FILIA

Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.

Story By : Yana Kim

Lenght : Chaptered

Rate : M

WARNING!

.

Uchiha Sasuke x Yamanaka Ino

SUM:

Persahabatan lima anak manusia dengan motto 'tidak boleh ada cinta dalam persahabatan'. Naruto, Sakura dan Shikamaru telah menikah dengan pasangan masing-masing. Tinggallah Sasuke, si pengusaha kaya tapi playboy dan Ino si desainer cantik yang mudah jatuh cinta, mudah juga patah hati.

.

.

.

Dua

.

.

.

Seharusnya Ino sudah bisa melupakan patah hatinya akibat Sai, tapi sayangnya tidak semudah itu. Berita tentang hancurnya karir Sai di dunia hiburan akibat ulah sahabat-sahabatnya tidak membuat rasa sakit di hati Ino hilang atau setidaknya berkurang. Shikamaru dengan kemampuan hackernya membuat berita yang luar biasa hingga membuat khalayak ramai membenci Sai. Usaha management pria itu untuk menghapus semua berita itu tidak berhasil karena Shikamaru memproteksinya. Sasuke dengan hubungan koleganya didunia bisnis meminta para investor dibidang seni untuk tidak menjalin kerjasama dengan management Sai selama pria itu masih bernaung disana. Naruto? Sebenarnya Sasuke tidak meminta bantuan apapun dari Naruto karena apa yang dia dan Shikamaru lakukan sudah cukup. Tapi sebagai orang yang paling tidak bisa menahan emosi dan perasaannya, Naruto mendatangi Sai dan menghadiahi lelaki itu dengan bogem bertubi-tubi hingga wajah tampan yang menjadi aset Sai dalam dunia hiburan babak belur dan butuh waktu untuk penyembuhannya.

Ino bersyukur karena mempunyai orang-orang yang peduli padanya dengan luar biasa. Setengah jam yang lalu, Sakura pulang dari apartmen Ino setelah menginap dan melakukan sesi curhat antar wanita. Wanita musim semi itu rela meninggalkan anak dan suaminya untuk datang dan menemani Ino sepanjang malam. Kalau Ino tidak memintanya pulang, mungkin Sakura masih akan tetap berada disana. Ino memang butuh teman, tapi ia mengerti bahwa Sakura punya tanggung jawab sebagai istri dan ibu.

Ino sedang berendam di bathtub sambil mendengarkan alunan musik yang terdengar dari kamarnya. Busa yang memenuhi bathtub menutupi tubuh Ino yang berbaring rileks sambil menutup matanya. Sudah dua puluh menit ia berendam disana mencoba mencari ketenangan. Ia mencoba menjauhkan segala pikiran-pikiran tentang Sai yang selalu muncul dibenaknya. Hal yang membuat ia merasakan sakit hanya karena memikirkannya.

"Kau tidak mencoba bunuh diri kan?" Ino membuka matanya. Sosok Uchiha Sasuke berdiri di pintu kamar mandi yang memang tidak ditutup olehnya.

"Apa kau berpikir aku akan bunuh diri hanya karena laki-laki itu?" Ino balik bertanya.

"Ada apa?" tanya Ino lagi. Sasuke melipat tangannya di dada. Pria itu masih mengenakan pakaian kerjanya. Hanya saja tidak lagi mengenakan jas. Dasinya juga sudah dilonggarkan.

"Hanya memastikan kau baik-baik saja. Kau tahu, banyak kejadian bunuh diri di bathtub. Apalagi wanita yang baru patah hati." Sasuke mendekat. Ia mendudukkan dirinya di lantai kamar mandi yang kering, sambil bersandar pada bathtub tempat Ino berendam hingga posisinya membelakangi wanita itu. Ia menekuk kedua kakinya dan menyandarkan lengannya pada lutut.

"Aku tidak tahu orang sepertimu menonton opera sabun seperti itu. Sakura menyuruhmu kemari?" tanya Ino.

"Kenapa kau berpikir bahwa Sakura memintaku kemari?"

"Karena tadi aku meminta Sakura untuk pulang. Mungkin dia merasa aku masih butuh ditemani lalu dia memintamu datang." Ino bangkit, keluar dari bathtub dan berjalan menuju bilik shower. Ia keluar tak lama kemudian dengan mengenakan jubah mandinya. Sasuke sudah tidak ada disana. Ino keluar dari sana dan mendapati Sasuke berbaring telungkup di ranjangnya.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya Sasuke. Suaranya teredam karena posisinya yang telungkup.

"Maksudmu setelah kejadian tiga hari lalu?"

"Hn," sahut Sasuke.

"Aku baik-baik saja. Ini bukan terjadi sekali dua kali kan?"

"Tapi baru kali ini laki-lakinya sangat brengsek sampai kami harus turun tangan kan?"

"Ya, begitulah. Tapi aku baik-baik saja, percayalah." Ino tersenyum meyakinkan.

"Baguslah kalau begitu." Sasuke menghela nafas panjang.

"Sepertinya yang tidak baik-baik saja itu kau sendiri. Ada apa?" tanya Ino. Sasuke menunduk. Tangan kanannya naik mengacak rambut ravennya.

"Kakek Madara baru saja meninggal."

"APA? Lalu apa yang kau lakukan disini?! Bukannya kau harus pergi ke Osaka sekarang?! Aku akan menelepon anak-anak. Kita berangkat sekarang."

"Astaga, suaramu. Tidak perlu kesana, jenazah kakek akan dibawa kemari." Sasuke berujar pelan. Ino yang sebelumnya akan bergegas ke dressing room miliknya berhenti.

"Benarkah?" tanya wanita itu. Sasuke tidak menjawab. Pria itu bangkit dari posisi tidurnya setelah menghela nafas.

