FILIA

Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.

Story By : Yana Kim

Lenght : Chaptered

Rate : M

WARNING!

.

Uchiha Sasuke x Yamanaka Ino

SUM:

Persahabatan lima anak manusia dengan motto 'tidak boleh ada cinta dalam persahabatan'. Naruto, Sakura dan Shikamaru telah menikah dengan pasangan masing-masing. Tinggallah Sasuke, si pengusaha kaya tapi playboy dan Ino si desainer cantik yang mudah jatuh cinta, mudah juga patah hati.

.

.

.

Enam

.

.

.

"Tu-tunggu... kau bilang apa?" tanya Shikamaru yang sadar akan situasi.

"Akulah yang menghamili Ino."

"APA?!" Naruto spontan berteriak. Shikamaru hanya membuka mulutnya tanpa suara. Keduanya sungguh tidak menyangka akan apa yang baru saja mereka dengar.

"S-sasuke, jangan bercanda." Shikamaru akhirnya tersadar.

"Benar! Jangan bermain-main dengan keadaan seperti ini, baka!" Naruto ikut berteriak.

"Aku tidak bercanda apalagi main-main." Terdengar helaan nafas dari Sasuke diseberang sana.

"Maaf," ucap pria Uchiha itu lagi.

"BRENGSEK! APA KAU TAHU APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN?!" Teriakan Naruto kembali terdengar.

"Naruto, tenanglah!" Shikamaru mengambil alih ponsel dari tangan Naruto.

"Sasuke kau masih disana?" tanya Shikamaru.

"Hn."

"Datanglah ke rumahku sekarang. Aku dan Naruto juga akan kesana. Kau tahu ada yang harus kita bicarakan kan?" ujar pria Nara itu tenang, berbanding terbalik dengan ekspresi menahan emosi dari Naruto disebelahnya.

"Aku harus melihat kondisi Ino terlebih dahulu, baru kita bicara." Sasuke menyahut.

"Uchiha. Kerumahku. Sekarang." Suara dingin Shikamaru membuat Naruto memandang takjub pada Shikamaru. Nara Shikamaru dalam mode serius seperti ini sangat tidak bisa dibantah. Siapapun itu, termasuk Sasuke.

"Aku mengerti."

"Naruto. Kita kerumahku sekarang." Shikamaru memberikan ponsel milik Naruto pada sahabat pirangnya itu, kemudian mengambil ponselnya sendiri dan mengutak-atik benda itu.

"O-oke."

.

.

.

"Aku mengerti." Sasuke meletakkan ponselnya begitu saja dikursi penumpang disebelahnya. Sasuke kemudian menghembuskan nafas beratnya. Saat ini Sasuke tengah berada dipinggir jalan setelah tadi hampir saja mengakibatkan kecelakaan dijalan raya akibat rem mendadak yang ia lakukan. Sungguh ia sangat terkejut dengan berita yang baru didengarnya. Ino hamil? Ya, hal itu mungkin saja terjadi mengingat saat kejadian itu Sasuke sama sekali tidak menggunakan pengaman. Masalah Ino mengkonsumsi pil atau tidak Sasuke juga tidak tahu, tapi ia yakin seribu persen bahwa anak yang saat ini ada diperut Ino adalah anaknya, darah dagingnya.

Hal yang paling mengganggu Sasuke adalah kabar bahwa kondisi kandungan Ino sedang lemah. Mungkin karena kondisi kesehatan Ino yang memang tampak tidak sehat. Apa karena insomnia yang Ino alami akhir-akhir ini? Bisa jadi, yang pasti saat ini Sasuke sangat-sangat khawatir pada Ino dan juga calon bayi mereka. Namun untuk saat ini Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa selain menemui Naruto dan Shikamaru. Pukulan, tendangan dan bantingan mungkin akan ia terima mengingat mereka menekuni bela diri sejak bangku SMA. Mungkin Sasuke akan merasakan apa yang Sai rasakan saat Naruto memukuli pria itu. Sasuke sudah siap. Kalau dengan menerima pukulan dari Naruto dan Shikamaru membuatnya bisa menjalin hubungan dengan Ino tanpa takut akan motto persahabatan mereka, Sasuke rela bisa dipukul habis-habisan oleh mereka. Hanya satu yang sangat ingin Sasuke lakukan saat ini. Yaitu menemui Ino dan mengetahui kondisi wanita itu. Ya, wanita yang sangat ia cintai itu.

Sasuke sampai di kediaman Shikamaru yang memang tidak terlalu jauh dari lokasinya berada tadi. Ia disambut ramah oleh Temari yang sudah tahu tentang kedatangannya. Wanita berambut pirang itu mengantarkan Sasuke ke ruang kerja Shikamaru. Sasuke mendudukkan diri di sofa panjang yang ada diruangan itu. Ruang kerja Shikamaru sangat luas dengan sepuluh layar monitor tertempel didinding, tiga buah mouse dan tiga buah keyboard diatas meja. Ada juga satu set sofa dengan meja kaca ditengahnya.

Sasuke menarik nafas, saat tak lama kemudian pintu terbuka dan menampakkan wujud Naruto dan Shikamaru. Terlihat jelas wajah penuh emosi dari Naruto, berbeda dengan Shikamaru yang tampak tenang berjalan ke arah meja kerjanya. Naruto mendudukkan dirinya pada salah satu sofa single yang ada disana, berbeda dengan Sasuke yang duduk di sofa panjang. Manik safir itu memandang Sasuke penuh kemarahan. Sasuke mengerti, jadi dia hanya diam dan memperhatikan Shikamaru yang tampak sibuk dengan komputernya yang kini sepenuhnya menyala. Sekitar lima menit kemudian, sepuluh layar monitor milik Shikamaru menampakkan wajah Sakura. Wanita itu tampak mengenakan setelan piyama dengan rambut pink yang digelung acak-acakan. Dari latar belakang dimana Sakura duduk, tampaknya wanita itu sedang berada dikamarnya.

"Tes tes. Kalian dengar suaraku kan?"

"Ya, sangat jelas. Ayo mulai." Shikamaru menyahut. Pria itu membawa sebuah conference michrophone dan meletakkannya diatas meja dimana Sasuke dan Naruto berada. Ia sendiri mendudukkan dirinya di sebelah Sasuke.

