FILIA

Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.

Story By : Yana Kim

Lenght : Chaptered

Rate : M

WARNING!

.

Uchiha Sasuke x Yamanaka Ino

SUM:

Persahabatan lima anak manusia dengan motto 'tidak boleh ada cinta dalam persahabatan'. Naruto, Sakura dan Shikamaru telah menikah dengan pasangan masing-masing. Tinggallah Sasuke, si pengusaha kaya tapi playboy dan Ino si desainer cantik yang mudah jatuh cinta, mudah juga patah hati.

.

.

.

Empat

.

.

.

Tok tok!

"Masuk."

"Sasuke-sama. Ini berkas dari Divisi Keuangan yang harus anda periksa. Laba kita meningkat pesat tahun ini, tapi pengeluaran kita juga meroket. Anda bisa memfokuskan pemeriksaan pada rincian pengeluaran."

Juugo meletakkan map tebal berwarna abu-abu berisi lebaran laporan ke meja Sasuke. Beberapa berkas lainnya masih menumpuk disebelah kanan meja pertanda berkas-berkas itu belum diperiksa. Sementara sisi kiri meja bosnya itu hanya terdapat sebuah map. Apakah dua hari ini bosnya itu hanya memeriksa satu berkas saja?

"Hn. Aku mengerti."

"Perpanjangan kontrak dengan Senju Company yang kemarin saya berikan apakah sudah anda periksa? Kita harus segera mengirimkan balasan."

"O-oh. Belum. Aku akan memeriksanya sekarang." Sasuke melihat-lihat tumpukan berkas dimejanya mencari berkas yang dimaksud sekretaris merangkap asistennya itu. Juugo mengambil satu dari antara tumpukan itu dan meletakkannya di depan Sasuke.

"Aa. Terimakasih."

"Anda baik-baik saja?" tanya Juugo.

"Hn? Ya. Aku baik-baik saja. Kau boleh keluar."

Juugo membungkukkan badannya sekilas kemudian keluar dari ruangan luas Sasuke. Ada yang aneh dengan bosnya ini sejak datang terlambat dua hari yang lalu. Tidak biasanya bosnya itu datang terlambat tanpa pemberitahuan. Biasanya, Sasuke akan selalu memberitahukan bila ia terlambat atau bahkan tidak datang ke kantor agar Juugo bisa mengatur ulang jadwalnya ataupun membatalkan janji yang ada sebelumnya. Juugo merasa kalau sang bos sedang memikirkan sesuatu. Yang pasti bukan masalah perusahaan karena tidak ada kendala yang terjadi akhir-akhir ini. Malah semuanya berjalan lancar. Sasuke lebih banyak termenung, namun sesekali juga melihat ponselnya. Juugo tidak tahu apa yang sudah terjadi, namun yang pasti bosnya itu sedang tidak baik-baik saja.

Setelah Juugo keluar, Sasuke mencoba memfokuskan pikirannya pada berkas didepannya. Perpanjangan kontrak kerja sama dengan Senju Company dalam proyek resort di Kanagawa. Salah satu proyek yang berhasil menambah omset untuk perusahaannya. Seperti kata Juugo, mereka harus segera mengirim balasan. Tapi sayangnya Sasuke tidak yakin ia bisa memeriksa berkas itu dengan benar kalau pikirannya saja sedang kacau. Pikiran terus melayang pada kejadian dua hari yang lalu. Kenyataan bahwa Ino mengabaikan panggilan teleponnya dan menolak bertemu dengannya saat Sasuke mendatangi butik maupun apartmen wanita kian membuat pikirannya kacau.

"Kalau begitu hubungan persahabatan kita berakhir. Dan untuk masalah ayahku, aku akan minta bantuan orang lain."

"Apa yang kau bicarakan?!" Sasuke mendudukkan dirinya. Memandang heran pada punggung Ino yang membelakanginya itu.

"Kita sudah melakukan kesalahan, Sasuke. Aku yakin kau mengerti." Ino menyahut.

"Oke, aku yang salah. Aku minta maaf, jadi tarik omonganmu sebelumnya tentang mengakhiri persahabatan kita."

"Ini bukan hanya salahmu, Sasuke. Aku ikut andil dalam kesalahan ini. Jadi kita harus bertanggungjawab dengan mengakhiri hubungan persahabatan kita." Ino mengeraskan suaranya.

"Kalau begitu lupakan masalah ini. Anggap ini tidak pernah terjadi. Lupakan apa yang sudah kita lakukan dan kembali seperti biasa."

Ino ikut mendudukkan dirinya dengan selimut menutupi dadanya.

"BAGAIMANA MUNGKIN AKU MELUPAKAN KEJADIAN INI?!" teriak Ino.

"MENURUTMU BAGAIMANA MUNGKIN AKU HIDUP TANPAMU?!" Sasuke balas berteriak.

"Tidak apa-apa kalau kau mencari orang lain untuk menjadi kekasih didepan ayahmu. Aku memang lelaki brengsek yang tidak pantas bahkan untuk berpura-pura menjadi kekasihmu. Tapi mengakhiri persahabatan kita? Kau pikir aku mau? Kau pikir aku bisa? Kau pikir aku sanggup?!" Sasuke melanjutkan.

"Kau bisa. Kau pasti bisa. Karena kau Uchiha Sasuke. Kau punya banyak wanita yang bisa memperhatikanmu lebih dari aku."

Ino turun dari ranjang dengan tubuh polosnya, memungut pakaiannya yang berserakan dan berjalan kearah pintu.

"Aa... aku lupa kalau kau juga tidur dengan mereka dikamar ini. Sepertinya akan sedikit lebih baik kalau kita melakukannya di kamar tamu. Entah kenapa menyadari hal itu, ada sepercik penyesalan timbul dihatiku." Setelah mengatakan kalimat itu, Ino keluar dari kamar itu. Sasuke ingin mengejar, ingin sekali mengejar Ino. Namun tubuhnya terasa dipaku ditempatnya. Ya, kata-kata terakhir Ino yang membuat tubuhnya tidak bisa bergerak. Bahkan mulutnya pun tak sanggup untuk memanggil nama wanita itu.

.

.

.

Yamanaka Ino sedang berjongkok pada kumpulan mawar kuning yang mekar dengan cantiknya. Saat ini ia tengah berada di sebuah taman yang berada tak jauh dari butiknya. Ia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia menghabiskan waktu dua hari ini untuk menyelesaikan dress pesanan langganannya. Ia menghabiskan waktunya penuh hanya untuk mengerjakan pekerjaannya. Ia hanya berhenti untuk makan dan ke kamar mandi. Itu pun karena pegawainya mengingatkannya untuk makan dan minum.