"Aku mau minum." Sasuke menuju pintu. Namun dua langkah lagi jaraknya dengan pintu, langkah pria itu terhenti karena Ino berdiri didepannya dan menghalangi jalannya.

Ino tahu bagaimana perasaan Sasuke. Dibandingkan dengan orang tuanya sendiri, Sasuke lebih dekat dengan sang kakek. Saat orang tuanya sibuk bekerja dan berpindah-pindah mengikuti perkembangan Uchiha Company, sejak kecil Sasuke dan kakaknya Itachi tinggal bersama dengan Uchiha Madara. Sasuke pasti sangat terpukul dengan berita kematian kakeknya itu. Kedua tangan Ino naik membentang. Wajahnya menunjukkan senyum penuh pengertian dan simpati.

"Kemarilah, aku akan memelukmu."

"Ha?"

"Siapapun tahu kau yang paling terpukul atas kematian kakek Madara."

"Tidak, terimakasih."

"Kenapa?"

"Siapapun tahu kau sedang tidak mengenakan bra saat ini. Aku tidak mau memelukmu."

Ino secara otomatis menyilangkan tangannya di dadanya. Sasuke menggeser Ino dengan mendorong pelan bahu wanita itu, kemudian keluar dari kamar Ino yang melongo ditempatnya.

"Brengsek! Kau masih memikirkan hal mesum saat berduka seperti ini!?"

.

.

.

Acara pemakaman berjalan dengan lancar. Hujan lebat turun tepat setelah pemakaman selesai. Para pelayat sudah pulang semuanya. Tinggalah keluarga besar Uchiha dari berbagai daerah dan negara yang masih berada di rumah keluarga Sasuke. Sasuke dan empat sahabat yang duduk lesehan di teras belakang sambil meminum kopi yang dibuatkan oleh pelayan keluarga Uchiha. Mereka berusaha menghibur Sasuke yang paling terpukul atas kematian sang kakek.

"Naruto-kun. Hujannya sudah reda." Hinata muncul dari arah dapur bersama dengan Temari. Naruto dan Shikamaru pun bangkit untuk pulang.

"Kami pulang dulu, Sasuke."

"Hn. Terimakasih sudah datang. Terimakasih, Hinata, Temari-san."

Sepeninggal mereka, tak lama kemudian Gaara datang menjemput Sakura. Berbincang sebentar dengan Sasuke, Gaara dan Sakura kemudian pulang. Tinggalah Ino sendiri disana. Karena waktu juga sudah beranjak malam, Ino memilih untuk pulang.

"Sasuke, aku pulang dulu. Jangan bersedih lagi ya." Ino mengusap pelan bahu Sasuke.

"Hn. Terimakasih, Ino." Mereka berpisah di tangga dekat dapur. Sasuke naik ke kamarnya sementara Ino melangkah menuju pintu keluar. Di tengah jalan, Ino berpapasan dengan Uchiha Mikoto, ibu dari Sasuke. Wanita yang masih terlihat cantik diusianya itu memeluk Ino erat.

"Terimakasih sudah datang, sayang."

"Tentu saja aku harus datang, Ba-san. Kakek Madara sudah seperti kakek kami berlima."

"Aku bertemu Sakura diluar tadi. Apa Naruto dan Shikamaru sudah pulang?"

"Sudah ba-san. Mereka pulang sebelum Sakura."

"Aa. Baiklah. Kau juga mau pulang kan? Hati-hati ya."

"Baik, ba-san. Ba-san jangan lupa istirahat ya."

Hal yang pertama kali Ino lakukan begitu sampai dirumah adalah mandi. Ia sempat terkena air hujan saat keluar dari lokasi pemakaman. Selesai mandi, Ino mengenakan piyamanya karena merasa tidak akan keluar rumah lagi. Kini ia duduk di depan meja riasnya. Tapi entah kenapa ia tiba-tiba memikirkan Sasuke. Kematian kakek Madara adalah suatu pukulan keras untuk mental Sasuke. Ino tiba-tiba menyadari. Sepanjang acara pemakaman dari awal sampai akhir, Sasuke sama sekali tidak menangis. Uchiha Itachi, sang kakak saja menangis keras saat peti di tutup. Bagi orang-orang yang mengenal Sasuke mungkin menilai bahwa pria itu adalah orang yang tangguh dan dingin. Hanya sedikit orang yang benar-benar mengetahui dan merasakan kehangatan seorang Uchiha Sasuke. Dari sedikit orang itu sahabat-sahabat pria itu termasuk di dalamnya. Melihat Sasuke bersikap dingin bahkan dikematian orang yang ia sayangi, membuat Ino merasa ada yang aneh. Ino juga merasa bodoh karena baru menyadarinya. Bukan karena ia ingin melihat Sasuke menangis, tapi karena ia merasa Sasuke harus mengeluarkan emosinya agar ia benar-benar tenang dan lega.

Ino mengambil ponsel yang ada di tasnya. Ia belum menyentuh benda itu sejak acara pemakaman. Ada tiga pesan dari Naruto, Shikamaru dan Sakura. Isinya kurang lebih sama.

Ino sayang, kau masih di rumah Sasuke kan? Tolong temani dia ya. – Naruto

Pig, kalau bisa kau sedikit lebih lama disana ya. Temani Sasuke ya. Kau tahu, aku tidak bisa meninggalkan anakku kan? Aku mencintaimu. – Sakura

Ino, kami pulang duluan. Kau jangan pulang dulu. Tolong temani Sasuke. Kalau bisa sekalian menginap. Terimakasih. – Shikamaru

Rasa bersalah Ino kian besar. Naruto, Sakura dan Shikamaru bahkan menyadarinya lebih dahulu dibanding dirinya. Ino tidak peduli dengan wajah tanpa make upnya, ia tidak peduli dengan piyamanya. Ia mengambil salah satu coatnya, memasukkan ponselnya kedalam saku dan merai kunci mobilnya.

