The 15th of March
Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto
Pairing : Kiba/Ino
Tidak ada alasan untuk tidak bahagia pada hari itu. Sakura akhirnya menikah dengan pria yang dicintainya selama kurang lebih 4 tahunan ini, dan Ino dengan kejujuran yang terdalam turut merasakan luapan emosi positif itu di seluruh pembuluh darahnya. Pernikahannya sangat meriah, ada banyak tamu undangan, dan dekorasi luar biasa itu membuatnya merasa iri mendadak. Yeah, pastinya itu membuat iri semua orang yang belum pernah merasakan pernikahan menakjubkan seperti itu.
Ino menghela napas panjang, sejenak mengisi paru-parunya dengan udara ketika Hinata tiba-tiba menepuk bahunya. "Astaga, kau membuatku terkejut."
"Ah maaf." Si manis Hyuuga tersenyum, dan memeluk Ino pelan sebelum kembali berucap. "Bagaimana kabarmu, Ino?"
Kabar? Sudah lama sekali seseorang tak menanyakan kabarnya, dan ia mendadak merasa sesuatu dari masa lalunya bergejolak tak tertahankan. "Yeah, seperti yang kau lihat. Tidak banyak yang berubah. Kau sendiri bagaimana?"
Ditanya begitu, senyum Hinata tampak makin lebar seolah bakal menyatu dengan telinganya. "Well, cukup baik." Sekilas ia menatap ke arah Sakura dan Sasuke yang tampak bahagia dan tengah menyambut para tamu, lalu tatapannya kembali ke arah Ino. "Ku lihat kau tambah cantik."
Tidak bermaksud sombong, tapi si pirang itu cukup tersanjung. "Uhm terimakasih, kau datang kesini sendirian Hinata?"
"Tidak. Aku bersama Naruto." Tangannya menunjuk pada sekumpulan pria di ujung lain meja, terlibat dalam perbincangan ringan yang menyenangkan dan tawa mereka menggambarkan kebahagiaan.
Ino menduga jika Naruto adalah pacar Hinata. Pria itu cukup tampan dengan rambut pirang pendek dan wajah ramah penuh senyum. Yah, bocah itu kelihatan cocok dengan si gadis Hyuuga. Namun, ketika penglihatannya bergeser pada pria berambut coklat di sebelah Naruto, jantung Ino seolah melompat dari rongganya. Tidak mungkin, tidak mungkin pria itu ada disini.
"Ino, kau tidak apa-apa?"
Yamanaka tidak benar-benar yakin jika dia tidak apa-apa. Karena nyatanya, jutaan emosi seolah mengaduk-aduk hati dan pikirannya. Demi Tuhan, kenapa bajingan itu ada disini?
Ino berusaha keras menyibukkan diri berbicara dengan Bibi Haruno. Bersikeras menghindar dari kumpulan tamu-tamu Sakura. Meski Hinata berkali-kali mengajaknya bergabung dengan kerumunan, ia bersikeras tetap di tempat para orang tua dan membicarakan beberapa hal yang tampaknya membosankan.
Lalu, ketika ia tidak sengaja menatap ke arah Naruto dengan tawa kerasnya yang menjengkelkan, mata sewarna karamel itu melihat ke arahnya. Ekspresinya tak bisa dijelaskan, seperti campuran keterkejutan dan keberuntungan. Demi Tuhan, Yamanaka ingin lari dari sana. Tapi rasanya, kakinya tak bisa diajak kompromi. Jadi dia tetap berdiri di tempat dan hanya memalingkan muka untuk menghindari tatapan tajam pria itu.
Luka-luka lama kembali berpendar dalam dadanya, kalau saja ini bukan tempat umum, mungkin dia sudah menangis. Tapi ayolah, delapan tahun telah berlalu apakah pria itu lupa? Tapi dari caranya menatap, seolah keinginan untuk minta maaf terlihat begitu pekat.