Pikirannya sedang kacau dan ia butuh pelampiasan untuk mengalihkan pikirannya dari Uchiha Sasuke dan masalah yang terjadi diantara mereka. Ia berharap Sakura ada disisinya untuk mendengarkan curahan hatinya. Tapi apa Ino sanggup menceritakan apa yang terjadi pada Sakura? Ini menyangkut persahabatan mereka. Ia tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Sasuke. Naruto dan Shikamaru juga. Rasanya Ino tidak sanggup bertamu tiga orang itu karena apa yang sudah terjadi. Ino mengotori persahabatan mereka. Ino menghancurkannya. Oke, Sasuke juga. Tapi Ino punya kesempatan untuk menghentikannya. Sasuke memberikan kesempatan itu, kesempatan untuk mereka berhenti. Tapi dengan bodohnya Ino malah dikuasai oleh nafsu dan menghancurkan semuanya. Dia yang salah. Ino yang salah.

Pandangannya masih setia pada lima tangkai bunga mawar kuning didepannya. Siapapun yang merawat taman ini, Ino sangat berterimakasih karena berkatnya, Ino bisa menikmati keindahan bunga itu. Menikmati keindahan, atau merutuki diri karena melihat bunga yang melambangkan persahabatan itu seolah menyeringai padanya. Entah hanya kebetulan atau takdir ingin menertawakan Ino. Tepat lima tangkai bunga mawar kuning mekar dengan megah didepannya. Seperti mereka, lima anak manusia yang menjalin ikatan persahabatan sejak dua puluh tahun lalu. Persahabatan yang untuk menjaganya, mereka membuat ikrar bahwa tidak boleh ada cinta didalamnya. Tidak boleh ada yang menyukai satu sama lain yang nantinya bisa merusak ikatan itu sendiri. Semuanya berjalan baik sampai dua hari yang lalu.

Ino menghela nafas panjang. Sasuke mencoba menelponnya sejak kejadian itu, namun Ino tidak mengangkatnya. Ia bahkan meninggalkan ponselnya diapartmennya saat berangkat bekerja. Sasuke tidak menyerah. Ia mendatangi butik dan apartmennya. Untungnya Sasuke masih punya sopan santun dan menerima saat pegawai Ino mengatakan bahwa Ino sedang dikejar deadline penyelesaian pesanan. Pria itu juga tidak memaksa masuk ke apartmen Ino saat dirinya bisa dan punya kesempatan untuk masuk karena Ino tidak merubah password apartmennya. Ia tidak ingin berbicara pada pria itu apalagi menemuinya. Benci? Tentu saja tidak. Ino hanya merasa malu. Ia merasa rendah. Seperti yang ia katakan sebelumnya, sebaiknya mereka tidak lagi saling berhubungan. Ino yakin itulah yang terbaik. Karena kalau mereka masih saling bertemu, Ino yakin debaran aneh dihatinya akan semakin parah. Ia sudah merusak persahabatan mereka dengan tidur bersama Sasuke, ia tidak mau semakin merusaknya bahkan menghancurkannya dengan jatuh cinta pada pria itu.

Meninggalkan bunga mawar kuning yang ada disudut taman itu, Ino bangkit dan berjalan meninggalkan taman itu. Sepertinya segelas kopi bisa meringankan beban dikepalanya, seperti yang biasa dilakukan Shikamaru, Naruto dan Sasuke. Lihat? Ino mengingatnya lagi. Seharusnya ia hanya mengingat Shikamaru dan Naruto saja. Ino merutuk dirinya dalam hati.

Ino memasuki kecil yang berada tak jauh dari sana. Kafe itu kosong. Hanya ada seorang di konter pemesanan. Ternyata kafe itu hanya melayani pesanan take away.

'Pantas saja kosong,' Ino membatin.

Ino membawa kopinya keluar dari kafe. Ia berjalan menyusuri trotoar tanpa tujuan, karena niat awalnya adalah untuk merilekskan matanya yang lelah mengerjakan detail payet dress ia kerjakan. Langkahnya terhenti saat melihat seekor anjing kecil dengan bulu putihnya tampak tidak sehat di samping tong sampah. Bulunya kotor dan lusuh sementara matanya terbuka namun tampak sayu. Badannya bergetar. Suara khas anjing yang merintih kesakitan terdengar membuat Ino merasa iba. Ino meraih ponselnya dan mencari klinik hewan terdekat pada maps. Merasa sangat bersyukur karena ternyata satu blok dari tempatnya ada sebuah klinik hewan. Ino membawa anjing kecil itu dalam gendongannya dan melangkah menuju klinik hewan sesuai dengan petunjuk maps diponselnya.

Klinik itu tidak terlalu besar saat dilihat dari luar. Bagian depannya tampak rak kaca berisi makanan anjing dan kucing, juga sampo khusus hewan yang terjajar rapi. Ino memasuki bangunan itu. Ia disambut oleh beberapa kandang hewan warna warni dengan berbagai ukuran. Ada yang kosong dan ada juga yang berisi anjing. Anjing-anjing itu tampaknya jinak melihat bagaimana mereka hanya melihat saja dan tidak menggonggong saat Ino masuk. Mereka juga tampak lucu karena terlihat malas-malasan. Mengingatkan Ino pada sosok Shikamaru. Ino baru saja ingin memanggil dokter, perawat atau siapapun yang ada disana untuk membantunya ketika salah satu pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pria dengan rambut coklat keluar dari sana.

"Selamat datang. Ada yang bisa kubantu?"

"O-oh? Ya. Aku menemukan seekor anjing yang sepertinya sedang sakit tak jauh dari sini. Boleh anda memeriksanya?"

"Tentu saja. Berikan padaku."

Ino memberikan anjing digendongannya pada pria itu. Pria itu membawa anjing sakit itu pada sebuah meja pemeriksaan yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

"Hei, apa yang terjadi padamu hm? Biar kulihat ya." Ino tersenyum melihat bagaimana pria itu seolah berbicara pada manusia saat melakukan pemeriksaan pada anjing itu. Pria itu mungkin dokter ditempat itu. Meskipun sulit bagi Ino untuk menyimpulkannya karena pria itu tidak mengenakan jas dokter dan pakaiannya terlihat terlalu santai. Ia hanya mengenakan kaus hitam dan celana training warna senada. Namun dari caranya memeriksa, Ino yakin bahwa dia memanglah seorang dokter hewan diklinik itu.

"Sepertinya dia pernah jatuh atau tertabrak. Kaki kanan depan dan belakangnya mengalami keretakan tulang. Dia juga kelaparan. Karena kondisi kakinya, pasti sulit baginya mencari makan."

Ino tampak kaget.

"Separah itu?" tanya Ino dengan wajah ibanya. Pandangannya mengarah pada anjing yang tampak lemah dan merintih dimeja perika.

"Hal ini biasa terjadi pada anjing tak bertuan. Terimakasih karena sudah membawanya kemari."

"Dia bisa diobati kan?" tanya Ino.

"Bisa. Kakinya akan diperban untuk sementara waktu. Aku juga akan menyuntikkan obat untuknya." Dokter itu menjelaskan.

"Begitu. Tolong lakukan yang terbaik untuknya, dokter. Aku mohon. Aku akan membayar semua biayanya." ujar Ino pada sang dokter. Reaksi dokter berambut coklat itu diluar dugaan. Ia tersenyum.