Mobil Ino memasuki pekarangan rumah keluarga Uchiha. Saat turun dari mobil, Ino bertemu dengan Itachi yang tampaknya akan keluar.

"Itachi-nii."

"Ino? Kau datang lagi? Kalau mencari Sasuke, dia sudah pulang ke apartmennya. Karena banyak keluarga yang datang jadi kamar kami dipakai. Aku juga akan pulang ke apartmenku."

"Oh, begitu ya. Terimakasih Itachi-nii. Aku pergi dulu."

"Hati-hati."

Ino bergegas menuju apartmen Sasuke. Ini pertama kalinya ia ke tempat itu seorang diri karena biasanya ia akan di temani oleh Sakura dan yang lainnya. Apartmen Sasuke jauh lebih besar dan mewah dari miliknya. Bukan berarti miliknya tidak mewah, hanya saja apartmen tempat Sasuke tinggal terkenal dengan privasi yang sangat terjaga. Siapapun tidak diperkenankan masuk kecuali sudah ada perintah dari salah satu penghuni kamar. Karena itulah Sasuke menyukai tempat itu karena apabila ia memutuskan hubungan dengan salah satu wanitanya, mereka tidak akan dipebolehkan masuk. Pengecualian untuk Ino dan ketiga sahabatnya karena petugas disana sudah mengenal mereka dan Sasuke sudah berpesan bahwa empat orang tersebut adalah sahabatnya.

Ino disambut oleh bungkukan sopan dari petugas pintu masuk. Ino hanya mengangguk dan tersenyum kecil kemudian naik ke lantai lima dimana Sasuke berada.

Sesampainya didepan pintu, Ino segera menekan password dan membuka pintu. Sama seperti Sasuke yang tahu password apartmennya, Ino juga mengetahui milik Sasuke, walaupun ia sangat jarang kesana. Ruangan itu gelap. Namun Ino bisa mencium bau asap rokok disana. Sasuke tidak akan merokok kalau dia tidak benar-benar stress. Ternyata Sasuke sedang berada dibalkon. Dia merokok disana namun tidak menutup pintu sehingga asap rokok dan dinginnya angin malam masuk kedalam. Pria itu bahkan tidak menyadari saat lampu sudah dinyalakan dan Ino ada disana. Ino bisa melihat punggung Sasuke yang hanya mengenakan kaus putih tipis dan celana training hitam miliknya. Pria itu berdiri membelakanginya, menyandarkan dirinya pada pagar balkon. Ino berjalan mendekat.

"Hei."

Sasuke tersentak. Rokok ditangannya bahkan terjatuh ke luar pagar.

"Ino? Apa yang kau—"

Ino memamerkan senyumannya.

"Aku merindukanmu." Ino memeluk Sasuke tiba-tiba. Sasuke tersentak, kemudian tersenyum dan balas memeluk Ino.

"Baka."

Sasuke tahu Ino berbohong. Wanita itu bukannya merindukannya, tapi mengkhawatirkannya. Meskipun begitu, Sasuke merasa hangat.

"Disini dingin." Ino bersuara.

"Hn." Sasuke melepaskan pelukannya. Keduanya masuk kedalam dan menutup pintu geser yang menghubungkan ruang tengah apartemennya ke balkon. Ino mengambil pengharum ruangan lalu menyemprotkannya di ruangan itu.

"Ruangan ini jadi bau asap rokok."

"Hn. Kau mau minum apa?" tanya Sasuke.

"Tidak perlu. Aku bisa ambil sendiri. Kekasihmu tidak ada disini kan?" Ino mendudukkan dirinya di sofa dan menyalakan televisi.

"Aku sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun."

"Oh ya? Kau sudah benar-benar berakhir dengan Sela?"

"Sara. Sudah dari beberapa hari yang lalu."

"Umm." Ino mengangguk. Suara dari acara talk show membuat Ino mengantuk. Beberapa kali ia menguap dan matanya sudah memerah menahan kantuk. Sasuke yang duduk disebelahnya mendengus.

"Tidurlah kalau sudah mengantuk."

"Aku tidak mengantuk."

"Baka. Kau tidak tahu pada siapa kau berbohong."

Sasuke menggeser dudukknya ke pinggir sofa, kemudian mengambil bantal sofa dan meletakkannya di pahanya.

"Kemarilah."

"Aku tidak mengantuk. Sungguh."

Sasuke berdecak.

"Satu. Dua."

"Ck."

Kini gantian Ino yang berdecak. Ia pun membaringkan dirinya di paha Sasuke yang beralaskan bantal. Sebenarnya ia sudah sangat mengantuk, namun ia tidak mungkin meninggalkan Sasuke untuk tidur. Dia sendiri melihat bagaimana Sasuke merokok karena sedang bersedih. Belaian lembut Sasuke dikepalanya membuat matanya kian berat. Ia pun memejamkan matanya.

"Sasuke," Ino meracau ditengah rasa kantuknya yang kian menjadi.

"Hn?"

"Jangan bersedih lagi."

Sasuke tidak menjawab, tangannya sibuk membelai surai lembut Ino yang kini berbaring di pahanya.

"Kami akan selalu ada untukmu. Aku... akan selalu ada untukmu. Jadi jangan... jangan berse—"

Ino tidak melanjutkan perkataannya. Suara nafas teratur yang menandakan bahwa wanita itu sudah benar-benar terlelap. Sasuke mendengus. Wanita itu benar-benar mengantuk dan malah memilih untuk datang ke apartmen dan menemaninya.

Sasuke kemudian masuk kekamarnya dan keluar membawa dua buah bantal dan selimut. Ia mengganti bantal Ino dan menyelimuti wanita itu. Ia sendiri membaringkan dirinya di bawah sofa, diatas karpet bulu mahal miliknya. Tangan kanan Sasuke naik keatas sofa, meraih salah satu tangan Ino dan menggenggamnya.

