Late Night Call
By Vira D Ace
Bungou Stray Dogs by Asagiri Kafka and Harukawa Sango
[OdaZai Week day 1: insomnia]
Happy reading!
~o~
Jarum jam di atas nakas sedari tadi terus berdetak dengan irama konstan. Entah berapa jam sudah terlewat, Dazai masih di atas ranjang dengan mata terbuka. Berkali-kali tukar posisi juga, hasilnya sama saja—ia tidak bisa tidur.
Padahal besok ada rapat—katanya, meski sebenarnya Dazai sendiri tidak terlalu memperdulikan, karena isinya tidak pernah menarik bagi remaja berusia 16 tahun itu. Mori juga tidak mungkin kalang kabut macam ayah yang anaknya dilaporkan bolos sekolah padahal sudah diantar sampai depan gerbang, jadi Dazai bisa santai.
Masalahnya, ini sudah malam, larut sekali. Dazai lelah, dan sialnya tidak bisa tidur. Hadap kanan, kiri, bahkan ke bawah alias tengkurap pun juga tidak membuahkan hasil.
"Aaaah!"
Menyerah dengan semua usaha yang tidak berguna itu, Dazai beranjak duduk. Jam beker di atas nakas yang sedari tadi mengisi hening menunjukan pukul dua lewat tiga puluh menit, dini hari. Dazai mengembuskan napas.
Orang bilang, salah satu cara ampuh buat tidur cepat adalah minum susu. Sayangnya Dazai malas bergerak keluar kamar untuk sekedar mengambil susu di dapur—bahkan ia tidak yakin minuman yang sering ia rekomendasikan pada Nakahara Chuuya itu ada di dapurnya. Lagi, Dazai mengembuskan napas. Tolong saja, ia ingin sekali tidur sekarang.
Di tengah-tengah pikiran yang semerawut lantaran tidak bisa tidur, ponsel di atas nakas tiba-tiba bergetar. Suara getarannya yang terdengar jelas karena ruangan yang hanya didominasi detak jam beker membuat Dazai menoleh. Suara getarannya yang kasar itu hanya terdengar sekali, barangkali hanya SMS dari operator tentang kartu prabayar yang mulai masuk masa tenggang, ataupun dari nomor asing tentang pinjaman kredit.
Dazai mengambil ponselnya, dan salah satu perkiraannya soal SMS itu ternyata memang benar—nomor asing lagi, soal pinjaman kredit yang jelas tidak Dazai butuhkan. Sinar dari layar ponselnya lumayan cerah, kontras sekali dengan keadaan kamarnya yang gelap. Dazai mengerjap-ngerjap sebentar guna membiasakan matanya, lantas mengambil tempat yang nyaman buat bersandar.
Tidak ada hal-hal menarik di internet belakangan ini, hingga Dazai memilih beralih pada daftar kontak. Barangkali ada orang-orang yang bisa ia isengi, setidaknya sampai matanya terasa berat buat tetap terjaga. Iris kecokelatan pemuda itu memerhatikan daftar kontak yang ada dalam ponselnya. Tidak banyak, paling-paling hanya kontak milik Mori, Hirotsu, dan beberapa orang yang katanya penting. Saking sedikitnya hingga tadinya Dazai mau menggunakan cara orang zaman dulu saja—mengirim pesan ke nomor acak dan menunggu balasan—kalau saja maniknya tidak sengaja menangkap sebaris nama.
Odasaku.
Dazai dan Oda Sakunosuke belum pernah bertukar kontak sebelumnya, itulah mengapa Dazai sempat bingung untuk beberapa saat. Namun sejurus kemudian, ia teringat, kala Oda tanpa sengaja meninggalkan ponselnya di atas meja bar setelah menelepon, kemudian Dazai iseng memasukan nomornya tanpa nama ke dalam ponsel tersebut, lalu menelepon ke ponselnya sendiri hingga Dazai mendapatkan nomor tersebut.
Tanpa pikir panjang, pemuda itu langsung menekan tombol dial pada nomor tersebut. Bodoh, sebenarnya, karena ini masih dini hari—bisa saja Oda sudah tidur di seberang sana. Ada nada sambung terdengar selama beberapa saat, selama itu juga Dazai terdiam, menanti.
Klik!
"Halo?"
Diangkat! Dazai nyaris memekik ketika baritone di seberang sana mengakhiri nada sambung yang terdengar membosankan. Oda mengangkatnya, artinya ia belum tidur. Seketika Dazai lupa kalau tubuhnya lelah namun tidak bisa tidur.
"Halo? Siapa?"
Ah, benar juga. Di ponsel Oda, nomor Dazai saat ini adalah nomor asing. Dazai buru-buru menjawab, sebelum sambungannya diputuskan karena dikira hanya telepon iseng—well, itu tidak sepenuhnya salah sebenarnya.
"Ini aku, Odasaku~"
"Ng ... Dazai?"
"Ya!"
"Dari mana kau tahu nomorku?"
