CHAPTER 3
WHO'S THE FAIREST OF THEM ALL
Disclaimer
All Character here is belongs to Masashi Kishimoto
Warning
Canon, Typo bertebaran, dan kekurangan-kekurangan lainnya.
Happy Reading
.
.
Sakura terbelalak melihat kondisi kota Konoha. Kota ini tidak seperti kota yang ia kenal. Konoha yang ia kenal angat semarak dengan nyanyian dan tarian. Konoha yang ia kenal penuh dengan orang-orang yang bersuka cita setiap harinya. Tak pernah ia melihat anak-anak yang kurus akibat kelaparan. Tak pernah ia melihat ibu-ibu yang berebut makanan sisa agar malam hari ini mereka tak perlu merasa kelaparan lagi. Tanpa sadar air matanya menetes. ia hendak memberikan roti yang dibawanya pada salah satu anak kecil disudut jalan ketika rombongan istana muncul memasuki pusat kota. Ia segera bersembunyi dibalik tembok kantor wali kota.
Shizune turun kereta kerajaan. Ia terburu-buru menuju papan pengumuman kemudian memaku selembar pengumuman kerajaan.
"Pajak lagi?" tanya Iruka, wali kota Konoha, keheranan. Pasalnya baru minggu lalu kerajaan menarik pajak yang jumlahnya juga tidak sedikit.
"Baguslah kalau kau bisa membaca" ucap Shizune sinis.
"Pastikan itu sudah kembali saat aku kembali" lanjut Shizune.
Seorang wanita tua merangsek kedepan kerumunan. Dengan suara lantang dan wajah kesal ia bertanya. "Apa yang kalian lakukan dengan uang-uang kami?"
"Melindungi kalian"
"Dari apa?" tanya Si Wanita Tua lagi.
"Apa aku harus mengingatkan kalian tentang serangan brutal yang kalian alami?" ucap Shizune tegas.
"Monster!!" Teriak Shizube lantang.
Para warga kota seketika terhenyak. Mereka mundur selangkah ketakutan.
"Ya, kejahatan tinggal didalam hutan gelap" ujar Shizune memberi peringatan.
"Lebih menyeramkan dari apa yang kalina bayangkan" Shizune menakut-nakuti mereka.
"Alasan mengapa dia tidak menampakkan diri dihadapan kalian..."
"itu karena pajak kalian" Shizune mengetuk papan pengumuman berisi pengumuman kenaikan pajak itu. Shizune segera turun dari pijakan papan pengumuman lalu ia berbalik menghadap wali kota.
"Aku akan kembali besok" ucapnya singkat. Kemudian Shizune melenggang pergi bersama rombongan kerajaan.
Sementara itu...
Sakura yang melihat semuanya dibalik tempat persembunyiannya merasa geram. Ia tau kemana semua uang pajak rakyat selama ini. Ia akhirnya tau bagaimana teganya Ratu memungut pajak tinggi sementara rakyatnya menderita kelaparan dan kemiskinan. Maka dengan segera Sakura pergi meninggalkan pusat kota, kembali menuju kerajaan. Ia akan menceritakan semuanya pada koki istana.
.
.
Naruto berjalan menuju pintu utama istana bersama Kakashi. Kali ini ia telah menggunakan baju lengkap. "Kembalilah kekerajaan kita secepatnya dan bawalah pasukan juga" perintah Naruto pada Kakashi.
"Baik, Tuan"
"Ah... bawa juga pakaian, emas, dan pasukan" tambah Naruto.
"Pakaian?" tanya Kakashi.
"Kenapa? Anda tidak suka dengan selera Ratu akan pakaian pria?" ejek Kakashi.
Naruto mengernyit dahinya kesal. "Tidakkah kau mendengarkanku?"
"Ya. Pasukan, emas, dan pakaian"
"Ya. Bagus"
"Hanya jika anda berkata tolong" ucap Kakashi dengan pongah.
Naruto tampak siap melempar sepatu kemuka Kakashi kapan saja mendengar ucapan itu. Tapi, ia menahan diri mengingat ia butuh Kakashi kali ini. Maka Naruto menepuk lengan Kakashi "tolong, Kakashi" katanya.
Kakashi hendak melangkah keluar istana ketika ia berbalik lagi pada Naruto. "Ikutlah bersama saya, Tuan. Ratu ini sepertinya gila" ucap kakashi mencoba meyakinkan.
Mendengar itu naruto hanya mengangkat kedua alisnya. "Semua wanita selalu tergila-gila pada pangeran" ucapnya sombong.
"Saya tahu ada wanita yang gila seperti itu. Tapi ratu ini tipe gila yang pandai, kuno, jelas, tradisional, dan psiko"
Naruto hanya memutar bola bosan. "Selamat jalan, Kakashi"
"Saat kau kembali berdoalah kau masih menggunakan celanamu" tambah Naruto.