"Terimakasih."

.

.

.

Hari ini mereka berkumpul di kediaman Sakura. Wanita musim semi itu sedang merayakan ulang tahunnya yang ke tiga puluh tiga. Walaupun bukan acara besar dan hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja, tetapi Naruto, Shikamaru, Ino serta Sasuke adalah tamu yang wajib dan harus datang. Ino berangkat bersama dengan Sasuke. Pria itu menjemputnya dari butik.

Dengan santai pria itu memberikan kotak kado kecil pada Sakura, berbeda dengan Ino yang memberikan sebuah kotak besar berisi gaun rancangannya untuk Sakura. Wanita dengan surai pink itu sangat menyukai gaun yang Ino berikan. Saat membuka kado dari Sasuke, Sakura tidak bisa mengedipkan matanya.

"Sasuke..." Sakura menatap Sasuke tak percaya. Begitu juga dengan Gaara yang ada disamping Sakura.

"Terimalah." Sasuke menjawab santai.

"Tapi ini..."

"Itu hanya Range Rover yang rilis lima bulan lalu."

"HANYA KAU BILANG?" Sakura berteriak kencang. Semua yang ada disana juga terkejut dengan kado yang diberikan oleh Sasuke. Mungkin terdengar mengejutkan, tapi sebenarnya Sasuke memang sering memberikan hadiah-hadiah menggemparkan untuk sahabat-sahabatnya.

"Ini mungkin hadiah terakhir. Karena ulang tahunmu selanjutnya aku tidak akan memberikan kado. Kau sudah terlalu tua." Sasuke memberikan seringainya.

"Sialan kau! Walaupun sangat berlebihan, tapi terimakasih. Terimakasih Sasuke." Sakura memberikan sebuah kecupan di pipi Sasuke.

"Kau menciumku di depan suamimu? Baka!"

Sakura tertawa. Begitu juga dengan orang-orang yang ada disana. Gaara disebelahnya hanya tersenyum dan mengacak rambut Sakura lalu berterimakasih pada Sasuke.

Setelah acara selesai, mereka semua pamit. Ino pulang dengan Sasuke tentu saja. Sasuke tidak menghentikan mobilnya didepan gedung, melainkan memarkirkannya di basement yang merupakan tempat parkir. Ini merupakan pertanda bahwa pria itu memilih untuk singgah bahkan terkadang menginap. Seolah pulang kerumahnya, Sasuke ikut naik bahkan dengan santai menekan password pintu apartmen Ino. Ia masuk, mengganti sepatunya dengan sendal rumah kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa.

"Orang-orang akan berpikir apartmen ini milikmu." Ino berkomentar.

"Kau juga bisa melakukannya di apartmenku. Aku mau wine."

"Aku tidak mau kesana. Yang ada aku malah bertemu dengan para barbie koleksimu. Jangan seenaknya memerinta. Kau kira aku ini pembantumu." Ino menggerutu, namun tetap mengambil wine dari salah satu rak di dapurnya beserta dua buah gelas dan membawanya hadapan Sasuke kemudian masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Pria itu menuangkan wine pada dua gelas yang dibawa Ino.

"Kau juga hitungannya barbie loh. Rambut pirang dan mata biru. Sangat barbie sekali." Sasuke menyeringai kemudian meminum winenya. Ino keluar dari kamarnya mengenakan sepasang piyama berbahan satin berwarna maroon. Ia juga membawa kotak kapas dan make up remover miliknya.

"Brengsek. Jangan samakan aku dengan mereka." Ino menghempaskan dirinya disamping Sasuke setelah mengambil gelas winenya dari meja. Wanita itu menaikkan kedua kakinya ke atas paha Sasuke.

"Tolong pijat kakiku. Sepertinya karena heels yang kupakai hari ini lebih tinggi dari biasanya."

"Kau kira aku tukang pijat?!"

Ino hanya tersenyum manis sambil menaikkan kedua alisnya. Sasuke mendengus kemudian meletakkan gelasnya ke meja dan mulai memijat kaki pergelangan kaki Ino.

"Aku masih heran kenapa wanita suka memakai benda-benda yang menyakiti mereka."

"Cantik itu sakit, Sasuke." Ino ikut meletakkan gelasnya, kemudian mengambil kapas dan mak up removernya. Wanita itu mulai membersihkan wajahnya dari sapuan make up. Sasuke menggelengkan kepala, tangannya masih bergerak memberi pijatan pada kaki Ino dipangkuannya.

"Mengenai kado yang kau berikan pada Sakura—"

"Kau akan mendapatkan milikmu September nanti, begitu juga dengan Naruto dan Shikamaru." Sasuke menyahut. Ino berdecak.

"Bukan itu maksudku. Jangan menyombongkan dirimu. Yah.. walaupun kondisimu memungkinkanmu untuk sombong."

"Range Rover terbaru yang hanya dimiliki beberapa orang di Jepang kau berikan dengan mudahnya. Walaupun ini bukan pertama kalinya kau memberikan barang mewah pada kami. Aku ingat kau memberikanku satu set Blue Diamond yang sangat susah didapat itu. Aku hanya merasa bahwa bagimu, kami ini pasti sangat berarti." Ino melanjutkan.

"Baka. Tentu saja. Kita sudah bersama dua puluh tahun. Orang yang selalu ada untukku baik sedih ataupun senang itu kalian. Jangankan Range Rover dan berlian, kalau kalian minta nyawaku mungkin aku tidak akan pernah berpikir dua kali."

"Hei. Kau berlebihan. Jangan mengatakan hal mengerikan seperti itu."

