Moment Side

.

.

Cerita ini hanya fiktif belaka, sekedar karangan. Apresiasi atas cinta pada sang idola. Bukan bermaksud menjatuhkan, menjelekan apalagi mendoakan yang tidak-tidak.

.

.

Terlihat dua orang berbaring berasama dengan mujur yang berebeda namun sejajar, jika mereka miring kesamping mereka akan menemukan seseorang berbaring disana, jika membuka mata mereka akan menemukan orang lain menatap, mereka menatap keduanya bertatapan.

Xiumin membuka mata, terlebih dahulu kemudian mengamati, wajah itu benar-benar tampan, rasanya dari sekian banyak lelaki yang pernah ditemuinya dia yang paling tampan, wajahnya begitu idah dengan dahi yang begitu lebar, hidungnya mancung terpahat sempurna, rahangnya begitu tegas, rambutnya dicat warna oranye seperti permen rasa jeruk.

Tanpa sadar jari-jari kecilnya menyentuh, menyapa pada permukaan halus lelaki yang matanya terpejam, jemarinya terus turun, kulit itu begitu halus, Xiumin tersenyum menikmati jarinya yang menjejak disana hingga perlahan sang empu membuka mata.

Xiumin sudah hendak menarik diri ketika tangannya dicekal, pergelangannya ditarik, ia jatuh menimpanya. "Aku sudah sepakat untuk melepasmu, jangan menggoda atau aku akan mengajukan tuntutan padamu" Xiumin terkekah seraya menumpukan dagunya pada dada lebar tersebut.

"Apa hanya menyentuh wajahmu bisa disebut menggoda? Kau berlebihan" Xiumin bermain disana, membuat pola abstrak tepat di pipi dengan bibir mengerucut.

"Karena itu aku, maka jawabannya adalah iya" ia – Sehun mengecup punggung tangan Xiumin, memeluk wanita yang terbaring diatasnya sangat erat. "Hari ini kau milikku kan? Jadi aku akan memelukmu seperti ini"

"Kau memang selalu memelukku seperti ini Sehun"

Mulutnya menyeru kata A lalu tertawa renyah. "Benarkah"

"Hmm"

Hening, Xiumin kembali sibuk mengamati pahatan yang terlihat begitu indah. Sehun menyamankan dirinya dan kembali terpejam. Menikmati sentuhan yang sangat jarang dan waktu kebersamaan, rasanya Sehun berterimakasih pada hembusan angin yang semakin membesar, itu membuatnya lebih merapatkan diri. "Kau sangat tampan"

Gerakan jemari itu terhenti tepat dibawah bibir Sehun, sedikit dia memajukan dan Sehun mencium jari kecil itu, kembali membuka matanya, menatap sebentar pada manik mata cantik di atasnya. "Tampan? Hal yang sangat tidak berguna, aku tidak butuh ketampanan"

Xiumin mendengus. "Omong kosong, semua lelaki menginginkan itu. Dasar pembohong"

"Untuk apa aku tampan? Kalau orang yang aku cintai tidak mencintaiku"

Xiumin mengerjapkan matanya, tatapan Sehun begitu tajam tepat dimata, menenggelamkannya jauh kesana seperti lorong hitam, Sehun sangat pandai menjerumuskannya pada pesona, tadi wajah sekarang tatapan, namun kali ini kegugupan menelan segalanya, Xiumin bergerak menjauh sedikit gugup. Dia berdeham.

