FILIA

Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.

Story By : Yana Kim

Lenght : Chaptered

Rate : M

WARNING!

.

Uchiha Sasuke x Yamanaka Ino

SUM:

Persahabatan lima anak manusia dengan motto 'tidak boleh ada cinta dalam persahabatan'. Naruto, Sakura dan Shikamaru telah menikah dengan pasangan masing-masing. Tinggallah Sasuke, si pengusaha kaya tapi playboy dan Ino si desainer cantik yang mudah jatuh cinta, mudah juga patah hati.

.

.

.

Tujuh

.

.

.

"Jauh lebih baik dari tiga hari kemarin. Perkembangan yang sangat bagus. Dia semakin kuat. Bisa kita lihat beberapa bagian tubuhnya termasuk organ dalam sudah mulai terbentuk. Syukurlah kau semakin sehat, Ino-san."

Sizune tersenyum melihat Ino dan Sasuke yang terlihat kagum dengan hasil USG di monitor komputer milik Sizune. Keduanya tampak serius melihat janin Ino yang memasuki usia sembilan minggu itu.

"Kita akan pantau tiga hari lagi. Kalau semua baik-baik saja sampai hari itu, anda sudah bisa pulang. Sepertinya kita juga sudah tidak memerlukan infus lagi"

"Terimakasih, sensei." ujar Sasuke, namun dengan pandangan mata yang kemudian kembali fokus pada layar monitor.

"Perawat akan mengantarkan hasil printnya pada anda nanti. Kalian bisa menyimpannya."

"Benarkah?" seru Ino dan Sasuke bersamaan. Keduanya tampak bersemangat.

Sizune mengangguk sambil tersenyum. Sepertinya yang berkembang dengan baik bukan hanya kondisi kesehatan janin diperut Ino, namun juga hubungan keduanya—yang sebenarnya Sizune tidak tahu harus menyebutnya apa— juga berkembang dengan baik.

.

.

.

"Dia kecil sekali." Ino menatap tak percaya pada gambar ditangannya. Hasil print dari USG yang ia lakukan pagi tadi. Keduanya duduk pada satu set sofa yang ada diruangan Ino.

"Hn." Sama dengan Ino, Sasuke menatap kagum pada gambar ditangan Ino.

"Dokter bilang dua minggu lagi kita bisa mengetahui jenis kelaminnya."

"Hn. Aku tidak sabar." Ino tersenyum tipis mendengar reaksi Sasuke. Sama seperti laki-laki itu, Ino juga sangat bersemangat.

"Apa aku bisa jadi orang tua yang baik nantinya?" tanya Ino tiba-tiba. Ia mengelus lembut perutnya.

"Kita tidak bisa menilai apakah kita bisa menjadi orang tua yang baik atau tidak. Kita hanya perlu melakukan yang terbaik untuknya nanti." Ino menatap kagum pada Sasuke yang sukses membuat jantungnya berdegup kencang. Sasuke yang kini ada dihadapannya tampak sangat dewasa. Selama ini ia hanya mengenal Sasuke si idola sekolah, Sasuke si mahasiswa idaman, Sasuke si direktur jenius Uchiha Corp dan Sasuke si playboy kelas atas dengan puluhan list mantan kekasih. Namun kali ini, yang ia lihat adalah Sasuke sicalon ayah. Tidak ada raut wajah penuh kesombongan yang biasa dilihatnya. Tidak ada seringai penuh kebanggaan yang biasa ditunjukkan pria itu. Hanya ada tatapan penuh kehangatan dan senyum tulus penuh kasih sayang yang terpancar dari wajah pria itu. Ino tidak tahu kenapa. Sasuke yang sekarang dilihatnya, sangat mempesona. Apa Ino sudah benar-benar jatuh cinta pada Sasuke? Semudah itu? Ini bahkan baru tiga hari sejak mereka membuat perjanjian tentang satu bulan waktu Sasuke untuk membuatnya jatuh cinta. Yang pasti, saat ini Ino hanya ingin Sasuke selalu didekatnya. Pengaruh kehamilan kah? Atau memang Ino sudah jatuh cinta pada Sasuke? Ino tidak tahu. Tiba-tiba Ino teringat akan sesuatu yang ingin ia tanyakan sejak semalam pada pria itu.

"Sasuke," panggilnya.

"Hm?"

"Apa kau sudah memberitahu keluargamu tentang... tentang ini?" tanya Ino.

"Alasan kenapa kemarin aku baru bisa datang menjelang sore adalah karena aku harus memberitahu keluargaku," ujar Sasuke.

"Benarkah?"

"Hn."

"Mereka... bilang apa?" tanya Ino lagi.

"Mereka bilang ka—"

Ceklek!

Sosok Mikoto, Itachi dan juga Izumi muncul dari balik pintu. Ino cukup terkejut namun disaat yang sama ia merasa canggung juga malu karena harus bertemu keluarga Uchiha dalam keadaan hamil seperti ini. Ya, seperti yang Sasuke bilang, dia sudah memberitahukan keluarganya perihal ini. Ino menjadi gugup. Ia merasa tidak bisa lagi berbicara dengan santai pada Itachi dan Izumi atau berpelukan ramah pada Mikoto seperti yang biasa ia lakukan.

"Apa kedatangan kami menginterupsi sesuatu?" tanya Itachi dengan nada jahilnya yang biasa. Ino tersenyum tipis. Setidaknya Itachi masih tampak seperti biasa. Izumi juga tersenyum manis seperti biasa. Mungkin Ino hanya akan mengkhawatirkan bagaimana ia akan bersikap pada Mikoto. Ino baru saja mau membuka mulut untuk menyapa Mikoto ketika wanita paruh bayah itu mendekat padanya, mengambil alih posisi Sasuke dan menarik Ino kedalam pelukannya.

