Dering alarm sedikit banyak mengusik tidur lelaki berparas tampan itu. Tubuh besar nya sedikit menggeliat dengan tangan meraba-raba mencapai sesuatu. Sebuah guling yang biasanya selalu ia peluk agar tidur nya kembali nyenyak. Namun, kali ini ada perbedaan. Ia merasa, sesuatu yang kini ia usap sedikit berbeda. Bahkan sangat berbeda dengan permukaan guling nya. Ini, jauh lebih lembut, halus, dan terasa kenyal. Mata bulat nya yang masih terpejam dengan dahi yang mengkerut membuatnya terus mengusap permukaan tersebut atas dasar penasaran. Di usap nya beberapa kali, lalu di tepuk tepuk nya. Astaga!
Chanyeol tersentak, sedikit menundukkan diri nya untuk melihat benda apa yang telah dirinya raba. Dengan rasa penasaran, Chanyeol sibak selimut yang menutupi tubuhnya dan mendadak napas nya terasa berhenti melihat pemandangan di depan nya.
Paha Baekhyun yang begitu putih nan mulus terpampang begitu saja di depan mata. Sweater yang anak itu kenakan benar-benar terangkat hingga pangkal pinggang.
Chanyeol mengusap wajah nya kasar, lalu dengan hati - hati menarik turun sweater Baekhyun agar paha anak itu kembali tertutup. Lelaki berusia 25 tahun itu, melirik ke arah nakas, tepat pada jam weaker nya. Ah, ia harus mandi sekarang agar bisa mengantar Baekhyun pulang pagi-pagi sekali.
Chanyeol beranjak dari ranjang nya, sebelum pergi ke kamar mandi, lelaki itu menyempatkan diri untuk menyelimuti Baekhyun yang sepertinya masih nyenyak dalam mimpi nya.
Sedikit bersiul, Chanyeol pergi mengambil handuk yang tersampir dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
.
.
"Nanti sepulang dari kantor, Kakak akan jemput Baekhyun di rumah" Chanyeol menatap Baekhyun dari dalam mobil nya, anak manis itu baru saja turun dari mobil nya.
"Uh'um! Terima Kak Chanyeol!"
Dahi Chanyeol mengernyit, tidak mengerti untuk apa Baekhyun mengucapkan terima kasih pada nya.
"Terima kasih untuk apa?"
"Karna telah membiarkan Baekhyun menginap, bahkan Kakak mengantar Baekhyun pulang dan pergi ke sekolah! Terimakasih ya Kak Chanyeol!"
Chanyeol hanya mampu tertawa kecil, melihat Baekhyun yang tersenyum menggemaskan di depan nya.
"Iya tidak apa! Ya sudah Baekhyun masuk sana ke dalam, belajar yang rajin ya?" yang di minta mengangguk beberapa kali seraya memainkan tali tas nya.
"Dadah Kak Chanyeol! Sampai jumpa nanti sore!" Baekhyun melambai dengan riang, kaki mungil nya berbalik demi melangkah menuju bangunan tempat dirinya menimba ilmu.
Meninggalkan Chanyeol yang menggeleng pelan lalu kembali melajukan mobil nya menuju kantor tempat ia bekerja.
.
.
"Hei, ByunBaek! Semalam kemana saja kau? Aku menelepon mu tahu!" Luhan menatap nya sinis, tak lupa sesekali menjilati es krim di tangan nya. Ketiga nya sehabis dari kantin, hanya membeli beberapa camilan dan berniat kembali ke kelas atau mungkin memilih menuju perpustakaan. Ketika di kelas akhir, rasanya ingin bersantai sebentar pun tidak bisa. Ada banyak kekhawatiran di depan sana. Semua nya ingin masuk ke Perguruan Tinggi dan berharap lulus dengan hasil yang terbaik.
"Aku tidak membuka ponsel ku" jawaban tak minat dari Baekhyun membuat Kyungsoo melirik nya sekilas.
"Kau kenapa?"
"Lain kali aku akan bercerita dengan kalian, tapi tidak sekarang"
Luhan hendak protes, namun sebelum hal itu terjadi Kyungsoo yang lebih paham memilih mencubit lengan Luhan, tak lupa sedikit pelototan tajam lelaki manis itu berikan.
"Aku akan ke kelas Jongin, kalian kembali dulu saja ke kelas"
"Cih! Untuk apa kau ke kelas nya dia?"
