The 15th of March
Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto
Pairing : Kiba/Ino
Dia ingat dengan pasti bagaimana senyum gadis itu. Senyum tulus dengan kadar kebahagiaan yang seolah tak bakal lenyap dalam waktu dekat. Rambut pirangnya tersanggul apik, dan gaun putih sederhananya tak mengurangi kecantikan yang terpancar dari sosok itu.
Dia kira semua bakal semudah ekspektasinya, bahwa setelah mereka menikah, kebahagiaan akan terus mengikuti. Namun sayangnya, meskipun janji suci sudah terlanjur diucapkan, kehidupan mereka tak sebaik yang mereka harapkan. Gelora semangat masa muda membutakan segalanya, mereka terlalu percaya pada hal naif yang dinamakan cinta tanpa ingat jika tapak-tapak menjadi dewasa dan membangun keluarga tidak cukup hanya dilandasi dengan cinta.
"Jadi kau menikahinya saat usiamu belum genap 18 tahun?" Naruto mengernyit, mengerling Kiba yang fokus dengan kemudinya. Dan ketika mendapati anggukan dari si lawan bicara, ia menghela napas tak percaya. "Oh yang benar saja. Gaya bercinta macam apa yang kalian gunakan sampai bisa menghasilkan seorang anak." Ketimbang pertanyaan, ini lebih mirip kalimat olokan yang menjengkelkan.
Alih-alih menertawakan guyonan pemuda Uzumaki itu, Kiba malah mendengus setengah kesal. "Please, aku sedang tidak berada di mood yang bagus untuk bercanda."
"Oh, sorry." Tapi tetap saja ia tak bisa untuk tidak memberikan komentar lebih banyak. Mau bagaimana pun, kebenaran bahwa temannya itu sudah memiliki anak benar-benar diluar dugaannya. "Padahal kupikir kau itu masih perjaka ting-ting."
Inuzuka hanya mengerlingnya sekilas dengan tatapan sekali kau bicara bodoh lagi, ku potong lehermu.
"Oke, kau tidak harus memberiku tatapan mata seperti itu. Lagipula Bro, istrimu itu tidak salah. Wajar dia marah sampai seekstrem itu, kalau aku jadi dia aku pasti akan memusuhimu juga." Melihat ekspresi Kiba yang begitu pasif membuatnya berpikir bahwa masalah ini memang tidak semudah yang dia pikirkan.
"Jadi apa yang harus ku lakukan?" tak ingin mendengarkan ceramah panjang kali lebar temannya itu, Kiba buru-buru menyela.
"Luluhkan hatinya, wanita biasanya akan mudah terlena dengan perhatian." Si pirang tampak berpikir sebentar. "Barangkali memberikannya barang-barang berharga yang dia inginkan, atau... uhm selama 7 tahun terakhir kau kan tak pernah menyokong perekonomiannya. Mungkin dia butuh itu juga."
Kiba hanya diam, larut dalam pikirannya sendiri. Seolah kalimat-kalimat Naruto hanyalah angin lewat yang tak benar-benar menyentuh lamunannya. Ia bahkan tak bisa membayangkan betapa berat kehidupan Ino selama 7 tahun terakhir tanpanya. Dan bukannya ia lebih beruntung, penyesalan setelah ia meninggalkan wanita itu melumat pikirannya tanpa ampun. Andai ia bisa menceritakan semuanya. Andai Ino mau mendengarkannya. "Sudah sampai Bro." Gumamnya ketika gedung apartemen tempat Naruto tinggal tampak menjulang di sisi kanan jalan.
"Thanks untuk tumpangannya malam ini. Kau selalu jadi sobat yang baik." Pemuda Uzumaki itu menyunggingkan senyum sembari membuka pintu. "Well, tidak mau mampir dulu?"
Semilir angin berhembus di permukaan kulitnya, dan rasa lelah mendadak membuat pundaknya terasa dua kali lebih berat. "Tidak, lain kali saja."
"Uhm, oke." Tangannya menutup pintu, dan berlalu dari hadapan Kiba.
Setelah menghela napas panjang, Inuzuka melajukan mobilnya kembali. Ia harus memikirkan cara lain untuk bisa bertemu dengan Ino dan putranya.
"Bibi Sakura."
