Matrik: The Sins.
Disclaimer: Naruto dan HS DXD, serta beberapa unsur lainnya dari berbagai sumber bukanlah milik saya. They're belong to their creators. Bagi yang gak suka, jangan baca.
Warning(s): OOC, AU, AR, typo, misstypo, gaje, newbie, monoton, bahasa gak baku, dan lain-lain.
Genre: Main genres are adventure and fantasy, but I added some Sci-fi and Action contents.
Pair: Belum dimunculkan.
Summary: Kegagalan. Setiap orang pasti pernah mengalami hal tersebut, sesuatu yang tidak bisa di hindari di kehidupan ini. Tapi, dari sebuah kegagalan akan bisa mendapatkan sesuatu yang berharga, percayalah. Ini adalah kisah seorang Uzumaki Naruto yang tidak ingin mengulang kegagalan tebesar dalam hidupya. Dengan perjalanan panjang, dia akan menemukan harapan dari seluruh Dunia.
.
.
.
Tes.
Tes.
Butiran-butiran air berjatuhan dengan tempo sedang, mengisi kekosongan di lebatnya hutan. Kumuh. Satu kata itu yang akan terlontar tatkala melihat sebuah gubuk reot dalam lebatnya hutan. Meskipun pada saat itu matahari sedang dalam keadaan terbaiknya. Tetap saja masih sulit untuk menembus daun-daun besar itu.
Menilik kedalam gubuk tersebut, ternyata menyimpan berbagai macam benda-benda kuno. Kertas-kertas yang sudah dimakan usia juga terpajang di dinding bangunan itu.
Zeett~
Zeett~
Tanpa diduga, lantai gubuk tersebut terbelah dua dengan sendirinya,, dengan suara seperti robot yang sedang bergerak. Celah tersebut memiliki tangga yang menuju ke bawah, ruang bawah tanah. Tak lama, dari dalam celah tersebut. Muncul sesosok orang berperawakan dewasa sedang kebingunan, sesekali memegangi pinggangnya dengan nafas tak menentu.
Mari kita lihat beberapa saat yang lalu, ditempat yang berbeda.
.
oOo
.
Di sebuah ruangan bernuansa putih yang cukup besar, terlihat sebuah patung berbentuk manusia utuh. Awalanya tidak ada yang aneh pada patung tersebut, tapi dalam beberapa detik kemudian. Patung tersebut mengeluarkan sebuah suara retakan, seperti telur yang akan menetas.
Kretak! Kretak!
Retakan itu terus menyebar hingga ke seluruh bagian patung. Dan, di satu momen, dari celah-celah hasil retakan tadi keluar cahaya-cahaya, seolah menandakan akan terjadi sesuatu.
Blarr~
Patung tersebut akhirnya meledak –tak besar memang. Puing-puing tanah pun pun berserakan di lantai.
Di tengah-tengah ruangan, berdiri seorang pemuda berambut merah yang bertelanjang dada. Pemuda tersebut ternyata adalah tokoh utama kita, Uzumaki Naruto yang telah terlahir kembali. Tapi bagaimana bisa?
"Ugh… Dimana ini?" ujar Naruto sembari memegangi dadanya yang terasa ada yang mengganjal. Tiba-tiba ia membulatkan mata. "Ini… aku masih hidup? Itu berarti… apa aku berhasil?" Naruto bertanya pada dirinya sendiri. Melihat ke seluruh ruangan, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut. Mencoba mencari seseorang.
"Kakek… kau dimana? Kakek?" ucap pemuda tersebut sambil berteriak, ia sendiri sedikit aneh. Tempat ini memang terlihat sebuah lab, tapi suasananya lebih terasa modern, dani sepertinya sudah lama ditinggalkan. Ia kemudian melihat sebuah pakaian tergantung di ujung kenop pintu, ia mengambil baju tersebut. Mengerenyit heran,
"Bajunya masih hangat, bau keringat pun masih tertempel? Apa… ada seseorang disini sebelumnya?" Naruto tak ambil pusing, ia memutuskan untuk memakai baju tersebut, toh ia tidak bisa kelaur bila tak memakai baju.
Naruto melangkah lagi, keluar dari lab yang sudah tinggalkan tersebut. Berjalan pelan di lorong bangunan ini. Cahaya remang-remang menemani langkahnya. Pandangannya memang kedepan, tapi pikirannya menerawang entah kemana.