"Aku serius." Sasuke menghentikan pijatannya pada kaki Ino dan memandang serius pada wanita itu.

"Iya, iya aku mengerti." Ino menarik kakinya turun, kemudian mengambil gelas miliknya dan memberikan milik Sasuke pada laki-laki itu.

"Tidak terasa kita sudah bersahabat dua puluh tahun. Tidak tidak, bukannya sudah dua puluh satu tahun?" Ino menuangkan wine ke gelasnya.

"Hn. Kau benar." Sasuke menyahut. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Rasanya seperti kemarin aku bertemu dengan anak laki-laki sok cool yang hanya bicara pada Naruto saja."

"Maksudmu aku?"

"Oh, kau merasa?"

"Tentu saja yang dulu hanya berbicara dengan Naruto itu aku."

Ino tertawa. "Baguslah kalau kau sadar."

Sasuke mendengus, lantas mengambil botol wine dan mengisi ulang gelasnya.

"Winenya habis. Ambil lagi."

"Hanya kau orang yang meminum wine seperti meminum air putih." Ino beranjak dan kembali dengan membawa dua botol wine. Sasuke kembali mengisi gelasnya, begitu juga dengan Ino.

"Ne, Sasuke. Kau ingat moto persahabatan kita berlima kan?" tanya Ino tiba-tiba.

"Hn. Tentu saja. Memangnya kenapa?"

"Apa kau pernah, barang sekali saja menyukai aku atau Sakura?"

"Aku menyukai kalian." Sasuke menyahut.

"Maksudku rasa suka pria terhadap wanita. Apa... pernah?"

Sasuke terdiam beberapa detik.

"Jangan bilang kau juga pernah menyukai salah satu dari antara kami. Pernah?" Sasuke balik bertanya.

"Kenapa kau malah menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain?"

"Memangnya tidak boleh?"

"Tapi aku yang duluan bertanya!" Sasuke tertawa sedangkan Ino mendengus kesal. Ia kembali mengisi gelasnya dengan wine dan meminumnya.

"Baiklah. Kita jawab bersamaan di hitungan ketiga." Ino memberi usul.

"Jangan seperti anak-anak. Tinggal jawab saja pernah atau tidak."

"Lalu kenapa kau tidak menja—"

"Pernah. Aku sudah menjawabnya kan?"

"Pernah? Siapa?"

"Kau sendiri?"

"Aku... tentu saja pernah."

"Oh ya? Siapa?" tanya Sasuke.

"Karena aku sudah menjawab duluan, maka sekarang giliranmu menjawab." Sasuke menambahkan dengan seringainya.

"Err.. itu..."

"Jangan-jangan... aku?"

"Eh enak saja! Bukan kau."

"Jujur saja. Kalau itu aku juga tidak apa-apa. Katakan sa—"

"Shikamaru." Ino mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya meneguk wine digelasnya hingga tandas. Wajahnya memerah akibat dari rasa malu juga karena wine yang cukup banyak diminumnya malam ini.

"Shikamaru? Kenapa Shikamaru?"

"Memangnya kenapa? Kau berharap itu kau?"

"Kenapa Shikamaru?" Entah hanya perasaan Ino saja atau memang nada bicara Sasuke terdengar serius. Ino kembali berpaling untuk melihat Sasuke dan benar saja, pria itu tengah menatapnya.

"Dia siswa terpintar sejak SMP sampai SMA. Bagaimana mungkin aku tidak tertarik padanya. Dia sangat keren dengan kepintarannya itu." Ino tidak tahu kenapa ia tiba-tiba merasa bersalah saat mengucapkan kalimat itu.

"Oh." Sasuke kembali meneguk winenya.

"Kau sendiri? Pernah tertarik pada siapa?"

"Kenapa kau ingin tahu?"

"Hei kita sudah berjanji akan menjawab pertanyaan terkait ini kan?"

"Oh ya? Kapan kita berjanji? Kau saja yang dengan bodohnya mau menceritakannya." Sasuke menyeringai.

"Wah. Sialan kau! Untung saja aku tidak pernah menyukaimu. Sudahlah, aku mau tidur. Kau sebaiknya tidur disini saja. Kau sudah banyak minum, jadi jangan menyetir." Ino meletakkan gelasnya dimeja untuk kemudian berdiri. Namun baru saja ia akan melangkah, Sasuke menarik tangannya hingga ia terduduk kembali.

"Kena—"

"Memangnya apa yang salah dariku?" tanya Sasuke. Matanya memandang intens pada Ino.

"Maksudmu?"

"Apa yang salah dariku sehingga kau lebih menyukai Shikamaru daripada aku?"

Ino terkejut dengan pertanyaan Sasuke, namun ia mencoba mengerti kemudian menghela nafasnya.

"Sasuke, kau terlalu banyak minum. Sebaiknya kau ke kamar tamu se—"

Bruk!

"S-sasuke..." Ino terkesiap saat menyadari dirinya telah terpojok di pinggir sofa dengan Sasuke menindihnya. Semburat merah menghiasi wajah Sasuke, tentu saja karena pria itu sudah banyak meminum wine. Jauh lebih banyak dari Ino sendiri yang merasa dirinya juga sudah mulai mabuk.

"Kau menyukainya..."

"Sasuke kau mabuk, jad—"

"Aku tidak mabuk. Aku masih sadar. Aku bisa melihat dengan jelas kalau malam ini kau cantik~~ sekali." Sasuke tersenyum. Tangannya naik membelai wajah Ino dari pelipis hingga pipi wanita itu.

Ino yakin seratus persen kalau sahabatnya itu sudah mabuk. Jadi ia harus segera memindahkan Sasuke ke kamar tamu agar pria itu bisa tidur. Sekuat tenaga Ino mendorong Sasuke, namun tidak bisa karena pria itu masih dengan kuat menindihnya.

