FILIA
Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.
Story By : Yana Kim
Lenght : Chaptered
Rate : M
WARNING!
.
Uchiha Sasuke x Yamanaka Ino
SUM:
Persahabatan lima anak manusia dengan motto 'tidak boleh ada cinta dalam persahabatan'. Naruto, Sakura dan Shikamaru telah menikah dengan pasangan masing-masing. Tinggallah Sasuke, si pengusaha kaya tapi playboy dan Ino si desainer cantik yang mudah jatuh cinta, mudah juga patah hati.
.
.
.
Ekstra Chapter
EC
.
.
.
"Kalau aku tahu bahwa wanita hamil lebih merepotkan lagi, aku tidak akan memaksa Temari untuk hamil. Aku lelah sekali." Shikamaru membaringkan kepalanya di meja Apollo. Ia bersama Sasuke dan Naruto sedang berkumpul untuk membahas masalah Shikamaru. Temari baru saja dikonfirmasi hamil lima minggu oleh dokter tiga hari yang lalu. Shikamaru sangat senang dengan hal itu, tapi ternyata wanita hamil yang sedang mengidam sangat merepotkan.
Naruto hanya tertawa mendengar keluhan Shikamaru. Bisa dibilang diantara mereka bertiga, Narutolah yang lebih pengalaman karena sudah menghadapi dua periode kehamilan sang istri. Kehamilan Hinata kali ini sudah memasuki bulan ke delapan.
"Bukannya aku sudah pernah cerita pada kalian ya? Mengidam adalah hal palng menyusahkan dalam kehamilan. Setidaknya berdoalah agar masa mengidam Temari hanya di trisemester pertama saja. Kau tahu, Hinata masih mengidam bahkan diusia sembilan bulan kandungannya." Naruto kembali mencurahkan isi hatinya.
"Kemarin dia minta ditemani beli baju anak perempuan. Aku mengerti karena memang calon bayi kami adalah perempuan, tapi yang bikin aku geleng-geleng kepala adalah dia memakaikan semua baju itu pada Boruto dan memotretnya ratusan kali. Aku kasihan pada anakku karena sudah punya foto aib bahkan saat masih kecil." Naruto mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan hasil karya Hinata pada teman-temannya itu. Sasuke tidak bisa menahan senyumannya begitu juga dengan Shikamaru. Namun pria Nara itu kembali mengerang begitu mengingat apa yang sudah Temari lakukan padanya kemarin. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan isi chatnya dengan sang istri.
"Kemarin saat aku sedang meeting dengan klien, dia memintaku membelikan takoyaki di stasiun dekat kampusnya dulu. Kalian lihat sendiri dia mengirimkan gambar takoyaki kan?" Shikamaru meletakkan ponselnya kemudian melanjutkan.
"Stasiun itu letaknya sangat jauh dari rumah kami juga dari tempat pertemuanku. Namun karena ini untuknya, aku tetap pergi membelinya. Sampai dirumah, dia bilang kalau yang dia minta adalah dango dari tempat yang sama, bukan takoyaki."
"Kau tidak menunjukkan chat ini padanya? Dia mengirimkan foto kan?" tanya Sasuke ditengah dengusannya yang sedang menahan tawa.
"Aku melakukannya. Tapi dia malah menangis kencang dan bilang 'Jadi sekarang kau menyalahkanku? Aku yang salah?'. Walaupun pada dasarnya dia memang salah, tapi entah kenapa aku merasa kalau aku sudah menyakitinya." Shikamaru menghela nafas berat. Naruto sudah tertawa terbahak-bahak sementara Sasuke hanya terkekeh.
"Jadi kau pergi lagi membeli dango itu?" tanya Naruto.
"Tentu saja aku pergi."
"Sabarlah, Shikamaru. Memang begitulah kalau kau menghadapi ibu hamil." Naruto menepuk pundak Shikamaru.
"Bagaimana kau menghadapi masa mengidam Hinata kalau dia masih mengidam bahkan diakhir masa kehamilannya? Kau tidak pernah tampak lelah atau murung." Shikamaru bertanya.
"Aku menikmatinya. Aku menikmati saat-saat aku dibuat repot oleh Hinata saat dia hamil. Aku juga menanamkan dalam diriku bahwa dibandingkan diriku yang repot menghadapinya saat mengidam, dia jauh lebih repot. Bayangkan saja dia harus membawa bayi dalam perutnya, apalagi mulai enam bulan beratnya sudah sangat terasa. Pinggangnya sakit, kakinya bengkak. Belum lagi proses melahirkannya nanti. Melihatnya kesakitan membuatku sadar bahwa semua yang kulakukan malah tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang dia rasakan." Naruto menjelaskan dengan panjang lebar, kemudian mengakhirnya dengan menyeruput kopi didepannya. Shikamaru dan Sasuke memandang tak percaya pada apa yang Naruto katakan. Bukan karena kata-katanya salah, tapi karena kata-kata itu keluar dari mulut seorang Uzumaki Naruto. Si bodoh, konyol dan ceroboh.
"Kalian kenapa?" tanya Naruto melihat wajah melongo kedua sahabatnya.
"Siapa kau?" ujar Sasuke.
"Keluar dari tubuh temanku sekarang juga!" Shikamaru ikut berseru.
Naruto menggulung tisu dan melemparkannya pada kedua sahabatnya itu.
"Brengsek, kalian kira aku kerasukan?"
