The 15th of March
Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto
pairing : Kiba/Ino
"Kau hafal tempat-tempat yang dia sukai?" ia mengerling Ino sekilas sebelum kembali fokus menyetir, sekaligus mengamati jalanan sekitar yang tidak seramai tadi siang.
Ino menahan napasnya sejenak, berusaha memunculkan suaranya yang kelewat parau, "Aku sudah mencarinya di tempat-tempat yang dia sukai." Air matanya lagi-lagi lolos. "Aku takut dia diculik."
"Hei, jangan menakutiku." Kiba berucap tenang, yeah ia tidak menyalahkan juga jika Ino panik setengah mati. Tapi imajinasinya yang kelewat liar kadang-kadang mampu mempengaruhinya juga. "Kau tidak berharap aku jadi pahlawan dadakan untuk menyelamatkan Yuta kan? Karena sumpah aku tidak pandai bela diri."
Kernyit kening muncul, dan bibir datar itu sedikit melengkung menahan keinginan tersenyum. Astaga, bisa-bisanya mengajak bercanda disaat seperti ini. Ada keinginan untuk menatap pria itu lebih lama, mengagumi garis rahangnya yang kaku, hidung bangirnya, dan bibir tipisnya yang masih melukiskan senyum sama, tak pernah berubah. Senyum yang sejak bertahun-tahun lalu membuat dunianya goyah. Namun, keberaniannya luruh karena ego yang terlampaui tinggi. Menatap terlalu lama dilarang, takut jika rasa yang masih tersisa di dasar hati kembali muncul ke permukaan.
Mendapati lawan bicaranya hanya diam, Kiba mengerlingnya sekilas sebelum kembali fokus dengan jalanan di depan. "Aku hanya bercanda. Mari kita telusuri tempat-tempat yang biasa dia kunjungi, barangkali kau melewatkan sesuatu."
Ino lagi-lagi hanya diam, tak mampu berkata-kata. Dan ketika mobil melaju sedikit lebih cepat mengikuti instruksinya, ia mulai merasa Kiba tidak seburuk yang dia pikirkan.
Ketika mobil Kiba melewati taman bermain, suara dering ponsel Ino terdengar. Si pirang terburu-buru mengangkat panggilan itu dengan tangan gemetarnya, dan membuat benda persegi itu nyaris jatuh dari genggaman. "Sakura? Kau sudah menemukannya?"
"Ya, di depan kedai ice cream. Dekat perempatan taman kota." Ada nada bahagia bercampur lega dari suara Sakura. "Aku akan mengantarkannya ke rumahmu."
"Kita yang kesana." Kiba berujar ketika mendengar suara Sakura yang cukup keras.
Ino mengerling pria itu, dan merasa tak memiliki nyali untuk menolak. "Aku akan kesana, Sakura. Pastikan dia tetap di tempat."
Helaan napas si Nyonya Uchiha terdengar lega setengah berat. "Dia sudah tidur, dan kau tahu dia disini karena menemani seekor anak kucing yang kehilangan induknya."
"Aku bahkan tidak tahu jika dia bakal kabur kesana."
"Dia bilang tidak sedang kabur seperti yang kau katakan. Dia hanya menjenguk anak kucing itu dan mau memberinya makan, lalu hujan datang dan dia tidak bisa pulang."
Pernyataan Sakura membuat dadanya lebih lapang, dan entah bagaimana cerita itu mengingatkannya pada pria di sampingnya. Ia mengerling Kiba sejenak, dan yakin jika ada segaris senyum samar di bibir tipisnya. Bukankah dulu Kiba pernah membawa pulang seekor anak anjing yang terluka, dan perlu merawatnya karena si anak anjing tak memiliki induk maupun Tuan. "Jadi dia tidak marah padaku?"
"Entah, kurasa tidak." Jeda sejenak, "Dia sedang tidur di gendongan Sasuke, kau tahu itu manis sekali."