Sakura mendongak, mengalihkan perhatian dari ponsel pintarnya ke bocah di hadapannya. Tatapan iris biru laut itu tampak ragu selama beberapa saat, dan pensil warna di tangannya mendadak terlupakan. "Ya, kenapa Yuta?" Semenjak insiden Kiba yang menjemput Yuta, membuat Ino trauma dan meminta bantuan Sakura yang tidak disibukkan dengan kegiatan apapun untuk menjemput bocah itu serta menemaninya selama dia bekerja.
"Ada masalah apa antara paman Kiba dan mama?" Ekspresinya tampak polos, dan kerjapan matanya yang terlihat begitu dihayati membuat wanita di hadapannya kikuk sendiri.
Dengan tatapan yang berusaha tampak kalem, nyonya Uchiha itu berucap. "Tidak ada masalah apapun Sayang. Kau tahu, semacam sedikit kesal karena paman Kibamu tidak meminta ijin mamamu saat menjemputmu."
"Tapi paman Shikamaru juga sering melakukannya. Dia bahkan mengajakku dan Shikadai pergi jalan-jalan tanpa sepengetahuan mama." Ada sorot mata yang bersikukuh meminta penjelasan.
Astaga, ini beda situasinya. Andai bocah itu paham, tapi ayolah Yuta tidak tahu apa-apa disini. "Paman Shikamaru pasti sudah ijin pada mamamu. Bisa saja dia mengirim pesan padanya. Sementaram paman Kiba tidak tahu nomor mamamu, dan pasti karena itu dia tidak menghubungi mamamu."
"Kenapa paman Kiba tidak memiliki nomor mama? Apa mama tidak mau memberikannya?"
Alih-alih menjawab, Sakura malah sibuk memikirkan jawaban yang paling mampu menjelaskan keingin tahuan bocah itu. Ia jadi serba salah, Ino melarangnya memberi tahu Yuta mengenai status asli Kiba. Sementara disisi lain, ia begitu mendukung kekaguman bocah itu pada ayah kandungnya. "Sayang, bukan begitu. Mungkin mamamu memang belum memberikan nomornya pada paman Kiba." Dia menghela napas panjang, berharap acara interogasi dadakan itu berhenti sampai disitu saja. "Wah, gambaranmu bagus sekali." Dengan sengaja ia menunjuk pohon-pohon aneh dengan ranting meliuk-liuk di buku gambar bocah itu. "Nanti bibi belikan pensil warna lagi, yang lebih lengkap dari ini."
"Benar? Bibi janji?" binar bahagia terbayang jelas di manik biru langitnya, dan pertanyaan mengenai Kiba yang membludak di otak kecilnya mendadak terlupakan.
"Tentu saja, apa yang tidak sih untuk keponakan bibi tersayang ini." Sakura mencubit pipi tembem Yuta, dan merasa luar biasa lega ketika bocah itu tak lagi melontarkan pertanyaan yang membuatnya harus memutar otak untuk menciptakan kebohongan.
"Wah, Gaara sudah datang." Ino mengukir senyum lebar di bibir bergincunya, dan merasa Matsuri yang bekerja satu shift dengannya pun merasakan kelegaan yang sama.
"Oh hai selamat siang." Pemuda itu menyapa singkat, dan tanpa senyum dia melangkah ke ruang ganti.
"Semakin hari dia semakin tampan saja."
Setelah menyerahkan belanjaan pada seorang pembeli Ino mengerling gadis di sampingnya. Mengerutkan kening dan merasa yakin jika Matsuri sebenarnya naksir Gaara. "Apa katamu tadi?"
"Apa?" Seolah baru sadar dari lamunannya, gadis manis itu menggelengkan kepala dengan senyum malu-malu. "Oh iya, bukannya kau harus buru-buru menjemput anakmu ya?"
Ino mengangguk pelan, "Hari ini Sakura yang menjemputnya. Tapi kurasa aku memang harus bersiap-siap untuk pulang, kau tidak apa-apa jika ku tinggal duluan?" ia harus selalu merelakan gajinya dipotong karena kewajiban menjemput putranya. "Lagipula satu jam lagi Sakura ada acara bersama suaminya."
