Chapter 2

WHO'S THE FAIREST OF THEM ALL

Disclaimer

All Character here is belongs to Masashi Kishimoto

Warning

Canon, Typo bertebaran, dan kekurangan-kekurangan lainnya.

Happy Reading

.

.

Sakura menuruni anak tangga menuju ke dapur istana. Ditengah lorong tangga ia melihat lonceng milik keluarga kerajaan. Ia melihat tulisan "Kamar Raja". Seketika ia merindukan kehadiran ayahnya. Lonceng itu sudah lama tek terpakai, terlihat dari tebalnya debu yang menutupinya. Rasa sesak merayapi dada Sakura seketika. Ia mengingat bagaimana ayahnya menghilang tanpa jejak dan tak pernah ditemukan. Bagaimana frustasi dan putus asanya ia menunggu pencarian ayahnya membawa berita gembira. Namun, tak setitikpun jejak ayahnya ditemukan. Sakura memilih melangkah lagi menuju dapur dibanding harus mengingat lebih lama kenangan pahit itu.

"KEJUTAAANN!!" teriak koki istana dan para asisten dapur.

"Selamat ulang tahun, Sakura..." ucap mereka berbarengan.

"Kalian ingat?" Sakura terharu dengan event kejutan dari juru masak istana itu.

"Tentu saja kami ingat. Ulang tahun ke-18 adalah ulang tahun paling penting" Koki istana melangkah maju memeluk Sakura. Ia meminta Sakura meniup lilin kue ulang tahun itu.

Ffuuhh...

Sakura meniup lilin kue itu setelah terlebih dulu "making a wish". Koki istana mengajak Sakura duduk dikursi dapur.

"Kau ingin tau apa yang saya inginkan di ulang tahunmu, Sakura?" ucap koki istana.

Sakura tergelak "kau tidak bisa membuat permintaan padaku. Kan ini ulang tahunku" candanya.

"Tahukah kamu kenapa aku rela tetap bekerja pada ratu jahat itu selama bertahun-tahun?" tanya koki istana.

"itu karena suatu saat nanti kau akan memimpin kerajaan ini. Dan aku ingin ada disana saat hal itu terjadi" lanjutnya.

Sakura menggeleng "ini bukan kerajaanku".

"Ya. Ayahmu ingin mewariskan tahtanya padamu. Tapi, wanita itu membuat semua orang percaya bahwa kau adalah gadis yang menyedihkan". Koki istana mengambil sebuah bingkisan dan memberikannya pada Sakura.

"Seolah-olah kau tak bisa meninggalkan istana. Dan buruknya lagi kau mempercayainya" ucap koki istana.

Sakura membuka bingkisan itu. Dilihatnya belati kesayangan ayahnya.

"itu belati kesayangan ayahmu" ucap koki istana.

"aku sudah membersihkan dan melapnya" lanjutnya.

Sakura mengamati belati itu. Ia ingat terakhir kali ia bertemu ayahnya. Belati itu diberikan padanya sebagai hadiah dan jaminan bahwa ayahnya akan kembali.

"tapi apa yang bisa aku lakukan dengan belati ini?" Sakura ragu untuk memiliki belati itu lagi. Ia merasa tak cukup kuat untuk melindungi yang ia sayangi. Ia merasa tak layak untuk memiliki belati itu.

Koki istana menggenggam lengan Sakura. "Mungkin kau harus melihat apa yang sesungguhnya terjadi pada kerajaan ini".

"Mengapa orang-orang tak lagi menari dan bernyanyi. Rakyatmu perlu tau siapa kamu sebenarnya. Dan kau perlu percaya".

.

.

Sakura mengendap-endap masuk kedalam kereta barang milik bangsawan yang tengah menghadiri pesta. Siang hari tepat setelah makan siang pesta yang diadakan oleh Ratu selesai. Biasanya para bangsawan akan langsung pulang kecuali mereka yang dipilih oleh Ratu untuk tinggal hingga petang. Dan tepat seperti dugaannya Lord Hiroshi pasti akan langsung pulang. Ia tak mungkin ditahan untuk tinggal oleh Ratu karena ia telah mengacaukan pesta itu meskipun hanya sedikit saja, paling tidak begitu persepsi sang ratu.

