CHAPTER 1

WHO'S THE FAIREST OF THEM ALL

Disclaimer

All Character here is belongs to Masashi Kishimoto

Warning

Canon, Typo bertebaran, dan kekurangan-kekurangan lainnya.

Happy Reading

.

.

.

"Salju melelehlah! Maka biar tanah terlihat, lalu tumbuh tanaman-tanaman darinya. Biar bunga kembali bersemi dan Kerajaan ini kembali asri." Teriakan lantang Sang Raja menggema dari atas balkon istana. Para penduduk kerajaan Konoha bersorak-sorai menyambut Upacara "Musim Semi" dibuka. Maka manakala sihir kuno milik klan Haruno dihembuskan salju-salju pun meleleh. Tanah kecoklatan mulai nampak, hewan-hewan yang tengah berhibernasi mulai terbangun dan mengintip dari persembunyian. Fenomena ini disambut pekikan para penduduk negeri dengan mengagungkan Sang Raja. Sang Raja kemudian melambaikan tangan pada para warganya lalu setelah mempersilahkan para penduduknya untuk menikmati festival tahunan itu masuklah ia kembali kedalam istana.

Konoha, begitulah kerajaan ini disebut. Bergerak dengan perdagangan dan pertanian sebagai sumber ekonomi utama mereka. Konoha adalah kerajaan termasyur dengan keindahan dan kekayaan alamnya. Dengan kemasyuran itu tak heran Konoha menjadi Kerajaan yang makmur dimana festival rakyat sering sekali dilaksanakan. Dipenuhi oleh wajah-wajah riang penduduk yang tak henti menari dan bernyanyi sepanjang hari.

Jiraiya Haruno, Raja ke 5 dari Kerajaan Konoha. Salah satu Raja terbaik yang pernah ada di Konoha. Ia begitu menyayangi rakyatnya begitu pula rakyat Konoha sangat menghormati Rajanya. Jiraiya didampingi oleh seorang istri yang cantik jelita yang kini tengah mengandung buah hatinya. Tinggal menunggu hari sebelum Sang Istri melahirkan buah hati mereka. Hari yang telah ditunggu-tunggu oleh keluarga kecil itu bahkan oleh seluruh kerajaan.

Hari kelahiran itu tiba. Jiraiya tengah menunggu diluar ruang bersalin dengan cemas. Wajahnya terlihat pucat pasi, telinganya tak henti-henti mencoba mencuri dengar kedalam ruangan meskipun tak membuahkan hasil. Namun, wajahnya berubah ceria ketika tabib kerajaan keluar dari ruangan tersebut.

"Bagaimana Nenek Chiyo? Mana anakku? Apa jenis kelaminnya? Bagaimana rupanya? Apa istriku baik-baik saja? Apa aku sudah bisa bertemu istriku?" Jiraiya memberondong Nenek Chiyo dengan segudang pertanyaan. Namun, ada guratan kesedihan diwajah tabib kerajaan itu. Hal yang aneh mengingat beliau baru saja membantu kelahiran bayi seorang Raja.

"Tuan... anakmu sedang dimandikan oleh Shizune. Anakmu perempuan. Tapi..." ucapannya menggantung. Wajah Nenek Chiyo menunduk lesu. Melihat itu Jiraiya semakin penasaran.

"Istrimu, Tuan. Yang Mulia Ratu... meninggal saat proses melahirkan. Aku sudah berusaha sebisaku. Tapi pendarahan istrimu terlalu parah. Tidak ada yang bisa aku lakukan" Ucap Nenek Chiyo.

Maka saat itu juga Jiraiya terduduk dan menangis kemudian pingsan. Para pengawal yang panik membawa Jiraiya ke kamarnya untuk dibaringkan.

Saat tersadar Jiraiya telah berada tempat tidurnya. Ia kembali teringat kenyataan bahwa istrinya telah meninggal. Maka, ia kembali menangis. Kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya.

TOKK... TOK... TOKK...

Nenek Chiyo masuk kekamar Jiraiya setelah dipersilahkan. Ia terlihat membawa gendongan. Lalu disodorkannya gendongan itu pada Jiraiya.