"Bagaimana bisa mulut sampahmu mengatakan hal yang bijak seperti itu?" tanya Sasuke sarkas. Shikamaru mengangguk.
"Diamlah. Kalian juga akan jadi semakin dewasa saat sudah menjadi orang tua nanti. Oh iya Sasuke, aku dengar dari Hinata, Ino sama sekali tidak mengidam."
"Tidak mungkin! Benar begitu, Sasuke?" tanya Shikamaru tak percaya.
"Begitulah," sahut Sasuke. Kehamilan Ino sudah memasuki bulan ke empat dan wanita itu memang tidak pernah meminta sesuatu seperti makanan atau apapun yang terdengar aneh seperti Hinata dan Temari.
"Hinata bilang dia iri karena Ino sama sekali tidak mengalami morning sickness sama sekali." Naruto menambahkan.
"Benarkah?! Ada yang seperti itu? Temari setiap pagi harus mengalaminya dan dia memakiku karena tidak bisa melakukan apa-apa."
"Memangnya kau sama sekali tidak melakukan apa-apa?" tanya Naruto.
"Kau tahu aku paling susah bangun kan? Jadi—"
"Baka! Kau harus merubah kebiasaanmu itu. Ibu hamil itu harus selalu diberi perhatian." Naruto memukul lengan Shikamaru.
"Aku juga sedang berusaha, baka!" Shikamaru berdecak.
"Tapi apa benar Ino sama sekali tidak mengalami morning sickness dan mengidam?" tanya Shikamaru pada Sasuke. Pria Uchiha itu mengangguk.
"Karena itulah dia tidak menyadari kehamilannya bahkan sampai di minggu ke delapan. Kalian ingat kita menyadarinya karena kondisi Ino dan kandungannya yang melemah waktu itu kan?"
"Benar juga," Naruto tampak berpikir.
"Aku iri padamu, Sasuke. Istrimu hamil tapi tidak merepotkan." Shikamaru menghela nafas.
"Hal yang seperti itu mengkhawatirkan juga. Kalau saja kita tidak menyadarinya dengan cepat, bisa saja Ino atau ibu hamil lainnya yang seperti Ino akan melakukan aktifitas ataupun memakan sesuatu yang bisa membahayakannya dan calon bayi. Kalian mengerti maksudku kan? Lebih bagus sadar diawal walaupun harus mengalami morning sickness yang menyakitkan." Sasuke menerangkan.
"Benar juga. Kalian ingat malam sebelum Ino pingsan kan? Kita minum wine dan bir di apartmen barumu Sasuke. Kalau terus seperti itu bisa bahaya." Naruto menambahkan. Sasuke dan Shikamaru mengangguk.
"Tapi apa Ino sama sekali tidak mengidam? Maksudku, dia sama sekali tidak punya keinginan yang aneh-aneh begitu?" tanya Naruto lagi yang diikuti oleh anggukan Shikamaru.
"Aku tidak percaya ada yang seperti itu," ujar Shikamaru.
"Dia sering mengalami kram perut memang. Aku sangat khawatir tentang itu, tapi dia sendiri malah tenang-tenang saja. Dia bilang sudah terbiasa dengan itu dan kalau aku ada disana, biasanya aku hanya mengelus perutnya saja. Saat kami periksa ke dokter, kenyatannya kandungannya sehat-sehat saja. Mungkin yang lebih mirip dengan mengidam adalah dia selalu ingin aku berada disampingnya," jelas Sasuke.
"Wah, kau benar-benar beruntung, Sasuke." Shikamaru berujar lagi.
"Hinata juga begitu di kehamilannya yang kedua ini. Aku jadi sering terlambat ke kantor karena Hinata selalu memintaku menemaninya," ujar Naruto.
"Ada satu lagi. Aku rasa ini masuk kategori mengidam juga," ucapan Sasuke mengundang perhatian Naruto dan Shikamaru.
"Apa itu?" tanya Shikamaru.
"Sayangnya aku tidak bisa memberitahu kalian." Seringai tipis muncul diwajah Sasuke.
.
.
.
Ino mengganti channel yang sebelumnya menayangkan berita politik menjadi acara talkshow yang dihadiri oleh penyanyi solo pria yang sedang naik daun. Odette sedang berbaring nyaman disebelah kakinya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Sasuke belum juga pulang. Pria itu memang pamit untuk bertemu dengan Naruto dan Shikamaru. Namun sudah empat jam berlalu dan suaminya itu belum juga pulang. Ia yakin para para suami tidak bertanggungjawab itu sedang minum-minum dibar. Ya, tentu saja tidak bertanggungjawab. Bagaimana mungkin mereka meninggalkan para istri mereka yang sedang hamil sampai malam begini. Kekesalan mendadak berkeliling dikepala Ino. Ia harus mengalihkannya dengan menonton televisi, kalau tidak bisa-bisa perutnya kram lagi. Ino masih tidak mengerti kenapa, tapi perutnya sering sekali kram saat ia sedang kesal ataupun marah pada Sasuke. Bahkan ketika ia memaki Sasuke satu kata saja, perutnya mendadak kram.
Para MC menanyakan tentang apa yang berubah dari kehidupan pria itu sebelum dan sesudah terkenal. Ino mengelus perutnya dari balik gaun tidur one piecenya. Kandungannya yang sudah memasuki bulan keempat itu membuat perutnya sudah mulai terlihat membesar walaupun masih tidak terlalu kentara kalau Ino memakai pakaian yang longgar.