"Buku ku di pinjam Jongin, Luhan" nada Kyungsoo terdengar malas, tentu saja! Sudah cukup lelah ia mendengarkan protesan lelaki cantik itu.
"Baiklah! Awas ya jangan dekat-dekat dengan dia! Nanti kau tidak suci lagi!"
Kyungsoo memutar bola mata bulat nya dengan malas, lalu memilih meninggalkan kedua teman nya dan pergi menuju kelas Jongin.
Luhan menyenggol lengan Baekhyun dengan tatapan mata tetap mengawasi Kyungsoo di depan sana.
"Meminjam buku hanya alasan klise, bukan? Pasti lelaki sialan itu hanya mencari alasan agar bisa dekat dengan Kyungsoo kita!"
"Jangan berburuk sangka, Luhan! Aku akan ke perpustakaan dulu, kalau kau ingin ikut habiskan dulu es krim mu!" Baekhyun pun memilih meninggalkan Luhan dan berbelok di koridor demi menuju tempat penuh ilmu itu.
"Ish! Terserah kalianlah, tinggalkan saja aku sendiri! Lebih baik aku ke kelas Jongdae! BABY DUCK I'M COMING!" Luhan membuang sisa es krim nya pada tempat sampah dan berlari menuju kelas sahabat nya yang lain.
Langkah kecilnya tiba tepat di depan ruang berisikan banyaknya buku-buku pencerah masa depan. Dengan tangan mungilnya, Baekhyun menggeser pintu perpustakaan dan membungkuk'kan sedikit tubuhnya pada penjaga perpustakaan. Setelah mengisi daftar hadirnya, Baekhyun berjalan ke arah rak-rak buku khusus kelas akhir. Sebelum pendalaman materi di mulai, dia ingin mempelajari nya terlebih dulu agar jika ada materi yang belum ia paham maka dirinya tidak tertinggal jauh nantinya.
Mata sipit nya menyusuri banyak nya buku-buku, di saat seperti ini pikirannya malah melalang buana. Sakit hatinya kembali terasa. Mengapa Kak Kevin tidak menceritakan siapa wanita di malam itu? Mereka teman'kan? Atau lebih?
Jika di sandingkan, mereka sangat cocok. Lagi pula, mana mungkin Kevin seorang gay.
Mencintai seseorang dalam diam mengapa sesakit ini?
Dia juga tidak memiliki banyak keberanian untuk mengungkapkan perasaan nya. Ada banyak konsekuensi dan kemungkinan buruk jika tetap memaksakan diri untuk menceritakan hal yang sebenarnya.
Helaan napas keluar dari bibir si mungil. Ia bahkan belum melakukan apa-apa untuk cintanya, tapi kenapa rasanya ingin sekali menyerah?
Tersadar akan pikiran nya, Baekhyun menepuk jidat nya seketika. Dia'kan harus belajar, kenapa jadi memikirkan hal-hal yang tidak perlu? Dasar!
.
.
Baekhyun membuka pintu rumah nya. Selalu sepi. Apa yang dapat diharapkan memangnya dari rumah yang ditempati oleh dua Kakak Beradik sedangkan sang Kakak sibuk mencari nafkah di luar sana? Baekhyun menghela napas, jujur saja terkadang dia merasa iri oleh Kyungsoo yang selalu mendapat sambutan hangat dari Ibunya, atau Ibu Jongdae yang sangat cerewet, atau bahkan Ibu Luhan yang galak sekali bila anak nya itu berulah.
Tapi, Baekhyun bersyukur Kakaknya yang cantik itu setidaknya masih sempat meluangkan waktu di kala cuti kerja nya.
Baekhyun memilih membersihkan tubuh, lagipula sebentar lagi mungkin Kak Chanyeol akan datang menjemput nya. Dia juga bersyukur karna Pacar Kakak cantik nya itu sangat baik. Mungkin, Chanyeol juga merasa kasihan padanya yang kesepian itu.
Usai mandi, Baekhyun mengambil tas punggung nya. Chanyeol bilang, lebih baik membawa beberapa potong baju untuk berjaga-jaga apabila Baekhyun akan menginap lagi nanti. Jadi, dia membawa dua pasang baju tidur dan tiga pasang baju santai yang nyaman.
Sedang asik menyiapkan keperluan nya, ketukan pada pintu membuat pokus nya teralih. Dengan semangat Baekhyun keluar dari kamar nya dan berniat membukakan pintu, bukankah itu Chanyeol?
Ceklek!