Dokter itu melanjutkan pekerjaannya. Ia membalut kaki anjing putih itu dengan perban kemudian melapisinya dengan plester. Selanjutnya ia membasahi handuk dengan air hangat dan membersihkan tubuh anjing itu hingga warna bulunya yang putih bersih terlihat. Ia juga memberikan suntikan obat dan juga semangkuk kecil makanan anjing. Meskipun masih lemah, anjing itu memakan makanannya dengan perlahan. Ino merasa kagum melihat apa yang dokter itu lakukan. Tangannya tampak telaten dan luwes dalam melakukan pekerjaannya. Ia juga terlihat sangat perhatian pada anjing sakit itu.

"Sudah selesai. Kita akan melihat perkembangannya beberapa hari kedepan."

Ino tersenyum lega.

"Terimakasih, dokter. Berapa biaya pengobatannya?" tanya wanita itu.

"Tidak perlu. Aku hanya membebat kakinya dengan perban. Antibiotik yang aku berikan juga bukan sesuatu yang mahal."

"Tapi tetap saja anda sudah mengobatinya." Ino berkeras. Dokter itu tersenyum lagi. Senyuman khas yang sangat cocok dengan wajah tannya yang bisa dibilang tampan. Ino tahu ini bukan saatnya mengagumi ketampanan dan keindahan senyum dokter hewan didepannya itu. Apalagi dengan pikiran yang dipenuhi masalahnya dengan Sasuke. Tapi tetap saja sebagai wanita, ia mengagumi ciptaan Tuhan didepannya itu.

"Bagaimana kalau kau membayarnya dengan memelihara anjing ini?"

Ino terdiam sebentar.

"Aku tidak pernah memelihara hewan sebelumnya. Aku takut malah membuatnya semakin sakit atau paling parahnya mati." terang Ino.

"Anjing adalah binatang yang paling mudah dirawat. Anjing yang kau temukan ini adalah jenis Cairn Terrier. Mereka anjing yang cerdas dan setia. Semua anjing pada dasarnya mempunyai sifat yang setia."

Ino tampak berpikir sebentar.

"Aku akan memeliharanya, tapi anda harus siap sedia saat aku kebingungan dalam merawatnya." Ino menawar.

Dokter itu tertawa. Tawa yang terdengar renyah seperti milik Naruto.

"Kau tenang saja. Aku akan mengajarimu dasar-dasarnya. Oh iya, aku Inuzuka Kiba."

.

.

.

Lima hari sudah terlewat sejak ia mengabaikan Sasuke. Sehari terakhir Sasuke tidak menelpon ataupun datang ke apartmennya pada malam harinya. Mungkin pria itu sedang sibuk sekali atau mungkin sudah menyerah untuk mengajak Ino berbicara. Ino bersyukur kalau memang Sasuke memilih menyerah. Jujur saja ia masih belum sanggup untuk bertemu Sasuke.

Ino sedang membuat coklat panas untuk dirinya sendiri. Entah kenapa ia sangat bersemangat saat mengetahui bahwa anjing yang ia temukan kemarin sudah mulai membaik kondisinya. Ia mendapatkan kabar dari Kiba sore tadi. Mereka memang saling bertukar kontak untuk mempermudah dalam berbagi informasi tentang anjing putih yang Ino temukan. Seperti yang Kiba minta, Ino berencana untuk memeliharanya setelah kondisi anjing jauh lebih membaik. Pria penyayang binatang itu sangat senang saat ada seseorang yang juga peduli dengan hewan yang terluka dan menderita. Kiba juga mengajarinya banyak hal tentang memelihara anjing. Ino sama sekali belum pernah memelihara apapun sejak kecil. Ayah dan mendiang ibunya lebih senang merawat tanaman dari pada binatang. Melihat bagaimana Kiba berinteraksi dengan anjing-anjing di klinik membuat keinginan Ino untuk memelihara anjing malang yang ia temukan tempo hari semakin besar.

Ino sedang mengaduk coklat panasnya saat ia mendengar suara khas orang yang menekan tombol password apartmennya. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Takut-takut kalau Sasuke datang dan masuk keapartmennya. Dalam hati berharap bahwa yang menekannya adalah Naruto atau Shikamaru karena selain dirinya hanya sahabat-sahabatnya lah yang mengetahui akses masuk apartmennya. Meskipun kemungkinannya kecil karena Naruto dan Shikamaru lebih beradab dari pada Sasuke. Mereka selalu menekan bel terlebih dahulu. Ino memilih bersembunyi di sela kosong antara lemari es dan meja dapur keramik miliknya. Ino berjongkok disana sambil memegang gelas coklat panasnya. Suara langkah kaki Sasuke semakin terdengar pertanda pria itu sudah masuk. Jantungnya berdegp kian kencang.

"Ino?" panggil pria itu. Ino tidak menyahut. Sungguh ia belum siap untuk bertemu dengan Sasuke.

"Ino?" Sasuke mengeraskan suaranya. Dari suara langkahnya, Ino tahu bahwa Sasuke melangkah ke kamarnya. Merasa tidak menemukan yang dicari, Sasuke keluar dari kamar. Ino merasa lega karena suara langkah kaki Sasuke yang terdengar kian pelan. Itu berarti Sasuke sedang berjalan ke pintu keluar. Ino bernafas lega.

"Kau sebegitu tidak inginnya bertemu denganku?" Ino tersentak kaget saat Sasuke berdiri menjulang didepannya. Hampir saja ia menumpahkan coklat panas ditangannya dan melukai dirinya sendiri. Ia tidak mengira Sasuke bisa menemukannya.

"Bagaimana bis—"

"Aroma coklat panasmu membawaku kemari."Sasuke memotong ucapan Ino. Pria itu ikut berjongkok dengan satu kaki menyentuh lantai. Ia memandang pada Ino yang lebih memilih menunduk karena tidak sanggup memandang wajah Sasuke.

"Ino," panggilnya lembut. Tangannya naik untuk menyentuh rambut Ino yang malam itu tergerai dan setengah basah.

"Jangan begini, hm?" Suara Sasuke terdengar lembut namun juga sarat akan kesedihan. Ino bisa merasakannya.

"Kau tahu aku paling tidak bisa jauh dari kalian kan? Sudah cukup hanya Sakura yang pergi karena fellowship Gaara. Aku memang salah. Maafkan aku, Ino." ujarnya lagi dengan nada sedih yang sama. Ino masih diam dengan wajah tertunduknya. Ia tidak tahu harus bereaksi apa. Seolah tidak ada harapan lagi, Sasuke menghembuskan nafas beratnya kemudian berdiri.

"Ambil waktumu. Ambil sebanyak yang kau mau. Katakan padaku kalau kau sudah siap bertemu denganku. Aku menunggu." Sasuke kemudian bangkit dan melangkah keluar. Langkahnya gontai saat keluar dan berjalan menuju lift. Terlalu lelah dengan pekerjaan dan juga masalah pribadinya ini. Ino mungkin memang butuh waktu. Ya, Sasuke hanya perlu menunggu.