"Ino sayang. Maafkan aku karena baru bisa datang sekarang ya. Sasuke baru memberitahukan masalah ini kemarin dan kami harus berbicara banyak hal terkait ini. Jadi, maafkan aku ya." ujar Mikoto seraya memeluk Ino erat.

"Kaa-san harus sekali mendorongku ya?" Sasuke berujar kesal pada sang ibu yang mendorongnya menjauh dan hampir saja terjengkang dari sofa.

"Diam disana, Sasuke. Ibu kemari bukan untuk menemuimu." Mikoto menjawab ketus pada sang putra bungsu hingga membuat Sasuke hanya bisa menggelengkan kepala.

"Terimakasih sudah datang, baa-san. Maafkan aku karena... karena masalah ini." Ino memegang perutnya yang masih rata.

Mikoto menggeleng keras.

"Jangan begitu sayang. Mungkin kau merasa ini adalah kesalahan, tapi bagiku ini adalah berkat. Kau boleh merasa kalau aku mengambil keuntungan dari masalah ini, tapi jujur aku sangat senang sekali. Bukan karena kau hamil, tapi karena fakta bahwa orangnya adalah kau. Aku sangat bahagia karena orang yang Sasuke cintai adalah kau, Ino."

Ino tertegun mendengar penuturan Mikoto. Apakah kesalahan mereka membawa kebahagiaan untuk orang lain?

'Oh Ino stop! Berhenti menyebut anakmu adalah kesalahan.' Ino memaki dirinya sendiri dalam hati.

"Kaa-san benar Ino. Walaupun terkejut, kami semua senang. Aku tahu cepat atau lambat Sasuke akan berakhir bersamamu." Itachi menambahkan.

"Yah, Mungkin hanya Tou-san yang masih belum mau bertemu denganmu," ujar Itachi lagi. Mikoto mendelik pada Itachi.

"Aa..." Ino menyahut kaku. Tentu saja Uchiha Fugaku yang kaku itu tidak menyukai hal ini. Meskipun sebagian besar umat di Jepang khususnya Tokyo sudah tidak mempermasalahkan perihal gaya hidup bebas, keluarga Uchiha tetaplah keluarga yang mengangggap tabu sesuatu seperti ini.

"Tenang saja Ino, siapapun tahu bagaimana Fugaku sangat ingin memiliki cucu. Mungkin dia sedikit kecewa, tapi aku yakin dia juga sangat senang dengan kehadiraan cucunya." Mikoto menenangkan Ino. Ino hanya bisa tersenyum. Ia jadi tidak bagaimana harus bersikap bila suatu saat nanti bertemu dengan ayah kakak beradik Uchiha itu.

"Oh iya Ino. Aku sekalian ingin mengantarkan ini padamu. Acaranya minggu depan." Izumi mendekat dan memberikan sebuah amplop dengan ukiran emas sebagai hiasannya serta nama wanita itu dan Itachi dibagian tengah.

"Terimakasih, Izumi-san. Aku pasti datang." Ino tersenyum pada kekasih Uchiha Itachi itu.

"Tentu saja kau harus datang. Aku akan mengirimkan seragamnya untukmu ya. Aku sudah bekerja keras untuk mengurus semua ini. Itachi tidak bisa diandalkan." Izumi mendelik pada Itachi yang langsung memeluk wanita itu dari belakang.

Ino memandang kedua pasangan itu. Berbeda dengan Sasuke, Itachi selalu setia dengan Izumi bahkan sejak mereka dibangku SMA. Kenapa mereka baru menikah sekarang? Karena Itachi mendukung Izumi untuk mengambil gelar Doktornya sampai keluar negeri. Kalau ada penghargaan untuk pasangan paling setia, mungkin Itachi adalah pemenangnya.

Apakah ia dan Sasuke akan berakhir seperti mereka? Ino tersenyum miris. Ia tidak mau berharap banyak. Menikah dengan Sasuke adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan bahkan satu kalipun dalam hidupnya. Fakta bahwa lelaki itu mencintai saja sangat mengejutkan untuk Ino. Namun yang pasti, melihat bagaimana Sasuke memberitahu keluarganya tentang kehamilan Ino membuatnya berpikir bahwa dirinya juga harus memberitahu ayah dan kakaknya perihal ini. Mungkin ayahnya akan sangat marah dan kecewa padanya. Lebih dari pada itu, Ino mengkhawatirkan Sasuke. Apa yang akan dilakukan oleh ayahnya saat tahu bahwa yang menghamili putrinya adalah satu dari tiga lelaki yang ia percaya untuk menjaga Ino di Jepang? Seperti yang Naruto katakan, mungkin ayahnya akan memukuli Sasuke dan kemungkinannya sembilan puluh sembilan persen. Ino menghela nafas, ia hanya berharap semuanya baik-baik saja. Setiap kesalahan pasti ada konsekuensinya kan? Ia harus menghadapinya.

.

.

.

Sepulangnya keluarga Uchiha dari rumah sakit, Ino memberanikan diri untuk menelepon ayahnya. Hari sudah beranjak malam dan Sasuke sedang pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli makan malam pria itu. Ino sendiri sudah menyelesaikan makan malamnya beberapa saat lalu. Ino menatap lama pada layar ponselnya sebelum meletakkan benda itu pada telinganya. Terdengar empat kali nada tunggu sebelum kemudian suara ayahnya terdengar.

"Hime, aku baru saja mau menelponmu!" Oh, Ino sangat merindukan suara ayahnya.

"Bagaimana kabar Tou-san?" tanya Ino. Ia bisa mendengar suara Daichi samar-samar yang sepertinya bermain dengan Anko, ibunya. Ia juga bisa mendengar suara tawa Deidara disana.

"Tou-san selalu sehat, sayang. Bagaimana denganmu?"

"Aku sedikit kurang sehat, tapi aku baik-baik saja."

