FILIA

Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.

Story By : Yana Kim

Lenght : Chaptered

Rate : M

WARNING!

.

Uchiha Sasuke x Yamanaka Ino

SUM:

Persahabatan lima anak manusia dengan motto 'tidak boleh ada cinta dalam persahabatan'. Naruto, Sakura dan Shikamaru telah menikah dengan pasangan masing-masing. Tinggallah Sasuke, si pengusaha kaya tapi playboy dan Ino si desainer cantik yang mudah jatuh cinta, mudah juga patah hati.

.

.

.

Lima

.

.

.

"Sasuke-sama. Makan malam anda sudah datang."

"Terimakasih, Juugo. Boleh taruh disana? Kau boleh pulang." Sasuke menunjuk pada sofa yang ada diruangannya.

"Baik, Sasuke-sama."

Juugo melakukan sesuai yang diperintahkan oleh Sasuke lalu pergi meninggalkan Sasuke setelah berpamitan. Sasuke bangkit dari meja kerjanya menuju sofa itu. Membuka air mineral dan meminumnya, lalu membuka wadah tempat sushi pesanan Juugo berjejer rapi. Beberapa hari ini pekerjaannya semakin menumpuk. Belum lagi pekerjaan Itachi yang sebagian harus ia kerjakan karena kakaknya itu sedang sibuk mengurusi pernikahannya. Sedikit lembut mungkin akan membuat pekerjaannya lebih cepat selesai.

Mulutnya masih penuh dengan sushi saat ponsel di atas meja bergetar. Tumben sekali Naruto menelponnya.

"Ya, Dobe."

"Kau dimana?" tanya Naruto.

"Dikantor."

"Benarkah? Aku butuh bantuanmu. Hinata sedang tidak enak badan jadi aku harus segera pulang. Padahal aku sudah janji pada Ino untuk mengantarkan kandang anjing pesanannya. Boleh tolong antarkan?"

"Kandang anjing?"

"Ya, aku juga kaget saat dia bilang kalau dia memelihara anjing. Namanya Olin kalau aku tidak salah. Bantu aku ya."

"Apa aku harus menjemput benda itu ke kantormu?"

"Tidak perlu, aku akan mengantarkannya ke kantormu sekalian pulang."

"Hn. Titipkan saja pada security dibawah. Jangan membuang waktumu untuk naik."

"Baiklah. Terimakasih Sasuke."

"Hn."

Sasuke menghela nafas saat Naruto memutuskan sambungan telepon mereka. Ke apartmen Ino ya? Ia belum bertemu dengan wanita itu sejak acara kumpul mereka di Apollo. Berarti sudah sekitar satu minggu. Rindu? Tentu saja. Tidak pernah sekalipun ia tidak merindukan wanita itu. Sasuke melanjutkan acara makan malamnya yang sepi layaknya kuburan. Sebagian besar karyawan sudah pulang. Mungkin hanya dirinya dan beberapa staff IT yang belum pulang karena pembaharuan sistem yang mereka lakukan dua hari terakhir ini. Sasuke melirik jam di ponselnya. Masih setengah delapan. Mungkin ia masih sempat memeriksa beberapa laporan lagi sebelum ia pergi ke tempat Ino.

Sasuke membawa bangunan kayu kecil alias kandang anjing dikedua tangannya. Ia sudah menanggalkan jas dan juga dasinya dan meninggalkan keduanya di mobil. Benda itu ternyata lumayan berat dan besar. Sasuke bisa melihat bahwa Naruto membuat kandang anjing itu dengan kayu kualitas tinggi. Petugas keamanan diapartmen Ino sudah menawarkan bantuan pada Sasuke namun ditolak halus oleh pria itu. Sesampainya didepan pintu apartmen sahabatnya itu, Sasuke menurunkan benda itu dan meletakkannya disebelah pintu. Tangannya naik untuk menekan password yang sudah ia hafal diluar kepala. Sasuke kemudian membuka lebar pintu itu agar mempermudah jalannya masuk. Namun ia tekejut saat melihat seorang pria berambut coklat berdiri disana dengan Ino dihadapannya. Jantungnya berdegup aneh seiring dengan emosi yang entah kenapa mendadak naik ke ubun-ubunnya.

"Sasuke..." Pandangan Sasuke beralih pada Ino yang memanggil namanya. Wanita itu juga tampak terkejut.

"Oh, anda pasti Uchiha Sasuke. Saya Inuzuka Kiba. Ino sudah banyak bercerita tentang anda." Suara pria itu membuat Sasuke mengalihkan pandangannya. Pria itu tersenyum ramah dan menawarkan tangannya. Sasuke meraih tangan itu dan menjabatnya.

"Oh ya? Sebaliknya, Ino tidak pernah sedikitpun bercerita tentang anda. Benar, saya Uchiha Sasuke." Sasuke melepaskan jabatan tangan singkat itu dan melirik pada Ino yang terdiam ditempatnya.

"Hahaha. Benarkah? Senang bertemu denganmu Sasuke-san." Senyuman pria bernama Kiba itu tampak tulus. Tidak , senyuman pria itu memang tulus. Sasuke juga bisa merasakannya. Tapi jujur saja ia tidak menyukai senyuman itu. Seolah emosinya beranjak naik saat melihat senyuman itu.

"Hn. Senang bertemu denganmu, Kiba-san." Kiba mengangguk sambil tersenyum kemudian beralih pada Ino.

"Aku pulang dulu kalau begitu. Sampai jumpa, Ino, Sasuke-san."

"Y-ya. Hati-hati, Kiba."

Ino kemudian beralih pada Sasuke.

"Ada apa?" tanya Ino pada Sasuke. Pria itu tidak menjawab. Dalam diam ia membuka sepatunya lalu Sasuke membawa masuk benda yang tadi dibawanya. Ino akhirnya mengerti maksud kedatangan Sasuke yang tidak lain dan tidak bukan adalah membawa barang pesanannya. Tapi kenapa bukan Naruto?

