It's Dangerous Outsider of the Blanket 2018

.

.

Cerita ini hanya fiktif belaka, sekedar karangan. Apresiasi atas cinta pada sang idola. Bukan bermaksud menjatuhkan, menjelekan apalagi mendoakan yang tidak-tidak.

.

.

Sepertinya seseorang kehilangan hari selasa pada tahun 2013. Teganya, jahatnya simanis bernama Kim Minseok atau Xiumin berkata dengan begitu jahat.

Aku sangat menyukai sepak bola, tapi sejak debut aku sama sekali tidak memiliki waktu untuk bermain karena kesibukan.

Huh, sebenarnya omong kosong macam apa itu? Jelas-jelas ia selalu dapat bermain setiap hari selasa, dan bahkan ia masuk dalam tim mewakili negaranya untuk bermain di Asian Dream Cup ditahun yang sama, lalu bagaimana bisa dia dengan keterlaluan mengatakan tidak pernah bermain?

Atau dia sengaja mengatakan demikian supaya dia marah? Balas dendam begitu?

Si objek kemarahan hanya memutar bola matanya dengan malas, jadi waktunya yang berharga yang sengaja ia luangkan hanya untuk mendengarnya misuh-misuh sebab masalah sepele karena ucapannya untuk preview acara tivi? Astaga, sungguh kekanakan.

"Jadi kedatanganmu jauh-jauh kemari hanya untuk itu?"

Minseok mulai jengah, ayolah. Kenapa dia – Luhan marah-marah seperti kebakaran jenggot hanya karena dirinya mengatakan sulit bermain sepak bola setelah debut? Toh memang benar kan? Ia kesulitan bermain sejak saat itu, waktunya tersita untuk pekerjaan dan bahkan harus sepandai mungkin agar dapat melakukan tugasnya sebagai mahasiswa, hanya sebab itu Luhan mendatanginya kemudian marah-marah tidak jelas? Sungguhkah dia lelaki yang katanya manly? Ck, dia malah terlihat lebih parah daripada gadis yang sedang datang bulan.

"Ini yang kedua kalinya Minseok, yang pertama kau malah langsung membuka bajumu di depan para lelaki mesum itu padahal aku sudah berpesan padamu untukberhati-hati."

Astaga, demi Zeus dan pencuci kaus kakinya, yang berbahaya itu Luhan, yang mesum itu Luhan dan Luhan adalah satu-satunya orang yang harus di hati-hatikan jika sedang bersama, karena Luhan itu liar, aneh dan yang paling penting adalah – sangat mesum.

"Dan lagi, Kang Daniel. Jauhi dia, kalau perlu tendang jika dia mendekatimu. Dan satu lagi. Mark Lee Minhyung. Jangan lagi dekat dengannya karena aku sangat tidak menyukainya. Apa kata orang? Anaknya XiuYeol? Huh, Chanyeol itu playboy kelas teri yang memiliki banyak anak dengan Baekhyun, bahkan dia merebut Taehyung dari Daehyun dan menggantikan status ayah yang selama ini tersemat pada pemuda Jung itu"

Demi tuhan. Benar kan Minseok, Luhan itu sangat mesum. Bagaimana bisa dia bicara sekeras itu di tempat ini, dan bagaimana mungkin mulutnya bisa sefrontal itu, astaga apa yang di pikirkannya. Cukup sudah sepertinya Luhan terlalu banyak bicara.

Dengan gerakan cepat, Minseok menjepit bibir Luhan dengan jarinya, seperti ketika Luhan masih menjadi bagian dari EXO diacara EXO Showtime.

"Berhenti bicara atau aku akan menendangmu keluar dan kau dikrubuti banyak orang"

Luhan yang awalnya sedang tersenyum aneh lantaran jari-jari Minseok menyapa bibirnya tiba-tiba diam namun dengan bibir mengerucut, merasa kesal karena di ancam, dan mengapa dia sangat lemah terhadap ancaman Minseok, sial dia merasa status seme sejati yang tersemat dalam dirinya mulai diragukan.