"Kau sakit? Pantas saja perasaanku tidak enak, makanya aku berniat menelponmu. Sudah periksa ke dokter?" tanya sang ayah.

"Sudah, aku sudah menginap tiga malam dirumah sakit Konoha."

"Apa?! Separah itu?! Oh sayang, maaf karena tou-san tidak ada disana. Siapa yang menemanimu disana? Sakura?"

"Sakura sudah tidak tinggal di Jepang tou-san. Bukannya aku sudah pernah bercerita kalau sekarang dia di Jerman? Aku... aku dengan Sasuke."

"Benarkah? Maklumlah, tou-san sudah tidak muda lagi. Jadi mudah lupa." Terdengar suara tawa Inoichi diseberang sana.

"Syukurlah kau tidak sendirian. Tou-san akan segera membeli tiket untuk penerbangan besok pagi. Oh ya, kau sakit apa? Kau tahu herbal disini sangat hebat kan? Tou-san akan membawanya untukmu." Inoichi melanjutkan.

Ino menelan ludahnya takut. Disaat yang sama pintu terbuka dan memperlihatkan Sasuke yang datang dengan bungkusan makanannya. Pria itu meletakkan makanannya di meja sofa seraya mendudukkan dirinya disana.

"Tou-san, aku..."

Mendengar Ino sedang berbicara dengan ayah wanita itu, Sasuke bangkit dari duduknya dan mendekat pada Ino. Pria itu mendudukkan dirinya dipinggir ranjang Ino. Sasuke tahu Ino akan memberitahukan pada ayahnya terkait kehamilannya dan Sasuke yakin, tidak mudah bagi Ino untuk melakukannya. Karena itu lah, Sasuke kemudian meraih tangan kiri wanita itu lalu menggenggamnya.

"Ya hime, apa yang kau rasakan? Ahli herbal disini adalah kenalanku, dia pasti akan memberikan yang terbaik untukmu."

Ino menatap pada tangannya yang kini digenggam oleh Sasuke, kemudian beralih pada wajah pria itu. Sasuke mengangguk dan tersenyum meyakinkan.

"Aku hamil, tou-san." Ino akhirnya mengatakannya.

"Kau... apa?"

"Aku hamil, tou-san. Maafkan aku."

Ayahnya diam. Ino tidak mendengar apapun selain suara samar-samar keponakannya yang masih asik bermain dengan orang tuanya. Hingga beberapa saat kemudian—

"KAU HAMIL?!" Ino menutup matanya mendengar teriakan ayahnya beberapa detik kemudian. Ia bisa mendengar suara kakaknya yang mendekat dan bertanya tentang siapa yang hamil.

"Maaf, tou-san." Tanpa sadar, air mata Ino perlahan mengalir di pipinya.

"Siapa yang menghamilimu? Kekasihmu yang artis itu?" tanya ayahnya kemudian.

"Bukan tou-san. Aku dan dia sudah lama berakhir."

"Lalu siapa?"

"Sasuke."

"Sasuke?" Inoichi terdiam sebentar. "Uchiha Sasuke, maksudmu?!"

"Benar, tou-san." Terdengar helaan nafas dari sang ayah. Ino yakin ayahnya kini tengah mengontrol emosinya agar tidak meledak saat itu juga.

"Ino apa itu benar? Kau hamil dengan... dengan adiknya Itachi?!" Deidara sepertinya mengambil alih ponsel sang ayah.

"Iya, nii-san. Tou-san dimana?" tanya Ino.

"Sedang sibuk dengan kopernya. Kalau ada penerbangan malam mungkin dia sudah berangkat. Bagaimana bisa kau hamil dengan Sasuke? Bukannya dia sahabatmu seperti Naruto dan Shikamaru ya? Apa tidur dengan sahabat sendiri lagi tren di Jepang?"

"Nii-san!"

"Ck ck ck! Bagaimana keadaanmu? Bayimu sehat-sehat saja kan?"

"Begitulah,"

"Kenapa kau terdengar tidak yakin, baka?"

"Aku sedang dalam perawatan di rumah sakit. Sebelumnya kondisinya lemah, tapi sekarang sudah jauh lebih baik. Jangan khawatir."

"Syukurlah. Jaga kesehatanmu. Aku akan mengatur jadwalku agar bisa ikut dengan tou-san besok."

"T-tapi sepertinya nii-san tidak perlu ikut. Aku... aku sudah baik-baik saja, sungguh!" Sesungguhnya Ino hanya takut kalau-kalau Deidara akan ikut andil dalam mengadili Sasuke. Deidara itu seperti kembaran Naruto. Ceroboh, tidak sabaran dan lebih mengikuti emosi dibanging logikanya .

"Kau tidak merindukanku ya? Dasar adik durhaka. Tunggu kedatangan kami besok ya, hime. Katakan pada adik Itachi itu untuk bersiap-siap, karena aku akan menghabisinya."

"Dei-nii—" Ino tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena sang kakak sudah terlanjut mengakhiri sambungan teleponnya. Ia hanya menghela nafas dan meletakkan ponselnya di ranjangnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke kemudian.

"Sepertinya tou-san dan Dei-nii sangat marah."

Sasuke mempererat genggaman tangannya.

"Semuanya akan baik-baik saja," ujar pria itu. Ino kemudian menyandarkan kepalanya ke pundak Sasuke.

"Aku harap begitu."

.

.

.

Ino tidak bisa tenang sejak semalam. Ia memikirkan bagaimana nanti ayah dan kakaknya akan datang dan apa yang terjadi. Ino tidak tahu bagaimana Naruto dan Shikamaru tahu tentang kedatangan ayah dan kakaknya hari itu, karena pagi-pagi sekali keduanya sudah tiba dirumah sakit.