Matsuri tersenyum dan mengangguk dengan tenang. "Iya tidak masalah, aku paham kok situasimu." Sembari mengerling pembeli yang masih sibuk dengan barang yang akan dibelinya, ia kembali bicara. "Salam ya untuk Yuta kecilmu yang imut itu."
"Pasti." Ada kebahagiaan tersendiri tiap kali teman-temannya mengagumi putranya. Paling tidak, putranya yang malang masih diterima diantara teman-temannya. "Terima kasih ya. Kalau begitu aku akan ganti baju dan pulang."
"Ya, sampai jumpa." Matsuri melambai pelan ketika si lawan bicara sudah berlalu menuju ruang ganti.
Ino baru saja akan masuk ke ruang ganti ketika tiba-tiba Gaara lewat di dekatnya. Jadi sembari mengulas senyum tipis, ia berusaha memulai pembicaraan. "Hai."
Pemuda Sabaku menoleh. "Kau sudah mau pulang?"
"Yeah, aku perlu menjemput Yuta. Lagipula aku sudah merepotkan Sakura untuk menjemputnya tadi." Barangkali Matsuri benar, Gaara terlihat tampan. Astaga, ia tidak mungkin kan suka pada pria itu sementara disisi lain ada Matsuri yang begitu mengagumi si Sabaku ini.
"Eh, Ino."
"Ya?" lagi-lagi ia mengurungkan tangannya yang hendak membuka pintu ruang ganti.
Setengah ragu dengan pertanyaannya, namun setelah helaan napas panjang ia mulai memperoleh keberanian. "Siapa pria yang mengajakmu bicara malam itu?"
Mendadak Ino gugup ditanya begitu, bukan apa-apa. Tapi semakin banyak orang yang tahu mengenai hubungannya dengan Kiba bukanlah hal yang bagus.
"Mantan pacarmu?"
"Oh, bukan." Dia memikirkan jawaban paling etis yang bisa digunakannya sebagai alibi, dan sembari menatap mata jade si lawan bicara jawaban itu mendadak muncul dalam pikiran. "Teman lamaku. Teman sewaktu SMA." Yeah, teman tapi bukan teman sesederhana status teman pada umumnya.
"Oh." Jawaban singkat Ino membuatnya mendadak lega. "Oke, sampai jumpa lagi kalau begitu."
Wanita itu memaksa bibirnya melukiskan senyum dan menyudahi kekikukannya. "Lagi pula kau harus cepat bantu Matsuri, dia pasti kualahan melayani pembeli sendirian." Setelah mendapati anggukan dari Gaara, ia benar-benar masuk ke ruang ganti.
Sakura masih sibuk membantu Yuta dengan tugas menggambarnya ketika derit pintu depan mengalihkan perhatiannya. Awalnya ia kira itu Ino yang akan menjemput Yuta, alih-alih sang suami yang melenggang masuk dengan tas kerja dan wajah setenang biasanya. "Ada tamu Sakura."
Wanita itu mengerjap, agak bingung dengan kalimat Sasuke. Pria itu sedang bertanya atau tengah memberi tahu? Tapi setelah melihat ada sosok lain yang muncul setelah suaminya, ia buru-buru berdiri. "Sebentar ya Sayang. Ada tamu." Nyatanya itu Kiba, dalam balutan kemeja merahnya dan tampak mengernyitkan kening ketika mengerling ke arah Yuta. Astaga, Ino tak akan suka ini.
"Oh, jagoan kecil ini disini?" Wajahnya yang awalnya sedatar tembok tampak melunak ketika menuju ke arah bocah 6 tahun yang tengah sibuk menggambar. "Kib, sini! Ku kenalkan pada jagoan kecil kami."
Ketika Yuta menengadahkan kepala, ia terkejut bukan main melihat sosok Kiba berdiri menjulang tak jauh darinya. "Paman Kiba?"
"Hei, kalian sudah saling mengenal?" Ada kekehan pelan yang terdengar mengalun dari si pria Uchiha. Dan dengan sayang dia mengelus rambut bocah itu. "Semakin dia mengenal banyak figur pria dewasa kurasa semakin bagus."
Kiba sepenuhnya paham apa yang dimaksud Sasuke, dan belum sempat melontarkan kalimat untuk sekedar berbasa-basi, Yuta mendadak berlari dan memeluk kakinya.
