! biar kami yang mengawal kalian! Penjemputmu di arah utara!"
Taehyung mengangguk. Dia menarik tangan Jungkook dan membawanya berlari. Anak claws sigap ikut berlari sembari melawan serangan dari musuh. Dilan dan Hwan yang berada di depan menebas dan menembak musuh dengan pisau di tangan Dilan juga dua revolver di tangan Hwan. Jackson dan Jimin menjadi pelindung dari belakang dengan tinju beringas mereka, sementara mereka terus berlari ke arah utara.
Satu tembakan mengenai kaki Jackson. Dia mengumpat kesakitan, tapi terus melawan dengan sekuat tenaga. Jimin terkena tinjuan di perut. Pemuda itu mengerang, meraung marah dan semakin memberingas. Tidak mudah untuk melangkah maju. Para pria bertopeng itu terus bangkit dan menahan mereka. kekuatan mereka juga tidak dapat di remehkan sehingga para anggota claws juga memakan waktu lama untuk menghabiskan musuh satu-satu. Untung saja Dilan dan Hwan berperan banyak dengan senjata mereka.
"Mana Andrew?!" seru Taehyung di sela lari mereka.
"Di ruangan Chanyeol bersama Gerr!"
Langkah kaki Taehyung seketika terhenti. Mereka semua ikut berhenti, "Ada apa, V?!" Andrew berseru heran sembari terus melancarkan serangan.
Taehyung menggigit bibir kalut. Dia menatap Jungkook yang balik menatapnya tidak mengerti, dan keputusan segera Taehyung ambil. Preman itu melepaskan genggaman di tangan Jungkook.
"Bawa Jungkook hingga keluar! Aku ada urusan dengan si brengsek itu!"
"Kau gila?!" Jimin berseru cepat. Tatapannya menyalang marah. "Tidak ada waktu untuk memikirkan itu! Aku tahu kau ingin membunuhnya, tapi dia harus kita tangkap hidup-hidup, dan itu adalah tugas Andrew!"
"Membiarkannya hidup? Kau gila, hah?! Si bajingan itu harus di bunuh detik ini juga!"
Jimin berseru marah, meninju satu musuh di hadapannya dan kemudian berbalik badan dan menarik paksa kerah Taehyung. Untung saja anggota claws yang lain segera muncul dan membantu mereka.
"PAKAI OTAKMU!" Bentak Jimin keras. Tatapannya menatap Taehyung dengan emosi. "Chanyeol juga ingin membunuhmu! Kalau kau kesana, kalian hanya akan saling berusaha membunuh, dan kondisimu yang sekarang terlalu gampang untuk di cabik-cabik! Pikirkan Jungkook dan kita pergi dari sini sekarang!"
Memang itu rencana mereka. Taehyung tahu itu rencana mereka. tapi, jauh di lubuk hatinya dia tidak ingin membiarkan Chanyeol tetap hidup. Jungkook tersiksa karena si brengsek itu. dan melihat Chanyeol hidup pasti akan membuat trauma di diri Jungkook. Dia tahu, karena dia merasakannya. Si brengsek itu telah menyakiti Jungkook, membuat sekujur tubuh kekasihnya yang berharga telah ternodai, dan Taehyung tidak bisa untuk diam saja dan membiarkan Chanyeol hidup.
Amarah ini telah menguasai Taehyung, dia telah berjanji pada dirinya untuk membunuh Chanyeol. Karena itu, dengan terpaksa Taehyung melayangkan tinju ke rahang Jimin membuat sahabat sehidup sematinya itu mundur efek terperanjat, lalu segera berlari ke lain arah.
Umpatan Jimin beruntun keluar seiring Taehyung semakin berjauh. Tiga pria bertopeng ikut berbelok arah mengejar Taehyung, tapi Taehyung berlari jauh lebih cepat. Taehyung tahu ruangan Chanyeol. Mereka sudah melihat denah bangunan ini semalam dengan alat pelacak milik kepolisian, dia juga sebenarnya sudah tahu ruangan tempat dia dan Jungkook akan di tahan. Rencana mereka memang seperti ini. Membiarkan Taehyung ikut di tahan seolah-olah Taehyung adalah pemuda putus asa yang menyerahkan segalanya demi sang kekasih dan terlihat lemah di depan Chanyeol, dan jam 6 pagi claws bersama tim Namjoon akan datang menolong. Serangan pertama berupa ledakan itu adalah tembakan dari pesawat jet milik tim Namjoon. Alat pendeteksi serangan otomatis dari darat milik Chanyeol tidak berfungsi karena claws turun dari atas pesawat. Di dalam rencana, Andrew memang menyarankan diri untuk menjadi orang yang menghadapi Chanyeol. Tapi, sedari awal Taehyung tidak setuju.