"Ini anakmu Yang Mulia... " ucapnya

Jiraiya menerima gendongan itu dengan tangan gemetar. Dilihatnya sesosok bayi cantik bermata zamrud seperti mata istrinya. Detik itu juga ia bisa merasakan bahwa ia sangat menyayangi putrinya.

"Ia sangat cantik. " ucapnya sambil tersenyum. Nenek Chiyo lega melihat Sang Raja tersenyum. Paling tidak kehadiran putrinya itu bisa membuat hati Raja lebih baik, batinnya.

"Yang Mulia, sepertinya sudah saatnya anda memberi nama kepada Tuan Putri. " ujar Nenek Chiyo

Sang Raja mengangguk setuju.

"Kulitnya putih bersih bak batu pualam. Matanya hijau jernih seperti zamrud. Sedangkan Rambutnya merah muda cerah seperti bunga sakura. Bukankah ia menggambarkan musim semi di Negeri ini? " ucapnya Jiraiya.

"Aku akan menamainya Sakura. Haruno Sakura"

Sakura dibesarkan oleh Raja seorang diri. Raja mendidik Sakura menjadi seorang dengan jiwa kepemimpinan. Diajarkannya semua hal untuk mempersiapkan Sakura memimpin Kerajaan itu kelak. Namun, seiring dengan perkembangan Sakura Sang Raja mulai menyadari, ada banyak hal yang tidak bisa ia ajarkan.

Jiraiya pun mulai mencari pendamping sebagai pengganti ibu Sakura yang telah tiada. Maka, wanita diseluruh pelosok negeri menawarkan diri. Namun, tak ada satu wanita pun yang menarik perhatian Sang Raja. Hingga datanglah seorang Ratu dari Negeri antah berantah. Ratu itu bernama Tsunade. Ia adalah seorang wanita yang paling cantik didunia. Ia adalah wanita yang cantik, cerdas, dan kuat. Maka tak butuh waktu lama bagi Sang Raja untuk jatuh cinta pada Tsunade. Tsunade menjadi segalanya bagi Jiraiya. Bintangnya, bulannya...

Ketika Sakura berumur 8 tahun Jiraiya melakukan sebuah ekspedisi ke Negara sahabat. Dalam rangka negosiasi ekonomi katanya. Sakura kecil ditinggalkan bersama Tsunade dan belati kesayangannya. Sayangnya, Jiraiya memilih jalan pintas menuju Kerajaan sahabat itu. Ia memilih melewati hutan gelap. Ditengah hutan tersebut Jiraiya dan ajudannya menghilang.

Kabar menghilangnya Sang Raja sampai ke Istana dalam waktu singkat. Dengan kabar itu Ratu mengerahkan sebagian besar prajurit Kerajaan untuk mencari Sang Raja. Namun, tak ada pertanda kemanakah Sang Raja menghilang. Prajurit yang berminggu-minggu tak menemukan sedikitpun jejak keberadaan Raja menjadi putus asa. Hingga akhirnya Ratu memutuskan untuk menghentikan pencarian dengan alasan tak adanya jejak. Sakura kecil begitu terpukul dengan kenyataan itu.

Tsunade diangkat menjadi Ratu, pemimpin Kerajaan Konoha dalam waktu singkat. Dari saat itu, Sakura dibesarkan oleh Tsunade sebagai pengganti ayahnya yang menghilang.

10 tahun berlalu. Sakura tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Kerajaan Konoha berubah menjadi dingin. Musim dingin tanpa henti menerpa Kerajaan itu. Dan selama 10 tahun itu, Sang Ratu menyadari sesuatu. Jika ia ingin tetap menjadi wanita tercantik diseluruh kerajaan, maka Sakura harus melakukan yang seharusnya bunga sakura lakukan. Sakura harus gugur...

Cip... Cip.. Cip...

"Kau mau sedikit kudapan?" Seorang gadis belia menyodorkan sepotong apel ke burung kecil didepannya. Rambut merah muda sepunggungnya meriap-riap tertiup angin. Dibukanya jendela kamar itu lebih lebar. Membiarkan angin dingin masuk saat pagi hari memang bukan pilihan bagus. Tapi melihat matahari pagi dengan pemandangan hijaunya hutan dari jendela kamarnya adalah hal yang tidak bisa ia lewatkan setiap pagi.

