The 15th of March

Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto

Pairing : Kiba/Ino


"Ma..."

Ino menutup buku dongeng yang baru saja ia baca sebagai pengantar tidur putranya. Dan menurunkan pandangan untuk merespon panggilan bocah itu. "Ya Sayang?"

"Sebenarnya Paman Kiba salah apa? Kenapa aku tidak boleh bertemu Paman Kiba? Padahal dia orang yang baik. Dia juga pernah mengantarkan Mama pulang kan?"iris birunya mnegerjap, tanda tanya seolah berputar-putar di sekitar matanya.

Wanita itu menahan napas, menggigit bibirnya pelan. Karena demi Tuhan, tiap kali nama itu didengungkan, kenangan pahit masa lalunya kembali terekspos dalam otaknya. "Dia bukan orang baik Sayang."

"Itu saja?"

Sejujurnya ia tak mengerti ketika bocah kecil itu seolah tak paham dengan kalimatnya. Anak itu seperti berusaha menyangkal, dan yakin jika Kiba itu orang baik. "Yeah, dia memang orang jahat."

"Aku ingin dengar contohnya, kenapa Paman Kiba tidak baik?"

Gertak panas mulai menyebar di matanya. Ino ingin menyudahi percakapan itu, andai ia bisa. Namun, satu-satunya cara agar ia tetap terlihat baik-baik saja adalah tidak lari dari hadapan putranya dan memberikan jawaban yang masuk akal. "Membawa pergi anak orang tanpa seijin orang tuanya, apa itu tindakan baik?"

"Ma..."

"Dengar Yuta, intinya Mama tidak suka kau bergaul dengan orang itu. Pokoknya tidak boleh." Dia menarik napas, mengerjapkan matanya secara cepat selama beberapa detik sebelum mendapatkan keberaniannya untuk kembali bicara. "Kau mengerti maksud Mama kan?"

Bocah itu mengangguk takut-takut. Ia menyadari aura kesal sang ibu, dan berpikir untuk tak mendebatnya. "Selamat malam Ma."

Ino mengangguk, mengelus rambut putranya yang mulai terlelap. "Mama tidak bermaksud marah padamu Sayang. Ini demi kebaikanmu." Ia yakin jika Yuta belum sepenuhnya terlelap, namun ketika bocah itu tak lagi menjawab ucapannya, ia tahu jika anak itu merasa kesal.


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan orang bernama Kiba itu?" Shikamaru mendekati Ino yang tengah memangkasi semak mawar yang sudah mulai rimbun di halaman.

Wanita pirang itu shock dengan pertanyaan si tetangga, bagaimana mungkin Shikamaru tiba-tiba mendekatinya dan bertanya demikian. "Darimana kau tahu namanya?" Dia menatap intens si lawan bicara.

Pria Nara itu sudah mendapati gelagat tak nyaman dari Ino, dan berpikir dugaannya mungkin saja benar. "Aku tidak sengaja bertemu dengannya, dan dia mengaku sebagai teman SMA-mu. Tapi kupikir dia adalah potret kecil Yuta, ini hanya dugaan."

Matanya sempat melebar sesaat, namun Ino menutupinya dengan tawa pelan yang terdengar aneh. "Kau mengada-ada."

"Ino, aku serius." Pria itu menghela napas. "Setidaknya, jelaskan sesuatu padaku, barangkali aku dan Temari bisa membantu."

"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Shika. Dan terima kasih untuk semua bantuan kalian." Si pirang menghela napas, menghentikan kegiatannya lalu menatap ke arah Shikamaru. "Percayalah, tidak ada apa-apa."

"Ekspresimu mengkhianati ucapanmu." Temari muncul dengan wajah sendu bercampur sorot tanya di matanya. "Aku sempat melihat pertengakaran kalian di halaman kemarin. Kau tidak memperbolehkan pria itu bertemu Yuta. Itu membuatku bertanya-tanya, Ino. Padahal biasanya kau begitu ramah dengan teman lamamu."

Semua kalimat yang dilontarkan suami-istri Nara memukulnya telak. Seluruh hal menyakitkan dari masa lalu berputar-putar di benaknya. Dan demi menutupi air mata yang nyaris tumpah, ia berusaha berkedip dengan cepat.

"Kami tahu kau sebenarnya tidak mampu menahan beban ini sendirian. Beri tahu kami, mungkin kami bisa membantu." Tangan Temari menyentuh pundaknya, memeluknya. Memberikan kenyamanan yang pastinya begitu dibutuhkan oleh si tetangga.