Ruangan Chanyeol berada di depan mata. Pintunya terbuka, dan suara dari dalam menandakan kalau ada pertarungan sengit yang sedang terjadi.
Tepat ketika Taehyung berhenti di hadapannya, pemandangan ini kembali membuatnya merasa seolah nafasnya terenggut paksa.
Andrew babak belur di hajar Chanyeol. Gerr terkapar di pojok ruangan, darah bersimbah dari bajunya dan itu luka tembakan.
Untuk pertama kalinya, Taehyung bergetar.
Chanyeol mengangkat kepala, bertabrakan pandangan dengan Taehyung. Seringai di bibirnya berkali-kali lipat lebih mengerikan, luka di wajahnya membuatnya semakin beringas dan menakutkan. Andrew terbatuk parah di bawah Chanyeol, sekujur tubuhnya babak belur.
Chanyeol telah berubah menjadi sosok iblis.
"Wah, kau datang juga, V." Chanyeol tertawa mengejek.
"V?" susah payah Andrew menolehkan kepala. bola matanya melebar, raut wajahnya menjadi pucat. "Kau-bodoh! Sudah kubilang jangan kesini!"
"Kenapa, Andrew? Ah, kau tidak tahu, ya. V bilang dia ingin mencincangku hari ini. Jadi wajar saja kalau dia ada disini." Chanyeol melayangkan satu tinju ke wajah Andrew sekali lagi hingga membuat kesadaran Andrew hilang, dan dia segera bangkit.
Tangan Taehyung terkepal erat. Nafasnya satu-satu. Emosi itu telah menguasai hingga ke ubun-ubun Taehyung. Matanya memanas, pandangannya buram. "Kau-iblis, bajingan. Apa yang kau lakukan?" desis Taehyung dengan suara terlampau bergetar.
Chanyeol mengedikkan bahu. Dia menyeringai. "Aku bukan Chanyeol yang kalian kenal dulu, V. Nazi Amerika mengajarkanku banyak cara untuk bertahan hidup. Disana keras, keras sekali. Jauh lebih keras dari organisasi Yakuza yang katanya tidak segan membunuh temannya sendiri. Di Nazi Amerika, ketika kau melakukan kesalahan, satu anggota badanmu akan di potong. Kalau kau tak membunuh, maka kau yang akan dibunuh. Dan melihatku yang tetap utuh seperti sekarang, kau pasti tahu seberapa keras perjuanganku untuk hidup, bukan?"
Seringai itu lenyap. Tatapan Chanyeol berubah drastis. Tidak ada lagi raut lunak atau mengejek. Chanyeol seperti mesin pembunuh yang menatap lawannya tanpa perasaan sama sekali. Dingin, datar, dan tajam.
Taehyung menggigit bibir. Sudah terlambat untuk menyesal. Jadi, Taehyung memasang ancang-ancang dan langsung menerjang Chanyeol. Satu-satunya cara adalah melakukan semua yang dia bisa. hasil ini jelas, apakah dia akan membunuh atau justru dibunuh.
Seperti dugaan, Chanyeol sigap mengelak. Dia tertawa, melayangkan tinju ke arah wajah Taehyung. Taehyung mundur beberapa langkah, mengusap pipinya yang sakit luar biasa. Tapi tidak ada waktu untuk menenangkan diri, dia balas menyerang menendang perut Chanyeol sekuat yang dia bisa. Chanyeol terhempas kebelakang, terbatuk mengeluarkan darah. Tapi seringainya justru menjadi semakin lebar. Pertarungan itu berlangsung sengit. Kadang Taehyung yang diserang, kadang pula Taehyung yang menyerang. Tinju emas Taehyung berhasil membuat Chanyeol babak belur. Tapi anehnya, Chanyeol malah semakin tertawa seiring dirinya yang berkali-kali terhempas ke lantai.
Dan itu justru membuat Taehyung semakin bergetar. Aura mengintimidasi Chanyeol begitu mengerikan. Berkali-kali lipat lebih mengerikan dari Chanyeol yang dia temui dulu ketika dia di culik di Argentina.
"Wah, akhirnya kita bertanding juga." Ucap Chanyeol santai setelah sekali lagi di hempas Taehyung hingga punggungnya menabrak kursi. "Ternyata kau memang jauh lebih kuat dari Andrew."
