The 15th of March

Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto

Pairing : Kiba/Ino


Apakah aku masih bisa berada di sampingmu?

Selalu dan selamanya aku ingin kau tertawa

Kau yang lembut seperti bunga matahari dan segala kehangatannya itu

Karena itu aku ingin menyampaikan bahwa aku bahagia berada disini

Motohiro Hata ~ Himawari No Yokusaku


Kepalanya agak pening, dan rasanya ia baru beberapa menit tertidur ketika suara dering telfon mengusik acara istirahatnya. Ck, siapa sih yang malam-malam begini menelfon, mengganggu saja. Ketika bunyi berisik itu terus saja menuntut, Kiba pikir ia tak memiliki pilihan lain kecuali mengangkat panggilan itu.

Matanya masih setengah terpejam ketika nama Ino terpampang di layar ponsel. Itu video call, bukan panggilan seperti dugaannya. "Oh hai, ada apa?" ia bangkit dari tempat tidur. Mengabaikan seluruh lelah yang menggantung di tiap sel tubuhnya, dan tentu saja jangan lupakan rambut awut-awutannya.

"Maaf ya mengganggumu. Sebentar saja, Yuta ingin bicara denganmu." Layar yang semula menampilkan wajah cantik Ino, kini berpindah pada Yuta.

Kiba tak bisa menyembunyikan rasa damai di hatinya tiap kali menatap wajah kecil itu, "Hai jagoan. Apa sudah merasa lebih baik?"

Anggukan kecil dilayangkan oleh si bocah. "Paman Kiba. Apa besok paman akan datang lagi kemari?" senyum tipis di bibir pucatnya membuat si pria dewasa ikut tersenyum.

Kiba mengangguk. "Paman akan datang kesana. Tapi setelah pulang kerja." Rasanya ia harus membuat anak itu memanggilnya ayah, bukan paman lagi.

"Sudah Sayang, jangan lama-lama. Paman Kiba perlu istirahat, kau sudah janji pada mama bakal kembali tidur setelah mendengar suaranya." Perdebatan terjadi selama beberapa saat, dan dengan enggan Yuta menyerahkan kembali ponsel itu pada sang bunda. "Paling tidak dia sudah merasa lega bisa bicara denganmu malam ini. Jadi kembalilah tidur."

Inuzuka tertawa pelan, tidakkah malam ini segala keajaiban terjadi? Ia merasa Tuhan tengah berbaik hati padanya. "Hei Nona, kau cantik sekali malam ini."

Astaga, ia bukan lagi nona-nona muda yang cantik menawan, tidakkah Kiba ingat itu? Ino memalingkan wajahnya. Jengkel dengan guyonan Kiba yang mulai ngelantur, barangkali pikiran pria itu masih setengah tertinggal di alam mimpi. "Sudah ya, kumatikan. Selamat malam."

"Sebentar." Dia meletakkan ponselnya di atas ranjang, dan beranjak mengambil gitar dari atas meja seberang. Setelah menata kamera ponsel agar menghadap tepat ke arahnya, Kiba mulai menyiapkan diri untuk menyanyikan lagu. "Aku akan menyanyikan lagu untuk Yuta."

Petikan senar gitanya mulai terdengar, sementara Ino dan Yuta di seberang lain diam dan memperhatikan. Kemudian lagu Himawari no yakusoku melantun dari suara baritone pria itu. Suaranya memang tidak sebagus penyanyi aslinya, beberapa salah nada dan selebihnya malah terdengar seperti nyanyian orang mabuk. Namun Ino seolah bisa menghayati isi lagu itu, dan tanpa sadar air matanya meleleh. Sebelum banyak yang menyadari, dia buru-buru menghapus air mata dan bertepuk tangan bersama buah hatinya kala lagu itu selesai.

"Bagus. Bagus." Yuta berujar gembira, dan Ino hanya mengulas senyum tipis.

"Oke, sudah malam. Sekarang Yuta harus tidur ya." Kiba meletakkan gitarnya, merasa puas melihat ekspresi bahagia dari lawan bicaranya.

"Selamat malam dan mimpi indah, paman Kiba." Bocah 6 tahun itu melambai, dan berusaha memejamkan mata.

Layar ponsel kembali menunjukkan wajah Ino. Wajah putihnya polos tanpa make up, walau pun begitu dimata Kiba dia tetap secantik biasanya. "Ya sudah, ku matikan ya."

