(XXVI) chapter dua puluh lima.


.

.

.

Mobil Namjoon berhasil menepi dengan terburu-buru di depan pintu rumah sakit Busan. Orang-orang terkejut dengan banyaknya anak claws yang segera turun dari mobil, berteriak-teriak meminta bantuan dan penanganan cepat dari pihak rumah sakit. Para perawat segera berlari mengambil tandu sebanyak yang mereka bisa, suasana rumah sakit mendadak menjadi ricuh dan tegang.

Taehyung turun dari mobil dengan Jungkook di dekapannya. Tatapannya ketakutan, tubuhnya bergetar karena panik yang amat nyata. Ia berseru kasar ke arah dokter yang berlari membawa tandu ke arahnya. Jungkook segera dipindahkan dengan cepat.

Seiring tandu yang dibawa masuk ke dalam UGD, Taehyung menangis terisak. Pandangannya perlahan buram, dan tak lama badannya ambruk dan seluruh penglihatannya menjadi gelap.

Jungkook.

Jangan tinggalkan aku.

.

.

.

Kicauan burung gereja saling sahut menyahut mengawali pagi hari yang damai. Matahari bersinar hangat, cahayanya yang lembut menerangi dunia dalam mengawali hari baru.

Angin lembut menerpa gorden berwarna putih susu di salah satu kamar sebuah rumah sakit. kibarannya halus, bunyi gesekan kain mengisi kesunyian di ruangan berbau khas ini. Walaupun cahaya mentari berhasil masuk memberi warna, tak ada tanda-tanda kenyamanan di dalamnya. Kelam, dingin, dan tak berkehidupan.

Bunyi dari mesin pendeteksi jantung samar-samar terdengar, beriringan dengan bunyi detak jarum jam dinding yang tak kunjung lelah berhenti.

Seorang pemuda duduk di atas kasur dalam hening yang tak berkesudahan. Tatapannya menerawang keluar jendela. Entah sudah berapa lama ia menatap kosong ke arah luar sana, seolah menantikan datangnya burung pembawa berita baik yang kapan saja dapat muncul hinggap di ranting bunga yang menghiasi meja ruangan tersebut.

Bunyi derit pintu yang terbuka terdengar.

"Oh, kau sudah bangun?"

Sebuah suara menyahut diiringi dengan bunyi pintu yang kembali di tutup. "Aku membawakanmu buah-buahan. Yah, aku tahu kau mungkin benci makanan manis ini." kekehannya menggelegar di ruangan ini, langkahnya santai menaruh separcel buah-buahan yang ia bawa di atas nakas disamping kasur sang pasien. "Tapi karena dokter melarangmu merokok dan menegak sekaleng soju dulu, kuharap ini bisa kau nikmati, Tae," lanjutnya.

Hening kembali menyelimuti. Tak ada satupun respon yang diberikan oleh sang pasien. Namun pemuda tersebut tak kunjung menyerah.

"Bagaimana keadaanmu hari ini, bajingan? Kau masih saja jadi mayat hidup seperti ini." Ia menghela nafas kasar, memilih untuk duduk di sofa yang tersedia.

Lalu hening.

Seolah paham akan situasi, sang penjenguk memilih untuk tak lagi berbicara. Menikmati keheningan yang berada di antara mereka berdua untuk sesaat.

"Jungkook."

Satu kata terucap tiba-tiba.

Pergerakan tangan sang penjenguk yang sedang mengetik di ponselnya terhenti. Ia perlahan mendongakkan kepala dengan berat hati, seolah ada beban berton-ton yang menimpa kepalanya saat ini.

"Jimin. Jungkook." kembali terucap dengan serak, bergetar, dan terdengar begitu rapuh.

"Ya." Pemuda itu menyahut dengan helaan nafas kasar. "Ya, Tae. Aku disini."

"Apa-," jeda sesaat, berusaha menarik nafas yang terasa begitu sesak di dada, "Apa Jungkook sudah sadar?"

Selang beberapa menit yang begitu menyiksa, Jimin akhirnya bersuara dengan getir di bibir.

"Belum ada tanda-tanda dia akan bangun, Tae."

Waktu seakan berhenti berputar. Siksaan nyata di dada yang membuatnya merasakan perih yang sangat tak kunjung hilang sakitnya.

"Begitu." Tangannya terkepal erat. Tak tahu lagi harus berkata apa selain hati yang kesekian kalinya dihancurkan berkeping-keping.

Sosok ini adalah Taehyung. Kondisi sang preman yang biasanya sangar dan beringas kini berbanding terbalik dari yang biasa ia tunjukkan. Selang bantu pernafasan terpasang di hidungnya, kedua kepalan tangan di gips, dan seluruh badan terbalut perban di balik baju rumah sakit yang ia gunakan.