"Sasuke."

"Aku tidak mabuk kalau itu yang kau pikirkan. Aku masih sadar seratus persen, Ino."

"Tidak. Kau jelas-jelas mabuk."

"Aku tidak mabuk."

"Kalau kau tidak mabuk, buktikan! Lepaskan aku dan berjalanlah sendiri ke kamar tamu."

"Kau mau bukti ya? Baiklah."

Mata Ino membola ketika wajah Sasuke kian mendekat padanya. Bola mata sekelam malam itu menatapnya intens membuat Ino seolah tenggelam dalam lingkaram hitam tiada akhir.

"S-sasu—"

Ino tidak bisa melanjutkan perkataannya. Bibir Sasuke sudah terlanjut mendarat dibibirnya. Melumatnya lembut namun terkesan menuntut. Saking kagetnya, Ino sampai membeku ditempatnya. Saat ciuman Sasuke turun ke lehernya, ia kemudian ia tersadar. Baru saja ia ingin mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong Sasuke, pria itu menghentikan ciumannya. Bukan karena Sasuke sadar ia telah melakukan kesalahan, namun karena pria itu tak sadarkan diri. Berat tubuhnya sepenuhnya menindih Ino, kepalanya berada di ceruk leher Ino dan mulai bernafas teratur. Berbeda dengan nafas serta jantung Ino yang kini berantakan detak dan hembusannya.

Meskipun bersikeras menyangkal, namun Sasuke memang sedang dalam keadaan mabuk. Dengan susah payah Ino membebaskan dirinya dari Sasuke tanpa membuat pria itu terjatuh dari sofa. Kini Ino berdiri disebelah Sasuke yang berbaring di sofa. Tangan Ino naik memegang bibirnya, mengingat apa yang baru terjadi tak sampai lima menit yang lalu. Ino tahu, Sasuke melakukannya karena pria itu dalam pengaruh wine. Ia juga itu itu adalah hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh sepasang sahabat, apalagi yang dalam persahabatannya sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta pada salah satu dari antara mereka. Tapi hal itu tetap saja berhasil membuat jantung Ino berdetak tak karuan. Entah kenapa ia merasa wajahnya panas. Dan dari apa yang Sasuke katakan tadi, apa mungkin orang yang pernah Sasuke sukai itu adalah dirinya? Ino yakin meskipun ia sudah meminum beberapa gelas wine, ia tetap tidak akan bisa tidur malam ini.

.

.

.

Sasuke mencoba membuka kelopak matanya. Kepalanya terasa berat dan pusing. Pasti karena ia terlalu banyak minum semalam. Dua botol? Entahlah, Sasuke tidak ingat apakah ia membuka botol ketiga semalam. Dua butir aspirin serta segelas air putih sudah ada di atas meja. Ino pasti menyiapkannya. Sasuke segera menelan dua butir pil berwarna putih itu juga menghabiskan segelas air yang ada disana. Setelah kesadarannya sepenuhnya pulih—meskipun kepalanya masih pusing karena aspirinnya belum bekerja— Sasuke berdiri dan mendapati Ino sedang berkutat di dapur. Ia melirik jam yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Sasuke kemudian beranjak ke salah satu kamar kosong yang Ino jadikan kamar tamu. Setelah selesai membersihkan dirinya disana, ia keluar dengan rambut yang basah. Ia mengenakan pakaiannya semalam.

Sasuke mendudukkan dirinya dimeja makan. Ino langsung menghidangkan semangkuk sup dan juga nasi di depan Sasuke. Wanita itu kemudian duduk di hadapan Sasuke dengan makanan yang sama didepannya.

"Kau tidak bisa tidur?" tanya Sasuke ketika melihat wajah Ino.

"Ya?"

"Lihatlah lingkar hitam dimatamu itu. Menyeramkan." Sasuke menyeringai, kemudian memakan sarapan yang ada di depannya. Ino terdiam. Melihat bagaimana reaksi Sasuke, sepertinya pria itu tidak mengingat apa yang dilakukannya semalam.

'Baguslah. Aku jadi tidak perlu bingung harus bersikap seperti apa di depannya.' Ino membatin lega. Namun di satu sisi ada yang berdenyut sakit di hatinya karena kenyataan bahwa Sasuke tidak mengingat apa yang terjadi semalam.

"Y-ya, begitulah."

Keduanya menyelesaikan sarapannya. Sasuke berinisiatif membereskan meja dan mencuci peralatan makan mereka. Ino keluar dari kamarnya. Wanita itu siap untuk berangkat kerja.

"Aku kira kau memilih untuk tidak bekerja karena butuh istirahat."

"Aku baik-baik saja." Ino tersenyum. Sasuke menghela nafas.

"Aku antar." Ino mengangguk.

Sasuke mengantar Ino sampai ke butik. Ino menyampirkan tasnya kemudian membuka pintu. Salah satu kakinya sudah turun dari mobil ketika Sasuke menarik tangannya.

"Kau langsung pergi?"

"Uhm." Ino mengangguk.

"Kau melupakan sesuatu."

"Sesuatu?"

"Kau tidak menciumku, baka!" Ino tertegun. Ini merupakan hal yang biasa ia lakukan pada ketiga sahabatnya. Namun entah kenapa kali ini rasanya canggung sekali.

"A-Aa." Dengan gerakan yang kikuk, Ino mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Sasuke.

"Aku pergi." Ino benar-benar turun dari mobil Sasuke.

Sasuke sendiri tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia merasa ada yang aneh dengan Ino. Apa wanita itu sakit? Atau... semalam ia melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan? Seketika Sasuke memutar otaknya berusaha mengingat apa yang semalam terjadi saat mereka berdua minum wine bersama dirumah Ino. Ya, Sasuke ingat mereka minum wine semalam. Cukup banyak sampai cukup membuat Sasuke sakit kepala pagi harinya. Tapi Sasuke tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya. Percakapan mereka yang Sasuke ingat hanya seputar hadiah yang ia berikan pada ulang tahun Sakura kemarin.