Sudah nyaris pukul 10 malam, dan Ino mulai lelah menunggu bis di halte dekat rumah Sakura. Astaga, ia tidak mungkin pulang sangat larut. Bagaimana dengan seseorang yang menunggunya di rumah? Beberapa kali ia mengecek arloji, dan nyaris mengambil langkah ketika sebuah mobil putih berhenti di dekatnya.
"Butuh tumpangan?"
Ino yakin ekspresi terkejutnya pasti tidak bisa disembunyikan. Di dalam sana, Kiba tampak menunjukkan senyum paling menawan yang dulu begitu ia kagumi. Ya Tuhan, dia semakin tampan. "Tidak, terima kasih."
"Ayolah, apa salahnya menerima tawaranku?" Dia menghela napas pelan. "Dan kurasa bis tidak akan datang dalam waktu dekat."
Tentu saja salah. Rasanya Ino ingin memukuli kepala pria itu, dan menangis keras sekali di sana. Bagaimana dia bisa bersikap sesantai itu setelah apa yang dia lakukan 7 tahun lalu? Tidakkah dia merasa bersalah atau setidaknya merasa bahwa dia perlu untuk minta maaf? "Tidak, terima kasih." Ia tetap mempertahankan eskpresi datarnya. "Pulang saja duluan."
"Tidak, aku tidak akan pulang sampai kau mau ikut denganku."
"Sayangnya aku tidak ingin ikut denganmu."
Pria itu terkekeh pelan, matanya menyiratkan perhatian konyol melihat ego wanita itu yang masih terlampaui tinggi. "Aku bisa menunggu."
Ino mendecak. Ugh sialan.
Entah bagaimana awalnya ia bisa setuju dengan tawaran Inuzuka untuk pulang bersama. Tapi disinilah Ino berada, di dalam mobil mewah pria itu dan membiarkan rasa canggung mengisi tiap celah udara di sekitar mereka. Rasanya aneh, dan melihat Kiba dalam jarak sedekat ini membuat perasaannya campur aduk. Ia tidak benar-benar tahu perasaan mana yang paling dominan. Benci? Cinta? Rindu? Atau marah?
"Ehm, bagaimana kabarmu?" Kiba memulai pembicaraan, sepenuhnya jengah dengan suasana tak nyaman diantara mereka. Dan ketika ia tidak sengaja menatap paha Ino yang sedikit tersingkap, ia menelan ludah sembari bertanya-tanya, masihkah itu semulus dulu?
"Menurutmu?" Si pirang menghela napas, menyibukkan matanya menatap jalanan ramai di depannya agar tidak perlu melihat mata lawan bicaranya. Asal kau tahu, aku tidak pernah baik-baik saja setelah kau kabur hari itu.
"Kurasa keadaanmu jauh lebih baik." Pria itu bergumam pelan.
Ino ingin mengumpat disana, menampar wajah Kiba dan memberitahunya bahwa gagasanya adalah hal paling konyol yang pernah ia dengar. Tapi ia masih bisa menahan diri dan menelan kembali air matanya yang sempat menggantung, ia menghela napas dan berusaha keras menyunggingkan senyum. "Yeah, hidupku luar biasa sempurna setelah kau pergi. Dan seharusnya kau tak perlu muncul lagi di hadapanku."
Di masa remaja, wanita itu cukup cengeng, agak manja dan sikapnya jauh berbeda dari Ino yang dilihatnya hari ini. Kiba tersenyum simpul sebelum berucap. "Aku minta maaf."
"Lupakan, aku tidak mau mendengar omong kosongmu." Wanita itu menarik napas dalam-dalam, merasakan matanya kembali perih. Namun ia tidak akan semudah itu tampak lemah di hadapan orang yang paling dibencinya ini. "Anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya, dan tidak ada yang pernah terjadi diantara kita." Sulit untuk mengatakan dirinya baik-baik saja, tapi ia harap semua sebaik ekspektasinya.
"Kau harus mendengarkanku--"
"Simpan penjelasanmu untuk dirimu sendiri." Ino mendengus, merasa luar biasa lega melihat rumah kecilnya teelihat dari kejauhan. Astaga ia mendadak menyesal menunjukkan pada Kiba bahwa disanalah ia tinggal. Bagaimana jika pria itu akan datang menemuinya lagi? Bagaimana jika...