Kereta barang itu tertutup terpal sehingga Sakura tak akan terlihat meskipun ia mencoba menumpang. Sayup-sayup Sakura bisa mendengar teriakan komando ajudan Lord Hiroshi untuk berangkat. Rombongan Lord Hiroshi berjalan dengan kecepatan sedang. Setidaknya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke gerbang hutan. Dari situ ia berencana berjalan kaki menuju kota. Ia tak bisa menumpang kereta Lord Hiroshi hingga tujuan karena Lord Hiroshi bukan berasal dari Konoha. Otomatis dia tak akan menuju kekota.

Seperti perkiraannya 15 menit kemudian mereka telah sampai di gerbang hutan. Sakura kemudian melompat dari kereta barang dengan hati-hati agar tidak ketahuan. Dari situ dia berjalan kaki masuk ke dalam hutan. Ia berjalan... Dan terus berjalan...

Matanya awas mengamati sekitar belati digenggaman siap terhunus saat dibutuhkan. Tak seberapa lama, ia mendengar sayup-sayup suara manusia lainnya. Sakura mengendap-endap mendekati sumber suara. Suara itu makin jelas milik 2 orang laki-laki. Tampaknya pemilik suara tengah berdebat. Entah mendebatkan apa. Sakura mengintip dibalik semak-semak pohon ek. Dilihatnya dia orang pria tengah tergantung terbalik dengan kondisi setengah telanjang?

Ia tak percaya yang dilihatnya. Bagaimana bisa orang-orang ini berada dalam kondisi yang memalukan begini. Ia menahan tawanya kuat-kuat. Tapi sepertinya pemandangan didepannya membuat Sakura tak kuasa menahan tawa. Ia terbahak-bahak hingga terdengar jelas oleh kedua manusia mengenaskan itu.

"Siapa disitu??" Tanya pria berambut kuning. Tali yang mengikat keduanya ikut berputar seiring pergerakan si rambut kuning.

Sakura yang tengah tertawa keluar dari persembunyiannya dengan berlinang airmata akibat tertawa terbahak-bahak. Ia masih tertawa kecil bahkan saat menampakkan diri.

"apa yang kalian lakukan hingga tergantung begitu?" Sakura nyengir melihat muka masam Naruto.

"Kami habis dirampok nona" jawab Kakashi.

"iya. Kami dirampok oleh bandit keji" ucap Naruto menambahkan.

Sakura menaikkan sebelah alisnya heran. "Bandit?" Setahunya hutan ini cukup aman. Karena Shizune sering sekali bolak-balik istana-kota untuk mengambil uang pajak rakyat.

"Kami kalah jumlah" Naruto masih menampakkan wajah masamnya mengingat penyergapan itu.

"Nona, maukah kau menolong aku dan pangeran- AKKK" Kakashi tak sempat menyelesaikan ucapannya karena Naruto keburu membenturkan kepalanya ke kepala Kakashi memberi kode untuk tidak memberitahu Sakura identitasnya.

"Teman... Hanya teman. Kami ini orang biasa" sela Naruto.

"Aku perintahkan kau untuk-"

"Perintah?" Sakura menyela Naruto. Ia tak percaya orang didepannya ini memerintahnya bukannya meminta tolong.

"Jika kau menolak, akan ada konsekuensinya" tegas Naruto. Ia belum sadar kondisinya saat ini tak pantas untuk memerintah Sakura.

"Yang benar saja. Kalau begitu selamat menunggu orang lewat lainnya" ucap Sakura kesal. Sebelum membalikkan badan ia menambahkan "Setahuku disini cukup jarang orang lewat. Mungkin kau akan bertemu orang esok pagi. Itupun kalau mereka tidak kesal dengan ucapanmu" ucapnya mengejek.

Tepat saat Sakura hendak membalikkan badan Naruto berteriak "Tu...tu... TUNGGU!! Oke. Maafkan ucapanku tadi. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu" Naruto terbata-bata. Bisa mati ia jika harus terikat terbalik begini seharian. Karena itu, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan pertolongan dari Sakura begitu saja.

Sakura berbalik kembali. Bibirnya tersenyum mengejek. " katakan tolong" ucap Sakura singkat.

"APA??" Naruto terbelalak tak percaya. Ia menghela napas mengetahui pertolongan Sakura membutuhkan syarat yang cukup banyak.

Sakura hanya memutarkan bola matanya bosan. "Cepat katakan atau kau mau ku tinggal pergi?" ancam Sakura.