Sakura tersenyum melihat burung kecil itu terbang setelah menghabiskan kudapan pemberian Sakura. Sudah 10 tahun ia melakukan rutinitas ini. Melihat keluar jendela kamar setiap pagi. Berkhayal bagaimana suasana diluar gerbang istana ini, atau memikirkan buku apa lagi yang harus ia baca.

BOOM...

Suara ledakan kecil menyadarkan Sakura dari lamunannya. 'Suara apa itu?' batinnya.

BOOM...

Sekali lagi suara ledakan itu terdengar. Sakura tampak antusias.

"sepertinya pestanya sudah mulai"

"F ke D9!" perintah Tsunade.

"Ke sebelah kirimu, Lord Hiroshi"

"Jika seseorang bisa mengajarkan Lord Hiroshi arah kiri dan kanannya, aku akan sangat bersyukur" sindir Tsunade.

"Maafkan saya, Yang Mulia" ujar Lord Hiroshi.

"B ke J12!" Kali ini giliran Lord Akimichi yang memerintah bidak manusianya untuk bergerak.

Pesta yang tengah diadakan oleh Tsunade hanya terbatas untuk kaum bangsawan saja. Dan mereka kini tengah memainkan catur manusia, dimana kepala Si Bidak Catur dipasang semacam mahkota berupa kapal dengan meriam mini. Jika bidak tersebut mati maka kapal bidak yang mati akan ditembak oleh kapal lawan. Cukup menyeramkan memang tapi seperti inilah yang Tsunade sukai. Lagi pula ia tak akan pernah menjadi bidak. Jadi tak masalah buatnya mempermainkan manusia sebagai bidak caturnya. Meskipun mereka adalah bangsawan.

Bidak catur Lord Akimichi bergerak sesuai dengan perintahnya.

"Yang Mulia, ada sedikit gosip yang kini berkembang di Kerajaan" ucap Lord Akimichi membuka pembicaraan.

Lord Akimichi sendiri dikenal sebagai bangsawan terkaya di Kerajaan Konoha. Tanah perkebunan yang luas dan jaringan perdagangan yang sistematis dan terstruktur adalah salah satu sumber kekayaannya. Jadi tidak heran bila ia memiliki keistimewaan dipermainan pada pesta kali ini untuk menjadi pemain caturnya, bukan yang "dipermainkan".

"Gosip mengatakan bahwa Kerajaan sedang mengalami kebangkrutan. Jika kita menggabungkan dua Kerajaan dengan perkawinan, saya pikir itu akan membuat Kerajaan stabil lagi" lanjut Lord Akimichi.

"hahaha..." Tsunade tertawa mengejek.

"Shizune, tulis ini!" perintahnya.

"Ya, Yang Mulia" ucapnya. Ia segera menyiapkan kertas perkamen dan pena untuk menuliskan perintah tersebut.

"Bibir yang bocor, menenggelamkan kapal" ucap Tsunade.

"Benar, Yang Mulia. Kapal mana yang ingin anda tenggelamkan?" Sahut Shizune.

Tsunade memutar bola matanya, mencibir. "itu hanya kiasan, Shizune. Peraturan Kerajaan, tulislah" ujar Tsunade lagi.

"Siapapun orang yang sibuk bergosip, bergunjing, berbisik-bisik, atau bahkan... berpikir... akan dihukum" ujar Tsunade mengakhiri peraturan Kerajaan yang baru saja ia buat.

Shizune menuliskan itu semua dengan tergesa-gesa dan sedikit kebingungan. Tapi ia menurut saja.

"Bagaimana pendapatmu?" tanya Tsunade.

"Sangat tegas, Yang Mulia" jawab Shizune.

Tsunade mengibaskan tangannya, pertanda menyuruh Shizune segera pergi mengumumkan peraturan itu. Shizune segera mengerti, kemudian pamit dan bergegas keluar dari ruangan itu.

Sakura mengendap-endap, masuk kedalam ruang pesta. Ia ingin melihat pesta apa gerangan yang tengah Tsunade helat. Namun, Tsunade menghela napas sebal melihat keberadaan Sakura dari ekor matanya.