"Pertama, aku heran dengan tingkahmu yang ajaib dengan datang ke Korea tapi sedikit berita dan sulitnya pengonfirmasian antara kau sungguhan datang atau tidak. Yang kedua, kau terlalu brisik"

Minseok semakin menekan bibir Luhan dengan keras ketika dirasa pemuda itu ingin membantah. "Jangan membantah atau aku akan menendangmu sungguhan"

Sebenarnya, Luhan tidak masalah kalau Minseok sungguh menendangnya, toh mereka berdua, jadi kalau ia keluar ia bisa berteriak menyebutkan nama Minseok, lalu boom berita besar terbit dimana-mana. Tapi dia tidak segila itu. Mungkin tentang mereka akan di ketahui dunia, tapi dunianya akan berubah karena Minseok pasti berubah membencinya. Akhirnya, ia hanya diam dan kembali duduk dengan benar.

"Aku tidak bisa menjauhi Daniel, dia temanku, adikku dan juga rekan kerja selayaknya aku dengan yang lain(Member EXO), lagipula aku juga harus memiliki kemistri sehingga acara yang aku bintangi menjadi menarik perhatian, aku akan disalahkan kalau kaku dan terkesan menjauhi pemain lain" Luhan siap membantah lagi, namun Minseok kembali berhasil menghentikannya dengan memelototkan matanya.

"Dan untuk Mark Lee, aku bisa menjauhi Daniel jika aku menurut padamu, tapi tidak dengan Mark. Dia yang paling kusayang diantara siapapun bahkan jika dibandingkan denganmu…

Okay, Luhan tidak bisa di tahan lagi, dengan sedikit kasar ia menepis tangan Minseok dari tangannya.

"Tidak bisa, astaga kau semakin membuat kadar kebencianku terhadap anak itu bertambah, dan tadi apa katamu? Kau lebih menyayanginya ketimbang aku? Hey aku tetap nomor satu dan tidak terbantahkan" Luhan menyebur berapi. Sudah tidak peduli akan ada yang mendengar diluar atau dia akan ketahuan sedang kencan dengan Minseok, sialan. Apa katanya? Mark yang paling disayang? Apa bagusnya bocah itu. Sudah tidak tampan, kurus, masih bocah pula. Oh my god, sama sekali tidak ada yang bisa diharapkan jika berpacaran dengan bocah.

"Itukan katamu bukan kataku, bagiku Mark Lee itu segalanya, dan aku tidak peduli bahwa Mark mendapatkan sebutan anak XiuYeol, yeah memang dia mirip dengan kami kok…

"Yaaa!" Luhan menyela dengan pekikan keras, membuat Minseok terkaget. "Mark bukan anakmu dan Chanyeol, kau kan pacarku ya harus punya anak dariku bukan dari orang lain"

Ia merasa kalau, pipinya pasti memerah, demi apapun Luhan memang yang paling mesum. Tapi apa tadi katanya? Pacarnya? Oh bagus sekali Luhan mengungkit itu.

"Apa kau bilang? Siapa pacarmu?"

"Kau lah, siapa lagi" jawab Luhan dengan cepat dan mantap.

"Oh ya? Sungguh? Lalu siapa gadis itu? Yang membalas postingan weibomu dengan emoticon hati? Kurasa itu bukan aku"

O o ow. Mata Luhan mendadak bergerak gelisah, dan dia tidak dapat lagi memandang Minseok secara lurus apalagi tajam. Sial, sepertinya dia telah salah bicara.

"Atau siapa yang bersamamu liburan ke Jepang? Ah, kudengar juga malah sudah pergi ke toko perhiasan? Untuk apa? Memesan cincin pengantin?"

"Hey, itu hanya gosip, astaga itu tidak seperti yang ada dalam pikiranmu"

"Tapi benar kan dia pacarmu?"

Diam, Luhan tidak bisa menjawab, dan Minseok merasa senang karena Luhan yang terdiam seribu bahasa.

Tapi Luhan tetaplah Luhan, dia tidak mau disalahkan dan selalu membuat pembelaan.

"Dia pacarku, baiklah. Tapi di depan publik, pacarku di hatiku ya tetap dirimu, Minseokkie uri" katanya seraya menoel dagu Minseok yang pipinya memerah dan sedang mengulum senyum, aduh manisnya. Seperti gulali anak TK yang berwarna merah muda jajanan kesukan anak-anak.