Gaya bicara Sakura membuatnya kikuk sendiri, sebab Kiba pasti mendengar semua percakapan itu. Seolah Sakura berusaha mengatakan, 'akan lebih manis andai ayahnya sendiri yang menggendongnya'. Berusaha menormalkan detak jantung yang seolah kehilangan kontrol, ia berujar "Baiklah, kami hampir sampai disana."
.
.
"Kenapa Ino bisa bersama Kiba?" Sasuke agak terkejut ketika melihat Kiba dan Ino keluar bersamaan dari dalam mobil putih yang sudah begitu dikenalnya.
"Aku yang memberikan alamat Kiba padanya, tadinya kupikir Yuta ada bersama Kiba." Ia mengalihkan tatapan pada Ino yang sedikit berlari ke arahnya dan Sasuke.
Ino tidak bisa menahan senyum haru ketika melihat sang putra tertidur dipangkuan Sasuke yang tengah duduk di salah satu kursi taman. "Terima kasih ya, kalian benar-benar teman yang baik."
"Tentu saja." Sasuke tersenyum, dan ia menemukan Inuzuka juga tengah melukiskan senyuman tulus yang nyaris tak pernah ia lihat sebelumnya. "Kau akan pulang bersama Kiba?"
"Iya, biar aku saja yang mengantar Ino dan Yuta pulang. Aku tahu kalian lelah setelah perjalanan dari rumah orang tua." Kiba mendekat ke arah Sasuke, mengulurkan tangan untuk mengambil Yuta dari pangkuannya. "Terima kasih Bro."
Sasuke mengangguk, namun tak benar-benar paham ucapan itu untuk apa? Apa ia lega karena tak ingin direpoti Ino terlalu lama? Entah juga.
"Sekali lagi terima kasih ya. Aku tidak tahu apa jadinya jika kalian tak lebih dulu menemukan putraku."
"Berlebihan." Sakura tertawa pelan, dan menepuk pundak wanita di hadapannya. Seolah memberi semangat sekaligus menenangkan. "Jika kami tak menemukannya duluan, pasti kalian yang menemukannya duluan."
Ada selip senyum yang terkembang di bibirnya, mengkhianati wajah dan matanya yang terlihat sembap. "Ya sudah, aku akan membawa Yuta pulang. Selamat malam." Kakinya melangkah mendekat ke arah mobil Kiba, bersama pria itu ia berusaha mengatur posisi nyaman untuk Yuta merebah.
Ino tidak semenakutkan tadi siang, dan itu membuatnya lega alih-alih tenang disaat bersamaan. Dan senyum itu, apa wanita itu tengah tersenyum padanya? "Apa sudah nyaman?" Inuzuka bertanya sembari menatap wajah mungil di atas paha sang bunda. Dia tidak sedang bertanya pada Yuta, tentu saja, tapi pada Ino yang hanya mengangguk sekilas. Setelah memastikan semuanya, Kiba menuju kursi kemudi. Mengucapkan sampai jumpa singkat pada pasangan Uchiha yang juga bersiap untuk pulang.
Perjalanan tidak terasa begitu lambat, jalanan lengang. Dan Ino tak pernah menduga hal semacam ini bakal terjadi. Hatinya seperti terbelah ketika menyaksikan Kiba menggendong Yuta dan membawanya masuk ke dalam kamar, menidurkannya di atas ranjang seperti para ayah pada umumnya. Dan kerinduan lama yang bertumpuk tak terkendali seolah meremas dadanya kuat-kuat, ia tak mampu menahan lelehan air matanya.
Usai menyelimuti bocah itu, Kiba tak sengaja mengerling Ino yang menghapus air mata dengan gerakan pelan. "Dia sudah di rumah, kau tak perlu menangis lagi." Katanya pelan, kakinya mendekat ke arah sang wanita. "Aku langsung pulang."