Jujur Kiba agak berat untuk mengiyakan, tapi rasa kantuk membuatnya tak berkutik. Dan tanpa banyak bicara ia hanya mengangguk, besok adalah hari yang panjang. Semoga segalanya sesuai harapannya.


"Mau pulang bareng?" Gaara berjalan di samping Ino, sepenuhnya mengabaikan tatapan Matsuri yang mengambil alih shift sore.

Menyadari kekesal Matsuri, Ino tersenyum kikuk. "Kau duluan saja. Aku masih harus mencari buah untuk Yuta."

"Oh ya, ku dengar anakmu sakit. Aku boleh menjenguknya kan?"

Sikap Gaara mungkin normal-normal saja, dia cukup perhatian pada Yuta dan itu mungkin juga karena bersimpati, sebab tak ada figur ayah di sekitar Yuta. Tapi tampaknya Matsuri tak menyukai itu. Memilih mengabaikan pertanyaan Gaara, Ino malah menyapa si gadis rambut coklat, "Matsuri, aku duluan ya." Dia melambai pelan, dan ketimbang ikut melambai seperti biasanya Matsuri hanya mengulas senyum setengah ikhlas. Tentu saja ia sadar total atas perubahan sikap rekan kerjanya itu, maka dengan langkah tergesa ia keluar dari tempat tersebut.

"Hei, kau dengar tidak sih?" Gaara meraih tangannya ketika mereka sampai di halaman mini market. "Aku mau menjenguk anakmu, apa itu tidak boleh?"

"Boleh-boleh saja sih." Ia benar-benar berharap Matsuri tak melihat ulah Gaara yang satu itu. Astaga, ia paham bagaimana rasanya patah hati dan seharusnya pemuda Sabaku itu tak memperlakukannya begitu. "Kau itu kenapa tidak peka begitu?" pelan, Ino menarik tangannya dari genggaman Gaara. Dan berjalan pelan di trotoar.

"Tidak peka?" kening si lelaki mengernyit, berusaha mencerna kalimat si lawan bicara. "Tidak peka bagaimana?"

Ino rasanya gemas sendiri. Bagaimana mungkin perhatian Matsuri yang begitu berlimpah dianggap pemuda itu biasa saja? "Matsuri menyukaimu, kau tidak memiliki perasaan yang sama?"

Diluar dugaan, Gaara malah mendesah pelan. "Tapi aku sukanya kamu. Bagaimana dong?"

Hah? Ino hanya bisa melongo mendengar ungkapan itu. yang benar saja, bagaimana mungkin bisa begitu? "Konyol, jangan mengajakku bercanda. Itu tidak lucu."

"Dan aku tidak sedang membuat lelucon, Nona." Tatapan Gaara mendadak lebih tenang dibanding biasanya. "Aku sudah lama menyukaimu—"

"Tidak, itu tidak mungkin—"

"Ini kenyataan kok."

"Tapi aku sudah punya anak, Gaara. Ini tidak masuk akal." Si pirang mulai tak menyukai suasana tak nyaman ini, dan ia ingin lari dari tempat itu secepat yang ia bisa.

"Itu tidak masalah buatku. Aku ingin jadi ayah yang baik untuk Yuta juga."

"Tidak." Itu tidak mungkin, tidak akan pernah mungkin ketika ayah Yuta yang sesungguhnya sudah muncul sekarang. "Orang-orang tak akan pernah suka ini. Seorang janda dengan anak dari lelaki lain akan menjadi gunjingan heboh jika menikahi perjaka sepertimu."

"Kenapa tidak?" tangan besar Gaara meremas pundaknya, membuat Ino mau tak mau harus berhenti. "Aku tidak ingin peduli dengan apapun. Aku menyukaimu dan aku ingin menikahimu, kau tidak harus bekerja sekeras ini setelah jadi istriku. Kau cukup mengerjakan tugas rumah dan mengurus anak."

Tawaran yang begitu menggiurkan, mungkin ia bisa menerima ini andai Matsuri tak menyukai Gaara atau Kiba tak hadir lagi dalam hidupnya. Namun pernyataan itu terasa terlambat. Kiba sudah mengakui segalanya, dan kebenaran soal uang selalu dikirimnya tiap bulan selama 7 tahun itu juga bukan bualan belaka. Jadi Ino tak memiliki alasan lagi untuk membenci Kiba ataupun berusaha menghindarinya. Lalu Gaara mendadak menjadi pahlawan kesiangan. "Dengar Gaara, aku benar-benar menghargai niat tulusmu. Yuta memang butuh figur seorang ayah yang baik. Tapi aku tidak bisa menikah denganmu."

