WHO'S THE FAIREST OF THEM ALL

Disclaimer

All Character here is belongs to Masashi Kishimoto

Warning

Canon, Typo bertebaran, dan kekurangan-kekurangan lainnya.

Happy Reading

.

.

Di istana, Ratu dan Naruto tengah menikmati hidangan malam. Ratu dan Naruto tampat duduk berjauhan. "Apakah makanannya enak?" tanya Ratu memecah keheningan.

"Ya, Yang Mulia. Sangat lezat" ucap Naruto sembari memakan ayam panggang dihadapannya.

Ratu tampaknya sudah tidak tahan dengan jarak yang Naruto buat. Ia kemudian melipat taplak meja itu. Sehingga piring Naruto bergeser mendekat pada tempat duduk Ratu. Naruto melihat tindakan Ratu kebingungan. Dengan canggung ia bergeser mendekati Ratu.

"Aku tidak bisa mendengarmu dari sebelah sana" ucap Ratu Tsunade beralasan.

Naruto hanya tersenyum canggung menanggapi Tsunade.

Tsunade melanjutkan obrolan mereka. "Semua orang berita tentang betapa hebatnya kau saat dansa semalam".

Naruto merasa tersanjung dengan pujian itu. "Terima kasih, Yang Mulia. Aku punya pertanyaan mengenai semalam. Ada seorang gadis dengan rambut merah muda panjang yang sangat cantik. Aku rasa dia adalah gadis tercantik yang pernah aku lihat selama ini" Naruto tersenyum mengingat kembali saat ia berdansa dengan Sakura.

Tsunade memutar bola matanya. "Selama ini kedengarannya sangat lama sekali" sindirnya.

"Aku langsung menyadarinya. Dia adalah gadis paling cantik didunia" sanggah Naruto.

Tsunade mengelap sudut bibirnya "Sejujurnya aku tidak setuju".

Naruto mengerutkan keningnya "Kulitnya putih bak pualam, rambutnya merah muda seperti bunga Sakura..."

Tsunade menyela ucapan Naruto "Rambutnya merah muda karena kusam. Dia masih 18 tahun dan kulitnya tidak pernah terkena matahari. Tentu saja bagus".

Tsunade tampak kehabisan kata-kata untuk menghina Sakura didepan Naruto.

"Yang hendak aku katakan adalah gadis yang kau maksud itu Sakura Haruno"

Wajah Naruto tampak cerah mengetahui nama gadis cantik yang selama ini berkelut dalam benaknya. "Sakura? Nama yang sangat pantas"

Tsunade memutar bola matanya "Tapi sayangnya dia agak tidak waras. Dan lagi dia sudah..."

"Ehem... kau tahu lah..." lanjutnya.

"Maaf tapi kau seolah-olah membicarakan orang yang sudah tiada" tanya Naruto keheranan.

Tsunade mengangguk mahfum "Ya dia sudah meninggal".

Naruto kaget mendengar berita tersebut. Bagaimana mungkin Sakura yang terlihat sehat-sehat saja kemarin tiba-tiba telah meninggal. Ia membutuhkan waktu mencerna ini semua.

"Bagaimana?" tanya Naruto mencoba menahan kesedihannya.

"Semalam di hutan" ucap Tsunade enteng.

"Mengerikan" Naruto merasa patah hati. Ia menundukkan kepala dalamnya, mencoba mentralisir gejolak dalam dadanya.

Tsunade tak menyukai kondisi ini. Ia merasa dikalahkan oleh Sakura bahkan ketika Sakura telah tiada. "Apa kau butuh waktu?".

Naruto masih menundukkan kepalanya "Iya. Aku butuh waktu. Terima kasih". Dadanya terasa sesak. Ia masih belum bisa percaya dengan berita ini. Bagaimana mungkin orang yang semalam baru saja ia temui dalam kondisi sehat esok harinya meninggal dengan tragis dihutan. Ia termenung meratapi perginya Sakura.