Taehyung mengingat hari itu.

Satu minggu setelah kejadian penyelamatan Jungkook, Taehyung terbangun di dalam kamar ini. Hal pertama yang ia lihat adalah Ibunya yang spontan menangis meraung-raung dan segera berlari keluar kamar memanggil dokter, juga Jimin yang terisak lega, berlutut di samping kasurnya dengan tangan bergetar menggenggam erat kedua kepalan tangan Taehyung yang di gips, serta ayahnya yang berkali-kali menggumamkan kata syukur dalam tangisannya yang begitu asing untuk Taehyung dengar.

Sang preman masih belum mengerti apa yang terjadi saat itu. Dokter dan timnya datang dengan tergesa-gesa. Samar-samar, Taehyung dapat melihat raut wajah mereka yang bercampur lega dan haru. Mereka segera memeriksa badan Taehyung, dan Ibunya berkali-kali mencoba berbicara kepada sang anak. Namun saat itu, Taehyung tak dapat membuka mulut. Kepalanya pening, matanya berpendar sulit mencari fokus. Dadanya sesak, suaranya tertahan di tenggorokan. Taehyung berusaha merespon, namun badannya kaku dan tak mau bergerak sesuai perintahnya. Ibunya kembali menangis, dan Jimin bergerak menepuk-nepuk pundak sang ibu untuk menenangkan beliau.

Dokter mengatakan padanya dengan penuh kehati-hatian, bahwa ia berhasil selamat dari maut. Setelah membawa Jungkook ke rumah sakit, ia ambruk didepan pintu UGD. Taehyung masuk kondisi kritis. Ia menjalani empat operasi hidup dan mati selang seminggu, jantung yang rusak dan di transplantasi, kesepuluh jari-jari tangan patah juga kedua tulang betisnya, serta pendarahan otak yang menyumbat sistem pernafasan. Seminggu itu tanpa ia ketahui, tubuhnya sedang berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup, melawan segala sakit yang ia lalui tanpa ia sadari di hari itu. Sebuah keajaiban. Ibunya kerap mengucapkan rasa syukur dengan airmata berlinang di pipi dan senyum penuh haru di bibir.

Taehyung belum sepenuhnya sadar. Namun dalam hati, ia turut mengucapkan kata syukur bahwa dirinya berhasil bertahan dari perjuangan ini.

Dua hari setelahnya, Taehyung mulai mengerti kondisi tubuhnya. Ia dapat melihat kedua kakinya yang di gips, kedua kepalan tangannya yang di gips, selang-selang yang tertempel di badannya, juga alat bantu pernafasan yang ia gunakan. Hanya Jimin yang terus menemaninya selama dua hari itu, tak meninggalkan sahabat sehidup sematinya barang sedetikpun.

Taehyung mulai mengingat apa yang sudah mereka alami, dan dengan susah payah mengucapkan kata perkata di bibirnya yang masih kelu, ia mempertanyakan apa yang terjadi setelah kejadian hari itu.

Raut wajah Jimin berubah muram. Genangan airmata memenuhi pandangannya. Taehyung dapat melihat Jimin yang mengepalkan tangan begitu erat hingga urat-uratnya terlihat.

"Hwan dan Gerr tak dapat diselamatkan. Mereka sudah tiada, Tae."

Nafas Taehyung tercekat. Hatinya mencelos, sesuatu di diri Taehyung seperti dihantam oleh kenyataan buruk yang tak ia sangka akan terjadi. Kehilangan nyata ia rasakan. Badan Taehyung bergetar, isak tangisnya lolos di balik alat pernafasan yang ia gunakan. Kedua temannya yang sangat berharga, kedua temannya yang tak pernah meninggalkannya dan selalu ada mendukung Taehyung dengan segala sifat beringasnya, kini tak lagi ada di dunia.

"Lalu, J-Jungkook?"

Taehyung mengucapkan nama itu dengan susah payah, dengan bibir bergetar dan mata tertutup rapat-rapat. Hati Taehyung tak siap untuk mendengar apapun tentang kekasihnya, Taehyung tak siap untuk mengetahui apa yang telah dialami oleh bocah yang telah menjadi dunia dari Taehyung selama ini.

"Dia selamat. Tapi belum kunjung sadar. Koma sudah lebih dari seminggu."

Dan nafas Taehyung seolah ditarik paksa sepersekian detik ketika Jimin melanjutkan perkataannya dengan penuh penyesalan dan rasa getir yang sangat.

"Tapi, Tae... Jungkook kehilangan kedua kakinya."

Detik itu, Taehyung spontan menangis meraung-raung. Badannya bergetar hebat, seluruh tubuhnya merasakan sakit yang tak berkesudahan dan begitu menyakitkan. Tak ada yang dapat dilakukan Jimin selain menggenggam erat tangan Taehyung yang di gips, ikut terisak penuh sakit. Ia mengerti perasaan sahabatnya, ia juga mengalami apa yang Taehyung rasakan.

