WHO'S THE FAIREST OF THEM ALL
Disclaimer
All Character here is belongs to Masashi Kishimoto
Warning
Canon, Typo bertebaran, dan kekurangan-kekurangan lainnya.
Happy Reading
.
.
Sakura terbangun ditempat yang asing. Ia melihat sekeliling. Dilihatnya 7 orang kurcaci mengawasinya disudut ruangan.
"Dia sudah sadar" ucap salah seorang kurcaci. Para kurcaci itu bergerak mendekati ranjangnya.
"Siapa kalian?" tanya Sakura.
"Disini kami yang bertanya. Siapa kau?" balas kurcaci yang tampaknya merupakan pemimpin disana.
"Aku Sakura. Sakura Haruno"
"Sakura? Tidak mungkin" ujar mereka.
"Sakura diistana..." ujar pemimpin kurcaci itu.
"Dan dia dikurung dimenara" sahut yang lainnya.
"Mungkin ini Sakura yang lain" ucap seorang kurcaci bermata merah.
"Apa?"
"Itu kan nama yang umum" jawab si Mata Merah asal.
"Jika kau Sakura. Lalu siapa ayahmu?" tanya kurcaci berkuncir tinggi.
"Jiraiya. Raja Jiraiya" jawab Sakura.
"Nah kan... benar dia Sakura" teriak Si Mata Merah kegirangan.
"Aku bilang jangan percaya dengan orang yang tingginya lebih dari 1,2 meter" oceh kurcaci berambut panjang dengan tatapan dingin pada Sakura.
"Kalau begitu ayo kita bawa dia kembali ke hutan dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa" timpal kurcaci berambut klimis.
"Dasar bodoh. Dia itu putri berarti dia berharga" debat pemimpin kurcaci itu.
"Ah, benar juga. Kita bisa meminta tebusan" ujar Si Klimis lagi.
"Emas sekantung penuh" timpal kurcaci berambut merah.
"Mungkin kita bisa lebih mengenalnya dulu" sahut kurcaci berwajah boneka sambil tersenyum manis pada Sakura.
Sakura mendudukkan dirinya dikasur. "Kalian tidak akan mendapatkan emas. Ratu ingin membunuhku. Ia memerintahkan pengawalnya untuk membuangku ke hutan agar dimangsa hewan buas" jelas Sakura sedih.
"Mengapa ratu ingin membunuhmu" tanya Si Rambut Kuncir.
"Karena dia jahat" sahut Sakura.
"Dia memang jahat" sahut Si Klimis.
"Ya. Dia penyihir" timpal yang lain.
Tiba=tiba kurcaci yang berwajah dingin menggebrak meja. "Cukup! Kita banyak urusan" tegasnya.
"Waktunya berpisah" ucapnya dingin.
Sakura panik mengetahui ia akan diusir.ia tak punya tempat tinggal dan tak tahu harus kemana lagi. "Tunggu. Kalian tidak bisa mengusirku seperti ini. Aku tidak tahu harus kemana lagi" ucapnya gelisah.
"Jika Ratu menemukanmu disini, dia akan membunuh kami juga" debat kurcaci berwajah dingin.
Sakura terlihat makin gusar. "Tolong... biarkan aku menginap sehari saja" pintanya.
Para kurcaci terlihat berpikir sejenak. "Berkumpul" perintah Pemimpin Kurcaci. Mereka tampak bemusyawarah sambil berdiri melingkar. Kemudian mereka berbalik pada Sakura lagi.
"Sayang sekali, Sakura. Pemilihannya harus mutlak" Pemimpin kurcaci melirik ke arah kurcaci berwajah dingin. Nampaknya Si Kurcaci Berwajah Dingin itu tak setuju jika Sakura menginap.
Kemudian Sakura menatap Si Kurcaci Berwajah Dingin yang tengah duduk disudut ruangan. Ia menampakkan wajah memelas. Kurcaci itu yang risih melihat ekspresi Sakura akhirnya menyerah. "Oke sehari".
"Terimakasih" ucap Sakura lega.
"Ayolah. Kita banyak pekerjaan" ajak Si Kurcaci Berwajah Dingin.
"Tunggu. Aku tidak tau nama kalian" ujar Sakura.
"Aku Itachi" ucap Si Kurcaci Berwajah Dingin.
"Aku Pein" ujar Pemimpin kurcaci.