Kakashi kemudian berjalan keluar istana. "Saya mendoakan hal yang sama untuk anda, Tuan. Sampai jumpa" teriaknya.
.
.
Sakura berlarian menuju dapur istana. Ia melewati pintu samping istana agar tak ketahuan. Segera saat sampai didapur istana. Ia memanggil-manggil koki istana. "Koki Ayame... Koki Ayame..."
"Lebih buruk dari yang aku bayangkan" Sakura berlari memeluk Ayame. Matanya sudah siap menumpahkan air mata kapanpun saat ini.
"Anda melihat kotanya?" tanya Ayame sembari membalas pelukan Sakura.
"Iya, dan itu buruk sekali" ucap Sakura sesenggukan.
"Aku... hiks... melihat banyak rakyat kelaparan... anak-anak yang kurus kering. Ibu-ibu... hiks mengambil makanan daritempat sampah... hiks" Sakura menumpahkan semua kesedihannya pada Ayame.
"Ratu telah merusak semua yang ayahku percayai" ucap Sakura berlinang air mata. "Dia mengambil lebih dari yang rakyat punya"
"Ya dan ia gunakan untk mengadakan pesta-pesta itu" ucap Ayame.
"Dan sekarang ia akan mengadakan satu pesta lagi untuk menyambut seorang pangeran" tambah Ayame.
"Ada pangeran disini?" tanya Sakura heran sembari melepas pelukannya.
"Iya. Sakura..." Ayame menghapus air mata Sakura dengan kedua ibu jarinya. "Beliau bilang beliau punya pasukan"
Seketika Sakura mendapatkan ide untuk menghentikan penderitaan rakyatnya dan menggulingkan Ratu. "Mungkin ia bisa membantu kita" Sakura kini mendapatkan secercah harapan bahwa ia bisa melawan dna ia tak selemah yang selama ini selalu didoktrinkan padanya.
"Mungkin jika ia benar-benar memiliki pasukan. Ia bisa membantu kita menyelamatkan kerajaan ini" ucap Sakura.
Ayame mengangguk setuju dengan ide Sakura. "Oh... seseorang akan mendapatkan hari yang besar. Dan anda akan mendapat yang lebih besar dari itu" ucap Ayame meyakinkan.
.
.
Tsunade terlihat berkaca didepan cermin kamarnya. Ia mengenakan jubah mandi mewah dan menggelung rambutnya dengan handuk. Disaat seperti ini biasanya Tsunade akan melakukan perawatan ala Ratu, yang selalu dilakukannya saat hari spesial.
"Anda tampak menawan, Yang Mulia" ucap Shizune.
"Menawan? Aku bahkan belum mulai bersiap-siap, Shizune" sahut Tunade acuh.
"Saya tak bisa membayangkan jika-" belum selesai Shizune memuji Tsunade kata-katanya telah dipotong dengan pedas oleh Tsunade.
"Diam, Shizune" potongnya.
"Baik, Yang Mulia"
Pintu ruang perawatan terbuka dan menampakkan Ayame dan kedua pelayan istana yang tengah bersiap-siap melakukan perawatan pada Sang Ratu. "Perawatan sudah siap" ucap Ayame.
Shizune terhenyak keheranan mendengar kata 'perawatan'. Pasalnya perawatan hanya akan dilakukan Ratu apabila Ratu hendak menghadiri acara kenegaraan.
"Perawatan, Yang Mulia? Bukankah itu terlalu berlebihan?" tanya Shizune.
"Tidak" jawab Tsunade singkat seraya memasuki ruang perawatan.
Pintu ruang perawatan tertutup...
Didalam telah terjejer rapih rangkaian bahan dan alat perawatan Ratu. Pertama, Ayame mengambil kotoran burung. Kotoran burung yang digunakan bukanlah burung sembarangan. Melainkan burung bulbul yang diberi makan biji-bijian organik. Setelah kotoran tersebut terkumpul, Ayame mulai mengoleskannya ke wajah Ratu sebagai masker.
"Cobalah untuk tidak menikmatinya" Tsunade berucap datar. Ia tahu pelayannya ini pasti senang mengoleskan kotoran diwajahnya meskipun kotoran itu sebenarnya bermanfaat untuk kecantikan. Kotoran tetaplah kotoran bagi orang awam seperti Ayame.
Ayame menahan tawanya dengan kuat agar ia tak kena omel Ratu. "Aku akan mencoba sebaik mungkin" ucapnya.