"Apa kau nantinya akan menjadi penyanyi seperti paman itu, nak?" tanya Ino. Ia kemudian tersenyum sendiri. Matanya kembali melihat pada sang penyanyi yang menjawab pertanyaan si MC. Apa yang berubah dari kehidupannya sebelum dan sesudah terkenal. Ino sendiri sontak bertanya pada dirinya sendiri, apa yang berubah dari kehidupannya sebelum dan sesudah menikah dengan Sasuke?
Setelah pernikahan menggemparkannya kurang lebih dua bulan lalu, Ino pindah ke apartmen Sasuke. Menggemparkan? Ya, mungkin bagi sebagian orang pernikahan Ino itu sederhana atau bahkan biasa saja, tapi bagi Ino itu adalah salah satu momen paling luar biasa dalam hidupnya. Bagaimana tidak, Sasuke mewujudkan semua angan tentang pernikahan impiannya tanpa kurang suatu apapun.
Ino mendaftarkan apartmennya di perusahaan properti untuk disewakan. Ia dan Odette mencoba membiasakan diri dengan apartmen baru Sasuke yang lebih besar dan luas dari miliknya. Selain tempat tinggal dan status yang berubah, kehidupan sehari-hari Ino juga berubah. Ino menjalin kerja sama dengan seorang desainer muda berbakat untuk mengelola butiknya sehingga kini ia tidak harus fokus pada butiknya itu. Ia seorang istri sekarang, ia berusaha untuk mengerjakan pekerjaan layaknya seorang istri. Setelah apa yang Sasuke lakukan padanya, segala perhatian dan kasih sayang pria itu, Ino tidak mau mengecewakan pria yang sudah menjadi suaminya itu. Ino mempersiapkan sarapan dan pakaian pria itu sebelum berangkat kerja. Ia juga membersihkan apartmen Sasuke dan melakukan perkerjaan rumah tangga lainnya. Ia dan Sasuke sempat cekcok karena Sasuke tidak mau Ino terlalu lelah. Bagaimana pun Ino sedang hamil. Akhirnya mereka mengambil keputusan bahwa Ino boleh melakukan apapun selain mengurus pakaian kotor karena satu kali seminggu, akan ada pembantu yang datang dan membereskannya.
Ino bisa melihat bagaimana Sasuke begitu mencintainya. Ia sendiri sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya pada pria itu sejak hari pernikahan mereka. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung didunia karena memiliki Sasuke. Namun meskipun begitu, Sasuke tetaplah sabahatnya. Pria itu kerap kali membuat Ino kesal dengan menggoda Ino seputar kelemahan wanita itu. Ino memang seorang desainer bertangan dingin yang sudah terkenal di kalangan atas, namun ia tetaplah Yamanaka Ino yang kurang dibidang pelajaran, terlebih ilmu pasti. Mungkin karena itulah ia pernah menyukai Shikamaru karena merasa pria itu sangat pintar, tidak seperti dirinya.
Anehnya, mungkin karena pengaruh kehamilannya juga, Ino jadi senang bermain game asah otak juga mengisi teka teki silang. Game yang selalu dihindari wanita itu sejak dulu. Pada dasarnya Ino tidak terlalu suka bermain game. Sekarang ia sering menemani Sasuke diruang kerja pria. Sasuke dengan berkas-berkasnya dan Ino dengan gamenya di laptop pria itu.
"Sasuke, kenapa jawabanku salah ya? Padahal aku sudah yakin kalau jawabanku benar." Ino berujar suatu ketika. Sasuke sedang sibuk memeriksa laporan sementara dirinya menguasai laptop sang suami.
"Memangnya apa pertanyaannya?" tanya Sasuke. Matanya masih terfokus pada laporan didepannya. Meja kerja Sasuke memang lebih tampak seperti meja belajar. Ukurannya luas sehingga mereka kini duduk berhadapan.
"Saat Keiko berumur empat tahun, adiknya berumur setengah dari umur Keiko. Saat Keiko berumur seratus tahun, berapakah umur adik Keiko?" Ino mengulang pertanyaannya.
"Jadi apa jawabanmu?"
"Lima puluh." Ino menjawab. Sasuke meletakkan ballpointnya dan melihat pada sang istri yang duduk didepannya. Seringai tipis terpampang diwajah tampan pria itu.
"Aku harap anak kita nanti tidak menurunkan otakmu. Semoga saja kau yang tiba-tiba ingin bermain game asah otak ini adalah pertanda bahwa anak kita nanti akan menurunkan otakku." Sasuke mengacak rambut Ino yang malam itu tergerai.
"Sombong sekali kau, Sasuke. Memangnya jawabanku salah? Tidak mungkin aku kalah begitu saja dilevel satu ini."
"Pft! Kau masih dilevel satu? Sejak kemarin?" Sasuke menahan tawanya.
"Jadi jawabannya berapa?" Ino mulai tidak sabar.
"Sembilan puluh delapan." Sasuke memukul kepala Ino pelan dengan ballpointnya.
"Memang ada dipilihan sih, tapi tidak mungkin! Dari mana datangnya sembilan puluh delapan? Jelas-jelas umur adiknya setengah umur Keiko!" Sasuke tersenyum mendengar gerutuan Ino yang tidak terima jawabannya salah.
"Coba simak pertanyaannya. Saat Keiko berumur empat tahun, adiknya berumur setengah dari umur Keiko. Berapa umur adik Keiko saat itu?" tanya Sasuke.