"Kenapa?" tatapan tajam matanya mengarah tepat pada biru jernih di hadapannya. Seolah iris bening itu menampakkan ratusan teka-teki yang tak diketahuinya.

Ino mendesah, memikirkan jawaban paling baik yang mungkin bisa ia ucapkan. "Karena aku masih terikat dengan ayah Yuta."

"Persetan dengan lelaki brengsek itu. Kenapa kau masih menunggu pria bajingan itu, sementara dia tega meninggalkanmu dan putramu?" Dia mengumpat, merasa emosinya mendadak meningkat pesat seolah bakal meledakkan kepalanya.

"Aku masih mencintainya." Suaranya bergetar, dan ia bahkan tak yakin jika kalimat barusan adalah sebuah kenyataan.

"Kau mencintainya?"

"Ku harap kau tak memaksaku untuk melakukan apa yang tak ingin ku lakukan." Dengan pelan, ia menurunkan tangan Gaara dari pundaknya. Mengabaikan tatapan pria itu yang masih intens. "Aku harus pergi, ada banyak hal yang harus ku lakukan." Kakinya melangkah cepat di paving trotoar. Berharap dengan sepenuh hati bahwa pria Sabaku itu tak mengikutinya, karena jujur ia agak takut dengan tatapan nyalangnya.


Kunjungan Kiba semakin hari semakin terasa normal dan wajar. Entah bagaimana, segalanya jadi sesuatu yang pas. Ino menyukai interaksinya dengan Yuta, bagaimana bocah itu jadi lebih ceria dan bersemangat sekarang. Yeah, para tetangganya yang awam dan teman-temannya yang faham menyarankannya untuk menikah dengan Kiba. Sejujurnya ia tidak tahu apa yang benar-benar harus dilakukan, tumpukan kebingungan dan dilema terus-menerus menghantam hatinya. Apalagi akhir-akhir ini Gaara jadi selalu menghindarinya. Meski itu terasa bagus karena Matsuri jadi dekat lagi dengannya, tapi tetap saja ia tak ingin ini terjadi.

"Kenapa melamun?" Kiba yang sejak tadi bermain puzzle bersama Yuta mengangalihkan tatapan padanya.

"Aku tidak melamun." Ino berpura-pura mengalihkan tatapan ke arah jendela yang langsung menghadap ke taman belakang rumah.

Lelaki Inuzuka itu menghela napas panjang, ia tahu betul seluk-beluk gelagat Ino. Bahkan ia seolah bisa membaca pikiran wanita itu hanya dengan melihat iris birunya. "Ekspresi wajahmu mengkhianatimu."

"Terserahlah." Ia mulai bangkit. "Aku akan membuatkan susu untuk Yuta." Sembari menghindari tatapan Kiba yang membuatnya tak nyaman, Ino berjalan pelan menuju dapur. Lama-lama berada di dekat Kiba membuat detak jantungnya seolah tak normal. Anggap saja ini konyol, tapi kenyataannya senyum dan seluruh tindakannya selalu mampu membuatnya terkesan.

Ino mulai mengambil susu dari dalam kulkas, menyiapkan gelas dan sendok, lalu perlahan mulai membuka wadah susu tersebut.

"Mau ku bantu?"

Keterkejutan itu membuatnya nyaris memekik. Bagaimana mungkin Kiba tiba-tiba muncul dan berbisk di telinganya, "Hei, ini tidak lucu. Bagaimana jika gelas kaca itu tadi jatuh, pecah dan pecahannya mengenai kakimu."

"Oh, jadi kau mengkhawatirkanku?" senyumnya terkembang begitu lebar, dan dengan beda tinggi badan yang begitu kentara itu Kiba bisa mengamati bagaimana biru jernih di hadapannya berkedip gugup. "Ku bantu."

"Tidak perlu, aku cuma membuat susu, Kiba. Kembalilah bermain dengan Yuta." Namun si lawan bicara masih saja berdiri di sampingnya. "Kenapa lagi?"

"Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu."

