Disclaimer: Kuroko no Basuke dikarang oleh Tadatoshi Fujimaki, Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: three-shot karena memang keahlian Hyuuga (itu three point shot, Fei). Semi canon. Kiyoshi x Riko, Junpei x Riko.

.


.

Bukan Kompetisi
Bagian Teppei

by Fei Mei

.


.

Ketika mengangkat gadis itu, Teppei tidak punya maksud terselubung. Maksudnya, Tim Seirin menang, dengan sangat susah payah, dengan perjuangan luar biasa. Ia dan timnya menang, jadi ia dengan reflek mengangkat Riko saking bahagianya saat gadis itu menghampiri mereka. Seluruh anggota timnya juga bahagia, tapi ini terasa beda untuk Teppei yang kakinya tidak se-fit anggota lainnya, dan orang yang paling membuatnya berhasil untuk bertahan sampai akhir, ya, Aida Riko ini.

Ia bukan ingin mengisengi Hyuuga, seperti membuatnya cemburu. Bukan begitu. Atau membuat Pelatihnya salah tingkah, tidak bakal. Teppei tertawa bahagia dan mengangkat Riko itu murni karena timnya menang.

Dari awal, memang Teppei hanya fokus untuk menang dalam basket. Untuk hati Riko, itu hanya keberuntungan dari keteguhan hatinya. Teppei pun bukan ingin merebut gadis itu dari Hyuuga yang ia tahu teman masa kecilnya.

.

"Riko, kamu panggil Hyuuga dengan marganya?" tanya Teppei ketika mereka habis makan burger.

Gadis itu mengangguk. "Iya, sama seperti aku memanggil anggota tim yang lain."

"Tapi dia kan, teman masa kecilmu. Kupikir kau akan memanggilnya Junpei-kun, begitu."

Riko mengangkat bahu. "Kami sudah bukan anak kecil lagi. Kalau aku memanggilnya dengan nama depan, bisa-bisa orang bergosip yang aneh-aneh."

"Kalau aku? Kamu mau saja panggil nama depanku?"

"Yah, kan kita berpacaran. Dan lagi, kamu juga kan, yang minta aku panggil kamu 'Teppei'?"

"Dan Hyuuga? Dia panggil kamu dengan marga juga, begitu?"

Riko terdiam. Gadis itu tampak berpikir sejenak. Teppei selalu suka melihat tampang siswi yang baru beberapa minggu ini dikenalnya jika gadis itu sedang berpikir serius.

"Dulu dia memanggilku dengan nama depan, sih … "

"Sekarang?"

"Pelatih."

"Dan sebelum kau melatih kami, dia panggil kamu apa?"

" … 'kamu'. Dia hanya memanggilku 'kamu'."

.


Teppei serba salah. Dia suka berinteraksi dan jalan dengan pacarnya, tapi semua tidak terasa kencan, biasa saja. Teppei mengajaknya belanja, tapi Riko bukan gadis feminim sama sekali, sehingga dia akan pergi ke toko olahraga. Atau ia berusaha saling mengenal satu sama lain dengan tanya-tanya latar belakang, tapi pacarnya akan menyelipkan nama sang teman masa kecil dalam ceritanya. Pemuda ini merasa wajar, karena ia pun tahu Hyuuga dan Riko memang tumbuh besar bersama-sama, jadi sudah pasti mereka berbagi banyak memori bersama walau tidak disengaja.

Masalahnya, Teppei resmi menjadi pacar Riko, dan kekasihnya pasti sesekali menyebut nama Hyuuga. Awalnya Teppei merasa santai, toh, Riko dan Hyuuga juga tampak tidak akrab, seakan 'teman masa kecil' memang hanya status semata.

Tapi lama-lama Teppei tidak senang. Kau memang harus mendahulukan temanmu dibanding pacar. Namun, jika sedang hanya berdua saja, ia ingin diprioritaskan Riko.

.

"Jadi … tidak ada masalah antara kau dan aku, kan?" tanya Teppei pada Si Kapten.

"Aku sudah bilang. Aku benci kamu. Dan ini tidak ada hubungannya dengan status pacaran kalian," dengus Hyuuga.

Teppei tidak puas melihat ekspresi teman Riko itu. "Memangnya kamu tidak punya perasaan padanya?"

Hyuuga mendecak sebal. "Punya rasa padanya atau tidak, dia pacaran denganmu sekarang. Aduh, tipemu itu aneh, Kiyoshi. Ri—Pelatih kita itu tidak punya daya tarik sebagai perempuan sama sekali, kamu suka? Tidak bisa masak, kasar, tomboy—"

Pacar Riko termangu. Jika ia tidak salah dengar, Hyuuga nyaris menyebut nama 'Riko'.

"—dan ayahnya—tunggu, kuyakin dia belum mengenalkanmu pada ayahnya. Ayahnya menyeramkan, dan dia akan menyiksamu jika tahu putrinya pacaran dengan seseorang."

Pemuda berkacamata itu terus mengoceh, ia tidak sadar bahwa Teppei tersenyum kecil mendengar semua omongannya.

