WHO'S THE FAIREST OF THEM ALL
Disclaimer
All Character here is belongs to Masashi Kishimoto
Warning
Canon, Typo bertebaran, dan kekurangan-kekurangan lainnya.
Happy Reading
.
.
"Kau?" ucap Naruto dan Sakura bersamaan.
"Kau disini" ucap Naruto disertai senyuman manis.
Sakura yang masih terkejut melihat Naruto menjawab dengan gelagapan. "Ya... aku...aku disini. Tapi... Kau pangerannya?"
Naruto hanya tersenyum dan membungkuk memulai dansa itu. "Maafkan aku. Melihatmu berdandan seperti ini membuatku tak bisa berkata-kata" Naruto mengagumi kecantikan Sakura dihadapannya.
Sakura terkikik geli mendengar pujian itu. "Yah... paling tidak, itu tidak akan membuatmu kehilangan celanamu" canda Sakura.
"Ehm... maksudku... saat pertama kali kita bertemu kau tak memakai celana" Sakura mencoba memperbaiki perkataannya yang mungkin terdengar sediikit tidak sopan sebelumnya.
"Yap" Naruto masih malu mengingat kejadian hari itu.
"Yaah... Setidaknya kini kau berpakaian... seperti kelinci" Sakura berputar membelakangi Naruto sebagai pertanda berganti pasangan dansa. Namun, Naruto yang tidak mau melewatkan kesempatan mengobrol dengan Sakura, justru mendorong kesamping pasangan dansa selanjutnya.
"Ya. Seperti kelinci"
"Yang bisa menipu, melawan, dan cekatan" Entah kenapa Naruto tiba-tiba mengoceh tentang kelinci pada Sakura. Mungkin kecantikan Sakura membuat pikirannya sedikit terhambat.
"Okee..." Sakura mengernyitkan dahinya heran mendengar perkataan Naruto yang melantur.
"Aku terdengar seperti orang bodoh ya?" tanya Naruto setengah tertawa. Menertawakan dirinya.
"Hahaha... iya sedikit" canda Sakura. Sakura melihat sekitar dengan was-was memastikan Tsunade tidak melihatnya.
"Hei... apa yang kau lakukan di istana?" tanya Naruto memecah lamunan Sakura.
"Aku tinggal disini"
"Aku semacam putri" lanjut Sakura. Peserta dansa kembali bertukar pasangan. Namun seperti sebelumnya, Naruto menggeser pasangan dansa Sakura selanjutnya agar ia bisa mengobrol lebih lama.
"Apa? Kau tidak pernah mengatakannya padaku" Naruto terkejut dengan jawaban Sakura.
"Kau juga tidak pernah mengatakan kalau kau seorang pangeran" debat Sakura.
"Aku takut terlihat aneh" Naruto tersenyum lagi pada Sakura. Dan entah bagaimana senyuman itu membuat Sakura berdegup kencang.
"Mmm... bukankah kita seharusnya berganti pasangan?" tanya Sakura heran.
"Ya seharusnya begitu" jawab Naruto enteng. Seketika Sakura tahu jika Naruto menggeser pasangan dansanya selama ini. Dan hal ini tentu membuat degupan didadanya semakin kencang.
Gerakan dansa perlahan semakin intim. Kali ini Naruto merangkul pinggang Sakura. Sakura yang gugup dengan posisi mereka yang semakin dekat tanpa sengaja menginjak kaki Naruto.
"Aww.. Aakk" Naruto berjengit kesakitan.
"Ah... maaf... maaf..." Sakura nampak khawatir.
"Tidak apa-apa..." Naruto nyengir menahan sakit.
Sekali lagi tanpa tendeng aling-aling Naruto menggeser peserta dansa lain agar ia bisa berdansa lebih lama bersama Sakura. Melihat itu Sakura terkikik geli.
"Ehem... sebenarnya aku kesini bukan hanya untuk berdansa" ucap Sakura.
"Aku butuh bantuanmu"
Naruto dengan serius mendengarkan perkataan Sakura. "Apa saja" ujarnya.
Sakura terlihat awas mengamati sekitar. Memastikan Tsunade maupun Shizune tidak melihatnya dipesta. "Ini tentang Ratu" ucap Sakura setengah berbisik.
"Sejak ayahku meninggal. Ia meneror rakyat dan menghancurkan kerajaan" Sakura terlihat serius dengan perkataannya.