"Aku Hidan" sapa Kurcaci berambut klimis.
Kurcaci bermata merah. "Kalau aku Tobi".
"Aku Deidara, un" sapa kurcaci berkuncir tinggi.
"Aku Nagato" ucap kurcaci berambut merah.
Sementara itu Kurcaci Berwajah Boneka mengedipkan sebelah matanya pada Sakura, bermaksud menggoda. "Aku Sasori"
Sakura hanya tersenyum simpul menerima godaan Sasori.
Para kurcaci meninggalkan Sakura untuk beristirahat. Mereka kemudian bersiap-siap melakukan pekerjaan mereka diluar gubuk.
Deidara merasa menyukai keberadaan Sakura digubuk kurcaci. "Kawan-kawan, aku suka dia".
"Ya aku juga" sahut Sasori dengan senyum manis membayangkan wajah cantik Sakura.
"Membawa sentuhan feminin" tambah Deidara.
Sementara itu Itachi terlihat tidak setuju dengan pendapat Deidara. "Menurutku dia hanya akan membawa pasukan Ratu"
"Menurutmu dia sudah punya pacar?" tanya Sasori tiba-tiba. Sepertinya Sasori sudah terpesona dengan kecantikan Sakura.
"Ya" jawab Itachi singkat dan dingin.
Mendengar jawaban Itachi Sasori langsung tersenyum kecut. Kesal karena Itachi merusak kebahagiaannya.
Para kurcaci telah selesai memasang perlengkapan kerjanya. Sepatu khusus yang mereka pakai dapat meninggi dan memendek otomatis. Hal ini berguna untuk mempermudah pekerjaan mereka. Mereka pun berangkat dengan arahan dari Pein.
.
.
Di istana Ratu Tsunade mengumumkan perihal kematian Sakura kepada seluruh pelayan istana dengan ditemani Shizune, asisten setianya.
"Sakura Haruno telah tiada..." ucap Shizune.
Mendengar hal itu seluruh pelayan istana terutama Ayame merasa terpukul. Mereka mulai menangis. Ratu mempersilahkan Shizune melanjutkan pidatonya.
Shizune melanjutkan pidatonya dengan wajah sendu. "Salah satu misteri Tuhan adalah rencanaya... untuk diri kita masing-masing. Sakura Haruno telah pergi. Semoga jiwanya tenang. Amin".
"Makan siang akan disajikan pukul 14.00" lanjut Shizune. Kemudian Shizune dan Ratu Tsunade meninggalkan aula istana dengan memasang wajah sendu.
.
.
Salju tipis turun di kota Konoha. Beberapa warga kota tampak berkumpul sembari membuat perapian dari kayu bekas dan tong bekas didepan balai kota. Warga Konoha memang memiliki kebiasaan berkumpul didepan balai kota setiap sore atau malam hari hanya untuk mengobrol. Obrolan mereka sebenarnya tak jauh-jauh dari makin susahnya mencari pekerjaan atau gaji dari pekerjaan dan kebutuhan hidup yang jomplang belum lagi pajak rakyat yang makin hari makin mencekik. Keluhan-keluhan ini bukan tak pernah mereka sampaikan kepada walikota, namun seorang walikota pun tak berdaya menghadapi Ratu Tsunade yang terkenal bertangan besi.
Shizune berlari-lari kecil menuju papan pengumuman dibalai kota. Warga mulai menampakkan wajah cemas. Keberadaan Shizune di balai kota bukanlah kabar baik. Ia hanya kesini saat mengumumkan kenaikan pajak atau mengambil pajak dari walikota.
Tanpa basa-basi Shizune memasuki kantor walikota. "Walikota, aku ingin mengambil uang pajaknya"
Walikota tampak menahan kesal. Ia mengeluarkan sekantong koin emas. "Rakyat sudah tak sanggup lagi". Walikota berusaha menahan uang itu meskipun akhirnya Shizune merampasnya dengan paksa.
"Apa kau sungguh akan berdebat tentang pajak ini dibandingkan berduka?" sindir Shizune ketus. Walikota menyerah ia hanya terdiam. Setelah mendapatkan uangnya ia segera pergi dari balaikota.
.
.
Didalam kereta menuju istana, Shizune mennghitung koin emas hari itu. Memastikan bahwa jumlahnya pas karena Ratu Tsunade tak akan segan-segan menghukumnya jika jumlah yang dibawa kurang dari peraturan.