"Jangan sentuh aku, enak saja. Kau pikir aku mau di duakan. Huh sorry ya-

"Tapi aku tidak menduakanmu, sungguh itukan hanya pekerjaan, membangun kemistri" Luhan menyela, dia merasa tidak terima di tuduh menduakan,hey mana mungkin dia menduakan Minseoknya yang sudah sangat sempurna, astaga dia tidak sebodoh itu. Tolong.

"Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kalau aku ada pekerjaan dan semua ini bagian dari drama" katanya.

Minseok hanya memutar kembali bola matanya. Kan, Luhan mengatakan kalau semua bagian dari drama? Dia itu maunya dimengerti tapi sama sekali tidak mau mengerti. "Aku juga sama saja. Tuan Luhan" pekiknya tertahan karena pemuda asal Guri itu tahu, mereka sedang di tempat umum. "Kau dengan pacar mu-

"Pacar publik" Luhan mengoreksi. Tapi Minseok sama sekali tidak peduli."Pacarmu itu bagian dari drama, okay aku mengerti. Jadi tolong mengerti juga aku. Aku dekat dengan Daniel kan karena kami memang sebelumnya mejadi pemain tetap, dan sekarang kami bertemu lagi ya masa aku harus menjauh, kau mau aku merusak citraku ya?"

Luhan mendengus, merasa kalau Minseok berbicara sangat berlebihan. Merusak citra katanya? Huh, bilang saja mau memanas-manasinya, membuatnya cemburu. Sorry ya Luhan tidak akan….

Tidak akan mengelak kalau dia memang cemburu. Arghhhhh. Sial, dia benci mengakui, tapi memang seperti itu adanya. Jadi harus bagaimana?

"Dan untuk Mark, jangan pernah kau melarangku atau aku akan membencimu. Seumur hidupku"

Astaga. "Okay, aku akan memberikan kelonggaran terhadap Mark, yeah setidaknya kami juga mengenal dan dia anak yang cukup baik dan mengerti kalau kau adalah milikku, tapi kau harus tetap menjauhi Kang Daniel, astaga bocah itu seperti akan menelanjangimu setiap kalian bertemu"

Demi tuhan, demi Luhan dan mulut sialannya, Minseok ingin mencekiknya sekarang. "Setidaknya kalau aku di telanjangi Daniel, kami hanya beda lima tahun dan dia jauh lebih dewasa ketimbang pacarmu itu"

"Dia pacar publikku"

Minseok mengedikan bahu lagi. "Kau sepertinya maniak angka tujuh sampai menyukai gadis dengan jarak usia tujuh tahun, jangan-jangan kau hanya mencintai perbedaan usia kalian dan bukannya orangnya. Duh, kasihan sekali"

"Bukan seperti itu, aku dengannya karena tuntutan pekerjaan…

Luhan terdiam sejenak, mencerna kembali perkataan Minseok. Mencintai perbedaan usia? Well, itu tidak sepenuhnya salah, bukankah tahun kelahiran gadis itu adalah 1997? 1 itu berarti Minseok, karena Minseok adalah satu-satunya dihatinya, 99 adalah nomor punggung milik Minseok sebagai anggota EXO dan 7 adalah nomor punggungnya sewaktu masih anggota EXO, bukankah itu maknanya sama, sama-sama tentang si gembul Xiumin EXO.

"Luhan"

Oh, lamunan pemuda asal Beijing itu segera terpecahkan ketika Minseok menyerukan lamanya keras. "Ya, kenapa?" tanyanya.

"Ah lupakan, aku harus segera pergi karena ada urusan" Minseok berkata sembari melihat pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, dan apa yang dilakukan Minseok menuai decakan kesal dari Luhan tentunya. "Aku datang jauh-jauh kemari untuk menemuimu dan kau dengan tega meninggalkan aku demi urusan lain? Memangnya ada yang lebih berharga selain aku, huh" grutunya kesal, benar kan, sudah mirip gadis datang bulan.

"Memangnya aku memintamu datang? Kau tahu kalau aku orang sibuk dan masih saja menganggu disaat jadwalku padat" lagi Luhan mendengus, menganggu katanya, kan seharusnya senang ya di kunjungi pacar setelah lama tidak berjumpa, bukannya malah menyalahkan, dasar tidak peka.

"Jangan mengumpat dalam hati Luhan, aku bisa mendengar keluhanmu kau tahu"

Luhan mencibir dengan bibirnya, semakin merajuk yang membuat Minseok kehabisan akal. Oh, bagaimana bisa dia bertemu dengan manusia sejenis Luhan. Astagaaaa.