Helaan napas Kiba terdengar berat, ketika ia hendak berucap, Ino mendahuluinya.
"Sudah, aku turun disini saja."
Kiba menghentikan mobilnya secara spontan, meski ekspresinya dipenuhi rasa heran yang tak berkesudahan.
Ino tidak menunggu Kiba untuk membukakan pintu atau membiarkannya melontarkan pertanyaan yang mana rumahnya? Namun panggilan familiar dari gerbang rumah mungilnya membuat napasnya seolah tercekat. Oh tidak! Jangan muncul sekarang.
"Mama." Bocah kecil itu berlari padanya, jelas Kiba melihat adegan itu dan Ino rasanya ingin menyembunyikan diri dalam gua atau tempat mana pun yang membebaskannya dari penglihatan pria Inuzuka itu.
"Kau belum tidur Sayang?" Pandangannya teralih pada sepasang suami istri Nara di gerbang rumah mereka, keduanya seolah lega melihat bocah itu berada di pelukan sang ibu. "Oh, hei. Aku minta maaf karena merepotkan kalian terlalu lama."
"Oke, tidak masalah. Jangan sungkan-sungkan kalau memang butuh bantuan." Ujar Temari. Mereka berdua melirik ke arah mobil yang berhenti tidak jauh dari rumah Ino. Saling mengedikkan bahu dan berpikir bahwa itu mungkin salah satu teman si pirang. "Kalau begitu, kami masuk dulu. Shikadai sendirian di rumah." Setelah melambai pelan, dia berjalan memasuki gerbang rumahnya.
"Yeah, selamat malam Ino." Shikamaru bergumam pelan. Tanpa menunggu ucapan yang sama dari lawan bicaranya, dia mengikuti istrinya masuk ke dalan rumah.
Didorong oleh rasa penasarannya yang pekat, Kiba turun dari mobil. Dengan was-was dan jantung berdebar, dia berjalan ke arah Ino. Melihat dengan jelas bocah di pelukannya. "Apa--"
"Terima kasih Kiba. Kurasa ini sudah terlalu malam, jadi aku tidak bisa menyuruhmu untuk tetap tinggal. Orang-orang akan berpikiran buruk nanti." Si pirang memotong cepat kalimat yang hampir dilontarkan pria itu. "Oke selamat malam."
"Ino."
Seolah acuh dan membiarkan mata putranya bertanya-tanya, Ino menuntun bocah itu masuk ke dalam gerbang. "Ayo Sayang. Sudah malam, kau harus tidur."
Pintu gerbang rumah Ino ditutup, dan Kiba masih mematung di tempat. Semua kemungkinan berputar di benaknya. Tidak mungkin Ino menikah lagi kan? Status wanita itu masih sebagai istrinya hingga detik ini. Lalu soal bocah itu, apakah dia anaknya?
Semalaman itu, Kiba nyaris tak bisa tidur karena memikirkannya. Ia tidak sabar menunggu pagi untuk mengetahui kebenarannya, sekaligus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi selama 7 tahun itu.
Selain pulang kerja dan menghabiskan waktu membaca setumpuk buku tentang anatomi tubuh manusia, ada kebiasaan baru yang sering Kiba lakukan sekarang, yaitu memata-matai tempat tinggal Ino. Untuk beberapa waktu yang lama ia tak berani muncul lagi di hadapan wanita itu, berpikir bahwa suami Ino bakal memergokinya, lalu salah paham dan berakhir mengadilinya secara sepihak. Namun, berapa kali pun dia melihat Ino bersama putranya, ia tak pernah melibatkan peran ayah disana. Ya Tuhan, apa anak itu anaknya?
Jika diperhatikan secara seksama, ia bisa mengenali warna rambut coklat bocah kecil itu sebagai warna rambutnya. Tapi mata biru Ino melekat disana, serta kulit putihnya terlalu menonjol. Hanya ada satu hal yang harus dilakukan, ia harus memastikannya secara langsung.