"Aku berharap pengeran baik hati sepertimu bisa membantu" lanjutnya.
Dan pada saat yang bersamaan Sakura melihat Tsunade mengawasinya dengan tatapan tajam. Seketika itu ia tahu ia dalam masalah besar. Maka dengan segera Sakura pamit pada Naruto untuk melarikan diri. "Aku harus pergi"
Naruto hanya termangu menatap kepergian Sakura yang begitu cepat.
.
.
Sakura tertangkap oleh Shizune. Ia digeret menuju ruangan tertutup oleh dua prajurit istana. Disana telah menunggu Ratu Tsunade dengan tatapan tajam dan wajah marah.
"Dasar tidak tau berterimakasih. Apa yang kau lakukan berbicara dengan pangeranku" ucap Tsunade dengan penuh amarah.
Sakura mengernyit heran. "Pangeranmu?"
"Dan dari mana kau dapat gaun itu?" Tsunade geram melihat Sakura yang tampak menawan dengan gaun angsanya.
Sakura kesal dengan Tsunade yang membenci semua tentangnya bahkan hingga caranya berpakaian. "Kau mau membicarakan tentang gaun ini atau yang kau lakukan pada kerajaan ini?" Sakura menatap Tsunade tajam.
Tsunade tergelak meremehkan mendengar ucapan Sakura. "Bagus Sakura.Seseorang telah meminum obat percaya diri"
"Katakan lagi. Ucapkan lagi" ucapTsunade mengejek.
"Ayo!!" tegas Tsunade.
Sakura hanya menunduk. Ia bukan takut pada Tsunade tapi ia begitu kesal hingga ia merasa selesai dengan semua permainannya.
"Kenapa diam?" ucap tsunade tajam.
Sakura menatap tajam Tsunade. "Aku sudah kesana. Aku sudah melihat apa yang kau lakukan pada rakyatku"
"Oh... kau bahkan berani keluar istana?" Tsunade terlihat makin kesal mengetahui Sakura tak mengindahkan perintahnya. "Sakura sudah berani melanggar semua peraturan sekarang" ejeknya.
"Kau harus dihukum" tambah Tsunade singkat.
Sakura memberontak mencoba melepaskan diri dari cengkeraman prajurit istana. "Oleh hukum siapa? Kau bahkan tak berhak memimpin kerajaan ini" ujarnya setengah berteriak.
"Akulah pemimpin yang sah bagi kerajaan ini" lanjutnya.
Tsunade mendengus kesal. "Bukan kata-kata yang baik bagiseorang Sakura"
Sakura terdiam. Badannya gemetar antara ketakutan dan marah menjadi satu. Sekilas dilihatnya liontin bulan milik Ratu berkilat terang.
"Kurung dia" perintah Tsunade pada prajurit istana. Sakura digeret menuju menara barat tempat kamarnya berada.
Setelah Sakura pergi, Tsunade mondar-mandir gelisah dikamarnya dengan ditemani Shizune.
"Aku ingin dia mati" ucap Tsunade singkat pada Shizune.
Shizune terkejut mendengar perkataan Tsunade. Ia tak mengira Tsunade akan mengambil langkah se-ekstrim ini untuk menyingkirkan Sakura. "Mati? Yang Mulia, bukankah itu terlalu terburu-buru".
"Dia bisa mengancam segalanya" sanggah Tsunade.
"Bawa ke hutan dan biarkan ia dimakan binatang buas" Tsunade berkata sinis.
.
.
Malam itu sangat gelap. Angin dingin berhembus lebih kencang dari biasanya. Petir menyambar-nyambar galak. Entah mengapa suasana istana terasa lebih mencekam bagi Sakura. Shizune membuka pintu kamar Sakura lebar. Tanpa banyak bicara ia menyeret Sakura ke luar menuju hutan gelap.
Dihutan itu hanya ada Shizune dan Sakura. Sakura yang sedari tadi bertanya dan meronta-ronta ingin dilepas tak sedikitpun dihiraukan oleh Shizune. Sepanjang jalan Shizune hanya diam seribu bahasa. Mereka hampir tiba ditengah hutan ketika Shizune mulai membuka suara menyuruh Sakura berjalan lebih cepat. "Ayo terus!"