Tak terasa, ia sudah sampai di ujung lorong. Namun, yang membuatnya aneh, didepannya kini bukanlah pintu, tapi sebuah tembok kokoh dengan corak garis-garis kuning. Naruto memringkan kepalanya ke samping, ekspresinya sangat lucu bila yang melihat adalah sekumpulan wanita-wanita.
"Benda apa ini?" tanya Naruto entah pada siapa, ia memandang tembok tersebut sambil sesekali memegangnya. "Apa ini pintu? Tapi, aku baru pertama kali melihat Lab dengan pintu seperti ini. Aneh sekali… sebenarnya ini pintu model apa?"
Sedang enak-enaknya berpikir, terlintas dalam pandangannya bahwa ini seperti sebuah gerbang. Gerbang pasti ada alat untuk membukanya. Naruto mengangguk-ngangguk dengan mata terpejam, dan kemudian ia mencari-mencari alat yang tadi ia maksud.
"Ini seperti jembatan pada kastil-kastil, pasti ada semacam katrol untuk membukanya" Ternyata, tak jauh dari 'benda' tadi ada sebuah lingkaran merah.
Lingkaran tersebut menarik perhatian Naruto, "Kok tidak ada katrol, ya? lalu apa lingkaran merah ini?" dengan girang dan tanpa ragu, ia menekan lingkaran merah tersebut. Benda tadi itu langsung terbuka, membiarkan netra Naruto melihat yang ada dibaliknya.
Mulut Naruto terbuka, matanya pun berbinar. "A… apa yang barusan terjadi? Kenapa benda tersebut terbuka dengan sendiri?" Otak Naruto berusaha merespon kejadian yang baru saja terjadi, berbagai spekulasi terlintas di benaknya. "Jangan-jangan….." Wajah Naruto tiba-tiba menjadi jelek, keringat dingin mengucur dengan deras.
"AMPUNI HAMBAAA….HANTU-SAN….Gyaa!"
Dengan kecepatan bak superhero bekekuatan cahaya. Naruto berlari dengan cepat ke pintu yang telah terbuka. Teriakan masih bisa terdengar meskipun sang empunya sudah tak nampak batang hidungnya.
...
oOo
...
Kembali ke waktu sekarang.
"Huhhh….. Lorongnya panjang sekali. Dan, kenapa sepanjang lorong tadi, tidak ada pintu yang 'normal'..." keluh Naruto sembari mengatur nafasnya yang naik turun, "Untung saja aku menemukan tangga ini," lanjutnya sambil melihat tangga dibelakangnya. Merasa cukup, irisnya kemudian bergulir, memandang tempat ini, sebagian ia cukup hafal akan benda-benda yang ada di ruangan ini. "Hmmm,.. boneka Voodoo?" gumamnya tanpa sadar saat melihat sebuah boneka kecil berbentuk manusia.
"Ah, iya, aku hampir lupa. Sebenarnya aku dimana, ya?" ucap Naruto saat tersadar akan kondisinya saat ini. Melihat-melihat kembali, untuk mencari petunjuk. "Sepertinya, orang yang tinggal disini, menyukai hal-hal magis. Pantas saja banyak pintu-pintu aneh, hihhh!" Naruto memutuskan untuk segera meninggalkan gubuk ini saat dirasa tidak ada petunjuk yang berarti, apalagi saat mengingat kejadian yang ia anggap mistis tadi. Bisa-bisa ia merinding disko.
Cklek~
Pintu gubuk pun terbuka. Netra Naruto langsung menangkap pemandangan suram didepannya, mau tak mau ia harus menelan ludahnya sendiri. "Oh ayolah, kenapa harus didalam hutan? Apa tidak ada tempat yang lebih baik?" ia berujar sembari melihat ke atas, ia bisa melihat cahaya-cahaya matahari menyelinap masuk kedalam celah daun. "Rupanya siang hari, ya." Lanjutnya, ia kemudian menengok sana-sini dengan wajah yang ditekuk, mencoba mencari jalan keluar. "Seperti kata pepatah, bila kau tersesat, ikuti lumut, ia akan menuntunmu ke peradaban." Naruto tersenyum, saat melihat arah yang ia cari sudah ditemukan, lumut. Terdengar aneh memang. Tapi, ia pernah mendengar pepatah seperti itu, maka ia akan coba kebenenarannya hari ini.