"Oke. Karena ini masalah penting, jadi aku harus membiarkan suamiku bersiap ke Rumah Sakit seorang diri. Jangan berisik karena anakku sedang tidur. Dia deman dua hari ini sehingga semalam tidak bisa tidur. Sekian pembuka dariku, kita mulai saja. Uchiha Sasuke, apa berita yang baru aku dengar itu benar adanya?" tanya Sakura. Entah bagaimana Shikamaru mengatur ruangan itu sehingga suara Sakura tampak terdengar begitu jelas seolah wanita itu ada disana. Ya, Shikamaru dan otak jeniusnya.

"Hn. Benar," sahut Sasuke.

"Sejak kapan kalian berpacaran?" tanya Sakura lagi.

"Kami tidak berpacaran."

Jawaban Sasuke membuat Naruto menyipitkan matanya. "Kalian tidak berpacaran tapi membuat bayi bersama, hah? Begitu? Jangan main-main, Baka!" Naruto hampir berdiri kalau saja Shikamaru tidak menahannya.

"Naruto, tenanglah!"

"Semua terjadi begitu saja. Dan itu murni kesalahanku. Aku harap kalian tidak menyalahkan Ino."

"Maksudmu kau memperkosa Ino, begitu? Kau ini minta dihajar ya!" Naruto bangkit, kali ini Shikamaru tidak sempat menahannya. Pria pirang itu menarik kerah kemeja milik Sasuke dan hampir saja melayangkan sebuah pukulan yang ditahan oleh Shikamaru. Pria nanas itu menahan tangan Naruto dan mendorongnya agar kembali duduk.

"Naruto, tenanglah baka!" Kali ini Sakura yang berteriak. Hal yang membuat Aiko, putrinya terbangun dan menangis. Sakura meninggalkan video call itu dan menggendong putrinya untuk menenangkan sebelum kemudian seorang wanita paruh bayah datang dan menggantikan Sakura menangani Aiko. Sakura mengucapkan terimakasih dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Jerman lalu kembali duduk ketempat semula.

"Ini semua gara-gara kau Naruto-baka!"

"Siapa suruh kau melakukan panggilan ini di kamarmu. Kau yang baka!" Naruto membalas tak mau kalah.

"Kalau kalian tidak memberitahukan berita mengejutkan ini aku juga tidak akan melakukan video call ini disini, baka!"

"Kau kira berita ini hanya mengejutkanmu? Kau kira kami tidak terkejut?"

"Kalian berdua, cukup!" Shikamaru akhirnya angkat bicara. Naruto dan Sakura seketika menutup mulut mereka.

"Sasuke, jadi wanita yang kau ceritakan pada kamu tempo hari itu adalah Ino?" tanya Shikamaru.

"Benar." Sasuke menjawab. Naruto tampak kaget, baru menyadari bahwa Sasuke memang pernah menceritakan tentang wanita yang ia cintai itu. Ya, Sasuke menceritakan semuanya bahkan tentang kejadian tidur bersama yang mereka lakukan hingga berujung pindahnya Sasuke ke apartmen baru.

"Kau benar-benar mencintai Ino?" tanya Shikamaru lagi.

"Ya, aku benar-benar mencintainya." Sasuke menjawab yakin.

"Bagaimana dengan Ino? Apa dia juga mencintaimu?" kini giliran Sakura yang bertanya. Pertanyaan yang memberikan sensasi lemas pada Sasuke. Pria itu tidak menjawab. Namun dari bahasa tubuhnya, mereka tahu jawabannya.

"Jadi Ino tidak mencintaimu? Benar kan? Berarti hanya kau yang mengkhianati motto persahabatan kita hanya karena nafsumu!"

Sasuke bangkit dan secepat kilat menarik kerah baju sahabat pirangnya itu.

"Kau bilang apa?! Hanya karena nafsu? Beraninya kau menganggap enteng perasaanku, brengsek! Aku mencintainya! Sejak pertama kali aku mengerti tentang rasa suka terhadap lawan jenis, orang yang aku sukai adalah Ino dan itu tidak berubah sampai sekarang!"

"Sasuke, lepaskan Naruto." Shikamaru mencoba melepas cengkeraman Sasuke pada kerah baju Naruto namun sulit.

"Oh begitu," Sasuke masih mencengkeram kerah bajunya ketika Naruto tertawa mengejek sebelum menyambung, "Tapi kau malah dengan santainya menjalin hubungan dengan banyak wanita dan bersikap layaknya playboy kelas atas. Bagaimana mungkin aku tidak meremehkan perasaan yang kau sebut-sebut itu?"

Ucapan Naruto membuat cengkeraman Sasuke melemah. Hal yang membuat Naruto dengan mudah mendorong pria itu mundur. Sasuke membuang pandangannya ke arah lain.

"Naruto ada benarnya, Sasuke. Kenapa kau tidak memperjuangkannya sejak dulu?" tanya Sakura.

Sasuke menatap Sakura dilayar monitor. "Kenapa aku tidak memperjuangkannya? Karena aku tidak mau ikatan persahabatan kita hancur karena perasaan sepihakku."

Kemudian Sasuke beralih pada Naruto. "Aku mengira ini hanya perasaan sesaat. Aku mencoba mengalihkannya dengan menjalin hubungan dengan orang lain agar aku bisa melupakan perasaanku padanya. Sekali lagi demi menjaga ikatan persahabatan kita. Tapi nyatanya aku tidak bisa. Bukannya hilang atau terkikis, rasa suka anak remaja itu berubah jadi cinta yang semakin tidak bisa kubendung."

Ketiga orang selain Sasuke tampak kaget mendengar apa yang Sasuke katakan.

"Mungkin kalian tidak mengerti apa yang kukatakan, tapi aku benar-benar mencintainya." Sasuke tampak frustasi. Ia mendudukkan dirinya lemas dikursi dan menunduk dalam seraya mengacak rambutnya.

"Seharusnya kau bilang saja dari awal." Sakura berujar, berbeda dengan Naruto dan Shikamaru yang tampak terpana dengan apa yang baru saja Sasuke katakan.