"Dua tahun, tentu saja." Ino menjawab yakin.
"Berapa perbedaan umur mereka?"
"Dua tahun," jawabnya kemudian.
"Nah, berarti saat umur Keiko seratus tahun, umur adiknya juga berbeda dua tahun darinya. Jadi sembilan puluh delapan."
"Aaa…" Ino mulai mengerti.
"Aaa…" Sasuke mengikuti Ino dengan nada mengejek yang kentara. Ino merengut kesal.
"Kau mengejekku?" tanya Ino dengan mata menyipit.
"Tidak. Tentu saja tidak." Sasuke memang bilang begitu, tapi sampai seminggu kedepan. Pertanyaan dan jawaban Ino itu selalu menjadi bahan ledekan oleh Sasuke untuk membuat Ino kesal.
Tapi walaupun begitu, Sasuke tidak pernah absen memberikan perhatian-perhatian yang bisa membuat Ino merasa seperti orang yang sedang kasmaran. Sasuke seolah membuatnya jatuh cinta pada pria itu setiap hari. Hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan pria itu saat mereka masih bersahabat. Pria itu selalu untuk menciumnya setiap hari sebelum berangkat kerja selalu membuat mood Ino bagus satu hari penuh. Belum lagi kebiasaan Sasuke yang selalu memeluknya saat tidur membuat Ino benar-benar merasa diperhatikan dan disayangi.
.
.
.
Ino mengerjapkan kedua matanya ketika cahaya matahari dari jendela raksasa kamar mereka mengenai matanya. Ia melirik pada tangan Sasuke yang bertengger manis diperutnya karen pria itu tidur sambil memeluknya dari belakang. Ino tidak tahu jam berapa Sasuke pulang semalam. Ino sudah mengantuk bahkan sebelum acara talkshow yang semalam ia tonton itu selesai. Yang pasti, kekesalan kian bertambah mengingat hal itu.
Ino melepaskan dirinya dari pelukan Sasuke dan turun dari ranjang. Setelah selesai mencuci muka, Ino berjalan menuju dapur. Ia sedang kesal, jadi ia malas memasak. Biarkan saja Sasuke memasak sarapannya sendiri. Toh hari ini adalah hari Minggu, jadi Sasuke tidak perlu berangkat ke kantor. Ino akan membuat sandwich untuk dirinya sendiri dan juga bayi dalam perutnya tentu saja. Selesai memakan sarapannya seorang diri dan membereskan perlengkapan makannya, Ino beralih keruang tengah dimana kandang Odette berada. Ino menuangkan makanan pada wadah makan anjingnya serta mengganti air pada wadah minumnya.
Setelah itu, Ino lanjut menonton televisi. Dipagi hari biasanya acara gosip selebriti cukup menarik perhatian Ino. Tanda sadar Ino larut dalam acara menontonnya. Berita sedang menunjukkan berita perselingkuhan seorang artis papan atas ketika Sasuke muncul masih dengan piyama serta wajah mengantuknya. Pria itu berjalan kearah dapur dan sepertinya takjub dengan meja makan yang kosong. Biasanya semalas-malasnya Ino, ia akan menyajikan secangkir kopi dan sepiring toast untuk Sasuke. Ino adalah penganut 'sarapan yang baik adalah awal untuk hari yang baik'.
Sasuke berjalan kearah Ino yang masih asik dengan acara gosipnya. Tanpa aba-aba, Sasuke langsung mendudukkan dirinya disebelah Ino lalu melingkarkan kedua lengannya dipinggang Ino. Pria itu juga menyandarkan dagunya kepundak Ino.
"Tidak ada sarapan untukku?"
"Hn." Ino mencoba menahan dirinya. Ia tidak boleh tergoda dengan wajah bangun tidur Sasuke yang memelas itu. Belum lagi tangan pria itu yang kini berada disekitar pinggangnya.
"Itu jargonku."
"Kau tidak pernah punya hak cipta atasnya. Lepaskan aku."
"Moodmu memang sedang tidak bagus atau kau marah padaku?"
"Lebih tepatnya aku marah padamu dan itu merusak moodku."
"Kenapa kau marah?" tanya pria itu. Tangannya yang semula memeluk Ino kini mengelus lembut perut Ino yang mulai menonjol itu.
"Ibumu kenapa, nak?" tanya Sasuke. Siapapun tahu bahwa tidak akan ada jawaban yang keluar dari calon bayi mereka.
"Semalam kau pulang jam berapa?" tanya Ino ketus.
"Aku tidak yakin. Mungkin sekitar jam dua belas atau menuju jam satu."
"Seharusnya kau tahu kalau seorang istri menanyakan hal itu berarti dia butuh lebih dari sekedar jam berapa tapi juga alasannya. Apa kau lupa kalau istrimu yang sedang hamil ini menunggu dirumah? Dasar para suami tidak bertanggung jawab. Aku yakin Hinata dan Temari juga sama marahnya dengaku sekarang!" Ino berujar kesal. Ia lantas bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar.
Ino memutuskan untuk mandi. Ia sudah berjanji dengan Izumi untuk pergi ke kediaman Uchiha dan menemui Mikoto. Ketiga wanita Uchiha itu berencana untuk membuat cookies bersama dan malamnya dilanjut dengan makan malam bersama dengan Itachi, Sasuke juga Fugaku.