Sasuke memasuki lift yang kosong. Orang yang tinggal digedung apartmen Ino memang terkenal super sibuk sehingga sangat jarang terlihat. Dengan lemas, menyalakan mesin mobilnya. Menghela nafas sekali lagi, Sasuke menjalankan mobilnya meninggalkan basement yang menjadi tempat parkir

Sementara Ino Ino menangis tersedu-sedu didapur. Meratapi dirinya yang begitu kejam pada sahabatnya sendiri. Sasuke meminta maaf atas kesalahan yang bukan hanya dilakukan untuknya. Sasuke memohon agar Ino tidak menjauh darinya. Namun apa yang Ino lakukan? Ia hanya diam menunduk sampai Sasuke menyerah dan pergi dengan hancur. Mungkin kata kejam ditambah jahat dan dikali egois tidak cukup untuk menggambarkan dirinya saat itu. Ino mencoba membentengi dirinya agar menjauh dari Sasuke. Namun disaat yang sama ia juga tidak ingin sosok Sasuke sebagai sahabatnya jauh darinya. Ia ingin kembali seperti dulu, saat semuanya baik-baik saja. Tapi setelah apa yang terjadi, apakah masih bisa?

Ino bangkit dari posisi berjongkoknya itu. Melangkah cepat keluar dari apartmennya tanpa menghiraukan gelas berisi coklat panas yang tidak sengaja tertendang olehnya di lantai. Ia harus mengejar Sasuke, ia juga harus minta maaf atas keegoisannya. Bukan hanya Sasuke yang salah disini. Dirinya juga sama bersalahnya. Ino menuruni lift menuju basement tempat Sasuke biasa memarkir mobilnya. Jalannya lift terasa sangat lambat bagi Ino. Pintu lift terbuka, Ino segera keluar untuk mencari Sasuke. Namun sayangnya ia kalah dengan waktu. Sasuke sudah menjalankan mobilnya. Ino berlari berusaha untuk mengejar sedan milik sahabatnya itu sampai ke depan gedung. Hal yang sungguh sia-sia karena mobil itu semakin jauh meninggalkan gedung apartmennya, meninggalkan dirinya.

"Sasuke," lirihnya dengan air mata yang semakin deras mengalir. Angin malam yang dingin berhembus menembus piyamanya. Kilau lampu jalan dan gedung pencakar langit lainnya seolah menertawakan kebodohan dan keegoisannya.

.

.

.

"Semuanya berjalan baik seperti yang kita harapkan. Sejauh ini semuanya tampak normal menurut pengawasanku. Tapi aku akan terus memantaunya."

Shikamaru menyelesaikan pidato singkatnya pada dua kakak beradik Uchiha yang ada didepannya. Mereka tengah mengadakan rapat singkat dan tertutup tentang proyek terbaru Uchiha dengan pihak Alberto dari Amerika yang sudah berjalan sejak sebulan lalu. Itachi sebagai Direktur Utama berperan untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan proyek luar negeri sedangkan Sasuke mengurus proyek dalam negeri berserta urusan internal perusahaan. Itachi tampak mengangguk puas dengan penjelasan Shikamaru. Sejauh ini proyek mereka aman dan berjalan dengan baik.

"Terimakasih Shikamaru. Tolong segera kabari aku kalau ada sesuatu yang mencurigakan. Kita laksanakan rapat lagi bulan depan. Aku terlanjur berjanji dengan Izumi, maaf tidak bisa menjamumu untuk makan malam atau sekedar minum."

"Tidak masalah nii-san. Aku sudah ada janji dengan Sasuke dan yang lain."

Itachi mengangguk. "Kalau begitu aku pergi dulu. Wanita selalu membesar-besarkan masalah kecil seperti terlambat beberapa detik. Kalian tahu kan?"

"Aku mengerti nii-san. Wanita memang makhluk paling merepotkan." Shikamaru seketika membayangkan istrinya dirumah yang selalu membuatnya kerepotan. Tapi tentu saja ia suka direpotkan oleh Temari. Kenapa begitu? Sederhana saja, ia mencintai istrinya itu.

"Kau benar. Pengecualian untuk Sasuke yang belum pernah benar-benar dibuat kerepotan oleh wanita. Aku pergi dulu." Itachi berlalu setelah melihat deathglare dari adiknya. Shikamaru hanya tertawa kecil melihatnya.

"Itachi-nii benar. Kau harus mencari wanita yang bisa membuatmu kerepotan tapi disaat yang sama kau suka direpotkan oleh mereka." Shikamaru mengemas laptopnya dan memasukkan benda persegi itu kedalam tasnya.

"Jangan mulai Shikamaru. Kau benar-benar mirip Itachi-nii. Apa kau bukan adik kandungnya yang sebenarnya?"

"Baka! Ayo cepat. Anak-anak mungkin sudah menunggu." Shikamaru bangkit dan menyampirkan tas laptopnya dibahu.

"Tunggu. Kita tidak ada janji untuk berkumpul hari ini." Ujar Sasuke mendadak.

"Ada. Aku baru membuat janjinya."

"A-apa?"

"Kita belum berkumpul sejak Sakura pergi."

"Maksudmu kita berkumpul berempat? Di Apollo?"

"Sasuke kau baik-baik saja? Tentu saja kita berempat, kecuali Sakura tiba-tiba pulang dan kita jadi berlima dan ya, kita di Apollo seperti biasa." Shikamaru meraba saku kemejanya dimana ponselnya bergetar.

"Ya? Oh, baik. Kami baru akan berangkat." Pria berambut nanas itu memasukkan ponselnya kembali ke saku.

"Mereka sudah disana. Ayo, kau ikut denganku atau naik mobilmu sendiri?"

"Mereka maksudmu Naruto dan... dan Ino?" tanya Sasuke lagi.

"Kau kenapa sih? Memangnya siapa lagi?"

"Err. Oke. Aku ikut mobilmu."

Keduanya tiba di Apollo tak lama kemudian. Benar saja, Naruto dan Ino sudah disana bermain ular tangga yang Naruto beli untuk Boruto. Ino tampak senang karena Naruto baru saja turun posisi jauh padahal tinggal tiga langkah lagi menuju kemenangan. Wanita itu tertawa terbahak sementara Naruto berseru kesal. Sasuke memandang wajah cantik Ino yang belum sadar akan kehadiran mereka.

"Sudah pesan makanan?" tanya Shikamaru langsung mendudukkan dirinya disebelah Ino. Hal yang membuat Sasuke mau tidak mau harus duduk disamping Naruto karena Shikamaru meletakkan tasnya pada kursi yang satunya. Sasuke memang berhadapan dengan Shikamaru, namun secara tak langsung ia juga berhadapan dengan Ino. Tawa Ino berubah menjadi wajah gugup saat melihat Sasuke dan jujur saja Sasuke juga demikian. Keduanya berdeham secara bersamaan lalu disaat yang sama juga saling melihat satu sama lain dan membuang muka.

