Disclaimer: Kuroko no Basuke dikarang oleh Tadatoshi Fujimaki, Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: three-shot karena memang keahlian Hyuuga (itu three point shot, Fei). Semi canon. Kiyoshi x Riko, Junpei x Riko.

.


.

Bukan Kompetisi
Bagian Junpei

by Fei Mei

.


.

Junpei melihat Kiyoshi dengan mudahnya mengangkat Riko. Bukan berarti Riko terlalu berat, tapi Junpei tahu ia tidak mampu mengangkat gadis itu walau dalam kegirangan atas kemenangan Winter Cup. Ia bahagia, tentu, tapi hatinya mencelos melihat Sang Pelatih dengan Kiyoshi.

Sudah hampir dua tahun, dan Junpei belum terbiasa melihat dan mendengarnya. Oke, tunggu, sebenarnya dia sudah terbiasa, tapi rasanya tidak nyaman sama sekali. Seperti, ketika mobil berjalan di atas jalan yang rata, lalu terasa goncangan akibat kerikil, dan kepalamu jadi terantuk sesuatu karenanya. Itu, seperti itu rasanya.

Dari awal, Junpei benci Kiyoshi—tipikal orang yang memaksakan kehendak, yang berkata bahwa ia hanya berpendapat padahal sebenarnya memaksa. Setelah lulus SMP, ia telah siap membuang karir basketnya, makanya Junpei mengecat rambutnya dengan warna kontras. Di situlah Kiyoshi muncul, dan entah bagaimana berhasil membuatnya mau memegang bola basket lagi. Lalu Junpei berpikir, mungkin Kiyoshi tidak begitu buruk.

Ditariknya pikiran itu dua bulan kemudian.

.

"Ah, Teppei! Sini! Di sini!"

Junpei menyerngit. Ia pikir Riko hanya mengundangnya sendiri untuk makan burger sambil diskusi mengenai menu latihan pagi, ternyata Si Pelatih juga mengundang Teppei—

Teppei?

"Riko, maaf telat."

RIKO?

"Tidak apa, duduklah Teppei."

Ap-apaan, kenapa nama depan? Kenapa Kiyoshi dengan santai duduk di samping Riko?

"Nah, Hyuuga-kun, seperti yang kukatakan barusan—"

"—kalian, sejak kapan pakai nama depan?" tanya Junpei akhirnya.

Kiyoshi mengerjap, lalu menoleh pada Riko. "Kamu tidak kasih tahu dia?"

"Eh, kupikir itu tidak penting," jawab Riko acuh sambil mengangkat bahu.

Sambil tersenyum Kiyoshi menoleh pada Junpei lagi. "Sejak seminggu lalu, aku dan Riko berpacaran."

Pada detik itu, Junpei lupa bernafas.

.


Ia pikir Kiyoshi hanyalah pemuda santai yang memanggil para gadis dengan nama depan tanpa maksud tertentu. Tetapi Junpei benar-benar tidak menyangka bahwa pemuda itu berpacaran dengan Riko. Ketika gadis itu, yang sudah saling mengenal dengan Junpei sejak kecil, memanggilnya dengan nama marga, Riko dengan mudahnya memanggil Kiyoshi dengan nama panggilan. Riko memang pernah memanggil Junpei dengan sebutan 'Junpei-kun', tapi itu, kapan, sepuluh tahun lalu? Pokoknya, Riko yang sekarang memanggilnya dengan sebutan 'Hyuuga-kun'.

Dan pantas saja Kiyoshi tidak memanggil Riko dengan panggilan 'Pelatih' seperti sebagaimana Junpei dan anggota tim basket lainnya memanggil gadis itu. Bahkan Junpei sendiri, sejak bergabung dengan klub basket SMA Seirin, walau di luar sekolah, tetap memanggil Riko sebagai Pelatih. Rasanya ini tidak adil.

.

Biasanya hanya ada Junpei dengan Riko. Namun, kini yang ada adalah Hyuuga-kun, Pelatih, dan 'Teppei'. Berulang kali Junpei mencibir 'kenapa Kiyoshi ikutan', karena seingatnya ini adalah diskusi antara Pelatih dan Kapten, tapi Kiyoshi dengan santai bilang ia pacar Riko dan ingin mengantar gadis itu pulang setelah diskusi. Di situ, Junpei memaki dalam hati, tapi ia tidak bisa apa-apa karena setelahnya Pelatih bilang 'Teppei adalah pemain yang penting dalam tim'.

"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Kiyoshi, dua minggu kemudian, ketika di ruang olahraga hanya ada mereka berdua.

"Apanya?" tanya Junpei ketus.

"Itu, aku dan Riko pacaran, kamu tidak apa-apa?"