"Motto yang kita buat memanglah untuk menjaga ikatan persahabatan kita. Saat itu kita percaya bahwa cinta bisa menghancurkan tali persahabatan kita. Tapi itu hanyalah motto yang diucapkan oleh anak SMP dua puluh tahun lalu. Kita berlima sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang arti cinta yang sebenarnya. Jadi, kejarlah cintamu Sasuke."

"Sakura..." Sasuke mamandang Sakura dengan wajah sedihnya.

"Sakura benar. Kita semua tahu kalau kita tidak bisa mengontrol perasaan kita. Kita tidak bisa mengatur kepada siapa kita boleh dan tidak boleh jatuh cinta." Shikamaru menambahkan. Pria nanas itu menepuk pundak Sasuke.

"STOP!" Naruto tiba-tiba berdiri dan menatap Sakura.

"Sakura-chan. Kalau ini masalah taruhan kita, kau belum menang karena Ino tidak mencintai Sasuke! Mereka belum tentu bisa bersama! Aku tidak bisa memberikan satu juta yenku begitu saja!"

Krik krik krik.

"Baka," ujar Shikamaru.

Hening menghiasi ruang kerja Shikamaru. Sasuke hanya memandang pada ketiga sahabatnya yang kini saling membuang muka.

"A-apa yang kalian bicarakan? Taruhan?" tanya Sasuke bingung.

Shikamaru menghela nafas kemudian berkata, "Sakura sudah menduga kalau kau menyukai Ino. Dia bilang bahwa pada akhirnya kau dan Ino akan bersama. Aku dan Naruto tidak percaya. Jadilah kami membuat taruhan ini. Sebenarnya Naruto yang membuatnya lima tahun lalu. Siapa yang kalah harus membayar satu juta yen pada yang menang."

"Apa?" Sasuke menatap Shikamaru tak percaya.

"Pfft! Hahaha! Terimakasih karena sudah mengingatkan! Jujur sebenarnya aku sudah lupa dengan taruhan itu. Baguslah. Aku tunggu satu juta yennya Naruto, Shikamaru.

"Sudah kubilang kau belum menang! Mereka belum tentu bersama! Ino tidak mencintai Sasuke! Jadi Saku—" Ucapan Naruto terhenti karena Sasuke bangkit berdiri.

"Aku tidak menyangka kalian sampai membuat taruhan seperti itu. Tapi aku tidak peduli. Aku sedang sibuk meyakinkan Ino tentang perasaanku. Aku rasa kita sudah selesai dengan pembahasan ini. Aku harus menemui Ino. Kalian sendiri yang bilang kalau kondisinya dan anakku sedang lemah kan?"

"Oh ya Sasuke, aku dengar kondisi kandungan Ino sangat lemah. Meskipun sudah menjalani perawatan tapi kalau kondisi psikisnya bermasalah, semuanya akan percuma. Jadi kau harus selalu menemaninya. Jangan buat dia terguncang. Sama seperti fisiknya, psikis calon ibu juga harus diperhatikan."

"Aku mengerti. Terimakasih teman-teman dan Sakura," Pandangan Sasuke beralih kearah monitor dimana wajah Sakura terpampang.

"Aku akan membuatmu memenangkan taruhan itu. Aku ingin melihat wajah bodoh Naruto yang kalah dan harus menyerahkan satu juta yennya."

Sasuke kemudian pergi meninggalkan ruang kerja Shikamaru.

"Apa dia baru saja mengatakan kalau aku bodoh?" tanya Naruto.

"Dibanding Naruto, dia lebih tampak seperti seorang 'ayah'. Bukan begitu, Sakura?" Shikamaru berujar .

"Kau benar."

.

.

.

Sasuke tiba di Rumah Sakit saat langit sudah mulai merubah warnanya menjadi jingga. Tempat yang pertama kali didatanginya adalah resepsionis untuk menanyakan dimana kamar Ino berada.

"Selamat sore, boleh saya tahu dimana dimana kamar atas nama Yamanaka Ino?" tanya Sasuke pada seorang perawat yang ada disana.

"Boleh saya tahu hubungan anda dengan Yamanaka-san?"

Sasuke memandang pada seorang dokter berambut hitam dengan potongan super pendek yang tiba-tiba muncul dari arah koridor itu.

"Saya Sizune. Dokter yang menangani Yamanaka-san." Dokter itu kembali menambahkan.

"Aa. Saya Uchiha Sasuke. Saya... saya ayah dari anak yang sedang Ino kandung." Sasuke kemudian menjawab.

"Syukurlah saya bertemu dengan anda disini. Boleh keruangan saya sebentar? Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan."

"Tentu."

Sasuke mengikuti langkah dokter itu menuju ruangannya. Keduanya duduk berhadapan dengan meja kerja sang dokter sebagai pembatas.

"Yamanaka-san baru saja sadar dan sepertinya... dia juga tidak tahu perihal kehamilannya ini. Dia tampak sangat syok saat saya memberitahukannya. Mungkin anda sudah tahu dari dokter umum yang sebelumnya menanganinya bahwa kondisi janinnya sangat lemah, begitu juga dengan kondisi sicalon ibu. Selama dua minggu kedepan, dia harus dirawat secara intensif."

Sasuke tampak serius mendengarkan.

"Kami pastinya akan melakukan yang terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh dan janinnya. Tapi kami tidak menjamin bisa menjaga kesehatan psikisnya. Trisemester pertama adalah saat-saat yang sangat rentan. Calon ibu tidak boleh stres dan juga bersedih. Dari yang saya perhatikan saat Yamanaka-san sadar tadi, dia tampak sangat stres. Seperti yang saya katakan tadi, dia tampak syok saat tahu bahwa dia sedang hamil. Saat saya bertanya apakah saya boleh bertemu dengan suami atau keluarganya, dia hanya diam."

"Kami memang bukan suami istri," Sasuke berujar lemah. Dokter itu tersenyum.

"Saya mengerti. Tapi kenyataan bahwa anda ayah dari janin yang dikandung Yamanaka-san juga ekspresi khawatir anda saat ini, itu sudah cukup untuk saya. Saya hanya ingin anda agar menjaga emosi dan perasaannya. Stres hanya akan membuat kondisinya semakin buruk."

"Baik. Terimakasih, sensei."

"Anda boleh menemuinya. Ruangan nomor 10 di lantai 20."