"Belum," jawab Naruto seraya mengambil buku menu dan membukannya. Ino sendiri berinisiatif membereskan perlengkapan ular tangga yang mereka mainkan sebelumnya. Hal yang sangat bagus untuk menghilangkan kegugupannya. Sasuke sendiri hanya melihat Shikamaru yang melakukan hal yang sama seperti yang Naruto lakukan. Pria nanas itu membolak-balikkan buku menu ditangannya.

"Ino, kau pesan apa?" tanya Shikamaru pada wanita disampingnya.

"Samakan denganmu saja," Ino menyahut, tangannya sibuk memasukkan gulungan kertas ular tangga dan pernak perniknya kedalam kemasannya dan meletakkan benda itu ke lantai bersama dengan tasnya. Shikamaru memanggil salah satu staff Sasuke di Apollo. Pria berambut putih itu datang membawa note dan penanya.

"Dua tinderloin steak medium well, satu dengan mashed potato satunya dengan dressing salad. Minumnya lemon tea saja, satu dingin dan satu hangat." Shikamaru mengutarakan pesanannya lalu beralih pada Naruto menaikkan alisnya bertanya.

"Aku yang biasa saja, Suigetsu." Pria yang melakukan take order itu mengangguk sambil tersenyum. Menu yang biasa versi Naruto adalah Tonkoutsu Ramen kesukaannya. Alasan restoran a la barat milik Sasuke itu memilik menu ramen adalah karena Naruto. Untuk minuman tentu saja air putih. Sasuke tidak suka makan ramen dengan minuman lain selain air putih.

"Sasuke-sama?" tanya Suigetsu.

"Hn. Aku tidak makan. Buatkan kopiku yang biasa saja."

Suigetsu mengangguk, mencatat pesanan mereka kemudian berlalu dari sana.

"Jadi apa TMI kalian? Apa ada sesuatu yang baru?" tanya Shikamaru. Pertanyaan yang biasa ia lontarkan saat mereka bertemu. Disaat seperti ini Naruto akan menceritakan tentang anak dan keluarganya. Dengan bangga menceritakan tentang perkembangan putranya yang membuatnya takjub.

Namun sayangnya pertanyaan 'biasa' ini kontan membuat Ino gugup. Ia tidak tahu apakah Sasuke juga merasakannya tapi dari cara pria itu mengalihkan pandangannya ke ponselnya membuat Ino yakin bahwa Sasuke sama gugupnya. TMInya? Apa ia harus menceritakan bahwa ia having sex dengan seseorang yang kini duduk didepan si pemberi pertanyaan? Seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Uchiha Sasuke. Ino melirik pada Naruto. Berharap Naruto akan menceritakan tentang Boruto atau apalah yang bisa menyelamatkannya dari kegugupan. Pria pirang itu berdeham dengan senyum mencurigakan.

"Hinata..." Naruto mengambil jeda, ia menarik nafas dalam kemudian melanjutkan. "HAMIL LAGI!" Pria itu bertepuk tangan seorang diri, kemudian Shikamaru dan Sasuke ikut bertepuk tangan membuat Ino mau tidak mau ikut-ikutan. Jujur saja, ia turut bahagia dengan berita kehamilan istri sahabatnya itu.

"Selamat, Naruto." Sasuke memberikan selamat.

"Selamat. Aku tidak menyangka kau akan jadi ayah dua anak sebentar lagi." Shikamaru menarik nafas panjang.

"Andai saja Temari mau melepaskan pilnya..." lanjut Shikamaru dengan wajah sedih.

"Apa kau sudah mengatakan bahwa kau tidak ingin kalian menunda lagi?" tanya Ino. Shikamaru menggeleng. "Itu sungguh hal yang merepotkan."

"Tapi kau harus melakukannya. Tunjukkan pada Temari kalau kau benar-benar ingin mempunyai anak." Ino melanjutkan.

"Sebenarnya aku sudah punya alternatif lain. Tunggu sampai temanku selesai membuatnya." Shikamaru tersenyum licik.

"Alternatif lain?" tanya Naruto.

"Aku meminta salah satu temanku yang bekerja di laboratorium Fakultas Kedokteran Konoha membuat obat penyubur yang bentuk dan kemasan yang sama persis dengan pil kontrasepsi milik Temari. Dia pasti terkecoh."

"Kadang aku suka bingung dengan pola pikir orang jenius. Kenapa kau harus repot-repot membuatnya saat kau hanya perlu mengatakan pada istrimu untuk melepas pilnya." Ino bertanya heran.

"Terkadang kami orang jenius menyukai hal-hal yang menantang."

Ino hanya bisa geleng-geleng kepala sampai Shikamaru bertanya padanya.

"Bagaimana dengan TMI mu, sayang?" Tangan Shikamaru naik meraih sejumput rambut pirang Ino yang ia gerai malam itu dan memainkannya.

"Umm... Ayahku tidak jadi datang karena keponakanku mendadak sakit."

Sasuke mengalihkan pandangannya dari ponselnya kearah Ino. Suigetsu datang dan membawakan pesanan mereka. Pria berambut putih itu mengangsurkan makanan dari nampan besarnya ke meja keempat sahabat itu.

"Terimakasih, Suigetsu."

"Sama-sama, Yamanaka-san." Suigetsu berlalu dari sana setelah memastikan bahwa pesanan mereka sudah selesai semuanya.

"Benarkah? Bagaimana keadaannya? Namanya Daichi kan? Apa aku salah ingat?" tanya Naruto. Ia mengambil sumpitnya dan mulai memakan ramen didepannya.

"Kau benar. Kata Dei-nii Daichi sudah jauh lebih baik. Tapi kau tau ayahku terkadang suka khawatir berlebihan kan." Ino ikut memakan steaknya. Shikamaru mengangguk.

"Yang penting kalau ji-san datang jangan lupa kabari kami. Kami akan datang ke apartmenmu untuk minum-minum dengannya." Ino mengangguk mengerti.

"Bagaimana denganmu Sasuke?" tanya Shikamaru kemudian.

"Aku?"

"Ada kabar terbaru?"

"Itachi-nii akan segera menikah dengan Izumi."

"Teme, itu TMI Itachi-nii." ujar dengan mulut penuh ramen.

Sasuke mengangkat bahunya, kemudian melanjutkan.

"Aku mau pindah apartmen." Semua yang ada disana tampak terkejut. Termasuk Ino yang sedang mengunyah saladnya.

"Kenapa tiba-tiba pindah?" tanya Shikamaru.

"Bukannya apartmenmu yang sekarang paling aman karena mantan-mantanmu tidak bisa masuk?" kini Naruto yang bertanya.

"Ya, memang. Ada seorang wanita yang tidak suka tidur denganku dikamar yang juga aku gunakan tidur dengan wanita lain." ujar Sasuke. Pandangannya lurus menatap kopi hitam didepannya. Seketika Ino mendadak pucat ditempatnya. Sasuke berani menceritakan tentang mereka pada Naruto dan Shikamaru? Mendadak sulit rasanya untuk sekedar menelan ludah.