Sehun mengikutinya bangun, menekuk satu kaki dan menoleh, mengamati wajah Xiumin dari samping karena saat ini wanita itu memalingkan wajah. "Kau tahu, untuk pertama kalinya aku mengabaikan permintaan hyung"

Sehun memandang lurus, terbayang wajah kakaknya disana, sedang tersenyum padanya begitu lebar. "Dia ingin kita menikah, tapi aku malah melepasmu pada bajingan gila itu"

"Aku tidak pernah merasa marah pada Donghae oppa sebelumnya, dia menyayangi dan mencintaiku teramat sangat tapi ketika aku membaca surat wasiat itu aku rasanya begitu marah"

Mereka bertatapan, Xiumin mengulurkan tangannya untuk membelai wajah Sehun lagi, sebentar lalu menarik kembali tangannya. "Kau terlalu sempurna, untuk disandingkan bersamaku kau seperti membakar jutaan dolar demi uang receh"

"Itu perumpamaan yang berlebihan"

"Tidak, karena kau bagaikan dolar dan aku uang-

"Kalau begitu kenapa kau menikah dengan hyungku? Bukankah aku dan Donghae hyung sama?"

Mulut Xiumin terkatup, tidak ada bantahan yang dapat keluar, dia mendadak merasa bodoh, apakah baru saja ia merendahkan suaminya?

Sehun menarik Xiumin kedalam pelukan, kepala Xiumin yang kecil langsung tenggelam didada Sehun, terbenam pada kedua lengan yang besar dan kokoh, sesekali pria bermarga Oh tersebut mengecupi kepala sang tercinta, setelah ini ia tidak bisa melakukannya, Xiumin akan menjadi milik si bajingan gila dan Sehun akan terbang ke negeri jauh.

"Maafkan aku" Xiumin menggumam, meski teredam tapi suaranya terdengar.

"Sudahlah, jangan kita bahas lagi atau aku akan benar-benar mengajukan tuntutan dan mengikatmu menjadi milikku"

a Fanfiction

by

Moonbabee

"GE"

Zitao memekik atas semua kegilaan Luhan, patung dewi seharga lima unit mobil hancur tak berbekas oleh Luhan – lelaki yang sedang kesetanan akibat cemburu. Cemburu? Pada siapa? Siapa lagi kalau bukan Xiumin yang menerima ajakan kencan Oh Sehun.

Xiumin – wanita secantik peri yang memiliki julukan Muggle Queen, dia adalah kekasih Luhan, calon isteri Luhan tapi malah mengiyakan tanpa beban ajakan si jangkung sialan Oh Sehun. Dan sejak tiga jam yang lalu Luhan sudah mengirimkan banyak pesan, panggilan atau apapun untuk menyuruh wanita itu pulang, tapi tidak di respon, semuanya diabaikan.

Luhan mengamuk dirumah tentu saja, sehingga patung dewi miliknya yang begitu mahal dihancurkan begitu saja, Zitao ingat betapa Luhan menginginkan sebuah patung dewi menghiasi rumahnya, tapi lihat bahkan itu sudah tidak bisa disebut patung lagi, uang ratusan dolarnya sudah menjadi sampah, untuk sekedar informasi, Luhan membelinya langsung di Negara asal – Yunani.

"Kurasa aku harus menyusulnya" Luhan membanting ponsel dan meraih kunci mobil. Dia sudah kehabisan kesabaran. "Mau menyusul kemana ge? Kau harus menjemput Mark dan Haechan, jiejie berpesan itu padamu"

"Bukankah ada Wendy dan Johnny? Suruh saja mereka" Luhan mulai mengambil langkah, masa bodoh pada nasihat Zitao yang menggeleng pelan, dia mengikuti Luhan, ia tidak bisa tinggal diam, Luhan sepertinya lupa jika Wendy dan Johnny sedang pergi menemui Henry di Kanada.

"Gege, jika kau tidak menjemput Mark, anak itu akan mengadu pada Xiu-jiejie. Kau mau dapat masalah lagi"

Luhan berhenti tepat di ambang pintu. "Haechan akan menjadi partner Mark dan akan menghianatimu jika Mark merajuk pada Xiu-jiejie-

"Argh brisik"

Luhan kembali melangkah, masuk kedalam mobil tidak lupa membanting pintu, Zitao kembali menggeleng. "Cinta dan obsesi sama saja jika Luhan-ge yang menjadi objek observasinya"

Zitao menepukan kedua tangan, para maid keluar seperti sihir. Ditunjuk sampah jutaan dolar hasil perbuatan Luhan lalu berkata. "Bersihkan" katanya, Zitao sudah cukup mendengar keluh kesah berlebihan Luhan mengenai Sehun mengajak Xiumin keluar, dia tidak akan mau lagi mendengar yang lain, apalagi jika Xiumin sampai melihat, sudah pasti, wanita gila kebersihan itu akan memuntahkan semua amarah kepada semua orang, termasuk mereka yang tidak bersalah.

