FILIA
Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.
Story By : Yana Kim
Lenght : Chaptered
Rate : M
WARNING!
.
Uchiha Sasuke x Yamanaka Ino
SUM:
Persahabatan lima anak manusia dengan motto 'tidak boleh ada cinta dalam persahabatan'. Naruto, Sakura dan Shikamaru telah menikah dengan pasangan masing-masing. Tinggallah Sasuke, si pengusaha kaya tapi playboy dan Ino si desainer cantik yang mudah jatuh cinta, mudah juga patah hati.
.
.
.
Tiga
.
.
.
"Hentikan percakapan konyol ini. Kau seenaknnya memojokkanku karena menyukai Shikamaru sementara malam itu kau tidak memberitahuku siapa yang kau sukai. Sudahlah, ayo jalan. Ini sudah larut dan besok aku ada aca—"
"Aku menyukaimu. Orang yang pernah aku sukai adalah kau."
Ino berpaling dari jendela dan kini melihat ke arah Sasuke yang kini juga menatapnya.
"A-apa?"
"Aku sudah mengatakannya kan? Orang yang pernah aku sukai adalah kau."
Ino terdiam. Sesaat kemudian mengeluarkan suaranya.
"Oke. Sekarang kita sudah impas. Aku memberitahumu siapa yang aku sukai dulu, begitu juga denganmu. Masalah selesai. Ayo, jalan."
Ino kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela. Mencoba mengendalikan detak jantungnya yang berdetak kencang hanya karena ucapan suka dari Sasuke. Itu pun perasaan suka zaman dahulu kala, zaman mereka masih sekolah. Seharusnya jantungnya tidak bereaksi seperti ini. Demi Tuhan dia bukan anak-anak lagi. Ino sudah tiga puluh dua tahun dan sudah sering menerima pernyataan suka dan cinta selama hidupnya. Ino sibuk menenangkan jantungnya. Tidak mengindahkan Sasuke yang memandangnya dengan tatapan terluka. Pria itu menghela nafas panjang kemudian menjalankan mobilnya.
.
.
.
Tiga hari berlalu sejak hari itu. Ino tidak bertemu dengan Sasuke selama tiga hari itu karena disibukkan oleh pekerjaannya. Naruto dan Shikamaru juga tidak ada yang mengajak berkumpul. Sasuke juga sepertinya semakin sibuk dengan pekerjaannya. Pria yang selalu terlihat santai itu bahkan tidak meneleponnya. Bukannya Ino berharap, namun ia merasa aneh karena kebiasaan pria itu juga membuat Ino terbiasa dengan itu semua.
Hari ini adalah hari keberangkatan Sakura. Ino berangkat ke bandara seorang diri. Entah kenapa ia juga merasa enggan untuk menelepon Sasuke dan mengajak pria itu berangkat bersama. Saat Ino tiba disana, Naruto dan Shikamaru sudah ada disana. Keluarga Sakura dan juga Gaara tak ketinggalan ikut mengantarkan Sakura dan Gaara beserta buah hati mereka Aiko.
"Pig! Sasuke mana?" tanya Sakura begitu Ino tiba.
"Aku kira dia sudah datang." Ino menjawab.
"Dia ada proyek baru jadi sepertinya semakin sibuk." Shikamaru berujar.
"Itu dia!" Naruto melambai pada Sasuke yang berjalan ke arah mereka.
"Kalian datang diwaktu yang sama kenapa tidak sekalian berangkat bersama saja?" tanya Naruto.
"Dia tidak menungguku." Sasuke mendorong dahi Ino dengan jari telunjuknya.
"Kau tidak menelponku!" Ino melakukan pembelaan.
"Tch! Siapa yang biasanya menelpon duluan untuk hal-hal seperti ini? Menumpang adalah pekerjaan sampinganmu."
"Hello Tuan Uchiha! Ingat siapa yang lebih sering menumpang dimobilku, menumpang makan di apartmenku dan menumpang tidur diruang kerjaku?"
Sasuke mendengus.
"Sudah.. sudah... Kalian ini! Sudah tua bukannya cari pasangan malah meributkan hal yang tidak penting!" Sakura menengahi.
"Katakan itu pada sahabatmu yang tidak laku ini, Sakura." Sasuke menunjuk Ino yang mendelik tak suka.
"Kau juga sahabatku, Sasuke." Sakura menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, bukannya sudah saatnya kalian masuk ke lounge?" Shikamaru ikut menengahi keributan yang tidak akan lama lagi diikut sertakan oleh Naruto itu.
"Benar juga. Aku harus pergi." Sakura memeluk Naruto yang ada paling dekat dengan tempatnya berdiri.
"Aku pergi dulu ya,"
"Jaga diri disana, Sakura-chan. Jangan lupa sering-sering memberi kabar." Mata Naruto sudah berkaca-kaca. Meskipun pria itu adalah orang yang sudah memukuli Sai tempo hari seorang diri namun kalau menyangkut hal-hal seperti ini, Naruto adalah orang yang paling perasa.