'Sepertinya Ino memang sedang tidak enak badan.' Sasuke membatin. Namun jauh didalam hatinya seolah ada sesuatu yang mengganjal dan itu terasa aneh. Sangat aneh.

.

.

.

Sasuke tengah disibukkan oleh kerja sama terbaru mereka dengan salah satu perusahaan dari luar negri. Kakaknya Uchiha Itachi berhasil menggaet salah satu perusahaan ternama dari Amerika untuk melakukan kerja sama dengan mereka. Karena itulah, waktu Sasuke lebih banyak tersita untuk meeting dengan para kepala staff yang berhubungan langsung dengan proyek ini. Sudah seminggu ini ia tidak ke Apollo untuk memantau restoran miliknya itu. Ia juga menolak acara kumpul yang diadakan Naruto di rumahnya tiga hari lalu. Hari ini juga Sakura meminta mereka untuk berkumpul di Apollo untuk membicarakan kepindahannya ke Jerman yang tiba-tiba karena Gaara mendapatkan beasiswa untuk melakukan fellowship disana. Sesuatu yang berhubungan dengan penelitian rumah sakit tempat Gaara dengan salah satu rumah sakit disana. Sasuke tidak mengerti, yang ia tahu adalah untuk waktu yang tidak bisa dipastikan, Sakura akan tinggal di Jerman. Kali ini, Sasuke tidak bisa absen karena in adalah sesuatu yang penting. Namun ia sudah memberitahu Sakura bahwa mungkin ia akan sedikit terlambat.

Itachi memasuki ruangannya. Ia dan kakaknya itu mempunyai pembahasan yang tidak bisa dibawa ke meeting umum terkait proyek baru mereka. Tak lama kemudian, salah satu office boy datang membawa dua gelas kopi untuk mereka.

"Jadi nii-san ingin membicarakan apa?" tanya Sasuke setelah sang OB meninggalkan ruangan.

"Tentang proyek baru ini. Kau ingat pihak Alberto ingin supaya tim IT mereka yang mengawasi perkembangan proyek ini kan?"

"Hn." Sasuke mengangguk.

"Aku curiga mereka ingin melakukan sesuatu."

"Tapi nii-san sudah menandatangani kontraknya." Sasuke bertanya. Bagaimana mungkin kakaknya yang luar biasa pintar ini bisa menandatangani perjanjian penting itu bisa ia punya sesuatu yang dicurigai.

"Nii-san pasti sudah merencanakan sesuatu juga." Sasuke menambahkan. Matanya menyipit memandang pada Itachi yang dengan tengan menyesap kopinya.

"Tentu saja. Karena itu aku ingin membiacarakan ini denganmu. Aku ingin meminta bantuan Shikamaru untuk memantau mereka tanpa diketahui. Dia masih jadi hacker freelance kan?"

"Hn. Dia tidak mau terikat dengan pihak manapun." Sasuke tampak berpikir.

"Kenapa Shikamaru? Ini proyek besar kan? Kenapa kita tidak menyewa tim hacker yang lebih berpengalaman. Aku tidak yakin Shikamaru bisa sendiri."

Itachi tersenyum. "Kau meragukan sahabatmu sendiri?" tanyanya.

"Bukan begitu. Aku tidak mau dia terbebani dengan proyek besar ini. Ini berarti dia harus menghadapi tim IT Alberto seorang diri kan?"

"Karena itulah aku ingin Shikamaru memantaunya secara perlahan sampai mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka telah di hack."

"Lagi pula, aku lebih menyukai Shikamaru. Dari dulu aku selalu salut dengan kepintarannya. Aku yakin dia bisa."

Sasuke tiba-tiba tercekat. Seolah kata-kata Itachi itu pernah didengarnya sebelumnya.

"Nii-san bilang apa?"

"Shikamaru pasti bisa?"

"Yang sebelumnya."

"Aku lebih menyukai Shikamaru?"

"Ya! Yang itu. Apa kita pernah membicarakan hal seperti ini sebelumnya?"

"Tidak pernah."

"Kau yakin?"

Itachi mengangguk.

"Sepertinya pernah."

"Sudahlah. Kau yang bicarakan ini dengan Shikamaru. Aku pergi dulu."

Sasuke tidak menjawab. Keningnya berkerut mencoba mengingat sesuatu. Ia yakin kalau ia pernah berada dalam percakapan yang sama. Tapi dimana?

'Menyukai Shikamaru?' Sasuke bergumam sendiri.

Ponselnya di mejanya bergetar. Nama Ino tertera disana. Masih dengan pikiran yang entah kenapa kalut sendiri, Sasuke mengangkat panggilan itu.

"Sasuke. Kau akan datang terlambat nanti kan?"

"Hn. Ada apa?"

"Sepertinya hari ini kita juga akan melangsungkan pesta perpisahan dengan Sakura. Boleh aku meminta tolong padamu untuk membelikan cake? Kau ingat cake kesukaan Saki kan?"

"Hn. Redvelvet kan? Ada lagi?"

"Oh iya, sekalian tolong pesankan pada anak buahmu di Apollo untuk mempersiapkan meja dan wine ya. Itu saja."

"Hn. Tenang saja."

"Terimakasih, Sasuke."

Pada detik ketika Ino memutuskan sambungan teleponnya. Sasuke menyadari sesuatu. Ia langsung berdiri seiring dengan ponselnya yang terjatuh ke lantai ruang kerjanya. Ia mengingatkannya. Percakapan tentang menyukai Shikamaru yang terasa familiar itu. Ia mengingatnya. Percakapan yang melibatkan Ino dan Wine. Ia mengingatnya. Dengan jelas. Semuanya.