Hidup Taehyung yang gemilang, telah hancur lebur dan tak lagi tersisa.

.


sincerely


.

Berhari-hari setelahnya, Taehyung lalui tanpa gairah apapun. Tak ada satupun kata yang ia keluarkan selain menanyakan kondisi Jungkook yang sudah sadar ataupun belum. Ketika menerima jawaban gelengan yang lemah, Taehyung akan kembali diam seribu bahasa hingga esok hari menghampiri. Ia menjalani pengobatan dan perawatannya dengan diam, tak melawan dan tak lagi menjadi buas.

Hari kelima setelah Taehyung sadar, anak claws beserta Bella akhirnya datang berkunjung. Detik ketika pintu itu terbuka dan raut teman-temannya yang ia rindukan muncul, hati Taehyung kembali remuk. Ia kembali memecahkan tangis yang begitu menyakitkan, membuat para preman tersebut ikut terisak bersama-sama. Suasana penuh duka mereka rasakan. Kehilangan. Sakit. Lelah. Kecewa. Sedih. Semua bercampur jadi satu. Ruangan itu semakin kelabu dan kelam, Taehyung merasakan sakit yang amat melihat tak ada lagi senyum jahil Hwan di antara mereka, atau tawa nyaring Gerr yang memuakkan di antara mereka.

Andrew terpaksa memutuskan claws vakum untuk beberapa bulan. Mereka dalam proses pemulihan trauma. Tak hanya Taehyung, beberapa dari mereka juga sedang dirawat setelah menerima banyak luka-luka di tubuh. Di hari kelima Taehyung sadar, ruangan kamar tersebut dipenuhi kelabu yang pekat.

Dua hari setelahnya, ayah Taehyung datang menjenguk ditemani oleh Paman Baekhyun, Andrew dan beberapa petinggi-petinggi di dunia per-preman-an. Mereka membahas banyak hal tentang Chanyeol dan Nazi. Chanyeol resmi terbunuh setelah ditembak oleh Hwan hari itu. Misteri yang ada mulai terpecahkan satu-satu. Mereka berakhir rapat di ruang kamar Taehyung dengan memperbincangkan kelanjutan kasus ini dan pengajuan pertemuan dengan petinggi-petinggi dunia dalam mengantisipasi pergerakan teroris dunia kedepannya. Para petinggi itu juga tak lupa berterima kasih pada Claws yang menjadi kunci utama keberhasilan kasus ini, namun Taehyung dan Andrew tak dapat melukis senyum di bibir barang seinchi pun. Andrew berperan banyak dengan pergi keluar negeri, menghadiri pertemuan-pertemuan penting. Dunia bawah tanah sedang gempar, dan kasus ini tidak sesepele yang dikira. Jimin bercerita bahwa pertumpahan darah terjadi dimana-mana, kasus ini mulai disorot oleh media-media massa dan publik, dan menjadi hal urgent yang krisis dan sedang panas dibahas untuk beberapa minggu kedepan. Namun begitu, Ayah Taehyung mengatakan bahwa sampai saat ini Paman Sam masih aman dan komponen nuklir itu belum jatuh di tangan siapapun.

Seminggu setelah Taehyung sadar, dokter yang menangani Jungkook datang berkunjung ke kamar sang preman. Semua ini atas permintaan Ibu Taehyung yang tak sanggup lagi melihat anak sulungnya tak kunjung berbicara, seperti mayat hidup yang tak memiliki harapan apapun lagi. Sang dokter datang bersama seorang psikiater yang ditugaskan untuk mengobati Taehyung nantinya. Ia menjelaskan kondisi Jungkook yang masih abstrak dan tak tertebak, namun tetap memberi Taehyung semangat bahwa kekasihnya akan baik-baik saja selama Taehyung berada di sisinya. Melihat kondisi Taehyung yang kian membaik dan kedua gips di kakinya telah dilepas, sang psikiater menawarkan sang preman untuk mencoba mengunjungi Jungkook di ruang ICU. Namun, dengan tangan terkepal, Taehyung menolak tegas.

Ia masih tak ada keberanian untuk melihat kondisi kekasihnya yang menyedihkan, dan semua itu disebabkan oleh dirinya sendiri.

Namjoon, Seokjin, dan Yoongi juga tak lupa datang berkunjung setelah mereka pergi memeriksa kondisi Jungkook. Hanya hening yang menemani kunjungan mereka. Tak ada satupun yang berbicara. Tiga puluh menit dalam diam, Seokjin akhirnya menghela nafas panjang lalu bergerak menepuk-nepuk pundak Taehyung. Walaupun dengan suara yang parau dan bergetar, Seokjin mencoba tersenyum dan meyakinkan Taehyung bahwa ini semua bukan salahnya, dan Jungkook akan baik-baik saja.