Ketika pintu telah terbuka, menampilkan sosok jangkung sesuai perkiraan nya. Chanyeol dengan pakaian kerja nya mengulas senyum tipis ke arah nya. Astaga, itu tampan sekali!
"Sudah siap?" jemari Chanyeol terangkat untuk menarik pipi gembil Baekhyun yang dibalas dengan anggukan semangat.
"Baekhyun ambil tas dulu ya?" anak itu dengan semangat kembali masuk ke dalam rumah nya, tidak butuh waktu lama hingga Baekhyun kembali dengan tas yang berada di punggung nya.
"Kunci rumah jangan lupa!" Chanyeol mengingatkan, dan Baekhyun segera melaksanakan ucapan lelaki tinggi itu.
Selesai dengan pekerjaan mengunci rumah dan memastikan semua nya aman, tiba-tiba jemari nya digenggam dengan hangat oleh sebuah tangan besar dan sedikit kasar. Baekhyun tersentak saat merasakan aliran listrik pada tubuhnya. Ini hanya sebuah genggaman ringan, mengapa jantung nya berdebar hingga membuat rona kemerahan di pipi nya.
Chanyeol dengan lembut menuntun anak itu hingga ke mobilnya, bahkan membukakan pintu untuk mempersilahkan Baekhyun untuk masuk. Baekhyun hanya menurut dan tentu saja merasa diistimewahkan. Mungkin memang sederhana, tapi tidak dipungkuri bahwa remaja itu menyukai nya. Menyukai hal-hal sederhana namun terkesan manis.
"Mau makan dulu?" tanya Chanyeol yang berada di samping nya seraya memasang sabuk pengalaman nya.
Baekhyun berpikir sejenak sebelum mengangguk dan ikut memasang sabuk pengaman nya.
Chanyeol melajukan perlahan mobil nya dan sedikit menoleh pada Baekhyun.
"Baekhyun ingin makan apa?"
"Uhm, Baekhyun ikut Kakak saja!" anak itu menatap lurus pada jalanan, terlihat gugup entah mengapa. Mungkin'kah jantungnya masih berdebar kencang?
"Kita makan sushi ya? Kakak sedang ingin makan itu"
Baekhyun hanya mengangguk dengan bibir yang digigit, lalu kedua nya diam hingga sampai pada restoran Jepang pilihan Chanyeol.
Chanyeol menuntun Baekhyun untuk masuk ke dalam restoran yang beruntung tidak begitu ramai. Segera saja mereka berdua memilih tempat yang sekiranya cukup nyaman untuk makan siang yang sudah sangat telat ini.
Usai memesan makanan yang mereka inginkan, Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang menjadi lebih pendiam dari biasanya.
"Baekhyun kenapa?"
Sang pemilik nama tersentak dari lamunan nya dan menatap Chanyeol dengan gelengan kepala.
"T-tidak! Baekhyun tidak apa!"
Jawaban Baekhyun nyatanya memancing kecurigaan Chanyeol hingga lelaki tampan itu menatap selidik si mungil.
"Beneran Kakak!! Baekhyun baik kok!" anak itu memekik saat merasa tatapan Chanyeol terasa penuh intimidasi.
Chanyeol menghela napas lalu mengangguk sebentar sebelum menatap pada pelayan yang membawakan hidangan mereka.
Chanyeol tersenyum seraya meraih sumpit Baekhyun untuk ia usap pada tisu sebelum memberikan nya pada Baekhyun untuk anak itu gunakan.
Pipi gembil Baekhyun mendadak merona merah diperlakukan seperti ini oleh Pacar Kakaknya. Kenapa Kak Baekhee sangat beruntung? Dimana lagi ia harus mencari sosok yang seperti Chanyeol? Perhatian sekali.
Dengan malu-malu Baekhyun mengucapkan terima kasih yang mana malah membuat Chanyeol gemas dan menarik pipi gembil nya. Kekehan Chanyeol menjadi pembuka ketika mereka mulai memakan hidangan asal negeri sakura itu.
"Kakak penasaran, malam itu Baekhyun habis darimana?"
Baekhyun mendongak dan mengerjap menatap Chanyeol, sedikit tidak mengerti dengan pertanyaan lelaki itu. Malam? Malam yang mana?
"Eung?" Baekhyun memiringkan kepala nya dengan bibir yang ia kulum dan pandangan menerawang pada langit-langit, mencoba mengingat malam yang seperti apa yang dimaksud Chanyeol.