"Lepaskan aku. Aku berjanji tidak akan menemuinya lagi" ujar Sakura ketakutan.
"Apa kau pikir aku mau melakukan ini? Ini akibat ulahmu sendiri" Shizune menelan ludah susah payah. Ia tak tega bila harus membunuh Sakura namun ia juga takut dikutuk oleh Ratu Tsunade. Pasalnya Sang Ratu memiliki ilmu sihir yang kuat.
"Seharusnya kau tak melawan Ratu. Sekarang kita berda yang menanggung akibatnya"
Tepat ditengah hutan Shizune menyuruh Sakura berhenti.
Sakura memohon pada Shizune dengan nada bergetar. Ia tak mau mati sekarang disaat usianya masih muda atau setidaknya tidak disini. Sendirian tanpa keluarga disekelilingnya.
"Shizune tolong... aku mohon..." ucapnya menahan tangis.
"Berbaliklah" ucap Shizune.
"Shizune... kumohon... aku tidak ingin mati disini seperti ayahku" Sakura menahan tangisannya kuat-kuat.
"Ayahmu adalah orang baik. Beliau selalu baik padaku" ucap Shizune seraya memotong tali ditangan Sakura. Saat itu terlihat bayangan hitam besar berkelebat diantara pepohonan. Cepat-cepat Shizune memotong tali itu.
"Maka biarkan aku memberi satu nasihat. Larilah... lari secepat yang kau bisa dan sejauhnya dari sini". Ketika tali itu telah terputus ia menyuruh Sakura untuk lari. "Larilah!".
Sakura segera lari sekuat tenaga dari situ. Ia terus berlari diantara pepohonan gelap dan bayangan hitam yang berkelebat. Kakinya terasa ngilu namun ia berusaha sekuat tenaga menahannya. Ia tak mau mati disini. Dan saat ia hampir menyerah. Kepalanya membentur akar pohon tumbang yang cukup besar. Ia jatuh terduduk. Matanya berkunang-kunang. Semua ketakutan, kesedihan dan amarahnya menjadi satu. Ia mulai menangis dan kemudian tak sadarkan diri.
.
.
Shizune mengendap-endap berjalan menuju dapur istana. "Aku harus meyakinkan. Atau beliau tidak akan percaya". Ia mengambil beberapa bahan yang ia butuhkan kemudian ia segera ke kamar Tsunade untuk melapor.
"Yang Mulia..."
Tsunade mengintip dari balik wardrobe kamarnya. "Apa sudah selesai?"
"Seperti perintah anda" Shizune meletakkan sebuah kantong dimeja depan Tsunade. Ia membuka bungkusan itu dan memperlihatkan sejumlah organ.
"Ini jantung, ginjal, dan limpanya"
Tsunade melihat bungkusan itu dengan raut jijik. "Iyugh... menjijikan".
"Jujur. Aku terkesan. Kau tidak sepayah yang aku kira selama ini" ucapnya pada Shizune.
Shizune melihat Tsunade seolah terharu. "Itu kata-kata terbaik yang pernah anda katakan padaku".
Tsunade merentang tangannya dan menghirup napas dalam. "Hahhh... rasanya lega sekali. Aku senang"
"Senang melihat anda dengan suasana hati yang baik, Yang Mulia" sahut Shizune.
Tsunade tergelak. Ia menghampiri Shizune. Menggenggam tangannya dengan wajah ceria. "Kita harus mengumumkan tragedi ini kan? Seperti mati dalam usia muda, kehilangan yang buruk, dan kita mengibarkan bendera setengah tiang..."
"Di seluruh kerajaan atau istana saja?" tanya Shizune.
Tsunade tampak berpikir sejenak. "Menyusahkan... lupakan saja benderanya". Tsunade memberi isyarat pada Shizune untuk pergi. Shizune membungkuk kemudian beranjak pergi.
"Potonganmu... belatimu..." Tsunade mengingatkan.
Shizune berbalik mengambil kembali bungkusan organnya dan belatinya.
"Selamat malam" ucap Tsunade ceria
"Selamat malam, Yang Mulia".
.
.
Author's Note :
Saya akan merasa sangat berterimakasih pada para reader yang mau memberikan review baik berupa kritikan maupun saran yang membangun. Review itu akan membuat saya lebih semangat lagi dalam menulis. Jangan lupa reviewnya
Salam Hangat
Glad