Sepertinya Luhan tidak salah jika menyebut keluarnya Xiumin dan Sehun adalah kencan, keluar sekedar salam perpisahan pasti tidak akan bergandeng mesra ketika berjalan.

"Kau benar-benar membuat ini adalah kencan?" tanya Xiumin saat Sehun sudah duduk tepat dihadapannya. Sekarang mereka sedang berada di sebuah kafe pinggir jalan yang dekat dengan taman.

"Aku yakin, si bajingan gila itu sedang mengamuk di rumah" Sehun tidak peduli pada perubahan wajah Xiumin, sepertinya dia mulai kesal dengan sebutan itu. "Dia punya nama Sehun, Luhan"

Yang dinasihati hanya mengedikan bahu, menutup buku menu lalu mengangkat tangan. Seorang waiters datang. "Aku mau satu Blueberry mint ukuran sedang"

"Aku-

"Kau boleh pergi" Sehun memotong ucapan Xiumin yang hendak memesan. "Siapa yang peduli dengan namanya, bagiku dia bajingan gila"

"Kenapa kau tidak membiarkan aku-

"Lagipula kau tidak sebaiknya menyebut nama itu disaat kencan kita" Sehun menyela lagi. "Baiklah okay. Aku tidak akan menyebutnya lagi tapi bisakah kau jelaskan?"

Sehun menaikan satu alis, gayanya sudah seperti bos besar dengan tangan terlipat di dada dan sebelah kakinya ditekuk, diletakan pada kaki sebelahnya. "Mwo?"

"Kenapa kau hanya memesan minuman? Dan kenapa aku tidak boleh memesan?"

Tepat disaat itu pesanan datang. "Beri aku satu sedotan lagi" lagi-lagi Sehun megabaikan Xiumin. Dia sibuk dengan minumannya.

Xiumin semakin bingung terlebih ketika apa yang diminta datang, dia memasukannya pada gelas yang sama, dia menunjukan padanya. "Ini kencan kan? Akan lebih romantis jika satu gelas berdua. Kau tidak boleh banyak makan jika ingin gaun pengantinmu tetap sempurna"

"Berhentilah mengatakan ini adalah kencan, kau izin pada Luhan jika ini adalah-

"Apa jika aku mengatakan yang sebenarnya si bajingan gila itu-

"Si bajingan gila itu adalah calon suamiku"

Kali ini gantian Xiumin yang menyela, meskipun Luhan memang seperti bajingan gia, tapi dia tetap calon suaminya, calon suami Xiumin dan dia mencintainya, jadi bagaimana perasaannya? Tentu sjaa dia marah. "Kau bilang tidak akan mengungkitnya?"

"Kau yang mengungkitnya terus Sehun"

"Baiklah aku juga mencintaimu, lupakan pembahasan tidak berguna ini dan kita bahas hal yang lain" sepertinya Sehun memang benar-benar tidak akan melepaskannya, dia akan menjadikan ini sungguh sebagai kencan, bukan salam perpisahan seperti lelaki ini meminta izin pada Luhan.

"Aku akan pergi ke makam hyung sebelum pergi, kau sudah kesana?"

Kemarahan Xiumin sepertinya luntur begitu saja, astaga dia lupa. Dia akan menikah lagi tapi bagaimana bisa dia tidak pergi menemui suaminya? "Dilihat dari reaksinya, kau pasti belum kesana"

"Aku lupa" Xiumin menggigit bibirnya sambil menatap Sehun. "Mark tidak mengajakmu kesana?"