Tsunade menatap Naruto dengan tak sabaran. Ia melirik jam dinding dengan bosan. "Pangeran Naruto, aku punya penawaran bagus untukmu".

Ucapan Tsunade seketika menyadarkan Naruto dari lamunannya. "Iya?"

Tsunade menyentuh tangan Naruto. "Kita berdua kan masih sendiri dan umur kita juga hampir sama..."

"Aku rasa umur kita tidak sama" potong Naruto.

"Aku bilang hampir..." sanggah Tsunade

"Kau tahu aku sedang membicarakan tentang kita berdua. Yah, orang-orang juga banyak yangmembicarakan kita. Maksudku mau kah kau menjadi..."

Belum sempat Tsunade menyelesaikan kalimatnya. Shizune sudah terlebih dahulu masuk ke ruang makan Ratu dengan tergopoh-gopoh dengan hanya memakai petticoat. "Maafkan penampilan saya, Yang Mulia. Tapi sesuatu yang buruk terjadi, pajak telah dirampok".

Tsunade memijit keningnya. "Dirampok oleh siapa?".

"Bandit" jawab Shizune.

Naruto seketika teringat bandit kurcaci yang juga merampoknya tempo hari. "Bandit?" Naruto memberikan kode tinggi badan kurcaci kepada Shizune.

Shizune membalas dengan kode serupa seolah menyetujui. "Bandit".

Tsunade menatap kebingungan dua orang dihadapannya.

"Sangat mengintimidasi" lanjut Shizune.

Naruto melempar serbet makannya dengan kesal. "Aku tak tahan lagi. Cukup sudah pencurian ini" ucap Naruto sembari berdiri mengambil coatnya. Ia hendak mengejar bandit-bandit itu.

Tsunade hendak menahan Naruto namun Naruto tak bergeming. Ia tetap melangkah meninggalkan ruang makan dengan amarah berkobar.

Tsunade yang tak bisa menahan Naruto merasa kesal. "Terimakasih, Shizune. Tinggal sedikit lagi" ucap Tsunade emosi.

Shizune segera undur diri agar tak diomeli Tsunade.

.

.

Malam itu para kurcaci terlihat berkumpul didepan rumah mereka. Mereka mendiskusikan Sakura yang lari dengan uang mereka dan bagaimana rakyat Konoha kembali menyukai mereka. Mereka tampak senang karena rakyat Konoha tak lagi melihat mereka dengan pandangan sinis.

"Berkumpul! Dia mencuri uang kita tapi kini kita disukai" buka Pein dalam rapat para kurcaci. Para kurcaci saling silang pendapat hingga mereka mendapatkan satu suara. Mereka masuk kedalam rumah untuk memberitahu Sakura.

Para kurcaci berdiri berjejer dihadapan Sakura yang tengah duduk diruang makan. Sakura tidak bisa memahami ekspresi para kurcaci. Ia harap-harap cemas dengan keputusan itu. Jika ia tak diperbolehkan tinggal maka ia terpaksa harus menginap dijalanan atau ditengah hutan gelap.

"Kau boleh tinggal" ucap para kurcaci bersamaan. Kabar itu membuat Sakura bernafas lega. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada para kurcaci.

"Tapi kita punya beberapa syarat" kata Pein.

"Jika kau ingin tinggal bersama kami, maka kau harus menjadi seperti kami" ujar Deidara melanjutkan.

Sakura mengerutkan alisnya keheranan. "Aku juga harus menjadi kurcaci?"

Para kurcaci sontak tergelak mendengar pertanyaan Sakura. "Bukan. Kau harus menjadi pencuri juga" jawab Deidara.

"Kalian tahu kan bagaimana pendapatku tentang mencuri?" tanya Sakura.

"Tapi bagaimana jika kita hanya mencuri dari Ratu?"sahut Tobi.

"Kau sendiri kan yang bilang ia jahat" tambah Itachi.

"Seseorang harus menghentikannya. Kenapa tidak kau saja?" Deidara mencoba meyakinkan Sakura.