"Ino bilang suaminya meninggalkannya ketika dia masih mengandung Yuta. Entahlah, aku tidak tahu pasti. Kami belum bertetangga waktu itu." Shikamaru menghela napas pelan, mengamati lalu lalang orang di jalanan depan mereka. "Kemungkinan besar suaminya tidak tahu kalau Ino hamil."
Sore itu ketika pulang dari shift paginya di rumah sakit, Kiba memutuskan pergi ke sebuah minimarket untuk membeli minuman dingin. Dan merasa keberuntungan tengah berpihak padanya ketika mendapati tetangga Ino berada disana, tengah memilih beberapa roti dan makanan ringan. Maka selain untuk tujuan beramah tamah, ia mengajukan beberapa pertanyaan mengenai Ino dengan beralasan bahwa ia adalah teman semasa SMA-nya. "Begitu? Dia tidak menikah lagi?"
Shikamaru mengerjap, tak begitu yakin jika berbincang dengan teman lama tetangganya di depan minimarket adalah pilihan yang bagus. "Tidak." Matanya mengerling Kiba sejenak, agak heran dengan keingin tahuannya yang begitu berlebihan. "Yeah, sebenarnya ada banyak pria yang berusaha mendekatinya, tapi Ino selalu bilang tak siap untuk menikah lagi. Mungkin ada sejenis trauma dari masa lalunya, yang membuatnya sulit percaya pada pria manapun."
Inuzuka terdiam, mengulang kalimat Shikamaru beberapa kali di otaknya 'mungkin ada trauma dari masa lalunya yang membuatnya sulit percaya pada pria manapun'. Mungkinkah itu karena perbuatannya? Apakah ia yang menyebabkan Ino jadi begitu? "Dia jadi wanita yang hebat sekarang, tidak selemah terakhir kali kulihat."
"Itu diluarnya saja. Dia tetap wanita cengeng yang berusaha terlihat tegar di depan putranya." Lagi-lagi pria Nara itu menghela napas. "Ino yang malang."
Tak ada komentar yang ingin ia lontarkan, penjelasan Shikamaru sudah lebih dari cukup untuk membuatnya paham beberapa hal mengenai Ino. Yuta adalah putranya, putra kandungnya. "Terima kasih banyak sudah mau berbincang denganku." Kiba memasukkan sebelah tangannya ke saku celana, sementara air mineral dingin di tangan kanannya terlupakan begitu saja.
"Yeah, tidak masalah." Dia mengangguk.
"Mau pulang bareng?"
"Aku bawa motor." Shikamaru menunjuk motornya yang terparkir di halaman minimarket.
"Oh, baiklah. Kalau begitu sampai jumpa lain waktu." Kiba mengulas senyum tipis sebelum berjalan menuju mobilnya.
Selama mobil itu meninggalkan pelataran minimarket, Shikamaru masih mematung di tempatnya. Otaknya mulai menyusun suatu argumen, dan dari argumen itu ia mendapat kesimpulan bahwa Yuta adalah potret kecil Kiba dengan iris mata biru. Apa ini memang benar?
Setelah satu minggu pengintaian, Kiba akhirnya tahu dimana Ino bekerja. Setiap kali ia mendapat bagian shift sore di rumah sakit, ia akan menyempatkan diri melewati tempat kerja Ino dan mendapati wanita itu pergi dengan terburu-buru untuk menjemput putranya.
Maka suatu hari, ketika shift paginya berakhir lebih cepat, Kiba menuju SD tempat Yuta belajar. Berharap bisa berbincang dengan bocah itu, atau paling tidak ia bisa bertemu saja sudah lebih dari cukup.
Saat mobilnya berhenti di sebelah gerbang sekolah dasar, ia turun. Pria Inuzuka itu seolah melihat dirinya dalam versi lebih kecil dengan iris mata biru. Demi Tuhan, ia tak mampu menghentikan luapan kebahagiaan ketika bocah itu tak sengaja mengarahkan pandangan padanya lalu tersenyum. Senyuman yang bakal terkenang kuat dalam ingatan Kiba, karena entah bagaimana kelegaan yang tak bisa dijelaskan memenuhi rongga dadanya.