Krasak~ Krasak~
Srek~ Srak
Setelah melewati lebatnya hutan. Dalam waktu beberapa menit, ia akhrinya melihat ujung hutan ini. Naruto tersenyum lebar, meskipun tadi sempat bersakit-sakit dengan hal 'mistis' ia bisa melewati itu. 'untung tidak ada hewan buas' pikir Naruto. Sedikit berbangga dalam hatinya, karena berhasil bertahan dari salah satu alergi yang ia miliki.
Satu langkah ia berikan pada tanah di sebrang hutan. Menghirup udara segar; menikmati aroma ketenangan; awan-awan bergerak pelan menambah kesejukan suasana. "Entah kenapa, sepertinya sudah sangat lama aku tidak merasakan hal ini. Sungguh menyenangkan.
Merasa harus menyudahinya, ia sekarang bertujuan untuk menemukan dimana ia sekarang? Apa yang sudah terjadi selama ia dalam keadaan 'mati'? dan, yang paling penting kemana semua keluarga angkatnya?
Matanya berbinar tatkala melihat dari kejauhan, gedung-gedung yang cukup tinggi menjulang ke langit. Ah, itu pasti kota terdekat dari sini. Pikirnya begitu. Tak perlu menunggu lama, ia mulai melangkahkan kedua kakinya pelan, santai. Sesekali sambil melompat-lompat untuk meregangkan badanya.
...
...
...
Arc I: Shadow
Chapter 1: Where Am I?
Tap~ Tap~
Seorang pemuda berambut merah darah berlari-lari kecil di saat sudah dekat dengan kota tadi. Ia sudah berjalan lebih dari 2 jam, lebih jauh dari yang ia kira, 'gedungnya pasti tinggi-tinggi, nih. Dari jauh saja sudah kelihatan'. Maka dari itu, ia memutuskan untuk berlari, semakin cepat semakin baik.
Kota itu ternyata dikelilingi oleh sebuah benteng, dengan gerbang sebagai jalan masuknya.
Saat memasuki kota tersebut, ia sekali lagi harus merelakan matanya terbelalak dan mulut terbuka lebar, dirinya mematung menatap dengan lekat setiap lekuk kota itu. Semua hal yang ia lihat sekarang sangat mengejutkan dirinya.
Mulai dari bangunan yang futuristic sangat jauh berbeda dengan yang ia kenal, pakaian-pakaian yang menurutnya aneh, hingga ke alat-alat yang digunakan lebih beragam dan modern. Semunya begitu…. berkilau dan berkelas di matanya. Berjalan pelan kedepan, dengan ekspresi yang sama.
"HAAHHHHHHHHH…!"
Tanpa sadar ia berteriak dengan begitu nyaring, hal itu tentu menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Orang-orang yang melihat Naruto memandang degnan tatapan aneh, tidak mengerti, meledek, dan yang lainnya.
Naruto tersadar dari lamunannya saat dirinya diteriaki oleh orang lain, merasa dirinya jadi osuat perhatian ia hanya bsia menggaruk kepala sambil membungkuk badanya berkali-kali, permohonan maaf terucap dari bibirnya.
Naruto POV
Wawww…. Dimana ini? Tempat ini? Semuanya terasa sangat… sangat berbeda. Apa sebenarnya ada di surga mengingat aku sudah pernah mati? Aku mulai berjalan pelan kedepan, tapi mataku terus melihat seluruh bagian tempat ini, bangunannya berbentuk runcing; pakaian penduduknha pun berbagai macam; apalagi alat-alat yang mereka gunakan. Apa yang mereka gunakan di kepala itu? benda persegi apa yang mereka pegang? Mengapa mereka berbicara lewat benda persegi itu?
Ini tidak mungkin, semua ini terlalu mendadak. Aku tidak kuat. Aku harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Naruto POV End
Karena keterkejutannya, tanpa sadar Naruto berlari tanpa arah, orang-orang pun banyak yang ia tabrak, alhasil umpatan-umpatan pun terarah pada pemuda itu.
Ia kini tengah berada di salah satu dari sekian banyak gang, gang tersebut gelap, Jauh dari keramaian, berada di antara rumah-rumah penduduk. Netranya kemudian melihat sebuah bangku di pinggir trotoar. Tanpa pikir panjang ia menghampiri bangku itu, setidaknya ia bisa duduk untuk istirahat.
