The 15th of March

Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto

Pairing : kiba/Ino


"Jadi yuta itu anak Kiba?" Sasuke tertawa pelan sembari berjalan ke arah ranjang dimana Sakura mulai membaringkan diri. Tentu saja ia terkejut parah dengan ungkapan Sakura barusan, dan mendadak merasa betapa sempit serta anehnya dunia ini.

"Yeah. Dan opinimu soal kemiripan mereka bukan tanpa alasan." Ia menghela napas pelan, sedikit mengulas senyum ketika menyaksikan eskpresi suaminya yang masih menyisakan kebingungan.

Masih diiringi decakan tak percaya, ia bergumam. "Kiba benar-benar mengesalkan." Ketika tangannya bergerak memeluk Sakura, ia kembali bicara. "Kenapa kau tak memberi tahuku sejak awal?"

"Karena Ino tak ingin kau tahu." Pelan ia memukul dada Sasuke karena tangan nakalnya mulai bergerak ke area sensitif. "Aku kan sudah menceritakan padamu semuanya. Jangan menyuruhku mengulanginya lagi Tuan sok dingin."

Dan ketimbang menyahuti perkataan istrinya lebih jauh lagi, Sasuke memilih memajukan wajah dan mencium wanita itu.


"Ugh, Kiba."

Pria itu diam sejenak dan mengamati wanita di bawahnya yang memejamkan mata, mungkinkah ini begitu menyakitkan untuk Ino? "Sakit?" tanyanya sembari bergerak maju dan mengecup bibir yang sedikit terbuka itu.

Ino mengerjap, merasakan tumpukan air mata menggenang di pelupuk ketika Kiba mulai bergerak pelan, memasukinya perlahan-lahan. Desahan demi desahan lolos dari bibirnya, segala gelenyar perasaan bercampur dan bertumpuk tak terkendali dalam dada. Sementara pikirannya seolah berputar acak, tak mampu lagi berpikir jernih.

Ia mencium leher si pirang, menghirup dalam-dalam wangi bunga yang selalu dirindukannya. Hasrat untuk memenuhi nafsu tak lagi bisa dikontrol, ditambah rintihan Ino yang makin menjadi tiap kali ia bergerak sedikit lebih cepat. Gesekan permukaan kulit telanjang mereka menghantarkan sensasi memabukkan yang membuat candu.

"Aku mencintaimu." Suara serak Kiba di dekat telinga Ino, membuat wanita itu sedikit tersentak dan menatapnya dengan mata sayu setengah terpejam. Saat jemari lentik Ino mencengkeram pundaknya, Kiba semakin kehilangan kontrol. Sembari mempercepat gerakan, tangannya meremas sebelah payudara wanita itu. Merasa gemas dengan benda kenyal yang ia tahu dulu tak sebesar ini.

Ekspresi Ino tak bisa dideskripsikan. Pipinya merona, peluh menetes dari dahinya, dan matanya yang mengerjap pelan membuat Kiba setengah ingin tertawa.

"Kau tahu berapa lama aku menahan godaan untuk melakukan ini?" diciumnya pipi lembut nan putih tersebut, lalu beralih ke hidung sebelum kembali ke bibir dan membungkam desahan yang terus mengalun itu. Ia bisa merasakan sebelah tangan Ino mengelus pundaknya, sementara sebelahnya lagi meraba dadanya. Gerakan itu pelan, seperti setengah menggelitik dan ingin merasakan disaat bersamaan.

"Biarkan aku bernapas, Kib." Ino melepaskan ciuman, tersengal akibat aktivitas itu. Wajahnya merah, dan paru-parunya nyaris meledak.

"Ya, silahkan. Bernapas tidak akan membuatmu masuk penjara." Ia menghela napas panjang, sedikit menyeringai ketika mendapati kerutan jengkel di kening si pirang.

Tatapan Kiba seolah menguncinya, entah kenapa sorot mesum itu sepenuhnya teralihkan pada wajahnya. Ino rasanya ingin bersembunyi di dasar sumur yang sangat dalam, karena jujur itu membuatnya malu berlebihan. Netranya berpindah dari paras pria itu ke arah bahunya yang lebar, berdecak kagum dengan bentuk indah yang Tuhan ciptakan. Dan diantara desah yang masih terdengar, tangannya tidak berhenti meraba dada bidang itu. Merasakan tonjolan otot yang kuat dan seolah terpahat dengan begitu teliti. Tuhan... semua ini membuat kepalanya seperti dipenuhi kabut.