Tanpa membuang waktunya, Sasuke langsung menuju ruangan Ino yang ternyata ada di lantai khusus VIP. Sasuke sangat menghargai apa yang Naruto lakukan dengan menempatkan Ino di ruangan itu. Wanita dalam balutan piyama rumah sakit itu sedang duduk bersandarkan bantal. Pandangannya mengarah pada jendela yang tirainya terbuka, menampakkan langit yang mulai gelap saat Sasuke masuk kedalam. Perban beserta jarum infus tampak menghiasi punggung tangan kiri wanita itu.

Sasuke berjalan mendekat mendudukkan dirinya dikursi yang ada disebelah ranjang rawat Ino. Suara kursi yang bergeser membuat Ino berbalik dan mendapati Sasuke sudah duduk disana dan memandangnya.

"Hei," Sasuke menyapa dengan senyum tipisnya.

"Sasuke," panggil Ino dengan suara lemahnya.

"Hm?" sahut Sasuke lembut. Manik jelaganya memandang pada mata biru yang tampak sayu itu.

"Kata mereka... kata mereka aku hamil." Suara Ino terdengar lemah ditelinga Sasuke dan entah kenapa itu menyakitkan hatinya.

"Hn."

"Kau... kau sudah tahu?" tanya Ino lagi.

"Hn. Aku sudah tahu."

Mata Ino tampak berkaca. "Aku ingat kau pernah bilang... bahwa tidak pernah sekalipun kau membayangkan dirimu akan punya anak, menjadi ayah dan berkeluarga."

Sasuke terdiam, ia memang pernah mengatakan hal itu. Kalau tidak salah saat zaman kuliah. Saat dimana dirinya benar-benar bertingkah layaknya playboy sejati seperti yang Naruto katakan.

"Hn. Aku memang pernah mengatakannya." Perkataan Sasuke membuat mata Ino yang semua berkaca-kaca berubah jadi aliran air mata yang tak terbendung. Wanita itu menangis dengan wajah tertunduk. Sasuke bangkit dari duduknya kemudian meraih wajah Ino agar menatapnya. Dengan ibu jarinya, Sasuke menghapus air mata Ino.

"Aku memang pernah bilang begitu. Aku tidak pernah membayangkan diriku akan punya anak, menjadi ayah dan berkerluarga." Masih dengan tangan yang berada di leher Ino, Sasuke kemudian menempelkan keningnya pada kening Ino.

"Kalau bukan denganmu, aku tidak akan pernah membayangkan semua itu. Kalau bukan denganmu, aku tidak akan mau punya anak. Kalau bukan denganmu, aku tidak akan mau jadi ayah. Kalau bukan denganmu, aku tidak akan mau berkeluarga. Kalau bukan denganmu aku tidak mau. Bukannya aku sudah pernah mengatakannya? Hanya kau."

Isakan dari Ino kembali terdengar. Namun kali ini teredam karena wanita itu sudah berada dipelukan Sasuke. Menyandarkan dirinya pada dada bidang Sasuke, sementara pria itu mengelus lembut surai pirang Ino yang tergerai dipunggungnya.

.

.

.

"Ini makan malam anda, Yamanaka-san." Seorang perawat datang membawa nampan khas rumah sakit berisi makanan. Makanan itu didominasi oleh sayuran dan sup daging juga dua buah telur mata sapi. Hal yang mengundang tanya bagi Ino adalah porsi nasi yang banyak seperti untuk dua orang. Sasuke kembali dari sofa di sudut ruangan setelah selesai bertelepon ria dengan Juugo terkait pekerjaannya. Pria itu kemudian memasang meja makan pasien yang dirakit menempel pada ranjang khusus milik Ino tersebut.

"Apa porsi makanan rumah sakit memang sebanyak ini?" tanya Ino setelah perawat itu meletakkan makanannya. Perawat itu tersenyum.

"Dokter Sizune berpesan agar porsi makan anda dilebihkan karena anda harus menambah berat badan." Ino menatap siperawat tak percaya.

"Kenapa aku harus menambah berat badan?"

"Karena tubuh anda tidak boleh terlalu kurus saat mengandung. Selain untuk menambah berat badan, nutrisi yang anda makan kan juga untuk sicalon bayi. Jadi sederhananya, anda harus makan nutrisi untuk dua orang." Perawat itu dengan sabar menerangkan kemudian beralih mengecek infus Ino.

"Kalau nanti tubuh anda sudah stabil, kita akan mencabut infusnya dan fokus pada nutrisi dari makanan. Bagaimana perut anda, apakah masih sering kram?"

"Satu jam terakhir sudah tidak lagi." Ino menyahut.

"Itu adalah hal yang biasa. Jadi kalau kram lagi anda tidak perlu kaget. Dalam kasus anda, dibandingkan morning sickness anda lebih mengalami kram perut. Setelah makan, jangan lupa minum obatnya ya. Saya permisi dulu."

"Terimakasih, suster." Sasuke mengucapkan terimakasih sementara Ino memandang pada nampan didepannya dengan hopeless.

"Bagaimana aku menghabiskan ini?" tanya wanita itu.

"Kau pasti bisa." Sasuke mengelus kepala Ino dengan sayang.

"Sasuke, kau belum makan malam kan? Kita makan berdua saja bagaimana?"

Sasuke menggeleng. "Kau dengar apa kata perawat tadi kan? Kau perlu menaikkan berat badanmu."

"Tapi aku tidak sanggup memakannya. Ini terlalu banyak. Kau tahu aku tidak memakan karbohidrat berlebihan kan?" Ino mengerucutkan bibirnya.

"Dokter bilang kau harus memakannya Ino." Sasuke masih membujuk Ino dengan sabar.

"Tapi..."

"Kau hanya cukup mengingat bahwa anak kita diperutmu juga butuh makanan. Kau mungkin hanya makan sedikit, tapi anak kita perlu lebih banyak makanan agar bisa bertumbuh sehat disana."

Ino terdiam mendengarkan apa yang Sasuke katakan.

"Anak... kita?"

Sasuke mengangguk. "Anak kita. Kau tidak akan mengklaimnya sebagai anakmu sendiri kan? Aku yang berperan besar dalam proses pembuatannya."