"Yuta kangen paman Kiba."
Baik Sasuke, Kiba maupun Sakura saling pandang dengan keheranan yang tak sepenuhnya mereka pahami.
Ada selip senyum yang membuat dadanya seolah mengembang. Ia melepas tangan bocah itu, kemudian berjongkok di hadapannya. "Benarkah? Kangennya sebesar apa?"
"Sebesar ini." Bocah itu merentangkan tangan, dan membuat ketiganya tertawa.
"Yeah, Yuta memang mudah akrab dengan orang lain." Sakura agak tidak nyaman dengan kehadiran Kiba, tapi ia tidak mungkin kan mengusir pria itu sementara Sasuke tampak begitu menghormati sang teman. "Jadi Kib, ada apa? tidak biasanya kau mampir kemari."
"Aku mengajaknya mampir kemari. Kasihan, dia lajang dan tidak memiliki teman kencan." Sasuke menimpali, masih merasa terkesan dengan tingkah Yuta yang mendadak akrab dengan Kiba.
"Astaga, aku tidak sepengangguran itu." Tangannya mengusap rambut coklat di hadapannya, dan mengerling ke arah Sakura. "Mau ambil flashdiskku, Sasuke meminjamnya beberapa waktu lalu."
"Flashdisk? Kau tidak mampu beli lagi?" Sakura tersenyum ketika mendapati ekspresi aneh dari lawan bicaranya.
"Bukan masalah flashdisknya Nyonya, tapi file nya." Tatapannya kembali lagi ke arah Yuta yang menatapnya begitu intens. Ya Tuhan, mata itu benar-benar mirip dengan milik Ino. Ia bisa merasakan birunya langit musim semi disana, begitu murni dan mengagumkan. "Kenapa dia ada disini?"
Sakura nyaris menjawab, namun kalah dulu dengan suara sasuke. "Mamanya masih bekerja, dia dititipkan disini."
Sakura mendecak pelan, kehadiran Kiba benar-benar diluar rencana. "Sas, sebaiknya kita cepat menyiapkan diri."
"Kalian mau kemana?"
"Kami akan ke rumah orang tuaku, ada acara keluarga." Sasuke menjawab santai, dan mendudukkan diri di sofa.
"Lalu Yuta?"
"Tentu saja kami akan mengantarnya ke rumahnya, aku yakin mamanya pasti sudah pulang." Sakura bersedekap, mengerling Yuta yang masih menempel pada Kiba. Ah, mungkin hubungan sedarah memang tak bisa bohong, dan bocah itu bisa merasakannya.
"Kalau begitu biar aku saja yang mengantarnya pulang." Lontaran kalimatnya disambut 'yeay' oleh Yuta. Dan Kiba mengacak rambutnya sebagai respon.
"Tidak, jangan—"
"Ide bagus, tapi kau tahu alamatnya?" Sasuke memotong cepat kalimat sang istri, karena merasa mereka tidak memiliki banyak waktu untuk mengantar Yuta.
"Tapi Sasuke." Sakura mendadak panik sendiri membayangkan Ino jadi kesal dan marah karena ini.
"Kiba hanya berniat membantu. Lagipula dia tidak akan menjualnya." Ada kekehan pelan di akhir kalimatnya, namun baik Kiba maupun Sakura sama-sama diam dan tak ikut tertawa. "Ya sudah Bro, ku ambilkan flashdiskmu."
Sementara Sasuke berlalu dan menaiki tangga untuk menuju lantai dua, Kiba menatap tajam ke arah Sakura. Jujur tatapan itu membuat si Nyonya Uchiha tak nyaman.
"Kenapa kau panik?"
"Aku tidak panik." Sakura memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan ekspresi kalutnya. "Sebaiknya aku saja yang mengantar Yuta. Jangan membuat dirimu sendiri repot." Dan ketika matanya tak sengaja mengerling si bocah kecil itu, ada kekecewaan yang mendadak terpahat disana.
"Aku tidak merasa hal itu adalah sesuatu yang merepotkan." Ia menghela napas pelan. "Kau takut Ino marah kan?"
Nah itu tahu. Sakura kehilangan kata-katanya, tak bisa memberikan jawaban dan ia membiarkan suasana canggung mengisi celah diantara mereka.