Ino merasa perutnya menegang ketika melihat ekspresi wajah lawan bicaranya yang mulai serius. Ia merasa hal yang akan diungkapkan pria itu bukanlah sesuatu yang bisa membuatnya tenang. "Bicara soal apa? kau kan dari tadi juga sudah bicara."

"Menikahlah denganku."

Seketika itu jantungnya seolah melewatkan satu degupan. Kenyataan menyeretnya dari lamunan, dan untuk beberapa saat dunianya seolah terjungkir. Menikah bagaimana maksudnya? Bukankah mereka juga sudah pernah menikah?

"Aku tahu, kau mungkin tidak cukup siap untuk ini. Tapi kau masih istriku dan aku ingin meresmikan pernikahan kita yang dulu, pernikahan sembunyi-sembunyi itu." Helaan napasnya terdengar berat, dan keberanian yang entah datangnya darimana membuatnya nekat menyelipkan tangan untuk merangkul perut Ino dari belakang. Membuat wanita itu tersentak, namun tak melakukan perlawanan. "Aku ingin Yuta mengenalku sebagai seorang ayah, bukan hanya sebatas rekan ibunya."

Siapkah ia untuk ini? Siapkah ia untuk hidup lagi bersama Kiba? Harusnya ia tak lagi bingung dengan pilihan yang ada. Sebab Kiba ayah Yuta, dan Ino masih mencintainya, ia cukup mengatakan 'ya' dan segalanya beres. Namun kenyataannya tidak begitu. Dilema melandanya, membentuk sesuatu tak nyaman yang meletup-letup dalam dadanya. "Orang tuamu tak akan merestui ini."

"Ibuku merestuinya. Aku sudah berkali-kali bicara dengannya mengenai kau dan Yuta, dan dia paham dengan situasinya." Suaranya setengah berbisik. Bagaimana mungkin ia bisa tahan dengan aroma memabukkan wanita itu, aroma yang selalu ia rindukan selama ini. "Ku mohon Ino. Beri kesempatan padaku sekali ini, aku akan memperbaiki semuanya. Kau tidak harus bekerja keras lagi, dan kita akan tinggal di rumah yang lebih besar."

Apa semua lelaki selalu menjanjikan kenyamanan seperti itu? dan tanpa sadar air matanya sudah merebak. Kecamuk pikiran menderanya tanpa ampun. Namun tiba-tiba ia mulai memikirkan jalan takdir ini, andai Kiba tak meninggalkannya, Kiba pasti tetap jadi orang biasa-biasa saja. Bisa juga jadi pekerja serabutan yang tak memiliki pekerjaan tetap. Apakah Tuhan merasa perlu mengujinya untuk semua ini? Membesarkan Yuta sendirian dengan segala beban yang nyaris meremukkan tulangnya. Lalu memberikan kejutan yang tak diduga-duga.

"Aku janji akan jadi suami dan ayah yang baik untukmu dan Yuta."

Ketika setetes air matanya turun, mata Kiba seolah berusaha menelanjangi pikirannya. Hembusan napasnya terasa hangat, lalu dalam satu kedipan ia baru sadar jika posisi wajah lelaki itu terlalu dekat. Tak ada kesempatan untuk berpikir atau sekedar menghindar saat bibir tipis itu bergerak menciumnya. Seperti kebanyakan respon tak siap, Ino merasa terkejut bukan main.

Ciuman itu lembut, namun begitu menuntut. Dan Ino tak bisa lagi menahan godaan untuk membalas saat si pria menyesap bibir bawahnya dengan sayang. Bahkan tangannya entah bagaimana sudah mengalung di leher pria itu. Inikah yang mereka sebut melepas rindu, apakah ia bisa mengharapkan lebih dari ini? Seolah kenyamanan menenggelamkan berbagai ego yang pernah menjadi pijakannya. Ia bisa merasakan hangat yang menguar dari tubuh tegap Kiba, dan geraka Kiba makin posesif, sebelah tangannya mengeratkan pelukan sementara sebelahnya lagi berusaha menekan belakang kepala Ino agar bisa menciumnya lebih dalam.

"Ma..."

Bagai ditarik dari alam mimpi, keduanya langsung membuka mata. Tersentak sebentar sebelum saling melepaskan. Karena ternyata si bocah 6 tahun sudah berdiri di pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang makan.