Sakura beralih memeluk Shikamaru.
"Jaga diri disana." Shikamaru mengacak rambut pink Sakura yang mengangguk sambil tersenyum. Sakura beralih pada Sasuke.
"Uchiha Company mempunyai cabang disana. Kalau kau butuh apa-apa, kau bisa kesana. Sebut saja namaku."
"Kau sedang menyombongkan dirimu?"
Sasuke tersenyum. "Jaga dirimu," lanjutnya lagi.
Sakura kemudian memeluk Ino. "Kau tidak menangis?" tanya Sakura.
"Untuk apa aku menangis? Kau bukan pergi ke Jerman dan tidak pulang lagi kan?"
"Dasar pig!"
"Jaga dirimu disana. Jaga kesehatan, terutama Aiko."
"Kau juga, jaga dirimu. Carilah lelaki baik yang mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku harap salah satu alasanku kembali dari Jerman adalah untuk menghadiri pernikahanmu."
"Maksudmu kau hanya datang untuk pernikahannya? Bagaimana dengan pernikahanku nanti?"
Sasuke tiba-tibe sewot.
"Bukannya kau menjalin hubungan bukan untuk menikah?" tanya Sakura.
"Siapa yang tahu kedepannya akan bagaimana?"
"Baiklah, aku akan datang ke Jepang untuk menghadiri pernikahanmu juga. Kalian bertiga, aku titip Ino ya. Kalau ada laki-laki brengsek yang menyakitinya, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan kan? Aku pergi dulu."
Sakura meninggalkan mereka dan berpamitan dengan keluarganya. Untuk kemudian berjalan memasuki bagian dalam bandara dan melambai pada mereka sambil menggendong Aiko. Ia mengangkat tangan putrinya untuk melambai pada keluarga dan sahabat-sahabatnya yang ikut melambai padanya. Ino memandang kepergian Sakura dengan mata berkaca-kaca. Saat Sakura dan Gaara benar-benar memunggungi mereka dan berjalan masuk, setetes air mata Ino jatuh kepipi wanita itu. Ino kemudian merasakan sebuah tangan naik ke bahunya. Sasuke.
"Jangan menangis. Bukannya kau yang bilang kalau dia pasti akan kembali?" ujar Sasuke.
"Tetap saja, Sakura sudah tidak di Jepang lagi. Itu membuatku sedih."
"Cengeng."
Ino memukul dada Sasuke karena sudah mengatainya. Pria itu malah tertawa. Ino melepaskan diri dari Sasuke kemudian beralih pada Naruto.
"Naruto, dia mengataiku cengeng."
Naruto tertawa, pria pirang itu membawa Ino ke pelukannya.
"Sssst! Jangan menangis ya. Kau kan memang cengeng."
Ino mendorong Naruto.
"Kalian sama saja. Bukannya Sakura meminta kalian untuk menjagaku? Baru saja dia pergi tapi kalian malah mengejekku. Shikamaru~~!"
Ino baru saja ingin melangkah ke arah Shikamaru, namun Sasuke menarik Ino dan melingkarkan lengannya ke leher Ino.
"Sudah-sudah. Ayo kita pulang."
"Sasuke, leherku!"
Sasuke membawa Ino ke arah keluarga besar Sakura untuk pamit. Mereka tertawa melihat tingkah Ino dan Sasuke yang seperti anak-anak. Naruto dan Shikamaru hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
"Leherku sakit, Sasuke no Baka!" Ino mendorong Sasuke sekuat tenaga. Yang didorong malah tertawa memandang Ino yang memegangi lehernya seraya memandang Sasuke kesal.
"Kami pulang dulu, Naruto, Shikamaru. Sampai jumpa." Ino mencium pipi kedua sahabat itu. Naruto dan Shikamaru harus mengantarkan keluarga besar Sakura dan Gaara. Keduanya berjalan kearah parkiran, mobil Sasuke terparkir tepat disamping mobil Ino.
"Kukira kau sangat sibuk sampai tidak sempat menelponku."
"Kau berharap aku menelponmu?" tanya Sasuke dengan seringainya.
"Bukan begitu. Hanya sa—"
"Aku memang sedang sibuk. Ada proyek baru dengan perusahaan luar negeri. Shikamaru ikut ambil bagian juga."
"Oh ya?" Sasuke mengangguk.
"Setelah ini kau kemana?" tanya Sasuke. Ino memandang pada Sasuke. Sepertinya pria ini sudah tidak memikirkan masalah tiga hari yang lalu. Atau memang hanya dirinya yang terlalu berlebihan dalam menyikapi hal itu? Ya, sepertinya begitu adanya. Sasuke bersikap seperti biasa dan sejujurnya, Ino merasa bahwa inilah yang tepat untuk mereka berdua. Persahabatan mereka akan terus berjalan tanpa hal-hal yang menyangkut masa lalu seperti tempo hari.
"Boleh aku ke kantormu?" tanya Ino tersenyum manis. Rasanya sudah lama sekali ia tidak berkunjung ke tempat kerja Sasuke.