Ucapan dengan nada tengil itu membuat wajah Ino memerah. Wanita itu segera menjejalkan nasi kemulutnya dan membuang pandanganya dari Sasuke yang hanya tersenyum melihat Ino. Tanpa diduga, Ino sanggup menghabiskan makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit sampai bersih tak bersisa. Setelah meminum obat, Sasuke membimbing Ino untuk duduk bersandar pada ranjang yang bagian kepalanya sudah dinaikkan.

"Kau tidak pulang?" tanya Ino kemudian.

Sasuke menggeleng. "Aku akan menemanimu."

"Aku tidak apa-apa sendirian. Kau belum makan malam, kau juga pasti butuh berganti pakaian dan istirahat. Disini sangat tidak nyaman."

"Juugo akan datang sebentar lagi untuk mengantarkan makan malam dan pakaianku. Kau tenang saja."

"Kau benar-benar akan menemaniku?" tanya Ino.

"Hn." Tak lama kemudian pintu diketuk dan benar saja Juugo datang dengan paper bag yang lumayan besar serta makanan dari salah satu restoran langganan Sasuke. Setelah meletakkannya dimeja dekat sofa, Juugo seperti biasa berbasa-basi dengan Ino sebelum kemudian beranjak dari sana.

Sasuke kemudian memakan makanannya disofa. Ino sendiri memperhatikan pria itu dari tempat dimana ia duduk. Sasuke makan dengan tenang seperti biasa. Elegan dan berkelas, sangat khas Sasuke. Ino masih tidak menyangka bahwa pria itu benar-benar mencintainya. Ayolah, dua puluh tahun bersahabat membuat mereka saling tahu kejelekan masing-masing. Sudah pasti Sasuke tahu dengan jelas—bahkan sangat jelas— kejelekan Ino. Bagaimana mungkin pria itu menyukainya apalagi mencintainya setelah mengetahuinya? Begitu juga dengan Ino yang tahu semua kejelekan Sasuke. Tunggu, kejelekan Sasuke? Ino tampak berpikir dan mencoba mengingat apa saja kejelekan pria Uchiha itu. Namun sepertinya tidak ada. Ya, memang tidak ada. Selain fakta bahwa pria itu adalah playboy dan punya mantan yang sudah tidak terhitung lagi, Sasuke tidak punya kekurangan apapun.

'Tidak mungkin,' Ino berujar dalam hati. Ia kembali berusaha mengingat kejadian atau apapun itu yang bisa membuatnya tahu kekurangan Sasuke. Sayangnya hasilnya nol besar. Sasuke terlalu sempurna. Bahkan keplayboyannya saja bagi sebagian orang merupakan bentuk kelebihan alih-alih kekurangan. Tapi bagaimana mungkin Sasuke yang sempurna itu malah jatuh cinta padanya yang jelas-jelas kejelekannya terpampang nyata dan Sasuke mengetahuinya.

"Akh!" Mungkin karena terlalu berat memikirkan kejelekan Sasuke, perut Ino tiba-tiba kram. Lihatlah, bahkan janin ini pun seolah berontak saat Ino mencoba mencari keburukan ayahnya. Ino menarik nafasnya dalam-dalam seraya memegang perut bagian bawahnya yang mendadak kram.

"Kau baik-baik saja?" Sasuke yang entah sejak kapan selesai makan mendekat dan mengembalikan posisi tempat tidur Ino agar wanita itu bisa berbaring.

"Engh! Perutku hanya..."

"Perutmu kram lagi? Perlu kupanggil dokter?" tanya Sasuke.

"Um. Tidak apa-apa. Dokter bilang ini biasa." Ino hanya berusaha menarik nafas dalam berkali-kali. Matanya terpejam berharap rasa sakit itu segera hilang. Sasuke kemudian meletakkan telapak tangannya pada perut Ino dan mengelusnya lembut. Elusan tangan Sasuke entah kenapa sukses membuat kram di perut Ino menghilang tak laa kemudian. Apa ini? Apa mungkin anak itu tahu bahwa Sasuke lah yang mengelus perutnya? Bahkan sejak masih janin pun, anak ini sudah pro pada Sasuke? Ino merasa tak percaya.

Kram diperutnya sudah menghilang, namun tangan Sasuke masih setia bertengger disana dan mengelus lembut perut Ino diatas piyama wanita itu. Ino memandang Sasuke yang serius menatap perutnya. Pria itu benar-benar tampak khawatir dan Ino mendapati dirinya senang akan hal itu. Ada hangat menaungi hatinya saat melihat wajah Sasuke. Ino kemudian meletakkan tangannya keatas tangan lebar Sasuke yang ada diperutnya, membuat gerakan Sasuke terhenti. Bungsu Uchiha itu kemudian menaikkan pandangannya kearah Ino yang juga menatapnya. Wanita itu tersenyum manis. Wajah Ino memang masih tampak pucat, tapi tidak menghalangi cantiknya wanita itu kala tersenyum. Rasanya sudah lama sekali Sasuke tidak melihat senyuman itu. Hatinya seketika bergejolak oleh rasa bahagia serta rindu yang membuncah.

"Sudah hilang. Kramnya sudah hilang."

"Aa. Aku mengerti." Sasuke menarik tangannya. Hal yang entah kenapa membuat Ino merasa kosong.

"Tidurlah," ujar pria itu seraya memperbaiki letak selimut Ino hingga menutupi tubuh wanita itu sampai sebatas dada. Tangan Sasuke lalu naik mengelus kepala Ino sebelum meninggalkan wanita itu menuju kamar mandi bersama dengan paper bagnya. Ino menatap punggung Sasuke yang menghilang dibalik pintu kamar mandi disudut ruangan dengan raut wajah kecewa.

'Kenapa aku malah berharap dia mencium keningku?' Ino berujar dalam hati, sebelum kemudian menutup matanya dan berbaring membelakangi pintu kamar mandi dengan penuh kekesalan. Ya, Ino merasa kesal dengan dirinya sendiri yang menginginkan Sasuke agar terus berada disisinya.

.

.

.