Wanita pirang itu bimbang, selama 7 tahun, yang tahu kebenaran ini hanya Sakura. Dan ia sepenuhnya menyalahkan tindakan Kiba yang kembali muncul di kehidupannya. Apa sih maunya pria itu? Menghancurkan hidupnya yang mulai tenang ini? "Aku tidak bisa bercerita banyak pada kalian. Tapi jika kalian memang ingin tahu kebenarannya, akan ku jawab 'ya'. Kiba adalah ayah Yuta, tapi kumohon rahasiakan ini dari Yuta. Aku tidak ingin dia tahu soal ini."

"Tapi kenapa?"

"Belum saatnya."


Selama menjadi rekan kerja Inuzuka, Naruto tak pernah melihat senyum tulus pria itu. Heran saja, karena pria berambut coklat yang notabene pendiam itu nyaris pelit senyum. Barangkali saja Kiba tengah berbalas pesan dengan kekasih misteriusnya. Didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, Naruto berhenti mengunyah makan siangnya hanya untuk mengintip isi layar ponsel rekannya.

"Uhm Man, itu anak yang bersamamu beberapa hari lalu kan?" Agak kecewa karena dugaannya salah, si pirang kembali meraih sushi-nya. Dan menatap si lawan bicara dengan ekspresi tak berminat.

"Ya."

Tapi yang aneh, kenapa Kiba seperti bahagia sekali melihat foto itu? "Siapa dia? Keponakanmu?"

Naruto jelas tahu jika Kiba memiliki keponakan laki-laki, tapi yang tidak diketahuinya adalah usia dan wajah dari si keponakan. "Bukan."

"Sepupu?"

"Bukan juga." Aneh sekali, kenapa Naruto mengira Yuta adalah sepupunya?

"Lalu?" Reflek keningnya mengernyit. Meski tak sepenuhnya tertarik dengan topik pembicaraan mereka Naruto tetap saja menduga-duga dalam benaknya.

"Kau bakal percaya atau tidak jika ku bilang dia anakku?" Dengan mimik tenang, kalimat itu terlontar begitu santai seolah lawan bicaranya tak akan terkejut berlebihan.

Naruto nyaris tersedak, dan ia buru-buru meraih botol air mineralnya. "Ah, yang benar? Kau tidak bohong?" Ketika mendapati gelengan dari si lawan bicara, keningnya kembali berkerut. "Hei, kau pernah menghamili seseorang? Astaga Man, kau belum menikah kan?"

Ia sudah menduga semua bakal seperti ini. Sudah cukup 7 tahun ia menyembunyikan kenyataan bahwa ia sudah menikah, dan ini adalah saat yang tepat untuk jujur baik pada diri sendiri maupun orang lain. "Aku tahu kau tak akan percaya ini. Tapi aku sudah pernah menikah, tepatnya 7 tahun lalu."

"Kau bercanda?"

Sekali lagi Kiba menggeleng, kembali memperhatikan foto Yuta yang sengaja ia ambil ketika bocah itu tengah makan. "Andai aku bisa mengiyakannya. Namun realitanya, anakku sudah sebesar ini." Entah kenapa ia begitu yakin jika Yuta memang putranya, meskipun terakhir ia bersama Ino dulu wanita itu belum menunjukkan tanda-tanda kehamilannya.

"Kau tidak pernah memberi tahuku jika kau pernah menikah. Apa kau dan istrimu sudah bercerai? Tapi astaga Bro, usiamu baru 25 tahun, dan anakmu sudah sebesar itu. Sulit dipercaya." Makan siangnya yang tinggal setengah mendadak terabaikan. Mata birunya memperhatikan sekitar, berharap tak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.

"Ceritanya panjang. Barangkali sehari juga tak akan habis." Kiba menarik napas, menatap ke kedalaman manik si lawan bicara. "Aku mungkin membuat kesalahan, tapi entah kenapa rasanya ini memang jalan yang tepat namun kelihatannya salah."

Uzumaki hanya diam, dia tak sepenuhnya paham dengan apa yang diucapkan si lawan bicara. Tapi tetap saja, kabar bahwa Kiba memang pernah menikah membuatnya shock parah.


Pukul 7 malam ketika Ino tengah membantu Yuta mengerjakan PR hitungannya, pintu rumahnya tiba-tiba berderit pelan dan sosok Sakura muncul dengan senyum lebar yang sulit untuk diabaikan.