Kereta istana berada ditengah hutan saat sesosok kurcaci mengetapel pengawal yang menjadi kusir kereta. Kereta itu otomatis berjalan tanpa adanya kusir. Kuda kereta itu berpacu tak terkendali. Dari arah belakang kereta Deidara dan Pein mengejar kereta untuk mengendalikan larinya kuda. Setelah berhasil mereka mencopot baut penghubung antara kuda dan kereta.
Shizune merasa aneh dengan jalannya kereta tersebut. Ia mencoba mengintip. Ia terkejut mengetahui kuda kereta itu telah lepas entah kemana dan kereta itu berjalan menuju gundukan batu besar. Sesuai perkiraan kereta tersebut berguling begitu pula dengan Shizune didalamnya.
Para kurcaci menengok Shizune didalam. "Lihat siapa ini?"
"Kurasa ia seorang bangsawan" ucap Itachi.
"Apa kau seorang bangsawan?" tanya Tobi.
Shizune menggeleng panik mengetahui mereka adalah gerombolan bandit. "Aku bukan bangsawan hanya seorang pelayan biasa"
"Tapi kau menaiki kereta istana" sindir Deidara.
Shizune menelan ludahnya susah payah. "Ini sewaan"jawabnya berbohong.
"Kau memakai pakaian seperti bangsawan" ucap Hidan enteng.
Shizune berkeringat dingin ketakutan. "Maksudmu baju buruk ini? Kalian harus sering keluar hutan ini" ujarnya beralasan.
Itachi menengok ke arah bungkusan koin emas. "Bungkusan apa itu?"
Shizune yang panik buru-buru mengamankan kantong emas itu dalam dekapannya. "Ini makan siangku" ucapnya gelagapan.
"Coba aku lihat" pinta Tobi dengan wajah mengancam.
Tidak sabar Deidara merebut kantong tersebut. Ia kegirangan melihat isi dari kantong itu. "Kawan-kawan, ini koin emas, un".
"Berikan padaku. Ini uang Ratu" perintah Shizune sembari merebut kantong emasnya.
Perintah Shizune hanya dijawab dengan todongan belati oleh bandit kurcaci itu. Shizune akhirnya menyerah dengan terpaksa ia menyerahkan kantong itu. "Jangan habiskan disatu tempat".
.
.
Para kurcaci memasuki gubuknya dengan bahagia. Bagaimana tidak? Mereka mendapatkan tangakapan besar hari ini. Sekantung penuh emas dan pakaian mahal. Tentu hasil rampokan itu lebih banyak dibandingkan hasil bekerja secara jujur.
Sakura yang melihat para kucaci pulang berdehem pada mereka. Memberikan kode bahwa Sakura telah melakukan banyak hal hari ini, mulai dari membersihkan rumah itu hingga memasakkan makan malam untuk mereka. "Ehemm... selamat datang".
Para kurcaci serempak menoleh. Mereka terpana menatap sajian makan malam dimeja. Air liur mereka menetes melihat nasi hangat yang masih mengepul, sup miso hangat, dan lauk-pauk lainnya.
Hidan terlebih dahulu mendekati meja. "Hmmm... baunya sedap sekali".
Disusul oleh Tobi yang berlarian menuju meja. "Terima kasih".
Kemudian para kurcaci ikut bergabung dengan Tobi dan Hidan dimeja makan. Bahkan Itachi yang sedari pagi menampakkan wajah dingin pada Sakura terlihat sumringah. Ia tersenyum lebar pada Sakura. "Aku rasa dia boleh tinggal lebih lama".
Para kurcaci mulai menyendok sup dan menikmati sajian malam itu. Mereka tak henti-hentinya memuji masakan Sakura. Bahkan beberapa terlihat makan dengan rakusnya. Seolah-olah belum makan selama seminggu.
Sakura hanya tersenyum simpul melihat tingkah para kurcaci. Ia kemudian memerikasa peralatan kerja para kurcaci, berniat membereskannya. Saat mencoba membereskan peralatan kerja para kurcaci itu, ia melihat seragam pengawal istana. "Kenapa kalian memiliki seragam pengawal istana?"
Deidara menjawab dengan mulut penuh. "Khami... dhaphat dari pekherjaan khami".