"Pagi cantiiiik!" Ino menoleh pada suara yang kelewat familiar. Siapa lagi yang bisa seheboh itu padahal sadar sedang berada dirumah sakit? Tentu saja hanya Uzumaki Naruto seorang. Ino jadi batal memakan sarapan porsi jumbonya yang kini tinggal sedikit. Ia sudah badmood karena Sasuke pergi setengah jam lalu karena ada meeting yang harus dihadiri pria itu. Ino badmood bukan karena meeting tersebut. Ino tahu posisi Sasuke yang harus memegang kendali penuh karena Itachi sedang mengambil cuti untuk pernikahannya yang sebentar lagi digelar. Ino hanya kesal karena sekali lagi, pria itu hanya pamit dengan mengelus kepalanya disaat Ino ingin laki-laki itu setidaknya mencium keningnya atau bibirnya kalau perlu. Bukannya itu yang biasanya dilakukan pria pada istrinya yang tengah hamil. Oh oke, sebenarnya kenyataan bahwa Sasuke bukan suaminya dan sebalinya adalah hal yang paling membuat Ino badmood. Apa Ino ingin Sasuke bersikap layaknya seorang suami yang istrinya tengah hamil? Atau Ino mau Sasuke menjadi suaminya dan ia menjadi istri lelaki itu? Maksudnya menikah? Entahlah. Ino sendiri tidak mengerti. Intinya, ia hanya ingin pria itu ada didekatnya, memeluknya, menciumnya dan, oke cukup. Ino tidak mau perutnya kembali kram karena memikirkan hal-hal itu.

Ternyata Naruto datang bersama Hinata. Moodnya sedikit membaik melihat Hinata yang tampak cantik dengan dress sederhananya dan perut yang tampak membuncit. Belum terlalu besar, namun siapapun bisa melihat kalau wanita itu tengah hamil. Belum lagi aura keibuan yang entah kenapa menguar dari Hinata.

"Selamat pagi, Ino-chan." Ya, Hinata dan kekalemannya yang berbanding terbalik dengan Naruto. Sampai sekarang Ino masih bingung kenapa Hinata bisa berakhir dengan si bobrok Naruto. Maaf, Naruto memang tidak sebobrok itu. Laki-laki itu sukses dengan perusahaannya sendiri. Namun sifat mereka yang sangat bertolak belakang membuat Ino merasa sayang Hinata harus menjadi pasangan Naruto yang urakan.

"Hei. Selamat pagi." Ino membalas sapaan Hinata.

"Kami membawa pakaian yang mungkin kau butuhkan. Maaf karena masuk ke apartmenmu tanpa izin ya. Aku sudah mengatakan pada Naruto-kun untuk menelponmu dulu. Tapi dia bilang tidak apa-apa."

"Tidak apa-apa. Kita sama-sama tahu kalau Naruto memang tidak berakhlak." Ino tersenyum manis pada Naruto yang memandangnya dengan wajah ditekuk sepuluh.

Hinata hanya tertawa kecil seraya berjalan kesamping ranjang Ino dimana lemari berukuran sedang berada. Wanita itu kemudian menyusun beberapa pakaian dalam dan baju-baju Ino kedalamnya lemari dan melipat rapi tas kain yang dibawanya dan menyimpannya pula disana. Oh, benar-benar berbeda dengan Naruto. Tapi karena itulah manusia diciptakan berpasangan. Mereka mungkin ditakdirkan bersama agar Hinata bisa mengimbangi keurakan Naruto dengan kerapian dan kekalemannya.

"Aku tadi menelpon Sasuke mengatakan kalau kami akan datang. Tapi dia bilang kalau dia sedang meeting dan akan segera kembali setelah meeting selesai. Dasar, calon ayah macam apa itu?"

Ino seketika tercekat. Naruto mungkin sudah tahu perihal kehamilannya karena pria itu yang membawanya ke rumah sakit. Tapi bagaimana mungkin Naruto tahu tentang ayah dari anaknya adalah Sasuke? Apa Sasuke mengatakannya atau—

"Sasuke yang mengaku kalau dia adalah ayah dari anak yang kau kandung." Naruto berujar seolah tahu apa yang ada dikepalanya.

"A-apa?"

"Jangan terlalu memikirkannya dan fokus saja pada kesehatanmu juga bayimu."

"Apa Shikamaru dan Sakura juga sudah tahu?" tanya Ino berhati-hati.

Naruto mengangguk. "Shikamaru tidak bisa datang karena dia juga ada meeting dengan perusahaan yang memakai jasanya. Kami sudah menghajarnya habis-habisan asal kau tahu!" Naruto berujar berapi-api. Hinata disamping ranjang Ino tampak fokus mengupas apel.

Ino mendecih. "Tidak ada tanda-tanda kalian menghajarnya habis-habisan. Wajahnya masih baik-baik saja semalam. Jangan mengarang hal yang tidak-tidak."

"Heh! Kalau saja dia tidak mengatakan kalau dia benar-benar mencintaimu, wajahnya pasti sudah babak belur ditanganku! Kau tahu aku lebih hebat dari dia dalam bertarung kan?!"

"Dia... bilang begitu?" tanya Ino dengan wajah memerah. Hal yang membuat Naruto geleng-geleng kepala.

"Lihat wajahmu. Kau juga mencintainya ya? Dasar orang-orang bodoh! Kenapa tidak menikah dari dulu saja! Sudah sekian lama, malah hamil duluan pula!"

"Naruto-kun, jangan begitu." Hinata menginterupsi Naruto.

"Walaupun aku dan Shikamaru tidak menghajarnya sampai babak belur, kami tidak perlu khawatir. Karena hal itu akan diwakilkan oleh paman Inoichi. Aku harap aku ada disana saat Sasuke dihajar habis-habisan oleh ayahmu. Aku akan merekamnya dan menyimpannya sebagai aib Sasuke dan mengerluarkannya saat dibutuhkan." Selanjutnya hanya tawa setan Naruto yang keluar memenuhi ruangan. Ino terdiam ditempatnya. Ia tidak bereaksi bahkan ketika Hinata mengambil nampan makanannya dan menggantinya dengan sepiring apel yang sudah dikupasnya.

Benar juga, ayahnya belum tahu tentang kehamilannya ini. Apa yang Naruto ucapkan itu bisa saja terjadi kalau ayahnya mengetahuinya. Bukan hanya ayahnya, ada Deidara kakaknya yang pasti akan datang begitu tahu berita ini. Bagaimana ini? Tidak mungkin juga ia merahasiakan hal itu pada keluarganya. Cepat atau lambat, ayahnya pasti akan tahu. Tidak. Ayahnya memang harus diberitahu kalau Ino tidak mau disebut anak durhaka yang menyembunyikan hal sepenting ini.