"Bagaimana kalian tahu kalau ayahku akan datang?" tanya Ino sambil memakan sarapannya. Sebenarnya ia sangat tidak berselera, namun karena mengingat kesehatan bayinya, Ino harus memakan sarapannya agar nutrisinya juga bayi dalam perutnya senantiasa terjaga. Sasuke duduk disebelahnya sambil meminum kopi yang dibawa oleh dua sahabatnya itu.

"Sasuke yang memberitahunya. Iruka sudah kuperintahkan untuk menjemput jii-san. Tentu saja aku tidak mau melewatkan kesempatan langka dimana Sasuke akan dipukuli. Aku sungguh tidak sabar." Naruto tersenyum manis pada Ino. Sasuke hanya mendecih tak suka.

"Kau mau kubunuh ya?" Ino menyipitkan matanya pada sahabat pirangnya itu.

"Jangan dengarkan dia Ino. Sebaliknya kami ingin mencegah hal itu agar tidak terjadi. Kudengar Deidara-san juga ikut. Jadi aku rasa setidaknya kami bisa jadi penengah kalau-kalau ada masalah yang terjadi." Ino menatap pada Shikamaru dengan penuh rasa haru.

"Shika, kau yang terbaik." Shikamaru hanya tersenyum tipis.

"Habiskan sarapanmu," sahut pria nanas itu kemudian lanjut meminum kopinya. Ino tersenyum dan melanjutkan sarapannya. Setidaknya ada Shikamaru. Sejak Ino mengenalnya, Shikamaru selalu jadi sosok yang bisa diandalkan. Mungkin karena itulah Ino pernah menaruh rasa pada pria itu. Shikamaru memang sehebat itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang saat ini. Shikamaru, Naruto dan Sasuke sedang larut dalam percakapan mereka tentang pekerjaan. Ketiganya tampak serius. Satu-satunya hal yang membuat wajah konyol Naruto berubah jadi tampak keren adalah saat membahas pekerjaan. Mungkin karena itulah ia berhasil mendirikan perusahaannya sendiri di umur yang masih muda. Sudah sejak tadi mata Ino melirik kearah pintu kamarnya. Ayah dan kakaknya tidak kunjung datang. Kalau memang mereka mengambil penerbangan pagi seharusnya mereka sudah sampai. Ino tidak tahu apakah hanya dirinya yang merasa gugup menunggu ayah dan kakaknya. Apakah Sasuke juga demikian. Sejujurnya Ino sangat mengkhawatirkan Sasuke dan apa yang akan ayah dan kakaknya lakukan nanti. Berkali-kali Ino menahan nafasnya saat pintu terbuka dan bernafas lega saat yang datang adalah perawat atau Sizune yang memeriksa keadaannya.

Ino kembali menahan nafas saat suara pintu terdengar. Kali ini ia tidak bisa bernafas lega karena sosok yang ditunggunya benar-benar muncul sekarang. Ayahnya muncul diikuti kakaknya dari balik pintu. Jantungnya seketika berdegup takut melihat ayahnya langsung berjalan menuju set sofa dimana ketiga sahabatnya sudah berdiri dan membungkuk sopan. Pandangan mata sang ayah yang lurus pada Sasuke langsung membuat Ino berteriak tanpa sadar.

"TOU-SAN JANG—"

Teriakan Ino tercekat ketika ia melihat apa yang terjadi. Semua orang yang ada diruangan itu tercengang melihat apa yang Inoichi lakukan. Tuan Yamanaka itu menarik Uchiha Sasuke dalam pelukannya.

"O-oh... Bukan ini yang aku inginkan." Naruto berujar pelan.

Inoichi melepaskan pekukannya pada Sasuke dan menepuk-nepuk pundak pria itu.

"Terimakasih, Sasuke. Akhirnya! Doaku terkabul juga!"

Sasuke membuka mulutnya, namun satu katapun tidak bisa ia keluarkan. Ia terlalu terkejut. Bukan hanya Sasuke, semua yang ada diruangan itu sama terkejutnya. Bahkan Shikamaru yang biasanya tenang dan cepat tanggap kini ikut membuka mulutnya tak percaya.

"Tou-san! Kenapa malah memeluknya?! Uchiha, beraninya kau menyentuh adikku!" Deidara menggeram kemudian ikut mendekat.

Naruto mengangguk. "Ya, inilah yang seharusnya terjadi." gumam pria itu seraya mengeluarkan ponselnya untuk merekam apa yang terjadi.

Kakak laki-laki Ino itu menarik kerah baju Sasuke dan ingin melayangkan sebuah pukulan ketika Inoichi menahannya dan malah mendorong sang putra hingga jatuh terduduk disofa.

"Tou-san!" Deidara mengerang.

"Jangan sentuh calon menantuku!" Deidara menatap tak percaya pada ayahnya.

"Setelah sekian lama aku berharap Ino segera menikah. Umurnya sudah tidak mudah lagi dan aku sangat khawatir. Aku bahkan berdoa agar dia hamil sehingga tidak ada alasan untuknya menghindari pernikahan. Oh Sasuke, terimakasih karena sudah mewujudkan doaku. Sepertinya kau adalah perpanjangan tangan Kami-sama untuk menolongku." Inoicho meraih kedua tangan Sasuke dan menggenggamnya.

Semuanya kembali tercengang mendengar penuturan Inoichi yang sangat diluar dugaan. Tuan Yamanaka kemudian beralih pada Ino yang masih tercengang diatas ranjang rawatnya.

"Hime, bagaimana keadaanmu? Calon cucuku baik-baik saja kan?"

"Tou-san," panggil Ino.

"Ya, hime? Oh ya, aku membawa herbal yang bagus untuk menguatkan kandungan."

Ino mengambil bantalnya dan memukul ayahnya gemas.

"Jadi tou-san sangat berharap aku hamil, heh?"

Sang ayah tertawa dan menangkap bantal Ino kemudian meraih sang putri ke dalam pelukannya.