"Tentu saja."
.
.
.
"Kertas, pensil dan segelas lemon tea hangat seperti biasa kan?" tanya Sasuke ketika mereka memasuki ruang kerja milik lelaki itu.
Ino mengangguk sambil tersenyum. Wanita itu mendudukkan dirinya di sofa panjang yang ada diruangan Sasuke. Tak lama kemudian Juugo, asisten Sasuke muncul dengan benda-benda yang Sasuke sebutkan tadi dan memberikannya pada Ino.
"Terimakasih, Juugo."
"Sama-sama Ino-san. Sudah lama anda tidak kemari,"
"Kau merindukanku ya Juugo?"
"Sedikit?" Juugo menjawab.
Ino dan Juugo kemudian tertawa bersama.
"Juugo, sepertinya akhir-akhir ini kau banyak waktu luang?" Tawa Juugo dan Ino seketika terhenti. Juugo membungkuk pada Ino dan Sasuke kemudian beranjak dari ruangan itu.
"Ada apa denganmu? Sensitif sekali."
"Hn." Sasuke hanya bergumam tidak jelas. Ia kembali berkutat dengan berkas dimejanya. Ino sendiri mulai menorehkan pensilnya pada kertas yang Juugo sediakan. Salah satu alasan Ino suka ke kantor Sasuke adalah karena disana ia bisa mendapatkan inspirasi tentang pakaian dengan konsep resmi seperti pakaian kantor. Melihat orang dengan berbagai macam pakaian mereka selalu membuat ide-ide serta imajinasi Ino tentang pakaian berdatangan.
Tidak ada yang tahu bahwa Ino akan menjadi seorang desainer. Ino tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia punya minat dibidang itu. Ino lebih dikenal sebagai seorang model karena sejak awal masuk SMA, Ino mendapatkan banyak tawaran dari mulai majalah remaja sampai agency model ternama. Ino menerima salah satu diantara mereka. Karena masih sekolah, Ino memilih untuk menjadi model untuk sampul majalah remaja. Bukan karena ia tidak ingin menjadi model catwalk seperti yang dijanjikan salah satu agensi model tersebut, tetapi karena jadwalnya yang bisa menyesuaikan dengan jadwal sekolah Ino. Semua orang termasuk sahabat-sahabatnya sudah menerka-nerka gambaran masa depan Ino. Model papan ataupun aktris. Karena itulah mereka cukup kaget saat Ino mengikuti salah satu lomba desain yang diadakan salah satu perusahaan mode ternama di Jepang. Mereka lebih terkejut lagi saat Ino berhasil memenangkan juara pertama dengan desain kimono modernnya.
Meskipun begitu, keempat sahabatnya tetap mendukungnya. Saat Ino memilih keluar dari perusahaan mode itu dan membuka butiknya sendiri dengan nama Goddess, keempat sahabatnya memberikan dukungan penuh pada Ino. Naruto membantu Ino mendesain gedung yang Ino gunakan sebagai butiknya hingga gedung polos itu berubah jadi butik namun disaat yang sama juga tampak seperti galeri seni. Shikamaru membuat iklan habis-habisan di berbagai portal. Hacker handal itu bahkan meretas LED Display yang ada di seluruh kota untuk menampilkan iklan butik Ino yang ia buat sendiri semalam tiga puluh detik secara berkala. Sakura mempromosikan butik Ino kepada para pasien VIP yang ia tangani. Sasuke menggunakan pakaian rancangan Ino untuk dipakai oleh model iklan produk perusahaannya. Karena sering berkunjung, pria itu juga rela menjadi mannequin hidup serta model dadakan untuk pakaian Ino apabila wanita itu membuat desain untuk pakaian laki-laki yang sebelumnya jarang dibuatnya.
Ino larut dalam fokusnya seperti biasa. Wanita itu tampak serius menggambar desainnya. Ia tidak menyadari bagaimana Sasuke memperhatikannya dari balik laptop yang menyala dan berkas yang bertumpuk dimejanya.
"Sasuke, kau lebih suka tuksedomu dengna rompi atau tanpa rompi?"
Sasuke tersentak dengan pertanyaan Ino karena ia sedang dalam posisi fokus memperhatikan sahabatnya itu.
"Kau bilang apa?" tanyanya setelah berdeham.
"Kau lebih suka tuksedomu dengan rompi atau tanpa rompi?"
"Tanpa rompi. Kau tahu aku lebih suka yang simpel kan?"
Ino tampak berpikir kemudian mengangguk.
"Kenapa? Kau mau menghadiahkan aku tuksedo?" tanya Sasuke kemudian. Ino mengangguk. Senyum tipis tersungging di bibir Sasuke.
"Naruto dan Shikamaru juga." Seketika senyum itu menghilang dari bibir Sasuke. Pria itu kemudian berdecak kesal.
"Kenapa mereka juga?"
"Memangnya kenapa?" Ino bertanya heran.