"Iya. Kenapa bukan 'kita' saja" Sasori menunjuk dirinya sendiri dan Sakura sembari mengedipkan sebelah matanya. Tingkah Sasor itu membuat kurcaci lainnya dengan tatapan menusuk, mengkritisi ucapan Sasori.

Sasori dengan gelapan memperbaiki kata-katanya. "Ehem... maksudku kita semua"

Sakura tampak berpikir sejenak mempertimbangkan penawaran para kurcaci yang tampak masuk akal. "Oke. Tapi aku juga punya syarat"

"Apapun yang kita curi harus dikembalikan kepada rakyat" ucap Sakura.

Para kurcaci mengangguk. Namun, Itachi tampaknya tak setuju sepenuhnya maka ia menyela "Dikurangi sedikit komisi".

Kurcaci lainnya seketika berteriak kesal "ITACHII..."

Itachi mengusap telinganya yang pengang akibat teriakan kurcaci lain. "Apa? Dia bahkan tak tahu caranya mencuri"

"Kita yang akan mengajarinya. Kita akan ajarkan dia untuk percaya" ucap Pein.

.

.

Hari pertama Sakura mendapatkan pelatihan dari Pein. Latihan keseimbangan. Sakura harus berdiri diatas bola rotan besar. Berkali-kali ia terjatuh, lututnya terluka. Tapi Pein tak bergeming, ia justru menyuruh Sakura kembali berdiri diatas bola rotan.

"Kau bisa berpikir kau tinggi padahal kau itu pendek. Bisa berpikir kau kuat padahal lemah. Kelemahan hanya akan jadi kelemahan kalau kau berpikir demikian. Jangan pernah berpikir untuk menyerah dalam situasi apapun. Sebelum menarik pedangmu kau harus mempengaruhi lawanmu terlebih dahulu. Jika mereka terpengaruh dengan penampilanmu, pertarungan telah dimenangkan" nasihat Pein.

BRUKK...

Sakura Jatuh lagi. Pein hanya melirik sekilas. "LAGI!!" perintahnya. "Orang boleh berpikir kau itu manis dan tak akan bisa melawan. Kau harus gunakan itu sebagai keuntunganmu. Senjatamu bukan satu-satunya kawan. Lingkunganmu pun bisa jadi kawan. Bagaimana memulai pertempuran bukanlah hanya sebuah pilihan. Tapi itu bisa mengurangi perbedaan besar antara kemenangan atau kekalahan" lanjut Pein.

Dan tepat saat Pein menyelesaikan kalimatnya, Sakura mampu berdiri tegak di atas bola rotan. Pein hanya tersenyum simpul "Latihan selesai" ucapnya.

"Sepertinya kau adalah mampu belajar dengan cepat" puji Pein lagi. Dan pujian itu membuat Sakura bangga pada dirinya sendiri. Selama seminggu Sakura berlatih banyak hal dari para kurcaci. Keahlian pedang, bertarung tangan kosong, cara menguntit hingga cara menipu adalah sedikit dari ilmu (?) yang dipelajarinya. Memang hal ini tidak terlihat baik, tapi jika kau adalah seorang pembelot yang ingin mencuri dari Ratu Negri Konoha paling tidak hal-hal diatas adalah keahlian minimal yang diperlukan.

Para kurcaci sangat baik pada Sakura. Meskipun kadang mereka kehilangan kesabaran saat mengajari Sakura tapi mereka tetap mengajari Sakura hingga tuntas. Deidara bahkan membuatkan Sakura baju baru. Atasan off shoulder warna biru dan celana kulot coklat buatan Deidara terlihat pas dibadan Sakura. Mau tak mau ini membuat Deidara bangga. Ternyata setelah sekian lama keahliannya dalam desain dan menjahit baju masih luar biasa.

"KYAA... Ini bagus sekali, Dei-san" teriak Sakura kegirangan. Ia bahkan bolak-balik berputar didepan cermin saking senangnya.