"Sepertinya ini menarik. Akhirnya kau menemukan wanita yang benar-benar membuatmu jatuh cinta?" tanya Naruto dengan nada jahil.

"Kau sampai pindah apartmen? Kau akan serius dengannya sepertinya. Cepat tentukan tanggal pernikahan kalau begitu. Kau harus segera menyusul kami." Shikamaru berkomentar.

"Sayangnya tidak semudah itu. Dia menjauhiku setelah kami tidur bersama dikamar itu." Sasuke lalu menyesap kopinya lagi.

"Tidur bersama disini maksudmu..." Naruto mengangkat tangannya membentuk tanda kutip.

"Aku kira kau tipe orang yang menjaga orang yang kau cintai sampai kalian menikah." Shikamaru berkomentar lagi. "Aku tahu bukan hal yang tabu lagi dizaman sekarang untuk having sex dengan kekasihmu. Tapi yang ku maksud kalau kau benar-benar mencintainya seharusnya kau tidak... ya... begitu." lanjut Shikamaru lagi.

"Aku tahu, kuakui aku tidak bisa menahan diri..." Sasuke menghembuskan nafas beratnya.

"Tapi bukannya Sasuke sudah sering tidur dengan kekasih-kekasinya yang lain? Itu adalah hal yang biasa kan?" tanya Naruto.

"Sasuke tidur dengan wanita yang memberikan diri mereka secara sukarela padanya. Bukan kekasih. Kau tahu dimana bedanya kan?" ucap Shikamaru pada Naruto, kemudian beralih pada Sasuke. "Atau kali ini pun sama seperti yang lainnya?"

Sasuke menggeleng. "Aku mencintainya."

Hening menghiasi meja itu ketika Sasuke mengutarakan hal itu dengan sungguh-sungguh.

"Tentu saja. Tidak mungkin Sasuke kita ini mau pindah apartmen kalau dia tidak mencintai wanita itu. Bukan begitu, Ino?" Naruto mencolek tangan Ino yang ada diatas meja.

"O-oh. Ya. Kau benar." Ino menyahut kemudian meraih lemon tea hangatnya dan meminumnya. Matanya melirik pada Sasuke yang masih setia melihat cangkir kopinya.

"Sepertinya kali ini kau serius. Tidak ada rencana untuk memperkenalkannya pada kami?" tanya Shikamaru.

Sasuke berdeham.

"Akan kuperkenalkan kalau waktunya sudah tiba."

Percakapan keempat sahabat itu berlanjut dengan cerita Naruto tentang kehamilan Hinata yang sedikit berbeda dengan kehamilan pertamanya. Hinata yang mendadak manja padahal saat hamil Boruto sangat mandiri. Juga Boruto yang mendadak tak ingin dekat-dekat dengan ibunya padahal biasanya anak itu tak bisa lepas dari Hinata. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam saat mereka memutuskan untuk membubarkan diri.

"Ino kau bawa mobil?" tanya Shikamaru pada Ino.

"Ya." sahut Ino seraya mengenakan cardigannya.

"Kalau begitu kau ikut Ino ya, Sasuke. Kau tahu rumah kita berlawanan kan?" Ino berdiri terpaku karena kaget atas apa yang Shikamaru katakan. Ayolah, itu adalah hal yang sangat bisa ditanyakan oleh sahabatnya itu. Tapi setelah apa yang terjadi plus apa yang Sasuke katakan tadi membuat Ino harus berpikir seratus kali untuk memberikan Sasuke tumpangan. Oke setidaknya Sasuke pasti juga canggung berada didekatnya setelah pengakuan laki-laki itu dihadapan Ino dan sahabat-sahabatnya. Sasuke pasti lebih memilih untuk dijemput supir atau Juugo kan? Atau menginap di Apollo akan lebih baik.

"Hn. Hati-hati."

'Apa maksud 'hn' dari Sasuke ini?' Ino membatin. Shikamaru memeluk Ino sekilas kemudian melayangkan kecupan dipipi wanita itu. Naruto melakukan hal yang sama dan kedua orang itu keluar dari Apollo. Meninggalkan Ino dan Sasuke dalam kecanggungan luar biasa. Atau hanya Ino yang merasakannya?

"Kau tidak benar-benar akan menumpang denganku kan?" tanya Ino. Berusaha keras agar suaranya tidak terdengar bergetar.

"Pulanglah, aku tahu kau masih butuh waktu." Sasuke dan pengertiannya. Seharusnya Ino merasa lega kan? Seharusnya Ino menjadi lebih tenang karena Sasuke tidak jadi menumpang dengannya dan menciptakan kecanggungan lainnya. Tapi kenapa hatinya merasa bahwa ia harus bicara dengan pria itu tentang apa yang dikatakannya tadi.

"Soal kata-katamu tadi..."

"Hm?" sahut Sasuke lembut.

"Tidak ada. Aku pulang dulu."

"Aku serius dengan semua kata-kataku. Baik diapartemenku pagi itu, diapartmenmu malam itu dan hari ini. Aku benar-benar..." Sasuke menarik nafas panjang, lalu melanjutkan. "...tidak bisa hidup tanpamu."

"Sasu—" Ino tidak bisa melanjutkan perkataannya karena sebuah tangan yang kini mendarat lembut dikepalanya. Membelai perlahan surai pirangnya dengan lembut.

"Hati-hati." Sasuke berbalik, masuk ke bagian dalam Apollo. Meninggalkan Ino yang terdiam ditempatnya.

.

.

.

"Kau sudah memikirkan nama untuknya?" Kiba meletakkan segelas teh hangat dimeja. Saat ini Ino sedang berada di klinik Kiba sore itu. Tepatnya diruangan Kiba. Anjing putih yang Ino temukan tampak senang bermain dengan Ino. Terlebih lagi, ia tampak sehat. Badannya tak lagi lemah seperti tempo hari, kakinya juga sudah jauh lebih baik. Ino sangat bersyukur untuk itu.

"Sudah. Odette. Bagaimana menurutmu?"

"Tapi dia laki-laki err... maksudku jantan."

"Tidak apa-apa. Odette nama yang cantik. Terlebih lagi artinya berumur panjang. Semoga dia bisa berumur panjang agar bisa menemaniku dan anak-anakku bermain kelak."

Kiba meraih Odette dari pangkuan Ino.

"Baiklah Odette, mulai hari ini kau akan tinggal dengan Ino. Baik-baik disana ya."

Ino tertawa. Kiba memasukkan Odette ke dalam kandangnya lagi dan memberikan tulang mainan pada anjing itu.

"Minumlah," ujar Kiba pada Ino. Pria itu sendiri meminum teh miliknya.

"Terimakasih. Untuk tehnya, juga untuk bantuanmu. Aku jadi sadar kalau nanti Odette tinggal denganku, aku tidak akan kesepian lagi." Ino tertawa.