Air dingin yang mengalir dari shower membasahi tubuh telanjang Ino. Rambut pirangnya digelung tinggi karena ia tidak berencana untuk keramas pagi itu. Tangannya naik untuk mengambil sponge mandi yang terletak diatas rak bersama dengan botol dan tube perlengkapan mandinya dan Sasuke. Namun ketika tangannya baru saja menyentuh benda lunak itu, sebuah tangan besar terlebih dahulu meraihnya. Bersamaan dengan tangan lainnya yang kini menyentuh pundaknya. Siapa lagi kalau bukan Sasuke. Sejak kapan pria itu memasuki bilik shower? Pria itu membasahi sponge dengan air lalu menuangkan sabun cair kesukaan Ino sebelum kemudian menciptakan busa yang banyak disana.
Ino menahan nafasnya ketika sponge ditangan Sasuke mulai bergerilya disepanjang lengannya, naik sampai ke pundaknya, lalu turun ke punggungnya. Aroma mawar yang lembut mulai merebak ke indra penciuman Ino.
"Aku bisa sendiri." ujar Ino dengan suara paraunya.
"Hn." Sasuke hanya menyahut seadanya. Terlalu sibuk dengan aktivitasnya. Ino lalu menutup mulutnya rapat-rapat ketika Sasuke sponge yang ada di tangan Sasuke kini berada didadanya. Ia sungguh tidak ingin desahannya sampai keluar dan membuat Sasuke merasa menang. Dalam kasus ini, ia adalah pihak yang marah pada Sasuke.
Ino merasakan tubuh Sasuke kini menempel pada punggungnya karena Sasuke merapatkan tubuhnya pada Ino. Kulit bertemu kulit karena Ino bisa merasakan bahwa Sasuke tidak mengenakan apapun sepertinya. Ya Tuhan, rasanya Ino ingin memaki hormon estrogen berlebih yang tercipta akibat kehamilan dan menambah tingkat kesensitifannya.
"Ahh!" Ino tidak bisa menahan desahannya ketika Sasuke menjatuhkan sponge ditangannya hingga dada kanan Ino kini bersentuhan langsung dengan tangan kanan Sasuke yang licin akibat sabun. Pria itu mengelusnya dengan lembut menciptakan sensasi aneh pada tubuh Ino.
"Sasuk— ah!" Desahan Ino kembali keluar saat tangan kiri Sasuke yang sebelumnya ada dipundaknya kini turun dan meraih dada kirinya dengan remasan lembut seperti yang Sasuke lakukan pada dada kanannya.
"Perasaanku saja atau memang proporsi dadamu semakin besar?" bisik pria itu tepat ditelinga Ino diiringi dengan sentuhan lidah Sasuke disana. Desahan Ino kini benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Sial!
"Apa yang... engh... kau inginkan?" tanya Ino dengan nafas yang sudah tidak teratur lagi.
"Maafkan aku." ujar Sasuke. Remasannya didada Ino masih berlanjut dan kini jari Sasuke dengan gencar bermain pada ujung dada Ino yang sensitif.
"Oh! Ahh... Sasukehh!"
"Aku memang salah. Aku tidak memberimu kabar. Kau pasti menungguku sampai larut malam."
Tubuh Ino kini sudah bersih dari sabun karen air shower yang terus mengalir membasahi tubuhnya dan Sasuke. Namun sayangnya hal itu malah meningkatkan kesensitifan tubuh Ino yang kini sudah dirasa lemas akibat rangsangan yang Sasuke berikan pada dadanya. Ino tidak menjawab pertanyaannya, kini tangan kanan Sasuke turun menuju perut Ino. Ia mengelus lembut perut Ino sebelum turun ke bawah dan bermain disana.
"Enghh! Sasukehh!" Ino merasakan kakinya lemas. Tubuhnya meluruh yang langsung diraih oleh Sasuke dan disandarkan pada tubuh pria itu.
"Kau memaafkanku kan?"
"K-kalau aku tidak memaafkanmu, apa.. apa yang akan kau lakukan?" tanya Ino berusaha sekuat tenaga.
"Mungkin aku akan menghentikan ini." Jari-jari Sasuke dibawah sana kian gencar. Membuat desahan Ino kini tidak karuan.
"Tapi aku yakin kau tidak ingin aku menghentikan ini. Bukannya kau yang bilang pada Sizune-sensei kalau—"
"Jangan diteruskan!" Meskipun membelakangi Sasuke, Ino yakin bahwa pria itu sedang tersenyum sekarang.
"Dan kalau kau memaafkanku, aku berjanji akan memuaskanmu. Tapi setelah itu buatkan sarapan untukku. Bagaimana? Penawaran yang menarik kan?"
Ino tahu bahwa ini bukanlah situasi yang bagus untuknya. 'Hormon sialan!' makinya dalam hati sebelum kemudian—
"Deal!"
Yang Ino rasakan selanjutnya adalah tubuhnya yang terangkat dan terhempas dengan lembut diatas ranjang serta ciuman dalam dari seorang Uchiha Sasuke yang kini menindihnya. Ini semua gara-gara pemeriksaan rutin mereka bulan lalu.
.
.
.