.

.

.

"Ini dia tuan Uchiha yang semakin sibuk dari waktu ke waktu." Naruto menyambut kedatangan Sasuke yang terkesan terburu-buru. Sasuke tidak menanggapi. Ia terlalu sibuk memikirkan tentang Ino dan kesalahan yang ia lakukan pada wanita itu beberapa waktu lalu.

Mereka melalui acara pertemuan yang dilanjut dengan perpisahan dengan Sakura yang sebentar lagi akan pindah ke Jerman. Sasuke mencoba untuk mengikuti alur percakapan sahabat-sahabatnya meskipun dalam hatinya ia ingin segera menyudahi acara ini. Bukan karena ia tidak menyukainya tapi karena ia harus berbicara dengan Ino terkait apa yang sudah terjadi. Jujur saja ia sangat sedih atas kenyataan Sakura akan pindah. Meskipun zaman sekarang semuanya sudah canggih dan jarak kini bukan masalah lagi, tapi tetap saja ia kehilangan sosok sahabat yang merangkap sebagai kakak untuknya. Berbeda dengan Ino yang lebih seperti adik, Sakura dengan sifat dewasanya membuat Sasuke merasa bahwa selain sahabat, Sakura juga merupakan kakak perempuannya.

Acara kecil-kecilan itu berakhir. Waktu singkat yang terasa sangat lama bagi Sasuke. Karena membawa mobil masing-masing, mereka membubarkan diri di depan Apollo yang saat itu sengaja tutup untuk acara mereka.

"Aku ikut denganmu." Sasuke berujar pada Ino ketika teman-teman yang lain sudah memasuki mobil mereka. Shikamaru bahkan sudah berlalu.

"Ha?" Sasuke mengambil alih kunci di tangan Ino dan menaiki mobil wanita itu.

"Bukannya kau membawa mobil sendiri kemari?" tanya Ino ketika ia masuk kedalam mobil. Sasuke menyalakan mesin mobil, namun tidak kunjung menjalankannya. Pria itu juga tidak menjawab pertanyaan Ino, dan membuat Ino merasa aneh.

"Sasuke?"

"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Sasuke bertanya tiba-tiba. Raut wajah serius itu entah kenapa membuat Ino merasa tidak tenang.

"Tentang?"

"Kejadian malam itu di apartmenmu."

Ino tercekat.

"A-aa.. itu..."

"Aku minta maaf." Sasuke berujar lemas. Tangannya yang memegang stir mobil juga tampak lemah.

"Hei..."

"Seharusnya aku tidak—"

"Kau dalam keadaan mabuk. Aku mengerti."

"Tapi tetap saja... seharusnya aku tidak melakukannya."

"Lagi pula itu hanya sebuah ciuman. Aku sedang berusaha melupakannya, tapi kau malah mengingatkannya lagi. Baka!"

"Kau berusaha melupakannya?" tanya Sasuke tiba-tiba. Kepalanya yang sebelumya bersandar pada stir mobil kini terangkat.

"Uh-um." Ino mengangguk.

"Kenapa? Karena yang melakukannya bukan Shikamaru?"

"Kenapa kau jadi membawa nama Shikamaru?" Ino mengerutkan keningnya.

"Kau menyukainya kan? Aku ingat dengan jelas percakapan kita malam itu."

"Malam itu, kita membicarakan masa lalu. Aku menyukai Shikamaru. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Aku tidak sebodoh itu untuk menyukai suami orang lain."

Ino menarik nafas panjang dan membuang pandangannya ke arah jendela, kemudian melanjutkan perkataannya.

"Hentikan percakapan konyol ini. Kau seenaknnya memojokkanku karena menyukai Shikamaru sementara malam itu kau tidak memberitahuku siapa yang kau sukai. Sudahlah, ayo jalan. Ini sudah larut dan besok aku ada aca—"

"Aku menyukaimu. Orang yang pernah aku sukai adalah kau."

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : Alohaaa... Sahabat ff ku semuanya. Sehat selalu ya kan kalian semua. I miss you guys. Kembali dengan Yana di Chapter 2 Filia. Ada salah satu dan salah dua teman yang menanyakan apa arti Filia. Dalam bahasa Yunani Filia itu artinya sahabat atau persahatan. Kalau readers semua pernah dengar tentang istilah Agape, Filia, Storge dan Eros, pasti sedikit banyak paham lah. Hehehe.

Gara-gara virus Corona, aku udah mulai WFH sejak minggu kemarin. Dan kalau boleh jujur, itu sangat tidak efektif. Bukannya kerja, aku malah kepincut nonton drakor. Karena itulah aku ga bisa update minggu lalu. Maafkeun ya teman-teman. Apalagi dengan wacana tidak bisa mudik lebaran ini. Semakin badmood lah diriku yang sudah galau gara-gara WFH. Rencana mudik aku kemungkinan hancur. Tapi tetap harus dijalani dan dipatuhi. Kita mungkin sehat, tapi kalau kita terkena virus dijalan, trus malah menulari ke saudara dan teman-teman di kota asal kan bahaya. Apalagi di tempat aku banyak orang-orang tuanya.

Meskipun begitu, kita tetap bersama-sama mendoakan pandemik yang sedang terjadi ini ya teman-teman. Kita doakan negara kita dan para tenaga medis yang bertugas semoga badai ini cepat berlalu. Semangat Indonesia! Semangat teman-teman ff ku!

Tak henti-hentinya aku mengucapkan terimakasih, thankyou, arigatou, xiexie, kamsahamnida untuk teman-teman yang sudah memberikan ripiu, fav and follow cerita ini. Kalian yang terbaik! Semoga suka capter ini ya. Ciaou!

Salam,

Yana Kim ^_^