"benar tuan. Saya rasa mengingat situasinya lebih baik berkata tolong " bisik Kakashi.

Naruto melotot pada Kakashi yang seenaknya menyuruh-nyuruhnya.

"Baiklah... dimana pula sopan santunku? Tolong Nona"

"Nah... begitu dong" Sakura segera melangkah menuju simpul gantungan itu. Dengan belatinya ia menyabet tali itu hingga terputus.

"Jangan... jangan... tung-"

Melihat itu Naruto dan Kakashi panik. Pasalnya mereka akan langsung terjatuh dengan kondisi kepala membentur tanah jika tali diputus sekaligus. Tapi terlambat...

BRUKK...

Badan mereka menghempas tanah. Untung saja sepersekian detik sebelum jatuh mereka berancang-ancang menekuk punggung mereka sehingga kepala mereka selamat dari benturan.

Sakura yang melihat mereka jatuh terkesiap. "Apa kalian baik-baik saja? Ada yang bisa aku bantu?" tanyanya mencoba menolong.

Kakashi yang berhasil berdiri lebih dahulu meminta tolong pada Sakura untuk memotong ikatan tali di tangannya. Setelah memotong tali ditangan Kakashi, Sakura bermaksud menolong Naruto. Namun...

HUP...

Wajah Sakura menabrak dada telanjang Naruto yang bidang. Sakura terkesiap dan seketika pipinya memerah malu. Sementara Naruto memalingkan wajahnya malu. "Aaa... apa kau butuh dibantu dengan... tali itu?" Sakura tergagap melihat Naruto dihadapannya. Baru disadari oleh Sakura bahwa laki-laki didepannya itu sangat tampan. Bagaimana tidak? Mata birunya yang sebiru lautan bisa membuatnya tenggelam kedalamnya. Belum lagi rambut kuning pirangnya yang berantakan justru membuat si empunya terlihat sexy dan kulit tan itu benar-benar perpaduan yang sempurna.

Untuk beberapa saat mereka bertatapan tenggelam mengagumi makhluk indah dihadapannya. "Ah... i... iya. Terimakasih" Naruto mengulurkan tangannya yang terikat pada Sakura.

"Maaf. Karena kita harus bertemu dalam kondisi seperti ini" ucap Naruto saat Sakura memotong tali ditangannya. "Kami menuju utara? Kau sendiri hendak ke arah mana?" tanya Naruto canggung.

"Aku hendak ke selatan" jawab Sakura.

"Ah... sayang sekali"

"Iya. Memang" malu-malu Sakura menatap mata Naruto itu lagi. Entah kenapa ia senang berlama-lama mengarungi lautan disana.

Untuk beberapa saat mereka berdua hanya saling menatap dan tersenyum. Hingga Kakashi berdehem menyadarkan mereka berdua.

"Sepertinya kami harus pergi" Naruto pamit kepada Sakura. "Dan sekali lagi terimakasih".

Setelah saling melempar senyum kembali mereka beranjak pergi. Baru beberapa meter Naruto melangkah ia berbalik melihat Sakura. Dan dilihatnya Sakura juga berbalik melihatnya.

Sakura segera berbalik dan melangkah cepat meninggalkan tempat itu begitu matanya bersinggungan dengan mata Naruto kembali.'Fokus pada tujuanmu, Sakura' batinnya.

.

.

Shizune dengan terburu-buru membuka kamar Ratu. "Anda kedatangan tamu Yang Mulia" ucapnya.

"Aku sedang tidak ingin, Shizune" raut wajah Tsunade tampak masam.

"Tapi dia muda dan tampan, Yang Mulia"

"Dan juga setengah telanjang..." lanjut Shizune.

Mendengar kata "muda dan tampan" seketika Tsunade tertarik. Maka demi melihat tamunya Tsunade beranjak dari kamarnya menuju ruang tahta. Disana telah berdiri dua orang laki-laki setengah telanjang yang entah asalnya dari mana.

"Saya perkenalkan kepada anda, Yang Mulia. Pangeran Naruto dari Uzumakigakure" Kakashi memperkenalkan tuannya.

Naruto membungkuk pada Sang Ratu. "Yang Mulia. Alasan kondisiku saat ini tak lain karena aku dan teman seperjalananku ini dirampok oleh bandit dihutan saat menuju kesini".

Tsunade menaikkan sebelah alisnya heran. "Bandit? Mengerikan".