"Aku hanya ingin memperbaiki segalanya, dan aku berharap kau mendukungku juga untuk itu. Aku kembali ke kehidupannya bukan untuk menghancurkannya lagi—" Kiba menghentikan kalimatnya ketika mendengar suara sepatu Sasuke yang bergema di telinganya. Ino jelas belum ingin rahasia ini terungkap, jadi ia memilih tak banyak bertindak serta menghentikan kalimat barusan.
"Hei, kenapa suasana jadi serius begini?" Bungsu Uchiha itu menatap bergantian istri dan rekannya, namun keduanya langsung mengulas senyum tipis. "Yeah, mungkin tadi perasaanku saja." Dia mengedikkan bahu dan menyerahkan flashdisk pada Kiba.
Kiba berdiri dan menerima uluran benda itu. "Ya sudah, aku pamit dulu." Dia mengerling sepasang suami istri di hadapannya, sebelum menggandeng tangan Yuta sembari berjalan meninggalkan ruang tamu keluarga tersebut.
Berjalan di belakang Kiba, Sasuke dan Sakura hanya menyaksikan pemuda Inuzuka itu yang mulai membukakan pintu mobil untuk Yuta, lalu dia masuk ke bagian kemudi. Bocah itu sempat melambai pelan sebelum mobil benar-benar meninggalkan halaman.
"Tidakkah kau berpikir mereka itu mirip? Semacam lembar asli dan foto copy?"
Sakura tahu jika ungkapan Sasuke itu semacam opini. Namun opini itu benar adanya. Dan ia tak berhenti was-was setelahnya.
Ino meremas kuat jemarinya ketika dia mondar-madir di teras rumahnya. Sakura baru saja menelfon dan mengatakan jika Kiba yang mampir ke rumahnya membawa serta Yuta. Ia nyaris marah pada sahabatnya yang satu itu, tapi Sakura tidak sepenuhnya salah karena wanita itu tidak berani menentang keinginan suaminya dengan alasan melindungi privasi Ino. Oke dia paham, akan sangat aneh jika Sakura bersikeras menolak ketika Kiba menawarkan diri untuk mengantarkan Yuta kecilnya. Nanti Sasuke bakal curiga, itu bukan ide bagus.
Mobil milik Kiba berhenti di depan gerbang rumahnya. Ino sudah hafal di luar kepala mengenai suara mesinnya, bentuk mobilnya, warnanya dan itu membuatnya terganggu. Kakinya segera melangkah ke pintu gerbang ketika Kiba menurunkan Yuta dari dalam mobil, lalu menuntun bocah itu pelan ke arahnya. Ino tidak tahu harus berekspresi bagaimana, namun luapan emosinya membuat pandangannya kabur oleh air mata.
"Yuta, mama sudah bilang berapa kali? Jangan menemui orang ini lagi." Untuk pertama kalinya ia tak sadar jika bentakannya terlalu kasar, hingga membuat bocah itu berjingkat.
"Hei, kau tidak perlu sekasar itu."
"Diam kau!" Napasnya tersengal, ia mati-matian menahan air matanya. "Sekarang masuk rumah!"
"Ma..."
"Mama bilang masuk rumah!" suaranya bergetar, nyaris terisak. Ia menahan napas selama putranya berjalan pelan melewatinya dengan kepala tertunduk.
"Aku minta maaf, tapi ku mohon jangan memarahinya." Kiba menghela napas pelan, berusaha menyamankan keadaan yang nyatanya gagal total.
"Berapa kali lagi aku harus bilang padamu, jangan menemui putraku lagi. Jangan pernah!" ia harus kuat, ia harus kuat. Tidak boleh menangis di hadapan pria itu, tidak boleh menangis.
Kiba sadar jika kemaraha Ino tidak main-main, tapi sifat keras kepala Ino membuatnya agak kesal. "Apa menurutmu benar menjauhkan seorang anak dari ayah kandungnya?"
Tenggorokannya tercekat, seolah ada segumpal daging tersangkut disana. Dan demi membuat segalanya tampak baik-baik saja, ia melukiskan senyum mengejek. "Anak kandung? Kau mengira Yuta adalah anak kandungmu?" dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Percaya diri sekali kau."
"Kenyataannya begitu kan? Kau tidak bisa membohongiku. Aku terlalu pintar untuk tidak tahu." Katanya tajam.