Namun, saat akan menurunkan tubuhnya. Tiba-tiba ia mendengar sebuah teriakan keras dari dalam gang tadi, melihat sekeliling, namun orang-orang seolah tidak mendengar teriakan tadi, Seolah hanya Naruto yang bisa mendengarnya. "Aneh, padahal cukup keras, loh." Gumamnya sendiri, pelan.
Teriakan itu kembali terdengar, kali ini lebih keras dan jelas. Sepertinya seorang perempuan. Karena hanya ia sendiri yang bisa mendengarnya, mau tidak mau ia harus menuju ke sumber suara, 'Siapa tahu aku bisa mendapatkan informasi.'
...
...
Cukup beberapa puluh detik berlari, sekarang ia bisa melihat sekelompok pria, 5 orang pria sedang menendang-nendang seorang perempuan, silih berganti tendangan kaki. Orang-orang itu tertawa cukup keras saat melakukannya.
Perempuan yang diperlakukan seperti hanya bisa pasrah, paling tidak ia masih bisa berteriak.
Naruto mengehela nafas saat ia tahu harus melakukan apa, "Hahh, aku pun sedang kebingunan sekarang ini, dan sekarang aku harus menolong seseorang yang tidak kukenal. Yah, apa boleh buat. Sekalian melakukan peregangan setelah bangun dari 'kematian'." Ucap Naruto pada dirinya sendiri sembari tersenyum tipis.
Maju beberapa langkah, kemudian ia berteriak memanggil kumpulan pria tadi. "Hoyyy, kalian para banci-banci jalanan!"
Aksi pem-bully-an tadi langsung terhenti, saat mereka mendengar teriakan Naruto tadi. Menengok dengan ganas, tampang yang diseram-seramkan, dan pose yang menyebalkan. Naruto yang melihat semua itu tertawa dalam hati.
"SIAPA KAU? APA KAU KENALAN WANITA INI?" Salah seorang yang paling bongsor bertanya sekaligus berteriak pada Naruto.
Akan tetapi, Naruto tak menggubris hal tersebut, dia malah kembali memperpendek jarak diantara mereka. "HEYY, JAWAB KAU, ORANG ANEH!"
Pelipis Naruto mengeras, hingga memunculkan urat-urat miliknya saat mendengar ledekan tadi, ia kembali tidak menjawabnya, menyeringai lebar, ia malah balik meledek. "Sekarang aku sedang kebingunan, dan kalian baru saja meledekku, heh? Kalian akan terima akibatnya, banci."
"DASAR KAU, TOMAT BERJALAN! SEMUANYA, HABISI DIA!"
Swussh~
Kedua belah pihak yang tidak seimbang jumlahnya itu dengan cepat menghabiskan jarak diantara mereka.
Orang yang paling depan sudah melancarkan kepalanya pada Naruto. Tapi, Naruto berhasil menghindarnya dengan membnungkuk ke arah kiri, selanjutnya dengan cepat ia memukul tengkuk kepala pria tadi dengan keras.
Tak~
'Satu sudah.'
Wussh~
Tak~
Naruto kembali berhasil menghindari serangan yang datang, sebuah pukulan lurus berhasil ia hindari dengan menyerongkan tubuhnya ke kiri. Kemudian dengan cepat, ia menangkap pergelangan tangan yang masih terulur kedepan. Lalu, setelah itu ia tarik hingga musuhnya terbawa dan langsung di hadiahi satu bogem mentah, tepat di wajah.
"Heaaattt~" Kemudian orang ketiga melancarkan serangannya, kali sebuah tendangan roundhouse. Naruto yang melihat itu, langsung membungkukkan badannya, dan dengan cermat ia melancarkan tendakan sapuan bawah, dan pada gerakan selanjutnya saat lawannya melayang akiabt tendanga sapuan tadi, dengan cepat Naruto melakukan tendangan 2 tingkat. Tubuh pria malang itu pun, terbang hingga menabrak tembok hingga hancur.
BRAK~
'tiga sudah.'
Sejenak Naruto memandang 2 orang di hadapannya ini, satu gendut dan yang satu lagi. Naruto menyeringai saat melihat si gendut maju. Tubuh gempal itu berlari, lambat. Si gendut berkali-kali melancarkan pukulan. Tapi, semua itu berhasil di hindari oleh Naruto.