"Itu hanya kiasan. Harapan tou-san yang sesungguhnya adalah kebahagiaanmu. Mungkin ini adalah awal untukmu agar dapat meraihnya. Berhenti mencari pria yang kau cintai dan mencintaimu, saat sebenarnya dia ada didekatmu. Mulai sekarang berbahagialah, hm?"

Ino terdiam, perlahan air matanya turun. Ia membalas pelukan ayahnya dengan erat. Ayahnya benar, ia harus bahagia. Masih dalam pelukan ayahnya, Ino memandang pada Sasuke yang menatapnya lembut. Pria yang akan jadi sumber kebahagiannya, oh jangan lupakan bayi dalam perutnya yang juga merupakan sumber kebahagiaannya.

.

.

.

"Tou-san. Aku tidak mau, ini sangat pahit!" Ino memandang tak suka pada segelas kecil ramuan yang ayahnya bawa. Ia sedang berada di ruang tengah apartmennya dan sibuk dengan kertas-kertas gambarnya. Sudah tiga hari sejak ia kembali dari rumah sakit. Ayah dan kakaknya yang memilih untuk tinggal di apartmen Ino dari pada di rumah lama mereka. Alasannya karena mereka ingin merawat Ino. Padahal sebenarnya Ino sudah merasa lebih baik. Perutnya memang masih sering kram, tapi Ino sudah biasa dengannya dan yang perlu Ino lakukan adalah menenangkan bayinya dengan ucapan dan usapan lembut.

"Ini sangat bagus untuk kandunganmu, hime."

"Aku sudah punya obat dari dokter, tou-san."

"Itu hanya vitamin. Tou-san sudah berkonsultasi dengan doktermu dan beliau mengatakan bahwa tidak apa-apa mengkonsumsinya berbarengan karena ini adalah herbal."

"Aku tidak sanggup, tou-san. Ini tidak enak!."

"Kau tahu betapa langkanya bahan-bahan untuk membuat ramuan ini? Minumlah. Hanya satu kali sehari tapi sulit sekali bagimu untuk meminumnya. Apa perlu aku panggilkan Sasuke?"

Seketika mood Ino bertambah buruk. Sejak keluar dari rumah sakit, Sasuke belum pernah mengunjunginya diapartmen. Kedatangannya ke apartmen Ino hanyalah saat kepulangan Ino, itupun bersama Naruto dan Shikamaru. Saat pamit setelah mengantar Ino, pria itu memang mengatakan bahwa ia sedang sangat sibuk-sibuknya dengan pekerjaannya. Ia bahkan harus menghadiri pertemuan sesama pengusaha di Singapura. Ino mencoba mengerti, tapi tetap saja rasanya kesal karena pria itu bahkan tidak menelponnya. Apa tidak bisa pria itu meluangkan waktu untuk sekedar menelponnya?

"Tidak perlu. Aku akan minum. Percuma tou-san menelponnya, dia tidak akan datang." Ino meraih gelas kecil berisi ramuan herbal itu dan meminumnya cepat sebelum kemudian mengambil permen yang juga ayahnya siapkan.

"Oh iya. Aku lupa dia sedang tidak di Jepang."

Ucapan ayahnya membuat Ino kian kesal. Wanita itu kemudian mengambil kembali sibuk dengan kertas-kertas diatas meja. Butiknya masih berjalan seperti biasa bahkan saat Ino berada dirumah sakit. Terimakasih pada Sasuke yang membantunya. Ino memang tidak lagi menerima pesanan untuk sementara waktu, tapi untuk pesanan yang sudah terlanjur ia setujui Ino tetap mengerjakannya. Ino sedang merobek kertas hasil gambar yang salah saat ayahnya kembali muncul, kali ini tidak sendirian.

"Hime, temanmu datang membawa anjing. Bukannya Naruto bilang anjingmu ada dirumahnya ya?"

"Oh, Odette!" Ino bersorak saat melihat Kiba membawa Odette. Anjing putih itu langsung melompat dari gendongan Kiba dan berlari kearah Ino. Ino memeluk anjingnya erat.

"Duduklah nak, aku akan membawa minuman untukmu."

"Terimakasih, Yamanaka-san." Kiba mendudukkan dirinya dilantai dimana Ino juga duduk disana.

"Terimakasih Kiba. Jadi selama ini Odette bersamamu? Naruto bilang Odette ada dirumahnya selama aku dirumah sakit."

"Naruto-san memang sempat membawa Odette kerumahnya. Tapi anaknya takut jadi dia membawanya ke klinikku." Kiba menjelaskan.

"Bagaimana kandunganmu?" tanya pria itu lagi.

"Sepertinya kau juga sudah tahu masalah kehamilanku. Maaf." Ino tersenyum sambil meringis. Entah kenapa ada rasa bersalah muncul dalam diri Ino saat Kiba mengetahui tentang kehamilannya.

"Kenapa kau minta maaf? Kau tidak salah apapun, Ino." Kiba tertawa.

"Aku merasa bersalah padamu."

"Kenapa kau merasa bersalah padaku?" tanya Kiba.

"Aku sempat menyukaimu. Kau sangat baik. Bukan hanya padaku, tapi pada hewan terlantar lainnya. Jadi aku sempat menyukaimu."

Kiba terdiam mendengar penuturan Ino.

"Jadi mungkin karena itu rasa bersalahku muncul. Mungkin kau tidak mengerti, tapi—"

"Syukurlah." Kiba memotong ucapan Ino.

"Aku bersyukur karena setidaknya kau pernah menyukaiku. Jadi perasaanku tidak sepenuhnya bertepuk sebelah tangan." Ino terkejut mendengar apa yang Kiba katakan. Ia sampai menutup mulutnya tak percaya.

"Kiba kau—"

"Jangan sampai rasa bersalahmu semakin besar karena tahu aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu." Pria itu kembali tertawa.