"Yuta kan?"
Bocah itu mengangguk. Dari jarak dekat, kentara sekali wajah ramahnya dan senyum masa remaja Ino terselip dalam wajah anak itu. "Sepertinya aku mengenal paman." Dia berpikir sebentar, sebelum menunjukkan binar mata yang menyejukkan. "Temannya Mama kan? Aku ingat malam itu paman mengantarkan Mama pulang."
'Temannya Mama'. Kiba tersenyum kecut, kalau saja ia tak pergi waktu itu mungkin bocah ini bakal memanggilnya ayah. Panggilan yang seolah membuatnya tampak tua dalam sekejap. "Yeah, kau mengingatku ternyata." Ia mengamati sekitar, dan tak mendapati anak sesusia Yuta di sana. Mereka sudah pulang semua. "Jam berapa biasanya Mamamu menjemput?"
Yuta berpikir sebentar. "Aku tidak yakin, mungkin setengah jam lagi." Jawabnya agak ragu.
Inuzuka tersenyum, meraih kepala coklat itu dan mengelusnya pelan. Entah apa yang diajarkan Ino pada anak itu, tapi cara bicaranya sungguh menakjubkan. "Mau paman antar pulang?" Lidahnya seperti terpelintir ketika menyebutkan nama paman. Sungguh ironi.
Bocah itu mengerjap, seolah mempertimbangkan tawaran Kiba dengan seksama. "Asalkan paman janji untuk menghubungi Mama, supaya dia tidak khawatir."
"Oke, deal." Kiba agak terkejut dengan ucapannya sendiri, karena sejujurnya ia tak punya nomor Ino. Namun, senyum senang bocah itu mengaburkan rasa bersalah atas kebohongannya.
"Asyik..." Yuta tak mampu menyembunyikan kegembiraannya ketika memasuki mobil mewah Kiba. Yeah, entah bagaimana mobil ini tampak begitu luar biasa baginya.
Ponselnya berbunyi nyaring tepat ketika lampu merah di perempatan menyala. Kiba menganggkatnya dengan santai, dan mendapati suara Naruto begitu nyaring di gendang telinganya.
"Kiba, kau bisa menolongku mengantarkan metformin untuk nenek kan? Aku lupa mengantarkan obatnya tadi dan aku tidak mungkin ijin meninggalkan rumah sakit." Suaranya terdengar panik, seolah itu hal paling mengkhawatirkan di dunia. "Sekarang datanglah ke rumah sakit."
"Oke, tunggu 60 menit lagi." Kiba mengerling Yuta di sebelahnya yang sedari tadi tersenyum mentapa pemandangan sekitar.
"60 menit, yang benar saja. Sebantar lagi nenek harus minum obat. Ayolah Kiba."
Nada suara Natuto begitu memaksa, dan Kiba yakin ponselnya tidak akan berhenti berbunyi jika ia menolak permintaan itu. Ia agak bimbang, pasalnya ia harus mengantarkan Yuta pulang sebelum malam. Tapi mengabaikan permintaan sahabatnya itu juga tidak terdengar baik. "Sebentar, aku harus bicara dengan seseorang."
"Oke, jangan lama-lama."
Kiba menjauhkan ponsel dari telinganya, mengarahkan pandangan pada bocah di sebelahnya. "Yuta, kau tidak keberatan kan jika kita mampir dulu ke rumah sakit. Ada sesuatu yang harus paman ambil disana."
"Uhm, tidak masalah." Anak itu mengangguk mantap.
Dan ketika lampu berubah kuning, Kiba menyempatkan mengiyakan permintaan Naruto.