"Apa Naruto memintamu untuk mengantarnya? Padahal dia sudah berjanji akan mengantarnya sendiri." Ino berujar. Merasa gugup dengan alasan yang ia sendiri tidak tahu. Entah kenapa ia merasa takut dengan kenyataan bahwa Sasuke melihat Kiba berada diapartmennya. Sasuke masih diam. Ia meletakkan benda itu disebelah kandang besi milik Odette di ruang tv Ino. Sasuke kemudian berdiri dan berbalik. Ino ada tepat didepannya. Sepertinya wanita itu mengikuti langkahnya tadi. Sasuke menatap iris biru Ino sejenak beberapa saat, kemudian menghela nafas dan melewati Ino untuk berjalan kearah pintu keluar.

"Sasuke, kau baik-baik saja?" Ino menyusul Sasuke. Pria itu tidak menjawab dan malah melanjutkan langkahnya. Ino meraih lengan Sasuke saat Sasuke melewati ruang tamunya.

"Kau kenapa?" tanyanya kemudian. Sasuke melepaskan tangan Ino dan melanjutkan langkahnya. Ia memakai sepatunya dengan cepat dan berdiri untuk meraih gagang pintu. Ino kembali menahan lengan Sasuke, kali ini dengan kedua tangannya.

"Kau marah padaku?"

"Menurutmu?" Sasuke kemudian berbalik dan melipat tangannya didada.

"Tapi kenap—"

"Saat aku mengatakan padamu untuk mengambil waktu sebanyak yang kau mau adalah untuk memikirkan hubungan kita yang sudah tak sama lagi dengan sebelumnya sejak kejadian itu. Bukan untuk menjalin hubungan baru dengan pria Inuzuka itu." Nafas Sasuke terdengar menggebu. Kentara sekali emosi sedang menguasai pria itu.

"Sasuke, kau salah paham. Aku dan Kiba ti—"

"Cukup," ujar Sasuke seraya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Tangan kanannya naik memegang pipi Ino.

"Emosiku sedang tidak stabil setelah melihat pria itu. Aku mungkin akan mengeluarkan kata-kata yang bisa menyakiti perasaanmu dan aku tidak mau itu terjadi. Biarkan aku pergi." Setelah mengatakannya, Sasuke keluar dari apartmen Ino. Wanita itu hanya diam ditempatnya dengan rasa bersalah ratusan ton yang tiba-tiba bertengger santai dibahunya. Disaat seperti ini pun, Sasuke masih memikirkan perasaannya?

.

.

.

Satu minggu ini Ino dilanda stress karena tidak bisa menyelesaikan desain pesanan kliennya. Ia tidak bisa konsentrasi dan sama sekali tidak mendapatkan inspirasi untuk gaun pernikahan salah satu selebriti papan atas yang akan menikah tiga bulan lagi. Sejak kejadian Sasuke yang marah karena mendapati Kiba diapartemennya seminggu yang lalu, Ino terus memikirkannya sampai-sampai tidak bisa berkonsentrasi di butiknya. Sasuke tidak menghubunginya ataupun datang menemuinya. Ino menyimpulkan kalau Sasuke masih marah padanya.

Ino sungguh menyesali apa yang sudah terjadi. Kalau saja ia tidak melakukan hal itu dengan Sasuke dua bulan lalu, mungkin semuanya akan berjalan baik-baik saja. Hubungan persahabatannya dengan Sasuke akan baik-baik saja dan mungkin saja hubungan percintaannya juga bisa berjalan baik. Kalau saja ia bertemu dengan Kiba sebelum kejadian itu, mungkin Ino dan Kiba sudah menjadi sepasang kekasih. Ya, jujur saja Ino tertarik dengan pria itu. Kiba berhasil membuatnya kagum saat pria itu menolong Odette yang terluka. Pria itu juga sukses membuat Ino terpesona dengan kesederhanaan dan ketulusan pria itu. Kalau saja semuanya masih baik-baik saja, mungkin ia tidak akan galau memikirkan Sasuke dan penyataan cinta tak langsung yang dilakukannya didepan Naruto dan Shikamaru. Kalau saka semuanya masih baik-baik saja, mungkin Ino bisa fokus bekerja dan tidak stress seperti belakangan ini.

Namun sayang, bukan penyesalan namanya kalau tidak datang diakhir. Meskipun terus menerus menggumamkan dalam hati bahwa semuanya sudah terjadi dan tidak bisa di ulang lagi, rasa sesal itu selalu muncul. Ino tidak tahu bagaimana bersikap saat Kiba lagi-lagi membuatnya terpesona dan disaat yang sama wajah Sasuke muncul dikepalanya. Ino benar-benar dilanda stress. Untung saja ada Odette yang selalu bisa menghiburnya. Anjing pintar itu selalu berhasil mengembalikan mood Ino dan membuatnya tertawa. Dan kepada siapa Ino harus berterimakasih atas kehadiran Odette dirumahnya? Tentu saja Inuzuka Kiba. Kalau saja Kiba tidak menyarankan untuk memelihara Odette, Ino memang berencana untuk membiarkannya tinggal dengan Kiba di klinik pria itu.

Ino meminum lemon tea hangat kesukaannya, kemudian menyandarkan dirinya pada kursi dan memejamkan matanya. Sungguh otaknya terasa blank dan satu ide pun tidak mau muncul. Kepalanya juga sering mendadak pusing. Mungkin karena pola makan Ino yang akhir-akhir ini tidak teratur. Juga jam tidurnya yang mulai berantakan karena insomnia yang entah kenapa tiba-tiba ia rasakan. Apa karena stres yang ia alami beberapa waktu terakhir? Ino kemudian menatap lembaran kertas kosong di depannya. Sepertinya Ino harus menyerah. Menyerah untuk memaksakan otaknya berpikir karena akan menambah pusing dikepalanya. Ino meraih tasnya kemudian beranjak dari sana. Kebetulan ia sudah ada janji untuk mengambil makanan Odette dari tempat Kiba.

Kiba sedang memberi makan pada anjing-anjing disana saat Ino datang. Ino tersenyum melihat bagaimana Kiba seolah berbicara pada manusia saat memberikan makan dan minum pada anjing-anjing itu.

"Hei." Ino menyapa. Kiba berbalik dan menampilkan senyuman khasnya.

"Hei. Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat tidak sehat."