Kapten tim basket Seirin ini … dia memang menyukai Riko.

.


Teppei tidak mau menyerah tentang Riko. Satu sisi, dirinya tahu Riko peduli padanya. Setidaknya gadis itu tidak membencinya, tapi Teppei berharap suatu saat Si Pelatih akan bisa menyukainya lebih dari sekadar rekan satu tim. Sisi lain, ia juga tidak buta—ia tahu Riko sayang Hyuuga. Entah sayang seperti rasa suka atau bukan, tapi Teppei tahu rasa sayang Riko padanya beda dengan pada Hyuuga.

Berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya permulaan, bahwa lambat laun Riko akan lebih memilihnya. Tapi semakin Teppei berusaha, semakin sering ia merasa pedih pada hatinya tiap kali pacarnya menyebut Si Kapten.

Seakan, dari awal, ini hanya status. Tapi tentang perasaan, Hyuuga mendapatkannya dari Riko lebih banyak.

Sejak semula, Riko menganggap hubungan spesial ini sebagai angin lalu. Memang mereka berpacaran beberapa minggu setelah saling kenal, tapi Teppei ingin mereka langgeng. Masalahnya, Riko tampak acuh.

Aku ingin dinotis Riko lebih lagi, pikir Teppei. Menjadi Ace di timnya tidaklah cukup, karena ia tahu dirinya bukan Hyuuga Junpei.

.

Riko mengerjap. "Ap—putus? Kenapa?"

"Habisnya, perasaanku masih bertepuk sebelah tangan, sih," ujar Teppei santai dengan setengah terkekeh, dalam hati miris karena dialah yang mengajak pacaran tapi dia juga yang mengajak putus.

"Hah? Kalau aku menerimamu sebagai pacar, bukankah itu berarti aku suka kamu juga?"

"Sebagai teman, kan?" tebak Teppei sambil tersenyum. "Riko, kamu tidak perlu memaksakan diri berpacaran denganku sebagai rasa terima kasih."

Gadis itu menyerngit, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.

"Koreksi aku jika salah: aku berhasil membuat Hyuuga mau main basket lagi, dan dalam hati kau berterimakasih padaku. Jadi ketika aku menyatakan suka padamu, kamu mau saja pacaran denganku. Bukan begitu?"

Aaaahh, Teppei tidak suka ekspresi bersalah yang ditunjukan Riko saat ini. Sudah perkataannya tepat sasaran, dan ini mengonfirmasi bahwa tebakannya benar. Sakit.

"Tapi! Kupikir, aku akan bisa belajar suka padamu benaran, kok!" sahut Riko. Teppei tersenyum mendengarnya, karena pikirnya gadis itu akan mengiyakan saja tebakannya lalu semua berakhir.

"Aku mau percaya itu," kata Teppei lembut. "Tapi untuk saat ini, kupikir aku harus memenangkan hatimu dulu. Jadi kalau kau benar bisa suka padaku, kita akan berpacaran lagi. Sekarang kau benahi dulu perasaanmu."

"Teppei … maaf aku mengecewakanmu … "

.


Tapi relasi Teppei dengan Riko sama sekali tidak berubah. Yang berubah dari mereka hanyalah status. Keduanya setuju untuk tetap berteman dan bersikap profesional dalam urusan basket. Dan dari awal mereka tidak memberitahu siapa-siapa selain Hyuuga tentang mereka berpacaran, jadi tidak ada bedanya. Tidak ada kecanggungan. Semua berjalan seperti biasanya.

Hati Teppei sangat senang karena Riko tidak memperlakukannya dengan cara berbeda. Ia lega. Lebih lagi karena hubungannya dengan Hyuuga juga tetap sama. Status pacaran Teppei dengan Riko hanya seperti bunga tidur sesaat. Dipikirnya Hyuuga akan lebih bersahabat jika ia putus dari Riko, tapi ternyata Hyuuga tetap membencinya. Hahaha, tawa Teppei dalam hati.

Ketika ia harus istirahat dari klubnya, Teppei merasa sengsara. Ia sempat berpikir bahwa lebih baik Hyuuga yang terbaring di ranjang rumah sakit saat ini daripada dirinya—karena tampaknya rasa suka Hyuuga pada basket tidak sebesar rasa sukanya. Teppei ingin kembali main basket, lebih dari apa pun.

Kesengsaraan Teppei bertambah dan berkurang tiap kali Riko mengiriminya pesan atau menjenguknya. Ia berharap, mungkin Riko akan jadi punya perasaan suka padanya. Tapi ia jadi memikirkan bagaimana hubungan gadis itu dengan Sang Kapten selama dirinya tidak bersama mereka.

Aduuuhh.

.

"Ampun! Sakit, Pelatih!" raung anggota tim Seirin, dikurang lima orang yang tadi pergi untuk main basket jalanan.

"Riko, sudahlah," ujar Teppei, menengahi. "Momoi juga sudah diantar pulang oleh Kuroko juga, kan. Kasihan mereka—itu Hyuuga kamu apain sampai babak belur begitu?"