"Naruto-kun, cukup. Kau membuat Ino-chan berpikiran yang tidak-tidak. Itu tidak baik untuk kandungannya." Hinata kembali memperingati Naruto yang hanya mengangkat bahunya.

"Jangan dipikirkan, Ino-chan. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah." Hinata berujar seraya memberikan sebuah garpu pada Ino untuk memudahkan wanita itu memakan apelnya.

"A-ah, ya. Terimakasih, Hinata."

Hinata memang mengatakan untuk jangan memikirkannya. Tapi bagaimana mungkin hal itu bisa hilang dari pikiran Ino? Ino masih tetap memikirkannya bahkan sampai sore menjelang. Shikamaru dan Temari baru saja pulang. Berbeda dengan Naruto yang ribut masalah kehamilan Ino, Shikamaru dan istrinya dengan tenang menanyakan keadaan Ino. Pria nanas itu malah memberikan kode-kode keras pada istrinya agar mau untuk menyusul Ino.

Hari sudah menjelang sore namun Sasuke belum juga datang. Kini Ino terduduk diranjangnya dan memandang pada langit yang tidak sebiru siang tadi. Temari memang menawarkan diri untuk menemani Ino sampai Sasuke datang, yang Ino tolak dengan halus karena merasa tidak enak merepotkan wanita itu. Ino hanya berharap Sasuke segera datang. Entah kenapa air matanya tiba-tiba turun dan hatinya mendadak sedih sekali. Ino terisak sambil memegangi perutnya yang kembali kram.

"Jangan sekarang, nak." Ino berguman pelan dalam isakannya.

'Mood sialan!' Ino memaki dalam hati.

Ceklek!

Ino berbalik dan menatapi Sasuke muncul dari balik pintu masih dengan pakaian kerjanya. Siapapun bisa melihat bahwa laki-laki itu tampak lelah. Jasnya masih terpasang namun dasinya sudah tampak dilonggarkan. Isakannya kian terdengar saat Sasuke berjalan mendekat padanya dan meraih Ino dalam pelukannya.

"Sasuke..." gumam Ino ditengah isakannya.

"Ada apa, hm?" Sasuke mengelus punggung Ino menenangkan.

"Aku.. hiks... aku merindukanmu."

Gerakan tangan Sasuke terhenti. Apa Ino baru saja mengatakan bawa wanita itu merindukannya?

"Jangan... pergi lagi. Jangan pergi lagi ya," ujar wanita itu lagi.

"Hn. Aku tidak akan pergi lagi." Sasuke melepaskan pelukannya. Pria itu hendak menghapus air mata Ino ketika wanita itu memilih melakukannya sendiri dengan ujung piyamanya.

"Oke, kau sudah berjanji ya!" Isakannya masih sesekali terdengar. Namun tampaknya wanita itu sudah bisa menenangkan diri. Sasuke hanya berdiri diam sambil menatap wanita itu.

"Kenapa diam saja? Kau tidak mau berjanji ya?" Wajah Ino kembali berubah seolah wanita itu ingin kembali menangis.

"Kau berniat pergi lagi ya? Sasu—" Ino tidak melanjutkan perkataannya karena Sasuke meraih kedua tangannya sementara kedua iris jelaga pria itu mengunci kedua mata Ino.

"Bolehkah aku... menciummu?"

"A-apa?"

"Boleh aku menciummu?" ulang Sasuke lagi.

"Kau bertanya?"

"Aku tidak mau terkesan kurang ajar karena karena sembarangan menyentuhmu."

"Kau sudah memelukku sejak semalam."

"Aku sudah sering memelukmu bahkan sebelum kejadian itu."

"Kau juga sudah sering menciumku bahkan sebelum kejadian itu."

"Tentu saja itu hal yang berbeda. Apa sebelum kejadian itu, aku sering mencium bibirmu?"

"K-kau mau mencium... bibirku?" Wajah Ino sepenuhnya memerah. Semburat merah juga menghiasi wajah Sasuke.

"Oke, lupakan. Anggap aku tidak pernah mengatakannya." Sasuke hendak berbalik ketika Ino menahan lengan pria itu.

"Aku hanya bertanya. Aku tidak bilang kalau tidak boleh kan?" ujar wanita itu dengan wajah memerahnya.

"Jadi, boleh?" tanya Sasuke. Ino mengangguk malu-malu. Dalam hati meraung keras karena ia tidak pernah menyangka akan berada dalam situasi malu-malu kucing layaknya anak SMA dengan seorang Uchiha Sasuke diumurnya yang sudah kepala tiga.

"Oke." Sasuke mengangguk kemudian berbalik meninggalkan Ino. Pria itu mendudukkan dirinya disofa dan membuka jasnya serta mengeluarkan ponselnya. Ino terdiam ditempatnya. Apa pria itu baru saja meninggalkannya setelah mendapat persetujuan untuk mencium bibirnya? Kenapa pria berbalik alih-alih menciumnya. Apa ia tidak tahu kalau Ino juga sangat ingin mencium pria itu? Oh ya, tentu saja pria itu tidak tahu. Ino kan tidak mengatakan apa-apa.

"Sasuke."

"Hn?" sahut pria itu. Pandangannya masih tertuju pada ponselnya.

"Kau sedang mempermainkanku y—" / "Juugo?" Sasuke meletakkan ponsel itu ke telinganya.

Ino menatap tak percaya pada Sasuke yang kini asik dengan Juugo. Oke, mungkin Ino akan membenci Juugo dari sekarang.

"Untuk perkembangannya terus pantau. Oh ya, laporan dari marketing sudah selesai kuperiksa. Aku menambahkan beberapa catatan disana. Tolong sampaikan pada mereka. Hn. Kau sudah mengirimkan sampelnya? Baik, akan segera kulihat. Terimakasih, Juugo."

Selesai bertelepon, Sasuke masih sibuk pada ponselnya dan membuat Ino semakin Kesal.

"Hei, Uchiha."

"Ya?" Sasuke akhirnya menoleh pada Ino.

"Kemari kau!" perintah Ino dengan nada kesal. Sasuke kemudian berjalan ke arah Ino setelah meletakkan ponselnya.