"Mark pergi dengan Haechan satu minggu yang lalu, bersama Johnny dan Wendy"

Sehun menaikan satu alisnya. "Bukankah itu saat si- dia melamarmu secara terbuka?" Sehun menjepit bibirnya dengan gigi ketika nyaris menyebut Luhan sebagai bajingan gila lagi, sudah terlalu biasa jadi mau dirubah susah. "Pergi bersamaku?" tawar Sehun.

"Tidak, aku akan pergi dengan Luhan, aku harus mengenalkannya"

Sehun tergelak remeh, dia sungguh seperti tokoh antagonis dalam drama. "Mereka sudah saling kenal astaga, Mark pasti sudah mengadu banyak, aku pernah mendengar Mark jika dia benci pada dirinya lantaran menjadi begitu sayang terhadap si- dia, kau tahu? Mark seperti menghianati ayah kandungnya"

"Apa kau sedang memprovokasiku? Ingin aku membatalkan pernikahanku dengan Luhan?"

"Memprovokasi tidak, tapi untuk membatalkan pernikahanmu, kau tahu jawabannya nuna"

"Sehun-ah, jaebal"

Sehun menghela nafas. "Baiklah, mari kita hentikan sampai disini. Aku akan menepati janjiku. Jadi mari minum bersama" Sehun sangat mencintai Xiumin, ketika pertama kali Donghae – kakaknya mengenalkan wanita itu dia sudah jatuh cinta, saat itu dia hanya memendamnya saja, pasalnya Xiumin adalah isteri Donghae, jadi dia tidak boleh jauh cinta padanya, namun ketika suatu hari pengacara datang dan mengantarkan sebuah wasiat, Sehun nyaris melompat kejurang saking senangnya, Donghae ingin Sehun menikah dengan Xiumin suatu saat, tapi sayang Xiumin malah mencintai orang lain, Sehun tidak mau menjadi pemaksa makanya dia memilih untuk melepas. Sehun memilih pergi untuk menghapus cintanya.

Terkadang Sehun memang memojokan Xiumin untuk membatalkan pernikahan dengan Luhan, tapi jika Xiumin sudah memohon, tandanya Sehun memang tidak ada disana, di hati Xiumin dan Xiumin tidak ingin membenci Sehun, dengan Sehun berhenti mendesak, maka Xiumin tidak akan membencinya.

Sehun menangkup tangan Xiumin yang tampak bergetar diatas meja. Mengelusnya sedikit supaya tenang. "Donghae hyung bukan aku, dia pasti mengertimu lebih dari siapapun. Jadi jangan cemas. Kenalkan padanya. Kemarahanku jangan kau hiraukan, ini akan sebentar."

"Sehun?"

"Aku benar-benar marah dan membencimu, tapi cintaku terlalu besar."

Sehun menyunggingkan senyumnya, memberi isyarat untuk Xiumin segera datang, melahap sisi sedotan lain yang bersebrangan dengan miliknya, perlahan dua kepala itu mendekat. Mereka meminum dari gelas yang sama, Xiumin tidak tahan, dia memejamkan mata sementara Sehun terus menatapnya. Ditatap begitu intens dengan jarak dekat, jantung wanita satu anak itu berdegup seribu kali lebih besar.

Lee Taeyong pergi ke Jepang, selain menghadiri kompetisi mewakili sekolah, dia juga berniat mengunjungi kekasihnya – Yuta Nakamoto yang kembali kenegaranya dan melanjutkan sekolah disana, disekolah, semua orang heboh, merasa begitu senang karena tidak perlu melihat pangeran sekolah selalu bersama pujaan hati, begitu pula dengan dia – gadis bernama Lee Haechan teman sekelas sekaligus boy sitter Mark – kata teman-temannya.