"Kiba...nghhh..."

Seolah sadar dengan ekspresi wanita itu yang memejam erat, Kiba mempercepat gerakannya. Deru napas Ino makin menjadi, tangan lembutnya berpindah mencengkeram rambut coklat Kiba. Dan ketika ia merasakan kedutan diantara selangkangan wanita itu, Kiba tahu jika Ino telah mencapai klimaksnya. Ia sepenuhnya menghentikan gerakan, menatap lamat-lamat ekspresi wanita di bawahnya yang menegang dan perlahan-lahan rileks kembali. Kilau keringat di permukaan kulitnya membuat Kiba merasa kagum, pemandangan itu benar-benar luar biasa.

Napasnya masih memburu ketika ia memaksa membuka netra birunya. Melihat tatapan mesum pria itu begitu intens menyaksikannya. Diantara gemetar yang masih tersisa bercampur dengan nikmat sesaat itu, Ino memeluk paksa Kiba dan menenggelamkan wajah pada dada bidang pria itu. menimbulkan kejut singkat dari sang adam. "Jangan menatapku begitu."

Membiarkan dirinya dipeluk dengan senang hati, Inuzuka tertawa pelan. "Kenapa? Kau malu padaku?" ia bergerak pelan, meletakkan kepalanya di batas antara pundak dan leher Ino. "Aku suka ekspresimu, itu... seksi."

Ino berharap kalimat menjijikan barusan hanya buah dari imajinasinya. Tapi Kiba seolah mengulang kata 'seksi' itu berkali-kali di permukaan kulit lehernya, hal itu terbukti dari hembusan hangat napasnya yang membuat Ino kembali bergairah.

"Sekali lagi ya, aku belum klimaks."

"Anhhh... Kiba." Ia belum menyuarakan persetujuan ketika pria itu mengubah posisi dan kembali bergerak. Lalu menyesap bibirnya dengan sayang. Ia bukannya tidak suka dengan semua belaiannya, tapi ia merasa beberapa area tubuhnya masih cukup sensitif.


Ino memperoleh kesadarannya ketika merasakan belaian tangan besar dengan permukaan tebal bolak-balik mengelus kulit punggungnya yang telanjang. Sensasi geli bercampur nyaman membuatnya membuka mata perlahan. Seharusnya ia tidak terkejut dengan kehadiran Kiba disana, tapi tetap saja ia seolah tak siap untuk semua ini.

"Hai, selamat pagi."

Ketimbang menyahut, Ino nyaris memejamkan mata karena hangat pelukan itu seolah menariknya kembali ke dalam mimpi. Tuhan, jangan biarkan kenyamanan ini cepat berlalu. Namun kesadarannya kembali penuh ketika Kiba berbisik pelan.

"Terima kasih."

Wanita itu mengerjap, bahkan baru sadar jika sebelah tangannya memeluk Kiba. "Untuk apa?"

"Untuk semua ini." Jemarinya yang besar mengelus pipi Ino, menyibak rambut pirang yang menutupi setengah wajahnya. Kepalanya bergerak perlahan menuju lekukan leher Ino, menggigit kulit putihnya dan langsung dikejutkan oleh pekikan wanita itu.

"Kiba, berhenti melakukan itu." Ia menjambak rambut si lelaki dan mendapat sambutan tawa karena ulahnya. Astaga, mau diletakkan dimana wajahnya nanti ketika teman-temannya melihat bekas gigitan di lehernya. Ia tidak mungkin beralasan jika Yuta yang melakukan semua itu kan?

"Oke, oke maaf." Kiba mencium pelan pipi Ino sebelum bangkit dari ranjang.

Ino mengerutkan kening, mengamati pria itu yang mulai keluar dari dalam selimut. Napasnya tertahan ketika tubuh telanjang Kiba bergerak cepat mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai, meski ia tak berniat menatap pemandangan itu terlalu lama. Nyatanya ia tak bisa mengalihkan tatapan dari si lelaki yang mulai mengenakan celana.

"Aku tahu kalau aku tampan, tidak perlu menatapku begitu." Dan mengakhiri kalimatnya dengan tawa pelan.

Ish, Ino memutar bola matanya. Dan menutup rapat-rapat tubuhnya dengan selimut. "Kau tidak mandi disini saja?"