"Seharusnya kau menyiapkan satu tuksedo khusus untukku. Bukannya malah mereka juga."
"Memangnya kenapa kalau aku juga memberikannya untuk mereka? Kau ini aneh sekali." Ino kembali fokus pada kertas di depannya.
"Mereka sudah menikah. Sudah ada yang memperhatikan. Seharusnya kau lebih memperhatikan aku yang lajang ini."
Ino tertawa.
"Menikahlah kalau begitu. Biar ada yang memperhatikanmu." Ino berujar sambil tertawa geli, namun fokusnya masih pada sketsa desain di depannya.
"Sayangnya belum bisa."
"Kenapa?" tanya Ino.
"Karena kau belum mau." Ino mengalihkan pandangannya dari kertas gambarnya ke arah Sasuke yang dengan terburu memandang berkas didepannya.
"Kau mau memastikan aku menikah dulu, baru kau menikah? Kau baik sekali!"
"Ck." Sasuke berdecak pelan. Merutuki ketidakpekaan wanita yang kini duduk disofa berjarak dua meter darinya itu.
"Sepertinya karena hanya kau yang belum menikah, kau merasa bahwa tugas menjagaku adalah peran yang harus kau lakukan. Tenang saja Sasuke, kau tidak perlu menungguku menikah dulu baru menikah. Kalau memang ada wanita yang pas, kau boleh menikah duluan. Aku tidak apa-apa. Sungguh." Ino tersenyum meyakinkan.
Sasuke memegang pelipisnya yang mendadak sakit. Apakah wanita ini benar-benar tidak mengerti? Ya, tentu saja hal itu bisa terjadi. Mungkin Ino merasa bahwa apa yang ia perbuat selama ini semata-mata hanya karena persahabatan mereka yang sudah berlangsung dua puluh tahun lamanya. Ino mungkin tidak merasa bahwa apa yang ia lakukan selama ini adalah untuk menunjukkan betapa Sasuke menyayangi Ino. Bukan hanya perhatian karena mereka adalah sepasang sahabat, tapi bentuk perhatian seorang pria terhadap wanita yang ia cintai.
Semula Sasuke mengira bahwa memendam rasa dalam kurun waktu yang lama akan membuatnya terbiasa dengan rasa sakit itu. Namun ternyata ia salah. Rasanya kian sakit. Puncaknya adalah saat Ino mengatakan bahwa ia menyukai Shikamaru. Entah kenapa Sasuke bisa menahannya saat Ino mengatakan ia menyukai bahkan sedang berpacaran dengan seseorang sejak mereka SMA. Ya, Sasuke menyukai Ino sejak mereka SMA. Mulanya Sasuke tidak sadar kalau ia menyukai Ino. Ia hanya merasa tidak suka saat Ino dekat dengan seseorang selain Naruto dan Shikamaru. Meskipun orang itu adalah Hyuuga Neji, ketua OSIS yang di kenal dengan kepintaran serta kebaikan hatinya. Neji adalah sosok yang sempurna untuk wanita manapun. Disaat ketiga sahabatnya yang lain mendukung seratus persen, Sasuke malah tidak setuju. Sasuke sendiri merasa aneh kenapa ia begitu. Ia tidak seperti itu bila hal yang sama terjadi pada Sakura. Saat Sakura menyukai atau bahkan berpacaran, Sasuke mendukungnya. Apalagi bila lelaki yang Sakura pacari dirasa baik dan pantas untuk Sakura.
Mendengar dari mulut Ino sendiri bahwa ia menyukai Shikamaru membuat Sasuke tiba-tiba merasa kecil. Kenyataan bahwa Shikamaru sudah beristri dan rasa suka Ino itu adalah masa lalu tidak membuat rasa cemburu Sasuke reda. Ia tidak menyukai situasi ini. Ia tidak bisa menahannya lagi. Ia harus benar-benar menunjukkan kesungguhannya pada Ino. Harus. Tapi bagaimana caranya?
.
.
.
"Sasuke! Sasuke! Kau dimana? Sasuke! Sasu— ups! Hehe Maaf. Masih setia dengan Calvin Klein?"
Ino mendobrak masuk pada kamar Sasuke dan mendapati Sasuke dalam balutan celana dalam merk ternama di depan lemari raksasa pria itu. Tangan Sasuke memgang sebuah celana yang tampaknya akan dipakai sementara sebuah kemeja putih terbentang rapi di atas ranjang tak jauh dari tempat Sasuke berdiri.
"Kalau kau meminta maaf bukannya seharusnya kau keluar?" tanya pria itu santai seraya memakai celananya. Bukannya keluar, Ino malah masuk kedalam. Mengambil kemeja putih milik Sasuke dari atas ranjang dan membantu memakaikannya pada Sasuke.
"Seperti tidak biasa saja. Dibandingkan para wanitamu, aku yakin aku lebih hapal semua bagian ditubuhmu."
"Hal yang sama berlaku untukmu, nona Yamanaka." Sasuke menyeringai.