"Yuta?" Ino agak salah tingkah, ia tidak tahu apa yang mungkin dipikirkan Kiba. Tapi melihat lelaki itu yang juga berusaha mengembalikan sikap biasanya, membuatnya agak tak nyaman. Apa bocah sesusia Yuta bisa menebak apa yang mereka lakukan barusan? Oh astaga, semoga saja tidak

"Hei jagoan, apa paman terlalu lama meninggalkanmu?"Kiba melukiskan senyum, berjalan mendekat ke arah Yuta sebelum berjongkok di hadapan si bocah. "Mau main lagi? Bagaimana jika kita main... uhm, sepak bola di depan? Sambil menunggu mamamu selesai membuatkan susu."

Tawaran itu langsung disambut senyuman, dan dengan semangat yang terlihat memenuhi kubangan biru jernihnya tangan mungil Yuta sudah meraih tangan Kiba. Menyuruhnya berdiri sembari menariknya menuju halaman belakang.

Ino masih mematung, bahkan meskipun dua orang lelaki tadi sudah hilang dari pandangannya. Kiba benar-benar mengacaukan perasannya.


Dalam bayangan Ino, Nyonya Inuzuka masih seperti terakhir kali ia menemuinya, tepatnya 8 tahun lalu. Tapi kenyataan itu membuatnya terpaku di ambang pintu, karena yang ia lihat sekarang wanita itu sudah tak mampu lagi berdiri di atas kakinya sendiri. Pelayan khusus dipekerjakan untuk mendorong kursi rodanya dan mengurus keperluannya.

"Kemari Sayang." Wanita 50 tahunan itu mengisyaratkan Yuta untuk mendekat padanya.

Kiba menggandeng tangan Yuta, membawanya mendekat ke arah sang ibu sementara Ino hanya mengekor di belakang keduanya. "Dia sudah sebesar ini Bu, tidakkah kau bangga melihatnya?"

"Tampan sekali bukan, kelas berapa Sayang?" Tsume mengulurkan tangan untuk mengelus kepala coklat Yuta. Dan merasakan bocah itu membungkuk pelan di hadapannya.

"Yuta kelas 2 Nek."

Wanita itu tertawa pelan. Baru pertama kali melihat secara langsung ia sudah dibuat jatuh hati pada bocah kecil itu. "Anak pintar." Kini tatapannya beralih pada Ino, si pirang langsung mengkuir senyum tipis yang kikuk.

"Selamat siang Bibi." Ino membungkuk perlahan.

"Panggil aku ibu, bukan bibi."

Untuk beberapa saat Ino tidak benar-benar tahu apa yang harus dia lakukan. Tapi anggukan dari Kiba membuatnya agak merasa tenang. Nyonya Inuzuka adalah orang yang hangat, dia selalu jadi orang yang baik untuk Ino. Tapi itu berbanding terbalik dengan Tuan Inuzuka yang terlalu otoriter, dan pastinya sebagai seorang istri, Nyonya Inuzuka tidak bisa berbuat banyak untuk membela masa depan putranya.


"Pasti berat ya membesarkan seorang anak sendirian?" matanya masih tertuju ke arah Kiba dan Yuta yang saling bercanda ketika memandikan seekor anjing pudel putih. Ia belum pernah melihat sosok Kiba yang sehangat itu, dan itu membuatnya diam-diam tersenyum.

Ino mendesah pelan, merasakan kelegaan luar biasa mengisi tiap jengkal dadanya. "Itu benar, Bu. Dan saya bersyukur karena Yuta adalah anak yang baik serta mudah diatur."

"Yeah, kurasa juga begitu." Tangannya meraih tangan Ino, membuat si empunya agak tersentak. "Bagaimana kabar ibumu?" karena ia jelas tahu jika ayah Ino sudah meninggal lama sekali.

"Ibu saya sudah meninggal 5 tahun lalu."

Kenyataan tersebut membuat Tsume tak nyaman, seolah ia baru tahu jika kehidupan wanita muda di hadapannya begitu menyedihkan. "Oh." Kalimat pendek itu memang tidak berarti apapun, jadi dia berusaha mencari kalimat lain yang lebih baik. "Maafkan aku sudah bertanya soal itu."

"Tidak apa-apa, Bu." Dia meremas pelan tangan wanita itu, dan merasakannya begitu hangat di permukaan kulitnya. "Boleh saya menganggap anda sebagai ibu saya sendiri?"

"Oh, tentu saja Sayang. Kemarilah."