"Aku baik-baik saja. Hanya kurang tidur." Kiba mengangguk prihatin.

"Jangan terlalu sering begadang. Tidak baik untuk tubuh dan kulitmu." Kiba mengeluarkan kopi kalengan dari kulkas mini disebelah meja kerjanya dan memberikan salah satunya pada Ino.

"Aku begadang bukan karena keinginanku. Tiba-tiba saja aku mengalami insomnia beberapa hari terakhir. Aku terjaga dimalam hari menjelang pagi." Ino meminum kopinya setelah mendudukkan diri dikursi yang berhadapan dengan meja kerja Kiba.

"Kau tidak minum kopi sebelum tidur kan?" tanya Kiba. Ino menggeleng.

"Aku ingin mengambil makanan Odette."

"Oh iya. Aku lupa." Kiba bangkit dan mengambil satu bungkus makanan anjing berukuran besar dan mengemasnya lalu meletakkannya diatas meja.

"Aku transfer seperti kemarin ya." Ino mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.

"Boleh." Kiba memandang Ino yang fokus melakukan transaksi mobile banking didepannya kemudian buru-bulu mengalihkan pandangannya saat Ino mengangkat kepalanya.

"Boleh aku pinjam toiletmu?"

"O-oh. Tentu."

Ino mengangguk seraya meletakkan ponselnya dimeja bersama dengan tasnya. Wanita itu bangkit dan masuk kebagian dalam klinik. Kiba membuka kaleng kopinya ketika ponsel itu berdering diatas meja. Kiba melirik pada nama 'Naruto' yang terpampang nyata dilayar ponsel itu. Kiba tahu Naruto, salah satu dari empat sahabat Ino yang pernah diceritakan oleh wanita itu. Kiba membiarkan deringan itu hingga berhenti. Sebaiknya menunggu Ino sampai kembali saja. Namun ponsel itu berdering lagi. Masih nomor Naruto. Kiba berpikir sebentar, kemudian mengangkatnya karena takut itu adalah sesuatu yang penting.

"Ino-chan, kenapa lama sekali kau mengangkat telponku?"

Kiba berdeham sebentar. Entah kenapa ia merasa gugup menerima telpon dari sahabat Ino tersebut.

"Bukan Ino ya? Apa aku salah menghubungi?"

"Benar ini adalah nomor Ino, Naruto-san."

"Lalu kau siapa? Kau menculik Ino kami ya?! Bagaimana kau bisa tahu namaku?!" Nada panik terdengar dari seberang sana.

"Saya Inuzuka Kiba, teman Ino. Saya tahu karena nama anda tertulis dengan jelas disini."

"Benarkah? Lalu Ino dimana?"

"Ino sedang di kamar kecil."

"Ah. Oh ya, aku Uzumaki Naruto. Aku ini sahabat sehidup sematinya Ino. Kau jangan cemburu ya Inuzuka-san. Aku sudah menikah, jadi tenang saja."

"Aa..."

Ino muncul tak lama kemudian. Kiba memberikan ponsel ditangannya pada Ino. Ino menerimanya dan melihat nama Naruto disana.

"Naruto, ada apa?"

"Oh, Ino? Hei... Siapa laki-laki didekatmu itu? Diam-diam ternyata kau sudah punya kekasih ya."

Ino memutar matanya bosan. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Ada apa?"

"Oh aku hampir lupa. Sasuke sudah pindah apartmen dua hari yang lalu. Dia ingin kita mengatur waktu untuk merayakannya disana. Tapi aku ingin akan kesana malam ini dan memberikan kejutan padanya."

Ino terdiam sejenak. Sasuke benar-benar pindah apartmen? Karena perkataannya saat kejadian itu?

"Ino sayang, kau dengar aku?"

"Y-ya. Tentu saja. Baiklah, kita bertemu dimana?" tanya Ino kemudian.

"Kita bertemu di parkiran apartmen Sasuke saja. Nanti aku kirimkan alamatnya."

"Oke. Aku akan bawa minumannya."

"Benar juga. Kalau begitu akan beli makanan sebelum kesana. Sampai jumpa."

Ino menyimpan ponselnya kedalam tas. Entah karena radiasi ponsel setelah bertelepon atau karena baru saja membahas tentang Sasuke dan apartmennya, Ino merasa pusing dikepalanya kian menjadi. Helaan nafas beratnya didengar oleh Kiba.

"Kau baik-baik saja?" tanya Kiba khawatir.

"Ya, aku baik-baik saja."

"Maaf karena mengangkat panggilanmu. Aku hanya takut ada sesuatu yang penting."

Ino tersenyum. "Tidak apa-apa. Oh ya, sudah sore, aku pergi dulu."

"Kau tidak akan ke butik lagi kan? Aku harap kau segera pulang dan beristirahat. Yang kau butuhkan saat ini adalah tidur. Tekanan darahmu turun karena insomnia yang kau alami. Tidur yang agak lama akan sangat membantu."

"Terimakasih, Kiba." Ino baru saja ingin mengambil bunkusan berisi makanan Odette ketika tangannya di pegang oleh Kiba. Hanya sentuhan halus.

"Kalai kau butuh sesuatu, hubungi aku."

Ino tersenyum dan mengangguk, lantas keluar dari klinik itu.

.

.

.

Apartmen baru Sasuke sama besarnya dengan yang sebelumnya. Namun lokasi agak jauh dari pusat kota sehingga butuh waktu empat puluh lima menit dari tempat itu ke kantor Sasuke. Naruto dan Shikamaru tampak melihat-lihat setiap ruangan di apartmen itu dengan seksama, sedangkan Ino hanya duduk di meja makan bersama dengan Sasuke. Kepala masih terasa pusing. Kiba memang memintanya untuk tidur, namun meskipun Ino sudah mencobanya tetap saja sulit baginya untuk benar-benar masuk ke alam tidurnya. Dan sekarang, dengan Uchiha Sasuke ada dihadapannya entah kenapa menimbulkan perasaan lain dalam diri Ino. Ada rasa lega saat melihat Sasuke ada didekatnya. Rasa senang yang entah kenapa muncul dalam relung hati Ino. Ino baru saja selesai menyusun makanan yang Naruto bawa juga gelas untuk white wine yang ia bawa. Sekarang ia malah duduk berhadapan dengan Sasuke yang sedari tadi tidak berhenti memandangnya.