Taehyung mengepalkan tangan hingga buku-buku kukunya memutih. "Menyerahlah, brengsek. Terima kekalahanmu dan jangan sok berkuasa lagi, dasar bajingan."
"Oh, ya?" Chanyeol bangkit. Dia mengibaskan surainya keatas. Seringainya masih tercetak lebar. Tidak meluntur sama sekali. "Kau terlalu besar kepala kalau berpikir dapat mengalahkanku, V."
Ucapan itu selesai dengan Chanyeol yang langsung melompat menerjang, menendang Taehyung tepat di dada. Di tempat luka bekas tembakan Taehyung.
Badan Taehyung spontan terlempar, terhempas menabrak dinding. Rasa sakit menghinggapi seluruh saraf-saraf tubuh Taehyung. Jantungnya serasa di copot. Dadanya berdenyut menyakitkan dan Taehyung seketika sulit bernafas.
"Aku ini memegang kartu AS mu, V. Sayang sekali, kau harus mati karena kebodohanmu sendiri."
Chanyeol maju mendekat, tapi badan Taehyung tak dapat bergerak. Sakit di dadanya ini sudah di ambang batas kewarasan Taehyung. Sangat menyakitkan dan melumpuhkan seluruh kinerja tubuh Taehyung. Chanyeol terus maju, dan Taehyung tak dapat melawan lagi.
Apa Taehyung akan berakhir disini? Apa benar dia akan mati? Apa, dia benar-benar tidak akan bertemu Jungkook lagi?
Sebuah potongan kayu tiba-tiba melayang di udara, dan tepat mengenai wajah Chanyeol. Chanyeol terdorong beberapa langkah ke belakang, hidungnya mengeluarkan darah. Taehyung membulatkan bola mata, dan secepat kilat menoleh ke arah pintu.
"Taehyung!"
Itu benar-benar Jungkook.
"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!" Taehyung tidak dapat menahan diri lagi. Dia berteriak, meraung marah, menatap Jungkook sangat emosi. "KAU HARUSNYA BERSAMA JIMIN, TOLOL! PERGI DARI SINI!"
Jungkook bergetar, terkejut dengan bentakan marah Taehyung. Tapi dia menggeleng tegas, dengan susah payah berjalan mendekati kekasihnya dan menatapnya lekat-lekat. "Aku tidak akan meninggalkanmu! Lihat, kan?! Kau terluka begini, kau pikir aku akan senang, hah?!"
Mata Taehyung melotot hingga seperti akan keluar. Nafasnya semakin tak beraturan, emosi menguasai tubuhnya. Bukan, bukan ini yang dia inginkan. Dia tidak ingin Jungkook ada disini. Dia tidak ingin Jungkook di bunuh.
"Kau!" Taehyung menghantukkan kepala ke dinding, begitu frustasi dan begitu kacau. Airmatanya tergenang di pelupuk mata, dan melihat Jungkook yang juga menatapnya kacau justru semakin menghancurkan kewarasan Taehyung. "Kau! Tolol! Jangan melankonis dan pergi dari sini! Atau panggil Jimin, atau apapun asal jangan kesini! Lari, Jungkook!"
"LALU KAU AKAN MATI DISINI? IYA?!" Jungkook balas membentak. Airmatanya telah merembes di pipi, dan dia menatap Taehyung dengan sangat marah. "AKU AKAN MENOLONGMU! JADI DIAM SAJA, BRENGSEK!"
Tidak ada yang dapat di lakukan Taehyung ketika Jungkook menghapus airmatanya kasar, beranjak dari posisinya dan memasang tubuh di hadapan Chanyeol. Tidak ada yang dapat di lakukan Taehyung ketika Chanyeol justru tertawa keras, mengatakan kalau ini drama yang sangat bagus untuk di tayangkan, dan Jungkook berdesis tajam kalau dia akan membunuh Chanyeol demi Taehyung. Tidak ada yang dapat di lakukan Taehyung ketika Chanyeol mengeluarkan sebuah alat dari sakunya, tertawa mengejek dan mengucapkan kalau cara mati Jungkook yang manis tidak seharusnya menyakitkan, kemudian menekan tombol tersebut. Tidak ada yang dapat di lakukan Taehyung ketika Jungkook meraung kesakitan saat badannya seperti tersetrum, menjerit saat kakinya perlahan terkelupas dan terus terkelupas, dan detik selanjutnya badan Jungkook ambruk dengan asap mengepul keluar dari badan. Benar-benar tidak ada yang dapat di lakukan Taehyung.