"Aku mandi di rumah saja, lagipula aku tidak bawa pakaian ganti."

Ino mendecak pelan ketika kemeja mulai menutupi tubuh bagian atas Kiba yang terpahat sempurna, padahal ia masih ingin menatapnya sedikit lebih lama. "Tanpa sarapan?"

Ketika tatapannya beradu dengan biru jernih yang mengerjap anggun itu, ia jadi enggan meninggalkan tempat itu, andai saja tak ada shift pagi. "Bagaimana jika kau dan Yuta ku boyong ke apartemenku. Biar ada yang membuatkanku sarapan." Mendapati lawan bicaranya yang lagi-lagi hanya memutar bola mata, Ia menambahkan. "Bercanda. Aku akan beli sarapan di kantin rumah sakit."

"Apa tidak bisa menunggu sebentar saja? Biar ku buatkan makanan." Ia menawarkan, namun belum siap keluar dan telanjang di hadapan pria itu. Ugh, itu agak memalukan.

Kiba mendekat, mengusap puncak kepala pirang itu sembari tersenyum simpul. "Aku tidak memiliki banyak waktu, lain kali saja aku sarapan disini. Buatkan saja sarapan untuk Yuta."

Seolah baru ingat dengan kenyataan itu, ia buru-buru mengalihkan tatapan pada jam yang terpasang di dinding. Astaga, sudah hampir pukul 7, bagaimana ia bisa setledor ini. "Oh, tidak. Yuta bakal terlambat masuk sekolah."


Berada satu shift dengan Gaara sepanjang pagi hingga siang membuatnya tak bisa berkutik. Sejujurnya Ino ingin mengajak pria itu bicara seperti biasa, atau mengajaknya bercanda tanpa kecanggungan yang seolah merontokkan nyali begini. Tapi berkali-kali ia mengurungkan niatnya untuk mengajak bicara karena tampang menakutkan si lelaki.

Hingga menjelang berakhirnya shift, Ino yang hendak memasuki ruang ganti dikejutkan dengan gerakan Gaara yang menjepitnya ke arah pintu. Ia yang tak siap, merasakan kebas menjalar di sepanjang punggungnya. "Gaara?" Pria itu hanya diam, menatapnya dengan sorot tajam seolah bakal menelan Ino dalam sekali kedipan. Wanita itu tak bisa menghentikan degup jantungnya yang kacau, ia bingung dengan situasi ini. Takut jika Mei atau Matsuri melihat aksi mereka. "Apa yang kau lakukan?"

Ketika tatapan mata jade Gaara beralih ke lehernya, ada helaan napas panjang yang terlontar secara sengaja. Ekspresi tak percaya pada gurat wajahnya begitu kentara, namun detik berikutnya ia mundur selangkah. "Ku dengar kau akan menikah."

Ino yang benar-benar tak paham dengan situasi ini, mengerjap bingung. "Eh, iya." Ia jelas tidak buta dengan raut marah lawan bicaranya, tapi ia juga harus sadar diri jika Gaara lebih pantas mendapatkan Matsuri yang masih muda dan perawan.

Gaara kembali mundur beberapa langkah, ada helaan napas kasar yang mengiringi langkahnya. Sejujurnya ia agak terkejut dengan keputusan Ino itu. Dan undangan pernikahan yang sampai padanya kemarin ternyata bukan sekedar bualan belaka. "Selamat ya."

Kikuk, si pirang tidak tahu harus merespon bagaimana. Namun, ketika Mei mendadak muncul dari balik tembok, kelegaan luar biasa mendadak memenuhi dadanya.

"Eh, Ino kau belum pulang?" tanpa curiga Mei mengulas senyum setengah menyeringai.

"Belum." Memaksa ekspresi wajahnya agar terlihat normal, Ino mulai membuka pintu ruang ganti. "Ini masih mau pulang."

"Oh ya, selamat ya. Kau bakal menikah minggu depan ya, ugh dengan lelaki yang pernah datang menjemputmu waktu itu kan?"

Ino mengerling Gaara sejenak, pria itu hanya diam mengamati. "Uhm, ya." Tapi ia nyaris tidak ingat kapan Kiba pernah menjemputnya, apa waktu ia lebih memilih pulang bareng Gaara waktu itu? merasa tidak ada lagi yang ingin ia katakan, Ino setengah masuk ke ruang ganti.