"Eh?" Riko mengerjap. "Kuhajar sama seperti yang lain, kok!"

Teppei menyerngit. Anggota tim lain hanya mengusap kepala dan perut, sedangkan Hyuuga tampak habis dikeroyok, dan itu semua gara-gara mereka terpesona pada Momoi.

" … Riko, kalau mereka kesakitan begitu, mereka tidak akan bisa latihan dengan maksimal, kan? Sudah, ayo kita pulang."

Teppei masih agak sweatdrop dengan keganasan pelatihnya. Untunglah Riko setuju untuk pulang, walau, mungkin Teppei salah lihat, tapi Riko mendecih pelan saat melirik Hyuuga. Jadi pemuda itu hanya tersenyum sedih melihatnya. Kenapa cewek satu itu tidak mau jujur pada perasaannya sendiri?

.


Riko profesional sebagai seorang pelatih di usia yang sama dengan personil timnya saat ini. Tapi bahkan ketika sedang tidak melatih, gadis itu juga profesional dalam menahan perasaannya. Sama seperti ia bersikap seperti biasa pada mantan pacarnya, Riko juga bersikap sama pada Hyuuga. Teppei jadi kagum sendiri. Dan bertanya-tanya juga.

Sepasang teman semasa kecil itu begitu aneh. Teppei yakin keduanya menyimpan perasaan satu sama lain, tapi kenapa keduanya tidak pernah mau mengakui? Apa salahnya? Apa perlu dicomblangi, begitu?

Teppei butuh kepastian—dia boleh move on atau tidak? Jika memang Riko dan Hyuuga tercipta untuk satu sama lain, maka ia akan mundur dengan senang hati. Bagaimana pun, kedua orang itu termasuk dalam daftar orang berharga bagi Teppei, walau salah satu dari mereka membencinya. Tapi jika keduanya hanya saling sayang sebagai saudara, berarti Teppei masih ada kesempatan untuk menyelip.

Riko bukan milik Hyuuga. Jika Teppei, entah bagaimana caranya, berhasil menarik hati gadis itu, namanya bukan menikung, kan?

.

"—entah kenapa aku merasa lebih tenang kalau melihat wajahmu," ujar Teppei tulus. Ia bisa mendengar suara pekikan kecil Riko, jadi ia terkekeh. "Kamu suka Hyuuga, kan?"

Riko mengerjap. "Apa?"

"Lebih dari sekadar teman masa kecil. Kamu suka Hyuuga?"

"Dia teman yang baik."

"Riko."

" … mungkin aku suka dia. Aku tidak begitu memikirkannya."

Detik itu, walau tahu ia tidak akan menang dari Hyuuga, Teppei bertekad bahwa setidaknya dia harus menang dalam pertandingan basket.

.


Teppei dan Hyuuga hanya rekan tim. Mereka bukan teman. Entah takdir atau apa, keduanya bisa suka pada gadis yang sama. Tapi Hyuuga tampak tidak agresif, seakan menganut prinsip 'yang terjadi ya terjadilah'. Riko tampak menunggu Hyuuga, entah mau sampai kapan. Sedangkan Teppei?

Yah, mau bagaimana lagi.

Ia dan Hyuuga bukan Aomine dan Kagami.

Ia dan Hyuuga bukan berlomba untuk mendapatkan Riko.

Ini bukan kompetisi sama sekali.

Karena sejak awal, tentang Riko, Hyuuga selalu menang.

Jadi Teppei tersenyum. Ini senyum yang berbeda dengan ketika ia bahagia mereka menang dari Rakuzan. Ia menurunkan Riko, tapi sorot matanya tidak melepaskan gadis itu. Sepertinya Riko salah tingkah, tapi itu wajar, Si Pelatih pasti bingung.

'Aku baru sadar, rambutnya sudah dipotong,' pikir Teppei saat ia menunduk ke telinga Riko.

Riko seperti memekik pelan, mungkin terkejut.

"Kurasa, hari ini cukup tepat untuk kau mengaku pada Hyuuga, bukan begitu?" bisik Teppei akhirnya.

Wajah Riko merona, dan Teppei tersenyum lembut. Mungkin ia salah paham, tapi dilihatnya mata Riko seperti siap menangis. Gadis itu meremas pelan tangan mantan pacarnya. Sayangnya, sebelum Teppei membalas remasan itu, Riko sudah beranjak meninggalkannya.

Tidak apa-apa, pikir Teppei. Asal dia bahagia, aku juga akan turut senang.

Mungkin.

.


.

(Alurnya berlanjut ke bagian Riko,
yang sangat pendek)

.


.

A/N: Bagian yang ini malah lebih panjang, padahal rencana awalnya hanya mau tentang Hyuuga. Jadi karena Mangaka bilang Kiyoshi dan Riko pernah pacaran, Fei jadi kepikiran bahwa jangan-jangan Riko mau pacaran dengan Kiyoshi karena rasa terimakasih itu, makanya setelah itu Fei mau masukin dialog itu di bagian Kiyoshi ini.

Review?