Sakura sejenak mencerna ucapan deidara. Ia mengerutkan keningnya. "Pekerjaan apa?"
"Kami... pembelot" jawab Deidara ragu.
"Pemberontak" tambah Itachi.
"Pencuri" teriak Sasori kegirangan.
"Benar" Pein menyetujui.
"Kami mengambil emas Ratu" ucap Nagato.
Sakura terlihat sedikit kaget. Ia terkejut para kurcaci bisa merebut emas itu dari pengawal istana yang pasti sudah terlatih. "Kalian mauk ke istana?"
Deidara menggeleng. "Tidak, kami mendapatkannya dihutan perbatasan kota".
"Jadi kalian sebenarnya mencuri uang rakyat?" tanya Sakura.
Nagato mengangguk setuju. Kemudian Hidan menjitak kepalanya kesal. "Tidak juga".
Sakura marah mengetahui para kurcaci merampas uang rakyat, meskipun secara tidak langsung. "Tentu saja. Lihat ini uang rakyat". Sakura memperlihatkan koin-koin emas yang merek dapat.
"Ini tidak benar. Mereka membutuhkannya. Kalian harus mengembalikannya" lanjut Sakura.
"Kami sudah bekerja keras" ujar Hidan beralasan. Yang langsung dietujui oleh kurcaci lainnya.
Sakura menghela napas menenangkan emosinya. "Mencuri bukan pekerjaan" tegas Sakura.
"Tentu saja itu pekerjaan" debat Sasori.
"Kerja keras" sahut Pein.
"Benar, mencuri butuh kerja keras. Berarti itu pekerjaan" ucap Deidara menjelaskan.
Sakura melipat kedua tangannya didada. Ia siap mendebat siapa saja yang berpikir mencuri adalah sebuah pekerjaan. "Oh maaf kalau kalian sudah bekerja keras. Tapi rakyat membutuhkannya".
"Mereka membenci kami" sahut Tobi.
Sakura terkejut mengetahui rakyat membenci kurcaci. Setahunya, rakyat Konoha adalah orang-orang baik yang tidak mendiskriminasi hanya karena bentuk fisik orang lain. Setidaknnya begitulah mereka saat ayahnya memimpin. "Itu tidak benar".
"Benar, mereka tidak menyukai kami" ucap Nagato sedih.
Pein kemudian mengambil alih perdebatan itu. Ia menceritakan bagaimana para kurcaci dibenci oleh rakyat Konoha. "Bertahun-tahun yang lalu, ketika Ratu mengusir yang tidak dinginka tak ada satupun yang mendukung kami. Dia bilang..."
"Usir semua yang buruk" Sasori melanjutkan. Para kuracaci menunduk sedih mengingat kejadian itu. Mereka masih ingat benar rasanya menjadi orang buangan, orang yang tidak diinginkan.
Sakura ikut merasa sedih dengan cerita Pein. Ia tahu bagaimana Ratu bertindak semena-mena pada orang-orang yang tak ia sukai. Sakura adalah salah satu korbannya. Sepanjang hidupnya, Sakura tak pernah sekalipun diperlakukan adil. Ia selalu dikurung dimenaranya, tak boleh bertemu orang luar. Disembunyikan. "Kalian telah diperlakukan buruk oleh Ratu. Dan tak ada seorangpun yang lebih mengerti dibandingkan aku. Memang tidak adil, tapi sama saja dengan mencuri dari keluarga tak berdosa".
Para kurcaci menunduk. Mereka tampak menyesal dengan semua pemberontakan yang mereka perbuat selama ini. Mereka telah melampiaskan dendam pada target yang salah, yaitu rakyat. Pein membuka suara. "Dulu kami bukanlah pencuri. Kami punya pekerjaan sungguhan. Aku seorang pelatih bela diri".
"Aku seorang guru" timpal Tobi.
"Aku seorang tukang daging" Itachi ikut bersuara.
"Sementara aku punya pub" ucap Nagato.
"Aku seorang pekerja seni sungguhan. Begitu pula Sasori" sahut Deidara. Sasori mengangguk menyetujui.
"Aku sedikit tidak jujur sih. Aku mencuri sedikit" ucap Hidan meringis.
Nagato menaikkan sebelah alisnya. "Sedikit?".
Hidan manyun mendengar sindiran Nagato. "Itu bisnis keuangan".
"Itu alasannya?" Pein ikut menyindir.