"Dan untuk Gaara, kami minta pajak jadianmu. Kau baru jadian dengan Matsuri kan?" ucapan Mei agak membuat Gaara tersentak.

"Hei, kau jadian dengan Matsuri?" Ino mengerutkan kening heran, seulas senyum muncul di bibir. Ia benar-benar ingin kecanggungan diantara mereka kembali normal.

Dan ketimbang menanggapi, pria Sabaku itu hanya mengibaskan tangan pelan. Seolah menyuruh Ino mengabaikan fakta itu, "Aku harus siap-siap juga untuk pulang."

Sementara Gaara mulai berlalu, Mei malah tertawa puas disana. "Yeah, mereka benar-benar jadian, sejak kemarin. Itu kalau kau ingin tahu."

"Tentu saja aku perlu tahu itu." Paling tidak, kenyataan tersebut membuatnya merasa lebih lega. "Baiklah Mei, aku harus segera ganti baju dan pulang." Kakinya terburu-buru saat memasuki ruang ganti, bahkan pintu tertutup sebelum si lawan bicara menyahut.

Ketika ia menatap cermin yang terpajang di ruangan itu, Ino menyadari dengan pasti bekas ungu yang sedikit terlihat di lehernya. Astaga, ternyata concealer masih kurang mempan untuk menutupi bekas itu. Mendadak sikap aneh Gaara saat melihat lehernya terasa masuk akal, wah... pria itu pasti menduga sesuatu yang terjadi di baliknya.


"Bro, mau pergi ke tempat nongkrong biasanya nanti malam?" Naruto memberi tawaran ketika Kiba dengan lahap mulai memakan ramennya.

Pria Inuzuka itu menggeleng. Aksi nongkrong di kafe hanya membuang waktu, paling tidak itulah yang bisa ia pikirkan sekarang. "Aku sibuk."

"Sibuk?" decakan keras terdengar dari mulut si pirang. "Sibuk tidur maksudmu? Ayolah, supaya pikiranmu rileks. Kau kan sebentar lagi bakal menikah."

"Aku sudah cukup rileks kok, jangan khawatir." Tak terlalu menghiraukan ucapan Naruto, ia mengalihkan tatapan ke seluruh penjuru kantin rumah sakit, dan menyaksikan Sasuke muncul dari salah satu penjual makanan. "Ajak saja Sasuke."

"Astaga, yang benar saja. Istrinya yang galak itu bakal marah-marah nanti."

Kiba hanya tertawa menanggapi kalimat Naruto yang aneh itu.

"Lagipula, kalau kau sudah menikah nanti kau pasti bakal seperti Sasuke, seperti terikat sekali dengan istrinya." Baru selesai bicara, ia dkejutkan dengan tepukan keras di pundaknya. "Sialan." Untungnya ia menoleh dan tidak mengumpat cukup keras, sebab bisa jadi perhatian seisi kantin.

"Maaf, aku mendengar ada yang menyebut namaku. Apa iya Kib?"

Alih-alih menjawab, Inuzuka malah tertawa sembari mengedikkan bahu. Sudah biasa melihat Sasuke dan Naruto adu mulut, dan Kiba tak ingin terlibat apapun diantara urusan mereka.

"Kau tidak bisa menyembunyikannya dariku, Kiba."

"Ya Tuhan, dia hanya butuh teman nongkrong ke kafe langganannya. Itu saja." Dengan setengah malas Kiba meraih botol air mineral di hadapannya. Sembari membuka tutup botolnya, ia masih memperhatikan kedua rekannya dengan intens.

"Kenapa kau tidak bawa saja pacarmu yang manis itu?"

"Hei, aku tahu Hinata memang cantik. Jangan memujinya, aku tidak suka." Ekspresi wajah pria Uzumaki itu berubah drastis dari ceria menjadi suntuk dadakan.

Sasuke menyipitkan mata heran, "Astaga, baru kali ini aku dimarahi karena memuji seseorang." Sembari menggeleng maklum, ia menyuapkan potongan melon kedalam mulut.

Selesai minum, Kiba mulai berdiri. Kalau tetap disini darahnya bakal cepat mendidih hanya karena menyaksikan dua rekannya yang saling beradu argumen.

"Woy, Kiba. Mau kemana?"

Ditanya begitu, Inuzuka menoleh, sedikit enggan untuk menjawab. "Kemana saja, yang penting tidak ada kalian."