Ia sempat mengerling jam dinding yang nyaris menunjuk pukul 2 dini hari, dan mendadak rasa bersalahnya membaur menjadi satu dalam pikiran. "Aku minta maaf, sudah mengganggu waktu istirahatmu. Maaf."
"Ku pikir kau akan minta maaf karena sering marah-marah padaku." Kiba nyaris tertawa pelan, namun urung karena ia merasa tidak seharusnya ia membuat lelucon seperti itu. "Ah, lupakan. Aku pulang ya, selamat malam." Malam menjelang pagi. Kakinya melangkah ke arah pintu.
Ino berusaha mengumpulkan keberaniannya, "Kiba." Tangannya mencengkeram erat mantel setengah basah yang masih ia kenakan, dan berharap panggilannya tidak terkesan aneh.
"Ya?" dia berhenti kembali, menoleh ke belakang.
"Aku juga minta maaf soal itu. dan—" kau benar, tidak seharusnya aku memisahkan seorang anak dari ayahnya. Kalimat itu nyaris terlontar dari bibir, namun urung karena entah bagaimana lidahnya terlalu kelu. Ketika lelaki di hadapanya masih menunggu lanjutan kalimatnya, Ino sadar jika ia harus mencari kalimat lain. "—dan terima kasih bayak."
Kiba mengangguk. "Sama-sama."
Ia tak memiliki nyali untuk mengantarkan pria itu sampai ke pintu. Rasa malu bercampur penyesalan menggantung berat di ujung hatinya. Lucu rasanya membayangkan kemarahannya tadi siang, dan tiba-tiba ia datang ke tempat tinggal pria itu sembari meminta bantuan untuk mencari putranya. Oh itu pasti konyol sekali. Tapi tadi ia tidak bisa berpikir jernih, ketakutannya akan kehilangan Yuta membuatnya bingung harus melakukan apa.
Ino menghela napas. Paling tidak ia menemukan Yuta, dan anak itu masih baik-baik saja.
Langkah kaki Sakura berhenti di pintu ruang makan yang menghubungkannya dengan dapur. Wanita pirang yang sibuk memasak masih belum menyadari kehadirannya, dan untuk itu ia lebih memilih duduk di salah satu kursi ruang makan. Mengamati Ino yang mendadak berbalik, dan terkejut melihatnya. "Aku tidak bermaksud mengejutkanmu."
Ino mengerjap, mematikan kompornya dan berjalan ke arah Sakura. "Kenapa datang pagi sekali ke mari?"
"Kau bilang Yuta sakit, aku kan jadi khawatir." Sejenak matanya mengerling ke arah kompor yang dimatikan. "Kau kan tidak perlu menghentikan aktivitasmu hanya karena aku ada disini."
"Aku sudah selesai membuat bubur untuk Yuta." Tatapannya mengarah pada keranjang berisi buah yang dibawa sang teman. Astaga, rasa sayang Sakura pada Yuta tidak main-main. Dan mendadak hal itu membuat hatinya hangat. "Suhu badannya tinggi, dan aku sangat khawatir. Aku bahkan sampai tukar shift dengan Matsuri."
"Apa tidak sebaiknya dibawa ke dokter?"
Tak ada jawaban, dan Ino merasa pertanyaan Sakura ada benarnya juga. Tapi kenyataan mendadak menariknya, "Aku sudah membelikannya penurun demam. Dan ku pikir setelah makan dan minum obat keadaannya bakal membaik."
"Oke. Tapi jika keadaannya tdak kunjung membaik, kau tidak boleh melarangku untuk membawanya ke dokter." Tatapannya tajam, dan rasa khawatirnya seolah lebih besar dari sang ibu sendiri.
Ino mengangguk, menghela napas pelan dan duduk di kursi lain. "Kiba benar-benar yakin jika Yuta itu anaknya."