"Kau sakit?" tanya pria itu membuat Ino terkejut karena sebelumnya lelaki itu hanya diam saat Ino bergerak kesana kemari untuk menyiapkan makanan.

"Aku baik-baik sa—."

"Aku suka kamar mandinya. Jacuzzinya luar biasa! Tiba-tiba aku jadi terinsipirasi untuk mendesain jacuzzi untuk rumahku."

Naruto dan Shikamaru muncul.

"Apa jacuzzinya hanya ada di kamar utama?" tanya Shikamaru kemudian.

"Hn. Kamar yang lain hanya ada bathtub." Sasuke menanggapi.

"Ayo makan. Kalian tahu aku beli ini dari restoran Cina favorit kita loh! Ittadakimasu!" Naruto mengambil sumpit dan mulai memakan makanan yang sudah tersusun di depannya. Ino mengikuti Naruto.

"Wanita itu sudah tahu kau pindah?" Ino sedang memakan tumis sayuran ketika pertanyaan Shikamaru membuatnya terbatuk. Untunglah hanya batuk kecil yang tidak terlalu kentara.

"Hn." Sasuke menyahut. Tangannya sibuk mengambil daging didepannya.

"Kalian belum berbaikan ya?" tanya Naruto lagi.

"Begitulah." Ino sendiri hanya diam. Lagi. Sasuke membahas dirinya lagi. Sesuatu yang sukses membuatya gugup.

"Segeralah berbaikan. Masa baru kali ini kau jatuh cinta malah tidak berakhir baik sih." Naruto berujar lagi.

"Hn."

"Oh iya! Aku lupa sesuatu!" Naruto meletakkan sumpitnya kemudian meraih bahu Ino yang berada disebelahnya.

"Ino cantik kita ternyata sudah punya kekasih," lanjut pria kuning itu kemudian. Tentu saja itu adalah perkataan yang mengundang ketertarikan dari dua orang pria yang ada disana. Shikamaru tampak antusias sementara pria Uchiha disampingnya tampak mengeraskan rahangnya. Pria nanas itu tersenyum.

"Benarkah? Siapa dia? Perkenalkan pada kami."

"Dia bukan kekasihku, Naruto no Baka." Ino mendorong Naruto yang masih memeluknya dari samping.

"Sudahlah, mengaku saja. Dia terdengar ramah. Kalangan artis lagi?" tanya Naruto.

"Sudah kubilang bukan. Dia dokter hewan yang merawat Odette saat kutemukan. Kliniknya tak jauh dari butikku. Tadi aku kesana mengambil stok makanan untuk anjingku." Ino menerangkan, kemudian menjejalkan tumis sayur kemulutnya. Entah kenapa merasa takut untuk mengangkat wajahnya kedepan dimana Sasuke berada.

"Jadi seorang dokter hewan ya? Menarik. Aku ingin bertemu dengannya. Klinik hewan tak jauh dari butikmu kan?"

"Naruto..." Ino memberikan nada peringatan.

"Sudahlah sayang. Kalau dia baik pasti kami mendukung. Bukan begitu Sasuke, Shikamaru?"

"Naruto benar," sahut Shikamaru. Ino hanya menghela nafas. Bukan karena ia pasrah kalah berdebat dengan Naruto, ia selalu menang dalam hal ini dengan Naruto. Tapi kondisi kepalanya yang pusing membuat ia menyerah dan tidak ingin melanjutkan perdebatan konyol itu. Ino tidak tahu, bahwa diamnya mengundang spekulasi yang berbeda dari pria berambut raven didepannya.

Perayaan kecil-kecilan itu ternyata berakhir sampai tengah malam. Naruto beserta Ino dan Shikamaru kemudian berpamitan pada Sasuke. Sasuke baru saja ingin berbalik masuk kedalam rumah ketika ia mendengar suara bel yang berbunyi. Ketika pintu terbuka, wajah Ino langung memenuhi pandangannya.

"Ada yang tertinggal?" tanya Sasuke setelah beberapa detik menatap wajah yang dirindukannya itu. Ino menggeleng.

"Apakah kau ada waktu besok?"

"Hn." Selalu. Uchiha Sasuke selalu ada waktu untuk Yamanaka Ino.

"Ada yang ingin aku bicarakan. Kita bertemu di cafe di seberang gedung kantormu. Akan kukabari bisa aku sudah tiba disana." Seketika rasa lega menaungi hati Sasuke. Setelah dua bulan lebih berlalu, akhirnya Ino mau bertemu dan bicara dengannya. Namun disatu sisi ia merasa gugup. Ia tidak tahu apakah hal yang akan Ino sampaikan padanya esok hari adalah sesuatu yang akan membuatnya senang—setidaknya lega— atau malah sebaliknya.

"Aku mengerti."

Ino mengangguk. "Kalau begitu aku pergi dulu."

Sasuke meraih lengan Ino yang akan berbalik.

"Kau benar-benar baik-baik saja? Kau tampak tidak sehat."

Ino tersenyum. Sasuke dan perhatiannya yang tidak berubah. Ino tidak tahu keputusan yang ia ambil esok hari adalah keputusan yang tepat atau malah sebaliknya.

"Aku baik-baik saja."

.

.

.

Ino memandang pada jam digital raksasa didinding kafe. Jam segini, seharusnya Sasuke sedang istirahat makan siang. Secangkir matcha latte dan sepiring yang berisi tiga potong red velvet cake tersaji didepannya. Kafe bergaya modern yang hanya menjual aneka minuman dan cake. Ino sendiri memilih meja yang ada disudut ruangan yang pemandanganya langsung ke perempatan dengan lampu merah yang ramai. Ia baru saja mengirimkan pesan singkat pada Sasuke bahwa ia sudah tiba di kafe. Ino sendiri sudah berpesan pada pelayan kafe untuk menyajikan segelas kopi hitam saat Sasuke datang nanti.