"Sakura. Apa ada kebakaran?" Tanya Tsunade menyindir.

"Maaf?" Sakura menatap Tsunade bingung. Tampaknya ia heran dengan pertanyaan Tsunade.

Tsunade menepuk singgasananya, meminta Sakura mendekat.

"Apa kamarmu kebakaran?" tanyanya sekali lagi, masih menyindir.

"Aku mencoba mencari penjelasan, kenapa kau meninggalkan kamarmu. Aku pikir pasti karena kamarmu kebakaran" lanjutnya.

"Aku pikir aku bisa menghadiri pestanya. Kau tau... Karena hari ini ulang tahunku yang ke-18" jawab Sakura dengan wajah berbinar.

"Ya Tuhan... Hari ini kah?" tanya Tsunade sambil memegang tangan Sakura.

Kemudian Tsunade mencampakkan tangan Sakura dengan kasar. "E ke F3!" perintahnya pada bidak caturnya.

Lalu ia kembali berbicara pada Sakura. "Sakura, mungkin ini sudah waktunya aku melunak".

"Lagipula kau kan tidak membuat masalah apapun. Tapi..."

Tsunade melanjutkan perkataannya. "Ada sesuatu pada dirimu yang sangat... menyebalkan" ucapnya.

"Tapi apa ya?" Tsunade mengusap dagunya seolah berpikir.

Lalu Tsunade menatap tajam Sakura. "Aku tau. Sepertinya rambutmu. Aku sangat membenci rambutmu" Tsunade menarik rambut Sakura kasar.

Kemudian ia menarik dagu Sakura "aku tak peduli meskipun ini ulang tahunmu yang ke-100. Jangan pernah menyelinap ke pestaku lagi" ucapnya sembari melepas dagu Sakura kasar.

"Kau perlu tau kapan kau kalah, Sakura" lanjut Tsunade meremehkan. Maka saat itu juga Sakura keluar dari ruang pesta dengan menahan tangis.

"Saya tidak menyukai hutan ini Tuan" ucap Kakashi pada Naruto.

"Hutan ini terlihat sangat mncurigakan" lanjut Kakashi.

Naruto menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "ini hanya pohon, Kakashi. Hanya sekumpulan pohon-pohon kayu" ucapnya seolah mengejek Kakashi.

"Bukan pohonnya yang saya takutkan Tuan. Tapi saya pernah mendengar cerita seorang manusia pernah dimakan monster disini" Kakashi setengah bergidik ngeri.

Naruto tergelak mendengar ocehan Kakakshi. "Yang benar saja. Monster? Senang rasanya mengetahui teman seperjalananku masih percaya pada dongeng" ejek Naruto.

Kakashi hanya memutarkan bola matanya mendengar ejekan Naruto. "Jika anda tidak keberatan. Kapan kita pulang?" tanya Kakashi.

"Kita sudah berjalan selama 2 bulan. Setidaknya kita bisa beristirahat dahulu disuatu tempat". Ia mengingat kembali perjalan darat yang dilakukannya bersama Naruto. Mereka sudah melakukan ini selama 2 bulan dan belum ada tanda-tanda bahwa Naruto ingin mengakhiri perjalanan ini. Ia sudah lelah berkuda, ia ingin berleha-leha dikasur empuk dirumahnya sambil membaca buku 'Icha-icha tactics' kesukaannya. Aktivitas kesukaan saat sedang cuti.

"Kita sedang mencari petualangan, Kakashi. Bukannya berlibur" jawab Naruto tidak setuju.

Saat mereka tengah asyik memperdebatkan proses perjalanan mereka. Dibalik pepohonan yang rapat itu, terlihat berkelebat bayangan hitam nan tinggi. Naruto dan Kakashi yang merasakan keberadaan makhluk asing disekitar mereka mencoba untuk melihat ke sekeliling. Namun, mereka tidak melihat apapun.

Tiba-tiba saja...

HAAPP

Sesosok tinggi besar melompat didepan mereka dan membuat kuda yang mereka tumpangi ketakutan. Naruto dan Kakashi segera turun dari kuda mereka dan mengikat kuda mereka dipohon agar tidak kabur.