Mendengar sindiran Pein, Hidan makin merengut. "Semua orang melakukannya. Ya kan?".
"Aku tidak" tanggap Deidara.
"Aku juga tidak" sahut Itachi.
"Tapi kau berjudi" sanggah Hidan pada Itachi.
Itachi mengelak "Aku tidak pernah berjudi".
"Ya. Kau bermain poker. Dan kau curang dalam poker" ucap Hidan mencoba menyudutkan Itachi.
Itachi yang tak terima dengan ucapan Hidan, menyanggah dengan ngotot. "Aku tidak curang".
Kemudian terjadilah perdebatan antara Hidan dan Itachi mengenai kecurangan dalam bermain poker. Dan perdebatan itu melibatkan semua kurcaci. Mereka saling menyudutkan dan menunjukkan kecurangan masing-masing. Saking asyik berdebat, para kurcaci tak sadar Sakura sudah kabur membawa kantong emas hasil rampasan mereka.
Itachilah yang pertama menyadari hilangnya Sakura dan emas mereka. Ia menggebrak meja. "DIAM! Mana emasnya?".
Menyadari bahwa emas mereka dibawa kabur Sakura, para kurcaci kalang kabut mencoba mengejar. Mereka berebutan mencoba mengambil per enggrang masing-masing. Namun, mereka masih meributkan pemilik alat tersebut, sehingga Sakura bisa kabur lebih leluasa. Pein yang kesal dengan kekacauan itu meneriaki para kurcaci. "Hei! Tinggalkan saja alatnya. Kejar dia!". Dengan teriakan itu. Mereka segera mengejar Sakura dengan kaki kecil mereka.
Sementara itu, Sakura yang memiliki kaki lebih panjang sudah berlari jauh dari jangkauan para kurcaci. Ketika Sakura sampai dikota, ia segera menuju kantor walikota. Ia meletakkan kantung penuh emas itu dimeja walikota. Hal ini tentu saja membuat walikota tekejut sekaligus senang mengetahui uang rakyat kembali. Ia pun menarik Sakura ke depan balai kota. Ia menyuruh semua warga berkumpul. "Wahai warga Konoha berkumpullah aku ada pengumuman penting".
Saat seluruh warga kota sudah berkumpul, walikota mengangkat tang Sakura tinggi-tinggi. Seolah-olah tengah mengumumkan pemenang turnamen tinju. "Wahai warga Konoha uang kita telah dikembalikan...".
Warga Konoha berteriak kegirangan mendengar pengumuman itu. Mereka bertepuk tangan meriah sekali.
"Yang mengembalikan adalah. Nona ini..." teriak walikota kembali.
"Siapa namamu Nona? Sebutkanlah" ucap walikota.
"Aku-" Sakura hendak menyebutkan namanya saat para kurcaci menyeruak kerumunan.
"Tunggu dulu" Teriak Pein. Ia berusaha menyelip diantara orang-orang untuk menangkap Sakura.
Sakura yang merasa takut ditangkap oleh para kurcaci segera berpikir cepat untuk keluar dari masalah tersebut. "Oleh pria-pria itu" tunjuknya pada para kurcaci.
"Pria-pria itu yang mengembalikan uangnya. Ratu berkata mereka todak berguna tapi ia berbohong. Mereka adalah pria hebat dan pahlawan sesungguhnya" ucap Sakura.
Para kurcaci menatap Sakura dengan wajah kebingungan. Mereka berusaha mencerna maksud perkataan Sakura didepan warga Konoha.
Melihat kesempatan itu, Sakura melanjutkan pidatonya. Ia yakin rakyat Konoha mulai berubah pikiran setelah mendengar pidatonya tentang kepahlawanan kurcaci. "Dengan gagah berani mereka menghadang kereta Ratu dan merebut kembali emasnya. Merekalah yang pantas mendapatkan ucapan terimakasih"
Ucapan Sakura disambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai rakyat Konoha. Mereka kemudian bersalaman dengan para kurcaci untuk mengucapkan terimakasih. Para kurcaci tentunya senang diperlakukan selayaknya pahlawan. Mereka yang selama ini terusir kini dapat kembali diterima oleh masyarakat dan ini semua berkat Sakura. Pein melirik Sakura sekilas, ia menggumamkan terimakasih. Sementara Sakura hanya nyengir.
.
.
To be Continued