Ino sedang menyuapkan red velvet cake ke mulutnya saat Sasuke datang. Masih dengan setelan kerjanya, Sasuke berjalan kearahnya. Hanya penglihatannya saja atau memang Sasuke terlihat lebih tampan dengan setelan hitam-hitamnya. Bukannya langsung duduk, Sasuke tiba-tiba meraih tisu dan mengusap sudut bibir Ino. Jantung Ino berdegup kencang seketika.

"Ada krim." ujarnya kemudian duduk dihadapan Ino.

"T-terimakasih."

"Red velvet?" tanya pria itu.

"Saat melihatnya aku tiba-tiba merindukan Sakura," jawab Ino. Sasuke memandang pada wajah Ino yang masih sama pucatnya dengan semalam. Tangannya refleks naik dan menyentuhkan punggung tangannya pada kening Ino.

"Kau benar-benar tidak apa-apa? Dari semalam kau tampak tidak sehat."

"Sedikit insomnia sebenarnya."

"Kau tidak pernah punya insomnia."

"Aku juga tidak tahu." Ino menyesap matcha lattenya

"Dan kau masih minum matcha latte?"

Seorang pelayan datang membawa kopi pesanan Ino dan meletakkannya didepan Sasuke. Pria itu tersenyum tipis karena tahu Inolah yang pasti memesannya. Setelah pelayan itu pergi, Ino berdeham. Semata-mata untuk menghilangkan kegugupannya. Duduk berhadapan dengan Sasuke yang menatapnya intens mau tidak mau membuatnya gugup.

"Tentang sesuatu yang kau katakan pada Shikamaru dan Naruto."

Sasuke diam mendengarkan. Mata kelamnya memandang lurus pada Ino.

"Kau tahu, kau seharusnya tidak perlu mengatakannya. Apa kau berniat memberitahu mereka kesalahan yang sudah kita perbuat?" tanya Ino.

"Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Aku ingin kau tahu kalau aku... kalau aku benar-benar mencintaimu."

"A-apa? Apa kau tahu apa yang sudah kau katakan? Jangan bermain-main dengan ucapan seperti itu Sasuke!"

"Apa aku terlihat main-main?"

"Jadi kau serius?"

Sasuke menarik nafas dalam-dalam. "Setelah dua bulan sialan ini. Apa yang kau putuskan?"

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau... kau serius?"

"Tentu saja aku serius!" Sasuke hampir menggebrak meja.

"Tapi bagaimana bisa? Maksudku... sejak kapan?"

"Akan kukatakan setelah mendengar keputusanmu. Aku harap kau tidak mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal seperti dua bulan lalu." Sasuke menyandarkan tubuhnya ke kursi. Belum setengah jam disini namun ia sudah merasa lelah sekali.

"Tidak, katakan terlebih dahulu." Ino berkeras.

"Ino. Sudah dua bulan berlalu dan kau masih mau mempermainkan perasaanku? Bukankah sudah pernah kukatakan kalau orang yang pernah aku sukai adalah kau?" Sasuke mengacak rambutnya frustasi.

"Tapi kita sedang membicarakan masa lalu saat itu dan kupikir itu hanya... hanya—"

"Dari dulu hingga sekarang. Perasaanku tidak pernah berubah. Hanya kau."

Ino bisa mendengar dengan jelas suara degupan jantungnya. 'Hanya kau.' Dua kata itu seolah terngiang dikepala Ino.

"Tapi aku tidak pernah menyukaimu, apalagi mencintaimu." Entah kenapa mendengar Ino mengatakan kalimat itu dengan nada yakin membuat hati Sasuke yang sebelumnya hanya retakan kini hancur menjadi kepingan. Bungsu Uchiha itu membuang pandangannya kearah jendela. Sebenarnya ia sudah menduga ini yang akan ia dengar dari seorang Yamanaka Ino. Ia sudah bersiap untuk itu. Namun ternyata rasa sakit itu melebihi ekspektasinya. Ia kira tidak akan sesakit ini. Seolah ada yang menggenggam jantungnya dan meremasnya kencang.

"Aku tahu." Sasuke kemudian membuang nafasnya sebelum melanjutkan. "Tapi setidaknya jangan putus tali persah—"

"Akan kuberi kau waktu satu bulan."

"Apa?" Sasuke mengerutkan alisnya.

"Kuberi kau waktu satu bulan untuk membuat aku mencintaimu."

"A-apa?! Kau bilang apa?" Sasuke menajamkan pendengarannya. Sebenarnya ia mendengarnya dengan baik. Tapi ia takut itu adalah ilusi semata akibat patah hati yang baru saja ia rasakan.

"Buat aku mencintaimu dalam waktu satu bulan. Setidaknya buat aku menyukaimu dan berpikir bahwa kau tidak terlalu buruk untuk dijadikan pasangan."

Sasuke terdiam. Tidak. Ini bukan ilusi, bukan juga pendengarannya yang buruk. Ino benar-benar mengatakannya. Ino benar-benar memberikannya... kesempatan? Bolehkan Sasuke menyebutnya begitu?

"Kau serius?" tanya pria itu kemudian.

"Kau berharap aku bercanda? Kau tahu..." Ino menunduk. "Ini juga keputusan yang sangat sulit untukku," ujarnya lemah. Sasuke meraih tangan Ino yang terletak diatas meja.

"Kau tak akan menyesali keputusan ini."

"Kuharap begitu." Ino menarik nafasnya. "Kalau begitu aku pulang dulu." Ino bangkit dari duduknya dan meraih tasnya.

"Aku antar."

"Aku bawa mobil."

"Aku tidak melihat mobilu diparkiran kafe ini."

Ino membuang pandangannya. Karena kondisi tubuhnya yang tidak fit, Ino memilih untuk naik taksi. Sungguh ia tidak ada niat untuk mengambil kesempatan agar Sasuke mengantarnya. Ia sendiri sedang malu berada didepan Sasuke karena keputusannya yang ia katakan beberapa saat lalu. Meminta Sasuke membuatnya jatuh cinta pada pria itu? Ino tahu itu keputusan yang gila dan ia sangat malu saat ini.

Greb! Mata Ino membulat saat Sasuke meraih tangan kanannya.

"Menyeberang ke kantorku sebentar ya. Mobilku disana."