"Aku yakin Sasuke-san bisa membahagiakanmu. Dia sangat mencintaimu, aku bisa melihatnya. Dan faktanya, kau juga mencintainya kan?"

.

.

.

Ino berhasil menyelesaikan desain pesanan kliennya saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia bersyukur bisa merampungkan semuanya hari itu walaupun ayahnya sering mengganggunya untuk menyuruh Ino makan dan meminum obatnya. Ia membereskan kertas desainnya dan menyimpannya dalam sebuah map untuk bisa segera dieksekusi olehnya bersama para anak buahnya.

Ino segera berjalan menuju kamarnya untuk bersiap tidur. Ino segera mencuci muka dan menyikat giginya sebelum mengganti bajunya dengan piyama. Ino sedang berbaring saat ponselnya berdering. Nomor tak dikenal muncul di layar ponselnya dan Ino segera mengangkatnya dengan nada malas karena jujur saja ia sudah sangat mengantuk.

"Ya, halo?"

"Ino?" Mata Ino melotot saat mendengar suara yang kelewat familiar itu. Ia sangat merindukan suara ini, juga pemiliknya.

"Sa-sasuke?" Ino segera mendudukkan dirinya.

"Kau sudah tidur?"

"Be-belum. Kau kemana saja? Kenapa baru menelpon?" Ino merasakan suaranya bergetar karena entah kenapa hatinya mendadak sedih dan matanya mulai terasa panas.

"Maaf ya. Banyak yang harus aku kerjakan." Sasuke menyahut.

"Kau sudah kembali ke Jepang?" tanya Ino.

"Belum, karena itu aku menelponmu."

Ino diam menunggu Sasuke melanjutkan.

"Aku akan ikut penerbangan paling pagi besok. Aku rasa aku tidak bisa menjemputmu ke pernikahan Itachi. Kita bertemu disana saja ya."

Ino ingin marah saat itu juga. Sudah tidak menelepon selama tiga hari, malah menyampaikan kabar yang membuat kesal saja. Ia memandang pada sebuah gaun seragam yang tergantung didinding. Ino bahkan belum sempat melihat gaun yang tertutup oleh penutup kain laundry berwarna hitam itu sejak diantar kemarin.

"Ini bukan masalah kau bisa menjemputku atau tidak. Ini pernikahan kakakmu dan kau malah baru akan berangkat dari Singapura pada hari H. Kau sudah gila ya?"

"Mau bagaimana lagi. Gara-gara Itachi juga aku harus menggantikannya mengikuti pertemuan ini."

"Sudahlah, aku mau tidur."

"Kau sudah mau tidur ya?"

"Hm." Ino menyahut dingin.

"Bagaimana kabar anakku?" pertanyaan Sasuke sukses membuat tembok es yang sudah terbangun tinggi dihati Ino mulai mencair perlahan.

"Baik-baik saja. Terimakasih pada ramuan ajaib yang tou-san bawa." Terdengar tawa kecil Sasuke diseberang sana. Ino sendiri ikut melengkungkan senyumnya mendengar tawa itu.

"Aku merindukan anakku... dan juga ibunya." Bukan hanya mencair perlahan, tembok itu kini luruh sepenuhnya mendengar penuturan Sasuke.

"Sasuke..."

"Aku merindukanmu, Ino. Tidurlah. Sampai bertemu besok."

Suara khas sambungan telepon yang terputus terdengar. Panggilan itu memang berakhir, tapi senyuman diwajah Ino kian lebar seiring ia membaringkan tubuhnya seraya memeluk ponselnya didada. Walaupun Sasuke tidak bisa menjemputnya, yang penting ada akhirnya ia akan bertemu dengan pria itu esok hari.

.

.

.

Ino terpaku melihat pantulan dirinya dicermin. Ia sudah selesai dengan make up dan tatanan rambutnya. Ia cukup kaget melihat gaun yang Izumi siapkan sebagai seragam untuk para tamu khusus seperti kata wanita itu. Bukan karena kebesaran atau kekecilan, gaun itu sangat pas di tubuhnya. Mungkin hanya panjang gaun yang melewati kakinya. Tapi sebagai seorang desainer, Ino tahu bahwa itu bukan karena Ino kurang tinggi tapi karena gaun putih itu memang dirancang seperti itu. Hanya saja, Ino merasa familiar dengan gaun dengan tali yang menggantung disatu pundaknya itu.

"Hime, kau sudah siap?" tanya sang ayah dari balik pintu kamar.

"Sudah, tou-san!" Ino segera keluar membawa highhellsnya. Untungnya dokter mengatak tidak apa-apa menggunakan sepatu dengan tumit yang tinggi diawal kehamilan. Tapi tetap harus hati-hati dan jangan terlalu tinggi. Untuk Ino yang sudah biasa mengenakan benda itu, hells dua belas senti meter berwarna silver itu termasuk dalam kategori tidak terlalu tinggi.

Mobil Ino berjalan memasuki ke sebuah hotel milik keluarga Uchiha tempat dimana acara pernikahan Itachi dan Izumi diadakan. Ino dan ayahnya menunggu Deidara memarkirkan mobil sebelum ketiganya kemudian berjalan kearah taman hotel dimana acara akan diadakan. Dimeja tamu, Ino diberikan sebuah mahkota cantik yang terbuat dari bunga. Wanita yang bertugas menerima tamu itu juga bahkan membantu Ino memasangkan benda itu dikepala Ino. Ino mengira ini juga bagian dari keseragaman untuk acara pernikahan yang sudah Izumi siapkan.