"Ada apa? Perutmu kram lagi?" tanya Sasuke. Ino teringat pada perutnya yang sebelumnya kram, namun mendadak hilang saat Sasuke datang. Lihat betapa hebatnya pengaruh Sasuke pada janin diperutnya. Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Sasuke mempermainkannya dan pria ini harus diberi pelajaran.

"Anakku bersikap baik seharian ini. Jadi kurasa kau tidak perlu menginap menjagaku disini untuk hari ini dan seterusnya." Ino menekankan kata pertama yang diucapkannya. Tangannya terlipat didada dan memandang kesal pada Sasuke.

"Kau kenapa? Tiba-tiba mengatakan hal yang tentu saja tidak akan kulakukan. Sekalipun anakku bersikap baik seharian ini, bukan berarti aku tidak akan menemaninya." Sasuke ikut menekankan kata 'anakku' seperti yang Ino lakukan.

"Lagi pula tadi seseorang menangis meminta aku berjanji untuk tidak meninggalkannya." Sasuke menambahkan. Pria itu ikut melipat tangannya didada. Ino menjadi semakin kesal.

"Tapi kau tidak berjanji! Kau malah bertanya apakah kau boleh menciumku! Dan setelah aku memberikan izin, kau tidak menciumku! Kau malah sibuk menelepon Juugo untuk urusan pekerjaanmu. Kau sudah dikantormu seharian ini dan seka—"

Grep!

Ino terdiam karena sekarang Sasuke sudah berada satu senti meter didepannya. Wajah pria itu berada tepat didepan wajahnya dengan seringai khasnya.

"Jadi ini karena masalah sebuah ciuman?" tanya pria itu dengan suara beratnya. Ino bisa merasakan hembusan hangat nafas pria itu menerpa wajahnya. Oh Tuhan, Ino sudah sering melihat wajah Sasuke. Sasuke memang tampan, namun Ino tidak tahu bahwa dalam jarak sedekat ini, wajah tegas pria itu terlihat sangat sempurna.

Ino tidak tahu kenapa hasrat dihatinya membuncah melihat Sasuke. Karena merasa tidak tahan, Ino memajukan wajahnya untuk meraih bibir Sasuke. Sayangnya dengan sengaja Sasuke malah memundurkan wajahnya. Ino merengut kesal dan lantas mendorong Sasuke agar menjauh darinya. Kekesalan Ino kian bertambah melihat seringai Sasuke yang kian lebar.

"Pergi dari sini! Aku membencimu, Uchiha no baka!"

Sasuke tertawa. Tawa sialan yang membuat pria itu kian tampan. Ino tidak tahu apakah ini efek dari kehamilannya atau tidak, tapi dimatanya kini Sasuke tampak sangat mempesona dengan segala ekspresinya.

"Maaf, maaf."

Pria itu kemudian kembali mendekatkan wajahnya pada Ino yang kini sudah berpaling kearah lain merengut kesal.

"Silahkan, nyonya. Kali ini aku tidak akan menghindar lagi."

Ino menoleh dan mendapati Sasuke yang sudah menutup matanya dengan bibir tipisnya yang sedikit terbuka. Apa pria ini berniat mempermainkannya lagi? Ino sempat ragu, tapi sekali lagi ia kalah dengan keinginan hatinya untuk mencium pria itu. Ino mendekatkan wajahnya pada Sasuke dan mendaratkan bibirnya pada milik Sasuke. Mendapati pria itu tidak mundur apalagi menghindar, Ino merasakan senang luar biasa dihatinya. Ia mulai memberikan lumatan pada bibir atas Sasuke dan tangan kananya yang tidak diinfus naik melingkari leher pria itu.

Sasuke tersenyum disela ciuman itu sebelum kemudian membalasnya seraya memejamkan matanya. Lumatan Sasuke lebih lembut dibanding Ino yang malah terkesan menuntut. Sasuke kembali tersenyum saat Ino menjulurkan lidahnya yang Sasuke sambut dengan senang hati. Ino mengerang saat lidah Sasuke bermain dilangit-langit mulutnya. Tentu saja Sasuke lebih profesional dibandingkan Ino yang mantan kekasihnya bisa dihitung dengan jari. Ino tidak tahu selama apa ciuman itu berlangsung. Wanita itu kemudian menarik dirinya karena pasokan udara yang terasa menipis. Kedua tangan Sasuke memegang pinggangnya. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan dirinya sudah bergeser ke pinggir ranjang dimana Sasuke berada dengan posisi kaki melingkari pinggang lelaki itu. Wajahnya sontak memerah.

Sasuke mengangkat tangannya dan mengusap bibir Ino yang basah. Nafas pria itu memburu, sama sepertinya. Mata mereka saling beradu.

"Ternyata kau benar-benar menginginkannya," bisik pria itu seraya tersenyum.

"Diam kau," sahut Ino.

Tangan Sasuke bergerak merapikan rambut Ino ke belakang telinga wanita itu.

"Apakah sudah cukup atau—"

"Belum. Masih belum." Jawaban Ino serta wajah memerah wanita itu membuat Sasuke kembali menyeringai.

"Baiklah nyonya, jangan sampai tiang infusmu jatuh." ucap Sasuke sebelum kemudian meraih bibir Ino dan memberikan lumatan intensnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N :

Syududududududu... Chapter depan mau dibikinin bucin Ino atau bucin Sasuke? Hahaha. Helloooow teman-temanku tercinta tersayang. Welcome back to my channel! Oh Halooo... Tau gak teman-teman? Aku nemu channel Youtube seorang transgender namanya Stasya Bwarlele di timeline. Orangnya kocak tapi rendah hati. Ga kayak bencong2 cari sensasi yang lain. Dia pernah sekolah dokter ternyata jadi pinter banget. Dia mood booster aku akhir-akhir ini. Hehehe.

Selamat hari buruh buat para buruh sedunia. Aku juga buruh btw, hehehe. Terimakasih buat yang udah ripiu di chapter sebelumnya. Kalian jjang! Semoga suka chapter ini ya teman-teman dan semoga tidak mengecewakan. Sehat-sehat terus buat teman-teman semua. Yang puasa semoga lancar ya puasanya. Sampe jumpa di next chappie...

Salam

Yana Kim ^_^