"Selamat malam anak tampan. Lihat bibi bawa apa." Wanita yang baru saja menyandang marga Uchiha tersebut melangkah sembari menenteng tas plastik berisi beberapa kotak makanan. "Bibi rindu sekali padamu." Tangannya memeluk erat Yuta usai meletakkan tas plastik ke atas meja.

Pensil terlepas dari tangannya, dan meskipun agak jengkel dengan tindakan dari teman dekat sang mama, toh Yuta tetap memaksakan bibirnya untuk tersenyum. "Terima kasih bibi Sakura yang cantik."

"Ugh, kau tetap imut seperti beberapa tahun lalu." Dengan gemas ia mencium pipi bocah 6 tahun itu beberapa kali.

"Ya Tuhan, Sakura." Meski tak bisa menahan tawanya, Ino bisa merasakan emosi tipis sang putra yang meronta ingin kabur. "Kau berlebihan, makanya cepat punya anak sendiri."

Si Nyonya Uchiha berdehem, melepaskan tangannya dari tubuh Yuta. "Ini sedang proses kok."

Ino memutar bola mata, merasa kedatangan Sakura mungkin bukan sesuatu yang bagus. "Oke, oke. Jadi kenapa kau kemari?"

"Aku kangen Yuta."

"Serius?"

Untuk sesaat Sakura hanya mengerjap dan sesekali mengerling Yuta yang antusias dengan dango yang dia dapatkan dari salah satu kotak. "Ada yang ingin ku bicarakan, tapi--"

Wanita pirang itu bisa menduga apa yang akan diungkapkan si sahabat. Maka dengan pelan ia mengelus kepala Yuta. "Mama buatkan susu ya, Yuta tunggu disini." Ia berdiri dan menginstruksi Sakura untuk mengikutinya ke dapur. "Kalau aku tidak salah menduga, kau mau bilang jika dia sudah kembali?"

Sakura menggigit bibir bawahnya. Ada segumpal sesal yang rasanya begitu membebani hatinya. "Yeah." Setelah helaan napas panjang, ia kemgali berucap. "Aku tidak tahu dia bakal datang ke acara pernikahanku, dan lebih mengejutkannya lagi, dia itu temannya Sasuke."

Ino menghentikan tangannya yang hendak mengambil air dari dispenser. Matanya menatap tepat ke arah iris Sakura. "Aku bertemu dengannya, dan dia bahkan berani mengajak Yuta jalan-jalan tanpa persetujuanku." Rasa perih merebak ke penjuru matanya. "Kupikir Kiba curiga jika Yuta adalah anaknya." Suaranya begitu pelan, takut jika putranya yang tengah fokus dengan PR hitungannya mendengar percakapan mereka.

Tangan ramping Sakura menepuk pelan pundak si sahabat. Ini pasti berat untuk Ino, tapi selain memberi dukungan dan menjadi pendengar yang baik, ia bisa apa? "Dia tinggal di kota ini, entah sejak kapan. Tapi kata Sasuke, Kiba bekerja di rumah sakit Tokyo."

Kenyataan itu mendadak membuat kepalanya sedikit berputar. Ino meletakkan kembali gelas berisi bubuk susu ke atas meja. "Kenapa dia harus kembali? Tidak cukupkah dia menyakitiku dimasa lalu?" Air matanya sudah lolos, dan jemarinya gemetaran.

"Hei, jangan menangis." Pada akhirnya, ia meminjamkan bahunya sebagai tempat untuk menangis. "Aku tahu ini berat buatmu. Aku belum bicara soal Kiba dan hubungannya denganmu pada Sasuke. Sasuke hanya bilang, Kiba itu orang yang cukup berbakat. Dia berasal dari keluarga kaya yang begitu peduli pada pendidikan dan kesuksesannya. Jadi selain itu kurasa Inuzuka tak membocorkan pada siapapun jika dia pernah menikah denganmu." Ia menarik napas, dan merasakan pundak Ino makin bergetar. "Tapi tidakkah kau penasaran, apa yang mungkin terjadi selama 7 tahun terakhir? Tidakkah kau penasaran kenapa dia kembali? Kiba mungkin membawa penjelasan yang logis, Ino."