Naruto mencabut pedangnya menantang bandit itu. Sementara Kakashi sedikit ragu. "Tuan sepertinya ini bukan ide yang bagus. Apa tidak sebaiknya kita kabur saja?" bisik Kakashi.

"Apa kau bilang? Yang benar saja Kakashi. Kita justru harus memberi pelajaran pada bandit-bandit ini. Kau ingat, kita kesini untuk mencari petualangan. Jangan bilang kau takut?" omel Naruto setengah berbisik.

Kakashi yang merasa diejek oleh Naruto segera menghunuskan pedangnya kesal.

Bandit 1 menghunuskan pedangnya kearah Naruto sambil berteriak mengancam. "Keluarkan isi dompetmu!" perintahnya.

"Apa??" Naruto menaikkan alisnya memastikan yang baru saja didengarnya. Yang benar saja? Berani-beraninya mereka mereka mengancam Pangeran dari Uzumakigakure itu. Ia tak terkalahkan dalam keahlian pedang tak ada satupun dinegaranya yang berani menantang seorang Uzumaki Naruto.

"Aku bilang keluarkan isi dompetmu!" sahut Bandit 1 sekali lagi dengan kesal.

Tiba-tiba saja sudah berdiri 4 orang bandit disekelilingnya. Naruto melirik Kakashi sekilas. Dilihatnya Kakashi tengah melalui pertempuran dengan 3 bandit lainnya.

Seorang bandit dengan tiba-tiba menyerang Naruto. Naruto yang awas menangkis serangan itu dengan tangkas. Kemudian 3 bandit lainnya ikut menyerang Naruto secara bersamaan.

TRING... TANG...

Naruto menangkis 3 pedang bandit itu. Dilihatnya dari ekor matanya satu bandit lainnya melompat berputar lalu menyerang Naruto dari sisi kiri. Dengan secepat kilat Naruto menghindar dengan berputar dan mendorongkan pedang yang menahan serangan 3 bandit lain. Naruto sedikit lari menghindar melompat ke arah bebatuan.

TRING...

Ia menangkis serangan dari sebelah kanannya. Lalu ia mengayunkan pedangnya ke arah bandit itu. Namun, bandit itu dapat menghindar sehingga Naruto hanya sedikit menggores baju zirahnya. Bandit lain pun tidak tinggal diam. Salah satunya ada yang melompat lalu merebut pedang Naruto.

Naruto yang terkejut mengetahui pedangnya telah beralih tangan, mencoba untuk kabur. Namun, bandit itu lebih tangkas salah satunya menendang dada Naruto dan menyebabkan Naruto jatuh terlentang. Kemudian bandit itu menghunuskan pedang ke dada Naruto agar Naruto tidak bergerak.

BRUKK...

Kakashi terlempar tepat disebelah Naruto.

"Hahaha... lihat apa yang terjadi jika kalian tidak menuruti kami" ejek Bandit 1.

Naruto yang kesal menekel bandit itu tepat di bagian kakinya. Namun, kaki itu justru terlepas dan memperlihatkan ukuran tubuh yang mungil dari bandit tersebut. Naruto yang melihat itu melongo. Kemudian tertawa mengejek. Sementara Kakashi memperlihatkan wajah tak percaya dengan mulut yang menganga.

"Apa yang lucu?" tanya Bandit 2 kesal.

"Hahaha... kalian bukan raksasa. Ku pikir kalian raksasa tadi" ucapnya masih terpingkal.

"Maksudmu?" tanya Bandit 2 sekali lagi.

"Kalian tidak berharap aku akan melawan kan?" Naruto menepuk-nepuk salju dibadannya.

Jawaban Naruto itu nampaknya tak membuat tujuh kurcaci itu puas. Pasalnya wajah mereka menunjukkan hal yang sebaliknya. Mereka nampak geram dengan ucapan Naruto. Salah satu kurcaci itu menodongkan tongkat kayu pada Naruto. Namun, Naruto justru tersenyum mengejek dan meneps tongkat itu seolah meremehkan.

"Aku tak akan melawan sekumpulan kurcaci" ucapnya menahan tawa.

"memangnya kenapa?"tanya Bandit 1.

"Tentu saja karena kalian kecil" jawab Naruto.