Ino kembali dibuat bingung bercampur kaget melihat hiasan yang didominasi oleh bunga matahari itu. Puluhan kursi yang berbaris rapi membentuk dua sisi dengan jarak ditengah sebagai jalan untuk pengantin itu sudah hampir terisi penuh. Di ujung depan terdapat gapura yang berhiaskan bunga matahari dengan sebuah mimbar kecil ditengahnya. Seorang pendeta—Ino bisa melihat dari pakaiannya— berdiri dimimbar sambil memegang mikropon. Untuk ukuran pesta seorang Uchiha Itachi dan Izumi, kursi dan tamunya terlalu sedikit dan terlalu sederhana. Ino membayangkan garden party yang mewah dengan ratusan meja serta kursi, bukan hanya barisan kursi yang tidak banyak itu. Yang paling penting semuanya terasa familiar. Ino tidak tahu kenapa.

Suara musik khas pernikahan terdengar. Para tamu berdiri dan melihat ke belakang dimana Ino bersama ayah dan kakaknya berada. Ino memang menggandeng tangan ayahnya sejak turun dari mobil, namun kali ini ia terkejut karena Deidara kakaknya juga ikut menggandeng tangan kirinya dan membimbingnya berjalan melewati karpet merah yang disediakan. Keterkejutan Ino belum berakhir ketika ia melihat Itachi dan Izumi yang duduk dibarisan para tamu bersama dengan keluarga Uchiha. Mikoto dan Fugaku duduk disebelah Itachi. Pria paruh bayah itu tersenyum padanya. Itachi memang mengenakan setelan jas, tapi Izumi tidak mengenakan wedding dress ataupun gaun seragam seperti yang Ino kenakan. Kalau dilihat lagi, hanya Ino yang mengenakan gaun itu juga mahkota bunga seperti yang ada dikepalanya saat ini. Tidak ada seragam seperti yang Izumi katakan. Ada apa ini sebenarnya?

"T-tunggu, kenapa Itachi-nii—"

"Ssst! Jangan merusak acara pernikahanmu sendiri." Deidara berujar dan disaat itu juga Sasuke muncul dan berdiri di depan mimbar dengan setelan jas serta hiasan bunga matahari kecil disaku jasnya. Pria itu tersenyum tipis melihat Ino yang kini sudah ada di pertengahan jalan menuju kedepan. Wanita itu membelalakkan matanya tak percaya. Ini pernikahannya?

.

.

.

Flasback on

"Karena itulah aku benci wanita. Mereka sangat lambat bahkan untuk mempersiapkan diri." Shikamaru menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Ia, Naruto dan Sasuke sedang berada didalam mobil Sasuke. Mereka memarkir mobil itu didepan rumah Sakura karena mereka sedang menungu wanita musim semi itu dan Ino keluar dari sana.

"Jangan sampai kau nanti menjadi gay ya, Shikamaru. Hoaam! Aku ngantuk sekali. Sudah lembur semalaman tapi tugasku belum selesai juga."

Mereka berlima akan menghadiri pernikahan guru SMA mereka, Hatake Kakashi. Meskipun sibuk dengan urusan perkuliahan masing-masing, mereka masih menyempatkan diri untuk menghadiri pernikahan wali kelas mereka itu bersama-sama. Ino dan Sakura keluar tak lama kemudian. Keduanya tampak cantik dengan dress berwarna putih yang seragam. Ino membuat dress itu agar serupa dengan Sakura.

"Kalian sudah lama menunggu?" tanya Sakura. Ia mendudukkan dirinya dibangku belakang dimana Naruto sudah tidur bersandar pada kaca mobil. Pria Uzumaki itu terbangun karena Sakura mencubit pipinya keras-keras. Ino menyusul masuk. Sasuke kemudian langsung menjalankan mobilnya.

"Tidak. Hanya sebentar saja kok." Shikamaru berujar sarkastik.

"Kami memang tidak suka lama-lama berdandan kok." Shikamaru memutar matanya mendengar ucapan Ino.

Kelimanya sampai disebuah hotel mewah. Ino memasuki hotel sambil menggandeng Sasuke. Ia belum terbiasa dengan highheels yang ia kenakan. Sakura sendiri menggandeng Shikamaru dan Naruto bersamaan. Dalam hal ini Sakura lebih parah dari Ino.

"Kenapa kalian memakainya kalau tidak nyaman sih?" Sasuke mendelik pada Ino yang hampir jatuh kalau saja Sasuke tidak menahan pinggangnya.

"Cantik itu sakit, Sasuke." Ino nyengir tak bersalah. Keduanya menyusul langkah Sakura dan yang lain.

Ino melongo melihat ball room hotel itu yang sudah dihias sedemikian rupa. Semuanya tampak mewah dengan ornamen yang didominasi oleh warna emas dan silver. Kelimanya duduk dalam satu meja dimana sebotol wine dan gelas tersedia diatasnya. Kakashi Hatake dan istrinya Hanare tampak mempesona diatas panggung yang juga dihias dengan sangat mewah.

"Mewah sekali," Sakura berkomentar, Ino mengangguk setuju.

"Aku dengar Kakashi-sensei itu sebenarnya anak seorang pengusaha ternama. Dia jadi guru karena bosan dengan kehidupan mewahnya." Naruto memulai sesi gosipnya.

"Aku sudah tahu dari dulu kalau dia pewaris Hatake Grup." Sasuke menanggapi.

"Kau sudah tahu?! Kenapa tidak memberitahu kami?" sorak Naruto. Sasuke hanya mengangkat bahunya tak mau tahu.

"Intinya, ini luar biasa sekali! Aku juga ingin pernikahanku kelak seperti ini." Sakura menyatukan kedua tangannya dan berdoa.

"Untuk calon suamiku dimasa depan, aku harap kau menjadikan pernikahan Kakashi-sensei ini sebagai referensi untuk pernikahan kita nanti. Amin."

"Kalau aku tidak mau yang seperti ini." Ino tiba-tiba berbicara.

"Kenapa tidak mau?" tanya Sakura.