Ino akhirnya memberanikan diri memandang pada Sasuke. Demi Tuhan, pria itu tersenyum tipis. Sangat khas Sasuke. Ino menyadari bahwa sejak kejadian kurang lebih dua bulan lalu, Sasuke tidak pernah menampakkan senyumannya. Bolehkah Ino mengatakan kalau ia merindukan senyuman lelaki itu? Ya, Ino sangat merindukannya. Sangat sangat rindu. Baik itu senyumannya, maupun sang pemilik senyuman itu sendiri.

.

.

.

Kiba sangat menyukai hewan. Semuanya tanpa terkecuali. Semut didinding, katak dikubangan bahkan cacing ditanah selalu menarik perhatian Kiba. Namun anjing adalah hewan yang paling ia sukai. Anjing perlambang kesetiaan. Tidak seperti merpati yang menjadi lambang setia antar pasangan, kesetiaan anjing lebih kepada siapa yang peduli padanya. Biasanya hal ini mengarah kepada majikan yang selalu memberi makan ataupun orang yang pernah menolong anjing. Ia punya anjing peliharaan yang paling ia sayangi karena sudah menemainya sejak ia bayi. Anjing itu bernama Akamaru. Umurnya yang singkat merupakan salah satu hal yang sangat disayangkan Kiba pada anjing-anjing itu.

Akhir-akhir ini ada sesuatu yang menarik perhatian Kiba melebihi para hewan itu. Dibandingkan sesuatu, lebih tepat bila disebut seseorang. Ya, seseorang tersebut adalah Yamanaka Ino. Hal yang muncul dikepala coklat Kiba ketika melihat Ino adalah cantik. Sangat cantik. Bahkan rasanya cantik saja tidak cukup untuk menggambarkan wajah Ino.

Kebaikan wanita itu pada seekor anjing yang sedang sekarat menambah kecantikan wanita menjadi berkali lipat. Hati wanita itu sama seperti wajahnya. Cantik. Kiba menyukaianya? Tentu saja. Kiba rasa semua pria akan jatuh cinta semudah itu pada Yamanaka Ino.

Kiba tengah menyusun stok makanan anjing dan kucing yang baru datang. Mengelola klinik hewan seorang diri memang melelahkan, tapi Kiba sangat menikmatinya. Ia sedang menata kotak terakhir ketika terdengar bel otomatis pertanda ada yang datang.

"Selamat siang, ada yang bisa kubantu?" tanya Kiba pada sosok pria dengan setelan jasnya yang tampak mahal.

"Oh benar, ini sama dengan suara yang kemarin. Kau Inuzuka Kiba kan?"

"Naruto-san?"

Naruto tertawa senang. "Wah senang sekali kau juga mengingat suaraku. Senang bertemu denganmu." Naruto memberikan tangannya yang langsung disambut oleh Kiba lengkap dengan senyumannya.

"Senang bertemu denganmu. Ada yang bisa kubantu?" tanya Kiba.

"Sebenarnya aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku sempat membeli kopi dari kafe diujung sana." Naruto mengangkat paper bag kecil berisi dua gelas kopi.

"Aa. Kalau begitu silahkan duduk, Naruto-san." Kiba mengarahkan Naruto pada meja kerja milik pria itu.

"Jangan terlalu formal padaku. Panggil Naruto saja." Naruto menggeser segelas kopi pada Kiba.

"Terimakasih, Naruto."

"Nah begitu. Toh kita kan sudah jadi teman. Kekasih Ino berarti temanku juga." Naruto membuka penutup kopinya dan menyesap sedikit cairan panas itu.

"A-ah. Saya bukan kekasih Ino. Kami hanya teman." Kiba mengikuti gerakan Naruto.

"Sudahlah tidak apa-apa. Mungkin lebih tepatnya belum. Tenang saja, aku akan mendukungmu kok."

Kiba tidak tahu harus berkata apa. Apa sangat terlihat kalau ia menyukai Ino?

"Apa kau menjual anjing-anjing itu?" tanya Naruto kemudian. Ia menunjuk pada beberapa ekor anjing didalam kandang tak jauh dari mereka.

"Tidak. Akan kuberikan bila ada yang ingin memelihara. Mereka anjing-anjing terlantar." Naruto mengangguk.

"Apa kau mau memelihara satu diantara mereka?" tanya Kiba.

"Sepertinya menarik. Tapi aku harus mendiskusikannya terlebih dahulu dengan istriku. Dia senang hamil jadi sangat sensitif. Akan segera kukabari. Aku juga akan memberitahu teman-temanku yang lain. Mungkin mereka berminat."

"Terimakasih, Naruto. Kau baik sekali."

Naruto menggeleng. "Yang baik itu kau, Kiba. Kalau dewa anjing betul-betul ada, mungkin dia akan memberikan berkatnya padamu."

Kiba tertawa kecil. "Kau lucu sekali."

"Oh iya, tentang Ino. Hubungan kalian sudah sejauh mana?"

"Seperti yang tadi kubilang. Kami hanya teman."

"Kau sudah punya kekasih?" tanya Naruto dengan mata menyipit.

"Tidak ada," jawab Kiba yang disambut tepukan tangan dari Naruto.

"Bagus sekali. Berarti ini tidak akan sulit. Kau tahu, Ino kami itu orang yang sangat baik. Jadi aku ingin dia mendapatkan orang yang baik juga. Aku rasa kau adalah orang yang tepat, Kiba."

"Ya, Ino memang orang yang baik."

"Nah, karena itulah, jangan berlama-lama lagi. Aku, Sasuke dan Shikamaru pasti mendukungmu. Sakura di Jerman sana juga pasti mendukung. Hehehe. Jadi bergerak cepat, oke?"

Kiba hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Naruto. Bersyukur karena Naruto memang terlihat benar-benar mendukungnya. Tapi apa gunanya semua dukungan itu kalau tokoh utamanya, Yamanaka Ino tidak menyukainya? Ya, Kiba memang belum tahu bagaimana perasaan Ino terhadapanya. Ia hanya berharap kalau Ino akan memberikannya kesempatan.

.

.

.