"Kau tinggal sendirian?" tanya Kiba. Ino mengangguk.

"Sejak sepuluh tahun yang lalu kurasa. Ayahku tinggal dengan kakakku di Cina. Ibuku sudah meninggal." Kiba mengangguk mengerti.

"Bagaimana dengan kekasihmu?" Entah kenapa pertanyaan Kiba membuat pikiran Ino melayang ke Uchiha Sasuke. Apa hubungan pertanyaan Kiba dengan Sasuke?

"Aku tidak punya kekasih."

"Kau tidak punya kekasih? Serius?" tanya Kiba tak percaya.

"Memang tidak punya."

"Wanita secantik dirimu belum punya kekasih? Aku meragukan selera laki-laki zaman sekarang."

"Well, aku putus dari mantan kekasihku hampir dua bulan yang lalu."

"Jadi maksudnya kau belum bisa berpaling darinya?"

"Bukan begitu, dia adalah lelaki paling brengsek yang pernah aku temui. Aku hanya... belum menemukan yang sesuai." Ino menampilkan senyum yang lebih mirip ringisan.

"Oh ya, seperti apa kriteria yang sesuai dengan seleramu?" tanya Kiba.

"Aku tidak punya kriteria yang spesifik. Yang penting dia baik dan mencintaiku." Sekali lagi bayangan Uchiha Sasuke muncul dikepalanya. Saat pria itu mengatakan pada Naruto dan Shikamaru bahwa ia mencintai wanita yang tidak lain adalah Ino sendiri. Wajahnya sontak memerah.

"Wajahmu memerah."

Ino memegang kedua pipinya yang mendadak panas hanya karena mengingat Sasuke.

"Err... Ini..."

"Cantik," lanjut Kiba.

"Apa?"

"A-ah. Tidak apa-apa. Sebelum pulang, mau makan malam denganku?"

"Boleh. Biar aku yang traktir. Dimana?" Ino merasa telah berhutang banyak dengan Kiba. Pria itu sama sekali tidak menerima biaya perawatan yang harusnya Ino bayar. Kiba hanya menerima uang untuk membayar makanan anjing untuk stock makanan Odette nanti.

"Disini."

"Disini? Maksudmu delivery?"

Kiba menggeleng, kemudian membuka laci mejanya dan mengeluarkan dua ramen cup dari sana. Ino melongo sebentar, kemudian tawanya pecah.

"Aku kira dokter akan makan makanan yang lebih sehat."

"Tapi kenikmatan ramen cup tidak bisa kau abaikan begitu saja. Apalagi setelah hujan lebat tadi. Ramen adalah makanan yang pas." Kiba membuka setengah kertas penutup ramen dan memasukkan bumbunya sebelum kemudian mengeluarkan air panas dari dispensernya.

"Kau sama seperti Naruto. Dia sangat menyukai ramen."

"Naruto? Mantan kekasihmu?" tanya Kiba.

"Dia sahabatku. Apa aku belum cerita kalau aku punya empat orang sahabat yang luar biasa? Kami sudah bersahabat sejak dua puluh tahun yang lalu."

"Wow. Ceritakan kalau begitu. Aku ingin mendengarnya." Kiba tersenyum antusias. Ino terdiam sebentar. Tidak seperti Sai yang benci saat Ino bercerita tentang persahabatan mereka, Kiba malah ingin mendengarkannya. Entah kenapa hal itu membuat Ino merasa hangat. Ino kemudian menceritakan tentang keempat sahabatnya pada Kiba. Ceritanya terjeda karena Kiba mengangsurkan ramen yang sudah matang padanya. Pria itu tertawa saat Ino menceritakan kejadian lucu yang mereka alami, ia juga tersenyum saat Ino menceritakan bagaimana jasa -sahabatnya dalam hidupnya. Tawa dan senyumannya tulus. Hal itu membuat Ino sedikit... berdebar.

.

.

.

"Rumah untuk siapa?" tanya Naruto yang baru saja tiba diruangannya setelah menyelesaikan meeting dengan klien yang ingin menggunakan jasa konstruksi perusahaanya. Ino menelponnya sesaat setelah Naruto keluar dari ruang meeting.

"Odette."

"Aku tidak ingat kau punya teman bernama Odette. Klienmu?"

"Bukan. Anjing peliharaanku."

"A-apa?! Anjing? Sejak kapan kau memelihara anjing?" Naruto batal meminum tehnya.

"Ya. Sejak tiga hari yang lalu. Kandangnya yang sekarang tampak tidak nyaman untuknya. Karena itu aku meminta tolong padamu. Buat yang nyaman ya. Kalau bisa secepatnya." Naruto bisa mendengar suara kikikan Ino diseberang sana.

"Ino sayang, apa perusahaanku terlihat seperti perusahaan berskala 'kandang anjing'?"

"Naruto, ayolah bantu aku."

"Kau hanya perlu pergi ke pet shop dan mencari rumah untuk Olin."

"Odette, bukan Olin."

"Nah, itu maksudku. Aku sedang sibuk menyelesaikan proyek pembangunan gedung lima puluh lantai dan kau menelponku untuk membuatkan kandang anjingmu?"

"Jadi kau tidak mau membantuku? Kau tega sekali padaku. Apa kau tidak ingat persahabatan dua puluh tahun kita?"

"Oh, mulai lagi." Naruto memutar bola matanya.

"Aku hanya pernah meminta bantuanmu sekali pada saat membuka butik. Aku hanya ingin Odetteku punya rumah yang bagus. Dia itu spesial sama sepertimu, Naruto. Kumohon ya... ya...?"

Terdengar helaan nafas dari Naruto.

"Baiklah, baiklah. Akan kuselesaikan hari ini juga dan membawanya ketempatmu."

"Terimakasih Naruto. Aku mencintaimu!"

"Ya ya ya. Aku tutup ya." Naruto meletakkan kembali ponselnya dan meminum tehnya yang sudah tinggal setengah. Iruka, asistennya datang membawa gulungan desain proyek baru mereka untuk diperiksa oleh Naruto. Iruka menempelkan gulungan itu pada sebuah papan tulis besar yang ada diruangan Naruto.

"Iruka."

"Ya, Naruto-sama?"

"Aku mau pakai laboratorium hari ini sampai jam tiga. Makan siangku boleh tolong diantarkan kesana nanti ya."

Iruka memandang heran pada bosnya itu. Laboratorium yang dimaksud Naruto adalah ruangan dimana para arsitek dan staff lainnya membuat miniatur gedung sebagai gambaran untuk ditunjukkan pada klien. Sudah lama sekali Naruto tidak kesana.

"Anda ke laboratorium?"

"Ya. Aku ingin membuat rumah untuk Olin."

"Olin?"

"Anjing Ino." Iruka langsung mengerti.

"Naruto-sama. Biar saya minta Shino atau yang lain untuk membuatnya."

Naruto menggeleng sambil tersenyum.