"Malam saat Kakak menemukan Baekhyun di pinggir jalan" dan Chanyeol mengernyit saat melihat respon Baekhyun yang mendadak murung usai mendengar perkataan nya.
"A-ah malam itu" bola mata Baekhyun terlihat bergerak acak, anak itu gelisah dan pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Kenapa? Sesuatu terjadi ya?" Chanyeol membersihkan bibir nya dengan tisu sebelum menatap penuh pada Baekhyun.
Yang lebih muda hanya menunduk seperti menahan sesuatu.
"Ceritakan pada Kakak, Baekhyun. Anggap saja Kakak seperti Kakak mu sendiri, karna Baekhee tidak bisa selalu di sisi Baekhyun. Jadi, Baekhyun boleh menganggap Kakak seperti Kakak Baekhyun sendiri"
Dan ucapan Chanyeol malah semakin membuat Baekhyun ingin menangis. Entah, ia merasa tidak suka dengan kalimat Chanyeol.
"B-Baekhyun tidak apa" kepala anak itu semakin menunduk dalam hingga membuat Chanyeol menghela napas dan mengusap surai lembut nya.
"Tentang Kevin ya? Seperti nya Baekhyun sangat sedih"
Melihat tidak ada balasan lagi membuat Chanyeol menarik kembali tangan nya dan mengangguk. Mencoba memahami perasaan remaja seperti Baekhyun, yang masih sangat labil.
"Baiklah, lanjutkan makan nya. Kakak tidak akan membahas nya lagi"
Chanyeol tersenyum saat Baekhyun mulai mengambil sumpit nya lagi dan sedikit banyak menyesal karna semakin membuat Baekhyun menjadi pendiam.
.
.
Keduanya kini telah sampai pada apartemen yang tentunya milik Chanyeol. Yang lebih muda melangkahkan kaki nya pada sofa apartemen Chanyeol, dan menyamankan diri di sana. Chanyeol hanya menggeleng pelan dengan tangan membawa tas punggung milik Baekhyun sebelum membawa benda tersebut ke kamar nya.
"Kakak mandi dulu ya? Jika Baekhyun bosan, nyalakan saja tv nya"
Setelah mendapat anggukan dari Baekhyun, Chanyeol mengulas senyum dan membawa dirinya menuju kamar lalu membersihkan diri. Meninggalkan Baekhyun yang menghela napas dan meraih remot tv untuk menyalakan benda pipih nan lebar di hadapan nya. Menekan beberapa tombol demi mencari siaran yang menarik perhatian nya.
Namun, mungkin dikarenakan perasaan nya yang sedang tidak bagus membuat nya tidak merasakan ketertarikan pada acara-acara yang di tayangkan pada layar tersebut.
Kembali menghela napas, Baekhyun memikirkan kembali ucapan Chanyeol. Lelaki itu memang sudah ia anggap sebagai Kakaknya sendiri. Tapi, mendengar hal itu dari Chanyeol mengapa ada perasaan asing yang membuatnya tidak rela Chanyeol mengatakan itu? Apa bukan itu masalahnya? Tapi karna Chanyeol mengungkit kesibukan Kakak nya yang membuat dirinya merasa sedih?
Saking sibuknya dengan pikirannya sendiri membuat Baekhyun tidak sadar ada sosok yang ikut duduk di sampingnya. Rangkulan pada pundak sempit Baekhyunlah yang membuat bocah manis itu tersadar dari pikirannya sendiri.
"Baekhyun memikirkan apa, hmm?"
Bolehkah Baekhyun menangis? Karna demi Tuhan wajah Chanyeol sangat dekat dengan dirinya, dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah, wajah segar dan tubuh yang mengeluarkan aroma wangi yang sangat jantan.
Baekhyun menundukkan wajahnya dan menggeleng pelan. Mencoba menyembunyikan wajah nya yang memerah dan pemikiran bahwa pacar Kakak nya sangat tampan.
"Ingin menonton film? Kakak ada banyak persediaan film jika Baekhyun ingin menonton" Chanyeol sedikit menunduk demi meraih sebuah kotak pada laci bawah meja. Menolehkan wajahnya pada Baekhyun demi melihat respon anak itu.
Sipit Baekhyun terfokuskan pada iris bulat Chanyeol yang juga menatap lekat padanya. Hingga deheman Chanyeol yang memutuskan kontak mata mereka dan keadaan semakin canggung.