Taehyung tidak ingat lagi apa yang di lakukan tubuhnya ketika suara tembakan terdengar, dan seketika Chanyeol ambruk di hadapannya dengan kepala bersimbah darah. Ketika anak claws muncul, Taehyung tidak tahu mendapat kekuatan entah darimana untuk berdiri menopang dirinya yang telah mati rasa, mengangkat tubuh Jungkook dan kemudian mereka berlari keluar dari gedung.
Suara Namjoon tertahan di tenggorokan ketika Taehyung memasuki mobilnya dengan luka di sekujur tubuh dan Jungkook yang terbujur kaku di gendongannya. Anak claws yang lain membopong kawan-kawan mereka yang lain yang terluka ke setiap mobil yang telah di sediakan Namjoon, juga ke beberapa helikopter. Sirine polisi Korea meraung-raung mengepung gedung itu, pesawat jet mengelilingi di atas udara, seru-seruan agar para penjahat itu menyerahkan diri, dan ketika mobil Namjoon melesat pergi bersama barisan mobil yang lain, gedung itu di serang membabi buta oleh tembakan pesawat tempur pemerintah.
Taehyung mendekap Jungkook seerat yang dia bisa. Binarnya penuh ketakutan, tubuhnya bergetar. Dadanya seperti di cabik, sesuatu di dalam diri Taehyung telah hancur berkeping-keping.
"Sadar, Jungkook, kumohon. Sadar lah." Taehyung meraung begitu frustasi, mendekap Jungkook. terus melafalkan kalimat itu seperti orang gila, membiarkan airmatanya merembes membasahi baju Jungkook. Semakin Taehyung bersuara, semakin jantungnya terasa di remas kuat.
"Kumohon." Suara Taehyung bergetar hebat, dia bernafas satu-satu, isak tangisnya tersendat, tangannya mengepal erat. "Kumohon, sadar lah. Jungkook, kumohon, demi ku, jangan mati."
Tapi pernyataannya tak kunjung mendapat jawaban. Taehyung menatap wajah pucat Jungkook, dan airmata terus berlomba-lomba keluar membasahi pipi. Diri Taehyung hancur lebur. Dia menenggelamkan wajah di pundak Jungkook yang kaku, semakin mengeratkan dekapannya di tubuh kekasihnya, menangis hebat.
"Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku, Jungkook. Aku mencintaimu, aku mencintaimu. Karena itu, bangun lah. Kumohon. Jangan tinggalkan aku."
Semua orang yang berada di dalam mobil itu terdiam, menundukkan kepala, mengepalkan tangan erat mendengar betapa hancurnya Taehyung. Namjoon mencoba sekuat tenaga untuk tetap fokus mengemudi, padahal dalam hati nya dia juga hancur. Tidak ada yang pernah melihat Taehyung seperti ini. Tidak ada yang pernah melihat Taehyung menangis terlampau frustasi, kehilangan akal dan melafalkan kalimat-kalimat sangat rapuh yang menghancurkan jiwa.
Taehyung yang tangguh, Taehyung yang kokoh dan tidak pernah menangis, Taehyung yang tidak lemah dan memiliki hati sekeras batu, kini menangis, bergetar hebat, meraung sangat kesakitan dengan kenyataan yang di hadapinya.
Seluruh dunia Taehyung telah runtuh.
Mobil Namjoon berbelok menuju rumah sakit Busan, dan dekapan Taehyung di tubuh kaku Jungkook semakin mengerat.
.
.
.
"Kumohon, jangan meninggalkanku, Jungkook."
.
.
.
To Be Continued
Ini adalah chapter yang paling sulit untuk saya buat dan paling lama proses ngeditingnya:"). Saya gatau apa feels actionnya dapat atau ga soalnya ini adalah kali pertama saya buat action scene. But yeah, i hope you guys like it! And yeah, imma totally a big liar if i say i'm not crying while writing this. Saya yang nulis, tapi saya yang sakit hati. Oke ini aneh.
Untuk chapter ini, saya pengen banget para reader-nims aktif dalam memberikan saran, kritik, dan review. Soalnya, ini kayaknya adegan yang paling sulit yang pernah saya tulis:") i wanna see how you guys reaction to evaluate my writing skills. Hehe.
And yash! Mind to be my friends? Please add me! ^^ (link on my bio)
hope you like this chapter as well!
Last,
Mind To Review?
XiRuLin.