Ino berdecak. Tangannya membantu mengaitkan setiap kancing yang ada di kemeja merk Hugo Boss yang menjadi kesukaan pria itu.
"Ada apa kau kemari? Kau mengacaukan pagi tenangku."
Ucapan Sasuke membuat Ino menghentikan gerakan tangannya.
"Benar! Aku lupa! Aku butuh bantuanmu. Ini masalah yang penting sekali. Sangat sangat penting!"
"Masalah apa?" tanya Sasuke.
"Ayahku akan datang!" ujar Ino dengan wajah panik.
Ayah Ino, Yamanaka Inoichi menetap di Cina bersama dengan Deidara, kakak laki-laki Ino sejak dua belas tahun lalu dan sesekali akan mengunjungi Ino ke Jepang.
"Bukannya itu adalah hal yang biasa? Kenapa kau harus panik?" Sasuke bertanya dengan wajah heran. Pria itu membuka salah satu pintu lemarinya dan mengeluarkan sebuah dasi. Ino menyambar dasi itu dari tangan Sasuke. Pria itu secara otomatis menurunkan kepalanya untuk mempermudah Ino memasangkan dasinya.
"Dengan bodohnya dua bulan lalu aku mengatakan pada ayah bahwa aku akan memperkenalkan kekasihku padanya. Aku tidak memberitahu siapa orangnya karena ingin memberikan kejutan pada ayah bahwa kekasihku adalah Sai. Ternyata ayah masih mengingatnya dan ingin bertemu saat datang nanti. Aku harus bagaimana? Aku dan Sai kan sudah berakhir." Ino menjelaskan seraya membuat simpul dasi Sasuke.
"Hn…" Sasuke melipat tangannya di dada seraya berpikir. Ino menatapnya dengan senyum penuh harap pada sahabatnya itu.
"Tinggal katakan saja yang sebenarnya." Senyum itu hilang seketika. Sasuke kemudian menngambil jasnya dan memakainya seraya berjalan keluar kamar. Ino mengikutinya.
"Bagaimana caranya aku bisa mengatakan hal itu. Ayahku senang sekali saat tahu aku punya pacar dan sudah berjalan cukup lama. Aku tidak mungkin menghancurkan harapannya kan?Aku pasti akan sangat merasa bersalah bila melakukannya." Ino mengikuti langkah Sasuke yang berjalan ke arah meja makan dimana sudah tersedia segelas kopi dan sepotong sandwich yang sudah Sasuke siapkan sebelumnya untuk menu sarapannya.
"Jadi kau mau bagaimana? Mencari kekasih dalam waktu dekat sebelum ayahmu datang?"
"Kau punya seseorang untuk dikenalkan padaku?" tanya Ino antusias.
"Kau benar-benar ingin mencari pacar?" tanya Sasuke sambil menyesap kopinya. Ino mengangguk antusias.
"Jadilah kekasihku." Sasuke melanjutkan. Ino terdiam sebentar seolah mencerna dua kata yang baru saja Sasuke katakan itu.
"Oke." Ino kemudian menjawab. Jawaban yang membuat Sasuke tersedak kopinya dan terbatuk.
"Kau bilang apa?!" tanya Sasuke. Tangannya meraih tisu dan membersihkan dagunya yang terkena kopi. Untungnya kemeja putihnya masih aman dari noda.
"Maksudmu kau mau berpura-pura menjadi kekasihku kan? Ide yang bagus! Terimakasih, Sasuke!"
Sasuke memandang Ino yang kini tampak antusias dengan idenya. Ino dan kepekaannya yang berada di level nol. Sasuke hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kalau kau sepertinya ayahku setuju-setuju saja. Kau kan sangat pintar membuat dirimu terlihat seperti laki-laki yang baik."
"Maksudmu aku bukan laki-laki yang baik?" Ino tertawa. Berbanding terbalik dengan Sasuke yang lanjut menyesap kopinya dengan wajah dongkol. Ino mengambil sandwich milik Sasuke dan memakannya.
"Itu milikku, baka." Sasuke mencoba mengambil sandwich itu dari tangan Ino yang malah memilih kabur. Sasuke mengejar langkah Ino yang berjalan cepat mengitari meja makan dapur apartmen Sasuke seraya memakan sandwich ditanganya itu.
"Kenapa kau hanya membuat satu?" tanya Ino seraya berlari dengan mulut penuh sandwich.
"Tentu saja karena aku seorang diri. Siapa yang tahu kalau pengganggu sepertimu akan datang sepagi ini." Sasuke memilih berhenti mengejar Ino. Ia mendudukkan dirinya di kursi dan kembali meminum kopinya.
"Sudah habis!" Ino menunjukkan tangannya yang kosong.
"Tunggu saja pembalasanku." Sasuke menyahut santai. Ino tertawa kemudian berjalan kearah belakang Sasuke lalu memeluk pria itu. Sasuke tersentak. Kian kaget saat Ino mencium pipinya masih dari posisi yang sama.