"Ng ... itu ..." Dazai hanya terkekeh sebagai kelanjutan dari kalimatnya. Untuk yang satu itu biar saja Dazai dan Tuhan yang tahu, Oda tidak perlu tahu—lagipula tidak penting juga, kan? "Ah, Odasaku belum tidur?"
Ada hening sesaat dari seberang, sebelum suara Oda kembali terdengar. "Belum," ucapnya pendek. "Kau sendiri?"
Dazai menggeleng sebagai jawaban—tak lama ia terkekeh sendiri, menyadari bahwa Oda tidak mungkin bisa melihatnya. "Belum," katanya. "Aku nggak bisa tidur~"
"Heeh?"
"Odasaku sendiri kenapa belum tidur?"
"Baru pulang."
"Eeh, selarut ini?"
"Hm."
Suara Oda kedengaran lelah di seberang sana. Dazai jadi merasa bersalah karena malah membuat pria itu mengangkat telepon darinya, padahal lebih baik diabaikan saja supaya besok bisa lanjut mengerjakan misi lain.
"K-kalau begitu Odasaku tidur saja, ya—simpan nomorku nanti pagi aja. Jaa, oyasu—"
"Bagaimana harimu hari ini, Dazai?"
Tepat sebelum Dazai menyelesaikan kalimatnya, Oda tiba-tiba memotong. Dazai mengerjap bingung. Tumben sekali.
"Ng ... biasa saja ..."
"Biasa sajanya yang seperti apa dulu?"
"Ya biasa ..."
"Standar biasamu itu beda."
"Aish," Dazai mengerucutkan bibirnya.
"Ayo, cerita. Nanti aku gantian ceritakan punyaku kalau kamu mau."
"Ng ..." Dazai diam sejenak, menimang-nimang. "Nggak ada yang penting, sih, kayak ... aku ketahuan mau lompat dari jendela sama Mori-san, jadinya aku ditahan Elise-chan, terus jendelanya dikunci—padahal sudah susah-susah kubuka. Jahat banget, kan? Terus Mori-san nugasin aku berdua sama Chuuya lagi. Ugh, Chuuya nyebelin, mana cerewet ..."
Dazai menceritakan tentang apa yang ia lewati hari ini. Semuanya, dari yang menurutnya biasa saja sampai yang paling menyebalkan. Sesekali Oda menanggapinya dengan berdehem, mangut-mangut agar Dazai tahu kalau ia mendengarkan.
"Segitu aja," Dazai mengakhiri ceritanya. Oda di seberang berdehem mengiyakan.
"Biasa saja, kan?"
"Menurutku tidak."
"Huft—definisi biasa menurutku sama Odasaku ternyata memang berbeda, ya?"
"Hmm."
"Omong-omong, Odasaku ..." Dazai memanggil. "Tadi katanya mau cerita?"
"Kamu mau dengar? Ini bakalan membosankan kalau buatmu."
"Kalau Odasaku mau, sih ..."
Terdengar tarikan napas dari seberang. Dazai menanti, dan tetap diam ketika Oda bercerita. Dimulai dari kelima anak asuhnya pagi kemarin, hingga misinya yang baru selesai larut malam tadi. Dazai mendengarkan sembari menanggapi sesekali—seperti berteriak antusias kala Oda bilang ia nyaris terluka, serta berkata ingin berada di posisi pria itu biar dia saja yang luka, lumayan bisa sekalian mati. Kalau sudah begitu Oda langsung menghela napas, lalu lanjut bercerita.
Oda mengakhiri ceritanya ketika Dazai tiba-tiba menguap.
"Sudah mengantuk?"
"Hmm ... Odasaku lanjut saja ..."
"Tidur, Dazai," ucap Oda dengan nada lembut. "Lanjut nanti siang, ya? Sekarang tidur, anak kecil sepertimu butuh tidur yang cukup."
"Umurku 16—" bantahan Dazai terputus karena lagi-lagi ia menguap panjang. Oda menghela napas di seberang sana.
"Tidur, Dazai."
"Hng ... iya, iya ..."
"Oyasumi."
"Oyasumi ..."
Telepon diputus oleh Oda. Dazai menguap buat ketiga kalinya, kemudian meletakan ponselnya di atas nakas, lalu berbaring dan menarik selimut.
-end-
Hari pertama OdaZai week tahun ini bertepatan sama jadwal PAT online dari sekolahku (bukan hari pertama PAT, sebenernya–lagian ini hari Minggu, aelah. Dan ini bukan pertama kalinya diriku ada ujian serius malah join event, meski draft cerita ini dah diketik dari kapan hari awokwowk /woe).
Gaje memang. Tapi moga bisa ikut ampe day 8 :')
Btw, diriku ga menjamin day berikutnya bakalan sepanjang ini. Bisa pendek kebangetan kek drabble yg biasa kubikin, atau ... gitu lah pokoknya :'u /woe
[catatan ga penting: cara diriku ngepublish ini di FFn sama di Wattpad beda. Di FFn kupisah-pisah perharinya, sementara di Wattpad kugabung dengan titel OdaZai Week 2020]