"Bandit benar-benar mengerikan. Hmm... wajahnya tampan dan badannya indah sekali" ucap Tsunade setengah berbisik.

"Apa?" ucap Naruto dan Shizune bersamaan. Memastikan yang didengarnya barusan benar.

"Apa?" Tsunade membalas gelagapan.

"Tidak ada" balas Shizune.

Naruto merinding seketika mengetahui tatapan Ratu dihadapannya sangat aneh. Lebih tepatnya terlihat seperti err... lapar? Dia mulai mencoba menutupi badan bagian atasnya dengan menyilangkan lengannya didepan.

"Mungkin kami bisa meminta penutup. Seperti baju?" Tatapan Naruto memelas meminta kepada Sang Ratu.

"Jika memang harus..." Tsunade tampaknya mulai salah fokus menangani pria tampan didepannya. "Shizune..."

"Yang Mulia" balas Shizune.

"Pangeran Naruto tampaknya malu. Dan membutuhkan... sayangnya... penutup" Tsunade melirik Naruto dengan tersenyum canggung.

"Baiklah, Yang Mulia"

"Tuan? Apa ada gaya tertentu yang anda-"

"Shizune. Baju biasa saja." Tsunade memotong pembicaraan Shizune.

"Tentu. Baju biasa saja" Shizune segera pamit mengambil baju bagi dua tamu Ratu itu. Sementara Tsunade mulai melanjutkan pembicaraan dengan tamunya yang terputus akibat fokusnya yang teralihkan tadi.

"Kau bilang Uzumakigakure? Aku belum pernah mendengarnya. Apa itu sebuah pedesaan?" tanya Tsunade.

"Bukan, itu sebuah negara, Yang Mulia. Sebuah negara yang indah. Kami punya beragam sumber daya. Emas, perak dan perdagangan sutera" jelas Naruto.

Tsunade menatap Naruto tertarik. "Begitukah?".

.

.

"Sebarkan undangan. Beritahu petugas dapur. Aku ingin kamu menyiapkan pesta yang tidak pernah dilihat kerajaan ini sebelumnya" Tsunade memberi perintah kepada Shizune sembari membuka pintu kamarnya. "Aku ingin membuat mereka terpesona" lanjutnya.

Shizune tampak kebingungan dengan perintah Tsunade. "Maaf Yang Mulia. Tapi... saya tidak mengerti".

Tsunade memutar bola matanya bosan. "Pangeran itu kaya, Shizune. Dan badannya kekar. Aku harus menikahinya. Dan masalah keuanganku akan puff... hilang" paparnya.

"Saya mengerti bagian itu, Yang Mulia. Yang saya tidak mengerti bagaimana anda akan mendanai pesta itu?" tanya Shizune. Ia menghela napas pelan "Maafkan saya, Yang Mulia. Tapi anda... bangkrut" ucapnya dengan nada prihatin.

Tsunade menatap Shizune kesal. "Kalau begitu pungut pajak lagi" ucapnya singkat.

Shizune tertawa miris mendengar perintah Tsunade. "Maaf, Yang Mulia. Aku tidak tahu kapan terakhir kali anda kekota. Tapi rakyat sedang kelaparan".

"Apa orang-orang itu tidak punya imajinasi?" tanya Tsunade setengah melotot. "Katakan saja pada mereka kalau roti itu daging. Sayuran itu lebih menyehatkan bla bla bla...".

"Orang biasa kan suka memakai kiasan. Lakukan saja!" jawabnya enteng.

Mendengar itu Shizune segera putar otak. Entah sudah berapa kali ia memungut pajak bulan ini. Jika alasannya tidak diterima warga kota bisa-bisa ia pulang dengan tangan hampa. Dan jangan tanya Ratu Tsunade akan naik pitam kepadanya. Hal paling buruk ia bisa berakhir ditiang gantung. Maka, Shizune segera pamit pergi dari kamar Ratu.

.

.

.

Author's Note :

Hai semuaa... bagaimana chapter 1 nya? Apakah menarik? Terimakasih untuk semua reviewnya. Review dari kalian sangat berarti bagi saya. Semoga chapter kali ini gak kalah menghibur yaa...

Saya akan merasa sangat berterimakasih pada para reader yang mau memberikan review baik berupa kritikan maupun saran yang membangun. Review itu akan membuat saya lebih semangat lagi dalam menulis. And the last please RnR

Salam Hangat

Glad