Ayame melanjutkan dengan meletakkan potongan buah naga dibagian mata Tsunade yang tak tertutup masker. Lalu, ia membungkus jari-jari kaki Tsunade dengan kulit rambutan sedangkan jari-jari tangan Tsunade dimasukkan kedalam akuarium berisi ikan Garra rufa. Untuk menampilakn bibir yang penuh dan sexy bibir Tsunade diberi sengatan lebah. Selanjutnya, sekujur badan Tsunade di siram dengan ramuan berbahan susu sebagai penutup prosesi perawatan.
.
.
Malam perhelatan pesta pun tiba. Para bangsawan diseluruh penjuru negri mulai berdatangan. Pesta kali ini mengangkat tema kostum hewan dengan warna pakaian putih. Maka, para bangsawan Konoha pun berdatangan dengan pakaian pesta yang unik ada yang mengenakan gaun elegan dengan penutup kepala kambing, rusa, hingga kostum kuda nil. Para bangsawan itu berusaha untuk mengenakan pakaian yang paling 'Wah' dan paling unik. Mereka ingin menarik perhatian Ratu sehingga mereka bisa masuk kedalam lingkaran pertemanan Sang Ratu. Selain dianggap prestisius, menjalin pertemanan dekat dengan Ratu memiliki banyak keuntungan lain. Salah satunya, mengurangi pajak dan mudah mendapatkan kolega bisnis.
Diantara sekian banyak tamu undangan. Sakura terlihat sangat anggun dengan ball dress putih bertema angsa. Tak heran, mengingat Sakura adalah salah satu wanita tercantik diseluruh Konoha. Ia terpana melihat kemegahan pesta itu. Belum pernah sebelumnya ia menghadiri pesta. Karena Ratu tak memperbolehkannya. Ia selalu terkurung dikamarnya saat Ratu menghelat pesta. Meski begitu ia yakin pesta ini adalah salah satu pesta termegah yang Ratu helat sejauh ini.
Shizune masuk keruang pesta bersama Tsunade. Mereka langsung menuju singgasana Ratu. Seperti pada umumnya pesta Ratu. Maka, pesta kali ini pun dibuka dengan meneriakkan nama Ratu sebagai penanda pesta akan dimulai dan untuk memusatkan perhatian khalayak pada Ratu yang kemudian dilanjutkan dengan memberi hormat.
"YANG MULIA RATU TSUNADE!" Shizune meneriakkan nama Sang Ratu dengan lantang.
Maka seluruh tamu undangan memusatkan perhatiannya pada Sang Ratu serta memberi hormat. Termasuk Sakura yang kini tengah bersembunyi didalam kerumunan. Selanjutnya giliran Pangeran Naruto untuk memasuki ruang dansa. Maka, Shizune meneriakkan namanya dengan lantang.
"YANG MULIA PANGERAN UZUMAKIGAKURE. PANGERAN NARUTO!"
Naruto berdiri dihadapan ratu memberi salam. Tangannya menggandeng Ratu untuk berdansa.
"Menurut dongeng pangeran kelinci mahir dalam mengatasi kecanggungan" Tsunade memberi komentar atas kostum kelinci yang tengah dipakai Naruto.
Naruto yang kini berdiri dihadapan Tsunade hanya tersenyum simpul. "Atau anda lebih suka para tamu merasa kurang nyaman?"
Tsunade terkesan dengan jawaban Naruto yang terkesan ceplas-ceplos namun cerdas. "Begitu tampan dan cerdas. Sangat membingungkan" Tsunade mencoba menggoda Naruto. Kemudian ia berputar membelakangi Naruto sebagai gerakan pembuka dansa yang diikuti oleh Naruto dan seluruh tamu beserta pasangannya masing-masing.
Belum juga Naruto memulai berdansa dengan Sang Ratu, Lord Akimichi terlebih dahulu menggeser posisi Naruto. "Bergantian" ucap Lord Akimichi menyuruh Naruto pindah. Naruto segera berpindah mencari tamu wanita yang tidak berpasangan. Kemudian ia melihat seorang wanita dengan kostum angsa yang tak memiliki pasangan diantara para tamu. Maka Naruto segera memposisikan diri dibelakang wanita tersebut.
Musik mulai diputar. Seluruh peserta dansa mulai berbalik menghadap pasangannya masing-masing. Dan betapa terkejutnya Naruto saat melihat wanita dihadapannya tak lain dan tak bukan adalah gadis cantik yang menolongnya dihutan tempo hari.
"Kau?" ucap Naruto dan Sakura bersamaan.
.
.
Author Note :
Saya akan merasa sangat berterimakasih pada para reader yang mau memberikan review baik berupa kritikan maupun saran yang membangun. Review itu akan membuat saya lebih semangat lagi dalam menulis
Salam Hangat
Glad