"Aku juga tidak bisa menutupi bagian itu. Sasuke bilang mereka mirip, Yuta adalah Kiba dengan versi mata biru. Dan kedekatan mereka benar-benar alami, aku bisa melihat sendiri bagaimana nyamannya Yuta merangkul Kiba, tertawa bersamanya, berbicara banyak hal, seolah ada benang tak kasat mata yang menghubungkan mereka." Ia mengamati mata si lawan bicara selama bibirnya terus saja mengucapkan kalimat-kalimat itu. Berharap hal tersebut bisa melunakkan hati Ino. "Kiba ingin memperbaiki semuanya, beri dia kesempatan."
Tak ada jawaban, Ino meremas kedua tangannya dan otaknya mendadak kosong.
"Aku tahu kau sudah lelah sendirian, Ino." Suasana hening ruang makan membuatnya agak tak nyaman, "Meski kau tidak bisa menerima dia kembali, paling tidak jangan halangi dia bertemu dengan Yuta. Mereka berhak untuk saling mengenal lebih baik lagi."
Itu benar, semua yang dikatakan Sakura benar. Kenyataan itu seolah meremas dadanya dengan kuat. Melihat betapa tulusnya Kiba membantunya membuatnya diam-diam berharap segalanya bakal menjadi lebih baik setelah ini. "Yeah, mungkin bakal sulit untuk memaafkannya. Tapi aku akan berhenti melarang mereka untuk bertemu."
Ada selip senyum tipis di bibir bergincunya, dan untuk tahun-tahun yang seperti membebani hatinya, hari ini ia merasa lega untuk Ino. Untuk wanita malang yang berusaha tegar itu.
"Apa kau sibuk siang nanti?"
"Aku tahu apa yang kau inginkan. Menjaga Yuta bukan?" mendapati lawan bicaranya mengangguk, ia menambahkan. "Aku tidak sibuk kok, aku akan minta ijin Sasuke."
"Terima kasih Sakura." Kurang baik apa Tuhan memberikannya teman setulus Sakuraa?
"Kurasa Matsuri benar-benar naksir Gaara." Mei berujar setelah pembeli terakhir pergi dan mereka tengah sibuk membereskan meja kasir.
Meski ia pun berpendapat demikian, tapi ia agak menyangkal opini itu. "Jangan mengada-ada Mei. Gaara tidak akan suka itu."
"Aku tidak mengada-ada. Memang kau tidak memperhatikan bagaimana interaksi mereka? maksudku interaksi Matsuri ke Gaara. Dia seolah berusaha mencari perhatian lebih banyak pada pria itu." Si rambut merah yang memang hobi bergosip kembali melanjutkan. "Tapi paling tidak Gaara kelihatannya tidak terlalu tertarik dengan gadis itu. Matsuri yang malang."
Ino terkikik pelan, gaya bicara Mei terlalu dramatis dan itu membuatnya agak risih. "Gaara kan memang orang yang cuek. Lagi pula kalau pun mereka berdua saling tertarik, itu kan juga bukan urusan kita."
Seolah merasa bahwa si lawan bicara tak memahami kalimatnya, Mei mendecak. "Astaga Ino, kenapa kau santai sekali sih."
"Terus aku harus bagaimana?" Ino mengalihkan tatapannya dari uang yang tengah dia hitung ke arah Mei.
"Kau tidak, uhm cemburu begitu?"
Tawa Ino lolos dari tenggorokannya, ya Tuhan bagaimana mungkin Mei berkata seperti itu? "Kau bercanda? Yeah kalau aku masih pantas mungkin aku juga bakal naksir Gaara. Tapi aku sadar diri kok."
"Tapi kau kan masih cantik." Mei terus saja ingin menyangkal pernyataan si pirang di dekatnya.
"Terserahlah Mei, intinya aku tidak naksir Gaara. Mana mau dia dengan wanita yang sudah memiliki anak sepertiku, konyol sekali." Dia mengibaskan tangannya, berharap si lawan bicara tak lagi melanjutkan topik bahasan aneh itu.