"Cukup sampai disini." Ucap Naruto yang langsung memberikan serangan balasan berupa uppercut yang meng-KO si gendut tadi.
"Huhh, kau yang terakhir." Naruto berujar dengan yakin, tapi, orang kurus tidak gentar, ia malah sedikit tertawa. "Khukhu… dilihat dari serangan-seranganmu tadi, sepertinya kau adalah seorang esper." Si kurus berkata.
Naruto mengerenyit heran saat mendengarnya. "Esper? Maksudmu apa?"
Si kurus kembali tertawa aneh, "Sepertinya kau tidak atau belum menyadarinya, tapi, biarlah karena hari ini disini kau akan biasa.
Swossshh~
Naruto terbelalak saat melihat si kurus tiba-tiba ada di depannya dengan sebuah tendangan belakang yang mengarah leher, apa-apaan pergerakan itu? Pikirnya.
Untungnya, Naruto berhasil menghindarinya serangan tadi, berterimakasihlah pada reflek yang ia punya.
"Wah, kau hebat bisa menghindari kecepatanku, sebagai hadiahnya, akan kuberitahukan namaku. Namaku adalah Maduku, aku adalah seorang calon Esper dari kerajaan Api." Si kurus – Maduke – memperkenalkan dirinya pada Naruto.
Naruto semakin heran mendengar hal tersebut. 'Esper? Kerajaan Api? Hal apa lagi ini.' Pikirannya semakin kalut bila memikirkannya. 'untuk sekarang aku harus menghabisi dia terlebih dahulu.
"Aku tidak mengerti sama sekali, apa yang kau maksud dengan Esper dan kerajaan Api, tapi sebagai seorang ahli bela diri, aku menghargai itu. Namaku Naruto.
"Oh, jadi namamu Naruto, kalau begitu bersiaplah." Maduke kembali bergerak cepat, ia berlari zig-zag kearah Naruto, kemudian memberika pukulan-pukulan yang pada titik vital Naruto.
Disisi Naruto, entah kenapa ia bisa dengan mudah mengikuti pergerakan Maduke, yang bila dilihat kacamata manusia normal tentu sukar untuk dilakukan. Menhindari, menangkis, itulah yang dilakukan Naruto, ia masih berusaha mencari celah untuk melancarkan serangan balasan.
"Dia bergerak dengan baik, tenaganya pun lebih dari manusia biasa, dan dia Cepat…" ucap Naruto sambil terus menghindari serangan Maduke. Tiba-tiba menyeringai, seperti menemukan apa yang ia cari. "Ya, dia cepat. Tapi, aku pernah bertemu dengan yang lebih cepat." Sejurus kemudian Naruto berputar ke kiri dan langsung memukul wajah Maduke dengan punggung tangannya. Alhasil maduke pun tersungkur beberapa meter kebelakang.
Duakkh~
Ekpresi terkejut tentu terukir jelas di wajah pria kurus itu, netranya memandang kearah mulut yang berdarah. Dengan cepat, ia menyeka darah tadi dan wajahnya tiba-tiba mengeras.
"BOCAH, KURANG AJAR KAU! HEAAT!"
Maduke berlari kearah Naruto dengan kecepatan yang lebih cepat, Naruto yang melihat itu tak terlalu terkejut. Memang cepat, tapi saat dirinya terkuasai amarah, alhasil banyak celah yang terlihat.
"Akan kuselesaikan dengan ini." Naruto berkata saat berhasil menghindari salah satu pukulan Maduke, kemudian ia melihatt tubuh Maduke bagian yang lain terbuka lebar pertahanannya, tanpa menunggu ia langsung menyerangnya.
"[Re: Teakwondo: Hoechook 3 Tingkat]"
Detik berikutnya tubuh Maduke terkulai lemah, ia berlutut lalu jatuh dengan keadaan pingsan. Serangan Naruto mengenai langusng 3 titik vital Maduke. Teknik tadi sendiri adalah tendangan 3 tingkat sekaligus yang memerlukan kecepatan gerak dan kelenturan tubuh untuk menghasilkan serangan efektif namun mematikan.
"Huhhhh… akhirnya selesai juga." Gumam Naruto yang senang saat pekerjaannya sudah beres. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke perempuan yang jadi korban tadi. Tanpa ragu Naruto menghampirinya.