"Kecil?" ucap Bandit 3 kesal.

"Mini" Naruto menambahkan.

Para bandit itu menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Mereka masih menahan diri untuk tidak meng-KO Naruto saat ini juga.

"Kerdil" tambah Kakashi mengompori.

"Terimakasih. Kerdil" Naruto mengangguk setuju dengan perkataan Kakashi.

"Kerdil? Hanya itu?" tanya Bandit 3 kesal.

Bandit 4 dan 5 justru berdebat dengan sebutan tersebut."Biasanya orang tidak menyebut kita kerdil" ucap Bandit 4.

"Tidak masalah. Bagiku kalian kecil dan itu lucu" ucap Naruto mengejek.

Bandit 6 yang sedari tadi diam ikut kesal mendengar perkataan Naruto. Ia menodongkan pedangnya didada Naruto. "Lucu? Tidak akan selucu itu bila pedangku ada dilehermu".

Bandit 1 menyingkirkan pedang itu mencoba menenangkan. "Sudahlah yang kita mau kan hanya emasnya".

Bandit 7 kemudian ikut bergabung sembari membawa sekantong emas milik Naruto. "Ini aku dapat emasnya".

Ia melempar emas itu dibelakang kerumunan teman-temannya.

Para bandit yang sedari tadi berkerumun disekeliling Naruto, berbalik mengerumuni kantong emas jarahan tersebut. Memastikan jumlah emas yang mereka jarah dari Naruto sepadan dengan usaha mereka.

Melihat hal itu Naruto kesal. Mereka jelas-jelas hanya kurcaci dan mencoba menjarah seorang pangeran ahli pedang sepertinya, tentu terlalu cepat 1000 tahun.

"HEY...ITUKAN BUKAN DOMPETMU" teriak Naruto kesal.

Para bandit tak memerdulikan teriakan Naruto. Mereka masih bergumam dan saling berbisik diantara mereka sendiri.

Naruto yang mendapat respon itu menjadi makin kesal. Ia berdiri lalu berteriak pada mereka. "Menyingkir dari dompetku".

"Biarkan saja mereka mendapatkan yang mereka inginkan, Tuan" ucap Kakashi khawatir.

Naruto melihat Kakashi dengan tatapan tak percaya. Bisa-bisanya Kakashi menyerahkan emas mereka pada bandit kurcaci ini. Naruto membuka mantelnya bersiap bertarung dengan para kurcaci. "Menyingkirlah! Seseorang harus memberikan pelajaran pada anak-anak ini" ucap Naruto pada Kakashi.

Para bandit seketika berhenti dari aktivitasnya. Mereka berbalik menghadap Naruto dengan wajah kesal. Setelah itu yang Naruto tau ia sudah tergantung terbalik dipohon. Tanpa baju dengan hanya menggunakan bokser. Begitu pula Kakashi. Ia dan Naruto diikat bersama pada sebuah pohon ek.

"Tidak ada yang perlu tau detailnya, Kakashi. Mengerti?" Naruto memecah keheningan diantara mereka berdua.

.

.

.

Author's Note :

Hai semuaa... sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis cerita disini. Maafkan saya karena merilis cerita baru padahal cerita yang lama belum juga selesai bertahun-tahun lamanya. Apa daya cerita ini terlalu menarik untuk tidak ditulis. Meskipun ini cerita yang saya adaptasi dari sebuah film. Namun, saya menceritakannya kembali dengan bahasa saya dan saya tambah dan kurangi beberapa bagian. Alur dan plot ceritanya masih sama hanya penyampaian dan interpretasinya saja yang saya sesuaikan. Saya mencoba membuat kalian menyelami film ini dari segi tulisan meskipun tentu belum sempurna. Oh iya... untuk yang belum pernah melihat film ini silahkan download dan tonton. Ceritanya sangat menarik dan segar. Belum lagi pemain sekelas Julia Robert dan Lily Collins yang aktingnya sangat ciamik. Para penggemar cerita komedi romansa pasti suka.

Saya akan merasa sangat berterimakasih pada para reader yang mau memberikan review baik berupa kritikan maupun saran yang membangun. Review itu akan membuat saya lebih semangat lagi dalam menulis. And the last please RnR