"Terserah." Tanpa mau mendebat lebih banyak lagi, ia menutup pintu gerbang dan melenggang menuju rumahnya, tak peduli pada si lawan bicara yang masih terpaku di tempat. Sejujurnya Ino panik parah, ia takut Kiba tahu yang sebenarnya dan mengambil Yuta darinya.
Sudah nyaris malam ketika Ino mengetuk pintu kamar putranya, ia berharap hati pria kecil itu bakal melunak dan mau bergabung dengannya untuk makan malam. Namun meski berkali-kali dipanggil bocah itu tak kunjung menjawab panggilannya. Apakah anak itu tertidur di dalam? Ia menghela napas, dan membuka kamar itu. Biasanya Yuta tak akan suka ia nyelonong masuk ke kamarnya tanpa permisi, yang entah kenapa anak sekecil itu punya peraturan seperti itu.
"Yuta? Sayang, kau dimana?" ia mengitari kamar itu dengan setengah panik. Ah tidak, mungkin anak itu hanya sedang pergi ke kamar mandi atau sedang berada di halaman belakang. Napasnya mulai tak teratur ketika kakinya membawanya menuju tiap ruang di dalam rumah. Bahkan ketika ia melihat ke halaman belakang, Yuta juga tidak ada disana.
Ia kembali ke dalam rumah, gemetaran ketika meraih ponsel di atas meja dan mulai mengubungi Sakura. Yang ternyata berada di rumah mertuanya. Keluarga Nara pun sedang tidak berada di rumah, Ino panik. Sangat panik sampai ia nyaris menjerit di tempat. Dadanya sesak, pikirannya campur aduk, dan satu-satunya yang terpikir olehnya adalah seseorang telah menculik putra kecilnya. Oh tidak, tidak mungkin.
Pendingin ruangan membuatnya tak nyaman, Kiba mengerjap dan bersiap meraih remote untuk mematikan AC yang tak berhenti menghembuskan hawa dingin yang membekukan. Setelah merasa udara sudah sedikit menghangat, ia menutupi diri dengan selimut dan bersiap kembali tidur. Namun suara bel pintu mendadak membuatnya terjaga. Siapa malam-malam begini bertamu? Sejenak, otak warasnya yang belum sepenuhnya terkumpul malah memikirkan hal yang tidak-tidak.
Ketika bel itu terus berbunyi, ia segera bangkit dari kenyamanan tempat tidur, dan mengambil kaos dari lemari untuk menutupi dada telanjangnya. Ini sudah nyaris tengah malam, di luar hujan pula, ia jadi sanksi jika itu Naruto atau bahkan Sasuke. Dan ketika pintu sukses terbuka, ia terkejut bukan main. Kenapa wanita itu ada disini? Bagaimana dia tahu alamat rumahnya? Ia bahkan tak sempat merapikan rambutnya yang sekarang pasti awut-awutan.
"Yuta disini?" bibirnya bergetar, wajahnya sembap, dan mata lelahnya tak bisa menutupi kekalutannya.
"Yuta?" Kiba berusaha mencerna pertanyaan singkat si lawan bicara, "Tidak."
"Kau tidak menyembunyikannya kan?" tanyanya pelan. Benar-benar putus asa, dan kemarahannya yang tadi begitu meluap-luap mendadak lolos begitu saja. "Aku kehilangan dia." Tak mampu lagi menahan tangisnya, Ino menutup wajahnya dengan telapak tangan. Sepenuhnya mengabaikan mantel dan rambutnya yang setengah basah.
"Hei, jangan menangis." Kiba kikuk, sudah lama sekali ia tak dihadapkan dengan sisi putus asa wanita itu, dan detik ini ia malah tidak tahu apa yang harus dilakukan. "Aku akan mengambil jaket sebentar, dan kita cari bersama-sama."
Sementara Kiba berlari memasuki apartemennya, Ino mematung di tempat dengan suara isakan yang tak mampu lagi ditutupi. Apa ini tindakan yang benar? Apa Kiba benar-benar bisa membantunya?
tbc
Well, kerasa banget melempemnya. Okelah, makasih buat yang—mungkin masih sudi—baca fic ini.
~Lin
06 Mei 2020