Deidara tersenyum melihat keriangan Sakura. Begitu pula kurcaci lainnya. Mereka memuji kecantikan Sakura. Bahkan wajah Sasori terlihat memerah saat memuji Sakura.

.

.

Butuh setidaknya seminggu bagi Naruto untuk mengumpulkan prajurit istana dan membuat strategi penyergapan para "Bandit". Naruto membutuhkan waktu yang lama untuk rencana ini, karena ini bukan kerajaannya. Dan tentu saja birokrasi yang berbelit, belum lagi jumlah prajurit yang tak memadai menjadi penghalang dalam rencana penyergapan ini.

Pada hari yang ditentukan terkumpulah 10 prajurit yang telah berlatih. Mereka beriringan menuju hutan dengan Nruto sebagai komando. Sekitar 2 jam perjalanan mereka sampai di tengah hutan. Naruto memberi tanda berhenti. Ia kemudian turun dari kudanya. "ini tempat para utusan Ratu disergap. Tetap waspada" ujarnya memberi peringatan.

Tak lama seseoang bertudung terlihat muncul dari balik bebatuan besar. Kemudian ia terjatuh dan apel yang dibawanya berhamburan. Ia mengeluh sedikit dan bergumam. Naruto meminta prajurit tetap ditempat mereka, sementara ia mendekati orang itu dengan pedang terhunus.

"Ada yang bisa aku bantu?" Naruto mendekati orang itu dengan hati-hati.

"Tidak apa-apa Tuan. Semua baik-baik saja." Jawab perempuan bertudung. Perempuan bertudung itu kemudian berbalik menghadap Naruto.

"Kau..." Naruto tampak kaget melihat orang yang ditemuinya. Ia adalah Sakura, gadis cantik yang menarik hatinya dipertemuan pertama. Betapa senangnya Naruto dengan pertemuan ini.

"Kau..." Sakura kaget melihat lelaki tampan didepannya. Pangeran Naruto dari Uzumakigakure. Sebenarnya, ia sudah menaruh hati dengan Naruto dipesta dansa. Tapi keadaannya tak memungkinkan saat itu untuk saling mengenal.

"Aku kira kau sudah meninggal" Naruto bingung, dari yang diketahuinya Sakura sudah meninggal. Paling tidak itu yang dikatakan oleh Ratu Tsunade. Tapi Sakura yang saat ini berdiri dihadapannya terlihat sehat, sangat sehat malah.

"Aku juga berpikir demikian" jawab Sakura sarkas. Yah, dia tahu pasti Ratu sudah mengumumkan kalau dia sudah wafat. Memikirkan itu membuatnya kesal. Tapi tak ada waktu bagi Sakura untuk berpikir lebih lama. Karena para kurcaci sudah keluar dari persembunyian.

Melihat bandit yang dicarinya keluar dari persembunyian Naruto langsung berada dalam mode perangnya. Matanya awas melihat sekitar, pedangnya terhunus. Dia berusaha menjaga Sakura tetap dalam jangkauannya untuk melindunginya. "tetaplah dalam jangkauanku. Agar aku bisa melindungimu".

Sakura mendecak kesal, ia tak percaya harus berhadapan dengan Naruto diperampokan kali ini. Tapi apa mau dikata, ia tak punya banyak pilihan. Sakura mengangkat tangannya, meminta pedang. Nagato melompat sambil memberikan pedang ketangan Sakura.

SRINGG...

Mendengar suara pedang dibelakangnya, Naruto menoleh. Ia khawatir Sakura akan ditawan oleh kawanan bandit. Tapi betapa terkejutnya ia melihat Sakura menghunuskan pedang kearahnya. Ia tampak terbengong sesaat, mencoba mencerna situasi dihadapannya. "Kau kawanan banditnya?" tanya Naruto tak percaya.

"Kau berpihak pada Ratu?" ujar Sakura kesal.

.

.

TO BE CONTINUED