Ketika Ino mendekat, wanita itu memeluknya. Erat sekali, dan demi Tuhan Ino sempat melihat Kiba mengerling ke arahnya.


"Dia lahir prematur. Beratnya bahkan hanya 1,2 kg, kalau kau lihat sendiri kau pasti tidak akan tega. Kulitnya merah, lembek seperti agar-agar. Aku nyaris berpikir dia tidak akan bisa hidup lama." Ino menghela napas panjang, seluruh perhatiannya terpaku pada Yuta yang tertidur nyenyak di atas ranjang, selimut menutupinya hingga pundak. Sementara Kiba berdiri tepat di sampingnya, hanya diam dan mendengarkan. "Sejujurnya aku mengharapkanmu ada waktu itu dan bilang jika jarum suntik dan segala kesakitan yang hadir tidak akan membunuhku. Segalanya membuatku takut."

Dengan gerakan pelan ia mengalihkan tatapan pada Ino, melihatnya agak tersenyum sedih. Tentu saja Ino bakal takut, dia pobhia jarum suntik, dan masih terlalu muda untuk melahirkan seorang bayi. Siapa yang menemaninya waktu itu? Sakura atau ibunya? Melawan segala dorongan untuk diam, ia justru merangkul wanita itu. "Kau masih takut jarum suntik?"

Biru jernih iris matanya menengadah, menemukan sepasang mata coklat menatapnya intens. "Apalagi yang lebih menakutkan dari itu?"

Desah napas pelan terlontar, dan dalam jarak sedekat ini ia tidak bisa lagi menahan hasrat untuk mencium bibir mungil di hadapannya. Saat mendapati lawannya tidak berontak, Kiba semakin menekan bibir Ino, melumat bibir bawah itu pelan dan sesekali menggigitnya. Ia bisa mendengar deru gugup napas Ino, dan balasan lumatan yang agak keluar dari irama. Entah kenapa malam ini ada kerinduan yang besarnya tak terhingga tengah meraup emosinya, padahal ia setiap hari bertemu wanita itu.

Kiba menekan tengkuk Ino, mengalihkan ciuman pada leher jenjang dengan aroma memikat itu. Tuhan, ia tak tahan lagi untuk ini. Dan sebelah tangannya yang semula berada di pinggang si pirang kini sudah menyusup masuk ke dalam blouse ungu yang dikenakannya. Gerakannya pelan, menimbulkan desah tertahan dari sang wanita. Ia menghentikan ciumannya ketika merasakan tangannya menyentuh pengait bra milik Ino, ditatapnya paras menawan yang memejam di hadapannya. Cantik, dan selalu cantik. Mungkin benar, diluar sana masih banyak wanita cantik tapi cuma Ino yang ia inginkan.

Pengait bra itu terlepas. Sementara tangannya mulai bergerak ke depan, rintihan Ino makin terdengar nyata, ditambah semu merah di pipinya. Ia mana tahan dengan ekspresi itu, maka Kiba kembali melumat bibir Ino. Meremas payudara yang kini tergenggam di tangannya.

"Umhh..."

Desahan wanita itu membuatnya makin gencar melancarkan serangan, bahkan secara tak sadar ia mendorong tubuh Ino ke arah tembok. Menghimpitnya diantara dirinya dan tembok.

"Kib..." Ino terengah. Berusaha melepaskan ciuman dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya. "Kau tidak bermaksud meniduriku disini kan?"

Melihat mata biru itu mengerjap perlahan, ia tahu jika Ino mungkin setengah menginginkannya. "Itu yang ingin ku lakukan saat ini, menidurimu disini."

Wanita pirang itu tersentak pelan. Gelenyar rasa gugup beserta sesuatu yang tak mampu dijelaskan mengalir di seluruh pembuluh darahnya. Senyum Kiba membuat jantungnya nyaris lepas, sementara tangan pria itu yang masih berada di payudaranya membuatnya malu mendadak. Sudah lama sekali Kiba tak menyentuhnya, dan rasanya kali ini segalanya malah terasa lebih menakutkan ketimbang malam pertama mereka dulu.

tbc

Makasih banyak ya buat yang udah memberi support dan ninggalin review. Dan makasih juga diingatkan soal typo-nya, aku memang sering bikin typo, hehe...

Btw untuk special girlnya bakal tak lanjut habis fic yg satu ini selesai, ditunggu ya...

~Lin

12 Mei 2020