"Kau yakin ke butik? Kau tampak tidak sehat." Sasuke menghentikan mobilnya tepat didepan butik Ino.

"Kenapa harus tidak yakin? Ino belum terlalu sore. Lagi pula ada beberapa email yang harus kubalas."

"Kenapa kita tidak ke ruma sakit dulu? Kau benar-benar kelihatan sakit, Ino."

"Aku baik-baik saja, Sasuke. Percayalah." Ino berniat membuka pintu mobil ketika tangannya ditahan oleh Sasuke.

"Ada apa?" tanya Ino.

"Terimakasih."

Ino hanya diam.

"Untuk kesempatan yang sudah kau berikan, terimakasih."

Ino tidak tahu harus menjawab apa. Entah kenapa ucapan terimakasih dari pria itu membuat Ino kian merasa bersalah. Ino adalah sosok yang menyakiti Sasuke. Ino adalah sosok yang menjauh dari Sasuke dengan bodohnya karena kesalahan yang didalamnya ia turut andil. Tapi pria itu masih mengucapkan terimakasih dengan tulus.

Ino tidak bisa menjawab karena memang ia tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk membalas ucapan terimakasih dari Sasuke. Akhirnya, Ino hanya mendekatkan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan dipipi pria itu sebelum keluar dari sedan Sasuke dengan wajah memerah malu. Mencium pipi Sasuke, Shikamaru dan Naruto adalah hal yang biasa, bahkan sangat biasa ia dan Sakura lakukan begitu juga sebaliknya. Namun kali ini,setelah apa yang terjadi dan apa yang ia ucapkan pada Sasuke di kafe, Ino merasa aneh. Ada rasa gugup juga bahagia disaat yang bersamaan saat ia mencium pipi Sasuke. Ino sungguh tidak tahu kenapa.

Hal yang Ino lakukan saat sampai di butiknya adalah membuka email dari beberapa penyuplai bakak juga aksesoris pelengkap untuk butiknya. Stok dari beberapa kain memang sudah menipis dan Ino sudah mengirimkan permintaan pemesanan tiga hari yang lalu. Ia harus segera mengirimkan balasan ini karena kepalanya terasa semakin pusing saat melihat layar dan tulisa di laptopnya.

Ia barus saja menekan tombol enter pada opsi kirim di emailnya ketika pintu ruangannya diketuk.

"Masuk," seru Ino.

Tidak ada jawaban ataupun pintu yang dibuka. Namun ketukan itu masih berlanjut.

"Masuk!" Ino mengeraskan suaranya, namun hal yang sama terjadi. Ino mengerutkan keningnya. Ia merasa pendengaran anak buahnya semuanya bagus, namun kenapa orang dibalik pintu tetap mengetuk pintu padahal Ino sudah berteriak. Akhirnya Ino bangkit dan berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Alisnya kembali berkerut ketika pintu tidak bisa dibuka. Seolah orang dibalik pintu menahannya.

"Siapa disana?!" teriak Ino lagi. Tidak ada jawaban, namun pintu masih dengan kuat tertahan.

"Siapa di— Kyaa!" Ino masih berusaha mendorong ketika pintu terbuka tiba-tiba dan menampilkan Naruto dengan wajah yang dibuat sejelek mungkin.

"Pfft! HAHAHA...!"

Ino menatap tak percaya pada sosok berambut pirang didepannya yang kini tertawa terbahak-bahak. Seharusnya ia sadar lebih awal bahwa satu-satunya orang yang mungkin melakukan hal bodoh seperti itu adalah Naruto. Tidak mungkin anak buahnya mau bermain-main dengannya.

"Baka! Baka! Baka!" Ino melayangkan pukulan-pukulan andalanya pada Naruto yang hanya bisa menghindar sambil terus tertawa.

"Sudah lama kau tidak kemari, jadi aku tidak menyangka kau yang melakukannya." Ino akhirnya menyerah dan masuk kedalam ruangannya diikuti oleh Naruto.

"Hahaha. Ya, memang sudah lama sekali. Ruanganmu tidak berubah sama sekali." Naruto melihat-lihat ruangan Ino.

"Aku tidak mengubah sedikitpun rancanganmu."

"Olin apa kabar?" tanya Naruto kemudian. Ia mendudukkan dirinya disofa besar yang ada diruangan itu.

"Berapa kali harus kukatakan namanya bukan Olin. Odette sehat-sehat saja. Kau mau minum apa?"

"Air putih saja. Aku baru saja minum kopi dengan Kiba."

"Apa? Kau benar-benar pergi menemuinya?" Ino memandang tak percaya.

"Dia orang yang menyenangkan. Tampan dan baik hati. Dia penyayang binatang loh Ino." Naruto berujar sambil menerima segelas air putih dari sahabat pirangnya.

"Aku tahu. Aku yang lebih dulu mengenalnya dari pada kau." Ino kemudian berbalik hendak kembali duduk dimeja kerjanya.

"Karena itulah, jadi tunggu apa lagi? Dia sangat cocok untukmu. Kami berbincang cukup lama, kau tahu dia memelihara anjing yang terlantar dan memberikannya pada siapa saja yang mau memelihara anjing-anjing itu."

Naruto memandang Ino yang berdiri ditempatnya. Wanita itu tidak melanjutkan langkahnya menuju meja kerjanya. Tangan Ino tampak naik memegangi kepalanya.

"Ino?" panggil Naruto pada Ino yang masih diam ditempatnya.

"N-naruto..." panggil wanita itu. Naruto langsung berdiri dan melangkah mendekat.

"Kau kena— Ino!" Naruto dengan sigap menahan tubuh Ino yang tiba-tiba meluruh jatuh.

"Ino! Ino!" Naruto mencoba membangunkan Ino dengan menepuk pelan pipi wanita yang tengah pingsan itu dan memanggil-manggil namanya.

.

.

.

Naruto membawa Ino ke Rumah Sakit Konoha. Naruto sudah menghubungi Sasuke dan Shikamaru selama Ino menjalani pemeriksaan didalam sana. Keduanya sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Seorang dokter keluar dari ruang periksa yang langsung diburu Naruto dengan pertanyaan terkait kondisi sahabat pirangnya itu.