Flashback on,
Sepertinya memang sudah menjadi takdirnya untuk menjadi pihak yang dibully oleh Sasuke, sementara takdir pria itu adalah mengetahui kelemahan Ino dan mengejeknya. Kira-kira sebulan yang lalu, Ino dan Sasuke melakukan pemeriksaan kandungan rutin. Setelah serangkaian pemeriksaan dilakukan, keduanya lega karena kondisi calon bayi mereka semakin sehat. Ino kini sudah bisa lepas dari obat yang diresepkan, namun harus tetap fokus pada vitamin dan nutrisinya. Namun sebenarnya, ada sesuatu yang ingin Ino tanyakan pada dokter Sizune. Sesuatu penting yang Ino harap tidak pernah Sasuke ketahui. Ino merasa keberuntungan menghampirinya ketika ponsel Sasuke berdering dan pria itu memohon diri untuk menerima panggilan itu diluar ruangan. Ino pun segera menanyakan hal yang sangat ingin ditanyakannya itu.
"Sepertinya ada yang salah denganku, sensei."
"Ada yang salah? Kau bisa mengatakannya padaku, Ino."
"Err... itu... aku... seminggu belakangan ini aku.. umm..." Ino tampak bingung menjelaskannya.
"Jangan sungkan, katakan saja."
"Jadi aku merasa kalau beberapa hari ini hormonku, err maksudku aku jadi—"
"Aa. Aku mengerti." Sizune mengangguk seraya tersenyum lembut. "Pada awal trisemester kedua sepertimu, itu adalah hal yang wajar, Ino. Karena hormon estrogen yang meningkat saat kehamilan, membuat ibu hamil lebih sensitif pada sentuhan serta gairah seksual yang juga meningkat. Berhubungan seks saat hamil juga tidak dilarang."
"Tidak dilarang?" tanya Ino. Ia yakin wajahnya sudah memerah sempurna mendengar penjelasan dari dokter ramah itu dan sekarang ia malah bertanya dengan nada kelewat antusias seolah ia memang sangat menginginkan hal itu.
"Untuk kandungan yang sehat hal itu tidak dilarang. Yang penting dilakukan dengan hati-hati dan tidak boleh terlalu sering. Kondisi bayimu sudah stabil. Kita sudah lihat hasil pemeriksaan hari ini kan? Malahan kalau kau menahannya akan berpengaruh buruk pada kondisi psikismu. Aku sarankan jangan lebih dari tiga kali seminggu. Kau dengar kan, Sasuke? Lakukan dengan hati-hati." Ino membatu. Lantas menoleh kebelakang dimana Sasuke berada. Wajahnya yang tadinya memerah kini kian panas saat ternyata Sasuke juga mendengar apa yang ia bicaraka dengan dokter Sizune. Pria itu juga berdiri kaku dengan semburat merah diwajah tampannya.
Ino sudah bilang sebelumnya kan? Kalau takdir Sasuke adalah mengetahui kelemahan Ino dan mengejeknya. Sepanjang perjalanan menuju apartmen mereka dari rumah sakit, Sasuke tidak berhenti menggodanya dengan membawa-bawa pertanyaannya pada dokter Sizune tadi.
"Jadi maksudmu akhir-akhir ini kau jadi... bergairah?" tanya Sasuke. Tanpa melihatpun Ino yakin bahwa seringai jahil tengah bertengger apik dibibir pria itu. Ino mencoba diam, ia yakin kalau ia menjawab Sasuke yang ada malah pria itu semakin menjadi.
"Kau tahu sejak menikah aku menahan diriku untuk tidak menyentuhmu karena kondisi kehamilanmu. Aku baru tahu kalau berhubungan seks saat hamil ternyata diperbolehkan. Jadi—"
"Apa kau harus bertanya sefrontal itu?" Ino mencoba menahan kekesalannya. Ia sungguh malu mendengar pertanyaan Sasuke itu.
"Aku hanya memperjelas apa yang Sizune-sensei katakan," ujar pria itu lagi.
"Kau tidak perlu memperjelasnya!"
"Aku hanya tidak mau kau menderita karena menahan—"
"Aku tidak menderita hanya karena menahan hal itu!" Ino merasa panas diwajahnya kian menjadi.
"Tapi—"
"Sasuke stop pembicaraan mesum ini kalau kau tidak mau melihat aku lompat sekarang!"
"Kau tidak bisa lompat, aku mengunci pintunya."
"Kalau begitu turunkan aku." Ino berujar lelah.
"Jadi masalah gairah seksualmu itu, kau bisa langsung mengata—"
"Sasuke, stop!"
Ino menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Sepertinya hari-hari kedepannya akan semakin menguras emosi. Akhirnya ia tahu kadar kemesuman Sasuke yang sebenarnya.
Flashback off.
.
.
.
"Izumi-nee? Sepertinya Ino tidak bisa datang hari ini ketempat Kaa-san. Dia sedang tidak enak badan. Ya? Oh untuk makan malam kami usahakan datang. Ino hanya perlu istirahat. Baiklah, terimakasih nee-san."
Sasuke meletakkan ponsel Ino kembali ke nakas kemudian kembali berbaring. Izumi baru saja menelepon menanyakan apakah ia perlu menjemput Ino atau tidak. Sasuke melirik pada Ino yang kini berbaring menghadapnya dengan selimut yang menutup tubuh telanjang wanita itu.
"Izumi-nee?" tanya Ino.
"Hn. Kau baik-baik saja kan? Apa aku terlalu kasar?" tanya Sasuke khawatir. Tangannya mengelus pipi sang istri.
Ino menggeleng dan tersenyum.
"Aku baik-baik saja. Tapi sepertinya aku tidak bisa membuatkanmu sarapan seperti yang kau katakan tadi. Sepertinya berdiri saja sulit."