"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto pada perempuan itu. Terlihat perempuan itu sedikit tersentak saat Naruto menanyainya, sepertinya ia sedang melamun.
"Ah… a-aku baik, akhh-" Perempuan itu meringis saat merasakan lukanya kembali berdenyut. Surai merah perempuan itu terlihat lusuh, bau menyatu dengan tanah. Naruto pun ikut meringis mendengarnya. "Ah, pertanyaanku benar-benar salah. Baiklah, dimana rumahmu biar ku antar. Kau tidak berpikir untuk pulang sendiri, kan?"
Perempuan itu – yang sepertinya sebaya dengan Naruto – menundukan kepalanya kebawah. "E-etto, Terimakasih." Ucapnya.
Naruto tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu, ayo" ajak Naruto yang berjongkok sambil memunggungi perempuan merah itu.
Perempuan itu sedikit membulatkan matanya saat melihat punggung besar terpampang didepannya. "A-apa maksudmu di gendong?" tanyanya hati-hati. Naruto terkekeh mendengar pertanyaan gadis itu. "Tentu saja, kecuali kalua kau kuat untuk berjalan dengan keaddan seperti itu, akan kuberi hadiah bila kau bisa melangkah satu langkah pun." Jawab Naruto sambil melirik kearah gadis itu
Gadis itu mengangguk pelan, kemudian mulai melingkarkan lengannya ke leher Naruto. Mereka pun mulai meninggalkan gang gelap tersebut, membiarkan kelompok pria tadi tergelatak di tanah.
"Namaku Naruto. Kau siapa?"
"Namaku Karin. Hmm…., Naruto, ya. Namamu terdengar aneh." Ucap Karin memberikan komentar pada nama Naruto.
"Hah, aneh? Apanya?" Naruto tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Karin, namanya aneh? Apanya?
"Itu, 'Naruto' kan adalah sebuah nama dari toping pelengkap masakan ramen. Jadi, rasanya aneh bila nama makanan dijadikan sebuah nama orang." Karin tertawa kecil saat mengungkap hal tersebut. Ia sejanak melupakan rasa sakit pada tubuhnya.
Sedangkan dengan Naruto, ia hanya ber-sweatdrop ria. Mukanya terlihat jelek saat itu. Setelah itu, keadaan hening. Tidak ada lagi suara-suara bersahutan, paling hanya Karin yang menujukkan arah rumahnya berada. Mereka terus berjalan, di tengah keramaian, tak jarang banyak yang memperhatikan mereka lantaran penampilan mereka yang acak-acakan.
Sebenarnya, dipikiran Naruto berkumpul banyak pertanyaan yang ingin diketahui olehnya. Hal itu bisa terlihat jelas dari air mukanya. "Apa ada yang ingin kau tanyakan, Naruto?" Karin sepertinya menaydari hal tersebut. Ia tidak keberatan untuk menjawabnya, hitung-hitung sebagai tanda terimakasih.
"A-ah, tidak, tidak ada, kok!" Naruto berkilah yang bisa diketahui langsung bahwa itu adalah bohong. "Sudah, tidak perlu sungkan. Bertanya saja, bila aku mengetahuiny pasti akan aku jawab." Titah Karin para Naruto, yang di balas anggukan pemuda itu.
Menghela nafas sejenak, kemudian ia melirik Karin melalui ekor matanya. "jadi, begini Karin. Aku mulai dari awal ya. Sebenarnya aku ini adalah orang baru di kota ini, aku abru saja sampai saat menolongmu itu. Aku juga keget saat melihat kota yang modern begini. Jadi aku kebingungan dengan semunya."
Karin mengangguk-ngagguk mengerti. "Hmm.. jadi kau ini adalah seseorang yang berasal dari kampung, begitu? Makanya kau belum hafal benda-benda yang ada disini." Karin berujar sembair melihat-liaht sekeliling, seperti sedang mengamati.
"Ya kurang lebih begitu. Jadi, aku ingin tanya beberapa hal pertama. Pertama, sebenarnya ini di wilayah mana? Apakah ini Jepang atau negara mana? Kemudian, apa itu Esper? Apakah sejenis pahlawan? Lalu, yan terakhir tahun berapa sekarang?" Naruto bertanya semua itu dengan pandangan lurus kedepan, seolah menerawang apa yagn di jawab Karin.