Anak SMP itu adalah penggemar berat kakak SMA yang juga pangeran sekolah. Setiap hari tiada hari tanpa Lee Taeyong dalam hidupnya, apalagi sejak Yuta tidak ada, semakin gila saja si Haechan ini. "Bisa diam tidak sih, aku sedang makan, jangan brisik, ah kau mengganggu pendengaranku"

Penghuni tempat itu menoleh semua, menatap Mark yang wajahnya merah menahan marah sambil menatap Haechan. Mata mereka mengedip-ngedip beberapa kali, ada yang aneh? Tentu saja, Haechan sedang bercerita pada Zitao pasalnya, dua gadis itu bahkan berbicara sambil berbisik-bisik, tapi Mark berkata seakan Haechan bercerita menggunakan toa.

"Ada yang salah?" Haechan bertaya sedikit gagap. Dia belum sadar dengan apa yang terjadi. "You don't know? Are you stupid? Dasar bodoh, kau ini mengangguku. Tidak dengar?"

"Mwo?" Haechan ikut berdiri, menatap tidak suka pada anak manja dihadapannya, berani-beraninya dia menyebut bodoh? Mark Lee sialan.

"Apa kau bilang? Bodoh? Ya! Kau pikir kau sepintar itu? Atas dasar apa kau menyebutku bodoh? Memangnya salahku apa? Kau ini gila ya?"

"Gila? Kau yang gila. Setiap hari yang kau bicarakan hanya Lee Taeyong, Lee Taeyong dan Lee Taeyong? Itu brisik kau tahu tidak kalau aku itu-

Cemburu, Luhan menggumam atas kalimat Mark yang terhenti tiba-tiba. Selain kalimatnya, wajahnya juga seperti blank secara tiba-tiba. Jadi sebenarnya Mark suka pada Haechan? Tapi terlalu gengsi mengakui. Luhan menggeleng pelan sambil memperhatikan, melihat pertengkaran ini dia lupa pada kemarahannya mengenai Xiumin dan Sehun yang sedang berkencan.

"Aku itu apa? Hah? Kau mau mengataiku apa? Dasar anak manja"

"Tidak tahu lah. Dasar tidak peka. Bodoh" Mark pergi begitu saja, meninggalkan Lee Haechan yang masih marah-marah dan Luhan serta Zitao tergelak geli. Dasar anak-anak SMP.

"Selamat tinggal"

"Sampai jumpa" Xiumin meralat ucapan Sehun, lelaki itu kini berdiri dihadapannya dan sedang menyelipkan rambutnya pada telinga. Ia mengantarnya pulang karena hari sudah petang, Sehun ingkar dari janji, sebelum petang dia akan mengantarkan Xiumin tapi tetap saja, dia tidak peduli, dia masa bodoh jika Luhan marah.

"Jika kau menunjungi Kanada, pastikan kunjungi aku, maka selamat tinggalku berubah menjadi sampai jumpa"

"Apa kau tidak akan kembali ke Korea?"

"Di Korea itu kurang bebas, jadi aku akan menetap di Amerika agar lebih bebas"

"Oh Sehun"

Sehun benar-benar menjadi menjadi dirinya sendiri, dia benar-benar menguasai Xiumin dan tidak membiarkan wanita itu menyela sedikit. Sejak dulu Sehun tidak pernah seperti ini, Sehun mengutamakan Xiumin dan Mark meski semua penolakan telah dia lakukan, hingga akhirnya Sehun menyerah dan menunjukan pribadinya. "Masuklah, aku yakin si bajingan gila itu sedang marah, atau mengawasi kita dari dalam"

"Jam berapa kau berangkat besok?"

"Kau akan ikut pergi?"