Matahari sepenuhnya tenggelam ketika Kiba memacu mobilnya meninggalkan halaman rumah nenek Naruto. Ia sempat mengajak Yuta untuk pergi ke sebuah rumah makan dan menyuruh bocah itu memilih makanan apapun yang dia sukai. Yuta terlihat begitu senang dan antusias, seolah hal semacam itu jarang sekali terjadi dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya setelah kejadian menyedihkan 7 tahun lalu, Kiba menemukan lagi apa itu artinya bahagia. Ia senang melihat senyum Yuta, binar matanya, dan kalimatnya yang tegas namun sopan.
"Makan yang banyak ya." Tangannya nyaris selalu ingin mengelus kepala bocah itu. Tak ada jawaban dari Yuta yang tengah makan dengan lahap, dia hanya tersenyum sekilas.
Usai dari rumah makan, mereka segera melanjutkan perjalanan untuk mengantar Yuta pulang. Berharap ini adalah awal yang bagus untuk memperbaiki hubungannya dengan Ino.
"Mama..."
Ino terkejut ketika mendapati putranya keluar dari mobil Kiba. Bocah itu memasang ekspresi heran ketika mendapatinya menangis di teras rumah. "Astaga, Yuta." Tak mampu menahan keharuan yang besarnya tak bisa diperkirakan, ia berlari ke arah anak itu. Memeluknya erat-erat sembari berusaha keras menahan tangisnya. "Ya Tuhan, Sayang, mama mencarimu. Kau dari mana saja? Kenapa tidak menunggu mama datang?"
"Aku tadi berniat mengantarkannya pulang." Inuzuka diam sejenak ketika tatapan Ino beralih padanya, iris mata birunya dipenuhi kemarahan yang begitu jelas. Bahkan ketika wanita itu bangkit dari posisi jongkoknya, Kiba masih tak mampu melanjutkan kalimatnya.
'Plak'
"Keterlaluan." Mata wanita pirang itu sembap, namun tatapannya begitu tajam seolah mampu merobek udara di sekitar mereka. "Dengar, jangan sekali-kali membawa anakku pergi. Kau tidak berhak untuk itu."
Kiba mematung. Sakit dari tamparan itu memang tidak seberapa, namun kalimat Ino membuat hatinya patah. Sebenci itukah Ino padanya? "Aku tidak bermaksud membawanya pergi, hanya ingin me--"
"Peduli apa kau? Seharusnya kau tidak perlu muncul lagi di hadapanku." Air matanya merebak kembali. Dan lilitan panas di dadanya seperti menjalari setiap sel tubuh, namun sebelum tangisnya pecah ia menghela napas panjang, tak ingin bocah kesayangannya melihat tangisannya.
"Ma... jangan marah-marah. Paman Kiba bukan orang jahat. Lihat, aku masih baik-baik saja kan?" Putra enam tahunnya menarik tangannya, berusaha menarik perhatian untuk menghentikan kemarahan sang ibu.
"Yuta, Sayang. Dengarkan mama. Jangan pernah bergaul lagi dengan orang ini."
"Tapi Ma--."
"Dia bukan orang baik."
Jantung Kiba rasanya jatuh ke dasar perutnya. Bukan orang baik, di mata Ino ia bukan orang baik. Kalimat itu begitu menyakitkan di telinganya, namun ia tak bisa menyangkal. Hanya saja, Ino harus tahu alasan yang sebenarnya sebelum menghakiminya seperti ini. "Ino--"
"Ayo Sayang kita masuk." Wanita itu menarik tangan putranya untuk memasuki gerbang rumah.
"Ma, apa paman Kiba tidak dipersilahkan masuk--"
"Ini sudah malam, tidak baik menerima tamu asing malam-malam begini." Gerbang ditutup, meninggalkan Kiba yang masih mematung di depan gerbang.
Inuzuka bisa melihat dengan jelas ekspresi tak rela dari Yuta, tapi nampaknya anak itu berusaha menghormati tindakan ibunya meski jelas-jelas bertentangan dengan keinginannya.
Ino membencinya, dan kenyataan itu membuat dunianya mendadak kosong.
tbc
~Lin
09 Januari 2020