Ino meneguk ludah ketika mobil putih Kiba terparkir di depan rumahnya, kenapa pria itu ada disini? Apa Sakura kualahan menangani Yuta? Ia bergegas masuk rumah, namun ketimbang aroma parfum Sakura ia malah mendapati aroma parfum maskulin yang beberapa waktu belakangan mulai ia ingat di memorinya. Dari pintu kamar Yuta yang terbuka, ia bisa melihat Kiba yang tengah mengompres Yuta dan sepenuhnya tak sadar akan kehadirannya. Apa profesi dokternya membuatnya jadi setelaten itu? ini adalah bagian yang tak pernah ia tahu sebelumnya. Kiba tumbuh jauh dari ekspektasinya. Di usia 18 tahun, anak itu masih terlalu kekanakan, pengkhayal yang ahli, tubuhnya pun masih sedikit lebih kurus dengan bahu yang tak selebar sekarang.
"Eh, Ino. Kau sudah datang?" ia agak terkejut dengan kehadiran Ino, namun segera menormalkan sikapnya. "Sakura menelfonku tadi, dia bilang neneknya mengalami stroke ringan jadi dia harus segera ke rumah neneknya. Yeah kurasa, kau mungkin mengijinkanku untuk ini."
Tidak tahu harus merespon bagaimana, Ino hanya mendekat ke arah ranjang buah hatinya. Dia tidak sempat melihat pesan di ponselnya karena ingin buru-buru pulang, pasti ada banyak pesan dari Sakura disana. "Apa keadannya semakin baik?" lalu ia sadar jika Kiba malah mengompres Yuta di bagian ketiaknya.
"Ya, kurasa begitu." Sejenak ia mengamati Ino yang mungkin agak heran karena ia hanya memakaikan anak itu kaos dalam. "Aku melepas piyamanya. Dan seharusnya tidak dikompres dengan air dingin, kompres dengan air hangat. Jika hipotalamus di otak merasa lingkungan menjadi hangat, maka dia akan menurunkan suhu tubuh. Kalau kau mengompresnya dengan air dingin, yang terjadi malah sebaliknya."
Tanpa sadar Ino menyelipkan senyum ketika menatap ke arah Kiba, gelenyar aneh merambat sepanjang urat nadi. Entah kenapa itu malah mengingatkannya pada banyak hal yang selalu pria itu ajarkan padanya dulu. "Benar-benar tidak berubah."
"Apa? kau mengatakan sesuatu?" Kiba mengernyit, gumaman Ino membuatnya agak terganggu.
"Tidak." Sedikit kikuk, Ino mengambil langkah menjauh. "Kau sudah makan?" pertanyaan itu reflek terlontar, dan ia agak menyesalinya. Astaga, paling tidak inilah basa-basi yang mungkin bisa dia gunakan untuk membalas kebaikan Kiba karena mau repot-repot menjaga Yuta.
"Belum."
Ino merutuk, kalau sudah sampai sini ia tidak mungkin menarik pertanyaannya lagi. Maka ia berusaha menawarkan. "Mau ku buatkan sesuatu? Maksudku, sebagai rasa terima kasihku."
Inuzuka mengerling arloji di tangan kirinya, dan mendapati nyaris pukul sepuluh disana. ia menghela napas, bagaimana ia bisa lupa makan sementara lambungnya terakhir terisi tadi pagi. "Sebenarnya aku tak ingin merepotkanmu. Tapi yeah, aku juga ingin mencoba masakanmu." Dan menilai seberapa jauh perubahanmu dalam memasak selama ini. "Apapun akan ku makan." Katanya ketika Ino nyaris membuka mulutnya lagi untuk bertanya.
Lampu dapur berkedip, dan itu benar-benar menganggu aktivitasnya yang tengah membuat masakan. Ia mendecak pelan, hampir terpeleset ketika menuju ke arah pintu yang menghubungkannya dengan ruang makan.