Ia mengamati penampilannya dari pantulan cermin. Melihat bagaimana riasan itu terlihat begitu pas di wajah 25 tahunnya. Lipstik peach menghiasi bibir, sementara pemerah pipi membuat pipi putihnya makin merona. Sudah lama sekali ia tak melihat senyum setulus itu dari bayangannya, dan kelegaan yang besarnya tak bisa diperkirakan tengah memenuhi dadanya.

"Cantik." Sakura bergumam pelan, dan merangkul tubuh ramping itu. "Jangan menangis okay, ini hari bahagiamu. Kau harus menunjukkan senyumanmu."

Ino mengangguk. Harusnya ia memang tersenyum, tidak perlu merasa sedih. Tapi kebahagiaan ini malah membuatnya ingin menangis. Terlalu banyak pengorbanan dan luka selama beberapa tahun terakhir, dan ia tidak pernah menyangka semua ini bakal terjadi.

"Aku yakin ini adalah yang terbaik, Ino."

Sembari menggenggam tangan Sakura, Ino berusaha melukiskan senyum. Perasaan gugup, takut, bahagia, dan gelenyar tak nyaman bercampur aduk, saling mendominasi. "Ini agak membuatku, uhm... " Dia menarik napas panjang. "Gugup."

"Yeah, wajar. Aku juga begitu." Senyum terkembang sempurna dari bibir Nyonya Uchiha.


Uap hangat masih menguar dari tubuhnya ketika keluar dari kamar mandi, temaram lampu kamar membuatnya tak fokus dengan sekitar. Dengan handuk yang masih melilit tubuh ia berjalan ke arah lemari, berniat mengambil pakaian. Ia tersentak ketika pelukan hangat mendadak melingkari tubuhnya. Suatu sengatan yang tak bisa dijelaskan seolah menjalar saat kulit telanjang di belakangnya bersentuhan langsung dengan kulitnya. Menghantarkan sensasi yang membuatnya bergidik pelan.

"Kiba?" ia bahkan tak sadar jika pria itu ada dalam kamar, ia pikir tadinya Kiba tengah menemani Yuta di kamarnya. Ino tak bisa menahan degup jantung yang meronta kala tangan Kiba membaliknya, membuatnya bisa menyaksikan tubuh bagian atasnya yang telanjang. Dada bidang dan bahu lebarnya terlihat menawan, membuatnya tanpa sadar meneguk ludah.

"Aku benar-benar menginginkanmu malam ini." Bisiknya pelan dan dalam di dekat telinga si wanita, membuatnya menegang sesaat.

Ya tuhan, Ino tak sempat berkedip ketika wajah maskulin itu bergerak mencium bibirnya. Ciuman itu lembut, namun makin lama makin menjadi. Sementara tangan besar Kiba perlahan turun ke arah pinggangnya, dan dengan sekali sentakan handuk yang melilit tubuh ramping itu terlepas. Tak menyisakan apapun kecuali tubuh molek si wanita yang kini tak lagi tertutupi apapun.

Terkesiap dan merasa tak siap, Ino justru mengeratkan pelukan pada tubuh si lelaki. Bermaksud menghalangi pandangan mata mesum yang terarah pada tubuhnya itu.

Merasakan tekanan benda kenyal di dada bangian bawahnya, Kiba tak mampu lagi mengontrol gerakan. Ia mendorong Ino perlahan ke arah ranjang, dan menghempaskannya pelan. Ditatapnya sebentar wajah cantik yang tengah memejam itu, semu merah samar menghiasi pipinya. Dan bibirnya yang terengah membuatnya gemas ingin menciumnya kembali. "Ino... aku mencintaimu."

Bisikan itu mengirimkan gelenyar sepanjang urat nadinya, membuatnya gemetar sesaat sebelum kembali melenguh saat ciuman suaminya turun ke arah dada. "Nghhh... Kiba." Belaian-belaian lembutnya tak mampu ia deskripsikan, gairah membutakan akal dan selanjutnya ia tak benar-benar yakin apa yang dilakukan pria itu pada tubuhnya. Kesenangan seolah membanjiri dirinya.


"Belum terlambat untuk memiliki anak kedua kan?"