Sasuke tersenyum lembut.
"Aku sudah memesan makanan. Lagi pula dibandingkan sarapan, ini sudah masuk waktu makan siang."
"Benarkah? Sebenarnya sudah berapa lama kita—" Ino menghentikan ucapannya. Wajahnya memerah karena malu. Ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Sepertinya gairahmu benar-benar luar biasa. Dua minggu lalu kita hanya butuh satu jam. Kali ini... mungkin tiga jam?"
"Hentikan! Tiga jam apanya? Hanya satu jam lebih kau bilang tiga jam?" Ino menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku yang lebih pintar berhitung darimu, istriku. Kau beruntung aku pecinta tomat. Laki-laki lain mungkin tidak bisa mengimbangimu."
"Apa hubungannya? Dan kenapa kau bicara seolah aku seorang hypersex? Kalau bukan karena hamil anakmu hormonku pastinya normal-normal saja." Ino berujar kesal.
"Tentu saja ada hubungannya. Kau lupa kalau tomat disebut juga sebagai apel cinta? Aku tidak bilang kau seorang hypersex, sayang. Aku malah suka kau yang seperti ini." Sasuke menyeringai sebelum menambahkan, "Kau terlihat sangat seksi saat berada diatasku."
"Sasuke, hentikan!" Sasuke terkekeh. Suara bel yang berbunyi pertanda makanan pesanan pria itu sudah tiba. Sasuke turun dari kasur, lalu masuk ke kamar mandi dan sedetik kemudian keluar dari sana dengan mengenekanan wardrobe untuk menutupi tubuh polosnya. Tak lupa pria itu mengambil dompetnya dinakas sebelum benar-benar keluar dari kamar. Ino menghelas nafas mencoba mengurangi panas diwajahnya. Ia benar-benar malu sekarang.
Ponsel dinakas kembali terdengar. Kali ini milik Sasuke. Dengan malas, Ino mengambil benda itu dan menjawab panggilan yang ternyata dari Naruto.
"Ya, Naruto?"
"Ino? Kau sedang dengan Sasu— oh maaf, terkadang lupa kalau kalian memang sudah suami istri." Naruto terkekeh.
"Baka! Ada apa?"
"Sasuke pulang dengan selamat kan semalam?" tanya Naruto.
"Ha? Apa maksudmu?"
"Mobilnya mogok semalam. Aku sudah sampai dirumah saat dia menelponku. Karena tahu aku sudah sampai dirumah, dia tidak mau aku datang membantunya. Sepertinya dia juga tidak bisa meminta bantuan Shikamaru karena si Nara itu mabuk semalam. Dia stres karena kehamilan Temari. Aku hanya memastikan dia pulang dengan selamat."
"O-oh. Tentu saja dia pulang dengan selamat semalam."
"Baguslah kalau begitu. Aku tutup ya."
"Naruto, tunggu!"
"Ya?"
"Semalam kalian bubar jam berapa?" tanya Ino.
"Sekitar jam sembilan kami sudah berpisah. Aku mengantar Shikamaru pulang dan dia pulang sendiri."
"O-oh, baiklah. Salam pada Hinata."
"Oh tentu saja."
Naruto benar-benar menutup panggilannya. Ino terdiam. Jadi Sasuke bukannya pulang tengah malam dengan sengaja, tapi karena mobilnya mogok? Seketika Ino merasa bersalah karena marah pada Sasuke sementara pria itu tidak sepenuhnya salah. Sasuke malah jadi pihak yang minta maaf sementara pria itu yang mengalami kesialan karena harus mencari bantuan ditengah malam yang dingin.
"Aku sudah memindahkan makanannya. Aku mandi dulu lalu kita makan bersama ya. Atau kau mau mandi bersa—hei kau kenapa?" Sasuke berjalan mendekat ketika melihat Ino yang duduk menatapnya dengan wajah menahan tangis. Sasuke yang selalu peka dan penuh perhatian.
"Kau baik-baik saja? Ada yang sakit?" tanya pria itu.
Ino tidak menjawab. Namun wajah cemberut serta mata yang berkaca-kaca itu membuat Ino terlihat seperti anak tiga tahun yang balonnya diambil orang. Sasuke berinisiatif memeluk sang istri dan mengelus punggung polos Ino dengan lembut.
"Ssssst. Aku disini, jangan menangis ya?" ujar Sasuke.
"Kenapa kau tidak bilang kalau semalam mobilmu rusak? Aku jadi salah sangka padamu, mengira kau sengaja pulang larut untuk bersenang-senang."
Sasuke melepaskan pelukannya.
"Kau tahu dari mana?" tanyanya kemudian.
"Naruto barusan menelepon." Sasuke mengangguk.
"Hn. Mobilku sudah baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir."
"Sekarang bukan masalah mobilmu sudah baik-baik saja atau tidak. Aku sudah marah padamu—ralat, sangat marah padamu dan kau bahkan minta maaf. Padahal kau tidak benar-benar salah. Kenapa kau tidak membela diri sih?! Aku jadi merasa bersalah kan!"
Sasuke tersenyum.
"Aku tidak menelponmu semalam karena takut kau akan khawatir, panik dan malah menyusulku."
"Itu lebih baik!"
Sasuke menggeleng. "Selama hamil, kau tidak boleh menyetir. Ingat itu."
Ino kembali cemberut.