Xiumin mendesahkan nafasnya, dia kesal. "Kau tidak akan ikut pergi, jadi kau tidak perlu tahu"

"Arraseo, kau tidak mau aku mengantarmu? Baiklah, aku tidak akan mengantarmu. Jadi sekarang pergilah. Kka kka"

Sehun menatap wajah Xiumin yang memerah di hiasi dengan mata berkaca, apa dia sudah keterlaluan kali ini? Sehun hanya ingin, Xiumin tidak merasa bersalah, jika Xiumin memang mencintai Luhan, maka sebaiknya Xiumin melanjutkan niatnya tanpa pernah memikirkannya, pasalnya Sehun yakin, Xiumin sedikit memikirkan dirinya. Sedikit, meski sedikit tapi bagi seorang wanita itu adalah beban.

Ingatkan Sehun untuk mendongak keatas, dimana seorang lelaki menatap tajam dengan tangan mengepal siap meninju. Oh Sehun mendekat, menarik wajah Xiumin, mendaratkan bibirnya tepat diatas bibir Xiumin, matanya langsung terpejam begitu bibir keduanya menempel, Sehun tidak kuat jika harus melihat mata wanita yang dicintainya menatap dengan kaget atas apa yang ia lakukan.

Cukup lama, ciuman itu bukan sekedar dua bibir milik seorang pria dan wanita menempel, tapi ciuman tuntutan yang saling melumat dan membelit, sudah sejak lama Sehun ingin melakukan ini dan baru kali ini dia mendapatkannya.

"Berjanjilah padaku" Sehun mengelap lelehan saliva yang menjejak pada bibir Xiumin dan sekitarnya dengan ibu jarinya. "Mwoga?"

Mereka bertatapan. "Jika si bajingan gila itu menyakitimu, datanglah padaku"

"Dia tidak akan melaku-

"Berjanjilah padaku."

Untuk kesekian kalinya, Xiumin menghela nafas. "Baiklah tuan Oh, aku berjanji."

"Kalau begitu masuklah, aku akan pergi"

"Jaga kesehatanmu Sehun. Kau pasti dapatkan wanita yang terbaik diluar sana"

Sehun melipat tangannya di dada. "Tentu, karena aku tampan. Palli kka"

Ketika Xiumin memasuki kamarnya, dirasakan sepasang tangan menarik dirinya, wajahnya dan sebuah ciuman ganas menyerang dirinya, Luhan membabi buta menciumnya tidak peduli si lawan main sudah kewalahan, dia tetap menyerang, Luhan mencecap hebis semua isi mulut Xiumin, mengambil semua saliva, setelah dirasa semua terambil, Luhan berlari menuju kamar mandi, memuntahkan semuanya disana.

Luhan membuang sisa-sisa Sehun yang mungkin tertinggal dimulut Xiumin. Ketika dia kembali, Luhan melihat Xiumin terduduk dilantai, nafasnya terengah-engah. "Aku membuang saliva Sehun dimulutmu, dan sekarang kau harus mandi, menghilangkan jejak Sehun ditubuhmu"

"Dasar gila! Kau ini mau membunuhku ya!" Xiumin memukul dada Luhan yang kini membopong dirinya, membawanya menuju kamar mandi. Air hangat sudah disiapkan. "Ya, aku gila dan kau adalah sumber kegilaanku"

"Ya! Apa yang kau lakukan"

"Melepaskan bajumu" Luhan melempar tas tangan Xiumin kesembarangan arah, menurunkan tali pengikat pakaian yang melintang dari sisi kanan ke kiri. Punggung mulus wanita itu terlihat, Luhan tidak main-main dengan menghapus jejak Sehun ditubuhnya.

"Aku akan mandi sendiri Luhan, jadi kelua-

Sepertinya Luhan memang sudah benar-benar gila, seperti katanya dan seperti kata Sehun. Dia sudah melepas semua pakaiannya. "Siapa bilang kau akan mandi sendiri, menghapus jejak Sehun berarti aku dibutuhkan, dengar Minseok, hanya aku yang boleh menyentuhmu. Jadi aku akan menghapusnya dengan tubuhku"

Xiumin membelalakan matanya, mata itu sudah membulat sempurna dengan perkataan frontal yang baru saja keluar dari mulut Luhan. "Shireo, kita belum menikah Luhan. Dan jangan berlebihan dengan kalimat mu. Lagipula memangnya salah kalau Sehun menciumku?"