"Aku akan menggantinya. Kau mau apa?" Ino melepaskan pelukannya. Wanita itu bernita untuk membuka kulkas yang ada disana. Pintu kulkas sudah terbuka setengah ketika sebuah tangan menutup benda itu kemudian membalik tubuh Ino hingga bersandar pada kulkas tiga pintu itu. Ino tercekat saat mendapati wajah Sasuke kini sudah ada tepat didepan wajahnya. Jarak antara wajah meraka yang hanya dua senti meter membuat Ino bisa melihat dengan jelas detail wajah mulus Sasuke.
"Sepertinya kau benar-benar memainkan peranmu sebagai kekasihku, Yamanaka Ino-san." Suara Sasuke tidak pernah sekalipun menggetarkan hatinya seperti saat ini. Ino ingin mengalihkan pandangan tapi matanya seolah terkunci oleh iris sekelam malam itu.
"A-aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Ino merutuki dirinya yang merasa gugup luar biasa.
"Kapan ayahmu datang?" tanya Sasuke lagi. Matanya memandang lurus pada Ino, membuat Ino seolah terpaku dan tidak bisa bergerak.
"Mi-minggu depan."
"Kalau memang kau ingin memperkenalkan aku sebagai kekasihmu pada paman, berarti seminggu dari sekarang kita harus berlatih menjadi pasangan kekasih." Saat mengatakannya, jari telunjuk Sasuke naik membelai wajah Ino dari pelipis hingga dagu wanita itu.
"Aku tidak mengerti."
"Tutup matamu." ujar Sasuke lembut. Seolah terhipnotis, Ino menurut dan menutup kedua matanya.
"Aku akan membuatmu mengerti." Empat kata terakhir sebelum Sasuke benar-benar menutup jarak diantara mereka dengan bibirnya. Kedua tangan Sasuke membingkai wajah Ino memperdalam ciumannya. Ino membuka matanya dan mendapati Sasuke yang menutup kedua matanya. Ino tahu, seharusnya ia menolaknya. Seharusnya ia mendorong Sasuke dan seharusnya ia menghentikan ciuman itu. Seharusnya ia tidak membiarkan tangannya sendiri naik dan meremas kemeja putih Sasuke hingga kusut. Hal yang membuat Sasuke kian memperdalam ciumannya. Tapi Ino tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia menikmati lumatan lembut Sasuke. Saat tangan Sasuke turun kemudian masuk ke dalam blouse coklat muda miliknya, Ino membiarkannya. Ia bahkan mengerang saat tangan Sasuke menurunkan tali branya dari dalam bajunya.
Sasuke melepas pagutan mereka dan berkata dengan suara beratnya.
"Kamarku?" Deru nafas Sasuke hangat menerpa wajah Ino. Ia tidak tahu apa yang salah pada otak dan pikirannya. Tangannya naik melingkari leher Sasuke dan mengangguk sebelum kemudian menjemput bibir Sasuke dengan bibirnya. Yang ia rasakan selanjutnya adalah tubuhnya yang terangkat dan kemudian terhempas di ranjang luas milik sahabatnya itu.
Tanpa membuang waktu, Sasuke melepaskan kemejanya. Memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang terawat akibat gym rutin yang ia lakukan. Sasuke kemudian menyerang Ino dengan ciuman-ciuman menuntut seraya membuka blouse dan celana panjang Ino. Bra hitam yang salah satu talinya telah turun dari bahu serta celana dalam senada merupakan pemandangan yang bisa menggoyahkan pertahanan siapapun.
"Apa aku sudah pernah bilang kalau kau sangat cantik?"
Ino tidak sempat menjawab karena Sasuke kembali menyerang bibirnya. Lidah lelaki itu bermain lincah dimulut Ino. Mengajak lidah Ino untuk ikut bermain bersamanya. Sasuke menyerang leher Ino dengan ciuman-ciuman yang membuat Ino bergerak gelisah dibawah kungkungan Sasuke. Tidak diam saja, tangan Sasuke menyusup ke punggung Ino dan membuka kaitan yang ada disana dengan mudah. Bra hitam keluaran Victoria Secret itu terlempar kebawah ranjang. Remasan lembut kedua tangan Sasuke membuat Ino mengeluarkan desahan tertahan karena Ino menggigit bibirnya.
"Ngh! Sasuke... Ah.. emmh... ah..." Desahan Ino akhirnya keluar saat Sasuke bibir Sasuke turun menyerang puncak dada Ino bergantian.
"Jangan disan— ah.. engh!" Ino mengerang saat Sasuke lidah Sasuke merayap ke bawah payudaranya. Salah bagian tubuhnya yang paling sensitif setelah lehernya. Sayangnya Sasuke sepertinya mengetahuinya hingga pria itu memilih untuk bermain disana lebih lama membuat Ino mendesah hebat akibat perbuatan Sasuke.