Ingin rasanya ia menyembur 'YA MASALAH, LAH!', tapi ditelannya dalam-dalam keinginan itu. "Tidak ada hubungannya denganku, kan?"

"Heee, tapi kalian kan, teman masa kecil, kupikir kau akan bilang sebangsa 'Riko berhak mendapatkan cowok yang lebih baik', atau apalah."

Junpei mendengus. "Ini bukan shoujo manga."

"Jadi … tidak ada masalah antara kau dan aku, kan?"

"Aku sudah bilang. Aku benci kamu. Dan ini tidak ada hubungannya dengan status pacaran kalian."

.


Jika itu tentang Kiyoshi dengan Riko, Junpei berusaha keras untuk buta dan tuli. Toh, ia hanya akan berinteraksi dengan keduanya kalau berhubungan dengan basket. Dan dalam kegiatan klub pun, Junpei berusaha sangat fokus, baik dalam latihan mau pun pertandingan.

Biar saja Riko menyerukan dirinya dengan panggilan 'Hyuuga-kun' tapi memanggil Kiyoshi dengan 'Teppei'.

Biar saja Riko lebih lembut pada pacarnya dibanding Kapten tim.

Biar saja Kiyoshi terus-terusan memanggil nama depan gadis itu, sedangkan Junpei selalu memanggilnya 'Pelatih'.

Biar saja.

Pokoknya, biar saja.

.

"Kami sudah putus."

Junpei mengerjap. "H-hah?"

"Iyaaa, kami sudah putus," ulang Riko. Seingat Junpei, dua orang itu baru pacaran sekitar empat bulan.

"Kenapa?"

Riko mengangkat bahu. "Tidak kenapa-kenapa. Toh, sudah beberapa hari sejak kami putus, dan kami tetap berinteraksi seperti biasa. Sewaktu pacaran pun, tidak begitu ada bedanya dengan berteman akrab, hanya status saja."

" … Kalian, tidak ada masalah, kan?"

"Tidak adaaa!"

.


Riko tidak bohong tentang tidak ada bedanya pacaran atau tidak dengan Kiyoshi. Mereka berdua tetap akrab seperti biasa, masih memanggil nama depan masing-masing pula. Seakan tidak ada yang berubah. Jika tidak diberitahu apa-apa, Junpei tidak akan tahu bahwa keduanya pernah berpacaran dan sekarang sudah putus.

Tetapi, sekali lagi, keduanya tidak berubah. Kiyoshi tetap dekat pada Riko, dan Riko tetap perhatian pada Kiyoshi. Junpei kesal, tapi tahu tidak berhak menyuarakannya.

Riko seharusnya adalah Pelatih, tapi ternyata ia seperti merangkap manager untuk Kiyoshi seorang. Dan Junpei iri melihatnya. Bertahun-tahun ia berteman dengan Riko, tapi Kiyoshi hanya butuh hitungan minggu untuk mendapatkan hati gadis itu.

Rehatnya Kiyoshi sama sekali tidak membantu batin Junpei. Ia benci pemuda itu, tapi ia tahu Kiyoshi dibutuhkan dalam tim. Junpei sendiri mengakui kemampuan Kiyoshi dalam bermain basket. Namun, selama Kiyoshi tidak masuk sekolah, Junpei merasa tersiksa. Bukan karena, aduh amit-amit, kangen Kiyoshi. Junpei tersiksa karena tahu dan melihat Riko berkirim pesan dengan pemuda itu. Tahu, maksudnya Riko mengirim laporan perkembangan tim seperti tentang Kuroko dan Kagami, tapi kenapa—astaga penting banget ya. sampai dua minggu sekali menjenguk orang itu?

.

"Pelatih, kamu masih suka Kiyoshi?"

Riko tersedak. "Ap—hah? Kenapa tiba-tiba?"

"Waktu dia bilang bahwa dia akan membencimu jika kau tidak mengizinkannya turun ke lapangan lagi, kamu mengalah, kan?"

" … Aaah, itu. Tidak ada hubungannya. Aku mengawatirkan kakinya. Aku pelatih, tapi aku masih baru dalam melatih secara resmi. Aku teman kalian, jadi aku mengerti tekad hati kalian. Makanya aku membiarkannya bermain lagi."

"Aku tidak suka."

"Apanya?"

"Tiap kali dia di lapangan, wajahmu seperti sudah siap untuk menangis kapan pun."

.


Dibanding Kiyoshi, Junpei jelas mengenal Riko jauh lebih dulu. Mungkin, atau begitulah harapnya, dibanding semua orang di Seirin pun, Junpei pasti yang paling mengenal Riko.