Wanita pirang itu melepas pelukannya. "Pergi tiba-tiba setelah pernikahan baru menginjak 5 minggu apa menurutmu patut untuk dimaafkan? Dia bahkan tidak tahu jika saat itu aku tengah hamil anaknya. Umur belasan dan terpaksa menjadi ibu muda seorang diri benar-benar membuatku frustasi. Kalau dia masih punya malu, seharusnya dia tidak perlu muncul lagi di hadapanku." Dia mendengus, menggenggam tangannya erat-erat untuk meredam rasa sakit hati yang kembali menyebar ke seluruh penjuru tubuhnya, mengerat tiap sel dan menimbulkan perih yang tak bisa dibandingkan dengan apapun.

"Ma... apa susunya sudah jadi?" Suara Yuta menggema di sudut-sudut ruang tamu, namun Ino masih bisa mendengarnya dengan jelas dari dapur.

Wanita itu berdehem sebentar, mempersiapkan suaranya agar terdengar normal di telinga putranya. Namun, Sakura menyahutinya lebih dulu.

"Sebentar lagi siap, Sayang." Nada cerianya berbanding terbalik dengan ekspresi sendu di matanya. "Aku tahu ini tidak semudah yang kuucapkan, tapi tidakkah kau memberi kesempatan pada Kiba? Tidakkah kau ingin putramu mengenal ayahnya?"

"Tidak." Katanya tegas, ia kembali mengambil gelas dan menuangkan air panas dari dispenser. "Buat apa memberi tahu Yuta jika ayahnya adalah seorang bajingan. Itu tidak ada dalam rencanaku." Tangannya seperti tak bertenaga ketika mengaduk susu dalam gelas.

Sakura diam saja ketika teman dekatnya mengusap pelan matanya, berkedip cepat dan berusaha menata senyum untuk menyembunyikan mimik sedih dari putranya. Tidakkah Ino lelah dengan semua sandiwara ini?

"Aku mohon padamu, jangan pernah mengatakan apapun soal Kiba pada Yuta."

Meski berat, toh Sakura tetap mengangguk. Namun dalam hati ia berharap, suatu hari nanti ketika matahari bersinar terang Ino bakal menemukan kebahagiaan sesungguhnya.

"Susumu sudah siap Sayang." Ino setengah berteriak ketika membawa susu dalam gelas tersebut ke ruang tamu, dan mendapati putranya bersorak senang.

Senyum Yuta sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia, ia tidak perlu apapun lagi.


Malam selalu jadi waktu paling baik untuk mencurahkan segalanya pada alam, setidaknya bagi Ino begitu. Ia jarang bisa tidur, dan lebih memilih menatap wajah putranya yang tengah lelap dalam mimpi. Dia menghela napas perlahan, sepenuhnya menyadari jika perkataan Shikamaru benar. Yuta adalah potret kecil Kiba. Berapa kali pun ia menyangkal, rasanya percuma saja. Seperti bersembunyi di balik telunjuk. Jadi, jika Kiba yakin bahwa Yuta adalah putranya rasanya itu masuk akal.

Mata sewarna biru lautnya menatap langit-langit. Jika waktu bisa diputar ulang akankah ia memilih untuk tidak dipertemukan dengan Kiba? Atau ia memilih untuk tidak memiliki hubungan dengan pria itu? Tapi Yuta tidak akan ada jika ia tidak bertemu Kiba. Kenapa Tuhan? Kenapa harus dirinya yang menanggung semua kesulitan ini?

Ketika air matanya jatuh, senyum Kiba ketika mereka pertama kali bertemu mendadak terbayang jelas dalam benaknya.


Ino tidak pernah menyangka jika ia bakal jatuh cinta pada Inuzuka Kiba. Mereka nyaris tak pernah bertegur sapa, dan meskipun gdis itu tahu dengan pasti jika Kiba adalah salah satu idola sekolah, ia tak pernah tertarik. Mungkin saat itu ia terlalu terbutakan oleh cinta tak terbalasnya pada Hidan-si kakak kelas. Tapi suatu hari, entah bagaimana Kiba malah menyapanya dengan senyum paling menawan yang tak akan mungkin bisa ia lupakan.

"Hei Ino, boleh minta nomormu?"

Sebagai gadis yang mudah gugup dan tidak terbiasa dengan hal semacam itu membuat Ino malah kabur. Tapi beberapa hari kemudian, notifikasi pesan dari Kiba malah selalu muncul di ponselnya. Mau dikata apa, meski awalnya cuma percakapan biasa namun lama-lama mereka saling jatuh cinta.