Dengan satu tangan, Sasuke berhasil melepaskan helaian terakhir yang menempel ditubuh Ino. Membuat benda itu menyusul pendahulunya yang berada dilantai. Sasuke melihat pemandangan didepannya dengan takjub. Tangannya membelai paha bagian dalam Ino dengan lembut membuat Ino kembali menahan desahannya. Sasuke membimbing kaki Ino agar melebar dan memperlihatkan milik Ino yang sudah basah. Ino hanya bisa menggigit bibirnya. Ia bisa merasakan hembusan nafas Sasuke dipusat tubuhnya.
"Ooh! Enghh... Ahh... Ahh...!" Desahan kembali terdengar saat lidah Sasuke bergeriliya disana. Ino memegang erat bantal yang dipakainya menahan sensasi geli nan memabukkan di pusat tubuhnya. Seolah ada ombak bergulung di perut bawah Ino saat lidah Sasuke semakin bergerak cepat. Ino merasa ia hampir mencapai puncaknya saat Sasuke malah menghentikan gerakannya.
"Kenapa kau berhenti?!" Ino bersorak kesal pada Sasuke yang tersenyum padanya. Lelaki itu naik dan mencium bibir Ino sekilas.
"Kau mau aku melanjutkannya?" tanya pria itu.
"Sasuke kau tahu aku sudah ham— Ah...! Ah... engh.. Oh! Oh!"
"Aku tahu kau hampir sampai. Karena itu aku harus melihatnya sendiri. Aku ingin melihat wajahmu saat mencapai puncak." Sasuke berbisik ditelinga Ino sementara jarinya bermain dibawah Ino. Jari tengahnya bergerak keluar masuk sementara ibu jarinya membelai klitoris Ino hingga membuat Ino menggelinjang tak menentu. Wanita itu menutup matanya menikmati perbuatan Sasuke.
"Bagaimana?"
"Ah.. Ah.. emmh.. ah..."
"Hn. Kau tidak menjawab. Apa aku hentikan saja?" Sasuke berbisik ditelinga Ino.
"Sasukehh..."
"Hn?"
"Janganhh... ah! permainkan akuhh! Oh!"
"Kau yang tidak menjawab pertanyaanku. Bagaimana rasanya?" Sasuke kembali mempermainkan Ino. Lidahnya bermain di telinga Ino. Wanita itu masih sibuk mendesah, tidak menjawab pertanyaan Sasuke.
"Baiklah. Kita hentikan sa—" / "Ini... Ah.. Jangan coba-coba berhenti Sasuke baka! Aku akan membunuhmu!"
"Ancamanmu mengerikan sekali. Baiklah, sayang." Sasuke mempercepat permainan jarinya. Ino bisa merasakan bahwa sebentar lagi, ia akan mencapai puncaknya.
"Aaaaaaah! Engh!" Desahan panjang Ino pertanda wanita itu sudah mencapai klimaksnya. Nafasnya terengah akibat sensasi yang baru saja ia rasakan. Sasuke disampingnya menyeringai. Pria itu mengecup pipi Ino. Ino memandang Sasuke dengan mata menyipit marah.
"Beraninya kau mempermainkanku!" Ino balik menindih Sasuke. Ia mendudukkan dirinya di paha Sasuke yang masih berbalut celana panjang hitamnnya.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sasuke.
"Menurutmu?"
"Ino, hentikan." Sasuke berujar saat melihat Ino membuka kancing celananya dan menarik benda itu turun hingga ke pertengahan kaki Sasuke. Menyisakan briefs hitam merk ternama itu.
"Apa aku pernah mengatakan kalau Calvin Klein hanya pantas dipakai olehmu?"
"Kau tidak pernah mengatakannya. Ino, stop. Kau tidak perlu samp— ugh!" Sasuke melenguh saat Ino menurunkan benda terakhir yang menempel pada tubuhnya dan memegang adik kebanggaannya dengan jemari lentik wanita itu. Milik Sasuke memang sudah menegang sejak tadi, tapi kian menantang saat Ino mulai menggerakkan tangannya naik turun.
"Karena Uchiha Sasuke yang memakai Calvin Klein terlihat sangat seksi."
"Ugh!"
Ino mempercepat gerakan tangannya membuat Sasuke susah payah menahan lenguhannya. Saat Ino mulai menggunakan mulutnya, Sasuke tidak bisa lagi menahan suaranya. Pria itu mendesah, sesekali menggeram dan menutup matanya menikmati apa yang Ino lakukan dibawah sana. Di umur mereka yang sudah melewati angka tiga puluh dan hidup dikota seperti Tokyo, sex before married adalah hal yang sangat biasa. Mereka berlima sangat terbuka soal itu. Ino sendiri pernah tidur dengan salah satu pacarnya yang Sasuke tidak ingat siapa namanya. Wanita itu yang bercerita pada mereka saat kumpul bersama. Namun Sasuke tidak tahu bahwa Ino bisa sehebat ini dalam blowjob. Sasuke merasakan kenikmatan yang luar biasa yang diberikan oleh Ino lewat mulutnya.
Saat Sasuke merasa klimaksnya akan sampai, ia bangkit dari posisi berbaringnya dan menghentikan Ino.
"Kenapa?"