"Tidak perlu. Ini permintaan dari klien VVIP. Biar aku yang membuatnya."

.

.

.

Ino baru pulang dari butik dengan semangat karena kini ada Odette yang selalu menyambutnya. Sudah tiga hari lamanya anjing itu tinggal dengannya. Ino cukup terkejut karena anjing kecil itu sangat pintar. Ino tidak tahu bagaimana Kiba mengajarinya untuk buang air di kamar mandi dengan syarat pintu kamar mandi harus dibiarkan terbuka. Ino hanya perlu membersihkan kotorannya dilantai kamar mandi saat pulang dari butik. Selain itu rasanya sangat terhibur saat Odette bermanja-manja dikakinya. Seolah lelahnya seharian hilang begitu melihat anjing putih itu. Ino mengambil susu dan menuangkannya di wadah minum milik binatang itu. Odette tampak bersemangat meminum susu yang Ino berikan. Ino sendiri menatap binatang peliharaannya itu dengan senyum. Sungguh ia sangat berterimakasih pada Kiba yang memintanya untuk memelihara Odette. Ia mengajak Kiba untuk makan malam sebagai ucapan terimakasih, namun Kiba tidak terlalu suka makan direstoran, apalagi restoran yang ramai. Karena itulah Ino mengundang Kiba untuk makan malam dirumahnya. Karena terlalu lelah hari ini, Ino memilih untuk memesan makanan dari restoran langganannya.

Pesanan datang tepat setelah Ino selesai mandi. Ino mengangsurkan makanan itu ke wadah dan kemudian mempersiapkan peralatan makan. Setelah selesai, Ino memilih untuk sedikit berdandan. Sempat bingung kenapa ia harus repot-repot berdandan untuk makan malam dirumahnya sendiri. Apa karena yang akan datang adalah Kiba? Entahlah.

Ino sedang memoles tipis lipsticknya saat bel berbunyi. Kiba datang membawa sebuket bunga ditangannya. Ino cukup terkejut melihatnya. Bunga itu cantik dan harum. Namun yang membuat Ino lebih terkejut adalah penampilan Kiba malam itu. Kiba yang selama ini dilihatnya adalah Kiba yang memakai pakaian santainya. Bahkan sampai sekarang Ino belum pernah melihat Kiba memakai jas dokternya. Mungkin kalau tidak melihat sertifikat yang terpampang di klinik, Ino tidak akan percaya bahwa Kiba adalah seorang dokter. Karena itulah Kiba yang memakai kemeja abu-abu dan celana celana bahan berwarna hitam didepannya ini sukses membuat Ino terpana. Belum lagi senyum manis pria itu saat memberikan bunganya kepada Ino. Ino merasakan panas mulai menjalar di wajahnya.

Makan malam itu berlangsung tenteram. Mereka lanjut bermain dengan Odette dan meminum wine. Jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan saat Kiba pamit untuk pulang. Kiba sedang memakai sepatunya ditemani Ino.

"Terimakasih untuk makan malamnya, Ino." Kiba berdiri setelah selesai dengan urusan sepatunya.

"Sama-sama. Walaupun kurasa itu belum cukup untuk membalas kebaikanmu padaku dan Odette."

"Hei, aku tidak melakukan apapun."

"Ya ya, kau selalu bilang begitu."

Kiba terkekeh. "Kalau begitu aku pul—"

Pip pip pip pip pip pip!

"Suara apa it—"

Ceklek! Pintu terbuka lebar memperlihatkan Uchiha Sasuke berdiri disana. Kekagetan sangat kentara di wajah stoik bungsu Uchiha itu saat melihat pria asing diapartmen Ino. Bukan hanya Sasuke, Ino juga sama terkejutnya.

"Sasuke..."

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N :

Nihaaaaoooo... Hehehe. Jumpa lagi dengan SasuIno disini. Udah chapter 4 aja ga terasa. Terimakasih banyak kembali saya haturkan kepada teman-teman sekalian yang sudah memberikan ripiu di cerita ini. Sehat selalu ya, apalagi ditengah pandemi ini.

Semoga teman-teman suka dengan chap ini. Yaah, walaupun momen Sasuke dan Inonya dikiiiit... pake banget.

Pojokan Ripiu

Sasuino chan : Jadian ga ya... Hehehe mari kita lihat ke depannya. Ini udah up ya.
Yamanaka chan : Thanks for review. Ini udah up ya..

Xoxo : Amiiin. Semoga selesai sebelum puasa ya. #evillaugh

Gaskeun : Bunting? Emm... Kita liat aja ya. Ini udah up.

Kyudi YI : Tau nih si Sasu bukannya cepetan di lamar. Tanpa nutup pintu kulkas juga Saskey udah ganteng. Hehe Udah up ya.

Lazyper : Ga asik nih si Ino. Padahal kan bisa diasikin aja ya ga?

Yumehara : Aku sih Cuma kangen Gaaranya doang. Wkwkw. Semangat juga buat kamu.

Aihime29 : Ga bisa. Yang jadi istri Sasuke itu Yana seorang. Hohoho. Makasih udah ripiu.

Jalapeno : Panas nih. Wkwkwk. Hebat banget kamu feelingnya. Semangat juga buat kamu ya. Fighting!

Chimi Wila Chan : Aih sudah menikah yaa... Selamat ya. Jadi pengen cepetan nikah aku tuh. Wkwkw becanda. Makasih udah ripiu ya.

Azzura Yamanaka : yg polos harap mundur ya. Wkwkwk silahkan di skip sayang. Hehehe . Sasu memang paling bisa kalau bersikap manis. Sama aku juga gitu soalnya—eh. Hehehe.

Yamanaka mei : Tau Ino kok marah2 sama Sasu. Ga bisa. Sasu nikahnya sama aku. Hehe Ganbatte juga buat kamu ya.

BngJy : Gimana Sasuke? Ya sama aku lah. Wkwkwk. Ini udap up ya.

SaGaarasuke : Ati udah terlanjur panas nih. Hahaha. Tau nih Ino ga peka banget. Sasuke sama aku aja ya. Thanks for ripiu.

faye : Ino menghindar karena ga enakan sama aku. Wkwkw. Ini udah up ya say.

Cloesalsabilaahh : Wah kamu nungguin lemon ya? Fufufu. Sama, saya juga. Aku juga seneng banget kamu review cerita ini. Hehe. Ini udah up ya say.

Jo : Ini udah up ya. Semangat juga buat kamu.

Anjayyy : Ngakak aku tuh sama username kamu. Hahaha

Ms. Hatake Yamanaka : Makasih udah ripiu panjang-panjang sayang. Kamu juga jaga kesehatan ya. Ini udah up.

sari : adegan hardnya kurang ya? wkwkw. Ini udah update ya sari-chan.

Sylvia Kim : Ini udah up ya. Jaga kesehatan juga disana.

Mei-chan : Pengan yang lebih asem? Hahaha. Ini udah up ya beb.

Sasuino : Ini udah lanjut ya.

Salam,

Yana Kim ^_^