Ia paling tahu, walau berusaha seperti apa pun, entah kenapa masakan Riko selalu gagal. Kiyoshi memang lebih bisa merespon masakan gagal itu dengan gentleman, tapi Junpei akan selalu menjadi orang pertama yang paham kerja keras Riko.

Ia paling tahu, walau tidak punya tampang feminism sama sekali, Riko sebenarnya suka pada yang berbulu—baik itu boneka, mascot, anjing, atau kucing. Junpei tidak akan menggodanya sama sekali, bahkan ia akan dengan sengaja mengirim surel gambar mascot lucu yang ditemukannya lalu Riko selalu membalasnya dengan stiker tertawa.

Ia paling tahu, sebenarnya Riko ingin memanjangkan rambutnya agar bisa diapakan seperti gadis kebanyakan, tapi Riko dengan pesimis bilang dirinya tidak akan cocok dengan rambut panjang. Jadilah setiap enam bulan sekali, gadis itu akan datang ke salon orangtua Junpei, untuk memastikan rambutnya tetap pendek.

.

"Yakin tidak mau tunggu ayahku? Selama ini aku hanya pernah merapikan ujung rambut ibuku saja, lho."

"Tidak masalah! Kupercayakan rambutku padamu, ya!"

Junpei tegang bukan main. Pasalnya, selama ini dia memang hanya memotong rambut ibunya yang bercabang, dia tidak pernah benar-benar mengubah panjang rambut. Apalagi rambut Riko sebenarnya masih pendek, gadis itu hanya ingin agar rambutnya tidak perlu diikat saja. Bagaimana kalau salah gunting lalu telinganya terluka?, pikir Junpei.

Ia tahu ia harus fokus, tapi telinganya menghangat sendiri ketika ia melihat leher Riko. Ia sesak nafas sendiri tiap kali tidak sengaja menyentuh kulit leher atau telinga gadis itu dengan ujung jari ketika ia hendak mengambil helaian rambut itu.

Ampun, sangkanya melihat Riko dari belakang lebih mudah dibanding berhadapan dengan wajahnya. Junpei salah besar.

.


Dan kini, semua ingatan itu menjadi satu, lalu menjadi abu ketika Riko menangis bahagia saat memeluk Kiyoshi. Tim Seirin menang Winter Cup, dan Junpei bahagia bersama timnya. Tapi Riko hanya memeluk Kiyoshi. Memang mereka melakukan tos dan pelukan kelompok, tapi Sang Pelatih hanya memeluk Kiyoshi secara pribadi.

Riko memang tidak pernah bilang suka atau tidak tentang Kiyoshi. Tapi itu tidak penting lagi. Junpei melihat mereka berpelukan. Terlepas itu kebahagiaan untuk satu tim atau bukan, mereka berpelukan.

Air mata Junpei mengalir. Awalnya ia yakin itu karena rasa senang luar biasa—dan seluruh anggota timnya menangis juga, kok. Tapi air matanya yang sekarang terasa berbeda.

Hatinya tercabik. Ini bukan pengkhianatan siapa-siapa. Kiyoshi memang bukan temannya, dan Riko bebas menyukai siapa pun. Dari awal, ini bukan kompetisi antara dia dan Kiyoshi. Sejak semula, Riko memang bukan miliknya, jadi harusnya tidak masalah.

Dilihatnya Kiyoshi membisikkan sesuatu pada Si Pelatih, lalu wajah gadis itu bersemu merah. Tangan Riko meremas sebentar tangan besar Kiyoshi, lalu meninggalkan pemuda itu untuk menghampiri Junpei.

Riko berbisik pada kapten timnya, "anu, Hyuuga-kun, setelah semua selesai, antar aku pulang, ya?"

Junpei tersenyum miris dan mengangguk pelan.

Iya, iya, aku tahu, kamu balikan dengan Kiyoshi, kan?

.


.

(Chapter 2 adalah bagian Teppei)
(Alurnya berlanjut ke bagian Riko)

.


.

A/N: Fanfiksi ini sangat terinspirasi dari pernyataan Sang Mangaka tentang Riko dan Kiyoshi pernah pacaran (makanya mereka manggil satu sama lain dengan nama kecil), padahal sebelum baca trivia itu Fei sudah sangat nge-ship Riko dengan Hyuuga dari awal kemunculan mereka. Dari bulan lalu udah kepikiran ngetik ini, tapi baru kesampaian sekarang, lalu memutuskan baru diunggah ketika kapten Seirin kesayangan Fei ini ulangtahun.

Gak bakal hiatusin fict ini, karena sekali unggah langsung sampai tamat kok.

BTW KENAPA TAKAO DAN HYUUGA SAMA SEKALI GAK MAIN SAAT GABUNG VORPAL SWORDS? /cukupfei

Review?