"APAH?!" Rasanya telinga Xiumin lepas dari tempatnya, berlari meninggalkan sang pemilik karena tidak bisa menahan dentuman suara Luhan yang menggema, memecahkan gendang telinganya lebih dahsyat dari big bang.

"Ya! Jangan berteriak! Kau menyakiti telingaku"

"Apa kau bilang? Apa salahnya Sehun menciummu? Dengar Minseok, sejengkal saja dia mendekatimu itu sudah melanggar hukum dunia, tidak ada yang boleh sedekat itu denganmu kecuali aku!"

BRAK

Pintu kamar mandi di dobrak dengan brutal, wajah merah penuh kemarahan Mark Lee terpancar dengan jelas, tanduk animasi dan asap keluar dari setiap lubang hidung anak dua belas tahun tersebut.

"Kalian brisik! Aku sedang marah dan kesal pada gadis bodoh itu dan kalian mengganggu usahaku untuk tidur, kalian mau mati ya! Dan kau" mata yang bulat lebar itu menatap pada Luhan dengan tangannya menunjuk tepat dimata. "Tidak ada yang boleh sedekat itu dengan Xiumin kecuali kau? Kau pikir kau itu siapa, pernyataan itu adalah milikku, sekarang mundur dari mom ku. Tidak ada yang boleh sedekat itu dengannya kecuali aku. A.K.U"

BRAK

Luhan dan Xiumin mengerjap bersama, Xiumin nyaris tidak percaya, apa yang tadi itu Mark Lee? Anaknya? Apa maksudnya. Astaga, dia bahkan tidak peduli pada keadaan Luhan dan Xiumin, Luhan bahkan telanjang bulat.

"Apa aku baru dimarahi anak-anak dua belas tahun?" Luhan bertanya dengan kepala miring kesamping, bingung dan masih belum sadar atas apa yang terjadi.

Mark bertemu dengan Zitao ketika wanita itu naik ke lantai dua bersama Lee Haechan, dua ggadis itu kaget karena suara berisik dari lantai dua juga suara Mark yang menggema sampai ke taman belakang, tempat dimana Zitao dan Haechan sedang curhat-curhatan.

"Little Mr. apa yang terjadi"

Zitao yang bertanya, tapi tatapan Mark jatuh pada Haechan yang acuh. "Bukan urusanmu"

"EH" Zitao terpekik, mata Haechan membola mendengar seruan tepat diwajahnya. Dia siap memukul anak manja dihadapannya tapi Zitao segera menarik lengannya. "Jangan, dia sedang sensitive."

"Huh, dia itu gila eonnie, siapa yang tanya siapa yang disemprot. Dasar anak manja"

"AKU DENGAR YA"

BRAK.

MASA BODOH – Lee Haechan.

Zitao geleng-geleng kepala.

Astaga, Mark benar-benar tidak ada bedanya dengan Luhan-ge.

Jadi setelah insiden pendobrakan pintu kamar mandi yang dilakukan Mark Lee, Luhan melupakan niat mandi dan membersihkan-tubuh-Xiumin-dari-jejak-Oh-Sehun. Dengar kan tadi kalau tidak ada yang boleh sedekat itu dengan Xiumin selain Mark, maka Luhan mengambil bajunya lagi, meninggalkan kamar mandi dan berbaring disana, membiarkan Xiumin menikmati mandinya tanpa gangguan Luhan.

Bisa dibilang, manusia paling di takuti Luhan dirumah ini adalah Mark, perkataan anak dua belas tahun itu bagaikan perintah mutlak baginya, dan Luhan bagaikan robot yang diremot setiap kali Mark mengucapkan kalimat bernada tuntutan.