"Wow, pertanyaanku banyak juga, aku bingung jawab dari mana?" ucap Karin sambil memasang pose berpikir.
Naruto harap-harap cemas, menunggu respon dari Karin. Ia sendiri sedikit segan sebenarnya bertanya banyak-banyak pada orang yang baru ia kenal. "Baiklah, aku akan menjawabnya, dari yang pertama. Jika kau betanya ini Wilayah mana, makan akan kujawab ini bahwa ini temapt ini masuk kedalam territorial kerajaan Api, lalu Jepang? Hmm.., Setahuku tidak ada daerah beranama jepang, mungkin daerah itu termasuk daerah yang hilang akibat perang zaman dahulu. Kalau di tanya Negara, kerajaan Api termasuk kedalam Negara Elemental." Karin dengan serius menjelaskan pertanyaan sesuai pengetahuan yang ia miliki.
Sedangkan dengan Naruto, sangat terkejut. apa yang barusna Karin bilang, ia baru saja mendengar kata Asia. Ini sudah agak mengejutkan. Tapi, ia simpan dulu, masih ada beberapa lagi.
"Nah, kemudian Esper adalah sebutan bagi kesatria kerajaan yang bertugas melindungi kerajaan Api. Setiap Esper pasti memiliki kekuatan sihir, sebernarnya bukan hanya esper memilki energi sihir semua orang juga mempunyainya. Tapi, hanya sebagian yang memiliki energy berlebih dan skill. Dua factor itu adalah salah dua penentu seseorang bisa menjadi Esper. Dan, ya mereka adalah pahlawan.
Oh, satu lagi. Kota yang maksud ini bukanlah Kota. Tapi, ini adalah sebuah Desa, Desa ini bernama Konoha, Desa yang berada di bawah pengawasan langsung dari kerajaan. Makanya infrastukrutnya tak kalah disbanding dengan sebuah kota metropolitan.
Lalu, sebentar kau bilang ini tahun berapa? Kau tinggal dimana, sih, selama ini? Masa tahun juga kau tidak mengetahuinya. Sekarang itu adalah 2598. ingat-ingat itu."
Tep~
Tiba-tiba langkah Naruto berhenti mendadak, sesaat setelah Karin menyelesaikan penjelasannya itu. Ekpresi terkejut terpancar dari raut wajahnya, rasa takut terpancar dari dua bola mata sapphire miliknya. Kepalanya tertunduk dalam.
Karin yang melihat sikap Naruto, yang menurutnya aneh. Mencoba memanggil-manggil namanya. Beberapa kali gagal, namun akhirnya Naruto kembali tersadar, dan kembai ke dunia nyata. Senyum palsu ia tampilkan, Karin mengetahuinya tapi ia enggan untuk menanggapi hal itu, lagipula mereka hanya orang yang ditolong-dan-menolong, tidak tahu kapan bertemu lagi, mungkin ini pertemuan pertama sekaligus terkhir mereka.
"Ah, Naruto! Itu rumahku." Karin menunjuk sebuah rumah yang terlihat paling sederhana disbanding yang lainnya. Naruto pun mempercepat langkah kakinya, dalam beberapa langkah kemudian mereka telah sampai di depan rumah Karin.
"Sekarang kau bisa turunkan aku," Karin menyuruh Naruto untuk menurunkannya, sejenak Naruto melihat Karin lalu mengangguk paham.
"Kau bisa berjalan kedalam?" tanya Naruto pada gadis itu.
"Ah, tidak perlu, kok, lagipula didalam pasti ada Ibuku, beliau itu sedikit sensitive bila anak putrinya ini bergaul dengan anak laki-laki…" Karin berucap sembari tertawa kecil. Kemudian ia melanjutkan. "…, apalagi jika pulang dalam keadaan begini."
"Baiklah, kalau begitu semoga lekas sembuh." Karin mengangguk paham, ia memberikan senyuman terbaik pada pemuda merah itu. "Ngomong-ngomong, kita ini baru bertemu, tapi kenapa seperti sudah kenal lama, ya? Tidak canggung."
"Kau benar juga, mungkin ini karena warna rambut kita sama." Naruto tertawa saat menjawabnya, ia teringat pernah mendengar lelucon seperti itu dari kenalannya dulu.