Namun begitu, Ayah dan Ibu Jungkook tak pernah sekalipun berkunjung melihatnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk Taehyung mengetahui bahwa ia telah menghancurkan kepercayaan dan harapan orangtua Jungkook padanya. Ia telah menghancurkan hidup Jungkook. Menghancurkan impian orang-orang yang begitu menyayangi kekasihnya.

Taehyung gagal.

Taehyung gagal menjadi seorang manusia.

Taehyung gagal menjaga harta paling berharga yang ia miliki.

Taehyung gagal menjaga dunianya.

Ia menghancurkan kekasihnya yang gemilang. Ia menghancurkan harapan-harapan dan kehidupan indah yang akan menanti didepan sana. Ia telah menghancurkannya dalam sekejap mata.

Ini semua salahnya.

Di hari Taehyung begitu terpuruk dan tak lagi merasa berhak untuk hidup, ia berkali-kali mencoba membunuh dirinya sendiri. Namun Andrew akan selalu berakhir meninjunya dengan penuh emosi, mencengkram erat kerah bajunya lalu meneriakkan sumpah serapah tepat di depan wajah Taehyung.

"Bertahun-tahun Jungkook selalu menghabiskan waktunya untuk mendampingimu, bajingan! Ia mengorbankan waktunya untukmu! hidupnya, harapannya, impiannya, itu semua untuk berada disampingmu dan menunggumu! Karena itu, jadi jangan menjadi lemah dan hadapi ini, brengsek! Tunggu Jungkook! Temani dia! Dia adalah duniamu! Jadi jangan tinggalkan dia karena itu tidak akan menyelesaikan masalah apapun!"

Lalu setelah itu, tangisan Taehyung akan kembali pecah, terus meneriakkan kata-kata bahwa ia menghancurkan hidup Jungkook, dan Andrew berakhir memberikan pelukan serampangan demi menenangkannya.

Sejak kecil, Taehyung selalu dikenal sebagai sosok yang sekeras batu, setangguh besi, dan sedingin es. Taehyung tak pernah menjadi emosional atau cengeng akan hal apapun. Ia keras, kuat, dan angkuh dalam menghadapi segala perasaan yang ia miliki. Namun kali ini, semuanya berubah.

Taehyung hancur.

Kekasihnya yang berharga, yang telah menjadi kelemahan terbesarnya dan sumber hidupnya selama ini, telah ia hancurkan dengan kedua tangannya sendiri.

Lalu hari demi hari berlalu.

Tepat di hari ke dua puluh Taehyung dirawat di rumah sakit, sebuah berita datang dari Jimin yang muncul di pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. Peluh membanjiri tubuhnya, nafas Jimin tersengal.

"Jungkook telah sadar, Tae."

Kata-kata itu menghantam Taehyung hingga ke relung hati. Ketakutan perlahan membesar, hadir tiba-tiba di dalam dirinya.

.

.

Apa mereka masih akan menjalani hidup yang sama seperti kemarin?

Apa, Jungkook masih akan mencintainya?

.

.

.


To Be Continued


hai, long time no see reader-nim.

akhirnya setelah bertahun-tahun berdebu dan mendekam di ffn, fiksi ini akhirnya berhasil aku update lagi. apa masih ada yang nungguin? ehe.

sebelumnya, aku mau minta maaf karena updatenya lama banget. semenjak masuk kuliah hidup aku berubah total dan menjadi berbeda. aku ga ada waktu buat update fanfiction atau bahkan menulis lagi. tapi akhirnya, selama masa pandemi ini aku berhasil kumpulin niat untuk kembali ke diri aku yang dulu dan kembali menulis untuk reader-nim yang aku sayangi.

yang kedua, aku mau makasih banyak sama reader-nim yang masih setia nunggu preman!tae dan bocah!kook nya. semua review kalian yang bertahun-tahun ini gapernah aku baca aku baca lagi, dan aku terharu banget ada yang masih baca tahun ini. i make you all waiting so long. but thanks a lot for still loving and wait me. setiap review kalian sangat aku hargai, sangat jadi penyemangat aku buat nulis sebaik mungkin. aku udah janji sama reader-nim kan kalau bakal akhiri fiksi ini dengan sebaik mungkin. jadi nantikan terus, ya!

oh, ya. ini sengaja aku update pendek dulu. mau pancing dan lihat bagaimana antusiasmenya kalian tunggu sincerely. hehe.

thanks for all the love support review favorite and read this absurd fiction! means a lot to me!

Last,

Mind To Review?

XiRuLin.