"Aku mau pernikahan yang sakral. Aku hanya ingin pernikahanku digelar sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga dan teman terdekat saja. Karena pada dasarnya yang terpenting adalah cinta dari pasangan dan restu serta doa dari keluarga dan sahabat terdekat."

"Untuk hiasannya kau mau yang seperti apa? Kau tidak mau yang mewah seperti ini? Yang benar saja!" ujar Sakura lagi. Ino tampak berpikir, kemudian menjawab.

"Aku ingin sebuah garden party yang sederhana. Tidak perlu hiasan mewah, aku hanya mau pernikahanku nanti dihiasi bunga matahari. Walaupun nantinya aku jadi seorang desainer, aku tidak mau gaun yang mewah. Tidak perlu ada hiasan permata atau berlian swaroski. Aku hanya ingin memakai gaun polos seperti dewi Romawi saja. Jangan lupa mahkota bunganya." Ino tertawa diakhir jawabannya.

Sakura masih menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penuturan Ino. Tidak ada yang menyadari, bahwa seorang Uchiha Sasuke merekam keinginan Ino itu di memorinya dan menyimpannya dengan baik di otaknya.

Flashback off

.

.

.

Ino kembali melihat gaun yang ia kenakan, juga hiasan di sepanjang jalannya menuju kearah Sasuke. Pantas saja semua terasa familiar. Ini adalah keinginnya, ini adalah mimpi pernikahan yang ia harapkan bertahun lalu. Ino merasakan matanya memanas. Bagaimana mungkin Sasuke bisa mengingatnya. Ino sungguh merasa terharu dan gugup disaat yang bersamaan. Ia melihat deretan para tamu yang tersenyum padanya. Naruto menggendong Boruto dengan Hinata disampingnya. Shikamaru bersama Temari, dan juga— Ino berteriak dalam hati— ada Sakura bersama Gaara dan putrinya disana. Sahabat-sahabatnya itu tersenyum padanya. Pandangan Ino kini beralih pada Kiba yang juga tersenyum padanya. Pria berambut coklat itu duduk dibelakang barisan sahabat-sahabatnya.

Kini Ino sudah tiba didepan. Sasuke mendekat dan membungkuk hormat pada ayah dan kakaknya sebelum meraih tangan Ino dan membawanya mendekat pada mimbar. Dentingan piano itu terhenti. Air mata Ino sudah siap jatuh saat kini Sasuke benar-benar berada didepannya.

"Kita akan mulai acara pemberkatannya." Suara pendeta yang menggema, membuat semua tamu duduk kembali.

"Ya Tuhan, dihadapan hamba-Mu kini, terdapat anak-anak-Mu yang saling mengasihi dan ingin mempersatukan kasih dan cinta mereka dihadapan-Mu melalui perantaraan hamba-Mu dalam ikatan pernikahan. Kiranya Engkau mendengar janji yang akan mereka ucapkan dan memberkati mereka senantiasa."

"Uchiha Sasuke, apakah kau bersedia menerima Yamanaka Ino sebagai istrimu dan akan mengasihinya, dalam senang ataupun susah, dalam sehat ataupun sakit. Dan saling menghormati dan menjaganya sampai maut memisahkan?"

"Ya, saya bersedia."

"Yamanaka Ino, apakah kau bersedia menerima Uchiha Sasuke sebagai suamimu dan akan mengasihinya, dalam senang ataupun susah, dalam sehat ataupun sakit. Dan saling menghormati dan menjaganya sampai maut memisahkan?"

"Ya, saya bersedia."

"Demikianlah pada hari ini, pernikahan kalian aku sah kan dalam nama Tuhan. Mempelai pria, kau dipersilahkan mencium istrimu." Sasuke maju satu langkah, ia mengangkat tangannya untuk meraih dagu Ino. Matanya menatap lembut pada Ino.

"Kau sangat cantik," bisik pria itu.

"Bagaimana mungkin kau... kau bisa mengingatnya?" tanya Ino. Setetes air mata jatuh ke pipinya. Sasuke menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.

"Aku ingat dan akan selalu ingat semua tentangmu karena... aku mencintaimu, Yamanaka Ino. Teruslah jadi sahabat yang selalu ada disampingku, karena aku juga akan terus menjadi sahabat yang selalu mencintai dan menjagamu." Sasuke kemudian meraih bibir Ino dengan bibirnya. Hanyut dalam ciuman penuh cinta dihadapan keluarga dan sahabat-sahabatnya yang kini bertepuk tangan.

"Aku tidak tahu kalau melihat mereka berciuman rasanya segeli ini. Aku tidak mau lihat." Shikamaru menyandarkan kepalanya kebahu sang istri.

"Kau benar. Meskipun mereka sudah membuat bayi bersama dan kita sudah mengerti dan menerimanya, tetap saja rasanya aneh melihat Sasuke mencium Ino. Aku juga tidak mau lihat." Naruto mengangkat tangan kecil Boruto untuk menutup matanya.

"Mereka sangat manis!" Shikamaru dan Naruto hanya bisa bergidik mendengar penuturan Sakura yang tersenyum melihat Ino dan Sasuke.

.

.

.

FIN

.

.

.

A/N :

BERAKHIR DENGAN GAJENYA! Hehehehe. Kita telah sampai di akhir cerita ini teman-teman. Semoga tidak mengecewakan ya. Terimakasih banyak-banyak buat teman-teman sekalian yang selalu setia menunggu, membaca dan meninggalkan jejas ripiu dicerita aku. Kalian yang terbaik.

Untuk bucin Ino atau Sasukenya, minggu depan aja ya gaess. Sepertinya bakal ada lemon. Untuk hard atau softnya aku masih belum tahu. Ragu soalnya ini bulan Ramadhan. Hehe. I AM SO SORRY. Sekali lagi semoga chapter ini tidak mengecewakan ya. See ya!

Salam

Yana Kim ^_^