Naruto menyeka bulir air mata yang keluar, akibat terlalu kencang saat tertawa tadi. "Yah kalau begitu, sampai jumpa Karin. Semoga kita bertemu lagi."
Pemuda merah itu kemudian meninggalkan halaman rumah Karin, melambaikan tangannya kea rah perempuan yang menurutnya baik itu. Karin sendiri tersenyum lebar dengan mata yang seperti terpejam.
...
oOo
...
Pemuda bersurai merah itu, berjalan pelan ditengah keramaian desa. Kepalanya bergulir kesana-kemari. Ia kini kembali bingung. Dimana ia harus tinggal? Bagaimana ia makan? Minum? Hahhh, seharusnya tadi ia meminta sedikit uang makanan pada Karin.
Saat meratapi nasib hidupnya yang kini sedang terombang-ambing. Ia kemudian melihat sebuah poster tertempel di salah satu tiang jalanan. Membaca isi poster tersebut, sedetik kemudian matanya membulat lalu dengan tercepat tergantikan dengan seringaian senang. "Heh, setidaknya malam ini aku bisa tidur nyenyak,"
…
oOo
...
Ramai. Berisik.
Kata itu tepat untuk menggambarkan situasi tempat ini – yang seperti gudang hewan-hewan ternak, meskipun begitu temapt ini tak kunjung sepi. Bila dilihat lebih jelas. Ditengah tempat ini berdiri sebuah ring tinju lengkap pagar yang mengurungnya.
Orang-orang – penonton – mengelilingi ring tersebut. Ring itu sendiri adalah sebuah arena pertunjukan – taruhan – yang dilaksanakan dengan system penantang melawan juara bertahan atau jawara. Bila si penantang berhasil mengalahkan jawaranya, maka ia berhak untuk mendapat sejumlah royalty berupa uang atau benda berharga.
Dan, di kesempatan ini. Pemuda bersurai merah kita – Naruto, memutuskan untuk mengikuti kontes murahan ini, ia tidak punya jalan keluar lain. Sebab, hadiah dari kontes ini bisa membuatnya tidur nyenyak. Ah, membayangkannya saja sudah membuat ia merinding.
"Jika aku tidak membutuhkannya sekarang, maka aku tidak sudi untuk datang ketempat seperti ini."
Kemudian terdengar sebuah suara baritone, suara tersebut memanggil kontestan yang akan bertanding selajutnya. Naruto tersenyum leabr begitu gilirannya tiba.
Ia naik keatas atas ring, para penonton banyak yang mencibir dirinya, tak sedikit pula yang memberinya ludah penghinaan. Ia tidak memperdulikan semua itu.
Lawannya adalah seorang pria bertubuh besar dan tegap; wajah yang mengerikan; dan tato hamper memenuhi tubuh berototnya itu.
"Baiklah, pertandingan akan segera dimulai." Wasit sudah memberikan aba-aba.
Teng~
Suara lonceng dibunyikan, begitupun dengan dua kontestan yang langsung menyerang satu sama lain.
.
.
.
.
.
TBC
A/N:
Yo kembali lagi dengan saya.
Ada beberapa hal ya perlu disampaikan.
Yang pertama, ini soal setting tempatya. Saya tidak memakai tema dunia lain atau yang sering disebut Isekai. Settingnya itu berlatar di dunia DXD tapi di zaman yang jauh lebih modern.
Kedua, hmm saya juga mengucapkan terimakasih kepada yang sudah memberika tanggapan, fav, ataupun foll pada cerita saya ini. Saya sungguh menghargainya. Secara pribadi, saya adalah seorang author pemula yang membutuhkan dukungan, dan saran untuk keberlangusungan karir saya di dunia per-fanfiction-an Indonesia.
Terakhir, untuk sekarang fic ini sepertinya akan update satu atau dua minggu sekali. Kenapa? FYI. Karena saya sekarang sedang memutar otak untuk strategi mengahadapi UN, USBN, dan UNBK. Ahh, belum dengan SNMPTN, SBMPTN dan serba-serbinya. Itu sungguh suatu tantangan sekaligus cobaan bagi saya. Eh, ko jadi curhat sih -_-. Udah ah. :p
Bila ada yang ingin ditanyakan, bisa tinggalkan komentar, tanggapan, atau apaun di kolom yang telah disediakan. Sampai bertemu di chapter selanjutnya. Dadah~
.
Selasa, 16 Januari 2018.