"Kandungannya sangat lemah. Dia harus menjalani rawat inap satu sampai dua minggu kedepan untuk memastikan janinnya tetap sehat. Saya sudah menghubungi poli kandungan, sebentar lagi mereka akan datang dan membawa istri anda ke kamar dimana beliau dan calon bayinya akan mendapatkan perawatan insentif."

Naruto melongo mendengarkan penjelasan dari dokter cantik didepannya itu.

"Sensei, apa mungkin selain Ino ada seorang wanita lain yang juga sedang melakukan pemeriksaan dan anda salah memberikan informasi pada saya?" tanya Naruto dengan wajah bingungnya.

"Maksud anda?" tanya dokter itu dengan wajah tak kalah bingung.

"Anda baru saja memeriksa berapa orang didalam sana?" tanya Naruto lagi.

"Satu orang."

"Berambut pirang panjang?"

"Ya, benar."

"Bermata biru seperti saya?"

"Maaf, tapi beliau masih belum sadar jadi saya tidak tahu warna matanya. Sebenarnya apa maksud pertanyaan anda?" tanya dokter itu.

Naruto mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Ino pada dokter itu.

"Anda baru saja memeriksa orang ini kan?"

"Ya, benar. Anda baik-baik saja? Anda yang membawa beliau kemari dan sekarang anda bertanya siapa yang baru saja saya periksa?"

"Jadi maksud anda, teman saya itu, yang baru anda periksa itu sedang hamil?"

"Jadi beliau bukan istri anda?" Naruto dengan cepat menggeleng.

"Dia benar-benar hamil? Anda tidak salah periksa kan?"

Dokter itu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.

"Dia sedang hamil dan kondisi janinnya sangat-sangat lemah." Dua orang perawat kemudian datang, masuk kedalam ruang periksa dan keluar dengan membawa Ino yang kini terbaring di ranjang pasien. Naruto hanya memandang Ino dengan pandangan yang didominasi oleh kebingungan.

"Teman anda sudah dibawa ke kamar rawatnya. Sebaiknya anda mengurus administrasi terkait opname yang akan dijalaninya satu sampai dua minggu kedepan. Saya permisi dulu."

"A-ah, terimakasih sensei."

Shikamaru muncul dengan langkah terburu-buru.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Shikamaru.

"Shikamaru, kita harus pergi sekarang. Kita harus meminta pertanggung jawaban dari dokter hewan sialan yang sudah menghamili Ino."

"A-apa?!"

"Ino hamil dan kandungannya sangat lemah! Ayo, kita harus pergi sekarang!

Shikamaru yang masih syok hanya mengikuti langkah Naruto hingga ke mobil pria pirang itu.

"Apa kau ingin menghajarnya?" tanya Shikamaru setelah mereka memasuki mobil.

"Tentu saja, apa lagi!" Naruto menyalakan mesin mobilnya.

"Hei, mereka sudah dewasa. Ini mungkin adalah pilihan mereka. Jangan-jangan si Kiba itu sudah tahu tentang kehamilan Ino." Shikamaru menjelaskan.

"Dia pasti belum tahu. Kalau dia sudah tahu tidak mungkin Ino sampai pingsan dan kondisi janinnya lemah seperti itu. Dia itu seorang dokter, tahu!" Naruto mengambil ponselnya dan menghubungi Iruka.

"Iruka, tolong datang ke Rumah Sakit Konoha dan urus administrasi atas nama Yamanaka Ino. Sekarang ya, terimakasih."

Selanjutnya Naruto menghubungi Sasuke.

"Sasuke kau dimana?"

"Aku sudah setengah perjalanan. Bagaimana kondisi Ino?"

"Tidak usah ke Rumah Sakit, kita bertemu di klinik hewan dua blok dari butik Ino. Kalau kau tidak tahu tempatnya, tunggu kami di depan butik Ino. Ada yang harus kita lakukan."

"Apa? Memangnya kenapa? Ino baik-baik saja kan?"

"Ino hamil. Kita harus meminta pertanggungjawaban dari si Inuzuka itu!"

"APA?!" Terdengar suara rem yang diinjak tiba-tiba diikuti oleh suara klakson mobil yang bersahut-sahutan.

"Hei kau tidak apa-apa?!"

Sasuke tidak menjawab membuat Naruto khawatir sesuatu seperti kecelakan lalu lintas terjadi pada sahabatnya itu. Apalagi dengan suara-suara yang baru saja terdengar.

"Sasuke? Sasuke!" Naruto menyalakan speaker ponselnya. Shikamaru disamping Naruto juga ikut memanggil nama Sasuke.

"Kalian berdua," panggil Sasuke. Naruto dan Shikamaru menghela nafas lega.

"Kau baik-baik saja kan?" tanya Naruto.

"Kalian berdua, jangan pergi ke tempat Inuzuka Kiba."

"Kenapa?! Kau tahu, kondisi janin Ino sangat lemat saat ini. Kita harus meminta pertanggungjawaban dari pria brengsek itu!" Naruto bersorak.

"Bukan dia. Yang menghamili Ino bukan dia."

"Apa maksudmu. Siapa lagi pria yang sekarang ini sangat dekat dengan Ino?! Sudah pasti dia orangnya!"

"Naruto," panggil Sasuke kemudian.

"Pria brengsek yang menghamili Ino adalah aku!"

Naruto dan Shikamaru terdiam. Hening menghiasi mobil Naruto beberapa detik.

"Tu-tunggu... kau bilang apa?" tanya Shikamaru yang sadar akan situasi.

"Akulah yang menghamili Ino."

"APA?!"

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N:

HOLAAA! Kembali dengan Yana disini bersama Filia Chapie 5. Ga henti-hentinya aku ucapkan terimakasih banyak pada teman-teman yang sudah membaca dan meripiu cerita ini. Kalian itu sumber semangat aku! Semoga suka chapter ini ya teman-teman! Sepertinya minggu dengan adalah chapter end. Sepertinya ya. Enggak janji juga. Hehehe

Selamat menjalankan ibadah puasa buat teman-teman yang menjalankannya! Semoga lancar puasanya ya.

Salam,

Yana Kim ^_^