Cuma sekedar cinta monyet, pikir Ino begitu. Namun, segalanya jadi keterusan dan rasa sayangnya pada pria itu makin besar. Hubungan mereka adalah sesuatu yang diistimewakan di sekolah, berhubung Kiba adalah kapten tim sepak bola sementara Ino adalah ketua tim pemandu sorak. Kau bisa bayangkan betapa menyenangkannya saat itu? Yeah, dan menurut Ino itu adalah saat-saat paling membahagiakan dalam hidupnya.


Ino terengah, dan yakin bahwa ia sempat tersenyum sebelum terbangun. Astaga, mimpi itu datang lagi. Ia bangkit dan duduk di ranjang, mengerling putranya yang masih lelap dengan posisi yang sama. Oh betapa imutnya dia. Dan itu membuatnya diam-diam tersenyum.

Ketika Ino mendekatkan diri untuk mencium kening Yuta, bocah itu mengerjap perlahan. Berusaha memperoleh kesadaran.

"Ma, Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Mama hanya mau membetulkan selimutmu." Tangannya dengan pelan mulai menarik selimut anak itu hingga mencapai dadanya. "Kembalilah tidur, Yuta besok harus sekolah kan?"

Anak itu mengangguk. "Selamat tidur kembali Ma."

Ia tidak bisa manahan dorongan untuk tak mengelus kepala putranya, dan hal itu ia lakukan sampai si bocah lelap kembali. Kadang-kadang ia bertanya-tanya, bagaimana jika Kiba tak pernah pergi waktu itu. Apakah mereka akan menjadi keluarga yang bahagia? Apa keluarga mereka bakal berkecukupan? Apakah- astaga, kenapa ia memikirkan si brengsek itu lagi?

Demi Tuhan, kenapa 7 tahun masih belum mampu membuatnya berhenti mengharapkan pria itu?


Ino baru keluar dari minimarket tempatnya bekerja, dan merasakan kaki serta pundaknya begitu lelah. Ia menghela napas panjang, dan belum juga selesai kelegaannya, sosok Kiba muncul dengan balutan kemeja biru tua. Pria itu bersandar di mobilnya, seperti tengah menunggu seseorang. Lalu, setelah melihatnya Kiba berjalan ke arahnya.

"Ku antar pulang."

Astaga, yang benar saja. Kenapa Kiba bersikeras ingin baikan dengannya? "Oh, tidak perlu. Aku bisa jalan kaki sendiri."

"Ayolah, rumahmu cukup jauh kan dari sini. Dan jalanan sudah cukup sepi." Nada suaranya penuh dengan kekhawatiran.

"Aku sudah biasa. Terlalu biasa jika hanya melewati jalanan sepi." Malas meladeninya terlalu lama, Ino hendak berlalu tanpa peduli. Namun ketika melihat Gaara yang juga mulai beriap pulang, ia pikir pulang bersama Gaara rasanya lebih baik. "Gaara."

Dengan kernyitan di keningnya, Kiba menoleh ke arah orang yang dipanggil Ino. Pria dengan rambut merah dan tatapan tajam. Siapa dia? Kenapa Ino seperti antusias sekali ketika melambai ke arah pria tersebut?

"Pulanglah, aku pulang bersama Gaara saja." Bahkan, ia tak berminat untuk sekedar menatap mata Inuzuka. Entah kenapa, mata itu seolah menyakitinya begitu dalam. Tanpa perlu persetujuan, Ino berjalan ke arah si pemuda Sabakuno yang merupakan rekan kerjanya. Dan merasa luar biasa beruntung, karena kemunculannya yang tepat waktu.

Kiba cemburu, tapi ia tidak bisa berkutik. Mungkinkah Ino sudah tak memiliki rasa padanya lagi? Mungkin memang begitu, lagipula wanita mana yang tidak sakit hati ketika suaminya pergi, menghilang tanpa kabar kemudian muncul lagi secara tiba-tiba. Ia menghela napas menyaksikan Ino yang tertawa-tawa bersama pria yang dipanggilnya Gaara itu. Dan ketika keduanya telah jauh meninggalkan pelataran minimarket, Kiba baru sadar jika ia berada di sana sendirian.

Mungkin, ia harus lebih gigih lagi untuk bisa mendapatkan hati Ino kembali. Dan ia akan memperbaiki semuanya, se-mu-a-nya.

tbc

Well, thanks buat yang udah mampir dan ninggalin review.

~Lin

13 Januari 2020