"Baekhyun ingin menonton film romantis" jemari lentiknya ia remat, berusaha menyalurkan rasa canggungnya.
Chanyeol mengangguk dan membawa beberapa koleksi film romantis nya paad Baekhyun, "pilihlah film yang ingin Baekhyun tonton, Kakak akan mengambil cemilan dulu" Usai menyerahkan beberapa koleksi film nya, Chanyeol beranjak dari sana dan pergi menuju dapur.
Baekhyun memperhatikan punggung tegap Chanyeol yang menjauh sebelum melihat koleksi film-film lelaki itu, dan mata sipit nya tertarik akan satu sampul film dan memisahkan nya dari yang lain.
Baekhyun meletakkan kembali koleksi film-film Chanyeol pada kotaknya semula, dan memperhatikan sampul CD yang ia letakkan di atas meja.
Tak lama, Chanyeol kembali dengan tangan penuh berisi satu liter cola dan satu kaleng susu serta beberapa bungkus cemilan.
Lelaki tampan itu meletakkan semuanya pada meja, dan mata bulat nya menatap sampul kaset yang tergeletak di samping botol cola. Jemarinya mengambil kaset tersebut dan menatap pada Baekhyun, "Baekhyun ingin menonton ini?"
Anggukan semangat Chanyeol dapatkan dari Baekhyun yang sepertinya telah tidak sabar untuk sesi nonton bersama mereka.
"Baiklah, kita akan menonton ini. Kebetulan Kakak belum menontonnya"
Chanyeol mulai menyiapkan filmnya, setelah itu kembali duduk di samping Baekhyun dan membuka bungkus cemilan demi menikmati makanan ringan itu.
"Kenapa koleksi film Kakak banyak sekali?" Baekhyun bertanya seraya mengambil kaleng susu dan meminumnya dengan riang.
Dengan mulut yang mengunyah cemilan yang masuk ke mulutnya, Chanyeol berusaha menjawab, "Karna Kakak dengan Baekhee sering menghabiskan waktu dengan menonton film"
Fokus Chanyeol kembali pada layar di depan, tidak memperhatikan raut Baekhyun yang terdiam dan menjadi murung.
'Benar, mereka adalah kekasih dan mereka banyak menghabiskan waktu bersama'
Baekhyun mencoba menikmati film yang terputar di hadapannya, meski perasaan nya kembali dalam kondisi yang tidak bagus.
Hingga pada pertengahan film, adegan yang disajikan semakin romantis hingga terdapat beberapa adegan berunsur dewasa di sana.
Mendadak, keduanya merasakan canggung yang luar biasa.
Chanyeol yang merutuk dirinya karna merasa telah salah memberikan koleksi filmnya pada Baekhyun. Tentu saja koleksi filmnya ada banyak adegan rating ke atas, karna memang dirinya sengaja menyiapkan nya untuk di tonton bersama Baekhee.
Sedangkan Baekhyun merasa pipinya memanas, dia sangat malu sekarang melihat adegan yang terlihat oleh sipitnya.
Keduanya sama-sama mengangguk canggung dan mengusap rambut bersamaan. Mencoba kembali menyamankan diri dengan adegan yang disajikan.
Beberapa menit ke depan, mereka sama-sama hanyut dengan film nya. Sangat nyaman hingga dirasa sampai terbawa perasaan.
"Baekhyun"
Suara berat Chanyeol yang memanggilnya, membuat dirinya menoleh dan yang ia dapatkan adalah wajah Chanyeol yang semakin mendekat padanya. Keduanya bertatapan cukup lama, seakan mencoba menyalurkan apa yang ada pada pikiran masing-masing.
Hingga akhirnya, Baekhyun menutup mata nya saat bibir Chanyeol meraup bibir tipisnya dengan lembut.
Baekhyun tidak memikirkan apa-apa saat itu, hanya merasa ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di perutnya saat bibir tebal Chanyeol menggesek permukaan bibirnya.
Sampai Baekhyun lupa akan status mereka, dan status Chanyeol yang merupakan kekasih dari Kakak satu-satunya, Byun Baekhee.
.
.
.
YUHUUU AKU BISA UPDATE JUGA SETELAH CUKUP LAMAA WKWKWK
AKU HARAP SEMOGA KALIAN SUKA SAMA PART INI.
Mon maap kalo ada kesalahan dalam part ini oke?
Kritik, koreksi, dan saran sangat diperbolehkan!!
Sampai ketemu di chap selanjut nya!!
See you