"Harga diriku bisa turun karena klimaks sebelum highlight dimulai." Ino berdecak.
"Kau masih memikirkan hal itu?"
Sasuke membaringkan Ino, memposisikan dirinya tepat dilubang milik Ino yang telah membuka lebar kakinya.
"Kau yakin?" tanya Sasuke.
"Kita sudah sejauh ini dan kau masih bertanya?"
"Ino, kita bisa berhenti jika kau mau."
"Berhenti sekarang malah akan menyiksa kita berdua. Lakukan sekarang."
Keduanya melenguh nikmat saat penyatuan terjadi. Sasuke menyembunyikan wajahnya diceruk leher Ino berusaha menikmati sensasi saat miliknya dijepit oleh milik Ino. Sasuke menggerakkan tubuhnya perlahan, menyesuaikan diri dengan sempitnya kewanitaan Ino.
"Ahh... Oh... Ahh... Ahh..." Desahan Ino terdengar seiring dengan gerakan tubuh Sasuke menusuk miliknya. Iris birunya menatap pada mata kelam Sasuke yang juga menatapnya dengan pandangan penuh nafsu. Sesekali pria itu melenguh dan menutup matanya.
"Ugh sial!" Sasuke menggerutu melihat payudara Ino yang ikut bergoyang seiring dengan tubuh pemiliknya yang bergoyang akibat gerakan mereka. Tangan Sasuke naik meremas salah satu buah dada Ino sedangkan mulutnya bekerja untuk yang satunya. Sasuke bergerak konstan menikmati penyatuan mereka.
"Sasuke no baka. Bisakah kau enghh... lebih cepat?"
"Bisa-bisanya kau memanggilku baka disaat seperti ini." Sasuke mempercepat gerakannya membuat desahan Ino kian kencang. Ia bisa merasakan bahwa klimaksnya akan datang sebentar lagi.
"A-aku... Aku.. Aaaaahhh!" / "Uuughh!"
Desahan dan lenguhan panjang keduanya menjadi tanda bahwa mereka telah mencapi puncak kenikmatan masing-masing. Sasuke menjatuhkan dirinya ke samping Ino yang kini terengah. Keduanya memandanng pada langit-langit kamar Sasuke yang berwarna abu-abu.
"Ini berlatih yang kau maksud?" tanya Ino kemudian. Ino menghembuskan nafasnya, kemudian melanjutkan.
"Aku tidak menyangka melakukan sex dipagi hari yang cerah dengan seorang Uchiha Sasuke."
"Ino, maafkan aku."
Ino mendecih mendengar apa yang Sasuke katakan.
"Ini bukan hanya salahmu. Apa sekarang kau menyesalinya?" tanya Ino. Ia berbalik membelakangi Sasuke.
"Aku tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Aku hanya menyesali diriku yang seharusnya bisa menahan diri.
"Sama saja, baka."
"Tidak. Tidak sama." Sasuke meraih selimut dan menutupi tubuh keduanya.
"Sasuke," panggil Ino.
"Hn?"
"Sahabat tidak melakukan hal seperti ini."
"Aku tahu."
"Tapi kita sudah melakukannya."
"Hn."
"Kalau begitu hubungan persahabatan kita berakhir. Dan untuk masalah ayahku, aku akan minta bantuan orang lain."
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N :
ADEK ADEK KECIL MUNDUUUR... o
Nihao yeorobun. Anyeong Konichiwa buat kita semua. Ada yang panas baca cerita ini? Astaga, aku ketar ketir nulis hard lemon kayak gini. Udah hard belum nih? Maaf buat yang ga suka lemon. Maaf juga untuk penggemar lemon kalau mengecewakan.
Aku bersyukur karena sudah cukup umur. Wkwkwk. Sejak awal cerita ini udah aku bikin rate M ya. Alasan aku membuat umur mereka yang sangat dewasa itu adalah supaya bila ada scene mantap-mantap bisa lebih mantap karena umut mereka yang sudah mantap juga. Ga tau deh aku mau ngomong apa.
Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk pembaca setia yang masih menunggu cerita aku dengan sabar. Sehat-sehat ya kalian semua. Terimakasih banyak karena sudah mendoakan kesehatan aku. Aku juga selalu mendoakan teman-teman semua agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Yang sekolah lagi study from home dan banyak tugas semangat ya. Yang work from home juga semangat ya. Maaf ya karena ga bisa balas ripiu teman-teman satu persatu. Karena chapter ini special berkat lemon jahe SasuIno, aku akan balas ripiu kalian tentang chapter ini minggu depan.
Untuk Jalapeno-san yang nanya apakah cerita ini akan complete sebelum bulan puasa. Hehe Sepertinya kamu sudah ada feeling tentang lemon ini ya? Fufufu. Semoga aja bisa selesai sebelum ramadhan ya. Aku juga tidak mau membuat kalian berpikiran yang iya iya selama puasa. Haha. Love you Jalapeno-san 3
Sekian laporan dari Gedung Hokage.
Salam,
Yana Kim ^_^