"Kau bisa mengerti kalau aku sedang mengumpat dalam hati, tapi tidak bisa mengerti kalau aku merindukanmu, kau ini jahat sekali sih" oh, rajukan Luhan semakin berlebihan. "Kau ini sudah tidak mencintaiku lagi ya?"

"Kalau iya bagaimana? Bagaimana mungkin aku mencintai pacar orang, apalagi sejenis dirimu"

Oh My God, kenapa mulut Minseok menjadi sekejam ini. "Kau…

"Apa? Aku benar kan, kau memang pacar orang"

"Iya, tapi hanya sekedar karena tuntutan layar kaca, pacarku yang ada dihatiku ya tetap dirimu" sekali lagi Luhan menegaskan. "Dan bahkan, meski aku mengumumkan berpacaran dengan gadis itu, kau dan Sehun tetap lebih terkenal darinya, semua orang mengakui kalau moment kita jauh lebih romantis ketimbang aku dengannya. Minseok, kita ini legenda"

Moment ya?

"Lalu apa kau juga merajuk seperti ini kepada Sehun?"

Hah? "Tentu saja tidak, memangnya kami memiliki hubungan"

"Kau sendiri yang bilang tadi Luhan, kalau kita adalah legenda, bukankah lebih banyak HunHan shipper ketimbang LuMin shipper?"

"Hey, kita yang aku maksud tentu saja aku dan kau, bukan aku dan Sehun. Aku kan hanya menegaskan padamu kalau meski sekarang semua orang tahu kalau aku memiliki pacar, tapi kau harus tahu, kalau di hatiku tetap dirimu penguasanya, kau. Kim Minseok yang paling kucintai"

Diam, bungkam. Suasana mendadak menjadi hening, namun saat tatapan keduanya bertemu Luhan menjadi klabakan karena mata Minseok tampak berkaca, kapan saja beingan tersebut siap jatuh, tapi sebelum sempat Luhan bisa berbuat apa-apa, sesuatu yang tidak bertulang menabrak miliknya, Minseok menciumnya, hanya kisaran empat detik, lalu detik berikutnya, Minseok mengisak diceruk lehernya.

"Dasar jahat, dasar rusa gila yang menyebalkan, aku benci padamu"

Eh? "Hey

"Dan sialnya kegilaan dan kejahatamu kepadaku itu selalu dapat menambah cintaku kepadamu, dan seharusnya kau tahu, aku cemburu dengan semua berita yang ada. Aku benci padamu, benci, benci, benci"

Ehehe. Bilang dong kalo cemburu, jangan sok jual mahal begitu, kan tidak perlu berdebat lama, bisa langsung kencan dan menikmati waktu romantis yang panjang.

Tadinya Luhan kan ingin protes karena Minseok berkata membencinya, tapi begitu mendengar kalimat selanjutnya, Luhan tidak bisa untuk tidak tersenyum bahagia seraya mengulurkan tangannya untuk balas memeluk Minseok seraya mengusapi punggung si mungilnya yang sedang tersendu seperti gadis. Ugh, manisnya.

"Dasar tsundere" kata Luhan sembari terkekah, dan sesuatu yang selanjutnya terjadi adalah Minseok memukul dadanya lumayan keras yang membuatnya memekik pelan. "Brisik"

"Astaga, aku kira aku yang akan menangis seperti gadis setelah pertemuan ini…. aw, ya ya ya. Hey Minseok itu geli" Luhan segera protes saat Minseok menggigiti dadanya dengan gigi-giginya. Oh tuhan, kebiasaan Minseok yang ini sama sekali tidak berubah.

"Rasakan, ini karena kau telah membuatku menangis, aku akan adukan pada Suho supaya dia memarahimu karena sudah membuatku menangis"

Oh jangan. Kim Junmyeon dan segala ceramahnya adalah yang paling menyebalkan.

"Baiklah, lakukan sesukamu, karena setelah ini, kau tidak akan bisa melakukan apapun selain memanggil namaku"

.

.

Jadi Bee, ini apa? I don't know. Haha. Ini mengalir gitu aja, nggak tau mau ngatain aku delusi kelewatan atau apa, tapi ini sudah jadi dan di post mau gimana lagi? Selamat membaca.

.

.

Moonbabee