"Luhan"

Xiumin nyaris tertawa ketika dia merunduk memasuki kedalam selimut dan memegang kaki Luhan, lelaki itu tidak bergeming, tangannya terpilin dan menusap satu sama lain, pria itu sedang gelisah, pasti karena Mark, ah anaknya memang yang terbaik, menaklukan si menyebalkan Luhan adalah Mark Lee jagonya.

"Lu~"

Xiumin menelusupkan lengannya pada punggung Luhan, memeluk tubuh prianya mencoba menarik perhatian, sayangnya sepertinya Luhan masih memikirkan Mark.

Chu~

Baru menoleh ketika bibirnya menyapa pipi mulus tersebut, tapi itupun masih terlihat linglung. "Apa tadi itu artinya, Mark menarik restunya untuk kita menikah?"

Dan tawa Xiumin tidak tertahankan, tubuhnya jatuh pada tempat tidur. Ya tuhan, bodohnya Luhan ini. "Ya! Kenapa kau tertawa? Lucu?"

"Eoh, lucu sekali." Wajah Luhan berkeruh, dia memposisikan dirinya diatas Xiumin, menggigit hidungnya main-main yang malah membuat Xiumin semakin tergelak. Kebiasaan sejak muda, Luhan sangat suka mengigit hidunya, maklum, hidung Xiumin lebih mancung dari milik Luhan.

"Apanya yang lucu? Kau senangnya kalau kita batal menikah? Kau sudah berpaling ya? Sudah jatuh cinta pada si albino?"

Chu~

Mulut Luhan memang hanya bisa dibungkam dengan kecupan. Hahhh, tentu saja. Karena Luhan mesum, sangat.

"Padahal Sehun lebih segalanya dibandingkan kau, dia lebih tinggi, putih, tampan, pengertian, dan memiliki bahu yang besar, tidak seperti kau."

Luhan sudah siap menyeru padanya, namun Xiumin menahan, kedua bibirnya dijepit supaya diam. "Kau itu, pendek, mesum, tidak sabaran, posesif, menyebalkan, aneh, kurus, krempeng"

"Ya!" Luhan dan Xiumin memekik bersama, Luhan karena diejek, Xiumin karena jarinya digigit.

"Kenapa aku terdengar jelek sekali, aku lebih tinggi darimu, aku lebih muda darimu, aku lebih mencintaimu, aku lebih dari pada Sehun atas segalanya, aku-

Perkataan Luhan terpotong, Xiumin mengalungkan lengannya pada leher Luhan sambil berbisik. "Kau lebih cantik dariku"

"Ya!"

"Dan kau adalah orang yang memiliki cintaku lebih dari siapapun"

Luhan termenung kemudian, senyum tanpa sadar terukir, rasanya hatinya tenang begitu saja. Seakan beban terangkat begitu saja, semuanya. "Dan aku merasa cukup dengan itu, jadi aku tidak butuh apapun lagi" Luhan memposisikan dirinya dan Xiumin untuk tidur, rupanya calon isterinya yang mampu membuat hidup selayaknya roller coaster ini sudah mulai merayap pada alam mimpi, meski masih mengusakan diri, mencari kenyamanan diantara perpotongan leher Luhan. Tapi nafasnya mulai menghembus halus.

"Tapi sebenarnya, kau ada diurutan kedua, Mark tetap nomor satu. Zzzz"

Luhan terkekah, menarik wanitanya kedalam dekapan semakin dalam. "Tentu saja, dia menempati urutan tertinggi dalam segalahal. Pangeran kecil kita. Mark Lee kita"

.

.

THE END

.

.

KyungXe

Menopos? Nggak tahu, kkk. Mungkin kalau mereka jatuh miskin, baru gak punya anak lagi.

Laras Sekar Kinanthi

Nggak tahu juga hehe, terlintas begitu aja dalam otak. Mungkin iya, atau mungkin juga nggak.

.

.

Ini ditulis disela nulis INHEROTORS. Kebetulan muncul ide baru, nggak mungkin aku abaikan maka, jadilah ini.

.

.

Moonbabee