"Ada lampu cadangan. Biar ku perbaiki."
Sejak kapan Kiba berdiri di pintu? Apa pria itu sejak tadi memperhatikannya? "Ada." Berusaha mengabaikan degup jantungnya yang mendadak tak terkendali, ia menuju ke laci penyimpanan lampu. Dan mengambil satu.
Setelah menerima lampu dari tangan Ino, ia menaiki kursi. "Kau bisa membantuku mematikan saklar dan mengarahkan lampu senter kemari?"
"Tentu saja." Dengan setengah tergesa, ia mengambil lampu senter dan melakukan sesuai instruksi Kiba. Segalanya berlangsung hening setelah itu. Dan Ino merasa memang seperti inilah seharusnya sebuah keluarga, ada sosok lelaki dewasa yang bisa melakukan hal-hal yang tak terjangkau kebiasannya. Karena biasanya ia akan minta tolong Shikamaru.
"—Ino kau dengar aku kan?"
"Eh?" ia melamun ternyata, "Apa?"
"Sudah selesai, kau bisa menyalakan saklarnya sekarang." Kiba sudah turun dari kursi, dan lampu senter yang dipegang Ino masih menyorotnya.
"Baiklah, aku agak tidak fokus."
Setelah lampu kembali menyala terang, Ino menyadari dengan pasti jika sosok Kiba tengah menatapnya lekat-lekat. Kenapa ia semakin gugup begini? Dan apa-apaan tatapan intens itu? "Oh, kurasa masakannya sudah matang. Aku akan mengambilkannya untukmu." Katanya sembari mematikan lampu senter. Ino tahan dirimu, tetaplah bersikap dingin, jangan memberi celah kembali.
"Masakanmu enak, tidak seperti terakhir kali ku coba." Ia kembali menyendok sup di mangkuk, dan mengabaikan ekspresi tak nyaman lawan bicaranya. "Maaf ya, untuk 7 tahun lalu. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu –."
"Cukup, jangan bahas itu lagi." Ino yang semula berusaha menyamankan diri menemani Kiba makan mulai berdiri dari kursinya. Air matanya kembali merebak, dan sakit hati itu masih tersisa jelas di ujung hatinya.
"Tapi kau harus tahu kenyataannya. Semakin kau tak ingin mengetahui kebenaran, kau akan semakin tersesat dalam pemikiranmu sendiri. Jadi kembalilah duduk, dengarkan kenyataannya."
"Cukup Kiba, aku sudah berusaha memaafkanmu. Jangan ungkit itu lagi!" Suaranya agak meninggi, bibirnya mulai bergetar. Ia sudah nyaris berjalan pergi ketika Kiba menahan pergelangan tangannya.
"Setelah pernikahan rahasia itu, ayahku menemukanku. Kau ingatkan ketika kau menyuruhku pergi membeli tepung ke mini market?" dia menarik napas dalam-dalam, mengamati wanita di hadapannya yang sudah mulai diam. "Kau ingatkan jika orang tuaku ingin aku menjadi dokter. Dan yeah, ayah menyeretku masuk mobil. Ponselku tertinggal, jadi aku tak bisa menghubungimu. Dan diluar dugaan, dia tahu mengenai kau dan pernikahan rahasia itu. Aku sempat bingung, apa yang harus ku lakukan, sementara ayah mendesakku untuk menuruti perintahnya dan pergi ke London lalu menempuh pendidikan kedokteran. Yang paling parah adalah dia mengancamku akan mencelakaimu jika aku tidak mau menurut."
Ino mengerling Kiba dengan ekor matanya, menyaksikan pria itu menundukkan kepala dan tampak begitu menyesal. Tapi apakah itu bukan sekedar alibi yang disusun untuk memperbaiki citranya? Tapi untuk apa? Untuk apa Kiba terlihat begitu menyesal, dan memohon pada wanita sederhana sepertinya. Padahal dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik, lebih berkelas dan lebih bisa bersikap manis padanya.