"Jangan pasang wajah cemberut begitu. Umurmu tidak muda lagi untuk melakukan hal-hal imut seperti itu."
"Ada apa dengan umurku?! Kalau umurku semakin tua kau akan meninggalkanku, begitu? Iya?"
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu berpikir seperti itu, sayang. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu?"
"Mungkin saja kan? Setelah melahirkan atau beberapa tahun lagi, aku tidak cantik lagi. Tubuhku gendut, wajahku keriput. Kau kan Uchiha Sasuke. Mungkin saja kau akan mencari wanita yang lebih cantik dariku nantinya."
Sasuke menghela nafas lelah. Tangannya naik meraih dagu Ino.
"Kalau aku ingin cari wanita yang lebih cantik darimu, aku tidak akan mungkin menunggu selama hampir dua puluh tahun. Mungkin kau nantinya akan gendut, keriput dan tidak cantik lagi. Tapi aku tidak akan meninggalkanmu. Kenapa? Karena mungkin pada saat itu, aku juga mengalami hal yang sama. Aku gendut, keriput dan tidak tampan lagi. Dua bulan lalu, kita sudah berjanji untuk saling mencintai dan melalui semua hal itu bersama kan?"
Ino terpana memandang Sasuke dan mendengar apa yang pria itu katakan. Tangan pria itu kemudian turun dari dagunya.
"Sesuatu yang aku takutkan adalah kau yang akan meninggalkanku. Hal itu mungkin terjadi karena awalnya kau tidak mencintaiku kan? Bisa dibilang dari awal ini adalah cinta sepihakku. Aku berusaha untuk membu—"
Cup!
Sasuke tidak bisa melanjutkan ucapannya karena kecupan kilat yang Ino berikan. Masih dengan tubuh polos yang tertutup selimut, Ino meraih leher Sasuke dengan tangan kanannya hingga posisi Sasuke kini berada tepat didepan wajahnya.
"Aku mencintaimu."
"Ino..."
"Aku mencintamu, Sasuke. Aku mencintaimu. Jangan pernah meragukanku karena aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Seperti yang kau katakan tadi, ketika tiba saat dimana tubuh kita melar, wajah kita keriput dan jelek, kita akan tetap bersama. Kita bisa menghabiskan waktu sambil saling mengejek atau menghitung keriput yang bertambah diwajah kita."
Sasuke tidak merasa selega ini selama hidupnya. Mendengar Ino mengatakan hal yang bisa dibilang sebuah janji, bisa juga dibilang sebuah doa tentang masa depan mereka nantinya. Rasa haru melingkupi dadanya. Mata pria itu pun kini mulai berkaca. Sasuke mengigit pipi bagian dalamnya agar ia tidak benar-benar menangis sekarang. Kekehan keluar dari pria itu. Ia kemudian meraih Ino kedalam pelukannya. Pelukan paling erat yang pernah ia berikan.
"Aku yakin keriputmu akan lebih banyak dariku karena kau terlalu sering marah-marah." ujar Sasuke dengan suara bergetar. Setetes air mata jatuh ke pipinya. Ia sangat-sangat bahagia.
"Jangan yakin begitu. Mengurus Uchiha Company akan membuat keriputmu ada dimana-mana."
Sasuke terkekeh. Helaan nafas lega terdengar darinya.
"Yamanaka Ino," panggilnya kemudian.
"Aku sudah jadi Uchiha Ino, asal kau tahu!" Ino mencoba melepaskan pelukan Sasuke, yang malah berakhir dengan semakin eratnya pelukan itu.
"Benarkah? Sejak kapan?"
"Kau mau mati ya?" Ino memukul punggung Sasuke yang kembali terkekeh.
"Uchiha Ino, aku punya permintaan."
"Asal jangan yang aneh-aneh akan kukabulkan."
"Jangan pernah bosan jadi sahabat sekaligus istriku. Sampai anak-anak kita besar nanti, sampai kita tua nanti. Jangan pernah bosan."
.
.
.
FIN
.
.
.
A/N :
Yuhuuuuu... Yana in the house! Balik lagi dengan ekstra chapter dari Filia teman-temanku sekalian! Disarankan untuk membacanya setelah berbuka puasa ya. Walaupun lemonnya cuma seiprit, atau mungkin bisa dibilang bukan lemon kali ya. Hehehe. Semoga teman-teman semua suka. Ekstra chap ini aku buat spesial buat para readers dan reviewers dari cerita ini. Walaupun masih banyak kekurangan dari cerita ini secara keseluruhan, kalian masih tetap menunggu dan baca serta ripiu. Itu semua sangat berarti buat aku. Love you teman-teman!
By the way anyway busway, aku lagi ada ide bikin cerita baru. Romance tapi agak 'hurt' dikit. Ino lagi, tentu saja. Tapi aku lagi bingung pakai banget buat pairingnya. Ino-Itachi, Ino-Sasuke, atau Ino-Gaara. Demi apa aku cinta mereka bertiga. Sungguh ku tak dapat memilih. Untungnya negara kita adalah negara demokrasi. Aku harap teman-teman berkenan untuk memilih siapakah diantara ketiga lelaki tampan luar biasa itu untuk menjadi kekasih hati Ino dicerita berikutnya lewat ripiu. Pilihannya dari ketiga itu aja ya, takutnya ada yang ripiu dan milih Ino-Danzou lagi. Hehehe. Terimakasih sebelumnya.
Salam,
Yana Kim ^_^