Ino bergidik ketika tangan besar Kiba mengelus punggung telanjangnya, naik turun. Pelukan hangat di tengah malam itu membuatnya ingin kembali memejam dan tidur. Namun, Kiba sepertinya bersikeras menjadikannya teman bicara. "Yeah, kurasa begitu." Dia mengerjap, sedikit memajukan wajah untuk mencium garis rahang Kiba yang keras dan kaku.

Napas Ino terasa hangat di lehernya, dan ia menahan keinginan untuk mengerang. Bagaimana pun juga mereka baru selesai beberapa menit lalu. "Mau perempuan atau laki-laki?"

"Terserah, aku tidak terlalu memihak salah satu." Dengan mata setengah terpejam, ia menelusuri jalinan kuat otot di dada lelaki itu, lalu berakhir menyentuh jakunnya. Entah kenapa ia suka melihatnya naik turun saat Kiba berbicara.

"Singkirkan tanganmu dari situ, itu agak mengangguku." Dia berujar risih, sebelum membenamkan wajahnya pada helaian pirang yang tersebar di bantalnya. Dan mengetahui wanita dalam pelukannya malah terkikik tanpa peduli dengan peringatannya, ia nekat menggelitiki tubuh Ino. Membuat wanita itu menggelinjang dan beberapa kali malah menyenggol bagian intimnya. Astaga, ini membuatnya kembali bergairah.

Tawa Ino perlahan memudar ketika merasakan sesuatu yang keras terhimpit diantara pahanya. Ya Tuhan, jangan lagi. Ia sudah lelah dan ingin tidur. Namun seringaian Kiba membuatnya menahan napas beberapa saat. Oh, ini bakal menjadi malam yang panjang.


Inilah keluarga utuh yang selalu ia dambakan. Ada sosok istri yang membuatkan sarapan saat pagi, anak yang bisa ia ajak bicara mengenai beberapa hal sederhana dan suasana rumah yang benar-benar nyaman untuk ditinggali. Kiba tidak tahu apalagi yang ia inginkan, karena segala yang ia miliki sekarang terasa lebih dari cukup.

Sementara Yuta melesat mengambil ransel di kamarnya, Kiba mulai meraih gelas berisi air dan meneguknya perlahan. Setelah meletakkan gelas kembali, Ino sudah berdiri di dekatnya dan membawakan tas kerjanya.

"Pulang jam berapa nanti?"

"Seperti biasanya. Kenapa?" Kiba berdiri dari kursi ketika menyaksikan Yuta sudah berjalan ke arah pintu keluar dengan ransel kecil yang mengait pundaknya.

"Tidak apa-apa. Cuma tanya, apa tidak boleh?"

"Ya, barangkali kau takut tidur sendirian."

Setengah menahan senyum Ino memukul pelan pundaknya, menimbulkan tawa dari si lelaki. "Cepat berangkat, nanti terlambat."

Sembari meraih tas dari tangan istrinya, Kiba menundukkan kepala ke arah Ino. "Ciuman selamat paginya mana?"

Si pirang memutar bola mata, sebelum berjinjit dan bergerak cepat untuk mencium pipi Kiba.

"Cuma pipi?" Mengabaikan teriakan putranya yang sudah berada di ruang tamu, ia mencium singkat bibir Ino. "Oke, aku benar-benar berangkat sekarang." Senyumnya terkembang sempurna ketika berjalan cepat menuju ruang tamu dimana Yuta sudah tidak sabar untuk berangkat sekolah.

Ino berjalan pelan ke arah Yuta, membetulkan letak ranselnya dan mengecup keningnya. "Belajar yang benar ya Sayang. Dan semoga harimu menyenangkan."

Bocah itu tersenyum, balas mencium pipi sang bunda. "Tentu Ma." Dan melambai pelan ketika mengikuti langkah sang ayah untuk keluar dari apartemen.

Aktivitas pagi yang selalu berulang namun tak menjemukan. Kebahagiaannya sudah lengkap sekarang, berada diantara dua lelaki yang begitu disayanginya. Dan mendapatkan kasih sayang yang sama banyaknya pula. Ia tidak berhenti menatap kagum pada sosok lelaki tegap itu yang mulai menggandeng tangan si bocah ke arah lift, lalu sosoknya menghilang setelah pintu lift menutup.

Semoga kebahagiaan ini tak lekas berlalu.