"Aku tahu konsekuensi yang bakal ku terima adalah kebencianmu padaku. Tapi aku benar-benar tak berkutik ketika ayah mulai mengawasi seluruh gerak-gerikku, dan satu-satunya hal yang bisa ku lakukan hanyalah mengirim uang ke rekening lamamu. Tapi sepertinya kau sudah tidak menggunakan rekening itu lagi, media sosialmu juga tidak ada yang aktif." Dia menghela napas, merasakan paru-parunya sesak. Dan isakan Ino membuatnya diam-diam mendongak. "Ketika kembali ke Jepang. Aku berusaha mencarimu, tapi aku tak mendapatimu dimana pun. Pemilik kos tempat kita tinggal dulu bilang bahwa kau sudah lama sekali pindah."
Tak lagi menutupi suara tangisnya, Ino menutup wajahnya dengan telapak tangan. Emosi dalam dadanya begitu membuncah, dan kenyataan ini jauh dari ekspektasinya. Ia kira Kiba kabur karena ada gadis lain, dan berusaha menghindarinya karena status pernikahan mereka akan mencemari nama baiknya.
"Aku tidak paham dengan skenario Tuhan, tapi kurasa dia ingin aku kembali padamu." Dia mengepalkan tangan, meredam keinginan untuk meraih tubuh Ino lalu memeluknya. "Satu minggu setelah ayah meninggal, Sasuke bilang akan menikah dan dengan bangga menunjukkan foto gadis yang akan dinikahinya. Aku terkejut sekali, aku ingat itu Sakura. Sakura Haruno teman baikmu dulu. Dan seklise itu kejadiannya, aku bertemu denganmu di pesta pernikahan mereka." Ada seulas senyum yang berusaha ia ukir di bibir tipisnya. "Seperti yang sudah kuduga, kau tak akan pernah sudi melihatku lagi."
Ino mengepalkan tangan dan mulai memukul kuat-kuat dada Kiba, membuat pria itu mundur selangkah untuk menyeimbangkan diri. Ketika ia nyaris melayangkan pukulannya lagi, tahu-tahu tangan besar itu sudah meraih tubuhnya, merengkuhnya erat dan membenamkan wajahnya pada dadanya yang bidang. Ino bisa merasakan otot-ototnya lebih liat dan tebal dibanding terakhir kali ia tahu. Dan ketimbang marah karena pukulan wanita itu, Kiba malah merangkulnya lebih erat lagi. Menghirup harum shampo aroma mawar dan campuran lotion tubuh yang begitu memabukkan. Tak ada yang ingin Ino katakan, dan kerinduan itu membuatnya menyesal, marah, kesal, bingung dan campuran emosi lain yang tak bisa didefinisikan.
"Maafkan aku. Tapi jika kau tahu, aku benar-benar depresi selama menjalani pendidikanku di sana. Ibu beberapa kali membawaku ke psikiater, tapi keyakinan kuat bahwa aku akan bertemu lagi denganmu benar-benar menguatkanku." Pelan tangannya mengelus rambut pirang yang tergerai itu. "Sekarang kutanya, dan kau harus menjawab dengan jujur. Yuta anakku kan?"
Tak ada lagi yang perlu ditutupi. Kiba sudah tahu, dan kenapa dia bertanya lagi?
tbc
Kurang greget Lin, kurang greget banget!
Iya tahu kok, tahu. Tapi nggak tahu kenapa ini jemari malah membuatku melenceng ke arah plot kek gini. Akhir-akhir ini entah karena kebanyakan nugas online, atau kurang piknik keluar, atau entah karena apalagi, otak rasanya lelet banget dan susunan kata di otak jadi lolos satu-persatu.
Well, makasih buat Lazyper, Xoxo dan Fadhil Fadhilah yang masih meluangkan waktu buat ninggalin review. Makasih banyak ya... : D
~Lin
11 Mei 2020