Sembari mengukir senyum tipis di bibirnya, wanita itu diam mematung di depan kulkas. Mengamati foto hitam putih hasil USG si calon bayi dalam rahimnya. Foto janin itu sudah cukup membuatnya bangga berlebihan, hingga napasnya sesak.

"Merasa bingung?" Kiba memeluk wanita itu dari belakang, menunduk untuk mengamati ekspresinya.

"Kurasa, ini masih belum begitu jelas." Ino memegang tangan Kiba, dan memainkan jemarinya yang terasa besar dan tebal. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan hangat serta nyamannya pelukan erat itu."Tapi jantungnya sudah terbentuk."

Kiba mencium puncak kepala istrinya, merasakan aroma mawar bercampur stroberi menguar dari helaian pirang itu. "Padahal aku inginnya perempuan, tapi ini laki-laki lagi." Sentuhan tangan lembut Ino dipermukaan kulitnya membuatnya mengantuk dan terjaga disaat bersamaan.

"Sangat tidak masalah bagiku dikelilingi tiga pria tampan." Ino terkikik pelan, sepenuhnya menyandarkan kepala ke dada bidang yang terbungkus kemeja biru tua itu. "Lagipula apa salahnya punya anak laki-laki lagi."

"Tidak masalah juga sih." Ia mendesah pelan. "Yeah, mungkin kita bisa mencoba yang ketiga. Barangkali bisa beruntung mendapatkan anak perempuan."

"Tidak, dua anak cukup. Aku tidak mau tiga."

"Ayolah, Ino -."

"Tidak, Kiba." Hembusan napas Kiba di tengkuknya membuatnya bergidik, dan ketimbang membiarkan pria itu semakin berulah, ia berusaha melepaskan pelukan. "Dan jangan lupa, kita akan menghadiri pesta pernikahan Naruto-Hinata setelah ini." Kakinya melangkah, sedikit menjauhi suaminya yang sedikit kecewa.

"Yeah, aku tahu." Sembari menyisir rambutnya dengan jemari, ia melukiskan senyum tipis menatap semu merah yang muncul di permukaan pipi putih sang istri. Apa yang tengah dipikirkan Ino? Apakah sesuatu yang mesum?

"Aku akan panggil Yuta sebentar, kurasa aku harus membantunya memakai jas kecilnya yang lucu itu."

Sementara Ino berlalu menuju ruang keluarga, Kiba hanya mematung. Senyum simpul masih terulas di bibirnya ketika tatapannya kembali teralih pada foto di pintu kulkas. Paling tidak, ia akhirnya mendapatkan kesempatan untuk melihat anaknya tumbuh dalam rahim Ino. Dan menemani wanita itu menghadapi masa-masa sulit menjadi seorang ibu. Entah kenapa hatinya mendadak hangat memikirkan hal itu.

end

Ups, sorry kalau disini ada yang nggak puas karena adegan dewasanya kurang vulgar dan kurang detail. Aku sengaja pilih kata yang nggak terlalu bikin imajinasi berantakan, lagian adegan dewasanya cuma tak pake untuk menambah romantis dan manis fic ini, bukan membuat pembaca berimajinasi kemana-mana XD. Dan idenya udah mentok sampek sini, jadi maaf ya kalau ada yang ingin fic ini sedikit lebih panjang. Mohon maaf sekali.

Aku mau menyampaikan beberapa hal...

Pertama terimakasih buat mikahiro-shinra, xoxo, Yamanaka Mei, Fadhil Fadhilah yang udah meluangkan waktu buat baca fic ini dan dengan senang hati meninggalkan review. Dan... Kak Nai (ForgetMeNot09) - peluk cium kak Nai- umurnya Yuta 6 tahun XD, 7 tahun itu kalau dihitung Kiba ninggalin Ino. Jadi kira-kira gini, hamilnya Ino butuh waktu beberapa bulan kan sebelum Yuta lahir. Tapi aku agak shok waktu nyoba baca lagi fic ini dari chapter 1, dan ternyata typonya buanyaaakk banget, ada yang nyadar nggak sih kalau aku nulisnya di chapter awal Kiba ninggalin Ino itu selama 8 tahun bukan 7 tahun. Tapi yeah, namanya manusia pasti nggak luput dari salah. Aku belum sempat memperbaiki typo-typo itu, mungkin kapan-kapan aja tak perbaiki.

Sekali lagi makasih ya buat yang udah support, fav and follow. Makasih banyak.

~Lin

15 Mei 2020